Sabtu, 27 Oktober 2007

Andani Citra: Para Peronda Malam

Hai, aku kembali menceritakan pengalaman seksku. Sebelumnya saya pernah menceritakan pengalamanku dalam kisah 'Tukang Air, Listrik, dan Bangunan' dan 'Gairah Pengemis Buta'. Aku adalah seorang mahasiswi yang memiliki nafsu seks yang cukup tinggi. Sejak keperawananku hilang di SMA aku selalu ingin melakukannya lagi dan lagi. Kalau dipikir-pikir, entah sudah berapa orang yang menikmati tubuhku ini, sudah berapa penis yang pernah masuk ke vaginaku ini, aku juga menikmati sekali nge-seks dengan orang yang belum pernah aku kenal dan namanya pun belum aku tahu seperti para tukang yang pernah aku ceritakan pada kisah terdahulu.

Nah ceritanya begini, aku baru saja pulang dari rumah temanku seusai mengerjakan tugas kelompok salah satu mata kuliah. Tugas yang benar-benar melelahkan itu akhirnya selesai juga hari itu. Ketika aku meninggalkan rumah temanku langit sudah gelap, arlojiku menunjukkan pukul 8 lebih. Yang kutakutkan adalah bensinku tinggal sedikit sekali, padahal rumahku cukup jauh dari daerah ini lagipula aku agak asing dengan daerah ini karena aku jarang berkunjung ke temanku yang satu ini. Di perjalanan aku melihat sebuah pom bensin, tapi harapanku langsung sirna karena begitu mau membelokkan mobilku ternyata pom bensin itu sudah tutup, aku jadi kesal sampai menggebrak setirku, terpaksa kuteruskan perjalanan sambil berharap menemukan pom bensin yang masih buka atau segera sampai ke rumah.

Ketika sedang berada di sebuah kompleks perumahan yang cukup sepi dan gelap, tiba-tiba mobilku mulai kehilangan tenaga, aku agak panik hingga kutepikan mobilku dan kucoba menstarternya, namun walupun kucoba berulang-ulang tetap saja tidak berhasil, menyesal sekali aku gara-gara tadi siang terlambat kuliah jadi aku tidak sempat mengisi bensin terjebak tidak tahu harus bagaimana, kedua orang tuaku sedang di luar kota, di rumah cuma ada pembantu yang tidak bisa diharapkan bantuannya. Tidak jauh dari mobilku nampak sebuah pos ronda yang lampunya menyala remang-remang. Aku segera turun dan menuju ke sana untuk meminta bantuan, setibanya di sana aku melihat 5 orang di sana sedang ngobrol-ngobrol, juga ada 2 motor diparkir di sana, mereka adalah yang mendapat giliran ronda malam itu dan juga 2 tukang ojek.

"Ada apa Non, malam-malam begini? Nyasar ya?", tanya salah seorang yang berpakaian hansip.
"Eeh.. itu Pak, Bapak tau nggak pom bensin yang paling dekat dari sini tapi masih buka, soalnya mobil saya kehabisan bensin", kujawab sambil menunjuk ke arah mobilku.
"Wah, kalo pom bensin jam segini sudah tutup semua Non, ada yang buka terus tapi agak jauh dari sini", timpal seorang Bapak berkumis tebal yang ternyata tukang ojek di daerah itu.
"Aduuhh.. gimana ya! Atau gini aja deh Pak, Bapak kan punya motor, mau nggak Bapak beliin bensin buat saya, ntar saya bayar kok", tawarku.
Untung mereka berbaik hati menyetujuinya, si Bapak yang berkumis tebal itu mengambil jaketnya dan segera berangkat dengan motornya. Tinggallah aku bersama 4 orang lainnya.

"Mari Non duduk dulu di sini sambil nunggu".
Seorang pemuda berumur kira-kira 18 tahunan menggeser duduknya untuk memberiku tempat di kursi panjang itu. Seorang Bapak setengah baya yang memakai sarung menawariku segelas air hangat, mereka tampak ramah sekali sampai-sampai aku harus terus tersenyum dan berterima kasih karena merasa merepotkan. Kami akhirnya ngobrol-ngobrol dengan akrab, aku juga merasakan kalau mereka sedang memandangi tubuhku, hari itu aku memakai celana jeans ketat dan setelan luar berlengan panjang dari bahan jeans, di dalamnya aku memakai tanktop merah yang potongan dadanya rendah sehingga belahan dadaku agak terlihat. Jadi tidak heran si pemuda di sampingku selalu berusaha mencuri pandang ingin melihat daerah itu.

Kompleks itu sudah sepi sekali saat itu, sehingga mulai timbul niat isengku dan membayangkan bagaimana seandainya kuberikan tubuhku untuk dinikmati mereka sekalian juga sebagai balas budi. Sehubungan dengan cuaca di Jakarta yang cukup panas akhir-akhir ini, aku iseng-iseng berkata, "Wah.. panas banget yah belakangan ini Pak, sampai malam gini aja masih panas". Aku mengatakan hal tersebut sambil mengibas-ngibaskan leher bajuku kemudian dengan santainya kulepaskan setelan luarku, sehingga nampaklah lenganku yang putih mulus. Mereka menatapku dengan tidak berkedip, agaknya umpanku sudah mengena, aku yakin mereka pasti terangsang dan tidak sabar ingin menikmati tubuhku. Si pemuda di sampingku sepertinya sudah tak tahan lagi, dia mulai memberanikan diri membelai lenganku, aku diam saja diperlakukan begitu. Salah satu dari mereka, seorang tukang ojek berusia 30 tahunan mengambil tempat di sebelahku, tangannya diletakkan diatas pahaku, melihat tidak ada penolakan dariku, perlahan-lahan tangan itu merambat ke atas hingga sampai ke payudaraku. Aku mengeluarkan desahan lembut menggoda ketika si tukang ojek itu meremas payudaraku, tanganku meraba kemaluan pemuda di sampingku yang sudah terasa mengeras.

Melihat hal ini kedua Bapak yang dari tadi hanya tertegun serentak maju ikut menggerayangi tubuhku. Mereka berebutan menyusupkan tangannya ke leher tanktop-ku yang rendah untuk mengerjai dadaku, sebentar saja aku sudah merasakan kedua buah dadaku sudah digerayangi tangan-tangan hitam kasar. Aku mengerang-ngerang keenakan menikmati keempat orang itu menikmatiku.
"Eh.. kita bawa ke dalam pos aja biar aman!", usul si hansip.
Mereka pun setuju dan aku dibawa masuk ke pos yang berukuran 3x3 m itu, penerangannya hanya sebuah bohlam 40 watt. Mereka dengan tidak sabaran langsung melepas tank top dan bra-ku yang sudah tersingkap. Aku sendiri membuka kancing celana jeansku dan menariknya ke bawah. Keempat orang ini terpesona melihat tubuhku yang tinggal terbalut celana dalam pink yang minim, payudaraku yang montok dengan puting kemerahan itu membusung tegak. Ini merupakan hal yang menyenangkan dengan membuat pria tergiur dengan kemolekan tubuhku, untuk lebih merangsang mereka, kubuka ikat rambutku sehingga rambutku terurai sampai menyentuh bahu.

Si hansip menyuruh seseorang untuk berjaga dulu di luar khawatir kalau ada yang memergoki, akhirnya yang paling muda diantara mereka yaitu si pemuda itu yang mereka panggil Mat itulah yang diberi giliran jaga, Mat dengan bersungut-sungut meninggalkan ruangan itu. Si hansip mendekapku dari belakang dan tangannya merogoh-rogoh celana dalamku, terasa benar jari-jarinya merayap masuk dan menyentuh dinding kewanitaanku, sementara di tukang ojek membungkuk untuk bisa mengenyot payudaraku, putingku yang sudah menegang itu disedot dan digigit kecil. Kemudian aku dibaringkan pada tikar yang mereka gelar disitu. Mereka bertiga sudah membuka celananya sehingga terlihatlah tiga batang yang sudah mengeras, aku sampai terpana melihat batang mereka yang besar-besar itu, terutama punya si hansip, penisnya paling besar diantara ketiganya, hitam dan dipenuhi urat-urat menonjol.

Celana dalamku mereka lucuti jadi sekarang aku sudah telanjang bulat. Aku langsung meraih penisnya, kukocok lalu kumasukkan ke mulutku untuk dijilat dan dikulum, selain itu tangan lembutku meremas-remas buah zakarnya, sungguh besar penisnya ini sampai tidak muat seluruhnya di mulutku yang mungil, paling cuma masuk tiga perempatnya. Si tukang ojek mengangkat sedikit pinggulku dan menyelipkan kepalanya di antara kedua belah paha mulusku, dengan kedua jarinya dia sibakkan kemaluanku sehingga terlihatlah vagina pink-ku di antara bulu-bulu hitam. Lidahnya mulai menyentuh bagian dalam vaginaku, dia juga melakukan jilatan-jilatan dan menyedotnya, tubuhku menggelinjang merasakan birahi yang memuncak, kedua pahaku mengapit kencang kepalanya karena merasa geli dan nikmat di bawah sana. Bapak bersarung menikmati payudaraku sambil penisnya kukocok dengan tanganku dan payudaraku yang satunya diremasi si hansip yang sedang ku-karaoke.

Aku sering melihat sebentar-sebentar Mat nongol di jendela mengintipku diperkosa teman-temannya, nampaknya dia sudah gelisah karena tidak sabaran lagi untuk bisa menikmati tubuhku. Tak lama kemudian aku mencapai orgasme pertamaku melalui permainan mulut si tukang ojek pada kemaluanku, tubuhku mengejang sesaat, dari mulutku terdengar erangan tertahan karena mulutku penuh oleh penis si hansip. Cairanku yang mengalir dengan deras itu dilahap olehnya dengan rakus sampai terdengar bunyi, "Slurrpp.., sluupp..". Puas menjilati vaginaku, si tukang ojek meneruskannya dengan memasukkan penisnya ke vaginaku, eranganku mengiringi masuknya penis itu, cairan cintaku menyebabkan penis itu lebih leluasa menancap ke dalam. Aku merasakan nikmatnya setiap gesekannya dengan melipat kakiku menjepit pantatnya agar tusukannya semakin dalam. Bapak bersarung menggeram-geram keenakan saat penisnya kujilati dan kuemut, sedangkan si hansip sekarang sedang meremas-remas payudaraku sambil menjilati leher jenjangku. Aku dibuatnya kegelian nikmat oleh jilatan-jilatannya, selain leher dia jilati juga telingaku lalu turun lagi ke payudaraku yang langsung dia caplok dengan mulutnya

Beberapa saat lamanya si tukang ojek menggenjotku, tiba-tiba genjotannya makin cepat dan pinggulku dipegang makin erat, akhirnya tumpahlah maninya di dalam kemaluanku diiringi dengan erangannya, lalu dia lepaskan penisnya dari vaginaku. Posisinya segera digantikan oleh si hansip yang mengatur tubuhku dengan posisi bertumpu pada kedua tangan dan lututku. Kembali vaginaku dimasuki penis, penis yang besar sampai aku meringis dan mengerang menahan sakit ketika penis itu.
"Wuah.. memek Non ini sempit banget, untung banget gua hari ini bisa ngentot sama anak kuliahan.. emmhh.. ohh..", komentar si hansip.

Sodokan-sodokannya benar-benar mantap sehingga aku merintih keras setiap penis itu menghujam ke dalam, kegaduhanku diredam oleh Bapak bersarung yang duduk mekangkang di depanku dan menjejali mulutku dengan penisnya, penis itu ditekan-tekankan ke dalam mulutku hingga wajahku hampir terbenam pada bulu-bulu kemaluannya. Aku sangat menikmati menyepong penisnya, kedua buah zakarnya kupijati dengan tanganku, sementara di belakang si hansip mengakangkan pahaku lebih lebar lagi sambil terus menyodokku, si tukang ojek beristirahat sambil memain-mainkan payudaraku yang menggantung. Si Bapak bersarung akhirnya ejakulasi lebih dulu di mulutku, dia melenguh panjang dan meremas-remas rambutku saat aku mengeluarkan teknik mengisapku, kuminum semua air maninya, tapi saking banyaknya ada sedikit yang menetes di bibirku.
"Wah, si Non ini.. cantik-cantik demen nenggak peju!", komentar si tukang ojek melihatku dengan rakus membersihkan penis si Bapak bersarung dengan jilatanku.

Tiba-tiba pintu terbuka, aku sedikit terkejut, di depan pintu muncul si Mat dan si tukang ojek berkumis tebal yang sudah kembali dari membeli bensin.
"Wah.. ngapain nih, ngentot kok gak ngajak-ngajak", katanya.
"Iya nih, cepetan dong, masa gua dari tadi cuma disuruh jaga, udah kebelet nih!", sambung si Mat.
"Ya udah, lu dua-an ngentot dulu sana, gua yang jaga sekarang", kata si tukang ojek yang satu sambil merapikan lagi celananya.
Segera setelah si tukang ojek keluar dan menutup pintu, mereka berdua langsung melucuti pakaiannya, si Mat juga membuka kaosnya sampai telanjang bulat, tubuhnya agak kurus tapi penisnya lumayan juga, pas si tukang ojek berkumis melepas celananya barulah aku menatapnya takjub karena penisnya ternyata lebih besar daripada punya si hansip, diameternya lebih tebal pula.
"Gile, bisa mati kepuasan gua, keluar satu datang dua, mana kontolnya gede lagi!", kataku dalam hati.

Si hansip yang masih belum keluar masih menggenjotku dari belakang, kali ini dia memegangi kedua lenganku sehingga posisiku setengah berlutut. Si Mat langsung melumat bibirku sambil meremas-remas dadaku, dan payudaraku yang lain dilumat si tukang ojek itu. Nampak Mat begitu buasnya mencium dan memain-mainkan lidahnya dalam mulutku, pelampiasan dari hajat yang dari tadi ditahan-tahan, aku pun membalas perlakuannya dengan mengadukan lidahku dengannya. Kumis si tukang ojek yang lebat itu terasa sekali menyapu-nyapu payudaraku memberikan sensasi geli dan nikmat yang luar biasa. Si Bapak bersarung sekarang mengistirahatkan penisnya sambil mencupangi leher jenjangku membuat darahku makin bergolak saja memberi perasaan nikmat ke seluruh tubuhku. Ketika aku merasa sudah mau keluar lagi, sodokan si hansip pun terasa makin keras dan pegangannya pada lenganku juga makin erat. "Aaahh..!", aku mendesah panjang saat tidak kuasa menahan orgasmeku yang hampir bersamaan dengan si hansip, vaginaku terasa hangat oleh semburan maninya, selangkanganku yang sudah becek semakin banjir saja sampai cairan itu meleleh di salah satu pahaku. Tubuhku sudah basah berkeringat, ditambah lagi cuaca yang cukup gerah.

Setelah mencapai klimaks panjang mereka melepaskanku, lalu si Bapak bersarung berbaring di tikar dan menyuruhku menaiki penisnya. Baru saja aku menduduki dan menancapkan penis itu, si tukang ojek menindihku dari belakang dan kurasakan ada sesuatu yang menyeruak ke dalam anusku. Edan memang si tukang ojek ini, sudah batangnya paling besar minta main sodomi lagi. Untung daerah selanganku sudah penuh lendir sehingga melicinkan jalan bagi benda hitam besar itu untuk menerobosnya, tapi tetap saja sakitnya terasa sekali sampai aku menjerit-jerit kesakitan, kalau saja ada orang lewat dan mendengarku pasti disangkanya sedang terjadi pemerkosaan. Dua penis besar mengaduk-aduk kedua liang senggamaku, si Bapak bersarung asyik menikmati payudaraku yang menggantung tepat di depan wajahnya. Si Mat berlutut di depan wajahku, tanpa disuruh lagi kuraih penisnya dan kukocok dalam mulutku, tidak terlalu besar memang, tapi cukup keras. Kulihat wajahnya merah padam sambil mendesah-desah, sepertinya dia grogi

"Enak gak Mat? Kamu udah pernah ngentot belum?", tanyaku di tengah desahan.
"Aduh.. enak banget Non, baru pernah saya ngerasain ngentot", katanya dengan bergetar.
Aku terus mengemut penis si Mat sambil tanganku yang satu lagi mengocok penis supernya si hansip. Si Mat memaju-mundurkan pantatnya di mulutku sampai akhirnya menyemprotkan maninya dengan deras yang langsung kuhisap dan kutelan dengan rakus. Tidak sampai dua menit si tukang ojek menyusul orgasme, dia melepas penisnya dari duburku lalu menyemprotkan spermanya ke punggungku. Si Bapak bersarung juga sepertinya sudah mau orgasme, tampak dari erangannya dan cengkeramannya yang makin erat pada payudaraku. Maka kugoyang pinggulku lebih cepat sampai kurasakan cairan hangat memenuhi vaginaku. Karena aku masih belum klimaks, aku tetap menaik-turunkan tubuhku sampai 3 menit kemudian aku pun mencapainya.

Setelah itu si Bapak bersarung itu keluar dan si tukang ojek yang tadi berjaga itu kembali masuk.
"Aduh, belum puas juga nih orang.. bisa pingsan gua lama-lama nih!", pikirku
Tubuhku kembali ditelentangkan di atas tikar. Kali ini giliran si Mat, dasar perjaka.. dia masih terlihat agak canggung saat ke mau mulai sehingga harus kubimbing penisnya untuk menusuk vaginaku dan kurangsang dengan kata-kata
"Ayo Mat, kapan lagi lu bisa ngerasain ngentot sama cewek kampus, puasin Mbak dong kalo lu laki-laki!".
Setelah masuk setengah kusuruh dia gerakkan pinggulnya maju-mundur. Tidak sampai lima menit dia nampak sudah terbiasa dan menikmatinya. Si hansip sekarang naik ke dadaku dan menjepitkan penisnya di antara kedua payudaraku, lalu dia kocok penisnya disitu. Aku melihat jelas sekali kepala penis itu maju mundur di bawah wajahku. Si tukang ojek berkumis menarik wajahku ke samping dan menyodorkan penisnya. Kugenggam dan kujilati kepalanya sehingga pemiliknya mendesah nikmat, mulutku tidak muat menampung penisnya yang paling besar di antara mereka berlima. Aku sudah tidak bisa ngapa-ngapain lagi, tubuhku dikuasai sepenuhnya oleh mereka, aku hanya bisa menggerakkan tangan kiriku, itupun untuk mengocok penis si tukang ojek yang satu lagi. Tubuhku basah kuyup oleh keringat dan juga sperma yang disemburkan oleh mereka yang menggauliku.

Setelah mereka semua kebagian jatah, aku membersihkan tubuhku dengan handuk basah yang diberikan si hansip lalu memakai kembali pakaianku. Mereka berpamitan padaku dengan meneput pantatku atau meremas dadaku. Si tukang ojek berkumis mengantarku ke mobil sambil membawa sejerigen bensin yang tadi dibelinya. Setelah membantuku menuangkan bensin ternyata dia masih belum puas, dengan paksa dilepaskannya celanaku dan menyodokkan penisnya ke vaginaku. Kami melakukannya dalam posisi berdiri sambil berpegangan pada mobilku selama 10 menit. Untung saja tidak ada orang atau mobil yang lewat disini. Setibanya di rumah aku langsung mengguyur tubuhku yang bau sperma itu di bawah shower lalu tidur dengan perasaan puas.

Sungguh pengalaman yang memuaskan, dan aku suka dengan seks liar seperti ini. Pada kesempatan lain akan kuceritakan pengalamanku ngeseks dengan pelatih mengemudiku, 2 orang pengamen, dosenku, satpam kampusku, tukang becak yang mangkal di kompleksku, Pak RT, karyawan di kampusku, dan lain sebagainya.

E N D

Misteri Akhir Pekan Mila

Hampir lama kami tidak bercengkrama mesra. Paling-paling pulang kantor kami janjian di mal atau di suatu restaurant untuk makan. Atau kalau Papi (suamiku) nggak ada, dia datang mampir menjemputku. Kami tinggal nyaris satu kompleks di daerah Purwomartani Sleman, di kompleks yang memiliki pengamanan yang cukup baik.

12 Maret 2004

Walau Papi pergi untuk 4 s/d 7 hari, tidak tiap hari aku dijemputnya di rumah, kadang dia berangkat duluan pagi-pagi atau paling banter kami konvoy. Dan dia paling suka mengemudi di belakang mobil Papi. Katanya,"Secara psikologis lebih enak mengejarmu dari belakang jadi ada motivasi nih.."

Kemarin siang dia bilang kalau istrinya telpon, tidak bisa pulang, sehingga dia diminta datang ke Semarang. Ibu adalah manager personalia di sebuah bank, sementara GM-ku sebelum ke Yogya adalah GM di Semarang. Wah dia regret. Soalnya hotel lagi penuh. Jadilah mereka tidak bertemu akhir pekan itu. Dia langsung mengajakku,

"Mami.. Yuk kita main!?" ujarnya mengingat malam berikutnya Papi akan pulang.
"Di tempatmu aja ya?" aku mengangguk setuju.

Jadi malam itu aku masih di hotel. Maklum besok Sabtu, cuma sampai jam 12. Aku keasyikkan dengan notebookku, sampai tiba-tiba mendapat SMS dari GM menanyakan aku di mana. Dia sendiri baru pulang dari sebuah acara undangan dan kelihatan lelah sekali. Belum sempat menjawab SMSnya dia sudah berdiri di pintu kantorku. Sosok gagah tinggi besar 185 cm dan agak kekar diusianya ke 42 berdiri dengan senyum khasnya dan..

"Eeehh. Belum pulang?" sapanya mesra
".. Khan nungguin Papa," sahutku sekenanya langsung log-off dari 17Tahun.com.
"Ayo deh. Aku kawal di belakang.." jawabnya seperti biasa"In five minutes. Okay?"
"Yes sir" jawabku dan langsung aku 'rusuh' melipat notebookku dan seterusnya.

13 Maret 2004

Pagi hari dia SMS kalau akan mampir menjemputku. Hari itu aku sengaja berbusana kesukaannya blus berkerah shanghai biru muda satin dengan kancing-kancing putih yang berbaris rapih dan lurus dari leher ke bawah. Kupilih rok abu-abuku. Dan sepatu pemberiannya padaku, haknya tidak terlalu tinggi karena untuk dipakai kerja. Ketika Grand Corollanya berhenti di depan rumahku. Aku segera keluar dan mengunci rumah dari luar.

"Suit, shiuu.. Waduh waduh my honey cantiknya.. dari atas sampai bawah.." sapanya kagum.
"Idiih Papa, ini khan semua Papa yang beliin khan," jawabku manja sambil masuk ke dalam mobilnya.

Hari itu kami sibuk masing-masing. Tiba di rumahku. Aku bikinkan Papa, Nescafe kesukaannya lalu aku gorengkan pisang goreng kesukaannya. Belum sempat kami berganti baju. Bahkan masih bersepatu. Kami duduk nonton DVD, di lantai di atas bantal besar dan di peluknya dari belakang. Hangat.. Sampai kira-kira jam 18.30, kemudian aku beranjak hendak membuatkan makan malam. Diikutinya aku ke dapur.. tahu-tahu Papa melilitkan tali temalinya dengan tali pramuka yang warna putih, ke payudaraku. Mulai atas dan bawah. 4-5 kali lilitan.

"Paa. Sabar dulu, khan mau masak nih.."
"Biar Papa yang masakin buat Mami juga yaa," lembutnya dia berbisik hingga telingaku mulai terasa geli, sambil sementara dia simpulkan ikatan di tubuhku kemudian menarik kedua pergelangan tanganku kebelakang, menekuknya agak ke atas lalu disambungkan dengan tali yang sudah mengikat di dada dan lengkaplah tanganku terikat erat oleh Papa.

Dibiarkannya aku berdiri sambil menyaksikan Papa yang sedang menyalakan kompor. Menuangkan minyak. Kemudian membuat campuran bumbu, menyiapkan nasi yang sudah ada lalu dituangkan semua ke dalam wajan.

"Nasi Goreng ya Paa.??"
"Betul Mami. sudah lapar khan?" aku hanya tersenyum sambil menunggui Papa masak dengan tangan terikat di punggung.
"Kklikk.!" Papa mengambil gambar dengan Nokia 3650 satu kali, dengan Nokia 6600nya sekali.
"Ah. Paapaa." sergahku malu di photo dalam keadaan terikat.
"Mami tunggu dulu di ruang makan deh" Aku beranjak tinggalkan dia (memang kakiku tidak diikat) dan berjalanlah aku dengan tangan terikat. Menuju ruang makan.

Papa segera menyelesaikan masaknya. Membersihkan dapur rumahku, tidak lama dia mengajakku masuk ke dalam kamar. Kami duduk di ranjang. Lalu sendok demi sendok aku disuapinya sambil sesekali di sela dengan tawa candanya serta ciumannya yang hangat dikeningku. Di biarkannya aku di ranjang usai makan. Namun kakiku yang masih bersepatu dia ikatkan jadi satu mulai atas lututku. Lalu ada lagi ikatan di pergelangan kakiku.

"Sebentar ya sayang. Nikmati dulu kesendirianmu. Nanti kalau sudah beres di dapur, pasti Papa segera memelukmu," sambil menghidupkan AC di kamarku. Tinggallah aku sendirian di kamarku. Dengan tangan dan kaki terikat erat dalam kemesraan dan rasa ketergantungan yang tinggi dalam ketidak berdayaan kepada Papa yang mengikatku. Berusaha aku mengatur dudukku. Kemudian merebahkan kepalaku pada bantal serta mengatur posisi tubuhku enggak memiring ke kanan, agar tanganku yang terikat kebelakang tidak perlu tertimpa oleh tubuhku. Karena itu akan membuat tangan ini cepat kaku atau kesemutan.. Saking lelahnya badan ini maka akupun akhirnya terlelap..

Sesaat aku terjaga. Aku menoleh kesebelahku. Ternyata Papa tertidur di sisiku. Bertelanjang dada hanya memakai celana pendek tertidur dengan tangan yang memeluki diriku.

"Paa..?" Aku berusaha menyapanya tapi yang terdengar ditelingaku adalah, "Mmphh?" oh.. rupanya Papa telah menyumbat mulutku dengan lakban peraknya.

"Papaa.. Papa.." dalam hatiku menyadari mulut tersumbat yang menumbuhkan rangsangan sendiri serta ketergantungan padanya, "cepat-cepatlah bangun. Biar aku nggak 'terlantar' begini Pa"

Aku terlena dan kembali terlelap saat aku sadari rupanya Papa sudah terbangun sedang membelai-belai aku. Kemudian dengan 'ganas'nya Papa mulai menciumi leherku, telingaku wah pokoknya seluruh wajahku tidak ada yang luput dari ciumannya. Diiringi desah suara dan emosi jiwanya yang meluncurkan kata,
"Yamo.. (ti amo = cinta) Mami.. Ahh.." berulang-ulang saat dirinya menciumiku habis.
"Mami.. Mmm Maammii.!" desahnya sambil membuka kancing blus shanghaiku pemberiannya saat ulang tahunku dari bawah lalu ke atas dan menyibaknya pelan-pelan supaya tidak rusak. Dengan cekatan dia lepaskan kancing braku yang ada di depan lalu diremas-remas payudaraku dengan lembut, lambat laun lebih kencang. Puting susuku dimainkan dengan lidahnya, diisap-isap mesra.

"Mmh.. Mmmh..!" desahku nikmat dan tenggelam dalam kehangatan dan rasa sayang Papa hingga rasanya aku melayang dengan rangsangannya yang membuat aku semakin dekat dengan orgasme saking sekian lamanya tidak merasakan kehangatan laki-laki, karena seringnya ditinggal suamiku terbang.

Papa kemudian menjelajahi tubuhku dengan ciuman dan lidahnya hingga keujung kakiku yang masih dia biarkan bersepatu model tali melintang di pergelangan, yang dia sebut 'sepatu sexy' itu sementara naluri birahiku semakin meninggi dan kelihatannya Papa tahu gelagatku. Masih di ujung pergelangan kaki, Papa membuka tali-tali yang menyatukan kedua kakiku yang masih terikat pada pergelangan, ditariknya dengan mesra celana dalamku hingga lepas dari kakiku, kemudian mengikatkan kedua kakiku ke ujung kiri dan kanan tempat tidurku. Tidak dilepasnya rok abu-abuku olehnya hanya diangkat hingga pinggang dan kembali ujung lidahnya bermain dari lutut hingga selangkangan, serta merta rangsangannya yang kuat dan oh. Nikmatnya! Membuat vaginaku mulai basah.. Tanpa malu-malu Papa yang seakan tahu kebutuhanku detik itu melepas celananya, dan terlihat penisnya yang sudah sangat menegang itu. Tubuh Papa yang lumayan kekar itu mulai menghimpit tubuhku yang tak berdaya dalam puncak kenikmatan.. "Ccrreett.." lakban peraknya yang menyumbat mulutku dilepasnya,
"Auuwww.!!" teriakku manja lalu Papa mencumbui bibirku, mengulum dengan lidahnya yang menjelajah di dalam mulutku.
"Aaarrgghh.. Papaa.. Jantanku..!" tanpa sadar aku bersuara nikmat saat vaginaku menyambut penis Papa.

Bergoyang keluar masuk dengan kerasnya memberikan kenikmatan yang tidak dapat aku lukiskan dengan kata-kata. Mas. Aku memang dalam keadaan terikat erat tak berdaya. Oleh kebanyakan wanita mungkin dirasakan sebagai penderitaan, namun bagiku, ini adalah 'penderitaan yang sangat nikmat'

"Aaawwhh.." kurasakan cairan menyembur deras di vaginaku.

Papa sudah sampai pada ejakulasi dan telah memberi aku kenikmatan puncak. Memang dengan masalah penyakit kistaku yang belum dioperasi ini, aku tahu persis hubungan kami tidak meninggalkan resiko apa-apa. Maka meluncur deraslah cairan sperma Papa memenuhi vaginaku..
"Aaarrgghh!" Kurasakan kenikmatan puncak dari seseorang yang aku cintai karena perhatiannya dan kehangatannya yang tiada tara. Sungguh aku lupa keadaanku kini, meski ku terikat erat, tali-tali yang mengikatku ini kurasakan sebagai sebuah pelukan yang sangat erat dari Papa, yang seolah enggan melepaskan diriku kembali ke pemilikku yang sesungguhnya.

Lelah kami bercengkrama, lalu akhirnya kami tertidur.. Beberapa jam kemudian

"Paa. Bukain dong tanganku. Saakiitt ni..!"
"Paa." aku berusaha berbisik di telinganya.

Keadaan tubuhku yang belum berubah. Masih terikat tanganku kebelakang. Mulutku sudah tidak di plester lagi namun kakiku masih terikat erat ke masing-masing sudut tempat tidurku

"Saayaang. Lepasin ikatanku dong. Mmhh mm aahh!" kucium mesra telinganya.
"Eeerrgghh..!" erang Papa berusaha bangun dari pulasnya.
"Paa." aku berbisik lagi di telinganya.
"Apa Mamii.!?" jawaban saja yang terdengar dan mata masih terpejam.
"Bukain dong. Kesemutan nich..!'
"Oohh..!" Papa akhirnya terbangun.

Duduk semenit. Lalu mulai melepaskan ikatan di tanganku. Kakiku. Tak lupa dia menciumku hangat sebelum semua ikatan ditubuhku dilepasnya. Jam menunjukkan pukul 4 pagi.. Papa kembali tertidur, sementara aku masih berbaring berpelukan di dada Papa yang bidang itu. Setengah jam kemudian aku bangun, langsung mandi keramas membersihkan sekujur tubuhku.. Sementara mandi aku perhatikan bekas ikatan di pergelangan tanganku.. Tersenyum sendiri..

Tahu tahu Papa masuk langsung memeluki aku dengan hangatnya.

"Eh Papa sudah bangun?" kemudian lagi-lagi tanganku diikatnya ke belakang dengan tali pakaian bathrobeku yang berbahan handuk. Lalu aku digosoki sabun. Shampoo.. Suatu rasa yang sangat sensual dalam sentuhan tangannya, aahh..!!

14 Maret 2004

Papa sudah berangkat kembali ke hotel sekitar jam 10, lalu rencana dia akan pergi ke Semarang untuk menemui istri dan anak-anaknya selama satu malam. Papi (suamiku) memang kembali hari ini semalam, transit dari Jakarta. Besok dia akan terbang ke Bali, langsung terbang ke Sydney dan Melbourne Australia. Mungkin dia akan tiba sekitar jam 7 malam dengan pesawat terakhir dari Jakarta.

Segera aku beranjak, oh.. sudah jam 1 siang. Tidak terasa setelah tadi malam. Hari berlalu cepat. Aku meluncur ke Alfa, rencananya memang mau isi stok lemari es ku dengan makanan biar nanti kalau Papi mau makan, stok tetap ada. Pikirku. Sempat aku melewati hotelku, hotel kami (dengan Papa) dari kejauhan aku lihat mobil Papa segera meluncur keluar..

"Miillaa..!" handphoneku berbunyi, itu adalah telpon Papa yang memang ringtonenya adalah suaranya memanggil..
"Hi honey.!" jawabku
"Mau kemana Mamii.!?" suara diseberang.
"Cuma ke Alfa aja kog. Belanja!"
"Aku pulang dulu ke Semarang yaa.."
"Uu.. uuhh!" ungkapku kesal dan manja.
"Kukembalikan dirimu pada pemiliknya hehe hee!" goda Papa.
"Ya sudah hati-hati di jalan ya sayang..!"
"Yamo.. (maksudnya Ti amo)" kataku.
"Miss u sweety. Mmuuaahh!"
"Mmuuahh Papaa..!" telponpun terputus.

Tibalah aku di parkiran Alfa Gudang Rabat. Segera aku masuk ke dalamnya dan larut dalam keramaian belanja. Saat aku mengendarai Suzuki Escudoku bergegas kembali ke rumah. Jam digital di mobilku menunjukkan 17.30. Hemmh.. Empat jam lagi Papi pulang. Pikirku. Keasyikkan belanja membuat aku lupa akan kejadian semalam.

"Toh semua sudah ku bersihkan.. Sprei sudah kukirim ke laundry. Dan aku telah mampir untuk mengambilnya.. Dan sprei baru sudah kupasang.. Hemm!" pikirku dalam perjalanan pulang. Memasuki pekarangan rumahku, kuparkirkan mobilku.. Lampu rumah dalam keadaan menyala.. Wah Papi sudah landing nih. Hatiku bersorak. Kumasuk ke dalam rumahku.

"Paapii.." riangku.
"Ehh Mami. Dari mana aja? Tadi Papi telpon nggak di angkat.."
"Ah masa..?" buru-buru aku keluarkan hapeku dari tasku.
"Oh. Aku dari Alfa tadi sama mampir laundry.. Sorry sayang, nggak kedengeran. Rame soalnya di Alfa" jawabku lalu mencumbunya.
"Kog cepat mendaratnya. Bilangnya kemarin last flight?" tanyaku.
"Last flight cancel. Jadi aku nebeng aja sama si Tomo, pas dia bawa Boeing 737 jadi banyak seat," jelas Papi yang dari wajahnya terlihat letih.
"Ya sudah. sudah lapar khan. Aku masakin dulu yaa!"
"He eh deh!" Papi assyik memasang DVD terbarunya.

Hariku dengan Papi berlangsung biasa saja tetap dalam kemesraan. Aku nimbrung ikut nonton dvd dengannya sambil bersandar di perutnya yang besar dan empuk he.. he.. hee.. Menjelang malam tiba, aku tinggalkan Papi di ruang tengah karena ngantuk mau tidur.. Segera aku melepaskan bajuku berniat mengganti dengan dasterku, saat aku melepas BHku..
"Cccreett.. Cccreett.." belum sadar apa yang terjadi tanganku sudah terikat dengan lakban perak.
"Cccreett.." lalu mulutku diplester lakban yang sama.
"Mmmpphh.. Mmmpphh..!" protesku membutuhkan penjelasan Papi.. Dia mendorong tubuhku terduduk di ranjang kami lalu..
"Cccreett.. Cccreett.. Cccreett.." kakiku yang belum sempat melepaskan sepatunya sejak dari Alfa tadi sudah terikat jadi satu degan lakban perak itu..
"Wah sejak kapan Papi punya lakban itu??" tak habis aku bertanya.
"Dari mana barang begini?" tanya Papi menunjukkan lakban penemuannya.
"Siapa itu Pa.. Siapa Papa itu? Haahh?" tanya Papi lagi.
"Tadi kamu ketiduran.. Memanggil Papa.. Siapa itu?" (padahal mulutku diplesternya, bagaimana mau jawab??)
"Mmmpphh. Mmmpphh.!" mataku membelalak memprotes hak jawabku yang tersumbat ini.
"Cccreett.!!"
"Aaauuwwhh!!" sergahku kesakitan karena lakban dimulutku dibukanya dengan kasar!
"Papi. Lakban ini aku minta dari engineeringku untuk menempel dus baju yang sudah robek itu? Kenapa sih Papi ini??" aku menghardik balik..
"Siapa itu Papa..?" Papi seolah tidak menggubris jawabanku.

"Siapa mertuamu Papi??" aku nggak mau kalah, masih banyak akalku saat itu.
"Dia sempat menelponku dan memberi nasihat banyak disaat masa tuanya. Sebenarnya aku sedang mengingatnya." mataku berkaca-kaca.
"Terseraahh!!" Papi kesal dan masih emosi lalu kembali menyumbat mulutku dengan lakban dan meninggalkan aku di kamar kami, dikuncinya dari luar sementara dia mungkin tidur di depan televisi di penuhi rasa cemburunya yang tidak beralasan (padahal sebenarnya beralasan) cuma dia nggak punya bukti.

Tinggallah aku sendiri di kamarku, terkunci dari luar dan diriku terikat dengan lakban dalam keadaan telanjang seperti ini, hanya panty yang tersisa. Bingung aku. Memang aku bisa saja menikmati keberadaan ini, tapi untuk sendiri di sebuah ruangan. Terkunci. Tak ada ubahnya dengan penculikan di rumah sendiri. Ngerinya diri ini mengetahui terikat dalam kemarahan seseorang (meski suami sendiri).

Aku menyadari suatu hal, Papi, suamiku terdidik dalam keluarga yang mempunyai disiplin ketat. Bapaknya tidak segan menghukum dengan cambuk atau mengikatnya ke pohon atau kursi saat suamiku waktu itu ketahuan mencuri uang belanja untuk pergi main game. Hemh inikah caranya. Dia marah sama aku lalu aku langsung diikatnya. Belum pernah aku diperlakukan begini sejak hampir 4 tahun kami menikah. Aku lihat Papi ada potensi untuk mengerti 'kebutuhanku' cuma entah bagaimana cara untuk bisa membuatnya tahu kalau aku sebenarnya senang dengan ke'terikat'an dalam arti sesungguhnya. Hanya tidak senang sama sekali dengan keadaan sekarang, diikat sendirian dan dikurung di kamar terkunci dari luar.

Berusaha aku mengendalikan tubuhku yang terikat (atau terpaket) seperti ini serta merta mencari posisi agar tubuhku bisa naik semua ke tempat tidur sambil berharap lakban yang mengikatku bisa terlepas dengan sendirinya. Oh ternyata erat juga si Papi mengikat dan menghukumku seperti ini. Dan karena sebenarnya sudah sangat mengantuk, akupun akhirnya tertidur dalam keadaan yang serupa dengan malam sebelumnya, namun dengan rasa khawatir yang mencekam.. Takut juga kalau tiba-tiba Papi pergi membiarkan aku di rumah sendiri, di kamar terkunci, dan terikat dengan mulut diplester lakban.. Zzz!

Malam semakin larut. Aku melihat jam di sisi tempat tidurku menunjukkan pukul 3.00 pagi. Sejenak aku tersadar, keadaanku masih seperti tadi, tanganku terikat oleh lakban kebelakang, dengan kaki yang masih bersepatu, terikat erat menyatu dan mulut yang tersumbat lakban. Aku masih tertidur sendiri di ranjang pengantin kami, pelan-pelan aku berusaha bisa melepaskan diriku dari ikatan-ikatan yang membelengguku.
"Mmmpphh." basah air liurku kelihatannya bisa membantuku melepaskan mulutku. Demikian peluh di tubuhku diharapkan bisa mengendurkan daya rekat lakban yang hebat ini. Di kamar yang agak panas hawanya karena AC-nya lupa dinyalakan.

Malam yang penuh perjuangan ini belum berpihak padaku sehingga saking capainya meronta-ronta melepas belenggu ini, aku tertidur.

15 Maret 2004

Rasanya sudah jam 5 pagi. Agak ribut di kamar. Oh rupanya Papi baru habis mandi dan tengah berpakaian. Dapat kulihat amarah yang tidak mendasar itu masih menyelimutinya. Akupun pura-pura tetap tertidur. Berharap dia melepaskan ikatanku. Namun rupanya cuma mimpi. Papi yang pagi ini melayani pesawat pertama dari Yogya ke Bali kemudian 5 jam setelah itu terbang ke Sydney dan Melbourne hanya melemparkan gunting di bagian lain tempat tidurku kemudian meninggalkan rumah kami ini di mana istrinya terikat, tersekap sendirian..

Serta merta kugulingkan badanku gulingkan mendekati gunting itu. Memutar tubuhku dalam ketidak berdayaan. Hingga dapat!!

"Tiitt.. Tiitt.." bunyi klakson mobil yang kukenal.
"Oh. Papa??" pikirku. Sukacita di hati ini.

Aku berusaha berdiri. Berusaha berjalan, meski langkahku hanya 10 cm menuju cermin besar yang 2 meter dari ranjangku. Tanganku yang terikat lakban kebelakang menggengam gunting. Aku berhasil sampai di depan cermin dengan selamat, tidak jatuh! Kemudian aku berusaha menggunting lakban itu, sambil menoleh ke cermin namun takut juga melukai tanganku.

"Tiitt.. Tiitt.." bunyi klakson Great Corolla Papa bunyi lagi.

Segera aku berusaha dulu melepas mulutku dengan menggerak-gerakkan bibir bawah dan bibir atasku dengan tenaga dari daguku.

"Paapaa..!" Oh aku bisa kembali bersuara. Lakban itu hanya menempel di bibir atasku.
"Klek.. Klek..!" pintu rumah terbuka.
"Hey Mami. Ada apa dengan kamu sayang?" Papa masuk, terkejut habis melihat keberadaanku, terikat nyaris telanjang semua. Mulut masih berkumis lakban.

"Papaa.." isak tangisku dan jatuh dalam pelukannya.

Papa menggendongku duduk di ranjang kemudian buru-buru melepas lakban dimulutku dengan tuntas, kemudian menggunting lakban di tanganku serta melepas rekatannya dengan pelan dan lembut. Aku langsung memeluknya, padahal Papa mau buka ikatan (rekatan) di kaki ini.

"Ada apa dengan kamu Sweety. Dibilang rampok nggak ada yang hilang, kunci jendela nggak rusak? What is going on darling..?" ciuman dan pelukan Papa membuat rasa takut semalaman pudar sudah.
"Siapa yang membuat kamu begini?" tanya Papa lagi.
"Bilang-bilang dong.. Papa rugi nich..!" seloroh Papa sambil memberikan aku segelas air di dekat tempat tidurku.

Setelah hati ini lebih tenang sedikit.

"Itu si Papi, marah nggak jelas juntrungannya Paa.." aku mengadu.
"Langsung dia ikat aku kaya begini, terus disekap aku di kamar ini, di kunci dari luar" aku masih terisak.
"Ooohh. Kok gitu yaa.. Ya sudah, nanti kamu cerita lagi kalau kamu mau dan sudah tenang, Papa kaget aja pagi-pagi masuk rumahmu.. Hemh.. Kamu sexy banget lho!" goda Papa. Aku yang masih dipangkuannya jadi tersipu malu. Eehh ada yang 'mengeras' pas aku duduki.

"Gih. Mandi dulu sana. Papa bikinin sarapan lalu kita berangkat yuk!" ujarnya seperti biasanya dalam kehangatan yang khas Papa.

Aku segera membuka sepatuku. Membungkus diriku dengan bathrobe lalu berlalu ke kamar mandi sementara Papa beranjak keluar kamar berjalan menuju dapur. Kupasang radio compo di kamarku, 120.36FM eh bisa pas banget.. Lagunya Ruth Sahanaya:

"Ingin kumilikii, dengan sepenuh hati..

Walauku harus setengah terluka mengharap cintamuu..

Ingin ku sayangii. Tanpa terbagi laagii

Apakah mungkiinn, menjalin kasih bila aku tak tahu bagaimanaa, 'kan mencintai dirimu..

E N D

Kado Pernikahan

Kabar Berita

Pagi itu Daissy baru saja selesai mandi, ketika menerima telepon dari Erick, mantan cowoknya.

"Hallo Sayang, apa kabar?," demikian terdengar suara yang dulu pernah begitu familiar.

Karena sudah beberapa tahun tidak bertemu dengannya ada juga rasa penasaran di hati Daissy. Ingin tahu juga ia, apa kabar lelaki itu. Setelah saling bertukar informasi, tiba-tiba Erick bertanya,

"Katanya sebentar lagi mau kawin ya?"

Jawab Daissy singkat, "Iya," lalu sambungnya lagi, "Ini aku baru aja luluran, dalam rangka itu juga."

Setelah itu Daissy bertanya,

"Kenapa memangnya?"

Setelah terdiam sejenak Erick melanjutkan,

"Kamu masih ingat nggak kejadian di sofa di pavilion tempat tinggal saya."

Tertegun Daissy mendengar pertanyaannya. Pasti yang ia maksud saat-saat di mana mereka dulu masih berpacaran. Di sanalah Erick telah mengarahkan Daissy, dengan setengah memaksa, hingga akhrnya ia menjadi mahir melakukan seks oral. Terutama terhadap diri Erick.

"Kenapa?" Tanya Daissy dengan nada bercanda, "Sofanya rusak ya?"

Setelah terdiam sejenak Erick menerangkan,

"Bukan gitu, ternyata pernah ada yang motret kita berdua dalam pose yang rawan."

Seketika bulu kuduk Daissy terasa berdiri. Selanjutnya Erick menjelaskan lagi bahwa untungnya foto-foto itu berhasil ia dapatkan dan sampai sekarang masih disimpannya. Segera Daissy meminta waktu untuk bertemu dengan Erick, dan tentunya menuntut supaya ia menyerahkan foto-foto itu kepadanya. Masalah seperti ini tentunya bisa mengganggu masa depan rumah-tangganya. Akhirnya Erick setuju untuk menemui Daissy hari Sabtu yang akan datang. Dimintanya Daissy untuk menemuinya di Pavilion di sebelah rumah orang-tuanya.

Jerat Lelaki

Sesuai dengan janjinya, Daissy pun pergi ke tempatnya. Tepat pada jam yang telah kita sepakati ia telah mengetuk pintu pavilionnya. Erick sendiri yang membukakan pintu. Diciumnya pipi Daissy dan dipersilahkannya ia masuk. Erick minta maaf karena masih mengenakan bath-robe, berhubung ia baru saja selesai mandi. Tapi anehnya ia juga tidak segera mengenakan pakaian yang lebih pantas. Malah ia langsung ikut duduk menemani Daissy di atas sofa bersejarah, yang ternyata masih melengkapi ruang tamu pavilion tersebut.

Disajikannya segelas coca-cola untuk Daissy, lalu merekapun saling bertukar kabar tentang apa saja yang telah terjadi selama ini. Maklumlah tahunan juga mereka sudah berpisah. Nampaknya perasaan Daissy masih agak tergetar juga melihat mantan cowoknya tampil tampan dan macho seperti dulu. Mau tidak mau iapun teringat apa yang dulu pernah terjadi di sofa yang sekarang ini sedang mereka duduki. Terbayang kembali olehnya bagaimana dulu Erick menjilati kepunyaannya, lalu ia gantian mengemuti kepunyaannya. Mau tidak mau Daissy merasa celana dalamnya menjadi agak lembab.

Supaya tidak hanyut oleh keadaan, akhirnya Daissy menanyakan tentang foto-foto yang katanya masih ia simpan. Sambil tersenyum Erick meminta Daissy untuk duduk di sebelahnya. Tanpa rasa curiga Daissypun beranjak dan duduk di sebelahnya. Terlihat tangan Erick bergerak mengambil sebuah amplop dari bawah meja, lalu dikeluarkannya tiga buah foto berukuran agak besar. Terkejut Daissy melihatnya dan juga sedikit marah.

Di foto yang pertama tampak tubuh seorang wanita muda yang tidak lagi mengenakan baju atasnya, walaupun masih mengenakan celana jeansnya. Karena membelakangi kamera wajahnya tidak terlihat. Tapi terlihat ia sedang berlutut di depan seorang laki-laki yang duduk di atas sofa. Wajah laki-laki itupun tidak terambil oleh kamera. Jelas dari posisinya bahwa wanita tersebut sedang melakukan sesuatu pada alat kejantanannya. Tanpa ragu Daissy tahu bahwa yang tampak di foto tersebut adalah Erick dan dirinya.

Pada foto yang kedua laki-laki dan wanita itu dipotret dari arah samping. Tubuh laki-laki itu hanya terlihat dari pinggang ke bawah. Daissy melihat dirinya dalam foto tersebut sedang berlutut di depan laki-laki tadi, yang tentunya adalah Erick, sedang memegang dan mengulum alat kejantanannya.

Lalu pada foto yang ketiga terlihat adegan yang lebih mengerikan lagi. Daissy tampak terbaring dengan mata setengah terpejam. Tangannya menggenggam kepunyaan Erick yang terlihat masih agak keras. Erick berada pada posisi sedang mengangkangi wajahnya, tapi hanya terlihat dari pinggang ke bawah. Tangannya memegang kepala Daissy dan kelihatannya baru saja memalingkan wajahnya ke arah kamera. Lebih mengagetkan lagi untuk Daissy karena pada pipi dan bibirnya tampak tetes-tetes cairan berwarna putih agak kental. Siapapun yang melihat foto ini akan berkesimpulan bahwa laki-laki itu baru saja melepas air maninya kedalam mulutnya.

Daissy merasa marah sekali kepada Erick. Jelas sekali bahwa foto-foto ini telah dibuat di luar sepengetahuannya. Erick hanya mengiyakan dan menjelaskan bahwa ketiga foto itu di ambil melalui lubang jendela oleh Emir. Kemarahan Daissy mulai menyurut sewaktu Erick mulai merayunya.

"Sayang, maafkan saya ya. Dulu saya berani melakukan ini semua supaya kamu mau kawin dengan saya. Tapi sebelum saya sempat bicara sama kamu ternyata kamu sudah berangkat ke luar negeri. Orang tua kamu nggak mau kasih tahu kamu ada di mana."

Memang semua yang dikatakannya itu benar. Daissy dulu meninggalkan dia karena rasa marah.
"Siapa yang mau kamu lamar, kan kamu pacaran lagi, malah setelah itu katanya kamu pernah ada affair sama adikku sendiri," demikian Daissy menanggapi dengan ketus.
"Iya memang saya yang salah, tapi sampai hari inipun saya masih menyayangi kamu."
"Tapi kalau mengenai affair sama Cynthia itu hanya issue kok," dengan nada sungguh-sungguh ia mencoba meyakinkan Daissy.
"Ya sudahlah, jangan kita perpanjang lagi, sekarang kamu sudah kawin, aku juga sebentar lagi mau kawin."
"Sekarang foto-fotonya aku bawa ya.." Daissy ingin cepat-cepat meninggalkan Erick, karena sejujurnya ternyata getar-getar perasaannya rupanya masih ada. Erick merangkul pundak Daissy ditatapnya matanya dengan pandangan yang aneh. Katanya,
"Hanya tinggal itu kenang-kenangan saya. Jadi gimana?" Tanya Daissy agak bingung.
"Kasih saya sesuatu sebagai penggantinya, saya ingin mengulangi apa yang dulu pernah kita lakukan."
Daissy terdiam, tidak tahu harus berbuat apa. Apapun yang terjadi foto-foto ini harus ia dapatkan.

Cinta Terulang
Tiba-tiba ada rasa hangat di bibir Daissy, ternyata Erick telah menciumnya. Lalu sebelum Daissy sempat berontak untuk melepaskan diri, lelaki itu telah erat-erat merangkulnya. Perlawanan Daissy juga tidak berlangsung terlalu lama. Keinginan mengamankan foto-foto itu, pengaruh dari melihat adegan pada foto-foto tersebut, dan sisa perasaan Daissy terhadap Erick akhirnya mendorongnya untuk membalas ciuman Erick. Ketika tangan Erick menuntun tangan Daissy ke pangkal pahanya, Daissy merasa gairahnya mulai memuncak. Tangan Daissy menyusup memasuki celana dalam Erick, dan langsung memegang batang kejantanannya yang besar, keras, dan tegang itu. Begitu juga sewaktu tangan Erick menarik kepala Daissy ke arah kepunyaannya, dengan tanpa ragu Daissy merosot celana dalam Erick.

Kenangan dari masa lalu membuat Daissy seolah-olah lupa diri. Setidak-tidaknya begitulah pengakuannya. Daissy menciumi dan menjilati kepunyaan mantan cowoknya. Lalu seperti dulu dikulumnya ujung kepala kejantanan Erick. Bahkan dibiarkannya Erick mendorong kemaluannya masuk ke dalam mulutnya. Rongga mulut Daissy terasa penuh sesak, dan nafasnya tersengal-sengal.

Sementara Daissy sedang melakukan itu semua, Erick telah melepas bath-robenya, lalu mulai melepas baju atas Daissy. Tetapi Daissy menolak ketika Erick ingin melepas rok bawahannya. Lama juga mulut Daissy mencumbu alat kejantanan Erick, hingga akhirnya ia mulai mendekati titik klimaksnya.
"Yang, sayang, aku hampir nih, kamu siap ya!"
Daissy hanya bisa bergumam mengiyakan. Lalu Erick menelentangkan Daissy di sepanjang sofa maksiat itu, dan menempatkan barang kerasnya tepat di atas wajahnya. Rupanya ia ingin mengulangi adegan di foto yang baru saja Daissy lihat. Daissy memegang kepunyaan Erick lalu dikocok-kocoknya, sambil mulutnya mengemut-emut ujung kepalanya yang bulat keras. Rasanya aneh dan sekaligus menyenangkan. Ketika air mani kental menyembur dari alat kejantanan Erick Daissypun membiarkannya memenuhi mulutnya. Lalu diemutinya daging keras Erick, sambil menelan air siramannya.

Setelah dituntaskannya tugasnya beberapa tetes cairan dari kemaluan Erick kubiarkan jatuh di atas pipi dan bibirnya. Persis seperti dulu.
"Puas Rick?" Tanya Daissy kepadanya.
"Aduh Yang, ini yang selama ini aku kehilangan," lalu tanyanya, "boleh sering-sering nggak?" Sambil tersenyum Daissy menggelengkan kepalanya.

Kalah Menyerah
Sementara Daissy sedang membersihkan dirinya di kamar mandi, tiba-tiba Erick masuk dalam keadaan bugil. Dirangkulnya Daissy dan diremas-remasnya seluruh tubuhnya. Karena sedang membasuh diri otomatis Daissy berada dalam keadaan hampir sebugil dia.

Rupanya hal ini membangkitkan gairah Erick. Tanpa berkata apa-apa lagi, digelandangnya Daissy ke tempat tidur di ruangan dalam.
"Rick, kalau yang ini jangan dong," pinta Daissy dengan nada memelas. Dia menatap Daissy dan bertanya,
"Memangnya sampai sekarang belum pernah juga ya?"
Mengerti apa yang dimaksud, Daissy menjawabnya,
"Ya udah, tapi kan sebentar lagi aku kawin."
Dengan nada enteng Erick hanya menanggapi,
"Kalau belum sampai kawin, ya masih milik umum dong."
"Sialan si Erick," umpat Daissy dalam hatinya.

Didudukkannya Daissy di sisi ranjang dan disodorkannya alat kejantanannya kepadaku. Tanpa disuruh lagi langsung Daissy mengemut-emutnya, mulanya asal-asalan tapi lama-kelamaan dengan penuh gairah. Akibatnya dalam tempo singkat barang kepunyaan Erick sudah menjadi besar dan keras seperti sedia-kala. Ditelentangkannya Daissy di tempat tidur, lalu ia naik ke atasnya dan mulai memasukkan batang kerasnya ke dalam kemaluan Daissy. Tapi rupanya Erick ingin menggoda Daissy dulu. Ditahan-tahannya kemaluannya itu sehingga tidak sepenuhnya masuk, sambil digosok-gosoknya di bibir kepunyaan Daissy. Daissy merasa kegelian sekali. Karena tidak tahan akhir Daissy merangkul pantat Erick dan menekannya keras-keras ke bawah.

Erick tertawa, Daissy merintih. Erick mengerang, Daissy menjerit kecil. Erick mengganas, Daissy hanya mampu mendesah menyebut-nyebut namanya. Sempat terpikir oleh Daissy kalau tahu enaknya seperti ini mungkin sudah dari dulu akan diserahkannya semua untuk Erick. Pada puncak pengalaman di hari itu Erick melepas semburan air maninya ke dalam liang rahim Daissy. "Aduh Rick enak sekali," hampir Daissy melolong keras karena kenikmatan yang dirasakannya.

Setelah menikmati diri Daissy sikap Erick menjadi agak berubah. Tidak lagi semesra dan semanis sebelumnya. Tapi Daissy tidak mengacuhkannya. Karena setelah hari ini tentunya Daissy tidak punya rencana untuk bertemu lagi dengan dirinya. Sebelum meninggalkan pavilion Erick, dengan membawa foto-foto celaka itu, teringat oleh Daissy untuk meminta negatifnya.
"Waduh, masih ada sama si Emir tuh," jawab Erick dengan gaya seenaknya.
Daissy meminta Erick menelepon Emir, sementara ia duduk menantikan di sofa depan.

Samar-samar terdengar suara Erick sedang bercakap-cakap di telepon. Beberapa ucapannya membuat Daissy agak tersinggung. Terdengar oleh Daissy,
"Masih lu simpen nggak?"
"Iya, diminta tuh sama bintang filmnya.."
"Gue suruh ketemu sendiri ya.."
"Bisa tuh dipake.. Mau kok, gua udah dong.."
"Iyalah, semuanya dong.. Ya pinter-pinternya elu aja."
Daissy merasa dianggap murahan sekali. Tapi ya sudahlah semuanya memang salahku sendiri, demikian pikir Daissy. Erick memberi Daissy nomor telepon Emir. Ia tinggal di sebuah pavilion kecil di daerah Cawang. Segera Daissy meninggalkan Erick dengan 1001 rasa penyesalan, tapi sebetulnya bercampur rasa kepuasan juga.

Ajak Bercinta
Beberapa hari kemudian Daissy menelpon Emir,
"Mir ini aku!"
Tidak langsung mengenali Daissy terdengar suara Emir bertanya,
"Ini siapa sih?" tanyanya.
"Nggak ngenalin ya, memangnya dikira siapa," demikian Daissy berlagak ramah.
Dengan nada yang kocak tapi menjengkelkan Emir mengatakan,
"Kirain ada cewek cari penis."
Agak kesal Daissy, "Ih kurang ajar banget."
Memang setahu Daissy dari dulu Emir terkenal sebagai pemuas dahaga nafsu kaum wanita, terutama untuk ibu-ibu yang lazim disebut tante girang-nyonya jalang. Beberapa saat kemudian Emir mengenali suara Daissy, terutama setelah Daissy menjelaskan permintaannya. Emir setuju untuk menerima Daissy besok, asal Daissy datang sendiri.

Sebetulnya Daissy merasa agak curiga, tapi ya sudahlah, sudah betul-betul kepalang tanggung. Maka tidak heran Daissy ketika datang ke rumahnya dan menyatakan maksudnya, langsung Emir bertanya,
"Imbalannya apa? "
"Ya kamu mintanya berapa? " Daissy menanggapi ketus.
"Bukan berapa anak manis, tapi apa? " demikian Emir menegaskan.
Daissy mengatakan kepada Emir semuanya terserah kepada dia saja. Walaupun demikian Daissy tidak langsung mau menuruti kemauan Emir begitu saja. Masih dicobanya untuk menawar-nawar, supaya ia tidak harus memenuhi dorongan nafsu syahwatnya. Dibujuknya Emir dengan mengatakan bahwa orang seperti dirinya bukan tipe wanita yang dia suka. Tiba-tiba Emir menarik tangan Daissy dan berkata dengan serius,
"Sebaliknya, dari dulu saya udah naksir kamu, tapi sayangnya keduluan Erick."

Lalu ditunjukkannya amplop berisi negatif film yang Daissy cari. Ketika dicobanya untuk merebutnya, Emir mengelak lincah. Karena gemasnya akhirnya Daissy mengejar-ngejar Erick, sehingga tanpa sengaja terpancing mengikutinya masuk ke kamar tidur. Emir mengunci pintu, lalu memandangi Daissy yang terduduk kelelahan di tepi ranjang. Ia berlutut di depan Daissy lalu mencium bibirnya, dan seterusnya melumatnya dengan ganas. Belum pernah Daissy dicium seorang laki-laki sampai seperti itu. Karena baru sekedar dicium oleh Emir getaran-getaran lembut seperti pada awal orgasme telah mulai melanda sekujur tubuhnya. Seperti terhipnotis semua kendali kesadaran dirinya sirna. Bahkan ia merasa sangat terhormat ketika Emir mulai melucuti seluruh pakaiannya. Dalam perasaannya sepertinya Emir adalah orang yang memiliki dirinya dan berhak untuk berbuat apa saja terhadap dirinya.

Emir memang lumayan ganteng, walaupun kulitnya agak gelap. Tapi kemampuannya untuk menundukkan wanita rupanya bukan semata-mata berasal dari kelebihan-kelebihan jasmaniahnya. Baru di hari-hari kemudian Daissy tahu dari beberapa sahabatnya, yang juga pernah digauli Emir, bahwa merekapun mengalami mirip dengan apa yang dialaminya di siang hari itu. Ketika Emir melepas baju dan celananya, Daissy merasa heran karena di hatinya malah ada rasa bangga. Ketika alat kejantanannya yang hitam besar ia sorongkan kepada Daissy, rasanya ia seperti mendapat anugerah.

Daissy mencium-ciumi, dan mengusap-usapkannya di wajahnya, lalu menjilati, dan mengulumi ujung kepalanya, hingga akhirnya mulai mengemut-emut semuanya di mulutnya. Berbeda dengan pengalamannya bersama Erick, dengan Emir ia merasa dihargai, dan perasaan itu timbul justru ketika ia sedang memuaskan hasratnya. Laki-laki yang dikiranya kurang ajar itu ternyata malah lembut sekali. Setidak-tidaknya pada waktu sedang bercinta. Kata-kata yang diucapkannya cenderung membuat Daissy berbesar hati.

Ketika alat kejantanannya itu memasuki kemaluan Daissy yang telah basah, Daissy menjadi lupa segala-galanya. Hebatnya rasa orgasme yang ia alami bukan hanya terjadi di ujung permainan cinta seksual itu, tetapi terus-menerus. Ketika Emir telah membasahi liang rahimnya dengan air maninya, dan kemudian berbaring memeluk tubuhnya, Daissy menyembunyikan wajahnya di dada lelaki itu, lalu menangis. Kejengkelannya pada Erick hari ini lepas terbuang. Bersama Emir harga dirinya terpulihkan dan hasrat kewanitaannya terpuaskan.
"Emir, aku seneng sekali," katanya berbisik.
Emir hanya mengusap-usap kepala Daissy dengan lembut. Kemudian diajaknya Daissy sama-sama ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Diserahkannya negatif foto-foto yang tadi diminta Daissy kepadanya.

Tapi rupanya Daissy belum ingin pergi, maka ketika Emir memintanya tinggal, ia merasa senang sekali. Pada waktu Emir mengajak Daissy makan malam, walaupun hanya makanan dari warung di sebelah rumah, Daissy sungguh menikmati apa yang disantapnya. Tidak lama kemudian Emir mengajak Daissy dengan suara berbisik,
"Masih mau menemani saya nggak? "
"Wah jangan ditanya lagi," kata Daissy dalam hati, dan nggak perlu diminta dua kali. Kali ini Daissy menumpahkan seluruh gairah-birahinya dengan lebih bersemangat. Seluruh tubuh Emir yang telah terbaring tanpa busana itu ia jilati. Maksudnya sungguh-sungguh seluruhnya. Dari ujung kepalanya sampai ujung kakinya, bahkan hingga mencapai semua celah-celah yang paling tersembunyi sekalipun.

Kali ini Emir yang sampai mendesah dan mengerang karena pelayanan Daissy terhadap dirinya. Apalagi ketika alat kejantanannya yang besar dan keras itu ia lumat dengan bibir dan lidahnya. "Aduh, kamu hebat sekali, betul-betul nggak saya sangka," katanya tulus mengaku.
Ketika tiba gilirannya mengerjai Daissy, Emirpun tampil ganas, buas, dan sangat tangguh. Tubuh Daissy serasa hampir remuk, dan Daissypun hanya mampu untuk mengerang dan menjerit, setiap kali getaran kenikmatan melanda sekujur tubuhnya. Daissy sampai merasa hampir pingsan. Maka ketika harus pergi meninggalkan Emir rasa hati Daissy enggan sekali.

Luap Birahi
Tidak sampai tiga hari kemudian Emir menelpon Daissy.
"Waktu itu enak sekali ya, kapan lagi dong sayang?" demikian katanya meminta.
Daissy mengatakan kepadanya bahwa setiap saat ia mau dan siap. Maka keesokan harinya kembali Daissy pergi ke tempat tinggalnya. Di sanalah ia memuaskan hasrat hati dan nafsu birahinya. Begitu pula dengan Emir, yang kekuatannya seakan-akan tidak mengenal batas, ditumpahkan semua yang ia miliki. Di liang kewanitaan Daissy, di mulutnya, di wajahnya, dan di sekujur tubuhnya. Basah dan puas Daissy dibuatnya.

Sekembalinya Daissy ke rumahnya, semua terasa begitu sepi dan membosankan. Untunglah bagi dirinya karena kurang-lebih seminggu kemudian kembali Emir menghubunginya. Katanya,
"Yang, saya lagi kangen nih, ketemu yuk!"
Sayangnya Daissy sedang tidak ada kendaraan, sehingga terpaksa mereka membuat janji untuk bertemu di sebuah super-market dekat tempat tinggal Daissy. Dari sana Emir membawa Daissy ke sebuah motel dan mencurahkan rasa rindunya kepadanya. Begitu pula Daissy. Apalagi di tengah rangkaian acara senggama itu, Emir sempat menyampaikan bahwa beberapa hari lagi ia akan berangkat ke Sulawesi. Di sana ia akan bekerja di salah-satu usaha milik keluarga jauhnya.
"Yah daripada di Jakarta jadi supir, satpam, atau pegawai rendahan, mungkin karirnya di tempat yang jauh itu bisa lebih maju. Apalagi sebentar lagi Daissy akan melangsungkan pernikahan. Lebih baik kalau setelah itu kita tidak ketemu."
Mendengar semua yang disampaikan Daissy padanya Emir tersenyum.
"Kalau begitu anggap aja ini hadiah perkawinan dari saya ya," demikian ia berkata dengan bijak, sambil menyodorkan alat kejantanannya yang telah mengeras tegang ke arah Daissy. Setengah bercanda Daissy mengucapkan terimakasih kepada Emir, lalu mulai melayani hasrat birahi lelaki Sulawesi itu. Dengan sempurna, sepenuhnya, dan sepuas perasaan Daissy. Tidak ada satu moment-pun yang boleh terbuang percuma. Berjam-jam mereka berdua bercengkerema tanpa busana. Daissy memuaskan Emir, dan Emirpun memuaskan dirinya.

Bangga Terasa
Beberapa minggu kemudian Daissy sempat menghadiri acara reuni SMA-ku. Ternyata ada beberapa sahabat dekatnya yang pernah mengalami hal yang sama dengan Emir. Yasmin, yang paling suka bicara seronok, berkomentar,
"Wah, kalau punya Emir sih memang penis dewa."
Semua yang pernah ada hubungan dengan Emir tertawa tersipu-sipu. Tapi ada satu hal bagi Daissy yang tidak pernah kuduga, pada waktu ia menceritakan bahwa Emir sampai tiga kali menemuinya. Bahkan mungkin lebih kalau Daissy tidak menikah, atau dia tidak berangkat ke Sulawesi. Kawan-kawannya semua berpendapat, jangan-jangan Emir benar-benar jatuh cinta padanya. Biasanya lelaki itu paling jual mahal. Kalau begitu rupanya Emir juga kena batunya. Daissy hanya diam saja, dan mensyukuri keberuntungannya.

Awal Mulanya
Kebetulan di tengah pembicaraan saat itu juga ada sahabatnya. Dialah satu-satunya orang yang mengetahui peristiwa yang terjadi antara Daissy dengan Erick dan kemudian dengan Emir belum lama ini. Terus terang dari sejak di SMA dulu Carla, sahabatnya itu, yang sering-kali menjadi tempat Daissy berkonsultasi masalah pacar dan seks. Carla mencari Daissy, terlihat dia tersenyum nakal ke arahnya. Mengingat kenakalan Daissy bersamanya dulu Carla hanya dapat tersenyum geli.

Memang kalau diurut-urut sebenarnya semua yang telah dialami Daissy di tangan Erick dan Emir berujung pangkal pada ulah Carla juga. Awalnya ialah sewaktu dulu Daissy mulai berpacaran dengan Erick. Menurut Daissy beberapa kali Erick telah memintanya untuk melakukan hubungan intim dengannya. Tapi keinginannya selalu berhasil ditolaknya. Soalnya masalah kegadisan adalah sesuatu yang menurut Daissy pada waktu itu harus dipertahankannya. Katanya ini memang sudah menjadi tekadnya. Memang kadang-kadang timbul juga rasa kasihan di hatinya melihat Erick. Tapi aku harus bagaimana lagi?, Tanya Daissy bingung di kala itu.

Keinginan Erick yang satu ini diceritakannya secara terus terang kepada Carla, sahabat dan sekaligus penasihat pribadinya yang lebih berpengalaman. Berbeda dengan Daissy, Carla sudah sejak lama kehilangan keperawanan. Jadi waktu Daissy menceritakan masalahnya dengan Erick, Carla hanya tertawa geli. "Itu sih masih mau jadi perempuan kolot," demikian komentar Carla menggodanya. Lalu dianjurkan Daissy, "Tapi kalau kamu mau, kasih aja dia alternatifnya."
Dengan heran Daissy bertanya, "Apa sih La? Orang yang dia minta yang satu itu kok."
Sambil terus menggodanya akhirnya Carla memberi tawaran padanya. Katanya,
"Kalau mau tahu malam minggu nanti ke tempat gue deh, entar gue ajarin elo musti gimana sama cowok! OK?"
Rupanya karena merasa penasaran ajakan Carla itu diterima Daissy dengan penuh semangat.

Bermalam Minggu
Malam minggu berikutnya Daissy datang ke rumah Carla. Suasana rumah pada malam ini agak sepi. "Pada kemana La? Kok sepi amat," tanya Daissy pada Carla.
"Iya nih, Enyak, Babe sama adik-adik gue lagi pada ke puncak, katanya sih sampai besok sore," demikian Carla menjelaskan. Lalu ditegaskannya lagi pada Daissy,
"Jadi kita bebas mau ngapain aja."
Kecuali mandi sore dan makan malam tidak begitu banyak yang terjadi malam itu. Kelihatannya Daissy sudah penasaran menunggu Carla menceritakan pengalamannya, katanya supaya bisa dipakainya untuk mengatasi persoalannya dengan Erick. Kasihan juga Carla melihat Daissy agak malu-malu mau menanyakan langsung kepadanya. Apalagi dengan sengaja justru Carla banyak bercerita tentang pacar barunya. Digambarkannya tentang cowoknya itu sebagai seorang laki-laki jantan yang usianya lebih dewasa dan sudah bekerja di sebuah Oil Drilling Company. Kalau jadi nanti malam dia akan datang. Kelihatannya Daissy menjadi kuatir.
"Kalau begitu kapan sempat ngasih tahu jurus-jurus rahasianya sama aku?" tanyanya pada Carla.

Kira-kira jam 9-an Carla mengajak Daissy ke kamarnya untuk berganti pakaian dan memakai daster. Tapi dilarangnya Carla membersihkan riasan di wajahnya. Menurut Carla biar saja begitu, minimal sampai Bambang, pacar barunya, datang dan melihat Daissy. Sambil menunggu Bambang, Carla mengajak Daissy menonton film video yang baru disewanya. Kaget juga dia menonton videonya blue-film yang meragakan bermacam-ragam adegan seks. Seperti juga Carla, kelihatannya Daissy mulai merasa panas melihat barang kepunyaan laki-laki yang besar-besar diemut-emut, lalu diundang memasuki liang kemaluan wanita yang kemerah-merahan.

Carla melirik Daissy menonton film video itu di sebelahnya. Kadang-kadang matanya sampai terpejam-pejam. Tangan kanannya sudah berada di balik celana dalamnya. Rupanya secara sembunyi-sembunyi dia sedang melakukan mengusap-usap kemaluannya. Merasa ada yang memperhatikan, Daissy berpaling menengok ke arah Carla. Dia tersenyum dan dengan malu-malu bertanya,
"Kenapa La?" Supaya tidak merasa canggung Carla menganjurkan Daissy untuk meneruskan,
"Terusin aja, aku juga mau kok!"

Lalu mulai juga Carla meraba-raba kepunyaannya yang mulai terasa basah. Carla melirik kearah Daissy yang sedang mengamati dirinya sedang melakukan masturbasi. Terus-terang saja memang Carla lebih ahli. Tehnik-tehnik masturbasi yang ia lakukan langsung ditiru Daissy, hingga memberinya pengalaman baru, dan sensasi yang luar biasa. Apalagi dia melakukan itu semua sambil memperhatikan adegan-adegan seks di layar TV.

"Daissy," Carla mengejutkannya dengan panggilannya. Lalu Carla mengajaknya tanpa ragu-ragu,
"Kita buka baju yuk, nanti lebih terangsang lagi deh."
Melihat Daissy agak ragu-ragu, Carla terus mendesak dia.
"Alah, biasanya kalau habis olah-raga kita mandi dan ganti baju sama-sama."
Akhirnya Daissy mengikuti anjuran Carla juga. Nampaknya dia sudah tidak mampu lagi untuk berpikir dengan jelas. Sambil terus mengusap-usap kemaluannya Carla mulai menyampaikan kuliahnya.
"Daissy, untuk yang umurnya seperti kita sebetulnya udah boleh lho berhubungan seks."
Lalu lanjutnya,
"Tapi kalau belum siap, lakukan aja yang mendekati hubungan intim. Kata cowok gue rasanya juga enak sih."
Dengan rasa penasaran Daissy bertanya,
"Apa itu La? Gimana caranya?"
Langsung Carla menunjuk ke layar TV, di mana adegan oral seks sedang berlangsung,
"Seperti gitu tuh!"
Rupanya langsung Daissy mengerti. Tapi katanya,
"Nggak berani ah La. Jijik kan!"
Dengan gaya seorang wanita yang bijak dan berpengalaman Carla menjelaskan padanya,
"Kalau belum coba nggak bakal tahu enaknya."
Lalu diperjelasnya lagi,
"Betul-betul sensasi yang luar biasa lho masturbasi sambil ngemutin punya cowok."
Penasaran dia kepingin tahu,
"Kamu pernah La?"
Carla hanya tersenyum,
"Ya pernah dong, malah sampai keluar di mulut gue."
"Ih Carla, nekad amat sih," tanpa sadar Daissy berteriak.
Tapi Carla yakin sebenarnya dia juga kepingin tahu rasanya.
"Caranya gimana La? Masa lagi sayang-sayangan tiba-tiba punya dia langsung kita masukin ke mulut?"
Dengan sabar Carla terus memperluas cakrawala pengetahuan seks Daissy.
"Nggak gitu dong, ya pake pemanasan dulu.. Pertama-tama kan dia kita rangsang dulu.. Ya caranya ciumin sama jilatin aja seluruh badannya, lama-kelamaan kan sampai ke.. ITU-nya." Rasanya Daissy mulai mengerti. Lain soal apakah dia punya cukup keberanian untuk melakukannya atau tidak. Selanjutnya Carla mengajak Daissy terus menonton film video seks itu, sambil terus mengelus-elus bibir kemaluannya. Carla sudah merasa panas dan bergairah, tentunya demikian pula Daissy.

Kenalan Baru
"Hallo.. Wah kok ada bidadari kayangan nih?"
Tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki. Terlihat Daissy kaget setengah mati. Kalaupun mau lari entah bisa kemana. Karena bingung sekali paling-paling yang bisa ia lakukan hanya merapatkan lengan, menutup dada, dan merapatkan pahanya. Carla sendiri hanya tersenyum geli, karena memang semua ini sudah diaturnya dari awal.

Bambang, lelaki gagah dan berbadan bagus yang menjadi cowok Carla, terlihat santai memasuki kamar dan menghampiri dirinya. Sempat Carla melirik ke arah Daissy dengan tatapan yang semakin membuat Daissy kebingungan. Selanjutnya Bambang memeluk tubuh Carla yang sudah telanjang, seperti keadaan Daissy juga saat itu, lalu mencium bibirnya lama. Barangkali karena sudah sangat bergairah dengan bernafsu tanpa malu-malu Carla melepas baju kaos cowoknya.

Melihatnya dalam keadaan telanjang membuat Carla cukup terangsang. Tapi ditahannya hasrat birahinya, karena ia ingin supaya Daissy bisa praktek langsung dengan Bambang.
"Eh sayang," kata Carla padanya, "kenalin dong, ini sahabat Lala!"
Daissy makin menciut ketakutan, terutama ketika laki-laki itu mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Bambang," katanya memperkenalkan diri.
Daissy sendiri tidak mampu berkata apa-apa. Melihat seorang laki-laki tanpa baju dalam keadaan diri yang penuh gairah, membuat lututnya terasa lemas sekali. Pasti dia sudah betul-betul kehilangan akal. Dengan gamblang Carla menyampaikan kepada cowoknya,
"Bang, kamu tahu kan yang kamu paling seneng dari saya."
"Iya dong, making love kan"
"Nggak, maksud Lala yang sebelum itu apa?"
Carla melihat mata Daissy mendelik marah sekali kepadanya.
"Oh oralnya, Iya memang kamu hebat," kata Bambang tanggap.

Kata-kata Carla selanjutnya pasti membuat Daissy terkejut seperti disambar petir.
"Bang, Lala tadi baru ngajarin Daissy caranya melakukan oral. Kayaknya perlu dipraktekkin langsung deh. Kamu mau nggak bantu?"
Bambang menatap Daissy ramah, sambil mengatakan, dengan senang hati. Ia beranjak semakin mendekati Daissy. Sebetulnya Carla merasa agak cemburu juga, tapi direlakannya Bambang untuk Daissy, supaya dia bisa mempraktekkan apa yang tadi baru diajarkannya pada temannya itu.

Tanpa ragu sedikitpun Bambang mengusap bahu Daissy. Lalu diajaknya Daissy yang terlihat ketakutan itu duduk di atas sofa. Daissy semakin gugup.
"Bukan.. eh.. jangan.. saya belum pernah."
Tiba-tiba bibir Bambang hangat mencium Daissy. Rupanya dia yang dari tadi sudah terlanda gairah tidak mampu menahan diri. Tidak berapa lama kemudian ia mulai membalas ciuman Bambang itu dengan sepenuh hati.
"Jangan takut, kamu nikmatin aja," kata Bambang menenangkan Daissy.
Lalu Bambang mulai menciumi leher Daissy dan akhirnya mengemut-emut puting dadanya. Daissy merasa seperti dibawa terbang melayang. Entah berapa lama ia terbawa hanyut.

Waktu dibuka matanya, ternyata Bambang sudah duduk di sampingnya. Kepala Daissy sudah tersandar di lengan Bambang yang kokoh. Karena cukup dekat dengan ketiaknya, tercium bau keringat bercampur cologne yang katanya kemudian membuatnya semakin terangsang. Semua yang tadi kuajarkan padanya mulai dilakukannya. Dia tidak lagi merasa malu. Diciumnya lagi bibir Bambang, malah agak sedikit agak digigit, sampai Bambang mengeluh nikmat. Setelah itu mulai diciuminya leher, bahu dan dadanya. Wangi cologne-nya Bambang membuat Daissy semakin lupa diri. Walaupun sadar bahwa Carla sedang memperhatikannya, dia tidak terlalu mampu untuk memikirkannya.

Pada waktu sedang menciumi dadanya, tangan Bambang dengan lembut menekan kepalanya ke bawah. Akibatnya sekarang wajahnya berada dalam keadaan sejajar dengan perutnya. Sempat ia sejenak mengagumi tubuh lelaki ini. Katanya, pada waktu itu dinilainya tubuh Bambang betul-betul terpelihara baik, berotot, dan menggairahkan. Akhirnya karena posisi duduknya sudah semakin tidak karuan, Daissy mulai berganti posisi. Sekarang ia berlutut di depan Bambang sambil mengecup-ecup perutnya. Untung lantainya ada karpetnya, jadi lututnya tidak terasa terlalu sakit.

Oral Pertama
"Daissy," sapa Bambang lembut, "bukain dong celananya."
Sekarang sudah tidak ada lagi rasa canggung dan malu di hatinya. Apapun yang akan terjadi biarlah terjadi sekarang, demikian katanya ia memutuskan pada saat itu. Dibukanya ikat pinggang celana Bambang, lalu kancing atas dan ruitslijtingnya. Begitu terbuka Bambang mendorongnya turun hingga terlepas semua. Daissy sendiri hanya sekedar membantunya supaya lebih mudah.

Di depannya kini terlihat jelas sesuatu yang terpeta pada lapisan celana dalamnya. Diusap-usapnya sejenak. Ketika ditatap Daissy, wajah Bambang tampak tersenyum. Katanya setengah berbisik menyuruh Daissy, "Buka semua deh." Pelan-pelan ditarik celana dalam Bambang turun. Tonggak kejantanan Bambang yang terlihat keras dan besar mencuat gagah. Terkejut Daissy menjerit,
"Aduh La besarnya!"
Mendengarnya Carla tertawa kecil, lalu katanya, "Jangan panggil gue dong, panggil aja dia."
Bambang menarik tangan Daissy dan menaruhnya di atas barang kepunyaannya. Mulai diusap-usapnya daging keras Bambang dengan telapak tangannya. Katanya rasanya geli sekali dan membuatnya semakin terangsang.

Semakin lama Daissy semakin berani juga. Mulai digenggamnya batang keras Bambang di tangannya lalu dikocok-kocoknya lembut.
"Dicium dong," kata Bambang meminta.
Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya Daissy mulai mengecup-ngecup kemaluan Bambang. Ketika bibirnya menyentuh bonggol kepala kemaluan Bambang, Daissy menjadi semakin berani. Maka dengan lancar Daissy mulai melakukan semua yang dirasanya pasti akan memuaskan Bambang. Seluruh petunjuk Carla yang telah diberikan, dan pasti film video yang tadi ditonton, berikut daya imajinasinya sendiri menyatu dalam pelayanan oral Daissy kepada Bambang. Dilakukannya semua yang diminta Bambang, malahan juga apa yang tidak terucapkan olehnya. Barang kepunyaan Bambang itu ia jilati, lalu ia kulum dengan keras, dan akhirnya diemut-emutnya dengan penuh semangat. Kadang-kadang karena belum berpengalaman sempat ia tampak terselak. Tapi kelihatannya tidak apa-apa, malah ia tersenyum senang saja. Apalagi mendengar pujian bercampur erangan yang keluar dari mulut Bambang sebagai tanda puas.

Ia menjelaskan kemudian, bahwa mengingat cerita pengalaman Carla tadi, ia sendiri mulai melakukan masturbasi. Karena sudah dirangsang sejak tadi Daissy mencapai orgasmenya jauh sebelum Bambang. Rupanya akibatnya kepuasan yang dicapainya, semakin keras juga Daissy mengemut dan mengisap-isap alat kejantanan Bambang di mulutnya. Sampai akhirnya Bambang mengerang panjang. Tangannya yang satu meremas bahu Daissy, sedangkan yang satunya mengusap-usap kepalanya. Untuk pertama kali dalam hidupnya Daissy mengalami air mani laki-laki menyembur dalam mulutnya. Di luar dugaan Carla, Daissy membiarkan cairan kelelakian Bambang di mulutnya tertelan. Tapi karena terlalu banyak ada juga yang mengalir keluar dari celah-celah bibirnya. Pipi, dagu dan lehernya sampai basah karenanya.

Tapi setelah sejenak berlalu dan gairahnyapun surut, rasa malu Daissy rupanya mulai timbul lagi. Bambang masih mengusap-usap kepalanya. Ia memandangi Daissy dengan senyuman mesra. Segera Daissy berlari ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Barangkali karena malu, lama sekali ia di kamar mandi. Baru setelah dipanggil-panggil Carla ia mau memberanikan diri untuk bertemu dengan Bambang dan Carla. Bambang menyapanya dan bertanya meminta,
"Daissy, boleh dong kapan-kapan ketemu lagi!"
Langsung Carla memelototinya dengan pura-pura marah,
"Enak aja, hanya sekali ini aja bolehnya. Dia itu udah punya pacar lho Bang!"
Tadinya Daissy ingin langsung pulang tapi berhasil dicegah Carla. Kalau dia pulang, nanti Carla yang disalahkan orang-tuanya, karena rencana Daissy menginap itu yang menjadi alasan sehingga ia tidak ikut ke Puncak.

Rupanya sebagai akibatnya, terpaksa sekali lagi Daissy didera rangsangan gairahnya sendiri. Karena sementara ia tidur di sofa di atas ranjang giliran Carla yang beraksi menimba kejantanan Bambang. Dengan Carla tentunya Bambang tidak mendapat hanya secara oral, tapi semuanya. Pengalamannya dengan Daissy tadi membuatnya berterima kasih pada Carla, dan juga membuatnya semakin perkasa. Bambang puas sekali. Begitu juga Carla ketika dilanda kejantanannya yang hebat. Menurut Bambang, Carla adalah wanita yang betul-betul berpengalaman dan pandai memuaskan laki-laki. Bambangpun hebat sekali. Setelah tadi dengan Daissy, sekarang dia masih mampu membawa Carla ke langit yang ketujuh.

Bekal Pacaran
Berbekal pengalamannya dengan Bambang di rumah Carla, sekarang Daissy tahu apa yang bisa dilakukannya untuk menyenangkan Erick. Menurut ceritanya, ketika Erick sekali lagi memintanya untuk berhubungan intim, Daissy berhasil memberinya sebuah kejutan. Sangat puas Erick menerima pelayanan oral Daissy, sehingga sering memintanya untuk melakukannya lagi.

Rupanya foto-foto yang akhirnya telah menjerumuskan Daissy untuk memenuhi keinginan Erick itu diambil pada salah satu peristiwa asmaranya di masa silam. Carla sendiri merasa secara tidak langsung ia juga ikut bertanggung-jawab atas terjadinya peristiwa itu.

E N D

Ilmu Pelet Tingkat Tinggi

Saya mau memperkenalkan diri, nama saya Rudiono, saat ini berusia 34 tahun dan telah berkeluarga, memiliki seorang istri dan dua orang anak laki-laki. Saya ingin membagi kisah saya disaat waktu masih bujangan dulu.

Saya lahir di Jakarta, tapi dari kecil saya dibesarkan bukan oleh orang tua saya melainkan oleh abang angkat saya, dikarena sejak usia 7 tahun saya sudah menjadi anak yatim.

Abang saya itu adalah salah satu paranormal hebat yang ada di Indonesia, merupakan salah satu pegangan dari mantan presiden kita dan saat ini masih menjadi salah satu pegangan dari keluarga presiden kita. Beliau juga salah satu pemandi pusaka dibeberapa keraton yang ada di Indonesia disaat Bulan Muharam dan Maulud. Hanya sedikit sekali orang yang kuat dan sanggup merawat serta memandikan Pusaka-Pusaka milik Keraton.

Dari waktu masih sekolah dasar dulu, saya sudah banyak melihat dan membuktikan kehebatan doa-doa atau ilmu-ilmu dari Agama Islam, dimana sesuatu hal yang tidak mungkin menurut logika orang pintar, tapi oleh abang saya bisa dibuat menjadi mungkin. Tentunya atas izin dari Allah SWT.

Saya banyak melihat pasien abang saya yang sewaktu datang ke rumahnya digotong oleh keluarganya, karena menurut dokter ahli yang menanganinya penyakitnya sudah tidak mungkin disembuhkan lagi dan umurnya mungkin sudah tinggal beberapa bulan lagi, karena sakit jantung, stoke atau kanker yang sudah parah, tetapi setelah diobati oleh abang saya ternyata bisa sembuh dan pulangnya bisa jalan sendiri, setelah beberapa kali datang menjalani pengobatan dengan abang saya tersebut.

Oleh karena itu saya lalu mulai belajar dengan tekun dan serius dengan abang saya, supaya bisa memiliki kemampuan seperti abang saya tersebut. Saya mulai tekun menjalankan wirid tengah malam, puasa dan lelaku lainnya agar bisa memiliki kemampuan seperti abang saya itu.

Saya bukan hanya mempelajari ilmu untuk mengobati penyakit alami saja, tetapi juga untuk mengobati penyakit buatan seperti misalnya teluh atau santet, asihan, pelet, gendam, penunduk penurut, pelaris usaha, ilmu penerawangan dan lain-lain.

Untuk membuktikan bahwa saya sudah berhasil membeli atau menguasai ilmu tersebut, biasanya saya memprektekannya langsung dengan mengobati pasiennya abang saya tersebut.

Tetapi ketika saya sudah duduk dibangku SMP, saya mulai menyelewengkan pemakaian ilmu-ilmu tersebut. Hal ini pada awalnya tidak saya sadari karena mungkin saat itu bawaan dari pengaruh masa puber saya tersebut.

Jadi sebetulnya semua Agama itu baik, doa-doa dan ilmunya juga baik, akan tetapi manusia yang memakainya itu sendiri yang tidak baik karena manusianyalah yang menyelewengkan dan menyalahgunakan pemakaian doa-doa atau ilmu-ilmu itu sendiri.

Seperti ibarat pisau kalau dipakai didapur itu baik, tapi kalau dipakai untuk nodong yah jadi tidak baik. Jadi sekali lagi ini adalah masalah manusianya, bukan masalah agamanya atau doa-doanya.

Dimasa muda atau bujangan saya dulu, saya benar-benar berkelakuan buruk dan sangat berdosa sekali. Saya sudah pernah terjerumus dan menyalahgunakan doa atau ilmu yang telah saya kuasai beberapa kali.

Hingga sekarang ini hanya tinggallah penyesalan yang ada di dalam diri saya, karena telah banyak korban akibat perbuatan saya tersebut dan saat ini saya berusaha menebusnya dengan bertobat serta membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan dari saya.

Saya akan mencoba menceritakannya pengalaman saya tersebut satu per satu, dengan harapan agar orang yang membaca cerita saya ini, tidak mengulangi lagi kesalahan-kesalahan yang pernah saya perbuat.

Kejadian itu dimulai ketika pada suatu pagi saya melihat seorang gadis yang menurut saya saat itu sangat cantik dan manis sekali, berjalan memakai seragam SMP melewati depan rumah saya.

Tubuhnya tinggi, ramping dan sangat ideal sekali. Kulitnya putih mulus dengan dada dan pinggul yang tidak terlalu besar, akan tetapi kelihatan sexy sekali karena memakai seragam sekolah yang cukup ketat sehingga memperlihatkan bentuk tubuhnya yang saat itu baru mulai berkembang.

Spontan timbul rasa sir dalam diri saya dan ingin sekali berkenalan bahkan menjadikan gadis itu sebagai pacar saya. Saya lalu menerapkan ilmu pengasihan yang pernah saya pelajari dan telah saya kuasai, lalu saya lari mengejar gadis itu. Setelah berhasil mengejar dan berada disebelahnya, saya lalu menyapa gadis itu dan berkenalan dengannya.

"Hai." sapa saya.

Gadis itu lalu tersenyum melihat saya. Wow benar-benar cantik dan manis sekali gadis itu rupanya.

"Mau berangkat sekolah?" tanya saya.

"Ya." jawab gadis itu sambil tetap tersenyum manis pada saya.

"Oh ya kenalkan, nama saya Rudiono, saya tinggal di rumah nomor 34 yang telah kamu lewati tadi." kata saya.

"Boleh saya berkenalan dengan kamu?" tanya saya sambil menyodorkan tangan saya untuk mengajaknya bersalaman.

"Boleh." jawab gadis itu dengan senyum yang masih tetap menghiasi bibirnya yang mungil dan menggemaskan itu.

"Nama kamu siapa dan kamu tinggal dimana?" tanya saya yang sudah tidak sabar ingin mengetahui gadis itu tinggal dimana.

"Lusiana, saya tinggal dijalan ini juga dinomor 2." jawabnya kembali sambil tersenyum.

"Hari ini kamu pulang jam berapa? Boleh kita ketemu lagi nanti setelah kamu pulang sekolah?" tanya saya lagi. Lalu di dalam hati saya menerapkan ilmu pelet yang telah saya kuasai dan tanpa sepengetahuan gadis itu, saya meniupkan ilmu tersebut kearahnya.

"Boleh saja, saya pulang sekolah jam 12.00 lalu ada pelajaran ektra kurikuler sampai jam 15.00 dan setelah itu saya tidak ada acara lagi." jawab gadis itu.

"Bagaimana kalau kita ketemu siang ini jam 12.00? Bagaimana kalau kamu tidak usah ikut pelajaran ektra kurikuler aja?" tanya saya yang saat itu sudah tidak tahan lagi ingin segera bisa mendapatkan gadis itu.

"Oke deh, nanti setelah pulang sekolah jam12.00, saya langsung kerumah kamu saja yah." jawab gadis itu. Wah betapa senangnya hati saya karena apa yang saya harapkan telah terjadi.

"Oke, saya tunggu didepan rumah yah, jangan lupa rumah saya yang nomor 34 yah." kata saya. Sambil bercakap-cakap disepanjang perjalanan itu, akhirnya sampailah kita disekolahan gadis itu. Setelah Lusi panggilan dari Lusiana itu masuk ke dalam halaman sekolahnya, saya langsung pulang kembali kerumah saya.

Sesampai dirumah saya langsung masuk kekamar tidur saya, kebetulan kamar tidur saya berada dipaling depan, dulunya bekas garasi mobil tapi telah dirubah menjadi kamar tidur saya dan memiliki pintu sendiri yang bisa langsung keluar rumah.

Saya membaringkan tubuh diatas tempat tidur saya. lalu menghayal yang jorok dengan gadis itu, maklumlah saat itu mungkin hormon saya lagi sedang tinggi-tingginya karena sedang dalam masa puber.

Karena tidak sabar menunggu Lusi pulang sekolah, saya lalu menerapkan ilmu penerawangan saya yang fungsinya untuk bisa melihat menembus penghalang, melihat jarak jauh atau melihat kealam gaib. Saya lalu menggunakan ilmu itu untuk melihat Lusi yang saat itu sedang berada di sekolah, saya perhatikan dia yang saat itu lagi duduk belajar di kelas, akan tetapi kelihatan sekali bahwa Lusi sering ngelamun, gelisah dan rasanya hampir tidak tahan untuk bisa segera pulang, rupanya ilmu yang saya gunakan kepadanya itu sudah mulai terlihat reaksinya.

Lalu saya perkuat dosis ilmu penerawangan saya, sehingga saya bisa melihat tubuhnya yang indah itu menembus ke dalam pakaian seragam sekolah yang dikenakannya. Padahal ilmu penerawangan itu tidak boleh digunakan untuk sengaja melihat hal-hal seperti itu karena dosa. Akan tetapi saat itu rupanya setan sudah terlalu kuat mempengaruhi saya, sehingga saya tetap saja mempergunakan ilmu tersebut untuk menikmati keindahan tubuh bugilnya Lusiana.

Wah luar biasa sekali indahnya tubuh Lusiana, tubuhnya betul-betul mulus sekali dengan buah dadanya yang baru tumbuh, dimana kedua ujungnya dihiasi dengan puting kecil yang berwarna coklat kemerahan. Kemaluannyapun baru sedikit ditumbuhi bulu-bulu halus yang sangat menggemaskan sekali dan membuat saya yang melihatnya terangsang sekali.

Akhirnya jam di rumah sayapun menunjukkan juga pukul 12.00. Saya lalu bergegas membuka pintu kamar langsung menunggu didepan rumah.

15 menit kemudian akhirnya Lusianapun tiba di depan rumah saya, setelah sedikit berbasa basi dan melihat situasi rumah sudah aman, sayapun mengajak Lusiana masuk ke dalam kamar saya melalui pintu depan yang dulunya bekas pintu garasi.

Setelah berada di dalam kamar, saya lalu menawarkan minuman dingin yang telah saya siapkan sebelumnya. Sambil ngobrol ngalor ngidul, di dalam hati saya kembali menerapkan ilmu asihan, pelet, penunduk penurut, gendam, ajian jaran goyang, semar mesem, pembangkit sir atau nafsunya dan sebagainya, setelah itu lalu saya tiupkan kearah Lusi yang lagi duduk diatas tempat tidur disamping saya.

Luar biasa sekali hasilnya, kelihatan sekali bahwa si Lusi itu sudah kena dalam pengaruh ilmu saya tersebut. Duduknya mulai gelisah, sebentar-sebentar sambil tersenyum dia melirik kearah saya dan menunduk malu bila ketahuan dia sedang melirik saya. Rupanya ajian atau ilmu pembangkit sir, jaran goyang dan semar mesem yang saya gunakan kepadanya mulai menunjukan reaksinya, sehingga Lusipun mulai merasa kepanasan atau kegerahan.

"Panas sekali rasanya hari ini yah?" kata Lusi sambil mengipasi dirinya dengan buku pelajaran sekolahnya yang diambilnya dari tasnya. Padahal kamar tidur saya tidak terlalu besar dan memakai AC 1 PK. Rupanya pengaruh ilmu itu lebih kuat dari dinginnya AC sehingga membuat panas tubuhnya Lusi meningkat dan menaikan gairah nafsunya Lusi.

"Kalau mau mandi silahkan, tuh ada kamar mandi disana." kata saya sambil menunjuk kamar mandi yang ada dipojok di dalam kamar tidur saya.

"Mungkin kamu masih kepanasan karena tadi habis jalan kaki dari sekolah kerumah saya." kata saya lagi sambil mulai merangkulnya.

"Iya deh, saya mandi dulu yah." kata Lusi kemudian sambil berdiri mau berjalan kearah kamar mandi.

Sayapun ikut berdiri, lalu saya menahan tubuhnya dan berkata, "Boleh saya ikutan mandi bareng sama kamu? Sayapun juga merasa gerah sekali." Lusipun tertunduk malu, tapi dia menganggukan kepalanya dengan perlahan.

"Kamu tidak usah malu sama saya, sini saya bantu bukain baju kamu." kata saya kemudian sambil tangan saya bergerak membuka kancing bajunya satu persatu mulai dari atas dan Lusipun yang sudah terpengaruh oleh ilmu-ilmu yang saya gunakan tersebut hanya diam saja.

Wah indah sekali tubuhnya, benar-benar mulus sekali dan terlihat buah dadanya yang baru tumbuh serta belum terlalu besar masih tertutup dalam BHnya yang berwarna krem. Lalu sambil memeluk tubuhnya dari depan, tangan saya lalu bergerak kebelakang tubuh Lusi dan mulai membuka resluiting rok seragam SMPnya dan menurunkan ke bawahnya.

Benar-benar indah sekali tubuhnya Lusi, kulitnya putih dan mulus sekali tidak ada cacatnya. Saat ini Lusi berdiri sambil menundukan kepalanya malu berhadapan dengan saya dengan hanya memakai BH dan CD yang berwarna kremnya saja.

Lalu saya peluk erat sekali tubuh Lusi dan mencium bibirnya karena saya sudah tidak tahan ingin memeluk tubuhnya dan mencium bibirnya yang mungil menggemaskan itu. Tangan sayapun lalu bergerak kebelakang tubuh Lusi, membuka kaitan BHnya dan melepaskan BH itu dari dadanya. Indah sekali buah dada Lusi tersebut. Putih mulus, baru mulai tumbuh, tidak terlalu besar tapi padat dan kedua putingnya masih kecil berwarna coklat kemerahan.

Lalu tangan sayapun kembali bergerak ke bawah, menurunkan CD krem yang merupakan pakaian terakhir yang dipakai Lusi tersebut. Bagai mimpi rasanya, saat ini ada seorang gadis cantik dan manis berdiri dihadapan saya dengan tubuh polos telanjang tanpa memakai pakaian selembarpun.

Dengan kulit yang putih mulus dengan buah dada yang baru tumbuh, tidak terlalu besar tapi padat, menggantung indah didadanya, kemaluannyapun baru ditumbuhi bulu-bulu halus yang membuat saya semakin terangsang melihatnya.

Tak lama kemudian akhirnya Lusipun tidak tahan lagi, dia langsung memeluk saya dan menyembunyikan wajahnya didada saya. Terdengar suaranya yang lirih bertanya, "Kakak benar-benar sayang sama Lusi?"

"Tentu saja sayang, saya sangat sayang sekali sama Lusi." jawab saya.

"Saya sudah pasrah bila kakak mau memiliki diri Lusi seutuhnya." kata Lusi kemudian.

Sayapun memeluk tubuhnya dengan erat sekali, lalu mencium bibirnya yang mungil itu dan Lusipun membalas ciuman saya tersebut. Cukup lama kami berciuman dan berpagutan bibir, lidah kamipun saling bermain di dalam mulut Lusi, sambil tangan saya mengusap-usap punggung Lusi, turun kepinggulnya dan tangan sayapun meremas-remas pelan pinggul Lusi yang masih belum terlalu besar juga namun padat sekali. Lusipun juga memeluk tubuh saya dengan erat sekali.

Lalu ciuman sayapun mulai turun kelehernya Lusi, tampak terlihat Lusi memejamkan mata sambil mendongakan wajahnya, terdengar mulutnya mendesah menikmati ciuman saya yang sedang bermain dilehernya tersebut, lidah sayapun bermain-main ditelinganya dan akhirnya ciuman sayapun turun kedadanya.

Mulut sayapun mulai menciumi buah dadanya, lalu menjilati puting buah dadanya yang sebelah kiri sambil tangan saya meremas lembut buah dadanya yang sebelah kanan. Terlihat tubuh Lusi bergelinjang seperti terkena strum disaat lidah saya menyentuh putingnya.

Bahkan tubuh Lusipun semakin bergelinjang-gelinjang dan mendesah-desah ketika lidah saya mulai bermain-main diputing buah dadanya, sambil mencium dan menghisap-hisap puting buah dadanya itu serta meremas-remasnya. Lusipun kelihatannya sudah tidak tahan lagi, tangannya bergerak memegang penis saya dan meremas-remasnya dengan keras. Ah rupanya Lusi belum berpengalaman dan belum mengerti bagaimana caranya membuat pasangannya merasakan nikmat.

Sambil memeluk dan meremas buah dadanya, saya berbisik ditelinganya mengajarinya memegang, mengusap-usap lembut dan memperlakukan batang kemaluan saya agar saya juga bisa merasakan nikmat seperti yang sedang dirasakan oleh dirinya.

Lalu saya merebahkan tubuh Lusi ditempat tidur, lalu membuka kedua kakinya kemudian menindihnya diantara kakinya tersebut. Lalu kembali kami berciuman bibir dan bermain lidah, lalu ciuman sayapun turun kelehernya dan terus turun sampai kedadanya sambil tangan saya meremas-remas lembut buah dadanya.

Lusi kelihatannya sudah tidak tahan lagi, tubuhnya sudah tegang bergelinjang-gelinjang, sambil memeluk tubuh saya erat sekali, Lusipun mengeluarkan desahan yang semakin keras karena pengaruh ilmu pembangkit sir yang saya gunakan kepadanya mulai bereaksi mencapai klimaks.

Lusi merasakan nafsunya sudah semakin meledak dan naik keubun-ubun, dimana pada saat itu batang kemaluan saya sudah menempel dikemaluannya dan menggesek-gesek belahan kemaluannya. Lusi semakin menggoyang-goyangkan pinggulnya agar batang kemaluan saya bisa segera menerobos masuk ke dalam lubang kemaluannya, Rupanya dia sudah ingin sekali lubang kemaluannya dimasuki oleh batang kemaluan saya.

Akan tetapi dikarenakan saya masih belum mau segera menyelesaikan permainan ini, karena saya masih belum puas bermain dengan buah dadanya Lusi, maka sayapun berusaha mengimbangi goyangan pinggulnya Lusi agar batang kemaluan saya tidak berhasil dibuat masuk olehnya ke dalam lubang kemaluannya dan hanya menggesek-gesek belahan kemaluannya saja.

Karena Lusi tidak berhasil membuat batang kemaluan saya masuk ke dalam lubang kemaluannya dengan goyangan pinggulnya yang semakin hebat, akibatnya malah membuat kepala penis saya menyundul-nyundul lubang kemaluan dan dan menggesek-gesek clitorisnya, sehingga akhirnya nafsunya memuncak dan dipengaruhi reaksi ilmu pembangkit sir yang juga sudah mencapai klimaksnya, akhirnya dengan desahan yang cukup keras dan pelukan yang sangat kencang, dengan tubuh yang tegang bergelinjang-gelinjang, sambil kedua kakinya mengapit pinggul saya dengan kerasnya, Lusipun akhirnya mencapai orgasme. Terlihat tubuhnya teregang beberapa saat. Terasa cairan hangat meleleh keluar dari kemaluannya membasahi batang kemaluan saya yang menempel di belahan kemaluan Lusi.

Setelah beberapa saat memejamkan matanya, dengan tubuh yang meregang, pelan-pelan terasa pelukan Lusi mulai mengendor dan kedua kakinyapun turun ke bawah, terbuka mengangkang lemas dengan tubuh saya ditengah-tengahnya.

Sayapun mencium keningnya dan membisikan kata-kata bahwa saya sayang sekali padanya. Setelah itu saya mencium bibirnya kembali, kami berciuman dan bermain lidah kembali sambil berpelukan, masih tetap dalam kondisi saya menindih tubuhnya Lusi.

"Gimana rasanya sayang? Enak?" tanya saya kepada Lusi. Sambil tersenyum dan memandang saya, Lusipun menganggukkan kepalanya.

"Mau ngerasain yang lebih nikmat dan lebih dahsyat lagi?" tanya saya kembali.

"Terserah kakak, saya akan melakukan apa yang kakak mau." jawab Lusi kemudian.

"Bagaimana kalau sekarang gantian kamu yang membuat saya merasakan nikmat?" tanya saya lagi. Lusipun tersenyum dan menganggukan kepalanya.

Tanpa membuang waktu lagi, saya langsung membaringkan diri terlentang di tempat tidur. Lusipun lalu naik keatas badan saya dan merebahkan dirinya tertelungkup di atas badan saya. Lalu kami berciuman, bermain lidah dan berpelukan kembali dengan panasnya.

Lusipun mulai mencumbu saya menciumi leher saya, terus turun kedada saya. Lidahnya bermain-main di puting dada saya yang sebelah kiri sambil sesekali dihisap-hisapnya, sedangkan tangan kanannya mengusap-usap puting dada saya yang sebelah kanan. Tangan kirinyapun bergerak turun ke bawah, memegang batang kemaluan saya dan meremas-remasnya dengan lembut.

Ah luar biasa sekali nikmatnya, saya hanya bisa memejamkan mata merasakan betapa nikmatnya dicumbu oleh Lusi sambil tangan saya meremas-remas lembut buah dada dan putingnya. Lalu ciuman dan lidah Lusipun mulai bergerak turun ke bawah sampai akhirnya wajah Lusi tepat berada di depan batang penis saya.

Lalu lidahnya menjilat-jilat batang kemaluan saya dengan pelan sekali dan oh.. Nikmat sekali rasanya ketika Lusi memasukan kepala penis saya ke dalam mulutnya yang mungil itu, mengulumnya, menghisap-hisapnya dan nikmat sekali ketika bibirnya yang lembut bergerak keatas ke bawah, mengocok-ngocok batang penis saya sehingga keluar masuk dari mulutnya.

Akhirnya setelah 20 menit kemudian saya tidak tahan lagi, terasa ada sesuatu yang mau meledak dan keluar dari batang penis saya, lalu saya memegang kepala Lusi dan sambil meremas rambutnya, saya menggerak-gerakan kepala Lusi naik turun semakin cepat, semakin cepat dan semakin cepat.

Akhirnya dengan tubuh yang menegang kencang sekali, saya tekan kepala Lusi ke bawah sehingga batang kemaluan saya yang panjangnya 17 cm dengan diameter 3 cm itu tertelan masuk semua ke dalam mulutnya dan saya menyemprotkan cairan kenikmatan saya itu berkali-kali ke dalam mulutnya.

Karena saya tahan kepalanya disaat saya mengalami orgasme yang luar biasa tersebut, menyebabkan hampir semua cairan kenikmatan saya tertelan oleh Lusi dan hanya sedikit yang meleleh keluar dari sela-sela bibirnya.

Lalu Lusipun membersihkan batang kemaluan saya dengan menjilat-jilatinya sampai bersih. Kemudian saya tarik tubuh Lusi keatas menindih tubuh saya, kami berpelukan dan berciuman mesra sekali.

Berhubung hari sudah menjelang sore dan sudah waktunya pulang, dimana Lusipun belum minta izin orang tuanya mau pulang terlambat, maka kami segera mandi berdua dan akhirnya Lusipun saya antar keluar rumah agar dia bisa segera pulang.

Tak lupa kami janjian kembali, dimana Lusi akan datang kembali kerumah saya besok siang setelah pulang sekolah jam 12.00 dan sudah terlebih dulu izin pada orang tuanya akan pulang terlambat.

Ternyata benar, Lusi menepati janjinya. Setelah selesai sekolah Lusi langsung kerumah saya. Ah betapa bahagianya hati saya karena kekasih yang sangat saya sayangi telah datang untuk menemui saya, telebih lagi Lusi sudah meminta izin terlebih dulu kepada orang tuanya akan pulang terlambat. Jadi kami punya waktu yang cukup banyak untuk melepas rindu dan memadu kasih.

Tak membuang waktu lagi. Pintu pagar langsung saya bukain dan saya langsung menarik tangan Lusi untuk mengajaknya masuk kekamar saya. Setelah berada di dalam kamar dan mengunci pintunya, saya langsung memeluk Lusi erat-erat dan mencium serta melumat bibirnya. Lusipun yang telah mulai berpengalaman dalam berciuman, langsung membalas ciuman saya dan juga melumat bibir saya, sampai akhirnya kitapun bermain lidah.

Kali ini saya sudah berencana untuk bisa menikmati tubuh Lusi habis-habisan karena saya sudah tidak tahan lagi melihat bodynya yang luar biasa. Lalu Lusipun saya suruh berbaring di ranjang agar bisa tidur dan beristirahat sebentar barangkali dia hari ini lelah sekali belajar di sekolahnya. Lalu sayapun membaringkan tubuh saya di samping tubuh Lusi tersebut sambil memeluknya.

Tanpa sepengetahuan Lusi, pelan-pelan tangan saya mengeluarkan biji lada dari saku celana pendek saya yang sudah saya siapkan dari tadi pagi sebelumnya. Saya ingin mencoba ilmu yang pernah saya pelajari akan tapi belum pernah saya berkesempatan untuk mengetes kemampuannya. Biji lada tersebut baru bisa digunakan dan berfungsi apabila kita mengambilnya dari dapur rumah orang lain yang bukan tempat tinggal kita dan harus tanpa sepengetahuan orang-orang yang tinggal di rumah itu, apa lagi sampai kepergok.

Lalu apabila kita memilin-milin biji lada tersebut dengan ibu jari dan jari tengah kita, sambil menerapkan ilmu memindahkan rasa tersebut sambil ditujukan pada seorang wanita, maka wanita yang kita tuju tersebut akan merasakan klitorisnya seperti dipilin-pilin, semakin cepat dan keras kita memilin biji lada tersebut, maka wanita itu juga akan merasakan klitorisnya semakin cepat dan keras dipilin-pilin.

Sambil menunggu beberapa saat sampai Lusi mulai tertidur dalam pelukan saya, sayapun mulai menerapkan ilmu memindahkan rasa yang ditujukan kepada Lusi binti pulan sambil jari tangan saya mulai memilin-milin biji lada tersebut. Ternyata hasilnya luar biasa sekali, pertama saya merasakan tubuh Lusi tersentak dalam pelukan saya.

Rupanya Lusi kaget karena dia merasa kok aneh klitorisnya seperti ada yang menyentuh dan memilin-milinnya, sedangkan dia melihat tangan kiri saya sedang memeluk tubuh dia dan ada di punggungnya, tangan yang kanan sedang ada di samping tubuh saya sebelah kanan lurus di atas tempat tidur. Posisi saya tidur terlentang dan Lusi ada di sebelah kiri saya setengah tertelungkup memeluk tubuh saya.

Dalam keadaan setengah bingung dan heran, Lusipun lalu mencoba tidur kembali sambil memeluk tubuh saya dan ketika saya lihat Lusi mulai hampir tertidur kembali, saya mulai memilin-milin biji lada itu kembali. Kali ini walaupun dalam keadaan setengah bingung dan heran, Lusi diam saja dan tetap memejamkan matanya.

Pada awalnya Lusi berusaha mencoba untuk melawan perasaan "aneh" tersebut, akan tetapi akhirnya lama-lama dia terlihat mulai menikmatinya juga. Saya mulai merasakan tubuh Lusi mulai bergelinjang-gelinjang pelan dan kaki kirinya yang berada di atas kaki kiri saya juga mulai terasa sebentar-sebentar menegang. Sambil meram pura-pura tidur, saya mempercepat pilinan biji lada tersebut sambil sesekali saya memencet biji lada tersebut dengan agak keras.

Luar biasa sekali, saya merasa tubuh Lusi mulai semakin bergelinjang-gelinjang dan tangan kirinya yang berada di dada saya mulai terasa memeluk saya erat sekali. Dari mulutnyapun mulai terdengar desahan-desahan halus yang lirih sekali. Lalu sayapun mulai menambah kecepatan pilinan pada biji lada tersebut lagi, semakin cepat dan semakin cepat lagi sambil sesekali memencetnya dengan agak keras.

Setelah beberapa saat tubuh Lusi bergelinjang-gelinjang dengan kencang disertai dengan pelukannya yang juga sudah semakin erat pada tubuh saya, diiringi dengan suara desahan yang cukup keras dan disertai dengan tubuh yang tegang sambil memeluk tubuh saya erat sekali, akhirnya Lusipun mencapai puncak orgasmenya yang luar biasa.

Setelah tubuhnya tegang beberapa saat sambil memejamkan matanya, akhirnya tubuh Lusipun pelan-pelan terasa mulai mengendur. Lusipun kembali memeluk tubuh saya dengan tubuh yang basah kuyub dengan keringat sambil memejamkan mata dan tersenyum penuh kepuasan.

Lalu saya membangunkan Lusi dan menyuruhnya membuka baju karena bajunya telah basah kuyup oleh keringat. Lusipun lalu bangun dan membuka baju serta rok seragam sekolahnya, kali ini rupanya Lusi sudah tidak malu-malu lagi pada saya dan diapun juga membuka BHnya sekalian.

Luar biasa sekali, tubuhnya yang putih mulus kembali terpampang di depan mata saya dengan buah dadanya yang masih baru mulai numbuh dihiasi dengan puting kecil berwarna coklat kemerahan terlihat menggantung indah di dadanya. Wah rupanya Lusi tadi mengeluarkan cairan yang cukup banyak waktu orgasme karena saya melihat CDnya yang berwarna krem ada bercak-bercak cairan yang tembus dari dalam CDnya.

Sekalian saja saya suruh buka CDnya dengan alasan agar cepat kering bila disampirkan di atas kursi. Dengan wajah yang memerah karena merasa agak malu ketahuan tadi habis orgasme, pelan-pelan Lusi menurunkan CDnya dan melepaskannya lalu menaruhnya di atas senderan kursi dalam kamar saya. Supaya Lusi tidak malu telanjang polos sendirian, lalu sayapun membuka seluruh pakaian yang melekat pada tubuh saya sampai telanjang polos juga seperti halnya dengan Lusi saat itu.

Timbul niat saya untuk isengin Lusi sekali lagi, karena saya ingin hari itu Lusi benar-benar merasakan kepuasan yang tiada tara sampai saya bisa merasakan tubuhnya sepenuhnya. Kembali saya bilang padanya agar lebih baik kita sama-sama coba tidur untuk beristirahat sebentar dulu, agar kita nanti bisa melepaskan rindu habis-habisan dengan tubuh yang segar. Lusipun menganggukan kepalanya tanda mengiyakan.

Akhirnya saya merebahkan diri kembali terlentang ditempat tidur dan Lusipun berbaring di sebelah kiri saya setengah tertelungkup sambil memeluk saya dengan tangan kirinya di atas dada saya dan kaki kirinyapun ditaruhnya di atas kaki kiri saya. Sekilas saya cium keningnya dan Lusipun lalu menyelusupkan wajahnya kedada saya. Sayapun juga memeluk tubuhnya dengan erat dan mengusap-usap rambutnya.

Akhirnya sayapun mulai mengisenginnya kembali dengan memilin-milin biji lada itu kembali. Kali ini Lusi memberi respon kepada saya, sambil bergelinjang-gelinjang secara perlahan, tangan kirinya mulai mengusap-usap dada saya juga puting dada saya. Ahh.. nikmat sekali rasanya, sayapun lalu mencium bibirnya sambil tak lupa tangan saya tetap terus memilin-milin biji lada tersebut.

Kali ini saya memilinnya pelan-pelan berirama diselingi dengan pijitan yang agak keras pada biji lada tersebut. Saya tidak ingin buru-buru memilinnya dengan cepat karena saya ingin agar Lusi merasa nafsunya sangat membara dan meledak-ledak namun tak kunjung menyampai puncak.

Luar biasa sekali, saya merasa tubuh Lusi mulai semakin bergelinjang-gelinjang dan tangan kirinya yang berada di dada saya mulai terasa memeluk saya erat sekali. Dari mulutnyapun mulai terdengar desahan-desahan yang cukup keras, akhirnya saya lumat bibirnya. Kami saling melumat bibir dan lidah kami saling berkaitan didalam mulutnya Lusi, kelihatannya Lusi sudah mulai tidak tahan dan akhirnya dia mulai merangkak menaiki dan menindih tubuh saya.

Lusipun mulai mencumbu saya, menciumi leher saya, terus turun kedada saya. Lidahnya bermain-main diputing dada saya yang sebelah kiri sambil sesekali dihisap-hisapnya, sedangkan tangan kanannya mengusap-usap lembut puting dada saya yang sebelah kanan. Tangan kirinyapun bergerak turun kebawah, memegang batang kemaluan saya, meremas-remasnya dan mengocok-ngocoknya dengan lembut. Ah, sudah mulai pintar dia rupanya..

Benar-benar luar biasa sekali nikmatnya, saya hanya bisa memejamkan mata merasakan betapa nikmatnya dicumbu oleh Lusi sambil tangan saya meremas-remas buah dadanya yang lembut tapi padat dan mengusap-usap puting buah dadanya yang sudah mulai membesar dan mengeras.

Jari tangan kiri saya lalu memilin-milin puting buah dadanya yang sebelah kanan sambil jari tangan kanan saya masih tetap memilin-milin biji lada secara teratur. Lalu ciuman dan lidah Lusipun mulai bergerak turun kebawah sampai akhirnya wajah Lusi tepat berada di depan batang penis saya.

Lalu lidahnya menjilat-jilat batang kemaluan saya dengan pelan sekali dan Oh, Nikmat sekali rasanya ketika Lusi memasukan kepala penis saya kedalam mulutnya yang mungil itu, mengulumnya, menghisap-hisapnya dan Luar biasa sekali nikmatnya ketika bibirnya yang lembut bergerak keatas kebawah, mengocok-ngocok batang penis saya sehingga keluar masuk dari mulutnya.

Setelah hampir 15 menit lamanya penis saya diberikan kenikmatan oleh mulut Lusi yang mungil tersebut, akhirnya saya mulai merasakan ada sesuatu yang ingin meledak dan keluar dari penis saya. Akan tetapi dikarenakan saat itu saya benar-benar ingin bisa membuat Lusi merasakan kenikmatan orgasme yang luar biasa dan terbang kelangit yang ketujuh, lalu saya mulai menerapkan ilmu supaya penis saya agar bisa bertahan lama.

Setelah itu saya minta agar Lusi membalikan badannya sehingga kami lalu mempraktekan gaya 69 dikarenakan saya masih belum puas diberikan kenikmatan oleh mulutnya Lusi. Tak lupa tentunya jari tangan kanan saya memilin-milin biji lada tersebut.

Rupanya Lusi sudah sangat basah sekali, belahan kemaluannya sudah dibasahi oleh cairan yang dikeluarkan oleh vaginanya sendiri. Aromanyapun harum dan membuat saya semakin terangsang. Langsung saja saya jilati semua cairan yang ada di vagina Lusi.

Terlihat Lusipun semakin bergelinjang-gelinjang merasakan kenikmatan disaat lidah saya menjilati belahan kemaluannya, terlebih lagi disaat lidah saya bermain-main pada klitorisnya. Terasa Lusi menggigit penis saya dan mulai menghisap penis saya semakin kuat. Benar-benar nikmat rasanya.

Setelah lidah saya bermain-main cukup lama dibelahan kemaluannya terutama pada klitorisnya, Lusipun akhirnya tidak tahan lagi karena nafsunya sudah naik sampai keubun-ubun, dengan tubuh yang menegang dengan kencang dibarengi desahannya yang cukup keras Lusipun mencapai orgasme yang luar biasa.

Terasa di lidah saya lubang vaginanya berdenyut-denyut dan mengeluarkan cairan kental yang cukup banyak. Gurih dan harum rasanya. Langsung saja semua cairannya yang keluar banyak sekali dari lubang vagina Lusi tersebutpun saya jilati sampai bersih dan saya telan sampai habis.

Beberapa saat kemudian terasa tubuhnya mulai mengendur tergeletak pasrah di atas tubuh saya dengan nafasnya ngos-ngosan. Saya rasa sudah cukup sampai di sini saya isengin Lusi, lalu tanpa sepengetahuan Lusi saya buang biji lada tersebut ke bawah ranjang. Lalu saya bangunkan Lusi dan saya ajak dia untuk mandi agar tubuhnya terasa segar kembali.

Akhirnya saya berpacaran dengan Lusi kurang lebih selama 4 tahun, walau hampir tiap hari kita bertemu secara sembunyi-sembunyi dan hampir setiap hari kita memadu kasih, akan tetapi saya tetap berusaha menjaga kesuciannya dan tidak menyetubuhinya.

E N D

Tante Cantik Idamanku

Hi, nama saya Andreas, teman biasa memanggil saya "Andrew". Saya seorang expat (bule) yang telah lama tinggal di Jakarta, dan saya ingin bertanya kepada anda: Pernahkah anda memiliki fantasi seksual terhadap seorang wanita? Wanita itu dapat menjadi siapa saja! Bisa jadi guru anda di sekolah dulu, dosen di universitas, teman kerja, bos atau bawahan bahkan mungkin pembantu di rumah anda! Yang jelas wanita itu pasti memiliki sesuatu yang membuat nafas anda sesak setiap kali mengingatnya. Well, saya punya! dan percaya atau tidak, saya adalah salah satu lelaki beruntung diantara jutaan lelaki yang lain, mengapa? Karena anda akan menemukan bahwa segala impian dan fantasi seksual saya akan menjadi kenyataan. Dari dulu saya memang selalu menyukai wanita Asia, mungkin salah satu alasan mengapa saya mau ditugaskan oleh kantor saya di Jakarta, tempat yang tadinya saya tidak pernah tahu eksistensinya, tempat yang tadinya saya tidak tahu akan ada wanita seperti Yuli.
Hmmh, Yuli oh Yuli.. Dia memang tidak memiliki buah dada sebesar Pamela Anderson, tapi buah dadanya yang sedikit lebih besar dari kepalan tanganku selalu terbayang di dalam blouse kerjanya ditutupi bra hitam tepat di bawah leher panjang dan bahu indah warna kuning langsat khas wanita Asia. Yuli memang tidak memiliki postur tubuh seindah Cindy Crawford, tetapi pinggangnya yang kecil selalu menemani pinggul indah bak apel dan hmm.. pantatnya yang ranum selalu terbayang! Tak ketinggalan kaki kecilnya yang panjang bak peragawati menopang pahanya yang putih bersih ditutupi rok mininya yang sexy! Takkan habis hasratku menginginkan dirinya! Terbayang selalu diriku di atas tubuhnya yang ramping putih meremas buah dadanya! Menarik turun rok mininya! Dan memasukan alat kejantananku kedalam kemaluannya! Memompanya dengan cepat! Dan lebih cepat! Dan.. "Andrew?"
"Oh.. Hi! Yul.." dengan gelagapan aku menjawab sapaan Yuli yang entah telah berapa lama berada di hadapanku yang sedang melamun sambil minum sendirian di Hard Rock Cafe ini. He he, malunya aku!
"Andrew, kamu lagi ngapain di sini?" Sekali lagi dia menyapaku.
"Yul! Ngga sangka ketemu kamu di sini", jawabku cepat menutupi kagetku.
Yuli menjawab dengan senyuman sambil berkata: "Aku sih emang sering ke sini! Seneng deh bisa ketemu kamu, hihi.. kamu sendirian kan? Aku join kamu yah? yah?"
Sebelum sempat aku menjawab, Yuli telah menarik bangku dan duduk di sampingku, dan kuberpikir "Ya Tuhan betapa anehnya ini.."
Lalu selanjutnya kita berdua telah asyik berbicara ngalor-ngidul. Tak kusangka Yuli ternyata kuat minum. Pembicaraan kami diwarnai oleh pesanan baru yang selalu datang mengganti gelas cocktailnya yang mulai kosong. Sementara konsentrasiku untuk minum telah luluh-lantak dihancurkan sepasang bahu indah ditemani leher panjang di atas belahan dada putih milik Yuli, sang fantasi seksualku yang tiba-tiba datang menghampiri! Yuli malam ini memang lebih sexy dari biasanya ditutupi gaun sackdressnya yang berwarna merah menyala.
Dan kuberpikir lagi, "Oh Tuhan mimpi apa aku semalam?"

Tak terasa jam telah menunjukkan pukul 3 pagi. Dari cara Yuli berbicara dan raut mukanya, kutahu bergelas-gelas cocktail yang Dia minum telah memberikan hasil sesuai yang diinginkannya. Yuli mabok. Tidak ada hal lain yang dapat kulakukan selain meminta kunci mobilnya dan memaksa untuk mengantarnya sampai di rumah. Yuli tidak melawan dan dengan pasrah masuk ke dalam mobil di kursi penumpang depan.
Kumulai menyupirkan mobilnya sampai tiba-tiba Yuli berkata, "Drew! Aku nggak bisa pulang lagi mabok kaya beginih.. Ke rumah kamu aja yahh.. aku tidur rumah kamu dulu boleh kan Drew?"
Aku berpikir "Terima kasih Tuhanku!"

Setibanya di apartemenku, kubimbing dia ke kamar tidurku, Yuli langsung duduk di tempat tidur.
Tersenyum aku sambil mencopot sepatunya, kuberpikir "Ya Tuhan betapa indah dan sexynya sepasang kaki putih laksana kapas ini.. dan hmmh.."
Tiba-tiba terdengar bisikan yang berkata, "Jangan Andrew! Dia mabok! Kamu nggak boleh mempergunakan kesempatan! Itu tidak gentleman!"
Lalu, "Man! lihat betapa sexynya pundak si Yuli, lehernya.. pahanya.. Ohh"
Dan, "Andrew! Kamu bukan orang seperti itu!"
Lalu, "Ingat Andrew! Kapan lagi kamu punya kesempatan seperti ini, jangan bodoh!"
"Sial!!" dalam hatiku.
Ada seorang wanita cantik dan sexy, idamanku, fantasy seksualku, duduk di tempat tidurku dan aku malah bingung harus gimana.
"Sial! Sial! Sial!"

Ketika aku sedang sibuk sendiri dengan pikiranku, tiba-tiba, "Andrewhh.. sini Andrew.. Hhh" rintih Yuli.
Tanpa berpikir dua kali aku mendekat seperti anak buah dipanggil majikan dan berkata, "I.. Iya Yul.. Ada yang kamu mau? Air putih mungkin?"
"Aku mau kamuhh, Andrew sayanghh.." Yuli menjawab.
"Deg!" tak kuasa kutahan degup jantungku yang semakin menderu-deru.
Belum sempat kuberpikir lebih lanjut, kulihat jari-jari mungil Yuli telah berada di ikat pinggangku bersamaan dengan tangan putih berbulu halusnya.
"Aku ingin kamu Andrew.. "
Sekali lagi Yuli membuka bibirnya yang basah dan ranum memerah, "Iya Andrewhh.. malam ini!" Yuli meneruskan desahannya.
"Tapi.. Yul.." belum sempat kuhabis berucap, tiba-tiba jari-jari mungil tadi dengan perlahan membuka ikat pinggangku dan dengan bantuan lengan yang indah berbulu halus tadi menarik turun celana blue jeansku dengan mudah tanpa perlawanan dariku.
"Ohh Yuli.. Aku tak tahu ini benar dilakukan atau.." jawabku.
"Ssst.. Aku selalu ingin tahu bagaimana rasanya dengan orang putih sepertimu Andrew.. " Yuli memotong, dan mulai menarik turun celana dalamku.
"Hmmh, memang Punyanya bule sepertimu lebih besar dari pada orang kita."

Yuli dengan genit memandangi alat kemaluanku yang memang sudah mulai mengeras. "Yul.." Aku yang merasa harus mengatakan sesuatu.
Kembali dipotong olehnya sambil berkata, "Kamu harus tau kehebatan cewek Indonesia Drewhh.. mmhh," sambil berkata demikian Yuli mendekatkan wajah cantiknya ke jantananku dan sambil mengedip-ngedipkan bulu matanya yang panjang dan lentik .
Yuli mulai mengecupnya, "Mmmuuah.. cup.. cup.." Bibirnya yang merah ranum mulai menjelajahi kepala kejantananku yang mulai mengeras dan terus mengeras.
"Aku belum pernah dengan barang segede gini.. hihi," godanya genit dan kali ini menjulurkan lidahnya ke batang kemaluanku dari bawah kembali ke atas menyentuh kepala kejantananku lagi.
"Mmmhh," godanya lagi.
"Shh.. hh," aku cuma bisa mendesis, tak terbayang betapa terangsangnya aku oleh kejadian ini!
Dan, "Emmhh," Yuli memasukkan setengah alat kejantananku kedalam mulutnya yang mungil, dan kepalanya mulai bergerak naik turun secara perlahan.
"Ughhooghh.. Yuli! yeah!" Aku merintih menahan rasa nikmat dari mulut Yuli yang basah dan hangat.
Yuli sejenak menarik keluar kejantananku dari mulutnya dan berkata, "Emm.. Enak nggak sayang?"
Lalu kembali melumat dan menghisap kejantananku kali ini dengan ritme yang lebih cepat, "Mmm.. mm..mm.."

"Arrgghh!! Yuli! Oh Yuli.." Aku mulai mengerang agak keras karena merasakan lidah halus Yuli bergerak-gerak di dalam mulutnya yang hangat sementara kepala Yuli terus bergerak naik turun bertambah cepat.
"Ouugghh!!" Kali ini aku tidak dapat menahan hasrat yang meluap-luap di dalam diriku.
Kutarik turun gaun sackdress yang dipakainya sehingga terlihat punggung putih mulus berbulu halus sedikit tertutup oleh rambutnya yang panjang dan hitam lebat. Yuli tidak memakai bra. Kemudian kuteruskan lagi menarik turun sampai terlihat celana dalam putih tipis berenda yang membalut pantat putih kemerah-merahan yang ranum. Lalu kujulurkan tanganku yang panjang mencoba meraih liang kewanitaan yang tersembunyi di bawah pantat ranum putih miliknya. Dan tersentuh olehku daging halus sedikit berbulu yang telah basah oleh cairan lubrikasi tanda siap untuk bercinta!

"Ohh Yuli.. hh kamu sudah basah," ku bertutur terbata-bata.
"Hmm.. hmm.." Kata-kataku dijawab Yuli dengan hisapan yang lebih cepat dan liar terasa cepat melumat seluruh batang kejantananku.
"Ghhaahh.. Yuli!!" Aku kembali mengerang dan mulai menggerak-gerakkan jari-jariku di bagian apa saja dari liang kemaluannya yang dapat kuraih! Trus dan trus kujulurkan jariku sampai menyentuh klitorisnya.
"Mmmhh!" Kali ini terasa reaksi dari Yuli karena Ia mengerang keras sambil membalas dengan mempercepat hisapan dan lumatannya ke batang kejantananku.
"Urrghh!! hmm," aku tidak mau kalah dan kembali membalas dengan menggetarkan secara cepat sekali jariku di atas klitorisnya!
"Uoohh.. ohh," tak tahan Yuli mengeluarkan kejantananku dari dalam mulutnya, merintih dan mulai menggenggam batang kejantananku dan mengocok cepat naik turun.
"Uhh.. mmhh.. ohh.. yeahh!!" Berdua kami mengerang, merintih, menikmati sentuhan masing-masing sampai akhirnya Yuli tiba-tiba mendekatkan mukanya kepadaku. Yuli mulai menciumi dan melumat bibirku dengan bibirnya yang merah basah.

Kubalas ciumannya sambil kupeluk dan kuelus punggung mulus dan rambutnya yang tergerai di belakang.
"Hmmhh.." Sambil berciuman, Yuli merentangkan kedua kaki mulus jenjangnya dan naik keatas ku.
"Sekarang Andrewwhh.. hh.. hh.. ambillah aku sekaranghh.." Yuli berkata dengan nafas memburu sambil menatap lekat wajahku dengan paras cantiknya.
Dengan penuh nafsu kutarik turun celana dalamnya dan kupegang batang kejantananku dengan tangan kanan, juga selangkangan Yuli dengan tangan kiri. Lalu mulai memasukkan dengan perlahan kepala kejantananku kedalam liang kemaluannya yang merah menyala basah ditumbuhi rambut-rambut hitam halus indah di atasnya.
"Hoohh.. sshh," Yuli mendongak ke atas sambil memejamkan matanya dan mendesis merasakan kenikmatan penetrasi kepala kejantananku di lubang kemaluannya yang lalu kusambut dengan memasukkan batang kejantananku lebih dalam lagi. "Bles!"
"Uhh.. yeah!! Andrewhh!"
"Ohh Yulihh.." sambil kuangkat badan Yuli sedikit dan kulepas lagi sehingga naik turun di atas badanku.
"Ouurgghh.. ahh.."

Kali ini Yuli mengerang semakin keras dengan raut wajah sedikit meringis sambil berkata lagi, "Terus Andrewhh.. gerakin lagi lebih cepat shh.. mmhh.. yeahh.."
Terus terang tidak mudah bagiku untuk bergerak cepat memompa Yuli naik turun di dalam jepitan kewanitaannya yang sempit dan hangat seolah ingin menyedot seluruh kejantananku masuk ke dalam.
"Ohh.. mm.. mmhh.. shh.. yeahh.." Yuli tanpa henti-hentinya merintih, mengerang dan menggeram mesra seiring kunaikkannya kecepatan tubuhnya yang mulai basah berkeringat naik turun di atasku sambil kubenamkan terus lebih dalam kejantananku ke dalam liang kemaluannya yang semakin hangat terasa meremas-remas dan memijat-mijat kejantananku.
"Ohh Yuli .. ohh kamu suka sayanghh?" Aku bertanya di sela-sela rintihan, buruan nafas dan erangan kita berdua.
"Hhh.. Cepat lagi sayanghh.. mmhh. cepat lagihh!" Rintih Yuli semakin bersemangat dan mulai menggerak-gerakan pinggul mulus sexynya dengan gerakan erotis kekiri dan kekanan yang membuat liang kemaluannya semakin sempit hangat membara, menyedot dan memuntahkan kuat kejantananku keluar masuk semakin cepat dan keras.

"Arrgghh!! Yeahh!" Geramku sambil membalas dengan menggenjotkan pantatku ke atas untuk membantu kejantananku menghunjam dan menusuk lebih dalam lagi.
"Uhh.. ahh. ahh.. ahh.. ohh.. uuhh.. uhh.. uhh..urrgghhaa!" Jerit Yuli menyambut genjotan hebat yang kuberikan kepadanya tanpa henti sehingga terlihat wajah cantik Yuli memejamkan kedua matanya lalu meringis hebat sambil menggigit bibir bawah yang merah basah.
"Mmmhh!!" dan membuka mulutnya lagi "Uuuhh!!" Terasa seluruh tubuhnya menggelinjang, bergetar hebat menuju puncak kenikmatan dan orgasme berulangkali yang kuberikan kepadanya tanpa ampun. Terasa sakit genggaman jari-jemarinya yang mungil sedikit mencakar dan menggengam keras di kedua pundakku diikuti dengan seluruh tubuhnya menegang dengan seketika. Akhirnya, "Serr!" Terasa cairan hangat mengguyur batang kejantananku yang sedang memompa keras di dalam liang kemaluannya. Yah! Puncak orgasme. Yuli telah mencapainya.
"Uuuoohh.. hoh.. hh.. hh.. hoh.. hohh.. hh," terengah-engah nafas Yuli memburu.
Seluruh tubuhnya yang putih indah telah habis basah kuyup oleh keringatnya, tidak ketinggalan rambutnya yang juga tidak kalah basah. Terasa tegang tubuhnya berkurang. Genggamannya melemas, dan tubuhnya jatuh lemah lunglai di atas tubuhku yang juga telah basah kuyup diguyur keringat.
"Hhh..hh..hh.. mmhh kamu emang hebat Andrew.. aku belum pernah merasa sepuas ini oleh lelaki sebelumnya.." Tutur Yuli.

Saya kira tidak perlu saya ceritakan lagi apa yang terjadi seterusnya, karena cerita ini bukan mengenai diriku, melainkan mengenai fantasi seksualku, di mana saya berharap andapun akan mengalami hal yang serupa dengan fantasi seksual anda.

Kamis, 25 Oktober 2007

Di Balik Kamar WC

Pada waktu itu aku masih duduk di SMP kelas II, pernah terjadi kejadian yang sangat mengasyikan dan lebih baik ini jangan ditiru. Pada waktu di SMP, aku termasuk anak yang cukup nakal dan sekolahku itu pun merupakan sekolah yang banyak menampung para anak?anak nakal, sehingga tanpa kusadari aku pun bisa dibilang lumayan lebih banyak nakalnya dari pada baiknya.

Saat itu ada seorang teman sekelasku yang bernama Ika. Ika memang cewek yang paling dekat dengan cowok dan terkenal paling bandel juga nakal. Tidak jarang teman?teman pun menyimpulkan bahwa dia cewek binal, karena dia berpenampilan agak seronok dibandingkan teman-temannya, yaitu dengan baju sekolah yang tidak dimasukkan ke dalam, melainkan hanya diikat antar ujung kain dan menggunakan rok yang sangat minim dan pendek, yaitu satu telapak tangan dari lutut. Ika seorang gadis yang cukup manis dengan ciri-ciri tinggi yang pada waktu itu sekitar 160 cm, berat badan 45 kg dengan kulit putih serta bentuk wajah yang oval. Ika memiliki rambut sebahu, hitam tebal, pokoknya oke punya tuh doi.

Setelah bel kelas berbunyi yang tandanya masuk belajar, semua murid?murid masuk ke kelas. Tetapi anehnya, empat anak yang terdiri dari 3 cowok dan 1 cewek itu masih mengobrol di luar kelas yang tempatnya tidak jauh dari WC, dan sepertinya terjadi kesepatan diantara mereka. Setelah pelajaran kedua selesai, teman?teman cowok yang bertiga itu meminta ijin keluar untuk ke WC kepada guruku yang mengajar di pelajaran ketiga, sehingga membuatku curiga.
Di dalam hatiku aku bertanya, "Apa yang akan mereka perbuat..?"

Tidak lama setelah teman?teman cowok meminta ijin ke WC tadi, malah Ika pun meminta ijin kepada guru yang kebetulan guru pelajaran Bahasa Indonesia yang lumayan boring. Rasa penasaranku makin bertambah dan teman?temanku juga ada yang bertanya?tanya mengenai apa yang akan mereka perbuat di WC. Karena aku tidak dapat menahan rasa penasaranku, akhirnya aku pun meminta ijin untuk ke WC dengan alasan yang pasti. Sebelum sampai di WC kulihat teman?teman cowok kelasku yang bertiga itu kelihatannya sedang menunggu seseorang. Tidak lama kemudian terlihat Ika menuju tempat teman?teman cowok tersebut dan mereka bersama-sama masuk ke kamar WC secara bersamaan.

Rasa penasaranku mulai bertambah, sehingga aku mendekati kamar WC yang mereka masuki. Terdengar suara keributan seperti perebutan makanan di ruangan tersebut. Akhirnya aku masuk ke kamar WC, secara perlahan?lahan kubuka pintu kamar WC yang bersampingan dengan kamar WC yang mereka masuki, sehingga percakapan dan perbuatan mereka dapat terdengar dengan jelas olehku.
"Hai Tun, Sep, siapa yang akan duluan..?" tanya Iwan kepada mereka.
Dijawab dengan serentak dari mulut Ika seorang cewek, dia menjawab dengan nada menantang, "Ayo.., siapa saja yang akan duluan. Aku sanggup kok kalaupun kalian langsung bertiga..!"
Aku bertanya-tanya, apa sih yang mereka perundingkan, sampai?sampai saling menunjuk dan menantang seperti itu. Tapi aku tetap terdiam membisu sambil memperhatikan kembali, apa yang akan terjadi.

Setelah itu, tidak lama kemudian Asep menjawab dengan nada ringan, "Yah udah, kalau begitu Kita bertiga bareng?bareng ajah. Biar rame..!" katanya.
Langsung disambut ucapan Asep tersebut oleh Ika, "Ayo cepetan..! Nanti keburu pulang sekolah."
Dan akhirnya Utun pun berucap, "Ayo Kita mulai..!"
Setelah itu tidak terdengar suara percakapan mereka lagi, tetapi terdengar suara reslueting yang sepertinya dibuka dan juga suara orang membuka baju.

Tidak lama kemudian terdengar suara riang mereka bertiga dengan ucapan menanyakan pada Ika, "Hey Ka.., Siapa sih yang paling besar alat kelamin Kami bertiga ini..?"
Ika pun menjawab dengan nada malu?malu, "Kayanya sih Utun yang paling gede, hitam lagi." dengan sedikit nada menyindir dan langsung dijawab oleh Utun, "Hey Ka..! Cepetan buka tuh baju Kamu, biar cepet asik si Joni, Kita nih enggak kuat lagi..!"

Setelah terdengar Ika membuka bajunya, tidak lama kemudian terdengar suara teman?teman cowok bertiga, Utun, Asep, Iwan dengan nada ganas, "Wauw.., benar?benar body Kamu Ka, kaya putri turun dari langit..!"
Tidak lama kemudian Asep bertanya pada Ika, "Ka.., kalau Aku boleh tidak meraba buah dadamu ini yang bagaikan mangkuk mie ini Ka..?"
Ika pun menjawab dengan nada enteng, "Yah sok aja, yang penting jangan dirusak ajah..!"
Utun pun sepertinya tidak mau kalah dengan Asep, dia pun bertanya, "Ka.., Aku bolehkan memasukkan alat kelaminku ke lubang gua rawamu ini kan Ka..?" sambil meraba-raba alat kelamin Ika.
Ika pun menjawab dengan nada mendesak, karena alat kelaminnya sepertinya sedang diraba-raba oleh Utun, "Aahh.. uhh.. boleh Tun.. asal jangan sangar yah tun..!"
Dan terakhir terdengar suara Iwan yang tak mau kalah juga, "Ka.., Aku boleh kan menciumimu mulai dari bibir hingga lehermu Ka.., boleh kan..?"
Ika menjawab dengan nada seperti kesakitan, "Awww.. Uuuhh.. iya?iya, boleh deh semuanya..!"

Suara?suara tersebut terdengar olehku di samping kamar WC yang mereka isi, yang kebanyakan suara?suara tersebut membuat saya risih mendengarnya, seperti, "Aaahh.. eehh.. aawww.. eh?eh.. oww?oowww.. sedap..!"
Dan tidak lama kemudian terdengar suara Ika, "Kalian jangan terlalu nafsu dong..!" kata Ika kepada teman?teman cowok tersebut, "Karena Aku kan sendirian.., sedangkan Kalian bertiga enggak sebanding dong..!"
Tetapi mereka bertiga tidak menjawab ucapan Ika tersebut, dan akhirnya terdengar suara jeritan kesakitan yang lumayan keras dari Ika, "Aaawww.., sakit..!"

Ika kemudian melanjutkan dengan ucapan, "Aduh Tun.., Kamu udah mendapatkan keperawanan Saya..!"
Dijawab dengan cepat oleh Utun, "Gimana Ka..? Hebatkan Saya."
Setelah itu Utun pun mendesah seperti kesakitan, "Adu.. aduh.., kayanya alat kelaminku lecet deh dan akan mengeluarkan cairan penyubur." kata-katanya ditujukan kepada teman?temannya.
Tidak lama kemudian Iwan bertanya kepada Ika, "Ka aku bosan cuma menyiumi Kamu aja Ka.., Aku kan kepingin juga kaya Utun..!"
Iwan pun langsung bertukar posisi, yang anehnya posisi Iwan tidak sama seperti yang dilakukan Utun, yaitu memasukkan alat kelaminnya ke lubang pembuangan (anus) dari belakang, sehingga Ika tidak lama kemudian menjerit kedua kalinya.
"Aaawww.. Iiihh.. perih tahu Wan..! Kamu sih salah jalur..!" rintih Ika menahan sakit.
Tetapi sepertinya Iwan tidak menghiraukan ucapan Ika, dan terus saja Iwan berusaha ingin seperti Utun, sampai alat kelaminnya mencapai klimaks dan mengeluarkan cairan penyejuk hati. Hanya berlangsung sebentar, Iwan pun menjerit kesakitan dan alat kelaminnya pun dikeluarkan dari lubang pembuangan dengan mengatakan, "Aaahh.., uuhh.., uuhh.., enaak Ka, makasih. Kamu hebat..!"
Asep yang setia hanya meraba-raba payudara Ika dan sekali-kali menggigit payudara Ika. Tetapi ternyata akhirnya Asep bosan dan ingin seperti kedua temannya yang mengeluarkan cairan penyubur tersebut sambil berkata, "Ka.., Aku juga mau kaya mereka dong, ayo Ka..! Kita mainkan.."

Ika menjawab dengan nada lemas, "Aduh Sep..! Kayanya Aku udah capek Sep, sorry yah Sep..!"
Akhirnya Asep kesal pada Ika dan langsung saja Asep menarik tangan Ika kepada alat kelaminnya dengan menyodorkan alat kelaminnya.
"Ka.., pokoknya Aku enggak mo tahu.., Aku pinggin kaya mereka berdua..!"
Ika menjawab dengan nada lemas, "Aduh Sep.., gimana yah, Aku benar benar lemas Sep..!"
Aku tetap terdiam di kamar WC tersebut.

Ada sekitar 45 menit berlanjut, dan aku pun berpikir apakah mungkin mereka berbuat oral seks karena masih duduk di SMP. Hal ini mendorong rasa penasaran tersebut untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Akhirnya aku dapat melihat mereka dari atas, karena kamar WC di sekolahku pada waktu itu tembok pembaginya tidak tertutup sampai dengan atas langit, sehingga aku dapat melihat mereka berempat. Karena kesal akibat Asep tidak dipenuhi permintaannya, akhirnya Asep menarik kepala Ika ke depan alat kelaminnya yang sudah menegang tersebut.

Asep berkata dengan nada mengancam kepada Ika, "Ayo Ka..! Kalo gitu kelomohi alat kelaminku hingga Aku merasakan enaknya seperti mereka..!"
Setelah berusaha memanjat untuk melihat adgean secara langsung, aku dapat melihat dengan jelas. Ika seorang cewek langsung saja mengerjakan apa yang disuruh oleh Asep, sedangkan temannya yang berdua lagi, Utun dan Iwan duduk di lantai, tergeletak menahan rasa enak bercampur sakit yang mereka rasakan tersebut.

Tidak berlangsung lama, Asep berkata kepada Ika, "Ka.., Ka.., Ka.., ahh.. aah.. awas Ka..! Aku akan mengirimkan cairan penyuburku yang hebat ini..!"
Kulihat Ika langsung menyopotkan alat kelamin Asep dari mulutnya, dan terlihat raut wajah Ika yang sayu dan sendu bercampur gembira karena dapat uang dan sedih karena keperawanannya sudah hilang oleh mereka bertiga. Dasar Asep sedang kesal, Asep menyemprotkan cairan penyuburnya kepada Ika dan kedua temannya dengan mendesis kesakitan terlebih dahulu.
"Aaahh.., uuhh.., Awas cairan penyuburku ini diterima yah..!" kata Asep sambil tangannya tetap mengocokkan penisnya.
Kulihat Asep menyempotkan cairan penyubur itu dari alat kelaminnya secara kasar.

Setelah ada 15 menit sehabis Asep mengeluarkan cairan penyuburnya, kulihat mereka langsung berpakaian kembali setelah mereka menyopotkan baju?baju mereka sampai tidak tersisa sehelai kain pun. Sebelum mereka keluar, aku langsung cepat keluar dari kamar mandi tersebut secara perlahan?lahan agar tidak terdengar oleh mereka. Kemudian aku menuju ke kelas yang telah memulai pelajarannya dari tadi. Hanya berselang beberapa menit, mereka masuk ke kelas seorang?seorang agar tidak ketahuan oleh guru kami.

Hari itu tidak terasa lama sampai bel keluar sekolah berbunyi. Kulihat mereka bertiga teman cowokku, Asep, Iwan, Utun sedikit lelah, seperti kehabisan nafas dan anehnya mereka berjalan seperti kehabisan tenaga.
Karena aku suka iseng ke temen, aku langsung bertanya kepada mereka bertiga, "Hey Kalian kayanya pada lemes banget. Habis ngebuat su.., sumur yah..?"
Langsung dijawab dengan enteng oleh perwakilan mereka bertiga, yaitu Asep, "Iya Bie, enak tahu kalo ngegali sumur tersebut dengan rame?rame..!"
"Ohh gitu yah..?" jawabku dengan tersenyum karena tahu apa yang mereka perbuat tadi.

Tidak jauh dari tempatku berdiri, kulihat Ika berjalan sendirian dengan memegang tas kantongnya yang sehari-hari tasnya selalu di atas pundaknya. Sekarang hanya dibawa dengan cara dijingjing olehnya.
Langsung saja aku memanggilnya, "Ka.., Ika.. Ka.. tunggu..!"
Ika menjawab dengan nada lemas, "Ada apa Bie..?"
Karena aku juga ingin iseng padanya, kulangsung bertanya, "Ka.., kayanya Kamu kecapean. Habis tertembak peluru nyasar yang menghajarmu, ya Ka..?"
Ika pun menjawab dengan nada kesal, mungkin bahkan tersindir, "Yah.. Bie.., bukan peluru nyasar, tapi burung gagak yang nyasar menyerang sarang tawon dan goa Hiro, tahu..!"
Mendengar nadanya yang tersinggung, aku langsung meminta maaf kepada Ika.
"Ka.., maaf. Kok gitu aja dianggap serius, maaf yah Ka..?" kataku menenangkannya sambil tersenyum bersahabat.
Karena aku penasaran, aku langsung menyerempet?menyerempet agar terpepet.
"Ka.., boleh enggak Ka, Aku coba masuk ke goa Hiro tersebut..? Kayanya sih asik.. bisa terbang kaya burung..!" pintaku sambil tertawa pelan.
Karena Ika sudah kesal dan lelah, Ika menjawab, "Apa sih Kamu Bie..? Kamu mau goa Saya, nanti dong antri.., masih banyak burung yang mau masuk ke goaku, tahu..!"
Dan akhirnya aku tertawa dengan rasa senang.

Ini merupakan pengalaman hidup saya yang dijamin asli.

TAMAT

Aku Dipakai Anak Kost

Namaku Evita dan Suamiku Edo. Kami baru satu tahun melangsungkan perkawinan, tapi belum ada pertanda aku hamil. Sudah kucoba berdua periksa siapa yang mandul, tapi kata dokter semuanya subur dan baik-baik saja. Mungkin karena selama pacaran dulu kami sering ke Discotik, merokok dan sedikit mabuk. Itu kita lakukan setiap malam minggu selama tiga tahun, selama masa pacaran berlangsung.

Suamiku seorang sales yang hampir dua hari sekali pasti ke luar kota, bahkan kadang satu minggu di luar kota, karena rasa kasihannya terhadapku, maka dia berniat untuk menyekat rumahku untuk membuka tempat kost agar aku tidak merasa sendirian di rumah.

Mula-mula empat kamar tersebut kami kost-kan untuk cewek-cewek, ada yang mahasiswa ada pula yang karyawati. Aku sangat senang ada teman untuk ngobrol-ngobrol. Setiap suamiku pulang dari luar kota, pasti dibawakan oleh-oleh agar mereka tetap senang tinggal di rumah kami. Tetapi lama-kelamaan aku merasa makin tambah bising, setiap hari ada yang apel sampai larut malam, apalagi malam minggu, aduh bising sekali bahkan aku semakin iri pada mereka untuk kumpul bersama-sama satu keluarga. Begitu suamiku datang dari luar kota, aku menceritakan hal-hal yang tiap hari kualami, akhirnya kita putuskan untuk membubarkan tempat kost tersebut dengan alasan rumah mau kita jual. Akhirnya mereka pun pada pamitan pindah kost.

Bulan berikutnya kita sepakat untuk ganti warna dengan cara kontrak satu kamar langsung satu tahun khusus karyawan-karyawan dengan syarat satu kamar untuk satu orang jadi tidak terlalu pusing untuk memikirkan ramai atau pun pulang malam. Apalagi lokasi rumah kami di pinggir jalan jadi tetangga-tetangga pada cuek. Satu kamar diisi seorang bule berbadan gede, putih dan cakep. Untuk ukuran harga kamar kami langsung dikontan dua tahun dan ditambah biaya perawatan karena dia juga sering pulang malam.

Suatu hari suamiku datang dari luar kota, dia pulang membawa sebotol minuman impor dan obat penambah rangsangan untuk suami istri.
Suamiku bertanya, "Lho kok sepi-sepi aja, pada ke mana."
"Semua pada pulang karena liburan nasional, tapi yang bule nggak, karena perusahaannya ada sedikit lembur untuk mengejar target", balasku mesra.

Kemudian suamiku mengambil minumannya dan cerita-cerita santai di ruang tamu, "Nich sekali-kali kita reuni seperti di diskotik", kata suamiku, "Aku juga membawa obat kuat dan perangsang untuk pasangan suami istri, ntar kita coba ya.."
Sambil sedikit senyum, kujawab, "Kangen ya.. emang cuman kamu yang kangen.."
Lalu kamipun bercanda sambil nonton film porno.
"Nich minum dulu obatnya biar nanti seru.." kata suamiku.
Lalu kuminum dua butir, suamiku minum empat butir.
"Lho kok empat sih.. nanti over lho", kataku manja.
"Ach.. biar cepat reaksinya", balas suamiku sambil tertawa kecil.

Satu jam berlangsung ngobrol-ngobrol santai di ruang tamu sambil nonton film porno, kurasakan obat tadi langsung bereaksi. Aku cuma mengenakan baju putih tanpa BH dan CD. Kita berdua duduk di sofa sambil kaki kita diletakkan di atas meja. Kulihat suamiku mulai terangsang, dia mulai memegang lututku lalu meraba naik ke pahaku yang mulus, putih dan seksi. Buah dadaku yang masih montok dengan putingnya yang masih kecil dan merah diraihnya dan diremasnya dengan mesra, sambil menciumiku dengan lembut, perlahan-lahan suamiku membuka kancing bajuku satu persatu dan beberapa detik kemudian terbukalah semua pelapis tubuhku.

"Auh.." erangku, kuraba batang kemaluan suamiku lalu kumainkan dengan lidah, kukulum semuanya, semakin tegang dan besar. Dia pun lalu menjilat klitorisku dengan gemas, menggigit-gigit kecil hingga aku tambah terangsang dan penuh gairah, mungkin reaksi obat yang kuminum tadi. Liang kewanitaanku mulai basah, dan sudah tidak kuat aku menahannya. "Ach.. Mas masukin yuk.. cepat Mas.. udah pingin nich.." sambil mencari posisi yang tepat aku memasukkan batang kemaluannya pelan-pelan dan, "Bless..", batang kemaluan suamiku masuk seakan membongkar liang surgaku. "Ach.. terus Mas.. aku kangen sekali..", dengan penuh gairah entah kenapa tiba-tiba aku seperti orang kesurupan, seperti kuda liar, mutar sana mutar sini. Begitu pula suamiku semakin cepat gesekannya. Kakiku diangkatnya ke atas dan dikangkangkan lebar-lebar.

Perasaanku aneh sekali, aku seakan-akan ingin sekali diperkosa beberapa orang, seakan-akan semua lubang yang aku punya ingin sekali dimasuki batang kemaluan orang lain. Seperti orang gila, goyang sana, goyang sini sambil membayangkan macam-macam. Ini berlangsung lama sekali dan kita bertahan seakan-akan tidak bisa keluar air mani. Sampai perih tapi asik sekali. Sampai akhirnya aku keluar terlebih dahulu, "Ach.. Mas aku keluar ya.. udah nggak tahan nich.. aduh.. aduh.. adu..h.. keluar tiga kali Mas", desahku mesra. "Aku juga ya.. ntar kamu agak pelan goyangnya.. ach.. aduh.. keluar nich.." Mani kental yang hangat banyak sekali masuk ke dalam liang kenikmatanku. Dan kini kita berada dalam posisi terbalik, aku yang di atas tapi masih bersatu dalam dekapan.

Kucabut liang kewanitaanku dari batang kemaluan suamiku terus kuoles-oleskan di mulut suamiku, dan suamiku menyedot semua mani yang ada di liang kewanitaanku sampai tetes terakhir. Kemudian kita saling berpelukan dan lemas, tanpa disadari suamiku tidur tengkurap di karpet ruang tamu tanpa busana apapun, aku pun juga terlelap di atas sofa panjang dengan kaki telentang, bahkan film porno pun lupa dimatikan tapi semuanya terkunci sepertinya aman.

Ketika subuh aku terbangun dan kaget, posisiku bugil tanpa sehelai benang pun tetapi aku telah pindah di kamar dalam, tetapi suamiku masih di ruang tamu. Akhirnya perlahan-lahan kupakai celana pendek dan kubangunkan suamiku. Akhirnya kami mandi berdua di kamar mandi dalam. Jam delapan pagi saya buatkan sarapan dan makan pagi bersama, ngobrol sebentar tentang permainan seks yang telah kami lakukan tadi malam. Tapi aku tidak bertanya tentang kepindahan posisi tidurku di dalam kamar, tapi aku masih bertanya-tanya kenapa kok aku bisa pindah ke dalam sendirian.

Sesudah itu suamiku mengajakku mengulangi permaina seks seperti semalam, mungkin pengaruh obatnya belum juga hilang. Aku pun disuruhnya minum lagi tapi aku cuma mau minum satu kapsul saja. Belum juga terasa obat yang kuminum, tiba-tiba teman suamiku datang menghampiri karena ada tugas mendadak ke luar kota yang tidak bisa ditunda. Yah.. dengan terpaksa suamiku pergi lagi dengan sebuah pesan kalau obatnya sudah bereaksi kamu harus tidur, dan aku pun menjawabnya dengan ramah dan dengan perasaan sayang. Maka pergilah suamiku dengan perasaan puas setelah bercinta semalaman.

Dengan daster putih aku kembali membenahi ruang makan, dapur dan kamar-kamar kost aku bersihkan. Tapi kaget sekali waktu membersihkan kamar terakhir kost-ku yang bersebelahan dengan kamar tidurku, ternyata si bule itu tidur pulas tanpa busana sedikit pun sehingga kelihatan sekali batang kemaluan si bule yang sebesar tanganku. Tapi aku harus mengambil sprei dan sarung bantal yang tergeletak kotor yang akan kucuci.

Dengan sangat perlahan aku mengambil cucian di dekat si bule sambil melihat batang kemaluan yang belum pernah kulihat secara dekat. Ternyata benar seperti di film-film porno bahwa batang kemaluan bule memang besar dan panjang. Sambil menelan ludah karena sangatlah keheranan, aku mengambil cucian itu.

Tiba-tiba si bule itu bangun dan terkejut seketika ketika melihat aku ada di kamarnya. Langsung aku seakan-akan tidak tahu harus berkata apa.
"Maaf tuan saya mau mengambil cucian yang kotor", kataku dengan sedikit gugup.
"Suamimu sudah berangkat lagi?" jawabnya dengan pelan dan pasti. Dengan pertanyaan seperti itu aku sangat kaget. Dan kujawab, "Kenapa?".
Sambil mengambil bantal yang ditutupkan di bagian vitalnya, si bule itu berkata, "Sebelumnya aku minta maaf karena tadi malam aku sangat lancang. Aku datang jam dua malam, aku lihat suamimu tidur telanjang di karpet ruang tamu, dan kamu pun tidur telanjang di sofa ruang tamu, dengan sangat penuh nafsu aku telah melihat liang kewanitaanmu yang kecil dan merah muda, maka aku langsung memindahkan kamu ke kamar, tapi tiba-tiba timbul gairahku untuk mencoba kamu. Mula-mula aku hanya menjilati liang kewanitaanmu yang penuh sperma kering dengan bau khas sperma lelaki. Akhirnya batang kemaluanku terasa tegang sekali dan nafsuku memuncak, maka dengan beraninya aku meniduri kamu."

Dengan rasa kaget aku mau marah tapi memang posisi yang salah memang diriku sendiri, dan kini terjawablah sudah pertanyaan dalam benakku kenapa aku bisa pindah ke ruang kamar tidurku dan kenapa liang kewanitaanku terasa agak sakit
"Trus saya.. kamu apain", tanyaku dengan sedikit penasaran
"Kutidurin kamu dengan penuh nafsu, sampai mani yang keluar pertama kutumpahkan di perut kamu, dan kutancapkan lagi batanganku ke liang kewanitaanmu sampai kira-kira setengah jam keluar lagi dan kukeluarkan di dalam liang kewanitaanmu", jawab si bule.
"Oic.. bahaya nich, ntar kalo hamil gimana nich", tanyaku cemas.
"Ya.. nggak pa-pa dong", jawab si bule sambil menggandengku, mendekapku dan menciumku.

Kemudian dipeluknya tubuhku dalam pangkuannya sehingga sangat terasa batang kemaluannya yang besar menempel di liang kewanitaanku. "Ach.. jangan dong.. aku masih capek semalaman", kataku tapi tetap saja dia meneruskan niatnya, aku ditidurkan di pinggir kasurnya dan diangkat kakiku hingga terlihat liang kewanitaanku yang mungil, dan dia pun mulai manjilati liang kewanitaanku dengan penuh gairah. Aku pun sudah mulai bernafsu karena pengaruh obat yang telah aku minum sewaktu ada suamiku.

"Auh.. Jhon.. good.. teruskan Jhon.. auh". Satu buah jari terasa dimasukkan dan diputar-putar, keluar masuk, goyang kanan goyang kiri, terus jadi dua jari yang masuk, ditarik, didorong di liang kewanitaanku. Akhirnya basah juga aku, karena masih penasaran Jhon memasukkan tiga jari ke liang kewanitaanku sedangkan jari-jari tangan kirinya membantu membuka bibir surgaku. Dengan nafsunya jari ke empatnya dimasukkan pula, aku mengeliat enak. Diputar-putar hingga bibir kewanitaanku menjadi lebar dan licin. Nafsuku memuncak sewaktu jari terakhir dimasukkan pula.

"Aduh.. sakit Jhon.. jangan Jhon.. ntar sobek.. Jhon.. jangan Jhon", desahku sambil mengeliat dan menolak perbuatannya, aku berusaha berdiri tapi tidak bisa karena tangan kirinya memegangi kaki kiriku. Dan akhirnya, "Bless.." masuk semua satu telapak tangan kanan Jhon ke dalam liang kewanitaanku, aku menjerit keras tapi Jhon tidak memperdulikan jeritanku, tangan kirinya meremas payudaraku yang montok hingga rasa sakitnya hilang. Akhirnya si bule itu tambah menggila, didorong, tarik, digoyang kanan kiri dengan jari-jarinya menggelitik daging-daging di dalamnya, dia memutar posisi jadi enam sembilan, dia menyumbat mulutku dengan batang kemaluannya hingga aku mendapatkan kenikmatan yang selama ini sangat kuharapkan.

"Auch.. Jhon punyamu terlalu panjang hingga masuk di tenggorokanku.. pelan-pelan aja", ucapku tapi dia masih bernafsu. Tangannya masih memainkan liang kewanitaanku, jari-jarinya mengelitik di dalamnya hingga rasanya geli, enak dan agak sakit karena bulu-bulu tangannya menggesek-gesek bibir kewanitaanku yang lembut. Ini berlangsung lama sampai akhirnya aku keluar.
"Jhon.. aku nggak tahan.. auch.. aouh.. aku keluar Jhon auch, aug.. keluar lagi Jhon.." desahku nikmat menahan orgasme yang kurasakan.
"Aku juga mau keluar.. auh.." balasnya sambil mendesah.

Kemudian tangannya ditarik dari dalam liang kewanitaanku dan dia memutar berdiri di tepi kasur dan menarik kepalaku untuk mengulum kemaluannya yang besar. Dengan sangat kaget dan merasa takut, kulihat di depan pintu kamar ternyata suamiku datang lagi, sepertinya suamiku tidak jadi pergi dan melihat peristiwa itu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, kupikir sudah ketahuan, telanjur basah, aku takut kalau aku berhenti lalu si bule tahu dan akhirnya bertengkar, tapi aku pura-pura tidak ada sesuatu hal pun, si bule tetap kukulum sambil melirik suamiku, takut kalau dia marah.

Tapi ternyata malah suamiku melepas celana dan mendekati kami berdua yang sudah tengang sekali, mungkin sudah menyaksikan kejadian ini sejak tadi. Dan akhirnya si bule kaget sekali, wajahnya pucat dan kelihatan grogi, lalu melepas alat vitalnya dari mulutku dan agak mudur sedikit. Tapi suamiku berkata, "Terusin aja nggak pa-pa kok, aku sayang sama istriku.. kalau istriku suka begini.. ya terpaksa aku juga suka.. ayo kita main bareng". Akhirnya semua pada tersenyum merdeka, dan tanpa rasa takut sedikit pun akhirnya si bule disuruh tidur telentang, aku tidur di atas tubuh si bule, dan suamiku memasukkan alat vitalnya di anusku, yang sama sekali belum pernah kulakukan. Dengan penuh nafsu suamiku langsung memasukkan batang kemaluannya ke dalam anusku. Karena kesulitan akhirnya dia menarik sedikit tubuhku hingga batang kemaluan si bule yang sudah masuk ke liang kewanitaanku terlepas, suamiku buru-buru memasukkan batang kemaluannya ke liang kewanitaanku yang sudah basah, di goyang beberapa kali akhirnya ikut basah, dan dicopot lagi dan dimasukkan ke anusku dan.. "Bless..", batang kemaluan suamiku menembus mulus anusku. "Aduh.. pelan-palan Mas..", seruku.

Kira-kira hampir setengah jam posisi seperti ini berlangsung dan akhirnya suamiku keluar duluan, duburku terasa hangat kena cairan mani suamiku, dia menggerang keenakan sambil tergeletak melihatku masih menempel ketat di atas tubuh si bule. Akhirnya si bule pun pindah atas dan memompaku lebih cepat dan aku pun mengerang keenakan dan sedikit sakit karena mentok, kupegang batang kemaluan si bule yang keluar masuk liang kewanitaanku, ternyata masih ada sisa sedikit yang tidak dapat masuk ke liang senggamaku. Suamiku pun ikut tercengang melihat batang kemaluan si bule yang besar, merah dan panjang. Aku pun terus mengerang keasyikan, "Auh.. auh.. terus Jhon.. auh, keluarin ya Jhon.."

Akhirnya si bule pun keluar, "Auch.. keluar nich.." ucapnya sambil menarik batang kemaluannya dari liang kewanitaanku dan dimasukkan ke mulutku dan menyembur juga lahar kental yang panas, kutelan sedikit demi sedikit mani asin orang bule. Suamiku pun ikut menciumku dengan sedikit menjilat mani orang asing itu. Kedua lelaki itu akhirnya tersenyum kecil lalu pergi mandi dan tidur siang dengan puas. Sesudah itu aku menceritakan peristiwa awalnya dan minta maaf, sekaligus minta ijin bila suatu saat aku ingin sekali bersetubuh dengan si bule boleh atau tidak. "Kalau kamu mau dan senang, ya nggak apa-apa asal kamu jangan sampai disakiti olehnya". Sejak saat itupun bila aku ditinggal suamiku, aku tidak pernah merasa kesepian. Dan selalu dikerjain oleh si bule.

TAMAT

Gadis yang Malang

Tomi adalah seorang mandor buruh sebuah pabrik Garment di kawasan Bandung. Dia bekerja sebagai seorang pengawas buruh dibagian produksi. Perangainya cukup sangar sikapnyapun tegas terhadap para buruh-buruh yang bekerja disitu. Dia tidak pelit dengan kata-kata kasar dan caci maki terhadap para buruh yang melakukan kesalahan. Bagi para buruh tidak ada pilihan lain selain bekerja dibawah tekanan mandor Tomi karena memang mencari pekerjaan lain sangatlah sulit.

Tomi diangkat oleh perusahaan sebagai seorang mandor karena dia memiliki latar belakang kehidupan yang keras, memang dia adalah seorang preman disebuah kawasan yang rawan kriminal di Bandung. Dengan harapan kedudukan Tomi sebagai mandor buruh, maka para buruh akan segan dan takut terhadap perusahaan.

Saat ini ada seorang mahasiswi yang kebetulan sedang tugas magang di pabrik itu namanya Ani, usianya masih 19 tahun dan dia adalah seorang mahasisiwi Fakultas Teknik Industri pada sebuah perguruan tinggi negeri yang terkenal di kota Bandung. Ani cukup lincah dalam bekerja. Gadis cantik itu pintar dan rajin dalam melakukan tugas-tugasnya. Dia memiliki wajah yang imut-imut dan cantik sekali seperti mojang-mojang Bandung umumnya yang memiliki kulit putih bersih. Selama bekerja magang di pabrik itu, Tomi sering memperhatikan Ani. Potongan tubuhnya sintal padat proporsional dengan tinggi tubuhnya yang sekitar 160-an cukup membuat Tomi tertarik perhatiannya kepada Ani.

Penampilan Ani memang lain dibandingkan dengan gadis-gadis lainnya. Ani lebih senang menggunakan celana jeans dan baju yang ketat seperti umumnya penampilan seorang mahasiswi sehingga lekuk-lekuk tubuhnya terlihat jelas. Hal itulah yang membuat para lelaki dipabrik itu sering memandangi kemolekan tubuh Ani. Begitu pun dengan Tomi yang selalu mencuri-curi pandang melihat keindahan dan kemolekan tubuh Ani. Hal ini tidak disadari oleh Ani karena dia lebih serius untuk menyelesaikan tugas-tugasnya selama magang di pabrik itu.

Sesekali Tomi menyempatkan diri untuk memasang muka ramah dan bercakap-cakap dengan Ani hanya sekedar menukmati kecantikan wajah gadis tersebut. Padahal dengan karyawati atau buruh wanita yang lainnya boro-boro dia memasang muka ramah yang ada selalu tampang sangar yang diperlihatkannya dan ucapan-ucapan yang jauh dari keramahan. Singkat kata Tomi telah jatuh hati berat kepada Ani, mahasiswi cantik itu.

Pada suatu hari menjelang berakhirnya masa kerja magang Ani di pabrik itu, Tomi memberanikan diri untuk mengutarakan isi hatinya. Sore hari itu ditemuinya Ani disebuah kantin di pabrik itu, dengan rasa percaya diri dan nekat dia utarakan keinginannya untk menjadi pacar serta pendamping hidup Ani. Namun, pada akhirnya keadaan berubah dan merupakan titik balik perasaan Tomi, dari rasa cintanya kepada Ani berubah 180 derajat menjadi benci.

Cinta Tomi ditolak mentah-mentah oleh Ani. Dengan alasan selain perbedaan agama, usia yang terpaut jauh dimana Tomi saat ini telah berusia 38 tahun sedangkan Ani baru 19 tahun selain itu juga terdapat beberapa sifat Tomi yang tidak cocok dengan Ani. Seperti diketahui latar belakang Tomi adalah seorang preman, pemabok dan penjudi.

Sejak itu hati Tomi menjadi panas, kesal dan marah atas jawaban dari Ani. Didalam hatinya tiba-tiba muncul rasa dendam terhadap Ani. Dan diapun merencanakan akan berbuat sesuatu terhadap Ani, "Hmm.. tunggu tanggal mainnya gadis sombong.. puih!!" batinnya.

Seminggu kemudian, pada sebuah Malam disebuah lorong yang gelap tampak sekelompok orang berjalan mengendap-endap. Mereka ada Tomi berserta beberapa anggota kelompok premannya. Mereka adalah Asep, Ujang, Cecep dan Afung, tampang-tampang mereka lusuh-lusuh dan kumal-kumal, tampang khas para preman.
"Sstt.. sebentar lagi dia lewat kesini", bisik Tomi kepada kawan-kawannya.
"Ok.. kita tunggu aja boss..", balas Ujang.
"Boss.. gue udah engga tahan nihh.. udah pingin nyodok tuh cewek", bisik Afung.
"Sstt.. sabar.. boy.. sabarr.. semua pasti dapat tanda tangan.. hihihi..", balas Tomi.
"Pokoknya gue duluan yang kasih pelajaran tuh cewek..", lanjut Tomi.
Malam itu mereka memang tengah menghadang Ani pada suatu tempat didekat tempat kost Ani. Tempat penghadangan itu memang sepi dan hanya terdapat beberapa rumah kosong saja dan sebuah lapangan luas yang mengelilingi rumah kost Ani. Sehingga Tomi dan kawan-kawannya merasa cocok dengan tempat itu sebagai lokasi penghadangan.

Ani memang lebih memilih untuk tinggal disebuah rumah kost yang sepi, agar supaya dia bisa lebih serius dalam belajar. Seminggu lamanya sejak Ani tidak lagi magang di pabrik itu, Tomi menyibukkan diri dengan mencari data-data diri Ani serta mengamati kegiatan-kegiatan Ani sehari-hari. Termasuk membuntutinya pulang-pergi dari kost-kostannya menuju kekampus sehingga dia tahu betul kegiatan serta route-route pulang-pergi Ani. Hingga akhirnya dipilihlah tempat itu sebagai tempat yang ideal dalam menghadang korbannya.

"Nah ini dia..", ujar Tomi sambil menunjuk kesebuah bayangan yang mendekat kearah mereka berkumpul.
"Tak salah lagi, tepat pukul 7 malam pasti tuh cewek lewat sini" lanjut Tomi sambil tersenyum melihat sasarannya mendekat.
Tapi sejenak Tomi agak bimbang karena bayangan yang mendekat itu ternyata ada dua sosok.
Tetapi setelah diamati secara mendalam ternyata kedua-duanya adalah sosok bayangan wanita dan diyakini salah satu bayangan itu adalah Ani dan satu lagi juga sosok wanita. Maka tanpa keraguan lagi dia pun mulai memutuskan untuk menjalankan operasi penyergapan itu.
"Ah itu dia pengantin wanitaku..", gumam Tomi.
"Ok..jalan kan tugas masing-masing! awas jangan sampai luput..", perintah Tomi kepada teman-temannya.
"Ada dua boss, yang satunya gimana nih?", tanya Asep.
"Ah sikat aja..", jawab Tomi.
Tanpa dikomando lagi Asep, Cecep dan Afung bergerak menuju kearah gadis itu berjalan.
Merekapun menghadang Ani beserta temannya,
Anipun nampak kebingungan mendapati dirinya dihampiri oleh empat lelaki yang tidak dikenalnya.
Tomi hanya mengamati dari jarak sekitar 10 meter, suasanya hening sejenak. Dari tempat Tomi berdiri sayup-sayup terdengan pembicaraan serius diantara Asep dan Ani.

Beberapa detik kemudian suasana berubah, secepat kilat Ani diringkus oleh Cecep dan Afung yang memiliki tubuh tegap. Sedangkan temannya diringkus oleh Asep dan Ujang. Ani serta temannya mencoba melawan dan meronta-ronta akan tetapi beberapa pukulan dilayangkan oleh Cecep dan Afung dan akhirnya Anipun pingsan. Setelah itu tubuh tak berdaya itu dibopong oleh Cecep.

Sementara itu teman Ani yang juga meronta ronta dibekap dan dipukuli oleh Ujang hingga akhirnya tak sadarkan diri pula. Lantas tubuhnya digendong oleh Asep.
"Beres semuanya boss..", ujar Asep kepada Tomi yang kemudian keluar dari persembunyiannya.
"Good.. good.., ayo lekas kita bawa ke rumah kosong itu", perintah Tomi.

Penghadanganpun berjalan dengan sukses, sasaran telah dilumpuhkan dan kini siap "diproses". Didalam rumah kosong itu tubuh Ani dan temannya dibaringkan disebuah dipan kayu. Kedua tangannya Ani diikat kebelakang.
Setelah lampu diruangan itu dinyalakan, kelima orang yang telah dirasuki nafsu itupun menggunam terkagum-kagum melihat kecantikan dan kemolekan tubuh Ani yang tengah tergolek pingsan. Dia menggunakan kaos lengan panjang serta jeans birunya yang kesemuanya berukuran ketat sehingga kemolekan tubuhnya terlihat jelas. Ternyata Tomi mengenali sosok wanita satunya yang juga ikut dilumpuhkan tadi.
"Ah gue inget ini kan si Dina, temannya Ani.. wah.. wah.. sial sekali nasibnya", ujar Tomi.
Dina memang teman akrab Ani, usianya lebih muda dari Ani yaitu 16 tahun, dan masih duduk dibangku kelas 2 SMU. Dina adalah keponakan dari pemilik kost dimana Ani tinggal.

Dina juga memiliki wajah yang manis, tubuhnya mungil namun padat.
"OK jatah gue si Ani.. ini pengantin gue, yang satunya boleh elo sikat", balas Tomi.
"Ok sekarang elu-elu pada nyingkir deh, silahkan elo bikin pesat sendiri sama si Dina itu, dan jangan ganggu malam pengantin gue, OK!", ujar Tomi kepada teman-temannya.
"Sip boss.. kita bikin pesta sendiri", ujar Asep. Dan menyingkarlah ke-4 teman-teman Tomi sambil membopong Dina.
"Hmm.. sayangku.. mari kita nikmati malam pengantin kita sayang..", bisik Tomi kepada Ani yang tengah pingsan.

Dengan senyum kemenangan Tomi memandangi gadis itu yang tengah tergeletak di sebuah dipan kayu.
"Akhirnya aku dapatkan kau.." ujarnya dalam hati.
Kedua tangannya bergerak meraba Payudara gadis itu. Mulanya pelan-pelan hingga lama kelamaan semakin keras, bahkan kini kedua tangannya dengan ganas meremas-remas payudara Ani yang kalau terlentang terlihat membukit.

Setelah puas meremas-remas payudara Ani, kini Tomi mengeluarkan pisau lipatnya yang memang selalu dibawanya kemana-mana sebagai senjata. Dengan kasarnya kemudian Tomi merobek-robek baju kaos lengan panjang Ani, hingga tinggal BH putihnya saja yang menutupi kedua payudaranya. Namun akhirnya diputuskannya tali BH itu dan dicampakannya BH itu kelantai sehingga kini terlihatlah kedua gundukan indah payudara Ani. Setelah itu serta merta dengan bernafsu dikulumnya dan dijilat-jilatnya kedua payudara itu dengan sesekali digigit-gigitnya kedua puting payudara itu.
Puas dengan bagian payudara kini Tomi melepas celana jeans yang dikenakan Ani, sreett.. sekali tarik terlihatlah bagian bawah dari Ani dengan celana dalamnya yang berwarna putih. Kedua mata Tomi kembali terbelalak melihat pemandangan indah itu, diusap-usapnya kedua paha putih Ani juga gundukan dipangkal pahanya itu.

Sedang asyik asyiknya mengusap-usap gundukan kemaluan Ani, tiba-tiba terdengar suara kegaduhan dari ruang sebelah. Tomipun menghentikan aktifitasnya lalu bangkit seraya berlari mendekati arah suara itu. Sesampainya disuatu ruangan asal muasal suara itu, matanya kembali terbelalak melihat pemandangan erotis yang tengah terjadi diruangan itu. Jantungnya berdetak keras, birahinya memuncak melihat pemandangan diruangan itu. Diruangan itulah Tomi melihat Dina yang rupanya telah sadar tengah "dibantai" oleh Asep, Ujang, Afung dan Cecep.

Tubuh Dina yang dengan posisi merangkak nampak tengah disodomi dari belakang oleh Asep yang memiliki badan yang jauh lebih besar daripada Dina. Asep dengan sangat keras dan kasarnya mengocok-ngocok batang kemaluannya didalam lobang anus Dina. Mula-mula Dina meraung-raung ampun-ampunan karena kesakitan, namun teriakan-teriakannya tidak berlangsung lama karena kemudian dimulut Dina telah tertanam batang kemaluan Ujang. Ujang memposisikan dirinya didepan Dina, setelah berhasil menyumpalkan batang kemaluannya didalam mulut Dina kemudian dengan tangan kirinya yang memegang kepala Dina dia paksa kepala Dina untuk bergerak maju mundur.

Ujang dan Asep nampak sangat menikmati keadaan itu, mereka mendesah-desah merasakan nikmatnya bagin-bagian tubuh Dina itu. Tak berapa lama kemudian merekapun berejakulasi. Asep menyemburkan spermanya didalam lubang anus Dina dan sejenak kemudian Ujang memuntahkan cairan spermanya didalam mulut Dina. Nampak Dina megap-megap dibuatnya di saat harus menelan cairan sperma Ujang yang cukup banyak.

Setelah itu kedua orang tadi menyingkir dan posisinya digantikan oleh Cecep. Cecep ini baru berusia 23 tahun, namun perawakannya besar dan tinggi, batang kemaluannyapun nampak telah mengacung membesar dan siap menelan mangsa. Kini Cecep bersiap-siap menyetubuhi Dina, direntangkannya tubuh Dina yang kepayahan itu dan langsung ditindihnya. "Oouugghh..", Dina melengking disaat kemaluan Cecep yang besar itu melesak kedalam liang vaginanya. Pemandangan ini sudah cukup untuk membangkitkan birahi Tomi diapun berjalan meninggalkan ruangan pembantaian Dina itu dan kembali menghampiri Ani pasangannya.

Tiba-tiba Ani terbangun dan membuka mata. Ani kaget mendapati kedua tangannya terikat dan keadaan tubuhnya hanya tinggal celana dalam. Dan lebih kaget lagi ketika dihadapannya melihat Tomi tertawa terkekeh-kekeh menyaksikan dirinya yang tak berdaya.
"Rasain deh lu, makanya jadi cewek jangan sombong. Jadi terpaksa elu gua kerjain deh?" Tomi berbicara.
"Kepaksa, malam ini elo harus bisa memuaskan gue, kekasih elo" lanjutnya.
Ani semakin takut karena dia tahu apa yang akan terjadi pada dirinya, badannya mulai gentar, mukanya memucat. Air matanya mulai meleleh seiring dengan kata-kata ampunan yang keluar dari bibirnya.
"Pak Tomi.. ampun pak.. jangan sakiti aku..", pintanya sambil terisak-isak. Permohonannya ini nampaknya semakin membuat Tomi terangsang.
Satu persatu dilepaskannya baju dan celananya hingga akhirnya telanjang bulat. Badan Tomi nampak gemuk dengan perut yang membuncit, beberapa gambar tatto nampak menghiasi tubuhnya.

Kemaluannya nampak telah menegang keras, ukuran juga besar dengan ujungnya yang telah basah. Ani semakin merintih-rintih ketakutan, dia pejamkan matanya sambil terus menangis. Dia sadar akan diperkosa. Tomi kemudian bergerak mendekati Ani dan meraih kepala Ani. Belum sempat berteriak, mulut Ani tiba-tiba dijejali dengan batang kemaluannya yang sudah menegang dan membuat gadis itu tersedak.

Ani berusaha terus menutup mulutnya namun setelah jempol dan jari telunjuk Tomi menutup lobang hidung Ani, diapun membuka mulutnya sebagai reaksi karena kekurangan oksigen. Langsung mendapat kesempatan itu dihujamkannya batang kemaluannya kedalam mulut Ani. Dia tak bisa berbuat apa-apa karena Tomi memegang kepala gadis itu. Rasa mual membuat Ani hampir muntah dan berusaha melepaskan kemaluan Tomi di mulutnya. Tomi gerak-gerakkan batang kemluannya di mulut gadis itu, maju-mundur dan diputar-putar didalam rongga mulut Ani. Selama sepuluh menit Tomi menjejali mulut gadis itu dengan batang kemaluannya.

Puas dengan itu kemudian Tomi mengeluarkan kemaluannya dari mulut gadis itu. Ani langsung mencoba berteriak tapi Tomi cepat-cepat membekap mulutnya dan berkata, "Diem lu, jangan berteriak atau gue bunuh kamu?", sambil menempelkan pisau lipatnya. Ani terdiam karena takut ancaman itu. Dan hanya bisa menangis sampai gadis itu kelelahan dan lemas. Setelah sejenak menikmati wajah Ani, kini Tomi menurunkan celana dalam putih Ani dan melemparkannya ke lantai, Anipun hanya bisa pasrah tanpa perlawanan.

"Gile, memek elo bagus banget.. waw indah sekali..?" bisik Tomi kepada Ani.
Memang gadis seusia Ani memiliki kemaluan yang indah, masih perawan, bulu-bulunyapun tipis dan halus-halus tumbuh rapih berjajar disekitar lobang vaginanya.
Kedua tangan Tomi kembali meremas-remas payudara gadis itu. Ani menjerit-jerit ketika Tomi memijat-mijat puting susunya. Kembali Ani berteriak lagi, kembali pula Tomi ancam Ani "Lu bisa diem ngga..!?".
"Sekarang, Lu harus nyobain kontol gue ini..pasti nikmat.?" Tomi berkata.
"Kita jadikan malam ini sebagai malam pengantin kita, hahaha..", sambungnya.
"Jangaan pak.. oouuhh.. jangaan, ..ampuunn pakk..? Ani memelas.
Tapi Tomi tak peduli dengan ucapan gadis itu.
Diapun jongkok didepan Ani, dia angkat pahanya dan melebarkannya. Kepala Tomi menunduk memperhatikan kemaluannya Ani yang ditumbuhi bulu-bulu tipis. Kepalanya bergerak dan mulutnya mulai menjilati kemaluan gadis itu.

Mendapatkan perlakuan itu badan Ani langsung menggeliat-geliat suaranya terengah-engah merasakan kemaluannya kegelian karena dijilati. Hanya suara erangan gadis itu saja yang terdengar, "Ehhmmhh.. engghh.. ouuhh.. oohh.. dst". Sementara mulut Tomi terus menjilati kemaluan Ani, tangannya bergerak ke atas dan memijat-mijat payudara Ani serta mempermainkan puting susu gadis itu.. Ani menggeliat antara sakit, geli dan takut.
Tiba-tiba Ani mengangkat pinggulnya dan mendesah lemah. Rupanya Gadis itu telah orgasme. Dari vagina gadis itu keluar cairan. Ketika melihat bibir vagina gadis itu telah basah, cepat-cepat Tomi mengarahkan kontolnya yang sudah menegang dan mendekatkannya ke bibir vagina gadis itu. Sambil memegang pinggul gadis itu, Tomi melesakkan batang kemaluannya.

Dan.."Aahh.. ssakitt.. oouughh.. a.. ammpunn.. pak.. oouhh..", Ani merintih tajam tubuhnya menegang kaku menahan rasa sakit dipangkal pahanya. Walaupun dengan susah payah akhirnya Tomi berhasil menanamkan batang kemaluannya masuk amblas ke dalam lubang kemaluan Ani. Ani menjerit kesakitan, badannya meregang kesakitan. Sejenak Tomi merasakan kenikmatan hangatnya lobang kemaluan Ani dan merasakan denyut-denyut dinding kemaluan Ani serasa memijat-mijat batang kemaluannya.

Akhirnya Tomipun mulai mengerakkan kemaluannya maju mundur. Tangannya memegang pundak gadis itu sedang mulutnya menciumi bibir dan pipi Gadis itu. Ani mendesah-desah dan mengerang-erang membuat Tomi semakin bergairah dan mempercepat gerakan memaju-mundurkan kemaluannya itu. "Oohh.. oouuffh.. oouuh.. aahh.. dst", Ani mengerang-ngerang. Tubuh keduanya telah dibanjiri oleh peluh seolah-olah mereka sedang mandi.

Puas dengan posisi itu kini Tomi mencabut kemaluannya dan membalikkan tubuh Ani. Dan memposisikan tubuh telanjang gadis itu seperti Anjing. Dari arah belakang kembali Tomi menghujamkan kontolnya yang kini ke dalam liang dubur gadis itu.
"Aaakhh..!!", Ani kembali memekik kesakitan, badannya kembali mengejang keras menahan sakit yang teramat sangat ketika liang anusnya dibobol oleh kemaluan Tomi.

Setelah tertanam, Tomi kembali memompa dengan gerakan yang semakin cepat. Kedua tangan Tomi yang besar semakin kasar meremas-remas susu gadis itu. Ani semakin mengerang-ngerang kesakitan. Tapi Tomi tak peduli. Terus saja Tomi maju mundurkan pinggulnya dengan cepat. Sadar dirinya akan mencapai klimaks, Tomi mencabut batang kemaluannya dari lobang dubur Ani. Setelah itu dihempaskannya tubuh Ani hingga kembali terlentang. Kembali Tomi menancapkan batang kemaluannya didalam liang vagina Ani yang telah dibasahi oleh cairan kewanitaannya yang bercampur darah perawannya.

Bless..batang kemaluan Tomi menghujam masuk tanpa kesulitan, kembali digenjotnya tubuh Ani dengan cepat dan kasar, sampai-sampai dada Tomi menghantam-hantam wajah Ani yang meringis-ringis kesakitan. Kini Tomi menggoyang tubuh Ani dengan hebat hingga tubuh Ani terbanting-banting disodok oleh Tomi. Sampai akhirnya saat yang ditunggu-tunggu oleh Tomi, kini tubuh Tomi mengejang, wajahnya menyeringai menengadah keatas, otot-ototnya mengeras dan akhirnya dia menyemprotkan spermanya di vagina gadis itu, Croott.. crrott.. crrott.. jumlahnya banyak sekali.

"Oogghh.. ahh..", Tomi memekik puas sambil terus menyemprotkan spermanya memenuhi rongga vagina Ani sambil kedua tangannya mencengkram erat pinggul Ani.
Anipun tiba-tiba mendesah panjang.. "oouuhhgg..", sambil menerima tumpahan sperma Tomi yang melimpah ruah itu hingga meluber keluar dari sisi-sisi rongga kemaluannya badannyapun mengejang dan bergetar, sepertinya diapun mengalami ejakulasi sesuatu yang baru dialaminya seumur hidup.

Beberapa detik kemudian setelah sama-sama mengalami orgasme tubuh kedua insan itupun melemas, tubuh Tomi jatuh menindih tubuh Ani. Kini hanya suara nafas kedua insan itu yang saling memburu menghiasi akhir dari pergumulan itu. Setelah diam selama 15 menit, Tomi kemudian bangkit dari atas tubuh Ani serta melepaskan kontolnya, "Ooohh..", Ani mendesah panjang disaat Tomi mencabut batang kemaluannya yang beberapa menit lamanya mengisi rongga kemaluannya.
"Sayang.. gimana rasanya? enak kan?", tanya Tomi kepada Ani.

Anipun diam seribu bahasa dan memalingkan wajahnya dari pandangan Tomi.
"Ayo sini sayang ada lagi tugas buat kamu..", ujar Tomi serta meraih dan mengangkat kepala gadis itu untuk kemudian memaksa Ani menjilati batang kemaluan Tomi yang masih basah oleh sperma dan darah.
Anehnya Ani hanya pasrah dan menuruti saja perintah Tomi tadi secara perlahan-lahan diraihnya betang kemaluan Tomi yang kembali menegang itu dan kemudian dijilat-jilat serta dikulumnya batang kemaluan Tomi bak makan permen sampai bersih.

Setelah selesai dan merasa puas, Tomi bangkit dan membiarkan tubuh Ani yang telanjang itu terjatuh lemas. Tomi bergerak mendekati Ani yang masih lemah dan membisikkan kata-kata mesra di telinganya
" Kamu hebat sayang.. aku cinta sama kamu".
Karena dilihat Ani terkulai lemas dan sepertinya tertidur karena kecapaian, maka Tomi memutuskan untuk meninggalkannya dulu. Tomi ingin melihat kegiatan di ruangan lain dimana tadi terjadi pembantaian itu.

Sesampainya dirungan yang ditujunya mata Tomi terbelalak ketika melihat pemandangan yang ada diruangan itu. Teman-temannya nampak tidur tiduran sambil melepas lelah setelah membantai Dina yang tubuh telanjang Dina nampak tergeletak dengan posisi telentang dilantai, kedua kakinya mengangkang lebar dengan lutut tertekuk. Setelah diamati dari dekat oleh Tomi ternyata kondisi Dina sangat mengenaskan dia telah diperkosa secara buat oleh teman-temannya, mulutnya dipenuhi oleh cairan sperma yang mengental sampai meluber disekitar mulut dan pipinya. Rupanya oleh teman-temannya Tomi Dina dipaksa melakukan oral sex dan mereka telah menumpahkan spermanya didalam mulut Dina.

Matanya nampak sayu serta nafasnya terdengar pelan terengah-engah. Kuturunkan tatapan mataku keseputar payudaranya yang berukuran tidak begitu besar, disitu terdapat banyak bekas-bekas gigitan dan salah satu putingnya nampak berdarah, disitu juga terdapat tumpahan sperma yang telah mengering. Dan akhirnya kutatap kemaluan gadis itu, kondisinya rusak parah, kemaluannya sudah memerah dan membengkak, banyak ceceran darah dan sperma didaerah itu. Tomi menggeleng-gelangkan kepalanya melihat kondisi Dina.

Tiba-tiba Asep bangkit dia menyalakan rokoknya dan kemudian menyelipkannya dibibir kemaluan Dina.
Tomi dan Aseppun tertawa terbahak-bahak, "Kasihan dia sudah bekerja keras memuasin kita-kita orang ini, aku kasih dia rokoklah", ujar Asep.
"Eh sebentar gwe mau kencing dulu", ujar Asep berjalan meninggalkan ruangan pembantaian Dina sambil mengakhiri tawanya.

Diruangan itu pula Tomi bergerak kearah tumpukan pakaian Dina yang berserakan dilantai, dia rupanya tertarik dengan tas punggung Dina. Dengan rasa penasaran dia buka-buka isi tas Dina, membaca buku hariannya, membuka-buka dompet Dina, memerika ponsel milik Dina, kurang lebih 5 menit lamanya dia buka-buka itu semua. Sedang asyik-asyiknya dia membuka-buka buku Dina, tiba-tiba dia dikejutkan dengan teriakan diruangan samping. Serta merta dia berlari menuju kearah situ.

Kembali mata Tomi terbelalak serta menggeleng-gelengkan kepalanya tatkala melihat Asep ternyata tengah asyik menyetubuhi Ani.
"Sss.. sorry.. b.. boss.. gwe kagak tahan.. lihat cewek cantik ini..", ujar Asep sambil terus memompakan kemaluannya didalam kemaluan Ani.
"Oouuhh.. aahh.. jj.. jangann.. kasar.. kassarr.. oohh.. oohh..", Ani kembali merintih-rintih sambil tubuhnya terhempas-hempas sebagai akibat sodokan-sodokan keras Asep.

"D.. diem.. luh.. rasain.. aja.. kontol gue.. inii.. aakkhh.. akhh.. fuck! ohh.. fuck..!!", ujar Asep sambil terus menggenjot tubuh Ani.
"Akhh.. oouhh.. oh.. a.. ampunn.. oohh..", Ani merintih-rintih dengan tubuh yang terhempas-hempas wajahnya meringis menahan rasa ngilu diselangkangannya.
Sepuluh menit lamanya tubuh Ani disetubuhi oleh Asep, hingga akhirnya Asep memuntahkan spermanya di lubang kemaluan Ani.

Asep terlihat sangat puas sekali dan diapun kemudian menjatuhkan dirinya disisi Ani yang kembali tubuhnya melemas. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam saat mereka tersadar akan waktu yang semakin mepet, tidak terasa sekian lamanya mereka mengerjain kedua gadis itu serasa waktu berlalu cepat.

Tiba-tiba birahi Tomi bangkit kembali, didekatinya kembali tubuh Ani yang tertidur kerena kecapaian itu dan dibangunkannya Ani dari tidurnya.
"Hoeii bangunn..", bentak Tomi kepada Ani.
"Oohh..", Anipun terbangun.
"Sayangku.. layanin aku lagi ya..", bisik Tomi dengan tersenyum.
"Pedangku udah bangkit lagi nih..gara-gara kamu sih yang menggairahkan sekali..", lanjutnya.
Mimik wajah Anipun berubah menjadi cemas, matanya mulai berkaca-kaca.

"Pak.. Tomi.. Ani udah engga kuat pak.. rasanya sakitt.. sekali.. jangann.. pak.. tolong..", ujar Ani dengan suara yang lirih.
"Peduli setan ", balas Tomi seraya memposisikan dirinya diatas tubuh Ani.
"oohh.. oohh..", Ani mendesah panjang tatkala Tomi menanamkan kembali kemaluannya didalam lobang kemaluannya. Kembali tubuh Ani digenjot, disetubuhi secara kasar oleh Tomi.

Ani hanya bisa pasrah, air matanya berlinangan, tubuhnya lemah hanya mengikuti irama gerakan dari Tomi yang tengah menyodok-nyodokkan kemaluannya.
Dan setelah beberapa menit lamanya Tomi kembali berejakulasi dilobang kemaluan Ani cairan hangatnya menyembur membasahi rahim Ani.
Rasa puas nampak di raut wajah Tomi, "Hahaha..akhirnya aku berhasil mendapatkanmu gadis cantik".
"Gue mau tanya ke elu yang terakhir kalinya, mau engga elu jadi istri gue hah?"

Ani hanya diam membisu sambil menangis.
"Kalo elu engga mau, gue suruh temen-temen gue perkosa elu sampai mati!", ancam Tomi.
"Inget memek elu udah gue siram ama peju gue, dan sebentar lagi elu hamil", ujar Tomi.
Kurang lebih setengah jam lamanya Tomi "merayu" Ani, kadang terdengar bentakan-bentakan, kadang Tomi menampar wajah Ani, kadang dengan kata-kata halus, yang jelas Tomi terus meneror hati Ani.

Rupanya bujuk rayu dari Tomi tak membuahkan hasil sementara waktu sudah menunjukkan pukul 2 dinihari.
Akhirnya Tomi mempersilahkan teman-temannya untuk "mencicipi" tubuh Ani.
"Rasain tuh kontol-kontolnya temen-temen gue biar mampus elu, cewek sombong!", ujar Tomi dengan mencibir.
Tanpa membuang waktu lagi keempat teman Tomi mulai menjamah tubuh Ani.

Mereka mulai memperlakukan Ani seperti Dina. Mulai dengan Afung yang langsung menyodomi Ani setelah itu vagina Ani kembali dihajar oleh kemaluan milik Ujang, juga mulut Ani dipaksa mengulum batang kemaluannya Cecep dan setelah berejakulasi menelan spermanya, terakhir ketika Ani telah kepayahan Asep kembali menyetubuhi Ani. Kini keadaan Ani tidak jauh beda dengan Dina, seluruh wajah badan dan kemaluannya yang telah membengkak penuh dengan cairan sperma.

Kini waktu telah menunjukkan pukul 4 pagi, seluruh pemerkosa tadi telah berpakaian lengkap dan rapi. Sebelum mereka pergi, mereka menggotong tubuh Ani untuk disatukan dengan Dina. Kedua tubuh yang tak berdaya itu kini tergolek lemah, keduanya diposisikan terlentang sejajar dengan kondisi tubuh mereka yang telanjang bulat. Sebelum pergi Tomi mengecup kening Ani dan Asep kembali menyelipkan sebatang rokok yang menyala dikemaluan Ani juga Dina. Dengan diiringi tawa serta canda kelima pemerkosa itu pergi meninggalkan rumah kosong tempat dimana tubuh Ani dan Dina tergolek pingsan..

TAMAT

Birahi Jalang

Kerja Usaha
Beberapa tahun yang lalu aku bertemu dengan calon suamiku, seorang dokter muda yang sedang naik daun. Ketika ia mulai mengunjungi rumahku dan rupanya mulai menunjukkan minatnya terhadapku, kedua orang tuaku menunjukkan rasa senangnya. Maklumlah siapa yang tidak mau punya menantu seorang dokter. Apalagi Mas Heru adalah dokter yang sedang mulai naik daun di kota kediamanku.

Dibandingkan pacar-pacarku dulu, di antaranya ada yang pegawai bank, dosen dan pengusaha, kedua orang tuaku paling bersikap mendukung terhadap dokter muda ini. Apalagi kelihatannya Mas Heru cukup serius, dalam arti bukan hanya sekedar ingin berkawan. Sebagai anak yang ingin berbakti terhadap orang-tua tentunya aku harus mau mengikuti apa yang mereka anggap baik untuk kehidupan dan masa depanku.

Walaupun sebetulnya aku tidak terlalu tertarik kepada Mas Heru. Untukku dia orangnya terlalu serius, dan selalu berbicara tentang pekerjaannya. Seolah-olah tidak ada hal lain dalam kehidupan ini yang menarik hatinya. Sudah kubayangkan bagaimana akan membosankannya kehidupanku sebagai istrinya. Apalagi sebetulnya aku termasuk orang yang popular sebagai kembang sekolahku. Rasanya kalaupun mau mencari suami seorang dokter kalau bisa jangan yang seperti Mas Heru. Tapi apa boleh buat, ternyata tidak selamanya manusia dapat bebas memegang kendali hidupnya.

Ketika Mas Heru datang di dampingi kedua orang tuanya, lalu ayahku menanyakan kesediaanku untuk dilamar Mas Heru, pada waktu itu rasanya tidak ada jalan lain kecuali menerimanya. Pesta pernikahanku memang cukup meriah, terutama untuk ukuran kota kecilku. Tidak lama setelah itu Mas Heru, yang telah dipindah-tugaskan ke kota Bandung, memboyongku ke tempat kediamanku yang baru.

Benar saja ternyata tepat apa seperti apa yang telah kuperkirakan. Di kota Bandung aku kesepian dan segera merasa jenuh. Teman-temanku belum banyak, sedangkan Mas Heru terlalu larut dalam tugas-tugasnya. Nikmatnya kehidupan perkawinan, seperti yang pernah digambarkan kakak-kakakku, ternyata tidak kualami. Bukan hanya secara sosial lingkungan Mas Heru terasa begitu membosankan, kehidupan seksualku dengannya juga terasa hambar. Hampir saja aku menelepon mantan pacarku, seorang pegawai bank yang kebetulan juga dipindah ke kota Bandung. Walaupun dengannya dulu aku tidak pernah sampai berani berhubunagan seks, tapi sebatas hubungan oral yang pernah kami lakukan rasanya jauh lebih hebat daripada yang kualami sekarang. Tapi untunglah aku sanggup menahan diri. Rasanya kemana gengsi dan martabatku kalau harus mencari-carinya, padahal dulu lamarannya ditolak orang-tuaku

Penjaga Kantor
Dalam keadaan hampir tidak tahan lagi, seorang wakil perusahaan farmasi, yang kebetulan menjadi relasi suamiku, datang mengunjungiku. Dimintanya kesediaanku untuk menjadi agen penyalur obat-obatan produksi perusahaannya. Katanya menurut pengamatannya, aku orangnya supel, lincah dan cantik, bahkan kelihatannya mempunyai bakat untuk meyakinkan orang lain dengan mudah. Sangat berbeda, katanya lagi, dibandingkan dengan suamiku. Dengan training dan dukungan teknis perusahaannya, aku akan mampu mengembangkan usaha sebagai penyalur obat-obatan.

Karena tertarik kuminta ijin suamiku. Pada mulanya ia nampak keberatan, karena takut ada konflik kepentingan dengan profesinya sebagai dokter. Tetapi setelah kurayu terus-menerus akhirnya Mas Heru setuju juga. Katanya aku boleh mencoba usaha baru ini, dengan syarat tidak memasarkan obat-obatan yang kuageni di kota Bandung. Berarti dengan demikian aku harus mau melakukan kegiatan-kegiatan marketing ku di kota-kota lainnya, walaupun masih di sekitar Bandung juga.

Setelah membuat kalkulasi yang cukup mendalam, aku putuskan untuk mulai melangkah. Kusewa sebuah ruko agak besar di Jalan Soekarno-Hatta, supaya dapat dijadikan kantor sekaligus gudang. Dengan bantuan relasi pabrik obat yang kuageni aku mulai menata usahaku. Terpaksa aku sendiri yang harus melakukan perjalanan-perjalan untuk pemasaran, malah kadang-kadang sampai berhari-hari.

Tanpa diduga hanya dalam tempo enam bulan kegiatanku sudah menampakkan tanda-tanda keberhasilannya. Dengan keadaan yang semakin berkembang bertambah pula karyawanku, termasuk untuk bidang pemasarannya. Tapi beberapa pelanggan yang telah kubina sejak awal, termasuk di antaranya beberapa rumah sakit dan apotik ternama, tetap kutangani sendiri. Karena itulah walaupun usahaku kelak semakin maju, aku sendiri tetap melakukan perjalanan-perjalanan yang cukup melelahkan, dalam rangka memelihara hubungan dengan pelanggan-pelanggan lamaku.

Di kantorku pegawai yang paling tua bernama Pak Solichin, dan sebagai penghargaan sering kupanggil mang Ihin. Barangkali karena dia sendiri merasa akrab denganku dipanggilnya aku Neng Yasmin, atau kadang-kadang Neng Mimien. Tanpa kuduga ternyata sebutan untukku ini akhirnya menjadi populer di antara karyawan-karyawanku. Mereka resminya tetap menyebutku Bu Yasmin atau Bu Heru, tapi tidak jarang juga Neng Mien atau Neng Mimien. Karena aku masih muda, dengan usia yang tidak terlalu jauh berbeda dari pegawai-pegawaiku, kubiarkan saja mereka menggunakan sebutan akrab ini.

Di antara karyawanku ada seorang pemuda bernama Adli. Ia masih muda, tetapi sudah berkeluarga dengan satu orang anak. Orangnya hitam manis, gagah dan tampan, tetapi lugu sekali. Kelihatannya pendidikannya tidak terlalu tinggi. Barangkali malah tidak sampai tamat SD atau SMP. Walaupun demikian kesetiaannya sangat bisa diandalkan, bahkan caranya membela apa yang dianggapnya sebagai kepentinganku sangat fanatik. Dia mulai bekerja di tempatku sebagai penjaga malam, alias satpam, dan ternyata sangat baik menjalankan tugasnya. Karena dia juga pandai ilmu-ilmu bela diri, seperti silat dan sebagainya, beberapa stafku mengusulkan supaya dia menjadi pengawalku. Khususnya dalam perjalanan-perjalananku keluar kota. Apalagi akhir-akhir ini keadaan di wilayah sekitar Bandung dirasa kurang aman.

Jadi mulailah Adli ikut mendampingiku keluar kota. Ternyata pengaturan ini sangat memuaskanku, karena orangnya lucu dan jenaka. Sering-kali aku merasa terhibur dengan lelucon-lelucon ataupun gayanya yang kocak. Di samping itu ada lagi kelebihannya, sebagai seorang jago silat Adli juga pandai mengurut dan memijat. Maka bukan sekali dua-kali aku sempat memanfaatkan kebolehannya ini.

Pada suatu hari aku harus melakukan kunjungan ke kota-kota Sumedang, Kuningan dan Cirebon. Endah, seorang tenaga pemasaran yang biasa mendampingiku, kali ini tidak bisa ikut bersamaku. Kebetulan orang-tuanya jatuh sakit. Karena Mas Heru tidak keberatan pergilah aku dengan supirku, tentunya di kawal juga oleh Adli. Aku meninggalkan kota Bandung dengan perasaan enteng saja. Tidak terbayang bahwa nantinya akan terjadi sesuatu yang akan membawa pengaruh yang besar dalam kehidupanku.

Tidur Bersama
Semua urusanku di Sumedang berjalan lancar, bahkan mungkin lebih banyak waktu yang kugunakan ngobrol dengan langganan-langgananku daripada betul-betul menangani masalah bisnisnya. Seusai untuk malam pertama ini kami menginap di Sumedang. Kupilih kamar yang baik dan bersih untukku, lalu aku mandi menyegarkan diriku. Ketika mencoba untuk tidur ternyata aku tidak merasa mengantuk sama-sekali. Sulit sekali bagiku untuk memicingkan mataku. Akhirnya daripada kesal sendirian kusuruh Adli datang ke kamarku. Akan kuminta dia memijatku, sambil aku nanti mendengarkan cerita-ceritanya yang jenaka.
"Ada apa neng?" tanya Adli sambil memasuki kamarku.

Kuminta Adli memijat punggungku. Sebagai karyawan yang setia ia mau saja. Setelah beberapa saat kuminta ia menduduki pantatku, maksudnya supaya tekanan pijatannya lebih terasa. Santai saja kubiarkan ia mengurut dan memijati punggungku yang agak terbuka, karena jenis daster yang kukenakan memang seperti itu.
"Neng, panas yah! Saya sampai keringetan!"
Dengan lugunya Adli mengeluh kepadaku. Santai saja kutanggapi kata-katanya,
"Ya buka aja kaosnya!"
Setengah geli dan juga kesal aku melihat dia langsung membuka kaosnya dengan tanpa ragu sedikitpun. Lalu kembali dia memijati punggungku. Tidak berapa lama kemudian terdengar Adli berbicara lagi,
"Neng.. Neng Mimien, maaf ya Neng, kalau ada yang mengganggu."
Polos betul anak muda ini. Begitu sopan dan lugu, tapi juga gagah pembawaannya.

Memang aku sendiri merasakan ada yang sesuatu mengganjal di atas pantatku.
"Kenapa sih memangnya?"
Tanyaku dengan maksud mau mengganggunya. Jawabannya yang polos membuatku geli, tapi juga terangsang. Dengan sangat lugu dia menerangkan,
"Iya Neng, sudah seminggu belum kesampean.. eh.. gituan."
Kutanya lagi, "Kok bisa?"
"Iya habis kan sudah tiga hari ini sibuk di kantor, habis itu diminta nganterin Neng keliling." Lalu sambungnya lagi,
"Padahal sebelum berangkat istri saya lagi.. itu tuh Neng.. datang bulan."
Karena kepingin tahu kutanya terus,
"Jadi gimana dong?"
Keluguan dan kepolosannya semakin terlihat sewaktu dia menjawab.
"Yah pusing saja.. Apalagi ngeliat punggung Neng Mimien kenceng begini, kayak istri saya saja.., bedanya neng lebih putih aja."
Agak menahan tawa kuanjurkan padanya,
"Yah kalau pusing dilepas aja pakai tangan di kamar mandi sana."
Usulanku ini ternyata ditanggapi dengan serius oleh Adli.
"Iya yah Neng, bener juga, kalau gitu ditinggal sebentar ya Neng."
Adli berdiri lalu melangkah kearah kamar mandi. Seakan-akan tanpa beban apapun ditinggalnya aku sendiri begitu saja. Masih terlihat olehku tubuhnya yang ramping, kekar dan berotot itu. Tanpa sadar kutelan ludah. Rasanya ada sesuatu yang mengganjal di kerongkonganku.

Karena bosan dan juga ingin tahu, kalaupun belum karena dorongan gairah, kususul Adli ke kamar mandi. Karena tidak terkunci pelan-pelan kubuka pintunya dan akupun masuk dengan rasa penasaran. Adli tidak menyadari kehadiranku di dekatnya. Terlihat dia sedang berdiri menyandar pada bak mandi. Tubuhnya dalam keadaan telanjang, karena tadi baju kaosnya sudah kusuruh lepas waktu sedang memijatiku. Walaupun kulitnya agak gelap, secara keseluruhan dia terlihat gagah. Celana pendeknya masih menggantung di pahanya, karena rupanya hanya dilorot sebagian.

Terlihat matanya terpejam menikmati apa yang sedang dilakukannya. Dari gerakan pada lengannya kutahu dia sedang mengocok barang kepunyaannya. Segera kutujukan mataku ke arah selangkangannya. Apa yang kulihat saat itu membuatku kagum, dan juga nafasku sesak tersengal. Tangan Adli sedang menggenggam alat kejantanannya, yang kelihatan besar dan panjang sekali. Sangat berbeda dengan kepunyaan Mas Heru yang ukurannya sedang-sedang saja. Ujung kepala kemaluannya bulat, keras dan mengkilat. Seperti orangnya warnanya juga cokelat tua agak kehitam-hitaman.

Adli masih terus mengocok-ngocok barang kepunyaannya yang mengagumkan itu. Karena matanya terpejam dia tidak menyadari bahwa aku telah semakin dekat dengannya. Aku juga terbawa untuk memejamkan mataku. Terbayangkan olehku hal yang tidak-tidak yang juga membuatku terangsang. Kurasa sesuatu yang menggelegak dalam diriku. Sekali lagi aku sampai menelan ludah. Lalu kuberanikan diriku dan menyapanya,
"Adli! Besar amat sih itu-nya?"
Adli terlihat sangat terkejut. Tersipu-sipu ia berkata,
"Aduh Neng, kok ada di sini.. Aduh maaf Neng!"
Segera kutenangkan dia, "Nggak apa-apa, nggak apa-apa kok."
Lalu sambil mengulurkan tanganku ke arah tonggak kejantanan Adli aku berkata,
"Coba lihat dong! Ukurannya kok sampai sebesar ini sih?"

Karena sudah terangsang tanpa dimintanya kujilati juga tonggak kejantanan yang perkasa itu. Kesan lengket yang tadinya ada sekarang sudah hilang, tersapu oleh jilatan lidahku. Sementara aku sedang menikmati kejantanan Adli kudengar dia bertanya,
"Neng seneng ya sama ITU-nya Adli."
Kujawab singkat, "Iya dong, seneng sekali."
Rasa penasaran rupanya mendorongnya bertanya lagi,
"Kalau sama yang dulu-dulu."
Pertanyaannya membuat gairahku semakin bergejolak. Tapi kucoba juga untuk menjawabnya,
"Senengan yang ini."
Merasa belum puas dikejarnya terus jawabanku,
"Kenapa?"
Dengan nafas tersengal-sengal kujawab dia,
"Ini yang paling hebat, paling besar, paling kuat.. pokoknya.. paling jagonlah."
Adli tersenyum bangga. Lalu pelan-pelan didorongnya daguku hingga menjauh dari batang kemaluannya.
"Iya deh, sekarang Adli mau mandi dulu ya,' katanya meminta diri.
Sejenak aku merasa seperti ditinggal pergi dengan sengaja, bahkan ditolak, atau malah dipermainkan. Rasanya hatiku tidak rela melepas Adli pergi, biarpun hanya untuk ke kamar mandi.

Malu-malu dia berusaha menghindar, tapi terpegang juga olehku barang kepunyaannya. Lucunya setelah terpegang dia tidak terus berontak, malah dibiarkannya aku mengusap-usap alat kejantanannya itu. Setelah aku usap-usap Adli terlihat sudah mulai mampu menguasai diri lagi. Malah rupanya keberaniannya timbul kembali. Dengan gaya lugunya dia bertanya,
"Emangnya besar ya Neng punya Adli?"
Aku mengangguk mengiyakan. Hampir tertawa aku ketika Adli menanyakan,
"Tapi istri saya kok nggak pernah bilang apa-apa yah?"
Kujawab saja sekenanya,
"Wah dia nggak ngerti suaminya punya barang hebat.. Eh ngomong-ngomong mau diterusin nggak?" Dengan manis dan lugu Adli mengangguk,
"Kalau nggak diterusin entar pusing Neng."
Tidak mampu menahan diri lagi langsung kutawarkan padanya,
"Mau saya bantuin nggak?"
Terlongo Adli memandangku dan bertanya,
"Emangnya Eneng mau?"
Sambil tersenyum genit aku berkata kepadanya,
"Kalau untuk kamu mau dong.. tapi jangan di sini ya, di kamar aja yuk!"

Kutarik tangan Adli dan menuntunnya kembali ke kamar tidur. Kuarahkan supaya ia duduk membujur di atas ranjang, lalu aku menelungkup di hadapannya. Kedua tanganku mulai mengusap-usap batang kejantanan Adli. Ukurannya memang luar biasa. Tadi dalam keadaan Adli berdiri, kalau batangnya ditegakkan sepertinya panjangnya sampai ke pusarnya. Sekarang dalam keadaan dia duduk panjangnya jelas meliwati pusarnya itu.
"Aduh Neng, geli banget!" Erang Adli.
Kedua lengannya mengencang menyangga tubuhnya, sampai terlihat otot-ototnya menonjol gagah. "Adli! Adli! Besar amat ya kepunyaan kamu ini, katanya orang Arab yang itunya gede-gede begini," demikian aku membuatnya bertambah semangat.
Ternyata Adli mengiyakan sinyalemen ini dengan menerangkan,
"Iya Neng, kakek saya dari pihak ibu memang keturunan Arab."
Pantaslah kalau begitu. Beberapa saat hening tanpa ada suara, sementara aku terus mengocok-ngocok lembut barang kepunyaan Adli.

Sampai akhirnya terdengar lagi Adli bertanya,
"Neng, katanya kalau orang bule seneng ngemutin pake mulut yah Neng?"
Pertanyaan ini kurasa semakin menjurus dan membuatku terusik oleh keinginan terpendam yang ada di hatiku. Dengan singkat kujelaskan padanya,
"Ah bukan orang bule aja, orang Indonesia juga ada."
Setelah terdiam sejenak pertanyaan berikutnya membuat gairahku semakin tergugah.
"Kalau Neng Mimien gimana?"
Walau dengan nada ragu-ragu berani juga dia menanyakannya. Akupun mengaku terus terang,
"Yah saya sih dari dulu juga suka."
Sejenak lagi Adli terdiam lalu terang-terangan bertanya,
"Sama punya Adli mau nggak Neng?"
Aku melepas nafas lega, rupanya akan terjadi juga hal tidak-tidak yang dari tadi terbayang olehku.

Tapi aku tidak mau terburu-buru, aku masih ingin mempermainkannya dulu. Dengan mimik serius kujelaskan padanya,
"Wah kalau itu sih harus dilamar dulu!"
Rupanya tertarik Adli bertanya mengejar,
"Maksudnya dilamar gimana Neng?"
Masih tetap serius kupertegas lebih jauh lagi,
"Ya ngelamar anak orang kan biasanya ada syaratnya."
Wajah Adli terlihat agak kecewa,
"Yah kalau pake Mas kawin mah Adli nggak punya."
Tidak ingin terlalu lama berjual mahal langsung kujelaskan padanya,
"Maksudnya bukan begitu, syarat sebagai laki-laki ya ITU-nya bisa bangun, besar, panjang, keras sama kuat."
Kembali Adli nampak bersemangat,
"Oh kalau itu sih Adli mampu.. Bersedia nggak Neng dilamar Adli?"
Aku membisikkan kesediaanku. Lalu Adli berkata dengan penuh keseriusan,
"Neng, bersama ini Adli nyatakan bahwa Adli ngelamar Neng Mimien alias Neng Yasmin dan mampu memenuhi syarat yang diminta tadi.."
Kujawab kata-katanya itu, "Dengan ikhlas saya bersedia menerima lamarannya Adli dan berjanji untuk memuaskan kemauannya."
Walaupun aku sebetulnya bercanda, tetapi semua kulakukan dengan penuh keseriusan. Begitu pula Adli menanggapinya dengan cara yang serius juga.

Sambil tersenyum lega Adli bertanya,
"Terus gimana Neng?"
Aku juga tersenyum dan menjawab, "Terus saya cium."
Dengan bersemangat Adli memyambutnya,
"Aduh mau Neng, ayo dong!"
Pada saat bibirku mendarat di atas kepala kemaluannya dan mengecupnya Adli mendesah,
"Aduh geli Neng, enak."
Apalagi waktu mulai kujilat-jilat dengan lidahku, ia betul-betul merasakan nikmatnya. Tubuhnya mengejang keras.
"Aduh Neng geli sekali."
Begitu kumasukkan ujung kemaluannya yang seperti topi baja itu ke mulutku, lalu mulai aku kulum, Adli mengerang panjang. Karena keenakan dia sampai menekan kepalaku ke bawah. Dipenuhi oleh kejantanan lelaki yang sebesar itu aku sampai sulit bernafas. Untung aku sudah cukup berpengalaman dalam hal seks oral, sehingga dengan mudah aku bisa menyesuaikan gerakan bibir, lidah dan mulutku.

Ketika ujung tongkat kejantanannya menyentuh langit-langit mulutku, aku merasakan lonjakan gairah yang membawa nikmat. Sayang sementara sedang menikmati itu semua, masih kudengar juga Adli bertanya lagi.
"Neng hanya ini aja apa boleh lebih Neng?"
Terpaksa aku menjawab dulu, supaya jangan terjadi hal-hal yang tidak kuinginkan. Kuusahakan supaya Adli bisa menerima keteranganku dengan baik.
"Sebatas ini aja ya, soalnya baik Adli maupun saya kan udah berkeluarga.. Lagi pula kalau meliwati batas ini kita kan jadinya melanggar perintah agama.. Iya kan Adli?"
Tersenyum puas Adli memandangku,
"Iya juga ya Neng, sampai sekarang Adli belom pernah melanggar perintah agama.. Terima kasih ya Neng, begini aja Adli udah puas sekali kok."
Manis sekali anak ini, akupun jadi semakin menyukainya. Langsung kuperhebat emutanku, sampai aku sendiri semakin terangsang. Sewaktu aku sudah mulai hanyut, ternyata masih juga kudengar permintaan Adli.
"Neng..," panggilnya, "Neng Mimien."
Agak kesal aku menjawabnya, "Iya kenapa? Ada apa?"
Rupanya Adli tidak tahu bahwa aku merasa kesal. Terbukti dia masih memintaku,
"Neng, sambil diemutin, dijilatin juga Neng, enak kan kalau sembari dijilatin.."

Kupenuhi permintaannya, walaupun aku merasa agak jengkel. Berani betul anak muda ini menyuruh-nyuruh aku. Untung suasana batinku tidak sampai terganggu, sehingga aku dapat mencapai orgasmeku. Karena sudah terangsang dari tadi, terutama setelah mulai mengemut alat kejantanan Adli, beberapa usapan saja sudah cukup untuk membawaku ke puncak rasa jasmaniku. Aku mengaduh, merintih dan mengerang sambil terus menjilati barang kepunyaan Adli. Laki-laki itu sampai melihati aku dengan pandangan agak heran. Tapi tidak kuperdulikan lagi dirinya. Terus aku emuti daging keras Adli di mulutku, sampai gelora rasaku mereda.

Setelah itu yang aku sadar adalah betapa pegalnya rahang mulutku, karena dari tadi mengemuti kepunyaan Adli dengan tanpa henti. Sedikit-sedikit mulai ada rasa jengkel juga karena daya tahan kejantanan lelaki itu kuat sekali. Hampir aku sentak dia ketika sekali lagi kudengar suaranya berbicara kepadaku.
"Neng..," katanya, "Neng."
"Aduh Adli, ada apa lagi sih?"
Tapi untung dia tidak menangkap kekesalanku, karena kudengar dia berkata,
"Saya hampir keluar Neng."
Rasa gairah semakin merangsang diriku, semakin keras juga aku mengemut dan mengisap alat kemaluan Adli. Hingga akhirnya seluruh tubuh Adli mengejang keras, begitu juga batang kejantanannya di mulutku.
"Ah.. ah.. Neng.. Neng Mimien.. ah.. Aduh Neng.." Adli mengerang keras dan panjang. Rupanya dia sedang mengalami puncak kenikmatannya di mulutku. Semburan demi semburan air mani Adli memasuki rongga mulutku. Banyak sekali, kental, dan asin rasanya. Supaya tidak terselak kutelan sebisa-bisanya. Tapi setelah aku tidak tahan lagi, kubiarkan sebagian tertumpah dari mulutku dan terjatuh ke perut Adli.

Beberapa saat kemudian keadaan mulai mereda. Kudengar suara nafas Adli lembut. Alat kejantanannya yang masih berada dalam genggamanku ternyata masih keras juga.
"Adli," kupanggil dia.
Sambil mengusap-usap bahuku ia menjawab,
"Neng?"
Kujelaskan padanya, "Punya lelaki yang seperti begini yang jadi idaman wanita."
Seperti biasa dalam kepolosannya dia tidak langsung mengerti,
"Kenapa Neng?"
Karena sudah puas aku tidak kesal lagi dengan keluguannya,
"Soalnya biarpun sudah lepas muatannya masih tetap keras."
Sebelum dia sempat bertanya lebih jauh lagi kuminta ia membujurkan dirinya di ranjang. Lalu kuambil handuk yang sudah kubasahi dengan air panas dan kubersihkan seluruh tubuhnya. Sebelum tertidur Adli sempat memandangku mesra. Katanya lirih,
"Neng Mimien, Terima kasih ya Neng!"
Akupun tidur di ranjang satunya. Pemandangan tubuh telanjang Adli, yang sebagiannya telah terbungkus selimut, mengantarku ke dunia mimpi.

Ranjang Asmara
Perjalanan di hari berikutnya berlangsung cukup lama. Bukan karena jarak yang ditempuh jauh sekali, tapi lebih disebabkan oleh kemacetan yang luar biasa. Sebuah truk trailer rupanya mengalami selip dan terbuang melintang menutupi sebagian jalan antar kota yang kami liwati. Setibanya di kota tujuan berikutnya, yaitu Kuningan, langsung kuperintahkan mencari restoran untuk makan malam. Sayangnya setelah itu tidak langsung dapat menemukan hotel ataupun losmen dengan kamar yang masih kosong. Akhirnya terpaksa mencari kamar agak keluar kota, yaitu di kawasan pariwisata yang berada di daerah pegunungan.

Baru menjelang tengah malam kami menemukan sebuah losmen kecil di mana masih tersedia kamar yang kosong. Untungnya pada setiap kamar di losmen ini dilengkapi pula dengan kamar mandi. Ketika aku memesan kamar, kulihat wajah Adli menatap dengan pandangan penuh harap. Begitu ganteng, tetapi polos dan lugu sekali. Kupesan satu kamar untuk dia dan Pak Soleh, supir kantorku. Aku sendiri minta kamar dengan tempat ranjang double-bed. Berbeda dengan semalam sebelumnya, kali ini aku tidak begitu tergerak untuk mengajak Adli ke kamarku. Barangkali karena hasratku sudah terpuaskan tadi malam, lagi pula perjalanan hari ini benar-benar membuatku sangat letih.

Segera aku mandi dan membaringkan diriku di ranjang empuk yang tersedia. Lama kelamaan baru terasa malam ini sepi sekali. Agak menyesal juga tadi tidak mengajak Adli bersamaku. Tapi kalau mencarinya sekarang rasanya gengsi juga. Sewaktu aku hampir tertidur kudengar bunyi ketukan di pintu, lalu suara seorang laki-laki.
"Neng, Neng Mimien, sudah tidur belum..? Neng bukain pintunya dulu Neng."
Karena ketukan pintunya begitu gencar akhirnya kubukakan pintu untuk Adli. Ia segera masuk ke dalam ruangan, sedangkan aku yang tadi tidur dengan busana yang sangat minim segera kembali ke bawah selimut. Kutanya kepadanya,
"Kenapa Adli, ada apa?"
"Adli nggak bisa tidur Neng, boleh nggak Adli di sini? Nggak usah sampe pagi sih."
Dengan hati-hati kujawab, "Boleh sih boleh, tapi apa kata Pak Soleh nanti?"
Adli tersenyum lebar, "Tadi saya udah bilang mau jalan-jalan. Besok saya bilangin aja Adli nyari kamar lain, soalnya Pak Soleh kalo tidur ngorok Neng."
Rupanya biarpun polos jalan juga pikiran anak ini. Waktu Adli mau naik ke atas ranjang kucegah dia.
"Itu kan celana yang tadi siang dipakai, lepas dulu dong, kan kotor."
Tersenyum Adli memandangku,
"O iya Neng, lagi pula supaya nanti gampang ya kalo Neng Mimien mau, kalau begitu sekalian aja saya lepas bajunya ya Neng."
Kurang asem si Adli, berani betul dia membuat asumsi seperti itu. Sebelum kubalikkan tubuhku membelakanginya sempat kulihat tubuhnya yang telanjang kekar naik ke atas ranjang.

Beberapa saat berlalu tiba-tiba kurasa sentuhan tangan Adli di bahuku.
"Neng jangan tidur dulu dong Neng," pintanya memelas mesra. "Deketan dikit dong, biar nggak kedinginan," sambungnya lagi.
Kuputuskan untuk beringsut sedikit ke arah tubuhnya. Aku masih diam saja, tapi kubiarkan Adli merangkul dan mengecup bahuku. Setelah itu disusupkannya lengan kirinya ke bawah leherku, sehingga aku sekarang berbantalkan lengan yang kokoh itu.
"Balik sini dong Neng," pinta Adli sekali lagi.
Kuturuti permintaannya. Terasa bulu ketiaknya menusuk pipiku. Tercium juga bau keringatnya yang agak tajam menyengat. Kurasa Adli belum mandi, dan yang pasti tidak memakai deodorant. Boro-boro mau beli perlengkapan semacam itu, gaji untuk hidup sehari-hari sajapun mungkin pas-pasan. Tapi tidak kuucapkan komentar apapun, karena akupun tidak ingin untuk menyinggung perasaannya.
"Neng," kata Adli memulai percakapan, "tadi malam enak ya Neng?"
Kutanggapi ia malas-malasan, "Iya, lumayan juga."
Dengan terbuka ia mengakui, "Neng, Inget yang tadi malam Adli jadi ngaceng, eh maksudnya bangun lagi ITU-nya Neng."

Dengan maksud iseng kugoda Adli,
"Maksud Adli ITU-nya apa sih?"
Dalam kepolosannya sulit ia untuk menjawab dengan tepat,
"Itu Neng, penisnya.. eh apa tuh namanya Neng?"
Aku jadi tertawa geli mendengar jawabannya itu. Adlipun tertawa bersamaku.
"Pegangin dong Neng, sekarang dia memintaku."
Terus terang aku sendiri juga mulai terangsang. Kumasukkan tanganku ke dalam selimut, dan segera menuju ke arah selangkangannya. Begitu terpegang tonjolan keras di balik celana dalamnya segera tanganku mencari celah masuk. Seperti pengakuannya tadi ternyata alat kejantanan Adli sudah menegang keras dan besar sekali. Terasa sekali hangat berdenyut dalam genggamanku. Agak lengket oleh keringat yang barangkali sudah mengendap seharian.

Terbawa oleh suasana mesra saat itu kucium dan emut puting dadanya. Adli menggelinjang kegelian. Katanya meminta, "Terus ke bawah Neng."
Tapi tercium lagi olehku bau keringat Adli. Karena tidak tahan kuusulkan padanya,
"Adli, mandi aja dulu, nanti rasanya lebih segar deh."
Di luar dugaanku Adli menanggapi dengan penuh percaya diri,
"Nggak usah deh Neng, dingin sekali."
Tapi aku tidak mau menyerah begitu saja. Kataku membujuknya,
"Lho kan ada air panasnya, sana deh.. Apa harus saya yang mandiin?"
Sambil berdiri Adli berkata, "Nggak usah ah kalo dimandiin, emangnya jenazah nggak bisa mandi sendiri."
Adli merosot celana dalamnya, "Tapi ininya dicium dulu dong."
Agak jengkel aku mendengar permintaannya. Dari nadanya kesan yang kutangkap seakan-akan dia ingin menguji atau mempermainkan aku. Dengan maksud supaya dia cepat pergi ke kamar mandi, segera kukecup kepala dan batang kemaluannya, masing-masing sekali. Tapi Adli memintaku untuk mengulanginya sekali lagi, dan setelah itu sekali lagi. Akhirnya malah aku sendiri yang keenakan menciumi batang kemaluan Adli.

Beberapa saat kemudian terlihat Adli keluar dari kamar mandi. Dia hanya mengenakan sehelai handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Kuperhatikan setiap lekuk pada tubuh yang bagus dan tegap itu. Lalu kutersenyum padanya.
"Kenapa Neng?" Tanya Adli.
"Ah nggak, seneng aja ngeliat orang keren," kataku merayu.
Wajah Adli terlihat senang. Kugamit lengannya agar ia lalu mendekat, setelah itu kutarik handuknya lepas. Batang kejantanan Adli terpampang di depanku, sudah tegang keras kembali.
"Lho," tanyaku heran, "kok masih keras sih.
Tersenyum Adli menjelaskan, "Tadi sih udah nggak lagi, tapi begitu ngeliat Neng Mimien jadi bangun lagi."

Sekarang giliran dia yang membuat hatiku senang dengan kata-katanya. Segera kutarik tangannya, kuminta ia membaringkan tubuhnya di ranjang. Kuciumi wajah pemuda yang telah memikat hatiku ini, sehingga sampai membuatku terlupa pada rumah-tanggaku sendiri. Kugigiti dia dengan lembut bercambur gemas mulai dari leher, lalu bahu dan dadanya, dan setelah itu sepanjang pinggangnya. Setelah itu kuteruskan ke arah bawah hingga ke sekitar selangkangannya. Tapi kali iini aku hanya menciumi batang kemaluan Adli sekedarnya saja. Sempat kulirik Adli menatapku dengan pandangan heran. Tapi kuteruskan saja menciumi paha dan betisnya hingga aku sampai di kakinya. Waktu jempol kakinya kuemut Adli menjerit,
"Aduh Neng jangan, kasihan Neng Mimien."

Setelah itu kecupan-kecupan bibirku bergerak menuju ke atas lagi, hingga aku berhenti di sekitar selangkangannya. Tubuh Adli terlihat berkeringat, padahal udara malam itu cukup dingin. Rupanya apa yang baru kulakukan tadi telah memacu birahinya.
"Enak nggak Adli?" tanyaku ingin memastikan.
"Aduh Neng, Adli nggak pernah ngebayangin seperti ini rasanya."
Jawabannya membuat hatiku berbunga-bunga. Dengan penuh semangat aku mulai menjilati kepala dan batang kemaluannya. Lidahku menyapu semua sudut kemaluan yang besar dan keras itu. Tidak lupa kujilati juga buah zakarnya, hingga Adli menjerit keenakan. Apalagi waktu pantatnya kugigit-gigit lembut. Karena masih ingin merangsang Adli lebih jauh lagi kudorong bagian bawah pahanya ke atas. Lalu kujilati sekitar duburnya.
"Aduh Neng, aduh, ampun Neng," Adli mengerang keras sekali.
Karena kuatir didengar orang kuhentikan jilatanku itu. Langsung batang kemaluan Adli aku kulum dalam dan setelah itu kuemut-emut dengan bernafsu.

Beberapa saat kemudian Adli menarik tanganku lembut,
"Sini Neng.. Adli belum pernah ngalamin yang seperti begini.. Terima kasih ya Neng!"
Kemudian dimintanya aku berbaring menelentang. Sebelum timbul pikiran macam-macam di benak pemuda, cepat kutarik batang kejantanannya ke mulutku dan kuemut-emut dengan penuh gairah. Setelah itu terjadilah sesuatu yang tidak kubayangkan akan sebelumnya. Ia menjatuhkan tubuhnya ke arah bawah, dalam posisi 69 berlawanan arah dengan tubuhku. Didekatkannya wajahnya yang tampan itu ke arah selangkanganku. Dijilatinya seluruh bagian kemaluanku. Dipeluk dan ditariknya pantatku, lalu dijilatinya duburku seperti tadi telah kulakukan padanya. Kalau tidak kugigit bibirku pastilah aku sudah menjerit-jerit kegelian.

Sewaktu dia kembali menjilati kemaluanku hampir saja aku mencapai puncak orgasmeku.
"Adli, sayang, udah ah saya nggak tahan," kataku memintanya berhenti.
Pemuda itu menatapku dengan pandangan bertanya. Terpaksa kujelaskan bahwa belum tentu aku setahan dia. Kalau nanti aku orgasme duluan bisa mengganggu pelayananku kepadanya. Setelah mau mengerti Adli kembali ke posisi semula, yaitu mengangkangi tubuh bagian atasku. Kumulai lagi menjilati dan mengemut tonggak kejantanan Adli yang keras itu. Sambil tentunya tanganku sendiri mengusap-usap kemaluanku yang tadi sudah dirangsang Adli. Lama-kelamaan mulai terasa cairan kental agak asin di mulutku. Kelihatannya Adli sudah mendekati saat-saat puncaknya. Sayangnya tiba-tiba aku merasa agak mual. Terpaksa kuakali Adli dengan meminta sesuatu yang berbeda dari tadi malam.
"Adli, nanti waktu keluar siramin ya ke atasnya saya."
Ia bertanya heran, "Mau Neng seperti begitu, ditumpahin pejuhnya saya?"
Kuyakinkan Adli, "Mau dong kan enak.. Oh iya nanti kalau kamu udah keluar punya saya kamu usapin ya, biar saya juga puas."

Setelah itu kembali kuemut-emut batang kemaluan Adli, sambil kukocok-kocok keras. Tidak terlalu lama kemudian terdengar Adli mengerang dan mengaduh. Sesuai permintaanku tadi ditariknya tonggak kejantanannya dari dalam mulutku. Lalu dia mengambil alih dengan mengocoknya sendiri. Kuatur posisi diriku sambil tanganku terus meremas-remas pahanya yang keras berotot. Waktu Adli mulai berejakulasi, aku mengaduh kaget. Cairan yang tadinya kuharap akan jatuh di dadaku, atau paling jauh leherku, ternyata begitu kuat semburannya sehingga tertumpah di wajahku. Mendengar eranganku rupanya Adli mengira aku menyukainya. Didekatkannya barang kejantanannya ke wajahku. "Ah.. ini Neng.. ah.. ah."

Semburan demi semburan air mani tersiram ke wajahku. Terpaksa kucoba menikmati itu semua sebisaku. Sementara itu kurasa telapak tangan Adli yang kasar meraba selangkangan dan celah pahaku, berusaha membawaku juga diriku ke puncak orgasme. Dalam keadaan terangsang mulutku mencari batang kejantanan Adli. Seperti semalam sebelumnya ternyata masih dalam keadaan sangat keras, dan tetap besar, walaupun sudah mengalami ejakulasinya. Dengan cepat kumasukkan barang kepunyaan Adli itu ke dalam mulutku dan kuemut-emut lagi. Adli mengerang keenakan dan mengaduh kegelian. Dalam keadaan itulah aku juga mencapai puncak pengalamanku di malam ini.

Melihat keadaanku yang sudah lemah lunglai Adli menyuruhku berbaring santai. Setelah membersihkan dirinya di kamar mandi ia kembali membawa handuk yang telah dibasahinya dengan air hangat. Dibersihkannya seluruh tubuhku dengan telaten dan penuh perhatian. Sambil merebahkan tubuhnya masih sempat ia berkata,
"Aduh Neng, enak sekali rasanya."
"Iya Adli, saya juga puas sekali," jawabku sambil beringsut mendekatinya.
Kali ini aku yang ingin dipeluknya. Demikianlah selanjutnya akupun terlelap dalam aku dibuaiannya, tapi karena sedang asyik-asyiknya kuputuskan untuk berlaga seolah-olah tidak sadar. Begitulah ternyata malam ini aku dan Adli kembali dipertemukan. Barangkali memang sudah jodohnya.

"Neng, neng Mimien, sekarang Adli masukin ya?"
Suara pemuda itu terdengar mengusikku. Sempat terbersit keinginan di hatiku untuk menolaknya, tapi akhirnya birahiku yang sudah sangat memuncak mendorongku mengambil keputusan yang berbeda. Kutatap dia dengan lembut, lalu kuiyakan permintaannya.
"Tapi pelan-pelan ya Dli, soalnya, soalnya..," aku kebingungan memilih kata-kata yang tepat. Adli tersenyum bangga. Diteruskannya apa yang kumaksud dengan berkata,
"Soalnya belum pernah dimasukin yang sebesar ini ya?"
Aku hanya dapat mengangguk pelan, rupanya Adli telah dapat membaca pikiranku. Kemudian Adli membuka selangkanganku, sementara mengemut-emut puting dadaku, seperti seorang bayi besar yang sedang dahaga. Diusap-usapnya bibir kemaluanku dengan ujung kejantanannya. Aku menggelinjang kegelian, sudah merasa ingin, tapi juga agak takut.

Ketika Adli mendorong kepunyaannya itu masuk, rasa pedih yang amat sangat melanda seluruh tubuhku. Ternyata kepunyaanku agak sempit dibanding kepunyaannya.
"Aduh Adli sakit..," sambil kugigit bibirku.
Dia berhenti sejenak, lalu mulai mendorong alatnya kejantanannya kembali. Setelah kurang-lebih masuk setengahnya tiba-tiba Adli mendorong agak keras, hingga membuatku menjerit.
"Aduh, aduh, aduh, sakit sekali sayang.."
Sambil kucoba merenggangkan pahaku selebar-lebarnya. Rasa pedih yang kuderita berlangsung selama kurang-lebih dua menit, sebelum berangsur-angsur mereda. Lubrikasi dari liang kemaluanku akhirnya semakin mempermudah gerakan alat kejantanan Adli, sehingga dapat bergerak maju mundur lancar. Aku merinding dan menggigil dilanda kenikmatan yang baru sekali ini aku rasakan.

Belum pernah liang kewanitaanku menerima kunjungan benda asing milik lelaki yang sebesar ini. Karena memang selama ini pengalaman yang kumiliki hanyalah dengan Mas Heru. Dibanding suamiku, kelebihan Adli bukan hanya karena ukuran alat vitalnya yang besar, tetapi dia sendiri juga pandai memainkannya. Akibatnya baru sepuluh menit saja aku sudah mencapai orgasmeku yang pertama. Rasanya tubuhku melambung tinggi, dan terbawa melayang entah kemana. Tanpa kendali lagi aku menjerit-jerit memanggil nama pemuda itu, sambil sesekali menggigit-gigit lengannya. Setelah perasaanku mereda baru kusadari bahwa Adli masih dengan gagah menunggangiku. Terpaksa kuatur nafas dan posisi diriku, supaya bisa mengimbangi keperkasaannya.

Menjelang Adli mencapai klimaksnya, masih sekali lagi aku dilanda gelombang nikmat orgasme kewanitaanku. Maka ketika kudengar Adli berkata,
"Sekarang Adli lepas ya," aku hanya dapat mengiyakannya saja.
Begitu kukatakan, "Iya Dli, iya sayang, tolong sekarang.. akh."
Langsung Adli memperhebat gerakan menghunjamnya.
"Neng, neng Mimien, neng.. aduh neng.. aahh," demikian Adli meracau sambil mendorong kepunyaannya sedalam-dalamnya memasuki liang kewanitaanku. Sangat erat ia memeluk tubuhku, sementara jari-jariku meremas punggungnya, karena orgasme yang juga sedang kualami. Setelah beberapa saat berlalu, barulah gerak dan erangan kami berdua mereda. Adli masih membiarkan kepunyaannya di dalam kepunyaanku selama beberapa saat, setelah itu baru ditariknya keluar. Sebagian dari siramannya tadi ikut mengalir tertumpah di selangkanganku.

Nampaknya melakukan hubungan yang memuaskan itu cenderung membuat diriku lapar. Atas permintaanku Adli memesan hidangan dan minuman dari restaurant. Begitu tiba langsung kusantap dengan sepuas-puasnya. Setelah itu kuminta Adli untuk mengantarku pulang. Tetapi ternyata dia belum mau, karena katanya belum puas menyetubuhiku. Terpaksa kulayani dia sekali lagi. Ternyata permainan yang kedua ini juga tidak kalah dibanding yang pertama tadi. Kembali ia membawaku ke puncak orgasmeku, sebelum ia sendiri menyiramkan air maninya ke liang rahimku untuk kedua kalinya. Aku sungguh-sungguh merasa puas, kuyakin begitu pula dengan Adli. Akhirnya baru jam 1 malam aku memasuki rumahku. Untunglah Mas Heru sudah tertidur lelap, sehingga aku terlepas dari kewajiban untuk menjelaskan apapun padanya.

Suami Gelap
Hubunganku dengan Adli menjadi sangat akrab setelah peristiwa di malam itu. Ternyata dia sikapnya romantis, walaupun kemasan gayanya agak lugu. Bercinta dengannya akhirnya menjadi suatu kebutuhan rutin untukku. Kalau lebih dari seminggu tidak ditungganginya perasaan dan emosiku benar-benar menjadi kacau. Begitu pula halnya dengan Adli. Malah karena nafsu birahinya yang ternyata cukup besar, sering ia meminta jatahnya sampai dua kali seminggu. Untunglah hubungan kami tidak pernah sampai diketahui orang lain.

Demi nama baik dan martabat aku selalu berusaha untuk bersikap hati-hati. Demikian pula Mas Heru tidak pernah merasa curiga sama sekali. Beberapa bulan kemudian ternyata aku hamil. Baik Mas Heru maupun Adli menyambut kehamilanku itu dengan gembira. Demikian pula tentunya orang-tuaku dan orang-tua Mas Heru. Aku memang juga gembira, tapi juga kuatir apa yang akan terjadi di masa depan nanti. Rasa kekuatiranku semakin bertambah karena anak yang kulahirkan ternyata tidak bisa dikatakan mirip dengan Mas Heru. Sekali lagi aku beruntung karena Mas Heru tidak merasa curiga sedikitpun. Sebelum tiga tahun berlalu aku dianugerahi seorang anak lagi. Sehingga lengkap sudah rasanya kebahagiaanku. Satu hal yang membuat kebahagiaanku semakin sempurna adalah sikap Mas Heru dan Adli yang baik. Mereka berdua sama-sama menyayangi anak-anakku, selainnya tentunya menyayangi diriku. Adli sendiri akhirnya juga mempunyai dua orang anak dari istrinya. Demi ayahnya, mereka aku dukung juga, terutama untuk pendidikannya. Dengan kegiatan usahaku yang semakin saja berkembang, dan asset kekayaan yang terus bertambah, aku cukup mampu untuk melakukan itu semua.

E N D

Senin, 22 Oktober 2007

Murid Baru

Namaku Ng Wai Wan. Aku adalah seorang imigran dari Hongkong yang datang ke negeri baru yang bernama Indonesia. Umurku 17 tahun dan aku adalah pelajar SMU di sekolah negeri. Aku tinggal di Jakarta Selatan bersama dengan kedua orang tuaku. Ayahku Ng Yu Po, bekerja sebagai manager bagian pemasaran mobil. Ia adalah orang yang berpikiran luas dan bebas. Aku jarang bertemu dengannya. Ibuku telah meninggal beberapa tahun yang lalu akibat perang triad.

Dulu ayahku adalah anggota triad di daerah Kowloon. Aku sendiri adalah ketua anak brandalan disana. Karena perang triad yang mengakibatkan kematian pada bos ayahku, maka kami sekeluarga harus pindah. Perpindahan ini tidaklah sulit mengingat jumlah keluarga kami yang hanya berdua saja. Pada pertama kalinya aku enggan meninggalkan teman-temanku, namun karena sudah dalam keadaan terdesak, aku hanya bisa menuruti ayahku saja.

Hari ini adalah hari pertama aku pergi ke sekolah. Aku tidak dapat berbicara bahasa Indonesia selancar warga pribumi disini, namun aku akan mencoba sebaik mungkin untuk berbaur dengan teman-teman baru. Saat aku datang ke sekolah aku dipelototi oleh banyak orang karena kulitku berwarna kuning langsat sendiri, sedangkan yang lainnya berwarna kecoklatan. Aku berjalan menuju kesana kemari karena tidak dapat menemukan ruang guru. Aku tidak begitu mahir dalam membaca huruf abjad. Tiba-tiba ada seorang gadis cantik memanggilku dari belakang.

"Hai ada yang bisa saya bantu?" aku terkejut dan melihat ke belakang.

Wajahnya manis sekali dan kulitnya kecoklatan menggoda. Rambutnnya panjang membelai ke bawah. Tinggi badannya sepundakku, dan ia tersenyum manis. Aku menjadi grogi karena jujur saja, aku lebih suka gadis berkulit kecoklatan daripada berkulit putih. Lalu aku pun berkata.

"Teum Ci (yang artinya maaf), saya mau menuju ruang guru" jawabku tersenggat-senggat.

Itulah pertama kalinya aku berbicara dengan menggunakan bahasa asing. Ia tersenyum dan menunjuk ke arah depanku "Itu disana" Lalu bel pun berdering.

"Maaf yah, aku harus masuk kelas sekarang, namaku Santi, senang berkenalan denganmu," katanya lalu ia menjabat tanganku.

Tangannya halus sekali dan aku makin grogi.

"Ngo hai Ng Wai Wan," jawabku.
"Hah? Apa?" tanyanya kebingungan.
"Sorry, Saya Ng Wai Wan" Ia tersenyum lalu lari ke kelasnya.

Akupun segera lari ke ruang yang ia tunjuk itu dan mengetuk pintu itu. Lalu keluarlah guru-guru dan berjalan ke kelas masing-masing. Salah satunya melihatku dan segera menunjukkan ruang pribadi yang ada di ruang guru itu.

"Kamu harus kesana, cepat. Nanti terlambat masuk kelas"

Lalu aku pun berlari ke ruang pribadi itu yang bertulisan ruang kepala sekolah. Aku pun masuk ke sana dan kepala sekolah ngobrol denganku agak lama disana. Aku binggung karena aku sudah telat masuk kelas. Aku bahkan tidak tahu yang mana kelasku. Setelah agak lama ia pun berkata.

"Mari aku antar ke kelasmu. Tenang saja, tidak perlu buru-buru. Kita semua selalu santai-santai dalam melakukan sesuatu. Lambat asal selamat" katanya.

Aku tidak begitu mengerti kata-kata terakhir yang ia ucapkan itu. Lalu aku pun mengikutinya masuk ke kelas baruku. Guruku menyuruhku berdiri disampingnya dan memperkenalkan diriku.

"Saya.. Adalah.. Ng Wai Wan"

Beberapa murid di depanku tertawa karena aksenku yang aneh. Aku menjadi malu. Lalu setelah itu kepala sekolah meninggalkanku, guru disampingk mencoba mencari tempat duduk kosong. Tiba-tiba ada seorang gadis berkata dengan suara keras.

"Duduk disini saja, kosong kok"

Ternyata ia adalah Santi. Wajah manisnya tersenyum dan aku pun menjadi grogi. Guruku menyuruhku duduk di sampingnya. Selama pelajaran berlangsung aku tidak bisa konsentrasi. Mataku terus-terusan terpaku melihat pahanya yang seksi dan mengkilat itu. Lalu tiba-tiba ia menoleh ke samping dan berkata.

"Äda apa?" Aku kaget dan pura-pura bertanya, "Boleh pinjam ini?" tanganku menunjuk ke arah tip-ex dia.
"Boleh," lalu ia memberi tip-exnya padaku.

Aku berpura-pura menip-ex tulisanku dan menulis ulang serta mengembalikan tip-exnya. Tak lama kemudian guruku berkata.

"Tugas ini agak susah, harap kalian membuat grup 4 orang"

Lalu kami pun membuat grup yang terdiri dari 4 orang. Santi menyuruhku duduk di kursinya, dan ia sendiri berpindah ke kursi depan yang di geser ke arah belakang. Dua orang lainnya duduk disampingku dan di samping Santi.

"Halo, aku Tono dan ini temanku Budi" kata kedua orang baru itu.

Aku pun memperkenalkan diri dan merekalah sahabat baruku. Lalu kamipun membuat tugas komputer bersama-sama. Pelajaran komputer sangatlah mudah bagiku, bahkan sudah ketinggalan jaman. Aku menjawab semua soal susah dalam waktu 15 menit. Setelah itu kelompok kami selesai. Kelompok lain menjadi kaget karena mereka membutuhkan waktu 1 jam lebih untuk menyelesaikannya. Karena mempunyai waktu luang yang lama, aku membuka buku pelajaran matematika dan mencoba untuk lebih mengerti rumus-rumus yang susah. Sedangkan semua teman kelompokku sudah santai dan ngobrol.

"Orang Hongkong rajin yah" kata Budi.
"Pintar lagi," kata Tono menyambung.
"Ah tidak juga kok, pelajaran Matematika kalian juga susah. Aku tidak mengerti sama sekali" kataku.
"Yang mana?" kata Santi.

Ia lalu menerangkan bagian yang susah itu padaku. Seragamnya tidak dikancing semua terutama bagian atasnya sehingga aku dapat melihat belahan payudara atasnya yang montok itu dan berwarna kecoklatan. Penisku langsung berdiri dan menabrak meja. Aku langsung memegang penisku itu dan menahan sakit.

"Kamu kenapa?" tanyanya.
"Ah tidak apa-apa kok" jawabku.

Anto yang duduk disampingku itu tersenyum karena melihat hal itu. Lalu ia mengajak Budi untuk pergi ke toilet dan meninggalkanku bersama Santi.

"Kami mendukungmu, teman" katanya berbisik padaku.

Penisku makin lama makin berdiri kuat karena aku melihat buah dada itu dan Santi tidak memakai BH pada saat itu. Hari itu adalah hari pertamaku yang membahagiakan. Ternyata aku tidak salah memilih untuk pindah ke Indonesia. Saat aku pulang ke rumah aku segera ganti baju dan membantu ayahku melanjutkan membereskan barang kami. Pada sore hari datanglah teman ayahku dan memperkenalkan 5 pembantu rumah tangga untuk kami sewa. Kami terkejut karena gaji mereka jauh lebih murah dari yang kami bayangkan. Mereka pun pandai memasak.

Pada malam itu setelah saya mengatur kamar tidur saya, saya pun mandi dan siap untuk makan malam. Dimeja kami banyak terdapat makanan kari. Saat aku cicipi rasanya pedas sekali, tapi enak juga. Pembantu kami telah menyiapkan air dingin untuk kami. Setelah makan malam aku menelepon Santi untuk mengajaknya ngobrol sebentar. Yang disayangkan adalah Santi sedang pergi entah kemana. Dia sendiri tidak punya handphone. Malam itu aku tidak bisa tidur karena terus membayangkan kecantikan dan kemolekan tubuhnya.

Keesokan harinya aku pergi kesekolah. Ternyata Santi menungguku di depan pagar sekolah.

"Selamat pagi" sapanya dengan suara manis.
"Kemarin, kamu telepon saya yah? Sori yah saya sedang pergi dengan Mamaku ke Ancol"

Aku pun langsung memberinya sebuah handphone agar kami dapat berkomunikasi dengan mudah. Pada pertama kalinya ia tidak dapat menerimanya karena handphone itu harganya mahal. Namun setelh kurayu ia menerima juga. Tiba-tiba ia memelukku dan berterima kasih padaku. Wajahnya tersenyum manis. Buah payudara montoknya menempel di dadaku. Penisku langsung berdiri dan tanpa kusadari kedua tanganku otomatis merangkul punggungnya.

"Ih genit ih kamu" katanya setelah merasakan kerasnya batang penisku yang menusuk roknya.

Aku menjadi malu dan melepaskan rangkulanku. Ia lalu mengandeng lenganku dan menarikku ke kelas.

"Äyo cepat, nanti telat loh" katanya. Lalu kami berdua masuk ke kelas dan mengikuti pelajaran. Sejak hari itu aku dan Santi makin dekat saja.

Beberapa bulan kemudian sekolah kami mengadakan karya wisata ke taman safari. Aku senang sekali karena aku belum pernah menemui binatang liar sebelumnya di Hongkong. Lalu kami pun naik ke bus dan Santi duduk disampingku sambil mengandeng tanganku. Perjalanan ini seperti honey moon kami saja. Setelah sampai disana aku melihat banyak binatang melalui bus kami. Aku menerima banyak pengalaman seperti dijilat jerapah, dijambak monyet, bahkan memeluk singa. Saat aku melihat Santi memeluk anak harimau wajahnya terlihat makin manis saja. Lalu ia pun mengajakku untuk jalan-jalan ke rumah hantu. Didalam rumah hantu aku menaiki sebuah kereta kecil dan Santi tepat disampingku. Didalamnya sangat gelap. Tiba-tiba muncul hantu pocong disamping Santi. Ia lalu berteriak dan memelukku. Aku pun kaget dan tanpa sengaja mencium bibirnya. Ciuman itu terasa hangat sekali. Yang anehnya adalah ciuman kami tidak lepas pada saat itu. Ciuman yang hangat dinikmati bersama.

Akhirnya kami baru berhenti berciuman dan berpelukan setelah kereta kami hampir keluar dari arena rumah hantu. Saat kami pulang rankulan kami berdua makin mesra di dalam bus, dan sempat digoda teman-teman kami. Saat kami sampai disekolah ia bertanya apakah rumahku dihuni banyak orang. Aku pun menjelaskan bahwa ayahku sedang ada urusan dikantor sehingga ia selalu pulang jam 2 pagi. Lalu ia menanyaiku apakah ia boleh tinggal dirumahku semalam. Aku pun kaget dan grogi. Aku langsung mengiyakan saja. Ia bertambah senang dan menciumku. Lalu kami pulang kerumahku.

Pada mulanya ia hanya bercanda dirumahku dan makan malam. Lalu tiba-tiba ia ingin melihat kamarku. Kamarku agak besar karena ada kamar mandi pribadi didalamnya. Santi lalu meminta ijin untuk mandi sebentar. Aku pun mengiyakan saja. Pada saat ia mandi aku makin terangsang dan akhirnya kuberanikan diriku untuk mengintipnya. Terlihatlah tubuh basah yang indah sekali. Warna kulit coklatnya membuatku terangsang sampai ngiler. Aku pun menelanjangkan diriku dan mencoba untuk beronani. Namun 2 menit kemudian ia sadar bahwa ia sedang di intip.

"Hei, apa yang kamu lakukan?" tanyanya.

Aku terkejut dan baru sadar kalau mulutku sudah penuh liur. Karena sudah tertangkap basah aku langsung memberanikan diriku dan masuk ke kamar mandi. Aku langsung memeluknya dan menciumnya. Ia terkejut dan memberontak, namun setelah agak lama ia tidak memberontak lagi dan memelukku. Payudara montoknya menempel didadaku, penisku berdiri dan kugosok-gosokkan ke vaginanya. Kututup keran air dan kami saling menyabuni tubuh lawan. Sabun yang licin itu membuat tubuh Santi makin bergairah dan enak dielus.

Lalu aku membuka keran air itu lagi dan melanjutkan mandi kami. Setelah bersih aku membuka air hangat dan memenuhi seluruh bak mandi. Aku lalu berbaring diatas bak mandi, sedangkan Santi menindihku dan memelukku. Tubuh kami berada didalam air hangat. Tanganku mengelus-elus pantat dan paha Santi didalam air.

Setelah 20 menit kemudian kami keluar dari air. Santi kugendong sampai ke ranjangku. Lalu aku segera menjilati vaginanya sampai basah semua. Vagianya terasa manis sekali. Aku terus terusan menjilati lubang pantatnya. Setelah puas, lalu kujilati pahanya selama 10 menit. Setelah itu aku mengangkat badannya dan menjilati payudaranya. Putingnya kukulum dengan ganas. Ia berdesah keras. Lalu kami berciuman dan saling bertukar air ludah. Ia mengunyah mulutku dengan ganasnya. Setelah itu dengan posisi duduk, kucumbui vaginanya.

"Ah.. Ah.." desahnya.

Ia duduk dipahaku, kakinya menyilangi punggungku dan tanganya merangkul leherku. Kami melakukan cumbuan dalam posisi tersebut sambil berciuman selama 5 menit. Lalu aku berganti posisi dan mencumbui pantatnya. Dadaku menekan punggungnya dan kedua tanganku meremas-remas dadanya. Buah dadanya terasa hangat dan enak diremas.

Kami melakukan doggy style sampai 20 menit. Lalu aku tidak tahan lagi dan spermaku muncrat didalam pantatnya. Kami berdua berdesah keras sekali. Kami jatuh ke ranjang bersama dan tidur karena sudah lelah. Kami tidur dalam keadaan telanjang.

Pada pagi harinya aku bangun duluan. Lalu badanku terasa tertindih. Ternyata Santi kedinginan dan memelukku erat-erat. Aku membangunkannya dengan kecupan pelan dibibirnya. Tak lama kemudian ia terbangun dan kami melakukan cumbuan untuk kedua kalinya. Lalu setelah itu kami mandi bersama dan berangkat ke sekolah.

E N D

Andani Citra: Montir-Montir Perkasa

Hari itu, sekitar jam tiga sore aku bersama sepupuku, Ellen baru saja sampai di rumahnya setelah jalan-jalan di mall. Setengah jam kami disana nonton VCD sampai pacarnya yang bernama Winston datang. Memang sih hari itu aku bermain ke sini agar bisa sekalian sorenya mengambil mobilku yang sedang di service rutin di sebuah bengkel di daerah Jakarta Timur yang kebetulan tidak terlalu jauh dari rumah Ellen. Pas sekali saat itu Winston datang untuk nge-date jadi aku bisa ikut menumpang diantar ke bengkel itu.

Kamipun berangkat dari rumahnya dengan mobil BMW-nya Winston. Walaupun tidak terlalu jauh namun kami sedikit terjebak macet karena saat itu jam bubaran. Yang kukhawatirkan adalah takutnya bengkelnya keburu tutup, kalau begitu kan aku mau tidak mau harus tetap menumpang pada Winston padahal mereka mau pergi nonton dan aku tidak mau mengganggu kebersamaan mereka. Akhirnya tiba juga kami di bengkel itu tepat ketika akan tutup.

"Wah.. Sudah mau tutup tuh Ci, mendingan cepetan lari turun, siapa tahu masih keburu," kata Ellen.
"Tanyain dulu Ci, kita tunggu kamu di sini, kalau ternyata belum bisa ambil, kamu ikut kita jalan aja," Winston memberi saran.

Akupun segera turun dan setengah berlari ke arah pegawai yang sedang mendorong pintu.

"Mas.. Mas tunggu, jangan ditutup dulu, saya mau ngambil mobil saya yang Hyundai warna merah yang dititip kemarin Selasa itu loh!" kataku dengan terburu-buru.
"Tapi kita sudah mau tutup non, kalau mau besok balik aja lagi," katanya.
"Ayo dong, Mas katanya di telepon tadi sudah bisa diambil, tolong dong bentar aja yah, saya sudah ke sini jauh-jauh nih!" desakku.
"Ada apa nih, Kos, kok malah ngobrol," kata seorang pria yang muncul dari samping belakangnya.

Kebetulan sekali pria itu adalah montir yang menangani mobilku ketika aku membawa mobil itu ke sini, orangnya tinggi dan agak gemuk dengan rambut gaya tentara, usianya sekitar awal empat puluh, belakangan kuketahui bernama Fauzan, agaknya dia tergolong montir yang cukup senior di sini.

Akupun lalu mengutarakan maksud kedatanganku ke sini untuk mengambil mobilku itu padanya. Awalnya sih dia juga menyuruhku kembali lagi besok karena bengkel sudah tutup, tapi karena terus kubujuk dan kujanjikan bonus uang rokok akhirnya dia menyerah juga dan mempersilakanku masuk menunggu di dalam. Sebenarnya sih kalau bengkelnya dekat dengan rumahku aku juga bisa saja kembali besok, tapi masalahnya letak tempat ini cukup jauh dari rumahku dan macet pula, kan BT banget kalau harus dua kali jalan.

Aku melambaikan tangan ke arah Ellen dan Winston yang menunggu di mobil pertanda masalah sudah beres dan mereka boleh pergi, merekapun membalas lambaianku dan mobil itu berjalan meninggalkanku. Pak Fauzan menjelaskan padaku tentang kondisi mobilku, dia bilang bahwa semuanya ok-ok saja, kecuali ada sebuah onderdil di bagian bawah mobil yang sebentar lagi tidak layak pakai karena sudah banyak berkarat (sory.. Aku tidak mengerti otomotif selain menggunakannya, sampai lupa nama onderdil itu). Karena memikirkan kenyamanan jangka panjang, aku menanyakan kalau bagian itu diganti sekarang memakan waktu lama tidak, ongkos sih tidak masalah. Setelah berpikir sesaat dia pun mengiyakannya dan menyuruhku duduk menunggu.

Sejumlah pegawai dan kasir wanita sudah berjalan ke pintu keluar meninggalkan tempat ini. Di ruangan yang cukup luas ini tinggallah aku dengan Pak Fauzan serta beberapa montir yang sedang menyelesaikan pekerjaan yang tanggung. Seluruhnya ada empat orang di ruangan ini termasuk aku yang satu-satunya wanita.

"Masih banyak kerjaannya ya Mas?" tanyaku iseng-iseng pada montir brewok di dekatku yang sedang mengotak-atik mesin depan sebuah Kijang.
"Dikit lagi kok Non, makanya mending diselesaikan sekarang biar besoknya lebih santai," jawabnya sambil terus bekerja.

Tidak jauh dari tempat dudukku Pak Fauzan sedang berjongkok di sebelah mobilku dan di sebelahnya seorang rekannya yang cuma kelihatan kakinya sedang berbaring mengerjakan perkerjaannya di kolong mobil. Ternyata pekerjaan itu lama juga selesainya, seperempat jam sudah aku menunggu. Melihat situasi seperti ini, timbullah pikiran isengku untuk menggoda mereka. Hari itu aku memakai kaos ketat oranye berlengan panjang yang dadanya agak rendah, lekuk tubuhku tercetak oleh pakaian seperti itu, bawahnya aku memakai rok hitam yang menggantung beberapa senti di atas lutut. Maka bukanlah hal yang aneh kalau para pria itu di tengah kesibukannya sering mencuri-curi pandang ke arahku, apalagi sesekali aku sengaja menyilangkan kakiku.

Aku berjalan ke arah mobilku dan bertanya pada Pak Fauzan, "Masih lama ya Pak?"
"Hampir Non, ini yang susah tuh melepas yang lamanya, habis sudah berkarat, sebenarnya sih pasangnya gampang saja, bentar lagi juga beres kok"
"Perlu saya bantuin enggak? Bosen dari tadi nunggu terus," tanyaku sambil dengan sengaja berjongkok di hadapannya dengan lutut kiri bertumpu di lantai sehingga otomatis paha putih mulusku tersingkap kemana-mana dan celana dalam merahku juga terlihat jelas olehnya.

Dia terlihat gugup dan matanya tertumbuk ke bawah rokku yang kelihatan karena posisi jongkokku. Aku yakin burungnya pasti sudah terbangun dan memberontak ingin lepas dari sangkarnya. Namun aku bersikap biasa saja seolah tidak mengetahui sedang diintip.

"Oohh.. Nggak.. Nggak kok Non," jawabnya terbata-bata.
"Hhoii.. Obeng kembang dong," sahut montir yang dari dalam sambil mendorong kursi berbaringnya keluar dari kolong.

Begitu keluar diapun ikut terperangah dengan pemandangan indah di atas wajahnya itu. Keduanya bengong menatapku tanpa berkedip.

"Kenapa? Kok bengong? Liatin apa hayo..?" godaku dengan tersenyum nakal.

Kemudian kuraih tangan si montir yang sedang berbaring itu dan kuletakkan di paha mulusku, memang sih tangannya kotor karena sedang bekerja tapi saat itu sudah tidak terpikir hal itu lagi. Tanpa harus disuruh lagi tangan kasar itu sudah bergerak dengan sendirinya mengelus pahaku hingga sampai di pangkalnya, disana dia tekankan dua jarinya di bagian tengah kemaluanku yang masih tertutup CD.

"Ooohh.. " desahku merasakan remasan pada kemaluanku.

Pak Fauzan menyuruhku berdiri dan didekapnya tubuhku serta langsung menempelkan bibirnya yang tebal dan kasar pada bibir mungilku. Tangannya mengangkat rokku dan menyusup ke dalam celana dalamku. Temannya tidak mau ketinggalan, setelah dia mengelap tangannya dia dekap aku dari belakang dan mulai menciumi leher jenjangku, hembusan nafas dan lidahnya yang menggelikitik membuat birahiku semakin naik. Payudaraku yang masih tertutup baju diremasi dari belakang, tak lama kemudian kaos Mango-ku beserta bra-ku sudah disingkap ke atas. Kedua belah payudaraku digerayangi dengan gemas, putingnya terasa makin mengeras karena terus dipencet-pencet dan dipilin-pilin.

"Hei, ngapain tuh, kok nggak ngajak-ngajak!" seru si montir brewok yang memergoki kami sedang berasyik-masyuk.

Montir di belakangku melambai dan memanggil si brewok untuk ikut menikmati tubuhku. Si brewok pun dengan girang menghampiri kami sambil mempreteli kancing baju montirnya, kurang dari selangkah di dekatku dia membuka seluruh pakaiannya.

Wow.. Bodynya padat berisi dengan dada bidang berbulu dan bulunya turun saling menyambung dengan bulu kemaluannya. Dan yang lebih membuatku terpesona adalah bagian yang mengacung tegak di bawah perutnya, pasti tak terlukiskan rasanya ditusuk benda sebesar pisang raja itu, warnanya hitam dengan kepala penis kemerahan. Dia berjongkok di depanku dan memelorotkan rok dan celana dalamku.

"Wah, asyik jembutnya item lebat banget, gua paling suka vagina kaya gini," si brewok mengomentari vaginaku.

Pak Fauzan dan temannya pun mulai melepasi pakaiannya masing-masing hingga bugil. Terlihatlah batang-batang mereka yang sudah menegang, namun aku tetap lebih suka milik si brewok karena nampak lebih menggairahkan, milik Pak Fauzan juga besar dan berisi, namun tidak terlalu berurat dan sekeras si brewok, sedangkan punya temannya lumayan panjang, tapi biasa saja, standarnya pribumi Indonesialah. Aku sendiri tinggal memakai kaos ketat dan bra-ku yang sudah tersingkap.

Kaki kiriku diangkat ke bahu si brewok yang berjongkok sambil melumat vaginaku. Teman Pak Fauzan yang dipanggil 'Zul' itu menopang tubuhku dengan mendekap dari belakang, tangannya terus beraktivitas meremas payudara dan pantatku sambil memainkan lidahnya di lubang telingaku. Pak Fauzan sendiri kini sedang menetek dari payudara kananku. Aku menggelinjang dahsyat dan mendesah tak karuan diserbu dari berbagai arah seperti itu. Tanganku menggenggam penis Pak Fauzan dan mengocoknya perlahan.

"Oookkhh.. Jangan terlalu keras," rintihku sambil meringis ketika Pak Fauzan dengan gemas menggigiti putingku dan menariknya dengan mulut, secara refleks tanganku menjambak pelan rambutnya.

Sementara si brewok di bawah sana menyedoti dalam-dalam vaginaku seolah mau ditelan. Dia memasukkan lidahnya ke dalam vaginaku sehingga memberi sensasi geli yang luar biasa padaku, klitorisku juga dia gigit pelan dan digelikitik dengan lidahnya. Pokoknya sangat sulit dilukiskan dengan kata-kata betapa nikmatnya saat itu, jauh lebih nikmat dari mabuk anggur manis. Aku menengokkan wajah ke samping untuk menyambut Zul yang mau melumat mulutku. Lihai juga dia berciuman, lidahnya menjilati lidahku dan menelusuri rongga mulutku, nafasku seperti mau habis rasanya.

Kemudian mereka membaringkanku di kursi untuk berbaring di kolong mobil itu (whateverlah namanya aku tidak tahu nama barang itu ^_^;). Zul langsung mengambil posisi di selangkanganku, tapi segera dicegah oleh Pak Fauzan yang menginginkan jatah lubang lebih dulu. Setelah dibujuk-bujuk Zul pun akhirnya mengalah dari Pak Fauzan yang lebih senior itu. Sebagai gantinya dia mengambil posisi di dekat kepalaku dan menyodorkan penisnya padaku. Kumulai dengan menjilati batang itu hingga basah, lalu buah zakarnya kuemut-emut sambil mengocok batangnya.

Walaupun agak bau tapi aku sangat menikmati oral seks itu, aku senang membuatnya mengerang nikmat ketika kujilati lubang kencing dan kepala penisnya. Pak Fauzan yang sudah selesai dengan pemanasan dengan menggesekkan penisnya pada bibir vaginaku kini sudah mengarahkan penisnya ke liang senggamaku. Aku menjerit kecit ketika benda itu menyeruak masuk dengan sedikit kasar, selanjutnya dia menggenjotku dengan gerakan buas. Aku meresapi setiap detil kenikmatan yang sedang menyelubungi tubuhku, semakin bersemangat pula aku mengemut penis si Zul, kumainkan lidahku di sekujur penis itu untuk menambah kenikmatan pemiliknya. Dia mengerang keenakan atas perlakuanku yang memanjakan 'adik kecil'nya.

Rambutku diremas-remas sambil berkata, "Oooh.. Terus Non, enak banget.. Yahh!"

Tanganku yang lain tidak tinggal diam ikut mengocok punya si brewok yang pada saat yang sama sedang melumat payudaraku. Dia sangat menikmati setiap jengkal payudaraku, dia menghisapnya kuat-kuat diselingi gigitan-gigitan yang meninggalkan jejak merah di kulitnya yang putih. Sungguh kagum aku dengan penisnya dalam genggamanku, yang benar-benar keras dan perkasa membuatku tidak sabar ingin segera mencicipinya. Maka aku melepaskan emutanku pada penis Zul dan berkata pada si brewok,

"Sini dong Mas, gua mau nyepong kontolnya!"

Si brewok langsung menggantikan Zul dan menyodorkan penisnya padaku. Hmm.. Inilah yang kutunggu-tunggu, aku langsung membuka lebar-lebar mulutku untuk memasukkan benda itu. Tentu saja tidak muat seluruhnya di mulut mungilku malah terasa sesak. Si Zul menggosok-gosokkan penisnya yang basah ke wajahku. Sambil dioral, tangan si brewok yang kasar dan berbulu itu meremasi payudaraku dengan brutal. Di sisi lain, Pak Fauzan melepaskan sepatu bersol tinggi yang kupakai, lalu menaikkan kedua tungkaiku ke bahu kirinya, sambil menggenjot dia juga menjilati betisku yang mulus. Aku benar-benar terbuai oleh kenikmatan main keroyok seperti ini.

Tiba-tiba kami terhenti sejenak karena terdengar suara pintu di buka dari dalam dan keluarlah seorang yang hanya memakai singlet dan celana pendek, tubuhnya agak kurus dan berusia sepantaran dengan Pak Fauzan dengan jenggot seperti kambing. Aku mencoba mengingat-ingat orang ini, sepertinya pernah lihat sebelumnya, oohh.. Iya itu kan montir yang mendengar dan mencatat masalah yang kuceritakan tentang mobilku ketika aku membawanya ke sini. Sepertinya dia baru mandi karena rambutnya masih basah dan acak-acakan. Sebelumnya dia agak terperanjat dengan apa yang dia lihat tapi kemudian dia mendekati kami.

"Weleh-weleh.. Gua sibuk cuci baju di belakang, kamu-kamu malah pada enak-enakan ngentot," katanya "Lho, ini kan si Non cantik yang mobilnya diservis itu!"
"Sudah jangan banyak omong, mau ikutan nggak!" kata si brewok padanya.

Buru-buru si montir yang bernama Joni itu melepaskan celananya dan kulihat penisnya bagus juga bentuknya, besar dengan otot yang melingkar-lingkar. Tiga saja belum selesai sudah datang satu lagi, tambah berat deh PR gua, demikian kataku dalam hati. Pak Joni mengambil posisi di sebelah kananku, tangannya menjelajah kemana-mana seakan takut tidak kebagian tempat. Payudara kananku dibetot dan dilumat olehnya sampai terasa nyeri. Aku mengerang sejadi-jadinya antara kesakitan dan kenikmatan, semakin lama semakin liar dan tak terkendali.

Pak Fauzan dibawah sana makin mempercepat frekuensi genjotannya pada vaginaku. Lama-lama aku tidak sanggup lagi menahan cairan cintaku yang semakin membanjir. Di ambang puncak aku semakin berkelejotan dan tanganku semakin kencang mengocok dua batang penis di genggamanku yaitu milik Pak Joni dan Bang Zul. Zul juga menggeram makin keras dan Crot.. Crot.. Cairan putih kentalnya menyemprot dan berceceran di wajah dan rambutku. Sementara otot-otot kemaluanku berkontraksi makin cepat dan cairan cintaku pun tak terbendung lagi. Aku telah mencapai puncak, tubuhku mengejang hebat diiringi erangan panjang dari mulutku, tapi dia masih terus menggenjotku hingga tubuhku melemas kembali. Setelah dia cabut penisnya, diturunkannya juga kakiku.

"Gantian tuh, siapa mau memek?" katanya.

Si brewok langsung menggantikan posisinya, sebelumnya dia menjilati dan menyedot cairan vaginaku dengan rakus bagaikan menyantap semangka. Pak Fauzan menaiki dadaku dan menjepitkan penisnya yang sudah licin diantara payudaraku. Dia memaju-mundurkannya seperti yang dia lakukan terhadap vaginaku, tidak sampai lima menit, spermanya muncrat ke muka dan dadaku, kaosku yang tergulung juga ikut kecipratan cairan itu. Pak Fauzan mengelap spermanya yang berceceran di dadaku sampai merata sehingga payudaraku nampak mengkilap oleh cairan itu. Kujilati sperma di sekitar bibirku dengan memutar lidah.

Si brewok minta ganti gaya, kali ini dia berbaring di kursi montir. Tanpa diperintah aku menurunkan tubuhnya sambil membuka lebar liang senggamaku dengan jari. Tanganku yang lain membimbing batang itu memasuki liang itu. Aku menggigit bibir dan mendesis saat penis itu mulai tertancap di vaginaku. Hingga akhirnya seluruh batang itu tertelan oleh liang surgaku, rasanya sangat sesak dan sedikit nyeri dijejali benda sekeras dan sebesar itu, aku dapat merasakan urat-uratnya yang menonjol itu bergesekan dengan dinding vaginaku.

Aku belum sempat beradaptasi, dia sudah menyentakkan pinggulnya ke atas, secara refleks aku menjerit kecil. Sekali lagi dia sentakkan pinggulnya ke atas sampai akupun ikut menggoyangkan tubuhku naik-turun. Mataku merem-melek dan kadang-kadang tubuhku meliuk-liuk saking nikmatnya. Kuraih penis Pak Joni di sebelah kiriku dan kukulum dengan bernafsu, begitu juga dengan penis Pak Fauzan, batang yang sedang kelelahan itu kukocok-kocok agar bertenaga lagi, sisa-sisa spermanya kujilati hingga bersih. Kurasakan ada dua jari memasuki anusku, mengoreki lalu bergerak keluar-masuk di sana, aku menengok ke belakang ternyata pelakunya Bang Zul yang entah kapan sudah di belakangku.

Mungkin karena ketagihan dikaraoke olehku, Pak Joni memegangi kepalaku dan menekannya pada selangkangannya, lalu dia maju-mundurkan pinggulnya seperti sedang bersenggama. Aku sempat gelagapan dibuatnya, kepala penis itu pernah menyentuh tekakku sampai hampir tersedak. Namun hal itu tidak mengurangi keaktifanku menggoyang tubuhku dan mengocok penis Pak Fauzan dengan tangan kiriku. Payudaraku yang ikut bergoyang naik-turun tidak pernah sepi dari jamahan tangan-tangan kasar mereka.

Sepertinya Bang Zul mau main belakang karena dia melebarkan duburku dengan jarinya dan sejenak kemudian aku merasakan benda tumpul yang tak lain kepala penisnya melesak masuk ke dalamnya. Ketiga lubang senggamaku penuh sudah terisi oleh tiga penis. Penis Pak Joni dalam mulutku makin bergetar dan pemiliknya pun makin gencar menyodok-nyodokkannya pada mulutku hingga akhirnya menyemprotkan spermanya di mulutku. Belum habis semprotannya dia menarik keluar benda itu (thank god, akhirnya bisa menghirup udara segar lagi) sehingga sisanya menyemprot ke wajahku, wajahku yang sudah basah oleh sperma Bang Zul dan Pak Fauzan jadi tambah belepotan oleh spermanya yang lebih kental dari milik dua orang sebelumnya.

"Aahh.. Aahh.. Dikit lagi Bang!" desahku karena sudah akan klimaks lagi.

Cairan cinta terasa terus mengucur membasahi rongga-rongga kemaluanku bersamaan dengan penis si brewok yang terasa makin membengkak dan sodokannya yang makin gencar. Otot-ototku menegang dan desahan panjang keluar dari mulutku akibat orgasme panjang bersama si brewok. Cairan hangat dan kental menyemprot hampir semenit lamanya di dalam lubang vaginaku. Akhirnya tubuhku kembali melemas dan jatuh telungkup di atas dada yang bidang berbulu itu dengan penis masih menancap, sementara dari belakang Bang Zul masih getol menyodomiku tanpa mempedulikan kondisiku sampai dia menumpahkan spermanya di anusku lima menit kemudian. Setelah beristirahat lima menit, Pak Fauzan mengangkat tubuhku diatas kedua tangannya dan membawaku ke ruangan lain yang adalah tempat pencucian mobil bersama teman-temannya.

"Eh, mau ngapain lagi kita nih Pak?" tanyaku heran.
"Kita mau mencuci Non dulu soalnya sudah lengket dan bau peju sih," jawabnya sambil nyengir, kemudian memerintah si brewok untuk menyiapkan selang air.

Pelan-pelan dia turunkan aku, tapi aku masih belum sanggup berdiri karena masih lemas sekali, jadi aku hanya duduk bersimpuh saja di lantai marmer itu.

"Bajunya dilepas aja Non biar nggak basah," katanya sambil membantuku melepaskan kaosku yang tergulung.

Aku kini telah telanjang bulat, hanya jam tangan, anting, dan seuntai kalung perak dengan leontin huruf C yang masih tersisa di tubuhku. Si brewok menyalakan krannya dan mengarahkan selang itu padaku.

"Awww.. Dingin!" desahku manja merasakan dinginnya air yang menyemprot padaku.

Pak Joni melepaskan singletnya dan bersama dua orang lainnya mendekati tubuhku yang masih disemprot si brewok, ketiganya mengerubungi tubuhku sambil tertawa-tawa. Aku lalu diberdirikan dan didekap mereka, tangan-tangan mereka menggosoki tubuhku untuk membasuh ceceran sperma yang lengket di sekujur tubuhku seperti sedang memolesi mobil dengan cairan pembersih.

Beberapa menit lamanya si brewok menyirami kami dengan air dingin sehingga tubuh kami basah kuyup. Sesudah itu dia juga ikut bergabung menggerayangiku. Pak Joni mendekapku dari depan, setelah puas menciumi dan meremas payudaraku dia menaikkan kaki kananku ke pinggangnya dan memasukkan penisnya ke vaginaku, mereka mengerjaiku dalam posisi berdiri. Pak Fauzan merangkulku dari belakang dan tak henti-hentinya mencupangi pundak, leher dan tengukku. Bang Zul berjongkok meremasi dan menjilati pantat montokku yang terangkat dengan gemasnya.

Si brewok menggerayangi payudaraku yang lain sambil menggelitik telingaku dengan lidahnya. Desahan nikmatku terdengar memenuhi ruangan itu. Beberapa menit kemudian Pak Joni klimaks dan menumpahkan spermanya di dalam vaginaku. Ini masih belum berakhir, karena setelahnya tubuhku mereka telentangkan di atas kap depan sebuah sedan berwarna silver metalik dan kembali aku disemprot dengan selang air hingga semakin basah.

Bang Zul membentangkan pahaku dan menancapkan penisnya ke vaginaku. Mungkin karena sudah terisi penuh, maka ketika penis itu melesak ke dalamku, nampak sperma kental itu meluap keluar dari sela-sela bibir vaginaku. Aku kembali orgasme yang kesekian kalinya, tubuhku menggelinjang di atas kap mobil itu. Kemudian tak lama kemudian dia pun mencabut penisnya dan menumpahkan isinya di atas perut rataku. Akhirnya selesai juga mereka mengerjaiku, aku terbaring lemas diatas kap, rasanya pegal sekali dan sedikit kedinginan karena basah.

Mereka juga sudah kecapean semua, ada yang duduk mengatur nafas, ada juga yang mengelap badannya yang basah. Pak Fauzan memberiku sebuah Aqua gelas dan handuk kering. Aku menggerakkan tangan menghanduki tubuhku yang basah. Setelah Pak Fauzan dan Bang Zul selesai memasang onderdil yang tertunda, selesai pula perbaikan mobilku. Aku membayarkan biayanya pada Pak Fauzan yang ternyata masih saudara dengan pemilik bengkel ini, pantas dari tadi montir lain tunduk padanya. Aku juga memberi tambahan sepuluh ribu rupiah sebagai uang rokok untuk dibagi antara mereka berempat. Sampai di rumah aku langsung tidur dengan tubuh pegal-pegal, janji ke kafe dengan teman-teman pun terpaksa kubatalkan dengan alasan tidak enak badan.


E N D

Gairah Karyawanku

Cerita ini kubuat semata-mata hanya ingin berbagi pengalaman, dimana kejadian yang kualami ini sungguh-sungguh terjadi kurang lebih setahun yang lalu. Sengaja nama tempat-tempat yang pernah ada, kusamarkan karena tidak enak dengan karyawan lain.

Aku adalah seorang pimpinan sebuah Biro Perjalanan Wisata yang terhitung masih baru di negara ini. Panggil saja aku Pram. Aku seorang laki-laki yang masih bujangan walau umurku sudah 32 tahun.

Pertama aku menjalankan perusahaan ini, aku merekrut beberapa karyawan yang layaknya perusahaan travel tentu banyak wanitanya. Salah satu karyawanku itu sebutlah namanya Esther, adalah tangan kananku dalam menjalankan roda perusahaan ini. Dia cukup berpengalaman di bidang marketing dan operasional. Orangnya cantik, putih, berumur sekitar 28 tahun. Pertama aku meng-interview dia kujabat tangannya, "Selamat siang, perkenalkan nama saya Pram, Pramono."
Dia pun menyebutkan namanya, "Esther.." dengan nada suaranya yang agak serak, yang bagiku terdengar seksi.
"Boleh saya lihat CV anda?" tanyaku.
"Silakan Pak," sahutnya.

Aku pun mulai bertanya seperti layaknya pimpinan perusahaan yang sedang meng-interview calon karyawannya.
"Sepertinya anda cukup pengalaman di bidang travel, sudah berkeluarga?" tanyaku penuh selidik.
"Sudah Pak," jawabnya singkat.
Lalu ditambahkan, "Saya sudah berputra satu."
"Ooo.. Oke anda diterima, kapan anda mulai bergabung dengan kami?" tanyaku lagi.
"Mungkin minggu depan, bagaimana Pak?" jawabnya, sambil memainkan matanya yang indah.
"Hmm.. boleh, selamat ya.." kataku sambil menjabat tangannya.

Begitulah, Esther sejak itu menjadi karyawanku, dimana sewaktu marketing aku selalu mengajak dia. Dia pun kelihatan senang kalau aku mengajaknya keluar.

Dari seringnya kami keluar bersama entah kenapa dia sering memancing omongan kearah yang lebih pribadi. Sampai akhirnya pada suatu saat aku terkejut begitu mengetahui dia ternyata sudah bercerai dengan suaminya. "Hah?! pantas aku nggak pernah melihat suami kamu.." aku hanya bisa geleng-geleng kepala. "Yah, beginilah kehidupan saya Pak, saya janda dengan anak satu, maafkan saya Pak, selama ini saya berbohong pada Bapak." Esther menyahut dengan tetesan air mata di pipinya. Aku tidak tahan dengan pemandangan itu, lalu kubelai rambutnya, entah setan dari mana aku memeluk dirinya. Ternyata dia pun malah menghamburkan tubuhnya di dadaku, dengan tangisnya yang semakin kencang.

Sejak saat itu aku semakin dekat dengan Esther, tapi tetap aku menjaga hubungan kami itu dari karyawan lain. Dimana kalau kami sedang berdua, dia memanggilku dengan sebutan, "Mas". Tapi kalau ada karyawan lain dia tetap memanggilku, "Pak".

Sampai sebulan kemudian, aku ditemani Esther kerja lembur di kantor. Kurang lebih pukul 8 malam, aku istirahat sambil duduk di sofa yang ada di ruanganku. Saat itu Esther terlihat cantik dengan rok mini dipadu blazer coklatnya. "Mas, ayo cepet pulang, Rian kasian di rumah," rengeknya. Oh ya, Rian itu adalah putra dari suaminya dulu.
"Iya.. ya sebentar aku capek nih," aku menjawab sambil tersenyum, lalu kutarik tangannya agar duduk di sebelahku. Kami pun terlibat obrolan tentang masa lalunya, yang memancing tangisnya pecah lagi.
"Sudahlah, kamu berhak melanjutkan hidup kamu, jangan kamu sia-siakan, kamu masih punya tanggung jawab terutama dengan Rian, iya kan?" hiburku sambil memeluknya.
Perlahan kucium rambutnya yang harum itu, kukecup bibirnya. Esther pun membalas disertai air matanya yang masih menetes di pipinya. Entah kenapa aku semakin berani dengan mengecup lehernya, Esther pun hanya merintih kegelian, tapi dibiarkan saja aku terus menjelajahi seantero lehernya.

Tadinya aku berpikir, sudah sekian lama dia tidak mendapatkan sentuhan laki-laki masak sih dia tidak ada keinginan untuk itu? Sambil deg-degan tanganku mencoba meraih kancing blazernya. Yess! Ternyata dia hanya merintih, "Ouhh.. Mass.." malah tangannya meraba pahaku. Mendapat respon seperti itu aku menjadi kegirangan, satu-satu kubuka kancing blazernya, dan kulihat blouse dalamnya yang ternyata berwarna kuning juga, tapi sangat transparan, sehingga terlihat BH yang berwarna hitam itu menerawang di balik blouse-nya.

Kulihat matanya meredup seolah mengharap aku bertindak lebih jauh. "Iya sayang aku tau, kamu sudah lama kan tidak pernah mendapat sensasi seperti ini?" aku berkata dalam hati. Pelan-pelan kancing blouse itu kubuka, tidak sampai satu menit terbuka semua kancing itu. Entah pura-pura atau apa Esther tiba-tiba menutup blouse yang sudah terlanjur terbuka itu.
"Kenapa?" tanyaku keheranan.
"Hmm.. malu, malu Mas.." jawabnya.
"Aku tau sayang, kamu sebenarnya menginginkannya kan?" tanyaku yakin.
Dia cuma diam, dan tanpa menunggu jawaban dari Esther, perlahan kusingkirkan tangannya dari dua bukit kembar yang masih tertutup kain segitiga hitamnya. Sambil kembali aku melumat bibirnya kutelusupkan jariku di celah BH-nya. Dan, tanpa kesulitan kutemukan tonjolan daging di puncak buah dadanya yang ternyata sudah keras. Karena jari-jariku kejepit BH yang mungkin kesempitan buatnya, kupaksakan keluar buah dadanya yang kanan keluar dari balik BH-nya. Benar juga dugaanku, BH yang kutaksir 34 itu ternyata masih agak kesempitan, karena begitu bukit daging itu menyeruak keluar besarnya kurang lebih sebesar jeruk bali, dengan putingnya yang merah kehitaman.

"Mas dibuka saja, nanti BH-ku rusak," kata Esther tiba-tiba.
Pucuk dicinta ulam pun tiba! gumamku. Karena pengalamanku yang sudah menggauli sekian banyak wanita, kalau hanya membuka BH dengan satu tangan sih mudah saja. Dan, kedua buah dada Esther sekarang terpampang tepat di depan wajahku. "Boleh?" aku bertanya seolah minta ijin darinya. Esther hanya tersenyum, dan dua detik kemudian bibirku sudah menyentuh puting susunya sebelah kanan sedang tangan kananku beroperasi pada yang satunya. Perlahan kumainkan lidahku di tonjolan puting susunya sambil kutarik-tarik dengan bibirku. Sedang tanganku sibuk memilin-milin dan meremas buah dada yang satunya.

Tiba-tiba pecahlah rintihan nafsu keluar dari mulut Esther. "Ouuhh.. Mass.. terus.." Entah sadar atau karena kebiasaan dengan suaminya dulu, Esther mendaratkan tangannya di atas selangkanganku. Dan tanpa diminta dia langsung meremas-remas tonjolan di balik reitsleting celanaku. Kontan daging panjang di balik celanaku itu membengkak. Aku berpikir tidak adil, kalau dia sudah berani memegang kemaluanku, kenapa aku cuma di sekitar dadanya? Aku pun mengarahkan tanganku yang tadi memainkan buah dadanya, ke pahanya.

Entah karena refleks atau apa, Esther pun seperti membuka jalan dengan membuka kedua pahanya. Otomatis rok kuning mini miliknya ikut terkuak. Dari cuma mengelus pahanya, tanganku pun menjalar ke atas sampai menyentuh secarik kain yang menutupi bukit pubis di selangkangannya. Perlahan kuelus bukit kecil itu. "Mass.. Ouughh.." rintihan Esther terdengar semakin keras.

Sementara mulutku masih asyik mengulum dan mengenyot puting Esther, jemariku rasanya tidak betah kalau hanya mengelus secarik celana dalamnya. Kutelusupkan jari-jariku masuk dari pinggir celana dalam Esther yang ternyata berwarna hitam juga. Dan, begitu menyentuh daging di balik celana dalamnya, jari-jariku disambut dengan kehangatan dan kelembaban yang dikeluarkan oleh kemaluannya.

Ada tiga menit aku mengelus bibir kemaluan Esther, perlahan dari bawah ke atas, terus bergantian, sampai tiba-tiba saja dia berdiri dan, "Mas.. ehmm sebentar ya?" ternyata dia melorotkan sendiri celana dalamnya, lalu dibuang begitu saja di lantai. Aku hanya melongo memperhatikan kelakuannya, "Aku takut celanaku basah.." sahutnya malu-malu. Aku pun tersenyum dibuatnya. "Iya nih belum apa-apa sudah lengket tanganku." godaku. Wajah Esther merah sambil mencubit perutku.

"Curang! Mas Pram curang! celana Mas belum dibuka." gerutunya cemberut yang dibuat-buat.
"Ya udah, so mau kamu gimana?" tanyaku pura-pura nggak ngerti.
"Iiihh.. norak! Ayo dong dibuka!" rengeknya manja.
Aku cuma terkekeh dibuatnya, tapi aku pun menuruti kemauannya. Sambil dibantu Esther, celana panjangku akhirnya lepas. Sekarang aku cuma memakai celana dalam.
"Yang ini? Belum!" dia menunjuk ke arah celana dalamku.
"Usaha dong.." jawabku sekenanya. Tapi Esther cuma memandang tonjolan daging panjang yang masih tersimpan rapi di balik celana dalamku. Tangannya kembali menyentuh tonjolan tersebut. Diurut perlahan dari bawah ke atas, dan pada ujungnya dia memainkan jarinya sedemikian rupa sampai aku merem melek dibuatnya, "Hmm.. yahh.. ouffsshh.. pintar kamu Ther.." gantian aku dibuatnya merintih keenakan. Sementara mulut dan bibirnya memagut leherku dengan lembutnya.

Tidak lama kemudian, "Aku buka ya?" tanya Esther.
Aku cuma mengangguk, "Terserah kamu sshh.. mau diemut juga boleh.. oouuhh.." kataku disertai rintihan.

Sedetik kemudian mencuatlah batang kemaluanku dengan gagahnya. Sambil terus mengurut dan meremas-remas kemaluanku, Esther memuji kemaluanku, "Wahh.. pantas..!"
Aku heran, "Apanya yang pantas?"
"Nggak Mas, tapi jangan marah ya? Aku sering membayangkan itunya Mas Pram kalau lagi tegang, soalnya sering kalau ininya Mas Pram lagi tegang aku nggak sengaja ngeliat.." katanya sambil meremas agak kuat kemaluanku.
"Kan nggak kelihatan?" tanyaku heran.
"Iya! Tapi kelihatan kok kalau punya Mas Pram gedee.. banget! Menuh-menuhin bungkusnya. Tuh liat tuh sampe tanganku aja nggak muat megangnya." Sahutnya penuh nafsu yang tertahan.
"Apa lagi kalau.. kalau.. mm.." omongannya terputus.
"Apa..?" tanyaku penasaran.
"Nggak, apa lagi kalau.. masuk ke sini.." sambil tangannya menunjuk ke arah liang kemaluannya sendiri.
"Ke mana Sayang? hmm? ke sini?" sahutku sambil tanganku menyingkap roknya dan kembali meraba bukit kemaluan Esther yang tercukur rapi itu.
"Ssstt.. ouhh.. yahh.. oufsshh.." kembali dia merintih pelan.
"Kuemut ya Sayang?" tanpa menunggu jawaban dariku, Esther langsung membuka lebar mulutnya dan, "Ouuhh.. Godd!" aku merintih nikmat karena kepala kemaluanku sudah dalam jepitan bibir Esther yang terlihat seksi itu.

Sementara lidah Esther memainkan kepala kemaluanku, aku sibuk dengan jariku memainkan bagian puncak dari lubang kemaluannya, yang di situ bertengger daging kecil klitorisnya yang sudah amat tegang. Esther begitu mahir dengan permainan mulutnya yang naik turun yang mengeluar-masukkan batang kemaluanku di mulutnya. Aku terbuai dihempas badai kenikmatan dengan hisapan dan emutan Esther di seluruh kemaluanku. Sambil mataku tertutup, aku membayangkan, yahh.. pantas saja dia janda, tentu pintar membuat pasangannya kelonjotan begini! Tapi aku pun saat itu juga berpikir, aku pun juga piawai kalau hanya membuat wanita kelojotan.

Setelah 10 menit berlalu, kuangkat kepala Esther dan otomatis batang kemaluanku tercabut dari keganasan permainan mulut dan bibirnya. Kulihat batang kemaluanku basah oleh air liur Esther.
"Ada apa Mas? nggak enak ya?" tanyanya khawatir.
Aku tersenyum, "Nggak.. enak kok, tapi pengen gantian aja," jawabku singkat.
Esther masih keheranan dengan sikapku, lalu dia kusuruh merebahkan tubuhnya di sofa merah di ruanganku itu.
"Mau ngapain Mas.." tanya Esther belum hilang keheranannya, tapi dia mau menuruti kehendakku dengan merebahkan tubuhnya di sofa.
Aku cuma tersenyum lalu, "Coba deh ya?" jawabku.
Aku mulai mengecup lututnya yang terjuntai ke lantai, sementara rok mininya kutarik ke atas, hingga terpampanglah selangkangan Esther yang polos dan sangat menggairahkan itu. Perlahan kutelusuri paha kanannya dari lutut bagian luar kemudian masuk ke arah belakang lututnya terus merangkak naik. Lantas paha yang satunya pun tidak luput dari kecupan bibir dan jilatan lidahku, perlahan naik ke arah bukit kemaluannya disertai erangan dan rintihannya yang terputus-putus.

Seperti tersadar akan apa yang akan kulakukan, dia berujar, "Mas, ehh.. Mas.. jangan!" sambil kedua telapak tangannya menutupi selangkangannya dan kedua pahanya dirapatkan.
"Kenapa Sayang..?" tanyaku.
Dia bangkit, "Jangan Mas.. soalnya kan.." dia tidak melanjutkan kata-katanya.
"Kenapa.." aku menunggu jawabannya.
"Soalnya.. Soalnya punyaku bau.." jawabnya malu-malu.
"Masa sih? Mana sini aku cobain, bau apa nggak!" kataku sambil berusaha merebahkan tubuhnya kembali di sofa.

Kembali Esther menuruti kehendakku merebahkan tubuhnya di sofa, tapi selangkangannya masih tertutup rapat dan tangannya masih menelungkupi bagian kemaluannya. Kembali lidah dan bibirku menelusuri bagian atas pahanya, sampai akhirnya bibirku menyentuh tangannya yang tetap tidak mau minggir itu.

"Mas.. ouhh Mas.. jangan Mas.. punyaku bau Sayang.. jangan dong.. ouh sshh.. aku malu.." katanya sambil terus diiringi rintihannya.
"Hmm.." Aku cuma bergumam sambil terus menciumi tangannya. Perlahan namun pasti, akhirnya kedua telapak tangan Esther mau juga minggir dan berganti mengelus-elus pipiku. Sementara kedua pahanya masih tertutup rapat seolah belum mau memberi kesempatan pada lidahku untuk mencicipi lubang surga yang dimiliki Esther ini. Kusapu terus dengan lidahku daerah lipatan pubis Esther yang ditumbuhi bulu-bulu tercukur rapi itu. Mulai tercium aroma kemaluan wanita yang khas yang biasanya merebak jika wanita semacam Esther ini didera nafsu birahi yang hebat. Aku sangat yakin lubang kemaluan Esther ini pasti paling tidak sudah mengeluarkan beberapa tetes cairan pelumas.

Entah sadar atau tidak atau memang Esther sudah amat menginginkannya, dengan sedikit tenaga dari tanganku akhirnya perlahan terbuka juga kedua pahanya yang sudah 10 menit tertutup rapat. Dan semakin menyeruaklah bau harum yang khas yang dikeluarkan dan ditebarkan oleh cairan yang keluar dari lubang itu.

Kedua paha Esther belum terbuka maksimal, jadi bentuk kemaluannya masih terlihat garis lurus dengan bibir labia mayora di lubang kemaluannya masih menutupi misteri yang ada di situ. Sedikit demi sedikit kuresapi kebasahan yang melekat di bibir kemaluan Esther. Oh Tuhan, akhirnya aku bisa menikmati kemaluan Esther yang sudah sekian lama kuimpikan. Semakin lebar tanpa sadar Esther membuka pahanya, perlahan semakin terkuaklah bibir luar kemaluan Esther memperlihatkan lubang yang mulai menganga yang di atas pucuk kemaluan itu ada secuil daging kecil bertengger dengan indahnya seolah bergetar tak sabar menunggu keliaran dari lidah dan mulutku.

Dan, "Ouhh.. Mas.. God! Yahh..! esstthh.." dari mulut Esther pecah rintihan keras begitu lidahku menjelajahi bagian dalam lubang kemaluannya, terus kusentil klitoris yang sedari tadi mengharapkannya. Setiap milimeter apa yang ada di liang kemaluan Esther tidak ada yang terlewati, kujilat dan terus kujilati.

Sekarang jemari di tangan Esther hanya bisa mengelus rambutku. Esther tambah kelonjotan saat lidahku menerobos masuk ke dalam lubang kemaluannya dan menjilati tonjolan-tonjolan daging yang ada di dalam sana. Lalu kembali lidahku menjilati bibir bagian dalam kemaluannya terus ke atas sampai menyentuh klitorisnya. Ada 5 menit aku memainkan klitorisnya. Sementara erangan Esther makin keras dan tubuhnya semakin bergetar hebat. Aku pun mengimbanginya dengan mulai menggigit-gigit kecil bibir kemaluannya dengan bibir dan gigiku. "Mass.. kamu hebat Sayang.. ouuhh yess.. Godd.. terus.. ouuff.. Mas Pram.. sshh.. yaahh.. teruss Sayang.."

Kembali ke arah daging kecil itilnya, bibirku mulai menghisap klitoris Esther di dalam mulutku, sambil diemut-emut seperti layaknya ngemut permen. Klitoris yang ada di dalam mulutku itu kuemut dengan lembut sementara lidahku memainkannya di dalam. "Yahh.. teruss.. hisap itilku.. Ouuff ssh.. yang kuat Mass.. terus.. yahh begitu.. oouuhh Mas.. Mas Pramm.. aku belum pernah seenak ini Mass.. Aduuhh.. pintar banget sih Mass.. Godd.." rintihan Esther seperti memberi semangat buatku untuk terus menjilati dan menghisap itilnya lebih kuat.

Tubuh Esther berkelonjotan ke sana ke mari, sementara jari-jarinya menjambak rambutku, dan di sela-sela lidahku yang makin ganas dan liar menghisap dan mengemut klitorisnya, tiba-tiba, "Sruutt.. srutt.. gleekk.. sruutt.. sruutt.." entah dari mana datangnya tiba-tiba mulutku dibanjiri cairan yang begitu banyaknya sampai aku kewalahan untuk menghindarinya karena Esther sekarang bukan lagi menarik-narik rambutku, tapi malah berusaha membenamkan wajahku di lubang kemaluannya dengan menekan kuat kepalaku pada selangkangannya, sementara kedua pahanya menjepit kuat kepalaku. "Teruss.. Sayang.. aduhh.. yahh.. dikit lagi.. oouuhh Godd.. esshh.. sedikit lagi Mass.. aduuhh nikmat sekali.. esstt.. ouuff.."

"Sreett.. srr.. seerrtt.. glekk serr.. gllekk.." mau tidak mau cairan yang disemburkan dari lubang kemaluan Esther itu kutelan, karena memang kepalaku oleh Esther dibenamkan di liang kemaluannya serta dijepit dengan kuat oleh kedua pahanya. Entah sudah berapa kali Esther menyemburkan cairan kenikmatan yang keluar membanjir masuk ke dalam mulutku. Dan entah berapa kali aku menelannya. Karena setiap kuhisap klitorisnya, saat itu pula cairan itu menyembur kuat masuk ke dalam mulutku terus masuk ke dalam kerongkonganku yang berarti otomatis tertelan olehku.

Tapi entah kenapa aku begitu menyukai rasa cairan yang dikeluarkan oleh lubang kemaluan Esther ini, jadi aku malah tambah bernafsu untuk menghisap habis cairan yang terus membanjiri di dalam mulutku. Aroma cairan yang keluar dari kemaluan Esther ini sungguh beda dari wanita yang pernah kucicipi. Rasa dan aromanya begitu harum, gurih dan rasanya tidak ada rasa dan aroma cairan di dunia ini yang seenak dan segurih yang dimiliki Esther ini. Mungkin setelah sekitar 10 kali semburan, cairan itu tidak terlalu kuat lagi menyembur, hanya berupa tetesan saja.

Sementara itu Esther pun sedang menikmati multi orgasmenya yang panjang dengan rintihan dan erangan yang tidak putus-putusnya. Sampai 3 menit kemudian, dia pun mengendorkan jepitan pahanya di kepalaku dan melepaskan cengkeraman tangannya juga di kepalaku. Aku yang tadi sulit bernafas, sekarang bisa mengambil nafas lega, dan kupandangi lubang kemaluan Esther yang terlihat merah dan sangat basah, di situ masih terlihat tetesan cairan yang tadi begitu derasnya menyerbu mulutku. Kulihat juga sofa di bawah selangkangan Esther basah ternoda oleh sisa cairan yang masih terus menetes. Kupikir ketimbang mengotori sofaku, kutampung sisa cairan yang masih menetes itu dengan kembali menjilati lubang kemaluan Esther. Kontan Esther merengek, "Mass.. udah Sayang.. aduuhh.. Gelii.. oouuhh.. ouuff.. sstt.. Geli Sayang.. udah dong.. aduh enak Mas.. aduhh.. aku nafsu lagi nih.."

Kemudian dia menarik tubuhku dan langsung mencium bibirku dengan ganasnya, padahal di mulutku masih banyak sisa cairannya sendiri. Aku pun berusaha menolaknya, seperti mengetahui pikiranku, Esther menimpali, "Hmm.. enak juga cairanku ya Mas? Gurih ya?" dia terlihat mengecapkan mulutnya seperti mencicipi masakan yang luar biasa lezatnya. Aku pun menjawab, "Esther, betul-betul deh cairan kamu ini bener-bener luar biasa enaknya. Kayaknya nggak ada deh di dunia ini yang bisa menandingi kelezatan dan kegurihan yang dikeluarkan kemaluan kamu.." aku setengah merayu. Dia cuma memelukku manja, namun beberapa saat kemudian kulihat dari kedua mata Esther keluar air, (air mata?) "Aduuh Mas Pram, aku belum pernah mengalami sensasi yang barusan kamu berikan padaku, aku nggak mau pisah Mas.. jangan tinggalkan aku ya? Pleasee.. kawini aku, Mas.." dia berkata sambil sesunggukan berurai air mata, dan tangannya menyeka mulutku dengan tissue dari kebasahan yang tadi membanjiri mulutku.

Kulihat jam sudah pukul 9:30 malam, "Ayo sayang kita pulang, kasihan Rian menunggu kamu di rumah." bisikku.Lalu kami pun merapikan pakaian dan pulang menuju rumah Ester. Sejak saat itu Esther menjadi Sephiaku dan kami pun sering mengulangi kejadian tersebut hingga akhirnya kami berpisah karena Esther telah dinikahi oleh orang lain. Begitulah nasib manusia, jodoh benar-benar berada di Tangan yang Kuasa.

TAMAT

Mbak Lisna, Wanita Kesepian

Kisah berikut ini adalah sebuah kejadian nyata dan merupakan pengalaman yang tak mungkin dapat kulupakan seumur hidupku. Memang nama-nama tokoh dan tempat di alam kisah ini sengaja kusamarkan, tapi urutan kejadiannya bukanlah khayalan atau hasil rekaan imajinasiku semata. Ceritanya mengenai hubungan affair-ku dengan seorang wanita bersuami sekitar tahun 1995 yang lalu dan berlangsung selama 3,5 tahun.

Ketika itu usiaku 25 tahun dan aku bekerja pada sebuah perusahaan asing yang beroperasi di luar Jakarta selama 24 jam sehari, sehingga ada bagian tertentu di kantor pusat yang bertugas dalam 3 shift untuk memonitor kegiatan operasi di lapangan dan aku adalah salah satu pegawainya.

Pada suatu hari ketika sedang tugas malam, aku menerima telepon kesasar sampai 3 kali dari seorang wanita. Akhirnya karena jengkel, timbul keinginanku untuk iseng-iseng menggodanya serta mengajak berkenalan yang ternyata ditanggapinya dengan antusias sampai tidak terasa kami mengobrol selama 1,5 jam di telepon.

Wanita itu memperkenalkan namanya sebagai Lisna (aku memanggilnya Mbak Lis), berusia 34 tahun dan telah bersuami serta mempunyai tiga orang anak. Suaminya seorang pejabat di sebuah instansi pemerintah berusia 48 tahun yang menikahi Mbak Lis ketika dia berusia 18 tahun dan baru lulus SLTA. Anak pertamanya perempuan berusia 15 tahun.

Sejak saat itu aku tidak pernah lagi merasa jenuh dan sepi bila sedang tugas malam karena Mbak Lis sering meneleponku walau hanya sekadar untuk mengobrol saja. Menurut pengakuannya, Mbak Lis merasa kesepian karena sering ditinggal suaminya bertugas ke luar kota dan dia mengetahui suaminya punya simpanan di luar.

Sebagai orang dewasa, pembicaraan kami juga sering menyerempet hal-hal yang agak miring. Kalau sudah begitu, biasanya nada bicara Mbak Lis berubah menjadi sedikit berbisik berat seperti orang bangun tidur sementara aku enjoy dengan kesendirianku di ruang kantor yang dingin ber-AC.

Tak terasa tiga bulan sudah kami bertelepon ria tanpa pernah bertemu muka dan selama itu selalu dia yang meneleponku ke kantor ataupun ke rumah karena aku tidak pernah diberi nomor teleponnya (katanya dia takut ketahuan suaminya).

Suatu siang Mbak Lis menelepon ke rumahku dan mengajakku nonton film, mulanya aku ragu karena merasa belum siap untuk bertemu. Aku berdalih bahwa badanku masih letih karena habis tugas malam, tetapi Mbak Lis tetap memaksa dan meminta bertemu sorenya supaya aku bisa istirahat dulu. Aku lalu menyanggupinya karena tidak mau mengecewakan dia.

Jam 14:30 sehabis mandi, Mbak Lis meneleponku lagi dan kami janjian untuk bertemu di sebuah bioskop dengan tidak lupa memberitahukan ciri masing-masing. Sesampainya di bioskop aku sempat dibuat kesal karena tidak kujumpai wanita dengan ciri-ciri seperti yang dikatakan Mbak Lis, wah jangan-jangan dia mau ngerjain aku nih.

Setelah hampir 1 jam menunggu, tiba-tiba aku merasakan sebuah tepukan ringan di punggungku. Dan ketika aku berbalik, tampak Mbak Lis sudah berdiri di belakangku dengan senyumnya yang membuatku terpana.

"Bayu ya?" sapanya sambil mengulurkan tangan.
"Ya, mm.. Mbak Lis..?" aku balas bertanya agak tergagap sambil menyambut tangannya. Ah, betapa halus dan lembutnya tangan itu.
"Maaf ya terlambat, soalnya macet sih.." katanya kemudian.
"Nggak apa-apa kok Mbak, saya juga belum terlalu lama menunggu", jawabku berbohong sambil mataku tak lepas menatapnya. Rasa kesalku segera hilang setelah melihat Mbak Lis yang tampak anggun itu.

Sosok tubuh Mbak Lis sedang-sedang saja, tingginya 158 cm, berat sekitar 45 kg, kulitnya kuning halus dan rambut hitam bergelombang sebahu. Wajahnya ayu memancarkan kelembutan seorang ibu dan kalau berbicara ramah sekali dengan selalu diiringi senyum yang tak pernah lepas dari bibir mungilnya yang tipis. Dia tampak begitu anggun (dan seksi) dengan setelan blus ketat sutra hijau muda berlengan pendek dan celana panjang katun hijau lumut yang menampakkan bulu-bulu halus di tangannya dan lekuk tubuhnya yang sintal. Aku rasanya seperti kehilangan kata-kata untuk berbicara, sampai akhirnya Mbak Lis yang memulai lagi.
"Kita makan dulu yuk, kamu pasti belum makan. Kebetulan di dekat sini ada restoran ayam bakar yang enak lho", ajaknya sambil menggandeng tanganku.

Kami makan dengan santai sambil berbincang-bincang disertai gurauan yang kadang membuat kami tertawa terpingkal-pingkal. Kulihat Mbak Lis sudah bisa berbicara lebih lepas sehingga suasana kakupun berangsur-angsur hilang.

Sehabis makan kami kembali ke gedung bioskop dan setelah membeli tiket kami menyempatkan waktu untuk melihat gambar-gambar film yang ada di lobby bioskop sambil tetap bergandengan tangan. Tapi kali ini Mbak Lis lebih merapatkan tubuhnya ke tubuhku dengan cara memeluk lenganku bahkan terkadang dia bersikap lebih berani dengan memeluk pinggangku, secara refleks aku pun membalas dengan merangkul bahunya atau memeluk pinggulnya.

Sentuhan bagian depan tubuh Mbak Lis membuat naluri kejantananku tergugah, apalagi ketika kulihat kancing paling atas blus yang dikenakannya sudah terbuka (aku tidak tahu kapan dia membukanya). Tampak belahan sepasang bukit yang mulus mengintip dari balik BH-nya membuat darahku berdesir dan tatapan mataku seakan tak mau lepas darinya.

Ketika pengumuman tanda dimulainya jam pertunjukan terdengar, kami pun memasuki gedung bioskop untuk mencari tempat duduk yang sesuai dengan nomor kursi yang tertera di tiket (sengaja aku memilih tempat duduk di deret paling belakang). Mbak Lis duduk di sebelah kananku sambil tangan kirinya menggenggam dan sesekali meremas tangan kananku.

Tak lama kemudian lampu bioskop dipadamkan dan film dimulai, kami nonton dalam keadaan diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Kira-kira 10 menit berlalu, Mbak Lis menyandarkan kepalanya di bahuku dan tangan kanannya menarik tanganku ke wajahnya. Diusapkannya jari-jariku ke pipinya, ke telinganya lalu ke bibirnya sambil memberikan kecupan ringan di setiap jari-jariku. Ketika aku sedang menatap wajahnya yang tertunduk menciumi jari-jariku, Mbak Lis menengadah dan balas menatapku. Mata kami saling menatap dalam jarak yang sangat dekat, kemudian kuberanikan tanganku mengangkat dagunya dan mencium bibirnya yang tipis. Mbak Lis diam saja, tidak menolak dan juga tidak membalas ciumanku, bibirnya masih terkatup rapat. Aku jadi penasaran dan semakin nekat, kukecup lagi bibirnya dengan sekali-kali mengulumnya.

Akhirnya Mbak Lis bereaksi juga, bibirnya terkuak sedikit dan dia membalas ciumanku, lama sekali kami berciuman sampai kemudian Mbak Lis menghentikannya sambil mendesahkan namaku serta meremas dan menarik kembali tanganku ke bibirnya. Tapi kali ini Mbak Lis tidak hanya menciumi jari-jariku, dia juga mulai memasukkan jariku ke dalam mulutnya dan mengulumnya dengan disertai jilatan-jilatan halus dan gigitan nakal.

"Mbak jadi gemas, Bay", bisiknya.
"Mbak yang bikin gemas", bisikku sambil mengecup daun telinganya. Mbak Lis menggelinjang kegelian, membuatku semakin bergairah menciumi daerah sensitif di sekitar telinga dan lehernya itu.
"Aaahh Bayu.." Mbak Lis mendesah lagi.
"Kamu bandel.."
"Tapi suka kan..?" kataku sambil merengkuh wajahnya dan mendaratkan ciuman di bibirnya. Kali ini Mbak Lis membalas ciumanku dengan bergairah sambil memainkan lidahnya di dalam mulutku, sehingga lidah kami saling berpagutan. Tangan Mbak Lis mulai meremas dadaku. Aku pun tak mau kalah, kuusapkan tangan kiriku pada daerah-daerah sensitif di telinganya, lehernya dan terus turun sampai ke dadanya lalu menyusup ke dalam blusnya.

"Hmm.." terdengar Mbak Lis menggumam dalam kuluman bibirku.
"Ouuhh.. uuhh.." desahnya sambil tangannya mencengkeram leher bajuku ketika kuremas dadanya dan kuraba puting susunya dari balik BH.
"Masukin tangannya, sayang.." kata Mbak Lis sambil membuka satu lagi kancing blusnya. Kusingkap BH-nya dan kurogoh dadanya yang kenyal, sementara tangan kanan Mbak Lis mulai merambat turun ke perutku dan turun terus sampai ke selangkanganku. Diremas-remasnya batang kemaluanku yang sudah tegang dari luar celana sambil mengerang dan mendesah sementara bibir kami terus berciuman dan mengulum lidah. Kupilin puting susu Mbak Lis dengan jari-jariku sambil meremas dadanya. Ooh.. ingin sekali rasanya aku menciumi dada itu serta menghisap dan menjilati putingnya. Tangan Mbak Lis pun makin bergairah mengusap dan meremas selangkanganku.

"Buka dong Bay.." desah Mbak Lis sambil berusaha untuk membuka zipper celanaku. Kulepaskan pelukanku untuk membantunya membuka kait ikat pinggangku, lalu dengan sigap Mbak Lis memasukkan tangannya ke dalam celanaku dan melanjutkan meremas batang kemaluanku yang masih tertutup celana dalam. Sesekali tangannya merogoh lebih dalam untuk meremas biji-biji kemaluanku. Uuhh.. nikmatnya.

Mbak Lis lalu menyandarkan kepalanya di dadaku, disingkapnya celana dalamku ke bawah sehingga batang kemaluanku kini terbebas dan mengacung seutuhnya seakan memperlihatkan kesiagaannya. Kurasakan kehangatan tangan Mbak Lis ketika mencengkeram batang kemaluanku, meremasnya dan mengusap-usapkan ibu jarinya pada kepala batang kemaluanku, membuatku mendesis menahan rasa geli yang mengalirkan nikmat di sekujur tubuhku.

"Hmm.." kudengar Mbak Lis beberapa kali menggumam sambil memperhatikan dan mengurut batang kemaluanku yang berkedut-kedut dalam genggamannya. Kurasakan kepala Mbak Lis yang pelan-pelan bergerak turun untuk menghampiri batang kemaluanku, rupanya Mbak Lis sudah tidak dapat menahan keinginannya untuk memenuhi ajakan batang kemaluanku yang tegak menantangnya. "Jangan Mbak.." bisikku sambil menahan gerakan turun kepala Mbak Lis karena kusadari situasi di dalam bioskop tidak memungkinkan kami untuk lebih dari sekedar melakukan pekerjaan tangan. Mbak Lis lalu menengadahkan wajahnya menatapku.

"Bayu.. please.." Mbak Lis mendesah meminta persetujuanku dengan tatapan mata sayu sambil tangannya terus mengurut kejantananku.
"Jangan Mbak.. dikocok saja.." balasku sambil menaikkan kaki ke sandaran kursi di depanku yang kebetulan kosong untuk memudahkan Mbak Lis meng-eksploitasi batang kemaluanku. Kurengkuh wajah Mbak Lis dengan tangan kiriku dan kucium bibirnya yang merekah di hadapanku sementara tangan kananku memeluk bahunya. Kami berciuman lama sekali dengan saling memilin lidah di dalam mulut. Kurasakan tangan Mbak Lis semakin intens meremas dan mengocok batang kemaluanku, sementara mulutnya sesekali menggumam dalam pagutanku ketika dirasakannya tanganku mengelus daerah sensitif di belakang telinganya.

Tangan kiriku kini sibuk membuka kancing blus yang dikenakan Mbak Lis dan menyusup ke dalamnya, meremas dadanya yang kenyal serta mempermainkan puting susunya dengan jari-jariku. Mbak Lis merubah posisi duduknya dengan bersandar di dadaku dan memindahkan kendali atas batang kemaluanku ke tangan kirinya. Didekapkannya kedua tanganku di dadanya sehingga aku lebih leluasa meremas kedua dadanya yang kini telah terbuka karena BH-nya telah kusingkapkan ke atas serta memilin kedua puting susunya yang telah mengeras.

"Aaahh.. oouuhh.." Mbak Lis medesah dan kemudian kulihat tangan kanannya bergerak ke bawah menggosok-gosok selangkangannya dan tangan kirinya semakin keras mencengkeram batang kemaluanku sambil mengusap kepala kejantananku dengan ibu jarinya. Kurasakan aliran darah di selangkanganku bertambah cepat dan deras, menimbulkan sensasi kenikmatan yang tak terbayangkan.
"Mbak nggak tahan, Bayu.." desahnya sambil menarik satu tanganku ke mulutnya dan kemudian menjilati dan mengulum jariku dengan penuh nafsu.

Akhirnya puncak sensasi itu datang juga ketika kurasakan kawah di selangkanganku menggelegar ingin memuntahkan laharnya. Kutarik tanganku dari dada Mbak Lis dan kucengkeram tangannya yang sedang mengocok batang kemaluanku. Serasa tak sabar, kubantu Mbak Lis mengocok batang kemaluanku lebih kencang. Dan akhirnya.. "Ooouuhh.." aku mendesah tertahan ketika kurasakan batang kemaluanku mengejang kemudian berkedut-kedut memuntahkan cairan kenikmatan yang menyemprot berkali-kali membasahi tangan kami.

"Ooouuhh.. enak sekali Mbak.." kataku sambil melepaskan nafas panjang ketika kurasakan puncak kenikmatanku mereda, batang kemaluanku telah berhenti memuntahkan cairannya dan tinggal menyisakan lelehannya yang kemudian diratakan oleh Mbak Lis dengan jari telunjuk ke seluruh permukaan kepala batang kemaluanku.

Tanpa mengucapkan kata-kata, Mbak Lis sejenak beralih dari pelukanku untuk mengambil tissue dari dalam tasnya. Kemudian sambil kembali bersandar di lenganku, dengan telaten disekanya batang kemaluanku mulai dari kepala sampai ke batang dan pangkalnya. Ah, sejuk sekali kurasakan usapannya. Lalu dilanjutkannya menyeka tanganku dan tangannya sendiri yang terkena semprotan spermaku dengan lembar tissue lainnya.

Mbak Lis lalu mengecup bibirku dengan mesra, tidak kurasakan birahi di kecupannya yang begitu lembut. Seakan telah terlupakan terpaan hawa nafsu yang baru kami alami bersama. Aku kagum padanya, begitu cepat Mbak Lis menetralisir emosinya. Kami lama terdiam sambil berpelukan setelah sama-sama merapikan pakaian yang acak-acakan.

Ketika film berakhir dan lampu bioskop telah dinyalakan, kami saling berpandangan seakan tidak percaya dengan apa yang baru dilakukan. Segera kami berdiri dan bersiap untuk meninggalkan gedung bioskop, sampai kemudian Mbak Lis menahanku dan memandang geli ke arahku.

"Kamu seperti ngompol.." katanya sambil tertawa kecil dan menunjuk celanaku. Dengan penasaran aku menunduk dan ketika menyadari apa yang ditunjuk oleh Mbak Lis, aku pun tersenyum kecut menahan geli dan malu. Ternyata semburan spermaku begitu kuat sehingga ada yang kesasar keluar dan meninggalkan noda basah di celanaku.

"Mbak sih.. sudah ah, nggak usah dibahas", kataku sambil mencubit pinggang Mbak Lis dan mendorongnya perlahan keluar bioskop.
"Mbak antar kamu pulang ya?" kata Mbak Lis sesampainya kami di luar bioskop.
"Nggak usah Mbak, saya mau langsung ke kantor saja", balasku.
"Kalau begitu Mbak antar kamu ke kantor boleh kan, please.." desak Mbak Lis. Aku tak dapat menolak dan hanya mengangguk, Mbak Lis lalu menyerahkan kunci mobil dan memintaku untuk mengemudikan mobilnya.

Di dalam mobil kami tidak banyak berbicara, seakan terlarut dalam perasaan masing-masing. Mbak Lis menyandarkan kepalanya di bahuku sambil memeluk dan mengelus-elus lenganku. Tak terasa kami telah memasuki halaman gedung kantorku. Sebelum aku meninggalkan mobil, Mbak Lis kembali mencium mesra bibirku.

"Maaf Bayu, jangan kapok ya?" kata Mbak Lis sambil mengelus pipiku.
"Apanya yang kapok?" balasku sambil mengedipkan mata dan perlahan-lahan keluar dari mobil.
"Kamu bandel.." kata Mbak Lis mencubit lenganku.
"Nanti malam Mbak temanin ya?" Mbak Lis menyambung sambil menarik bajuku dan kami pun kembali berciuman di jendela mobil.

Itulah kisah perkenalanku dengan Mbak Lis yang juga merupakan awal dari affair-ku dengannya yang kemudian berlangsung lebih seru dan lebih panas.

TAMAT

Jumat, 19 Oktober 2007

Andani Citra: Akibat Berenang Bugil

Hari itu, sekitar jam 12 siang, aku baru saja tiba di vilaku di puncak. Pak Joko, penjaga vilaku membukakan pintu garasi agar aku bisa memarkirkan mobilku. Pheew.. akhirnya aku bisa melepaskan kepenatan setelah seminggu lebih menempuh UAS. Aku ingin mengambil saat tenang sejenak, tanpa ditemani siapapun, aku ingin menikmatinya sendirian di tempat yang jauh dari hiruk pikuk ibukota. Agar aku lebih menikmati privacy-ku maka kusuruh Pak Joko pulang ke rumahnya yang memang di desa sekitar sini. Pak Joko sudah bekerja di tempat ini sejak papaku membeli vila ini sekitar 7 tahun yang lalu, dengan keberadaannya, vila kami terawat baik dan belum pernah kemalingan. Usianya hampir seperti ayahku, 50-an lebih, tubuhnya tinggi kurus dengan kulit hitam terbakar matahari. Aku daridulu sebenarnya berniat mengerjainya, tapi mengingat dia cukup loyal pada ayahku dan terlalu jujur, maka kuurungkan niatku.

"Punten Neng, kalau misalnya ada perlu, Bapak pasti ada di rumah kok, tinggal dateng aja" pamitnya.
Setelah Pak Joko meninggalkanku, aku membereskan semua bawaanku. Kulempar tubuhku ke atas kasur sambil menarik nafas panjang, lega sekali rasanya lepas dari buku-buku kuliah itu. Cuaca hari itu sangat cerah, matahari bersinar dengan diiringi embusan angin sepoi-sepoi sehingga membuat suasana rileks ini lebih terasa. Aku jadi ingin berenang rasanya, apalagi setelah kulihat kolam renang di belakang airnya bersih sekali, Pak Joko memang telaten merawat vila ini. Segera kuambil perlengkapan renangku dan menuju ke kolam.

Sesampainya disana kurasakan suasanya enak sekali, begitu tenang, yang terdengar hanya kicauan burung dan desiran air ditiup angin. Tiba-tiba muncul kegilaanku, mumpung sepi-sepi begini, bagimana kalau aku berenang tanpa busana saja, toh tidak ada siapa-siapa lagi disini selain aku lagipula aku senang orang mengagumi keindahan tubuhku. Maka tanpa pikir panjang lagi, aku pun melepas satu-persatu semua yang menempel di tubuhku termasuk arloji dan segala perhiasan sampai benar-benar bugil seperti waktu baru dilahirkan. Setelah melepas anting yang terakhir menempel di tubuhku, aku langsung terjun ke kolam. Aahh.. enak sekali rasanya berenang bugil seperti ini, tubuh serasa lebih ringan. Beberapa kali aku bolak-balik dengan beberapa gaya kecuali gaya kupu-kupu (karena aku tidak bisa, hehe..)

20 menit lamanya aku berada di kolam, akupun merasa haus dan ingin istirahat sebentar dengan berjemur di pinggir kolam. Aku lalu naik dan mengeringkan tubuhku dengan handuk, setelah kuambil sekaleng coca-cola dari kulkas, aku kembali lagi ke kolam. Kurebahkan tubuhku pada kursi santai disana dan kupakai kacamata hitamku sambil menikmati minumku. Agar kulitku yang putih mulus ini tidak terbakar matahari, kuambil suntan oilku dan kuoleskan di sekujur tubuhku hingga nampak berkilauan. Saking enaknya cuaca di sini membuatku mengantuk, hingga tak terasa aku pun pelan-pelan tertidur. Di tepi kolam itu aku berbaring tanpa sesuatu apapun yang melekat di tubuhku, kecuali sebuah kacamata hitam. Kalau saja saat itu ada maling masuk dan melihat keadaanku seperti itu, tentu aku sudah diperkosanya habis-habisan.

Ditengah tidurku aku merasakan ada sesuatu yang meraba-raba tubuhku, tangan itu mengelus pahaku lalu merambat ke dadaku. Ketika tangan itu menyentuh bibir kemaluanku tiba-tiba mataku terbuka dan aku langsung terkejut karena yang kurasakan barusan ternyata bukan sekedar mimpi. Aku melihat seseorang sedang menggerayangi tubuhku dan begitu aku bangun orang itu dengan sigapnya mencengkram bahuku dan membekap mulutku dengan tangannya, mencegah agar aku tidak menjerit. Aku mulai dapat mengenali orang itu, dia adalah Taryo, si penjaga vila tetangga, usianya sekitar 30-an, wajahnya jelek sekali dengan gigi agak tonggos, pipinya yang cekung dan matanya yang lebar itu tepat di depan wajahku.
"Sstt.. mendingan Neng nurut aja, di sini udah ga ada siapa-siapa lagi, jadi jangan macam-macam!" ancamnya
Aku mengangguk saja walau masih agak terkejut, lalu dia pelan-pelan melepaskan bekapannya pada mulutku
"Hehehe.. udah lama saya pengen ngerasain ngentot sama Neng!" katanya sambil matanya menatapi dadaku
"Ngentot ya ngentot, tapi yang sopan dong mintanya, gak usah kaya maling gitu!" kataku sewot.

Ternyata tanpa kusadari sejak berenang dia sudah memperhatikanku dari loteng vila majikannya dan itu sering dia lakukan daridulu kalau ada wanita berenang di sini. Mengetahui Pak Joko sedang tidak di sini dan aku tertidur, dia nekad memanjat tembok untuk masuk ke sini. Sebenarnya aku sedang tidak mood untuk ngeseks karena masih ingin istirahat, namun elusannya pada daerah sensitifku membuatku BT (birahi tinggi).
"Heh, katanya mau merkosa gua, kok belum buka baju juga, dari tadi pegang-pegang doang beraninya!" tantangku.
"Hehe, iya Neng abis tetek Neng ini loh, montok banget sampe lupa deh" jawabnya seraya melepas baju lusuhnya.
Badannya lumayan jadi juga, walaupun agak kurus dan dekil, penisnya yang sudah tegang cukup besar, seukuran sama punyanya si Wahyu, tukang air yang pernah main denganku (baca Tukang Air, Listrik, dan Bangunan).

Dia duduk di pinggir kursi santai dan mulai menyedot payudaraku yang paling dikaguminya, sementara aku meraih penisnya dengan tanganku serta kukocok hingga kurasakan penis itu makin mengeras. Aku mendesis nikmat waktu tangannya membelai vaginaku dan menggosok-gosok bibirnya.
"Eenghh.. terus Tar.. oohh!" desahku sambil meremasi rambut Taryo yang sedang mengisap payudaraku.
Kepalanya lalu pelan-pelan merambat ke bawah dan berhenti di kemaluanku. Aku mendesah makin tidak karuan ketika lidahnya bermain-main di sana ditambah lagi dengan jarinya yang bergerak keluar masuk. Aku sampai meremas-remas payudara dan menggigit jariku sendiri karena tidak kuat menahan rasanya yang geli-geli enak itu hingga akhirnya tubuhku mengejang dan vaginaku mengeluarkan cairan hangat. Dengan merem melek aku menjambak rambut si Taryo yang sedang menyeruput vaginaku. Perasaan itu berlangsung terus sampai kurasakan cairanku tidak keluar lagi, barulah Taryo melepaskan kepalanya dari situ, nampak mulutnya basah oleh cairan cintaku.

Belum beres aku mengatur nafasku yang memburu, mulutku sudah dilumatnya dengan ganas. Kurasakan aroma cairan cintaku sendiri pada mulutnya yang belepotan cairan itu. Aku agak kewalahan dengan lidahnya yang bermain di rongga mulutku, masalahnya nafasnya agak bau, entah bau rokok atau jengkol. Setelah beberapa menit baru aku bisa beradapatasi, kubalas permainan lidahnya hingga lidah kami saling membelit dan mengisap. Cukup lama juga kami berpagutan, dia juga menjilati wajahku yang halus tanpa jerawat sampai wajahku basah oleh liurnya.
"Gua ga tahan lagi Tar, sini gua emut yang punya lu" kataku.
Si Taryo langsung bangkit dan berdiri di sampingku menyodorkan penisnya. Masih dalam posisi berbaring di kursi santai, kugenggam benda itu, kukocok dan kujilati sejenak sebelum kumasukkan ke mulut.

Mulutku terisi penuh oleh penisnya, itu pun tidak menampung seluruhnya paling cuma masuk 3/4nya saja. Aku memainkan lidahku mengitari kepala penisnya yang mirip helm itu, terkadang juga aku menjilati lubang kencingnya sehingga tubuh pemiliknya bergetar dan mendesah-desah keenakan. Satu tangannya memegangi kepalaku dan dimaju-mundurkannya pinggulnya sehingga aku gelagapan.
"Eemmpp.. emmphh.. nngg..!" aku mendesah tertahan karena nyaris kehabisan nafas, namun tidak dipedulikannya. Kepala penis itu berkali-kali menyentuh dinding kerongkonganku. Kemudian kurasakan ada cairan memenuhi mulutku. Aku berusaha menelan cairan itu, tapi karena banyaknya cairan itu meleleh di sekitar bibirku. Belum habis semburannya, dia menarik keluar penisnya, sehingga semburan berikut mendarat disekujur wajahku, kacamata hitamku juga basah kecipratan maninya.

Kulepaskan kacamata hitam itu, lalu kuseka wajahku dengan tanganku. Sisa-sisa sperma yang menempel di jariku kujilati sampai habis. Saat itu mendadak pintu terbuka dan Pak Joko muncul dari sana, dia melongo melihat kami berdua yang sedang bugil. Aku sendiri sempat kaget dengan kehadirannya, aku takut dia membocorkan semua ini pada ortuku.
"Eehh.. maaf Neng, Bapak cuma mau ngambil uang Bapak di kamar, ga tau kalo Neng lagi gituan" katanya terbata-bata.
Karena sudah tanggung, akupun nekad menawarkan diriku dan berjalan ke arahnya.
"Ah.. ga apa-apa Pak, mending Bapak ikutan aja yuk!" godaku.
Jakunnya turun naik melihat kepolosan tubuhku, meskipun agak gugup matanya terus tertuju ke payudaraku. Aku mengelus-elus batangnya dari luar membuatnya terangsang.

Akhirnya dia mulai berani memegang payudaraku, bahkan meremasnya. Aku sendiri membantu melepas kancing bajunya dan meraba-raba dadanya.
"Neng, tetek Neng gede juga yah.. enak yah diginiin sama Bapak?" Sambil tangannya terus meremasi payudaraku.
Dalam posisi memeluk itupun aku perlahan membuka celana panjangnya, setelah itu saya turunkan juga celana kolornya. Nampaklah kemaluannya yang hitam menggantung, jari-jariku pun mulai menggenggamnya. Dalam genggamanku kurasakan benda itu bergetar dan mengeras. Pelan-pelan tubuhku mulai menurun hingga berjongkok di hadapannya, tanpa basa-basi lagi kumasukkan batang di genggamanku itu ke mulut, kujilati dan kuemut-emut hingga pemiliknya mengerang keenakan
"Wah, Pak Joko sama majikan sendiri aja malu-malu!" seru si Taryo yang memperhatikan Pak Joko agak grogi menikmati oral seks-ku.

Taryo lalu mendekati kami dan meraih tanganku untuk mengocok kemaluannya. Secara bergantian mulut dan tanganku melayani kedua penis yang sudah menegang itu. Tidak puas hanya menikmati tanganku, sesaat kemudian Taryo pindah ke belakangku, tubuhku dibuatnya bertumpu pada lutut dan kedua tanganku. Aku mulai merasakan ada benda yang menyeruak masuk ke dalam vaginaku. Seperti biasa, mulutku menganga mengeluarkan desahan meresapi inci demi inci penisnya memasuki vaginaku. Aku disetubuhinya dari belakang, sambil menyodok, kepalanya merayap ke balik ketiak hingga mulutnya hinggap pada payudaraku. Aku menggelinjang tak karuan waktu puting kananku digigitnya dengan gemas, kocokanku pada penis Pak Joko makin bersemangat.

Rupanya aku telah membuat Pak Joko ketagihan, dia jadi begitu bernafsu memperkosa mulutku dengan memaju-mundurkan pinggulnya seolah sedang bersetubuh. Kepalaku pun dipeganginya dengan erat sampai kesempatan untuk menghirup udara segar pun aku tidak ada. Akhirnya aku hanya bisa pasrah saja disenggamai dari dua arah oleh mereka, sodokan dari salah satunya menyebabkan penis yang lain makin menghujam ke tubuhku. Perasaan ini sungguh sulit dilukiskan, ketika penis si Taryo menyentuh bagian terdalam dari rahimku dan ketika penis Pak Joko menyentuh kerongkonganku, belum lagi mereka terkadang memainkan payudara atau meremasi pantatku. Aku serasa terbang melayang-layang dibuatnya hingga akhirnya tubuhku mengejang dan mataku membelakak, mau menjerit tapi teredam oleh penis Pak Joko. Bersamaan dengan itu pula genjotan si Taryo terasa makin bertenaga. Kami pun mencapai orgasme bersamaan, aku dapat merasakan spermanya yang menyembur deras di dalamku, dari selangkanganku meleleh cairan hasil persenggamaan.

Setelah mencapai orgasme yang cukup panjang, tubuhku berkeringat, mereka agaknya mengerti keadaanku dan menghentikan kegiatannya.
"Neng, boleh ga Bapak masukin anu Bapak ke itunya Neng?" tanya Pak Joko lembut.
Saya cuma mengangguk, lalu dia bilang lagi, "Tapi Neng istirahat aja dulu, kayanya Neng masih cape sih".
Aku turun ke kolam, dan duduk berselonjor di daerah dangkal untuk menyegarkan diriku. Mereka berdua juga ikut turun ke kolam, Taryo duduk di sebelah kiriku dan Pak Joko di kananku. Kami mengobrol sambil memulihkan tenaga, selama itu tangan jahil mereka selalu saja meremas atau mengelus dada, paha, dan bagian sensitif lainnya. Yang satu ditepis yang lain hinggap di bagian lainnya, lama-lama ya aku biarkan saja, lagipula aku menikmatinya kok.

"Neng, Bapak masukin sekarang aja yah, udah ga tahan daritadi belum rasain itunya Neng" kata Pak Joko mengambil posisi berlutut di depanku.
Dia kemudian membuka pahaku setelah kuanggukan kepala merestuinya, dia arahkan penisnya yang panjang dan keras itu ke vaginaku, tapi dia tidak langsung menusuknya tapi menggesekannya pada bibir kemaluanku sehingga aku berkelejotan kegelian dan meremas penis Taryo yang sedang menjilati leher di bawah telingaku.
"Aahh.. Pak cepet masukin dong, udah kebelet nih!" desahku tak tertahankan.
Aku meringis saat dia mulai menekan masuk penisnya. Kini vaginaku telah terisi oleh benda hitam panjang itu dan benda itu mulai bergerak keluar masuk memberi sensasi nikmat ke seluruh tubuh.

"Wah.. seret banget memeknya Neng, kalo tau gini udah dari dulu Bapak entotin" ceracaunya.
"Brengsek juga lu, udah bercucu juga masih piktor, gua kira lu alim" kataku dalam hati.
Setelah 15 menit dia genjot aku dalam posisi itu, dia melepas penisnya lalu duduk berselonjor dan manaikkan tubuhku ke penisnya. Dengan refleks akupun menggenggam penis itu sambil menurunkan tubuhku hingga benda itu amblas ke dalamku. Dia memegangi kedua bongkahan pantatku yang padat berisi itu, secara bersamaan kami mulai menggoyangkan tubuh kami. Desahan kami bercampur baur dengan bunyi kecipak air kolam, tubuhku tersentak-sentak tak terkendali, kepalaku kugelengkan kesana-kemari, kedua payudaraku yang terguncang-guncang tidak luput dari tangan dan mulut mereka. Pak Joko memperhatikan penisnya sedang keluar masuk di vagina seorang gadis 21 tahun, anak majikannya sendiri, sepertinya dia tak habis pikir betapa untungnya berkesempatan mencicipi tubuh seorang gadis muda yang pasti sudah lama tidak dirasakannya.

Goyangan kami terhenti sejenak ketika Taryo tiba-tiba mendorong punggungku sehingga pantatku semakin menungging dan payudaraku makin tertekan ke wajah Pak Joko. Taryo membuka pantatku dan mengarahkan penisnya ke sana
"Aduuh.. pelan-pelan Tar, sakit tau.. aww!" rintihku waktu dia mendorong masuk penisnya.
Bagian bawahku rasanya sesak sekali karena dijejali dua batang penis besar. Kami kembali bergoyang, sakit yang tadi kurasakan perlahan-lahan berubah menjadi rasa nikmat yang menjalari tubuhku. Aku menjerit sejadi-jadinya ketika Taryo menyodok pantatku dengan kasar, kuomeli dia agar lebih lembut dikit. Bukannya mendengar, Taryo malah makin buas menggenjotku. Pak Joko melumat bibirku dan memainkan lidahnya di dalam mulutku agar aku tidak terlalu ribut.

Hal itu berlangsung sekitar 20 menit lamanya sampai aku merasakan tubuhku seperti mau meledak, yang dapat kulakukan hanya menjerit panjang dan memeluk Pak Joko erat-erat sampai kukuku mencakar punggungnya. Selama beberapa detik tubuhku menegang sampai akhirnya melemas kembali dalam dekapan Pak Joko. Namun mereka masih saja memompaku tanpa peduli padaku yang sudah lemas ini. Erangan yang keluar dari mulutku pun terdengar makin tak bertenaga. Tiba-tiba pelukan mereka terasa makin erat sampai membuatku sulit bernafas, serangan mereka juga makin dahsyat, putingku disedot kuat-kuat oleh Pak Joko, dan Taryo menjambak rambutku. Aku lalu merasakan cairan hangat menyembur di dalam vagina dan anusku, di air nampak sedikit cairan putih susu itu melayang-layang. Mereka berdua pun terkulai lemas diantara tubuhku dengan penis masih tertancap.

Setelah sisa-sisa kenikmatan tadi mereda, akupun mengajak mereka naik ke atas. Sambil mengelap tubuhku yang basah kuyup, aku berjalan menuju kamar mandi. Eh.. ternyata mereka mengikutiku dan memaksa ikut mandi bersama. Akhirnya kuiyakan saja deh supaya mereka senang. Disana aku cuma duduk, merekalah yang menyiram, menggosok, dan menyabuniku tentunya sambil menggerayangi. Bagian kemaluan dan payudaraku paling lama mereka sabuni sampai aku menyindir
"Lho.. kok yang disabun disitu-situ aja sih, mandinya ga beres-beres dong, dingin nih" disambut gelak tawa kami.
Setelah itu, giliran akulah yang memandikan mereka, saat itulah nafsu mereka bangkit lagi, akupun kembali digarap di kamar mandi.

Hari itu aku dikerjai terus-menerus oleh mereka sampai mereka menginap dan tidur denganku di ranjang spring bed-ku. Sejak itu kalau ada sex party di vila ini, mereka berdua selalu diajak dengan syarat jangan sampai rahasia ini bocor. Aku senang karena ada alat pemuas hasratku, mereka pun senang karena bisa merasakan tubuhku dan teman-teman kuliahku yang masih muda dan cantik. Jadi ada variasi dalam kehidupan seks kami, tidak selalu main sama teman-teman cowok di kampus. Lain hari aku akan menceritakan bagaimana jahilnya aku mengerjai teman-teman kuliahku sehingga mereka jatuh ke tangan Pak Joko dan Taryo dan juga pengalaman-pengalamanku lainnya, harap sabar yah, soalnya kan aku juga sibuk, tidak bisa terus-terusan menulis di 17Tahun.com.

E N D

Malam Jahanam

Aku tersadar dan menemukan diriku sudah terikat di kursi di ruangan tengah rumah peristirahatan di Puncak. Aku dan beberapa teman berserta istri mereka sedang ber-weekend di puncak. Istriku, Diah sedang kembali ke Jakarta mengambil beberapa keperluan yang tertinggal. Sedangkan aku sendiri baru pulang berjalan-jalan sendiri, sekitar pukul 7 malam ketika sebuah pukulan mendarat di kepalaku tepat ketika aku akan membuka pintu.

Di tengah ruangan ada dua orang berdiri mengawasiku. Yang satu berkulit penuh tato, dan yang satu berbadan kekar.
"Hei, lo sudah bangun. Bagus jadi lo bisa liat bagaimana kita mainin istri lo sekarang!" kata si Tato.
Diah! Diah akan pulang sebentar lagi. Hampir bersamaan, terdengar kunci pintu depan diputar dan Diah masuk ke ruang depan. Si Kekar langsung mendekati dia sebelum Diah sadar apa yang terjadi. Diah terkejut dan berusaha melepaskan pelukan si Kekar. Kakinya menendang-nendang. Tapi pelukan si Kekar tidak dapat dilepaskannya. Kemudian ia melihat si Tato, berdiri disampingku dengan pisau panjang di leherku.
"Diem atau dia mati!" katanya.
Diah langsung berhenti meronta-ronta. Sementara itu si Kekar sekarang menekuk tangannya ke belakang.
"Ka, kalian mau apa?"

Si Tato berjalan mendekati Diah tanpa menjawab. Kemudian ia menarik dan merobek t-shirt yang dikenakan oleh Diah. Nafas Diah tersentak ketika dengan cepat si Tato dengan pisaunya melucuti BH dan celana jeans yang dikenakannya. Sekarang Diah berdiri di tengah ruangan hanya dengan memakai celana dalamnya. Payudaranya yang penuh bulat terbuka, demikian juga dengan tubuhnya yang putih mulus, tidak tertutup selembar benangpun. Diah baru berumur 25 tahun, dan kami baru menikan 3 bulan yang lalu.
"Ampun, jangan.." Diah meronta sambil memandangku putus asa.
"Diem brengsek!" kata si Tato.

Kemudian ia menyeret Diah ke depan kamar mandi, dan ia meletakan kedua tangan Diah pada kusen pintu kamar mandi sehingga Diah berdiri dengan bertumpu ke depan dengan kedua tangannya. Kemudian si Tato melebarkan kaki Diah. Diah sekarang berdiri dengan kaki terbuka di depan kamar mandi, dan tepat di hadapannya terdapat kaca rias, setinggi tubuh manusia. Kaca itu biasanya digunakan Diah untuk mencoba baju-baju yang baru dibelinya. Si Tato lalu merobek celana dalam Diah dan menjatuhkannya ke lantai. Sekarang Diah bisa melihat dirinya melalui cermin di depannya telanjang bulat, dan di belakang dilihatnya si Tato sedang mengagumi dirinya.
"Gila bener! Gue suka pantat lo. Lo bener-bener oke!" si Tato menampar pantat Diah yang sebelah kiri yang membuat Diah menjerit dan melompat kesakitan. Lalu tanpa menunggu lagi, si Tato melepaskan celananya dan memperlihatkan penisnya yang sudah keras. Si Tato kemudian menyelipkan penisnya diantara kedua kaki Diah lewat belakang, untuk diperlihatkan pada Diah.
"Jangan pak. Jangan! Ampun, jangan!" Diah menoleh ke belakang dan memandangku. Terlihat air mata meleleh dari matanya. Aku meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari ikatan.

Si Tato masih tidak peduli melihat Diah memohon-mohon. Kepala penisnya kemudian menyusuri belahan pantat Diah, terus menuju ke bawah, kemudian maju mendekati bibir vaginanyah. Setelah tangan si Tato memegang pinggul Diah dan dengan satu gerakan keras bergerak maju.
"Arrgghh, jangaan! Ampuun!" Diah menjerit-jerit ketika penis si Tato mulai membuka bibir vaginanya dan mulai memasuki lubang kemaluannya. Kaki Diah mengejang menahan sakit ketika penis si Tato terus menembus masuk tanpa ampun.

Si Tato mulai bergerak maju mundur memperkosa Diah dan ketika kepala Diah terjatuh lunglai kesakitan, ia menarik rambut Diah sehingga kepala Diah kembali terangkat dan Diah kembali bisa melihat dirinya disetubuhi oleh si Tato melalui cermin. Kadang-kadang si Tato menampar pantat Diah berulang kali, aku juga melihat payudara Diah yang tersentak-sentak setiap kali si Tato memasukan penisnya ke dalam vagina istriku.

Tiba-tiba si Tato mengeluarkan penisnya dari vaginanyah. Diah langsung meronta dan berlari menuju pintu, berharap seseorang akan melihatnya minta tolong, biarpun dirinya telanjang bulat. Tapi si Kekar terlebih dahulu menyambar pinggangnya sebelum Diah sampai ke pintu depan.
"Ahh, tolong! Tolommpphh", Teriakan Diah dibungkam oleh tangan si Kekar sementara itu si Tato mendekat dan mengikat tangan Diah menjadi satu ke depan. Setelah itu, Diah didorong hingga terjatuh di atas lutut dan sikunya. Sekarang si Kekar, membuka celananya dan memasukan penisnya ke mulut Diah.

"Mmpphh!", Diah berteriak, dengan penis di dalam mulutnya. Sementara itu si Kekar masih diam dan terus menggerakkan penisnya di mulut Diah. Mata Diah tertutup dan wajahnya memerah, sementara itu air mata masih meleleh turun di pipinya. Ketika itu si Tato masuk ke kamar tidur kami dan ketika kembali ia membawa salah satu ikat pinggang kulitku. Si Kekar kemudian mengeluarkan penisnya dari mulut Diah. Diah yang masih tersungkur di atas lutut dan sikunya terlihat lega. Tapi tanpa peringatan lagi, si Tato mengayunkan ikat pinggang ke pantat Diah.
"Aduuh. Sakiit! Ampuun! Jangan, pak, sakit!", si Tato terus memukuli pantat Diah, sementara Diah berusaha merangkak menjauh, dan berusaha berdiri. Akhirnya Diah sampai ke sofa dan berusaha berdiri. si Tato berhenti memukul dan langsung berlutut di belakang Diah dan meremas pantat Diah.
"Jangan bergerak!" anacam si Tato.

Diah sekarang bersandar pada sofa. Payudaranya tertindih badannya di sofa, sementara ia berlutut di lantai.
"Ampun pak! Lepaskan saya pak! Sakit pak! Ampun!".
"Diem!" bentak si Tato. si Tato membuka belahan pantat Diah dan meraba-raba liang anusnya. "Ap, apa, mau kalian.".
"Siap, siap sayang. Gue musti ngerasain pantat lo yang putih mulus ini!".

Diah memandangku dengan ketakutan, kemudian ia menoleh ke si Tato yang ada di belakangnya. Wajahnya mulai memucat.
"Jangan! Jangan pak. Saya nggak mau diperkosa di situ pak! Ampun!".
"Well, gue tetep mau peduli lo mau apa nggak!" si Tato menarik tubuh Diah hingga ia terjatuh di atas sikunya lagi ke lantai, dan mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi. Kemudian ia menempatkan kepala penisnya tepat di tengah liang masuk anusnyah.

Kemudian ia membuka belahan pantat Diah lebar-lebar. "Ampun, jangan! Sakit! Ampun pak, ampun! aakkhh" si Tato mulai mendorong masuk, terus masuk sementara Diah mejerit-jerit minta ampun. Diah meronta-ronta tak berdaya, hanya semakin menambah gairah si Tato untuk terus mendorong masuk. Diah terus menjerit, ketika perlahan seluruh penis si Tato masuk ke anusnya.
"Ampun! Sakit sekali! Ampun!" jerit Diah, ketika si Tato mulai bergerak pelan-pelan keluar masuk anusnyah.
"Buset! Pantat lo emang sempit banget! Lo emang cocok buat beginian!" kata si Tato sambil memandang mataku.
"Lo udah pernah nyoba pantat istri lo belon? Bener-bener kualitas nomer satu!".
Tangisan Diah maskin keras. "Sakit! Sakit sekali! Ampun, sakit! Sakit pak, ampun!" si Tato menampar pantatnya.
"Gila, gue bener-bener seneng sama pantat lo!"

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu depan. Sebelum Diah sempat berteriak, tangan si Tato sudah menutup mulutnya dan ia mendorong penisnya masuk ke anusnyah. Si Kekar kemudian menuju ke ruang depan yang gelap, ketika pintu depan terbuka.
"Di? Ini gue! Kok pintu lo nggak dikunci sih?"
Santi! Sahabat Diah. "Ntar kalo ada ma.. Aahh!" si Kekar sudah menerkam dan memeluk tubuh Santi dari belakang. Terdengar Santi berontak dan meronta-ronta. Tapi tak lama kemudian Santi masuk dipegangi oleh si Kekar dengan kedua tangan terikat ke depan.

Untuk pertama kalinya si Kekar berkata, "Yang ini punya gue." Santi mempunyai tubuh lebih kurus dan lebih tinggi. Buah dadanya tidak sebesar Diah tapi tidak mengurangi kecantikan dan keindahan tubuhnya. Sementara itu si Tato kembali menyetubuhi Diah lewat pantatnya, sementara si Kekar mulai melucuti pakaian Santi.
"Lepasin! Jangan! Diah, kamu kenapa?" Santi berteriak ketika si Kekar menarik BH-nya hingga lepas dan mulai menarik celana jeansnya.
"Jangan! Lepasin Santi, jangan! Kalian perkosa saja saya. Jangan ganggu Santi! Jangan!" si Tato langsung memasukan penisnya keras-keras.
"Jangan banyak omong! Kita mau lo berdua!" Kemudian ia kembali bergerak dengan brutal dan keras.

Si Kekar berhasil menelanjangi Santi, sementara Santi dengan kedua tangan terikat, berusaha menutupi payudaranya. Si Tato kemudian menarik penisnya keluar dari anusnyah, membuat Diah tersungkur lemas kesakitan di lantai. Kemudian ia membantu si Kekar meringkus Santi.
"Lo mau pake pantatnya juga?" tanya si Tato.
"Tentu dong!"
"Oke"

Kemudian mereka mendorong Santi hingga terjatuh di atas lutut dan sikunya di hadapanku. Kemudian si Tato menyeret tubuh Diah dan membaringkannya di sebelah Santi. Sekarang mereka berdua berada dalam posisi merangkak tepat di hadapanku. Si Kekar dan si Tato mulai membandingkan antara Diah dan Santi.
"Wow, liat mereka! Beda tapi oke semua!".
"Lo pilih yang mana? Yang dada besar atau yang pantatnya kenceng?" tanya si Kekar.
"Gue pikir tadi lo bilang yang pantatnya kenceng punya lo!" jawab si Tato.
"Iya, tapi gue lagi baek nih!".
"Gue ambil yang dadanya gede aja. Pantatnya lebih bunder." jawab si Tato sambil menunjuk Diah.
"Oke kalo gitu yang pantatnya kenceng buat gue!"

Akhirnya mereka berdua berlutut di belakang mereka. Si Tato di belakang Diah dan si Kekar di belakang Santi. Mereka menempelkan kepala kejantanannya ke liang dubur Diah, serta membuka belahan pantat Diah dan Santi. Dan bersamaan dengan mulai mendorong masuk ke dubur mereka berdua yang telah menganga dengan lebar.
"Ampun! Jangan lagi! Sakit! Jangan disitu lagi!", Diah menjerit ketika penis si Tato mulai masuk lagi ke anusnya.
"Aduuhh, sakiit. Diah toloong!" Santi menjerit lebih keras lagi, ketika anusnya yang kecil dimasuki oleh penis si Kekar.
"Diem semua! Dasar cewek murahan!" bentak si Kekar.
Si Tato terus bergerak maju mundur sambil mengerang nikmat. "Wah, gue bener kagum sama pantat istri lo ini!"

Aku tak berdaya melihat kedua wanita itu mengerang dan menjerit diperkosa oleh mereka. Kulihat tangan si Kekar meraih payudara Santi yang kecil tapi padat dan meremasnya keras-keras. Kemudian ia menariknya tanpa kasihan. Jeritan Santi kembali terdengar. Melengking.

TAMAT

Pengalamanku Di KKN

Saya memiliki cerita yang tidak akan pernah dapat saya lupakan. Cerita yang rasaya sulit untuk dipercaya. Semua terserah anda. Namun cerita ini benar-benar terjadi, dan begitu sulit untuk dihapus dari ingatan saya. Cerita ini terjadi sewaktu saya Kuliah Kerja Nyata dulu, empat tahun yang lalu, tepatnya di daerah Dlingo, Bantul, tidak jauh dari Yogyakarta.
Suatu sore, teman-teman sepondokan pergi ke desa seberang. Menurut mereka, ada proyek kelompok. Jadi, hanya saya yang ditinggal di pondokan. Hujan deras membuat saya malas keluar pondokan. Setelah mengunci pintu depan, saya masuk ke kamar. Ketimbang menganggur, saya iseng mengutak-utik komputer milik teman sepondokan saya, Maman.

Klik sana, klik sini; Saya coba membuka folder yang ternyata isinya gambar-gambar cewek telanjang. Terus klik sini, klik sana lagi hingga saya temukan file video (movie) yang isinya adegan-adegan 'merangsang'.. Ya sudah, saya nikmati adegan tersebut sendiri, agar lebih puas dan aman; saya memakai earphone-nya walkman kemudian saya keraskan volumenya agar hanya saya sendiri yang mendengar.. Lama-lama saya merasa tidak tahan juga, saya ingin onani. Hujan di luar sepertinya semakin deras, udara pun semakin dingin terasa. Pintu kamar saya tutup, lalu saya duduk lagi di depan komputer. Ritsleuting celana saya buka, kemudian saya keluarkan 'senjata' saya yang sudah mulai menegang kaku. Di monitor, saya melihat si cantik - Asia Carrera sedang terengah-engah disetubuhi oleh seorang cowok gondrong.. Tangan saya turun naik mengelus-ngelus 'senjata', sambil membayangkan andaikata saya yang sedang menyetubuhinya..

Saya merasa begitu asyiknya, hingga tidak tahu kalau pintu kamar sudah ada yang membuka. Saya terperanjat kaget melihat rekan putri dari pondokan lain, Nindyah - mahasiswi cantik di Fak. Teknik, melihat saya dalam keadaan seperti ini. Saya tidak tahu mesti bersikap apa, hingga terlupa untuk menutupi 'senjata' saya yang masih berada di genggaman dan masih tegak menjulang. Aneh, Nindyah tidak merasa kaget atau jengah. Perlahan dia mendekati saya, tangannya melepas earphone yang masih menggantung di telinga saya.

"Robin.." bisiknya pelan di telinga saya.
"Aku udah lihat kamu dari tadi begituan.." lanjutnya lagi sambil melirik ke arah monitor yang masih mempertontonkan adegan hot.
"Maaf ya, kalau aku ngintip kamu. Habis.. tadi aku ketuk-ketuk pintu, nggak ada yang denger. Terus aku nekat aja masuk.. Eh, ternyata kamu lagi.." Nindi lantas memotong omongannya, sambil tersenyum manis banget.

Dia menatap saya tajam, matanya tampak erotis dan sensual. Saya terperangah, kaget dan tidak tahu mesti berbuat apa dan bagaimana. Tiba-tiba Nindyah memeluk saya, bibirnya tergesa mengulum bibir saya. Tangannya langsung memegang penis saya yang sempat merunduk layu. Saya bingung, saya hanya bisa terdiam dengan jantung berdegup kencang. Tangan Nindyah naik-turun, mengelus-elus hampir seluruh bagian penis saya..

Lama kelamaan saya mulai merasa terangsang. Penis saya mulai kembali tegak menegang. Secara reflek saya mendekap Nindyah. Ada benjolan di dadanya yang terasa hangat. Lidah saya mulai ikut andil bermain-main di dalam mulutnya. Degup jantung semakin tidak karuan, rasanya sudah mulai sesak untuk bernapas.

"Bin.." desah Nindyah.
"Boleh aku kulum yang aku pegang ini?" bisiknya lembut di telinga saya.

Saya tidak sempat menjawab iya atau tidak, tiba-tiba wajah Nindyah sudah ada di antara paha saya. Lidahnya menjulur-julur, menjilati kepala penis saya, sekali-kali ke bagian buah zakar. Penis saya makin terasa menegang. Lalu Nindyah mulai menghisap penis saya, dari ujung hingga setengah batangnya, kepalanya bergerak turun naik. Penis saya terasa menyumbat tenggorokannya, seolah ingin ditelan habis oleh Nindyah. Saya hanya terpejam dan mengatur nafas saja. Adegan di komputer sudah sejak tadi usai. Bunyi angin dan derai hujan di luar masih saja terdengar dari kamar. Mendadak Nindyah berdiri.

"Robin.. aku pingin.."

Lalu tanpa bersuara lagi, dia melepas semua yang dipakainya. Sekarang di hadapan saya tersaji seorang cewek yang nyaris bugil. Tidak pernah sekalipun saya membayangkan akan melihat ia begini. Nindyah, mahasiswi baik-baik yang saya kenal di lokasi KKN. Tubuh saya bergeletar melihat Nindyah dalam keadaan seperti ini. Lalu dia membuka bra-nya. Payudaranya yang menjulang, membuat tenggorokan saya seperti sulit menelan ludah.

Payudaranya tidak terlalu besar, namun kelihatan begitu padat dan kenyal. Nindyah lalu merebahkan diri di ranjang. Perlahan ia menurunkan celana dalamnya. Saya menatap bulu-bulu ikal halus yang tipis dan teratur, menyelimuti bibir kemaluannya yang kelihatan sembab memerah. Saya tidak tahan lagi, saya pun bergegas menelanjangi diri saya juga.Pelan-pelan Nindyah mengangkangkan kaki jenjangnya yang saya lihat begitu indah dan merangsang, matanya mengatup setengah terpejam.

"Bin.. langsung aja ya.. aku udah kepingin.." bisiknya memohon.

Saya mengangguk sambil menelan ludah. Saya melihat liang kemaluannya memerah dan sedikit berlendir, mungkin ia sudah terangsang sejak tadi. Lalu saya menuntun kepala penis ke bibir kemaluannya. Serta merta Nindyah mendesah. Saya menggosokkan kepala penis ke kelentitnya. Nindyah menggelinjang.

"Bin.. masukin aja.. akhu..ssh.. yaahh.." Nindyah memohon-mohon.

Penis saya juga sudah makin menegang, pelan tapi pasti saya menuntun dan mendorong penis saya menyelinap masuk di sela-sela bibir kemaluannya yang sudah terasa menghangat. Nindyah mendesis panjang sewaktu kepala penis saya perlahan menyumbat liang vaginanya. Lalu saat batang penis saya benar-benar masuk keseluruhannya, Nindyah tersentak dan memekik lirih. Tubuhnya terasa menegang sesaat. Liang vagina Nindyah terasa begitu sempit, entah mengapa. Saya mencoba menggerakkan pinggul perlahan agar penis saya dapat bergerak. Sedikit gerakan tersebut rupanya membuat Nindyah kembali merintih. Sedikit demi sedikit gerakan tersebut saya perkuat diiringi rintihan lirih yang keluar dari bibir Nindyah.

Lambat laun liang itu terasa melebar memberi tempat. Lalu saya mulai menggerakkan pinggul naik-turun agar penis saya dapat leluasa berkubang di liang kemaluan Nindyah yang mulai melicin. Perlahan tubuh Nindyah terasa mengendur. Tidak lagi menegang, dan tidak ada lagi rintih kesakitan. Saya mulai merasakan kenikmatan yang berbeda, yang belum pernah saya rasakan dengan cewek-cewek yang pernah bersetubuh dengan saya. Sesekali saya menggoyangkan penis ke kiri dan ke kanan, keluar dan masuk lagi. Nindyah melenguh pelan, nafasnya mulai terdengar memburu tak beraturan.

"Uuh.. ayo Bin.. sshh.. aah.. dalaamm.. hh.. lagi.." desah Nindyah.

Tangannya menggapai-gapai, sesekali meremas sprei yang sudah mulai berantakan. Saya mendengar bunyi kecipak-kecipak, sewaktu penis saya keluar masuk menggesek dinding liang vaginanya yang terasa semakin hangat dan melembab. Gerakan penis saya yang keluar masuk, diimbangi Nindyah dengan menggoyangkan pinggulnya. Otot perutnya menggelinjang naik dan turun.

"Hhh..sshh.. iiyaahh.. ss.. mmhh.. iiyyaahh.. terus, terus.." Nindyah makin hebat menggelinjang.

Kepalanya bergoyang kesana kemari.. Tangan saya yang satu bergerak meremas payudaranya yang putingnya terasa mengeras dan melenting.

"Rrrhhgg.. aadduuh.. sshh, Biinn.. mmhh.. Biinnhh" badan Nindyah terasa gemetar.

Vaginanya berdenyut-denyut, Penis saya serasa dikulum, dihisap-hisap. Gosokan penis saya tidak lagi berirama, kadang cepat kadang pelan. Nindyah merintih-rintih, tubuhnya yang polos mulai berkeringat. Lenguhan, desisan dan rintih kenikmatan silih berganti. Waktu pun terus berjalan, di luar desau angin di sela hujan menambah erotisnya suasana.

"Binn.. sshh.. adduhh..mmhh.. errgghh.. akkhhu.. sshh.. mau kkeluar.." Nindyah meringis.

Keningnya berkerut. Goyangan pinggul Nindyah semakin menggila. Keringat semakin membanjir di tubuhnya yang menggelinjang hebat.

"Sabar Nind.. Sedikit lagii.. Bareng akhhkku.." jawab saya sambil mengatupkan geraham erat-erat.

Serasa ada yang menyentak-nyentak di pangkal penis saya. Saya juga semakin tidak bisa menahan. Saya membungkuk, lantas mengulum puting buah dada Nindyah yang telah merah meranum. Nindyah mendesis-desis, rambut saya diremas-remas. Di luar, hujan terdengar makin deras ditingkahi suara kilat yang sesekali menggelegar.

"Biin.. sshh.. mmhh.." desah Nindyah.
"Keluarinn di dalem aja yaahh.. Akku .. Pengenn nnhh sshh.. ngge..rasaainnhh.." lanjut Nindyah dengan kata-kata yang hampir tidak jelas terdengar.

Gosokan penis saya makin bertubi-tubi, begitu cepat dan menggila. Nindyah merintih-rintih. Ia sudah tidak sanggup menggoyangkan pinggulnya lagi mengikuti irama keluar-masuknya penis saya. Nindyah hanya bisa mendesis-desis, menahan sesuatu yang rasanya sudah tidak lagi tertahankan. Penis saya seolah diremas-remas oleh liang kemaluannya yang seolah terasa mengecil. Suara kilat di luar terdengar keras menyambar-nyambar, menimpali suara kecipak yang terdengar dari liang kemaluan Nindyah yang semakin membasah.

"Mmhh.. hh.. Biinh.." Nindyah tak sanggup lagi mengeluarkan kata-kata.

Kedua kakinya telah dinaikkan ke atas pantat saya, sehingga hunjaman demi hunjaman penis saya terasa semakin dalam menembus liang vaginanya. Saya merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa. Kenikmatan bersetubuh yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Detik demi detik yang berlalu saya nikmati dalam gairah yang begitu melenakan. Seolah saya sedang terbang menembus tumpukan awan, bersama seorang bidadari cantik dan menarik dengan tubuh indah dan menggairahkan seperti Nindyah ini.

Gerakan penis yang melambat ketika saya terbawa kenikmatan tadi, akhirnya kembali cepat dan semakin tidak terkendali. Rintihan dan desis lirih Nindyah, memicu hasrat saya untuk melakukan lebih cepat dan lebih kuat lagi. Tumbukan dan gesekan penis saya kian bertubi-tubi. Nindyah memeluk saya erat-erat, tubuhnya bergetar hebat. Ada rasa perih di punggung ketika secara tidak sadar kuku-kuku tangan Nindyah mencakar dan mencengkeram punggung saya. Keningnya yang berpeluh tampak berkerut. Matanya terpicing erat.

"Errghh.. aahh.. Biinn..sshh", sekonyong-konyong tubuh Nindyah menegang.

Sesaat penis saya seperti terhimpit erat, lantas terguyur cairan hangat yang keluar dari dinding-dinding vagina Nindyah yang tiba-tiba menyempit. Nindyah pun merintih panjang. Bersamaan dengan rintihannya, saya sudah tidak sanggup menahan sesuatu yang ada di pangkal penis saya lebih lama lagi. Seerrtt.. dari penis saya menyembur deras cairan yang seperti tidak ada habis-habisnya mengalir. Pantat saya terasa kejang. Nindyah mendesah lirih, saya dipeluk erat sekali. Sesaat bibir saya dan Nindyah saling melumat. Hujan terdengar merintik, tidak sederas tadi. Saya dan Nindyah terbaring telentang, masih terengah-engah menghela nafas.

"Bin.. ma kasih ya.." kata Nindyah yang tiba-tiba terbangun dan beranjak duduk. Lalu ia berdiri dan mengenakan semua bajunya kembali.
"Aku belum pernah ngerasakan kayak gini", lanjutnya tersenyum penuh arti.

Saya kaget, lalu mata saya menangkap sesuatu di sprei yang tampak berantakan dan kacau. Ada bercak merah di sana.

"Astaga, Nin? Kamu.. kamu masih perawan?" tanya saya terperanjat.

Jantung saya langsung berdebar kencang. Nindyah menutup bibir saya dengan jari tangannya. Dengan telunjuk di bibir, Nindyah mengisyaratkan saya untuk tidak lagi berkata apa-apa.

"Aku pulang dulu ya.. Nanti kalau lama-lama, bisa ketahuan Pak kadus atau temen-temen.. bisa berabe" kata Nindyah sambil bangkit berdiri.
"Eh tapi, ehh.. biar aku anter deh.. Lagian khan masih ujan" sahut saya cepat.
"Nggak usah, Bin.. Sekarang kamu pakai baju dan celana kamu. Nanti kedinginan. Yuk Bin, aku pergi." Katanya lagi sambil keluar kamar.
"Tunggu Nin, tunggu!" Kata saya setengah berteriak.

Saya lalu buru-buru mengenakan celana dan baju, dan mencoba menyusul Nindyah. Sambil mengancingkan baju, dan keluar kamar saya masih terus memanggil Nindyah, hingga ke ruang depan. Nindyah tidak ada. Saya mencoba mengejar keluar. Lho, kok pintu depan terkunci? Saya bingung lalu teringat bahwa pintu itu memang saya kunci. Saya kembali lagi ke kamar untuk mengambil kunci.

Saat kembali lagi ke pintu, saya mendengar suara motor-motor di luar. Waduh, teman-teman saya sudah datang.. pikir saya.. Kunci pintu langsung saya buka. Saya kaget, teman-teman saya datang bersama dengan Kormanit (kordinator mahasiswa unit), dan DPL (Dosen Pembimbing Lapangan). Bukan hanya itu, wajah mereka terlihat begitu kuyu dan sedih. Si Dwi dan Tika terlihat seperti habis menangis, mereka saling berangkulan.

"Ada apa?" tanya saya bingung.

Mereka tetap diam membisu. seperti tidak bisa bicara. Parmono, kormanit saya, lantas merangkul pundak saya. Dia bicara begitu perlahan, namun di telinga saya seperti ribuan halilintar yang berbunyi bersamaan.

"Bin.. ada berita duka cita. Tadi siang, Nindyah kecelakaan di Piyungan. Ada truk tangki yang nggak kuat nanjak, lalu merosot turun. Nindyah yang berada di belakang truk, nggak bisa menghindar lagi. Motor yang dipakainya tertimpa, dan Nindyah nggak bisa lagi terselamatkan. Kasihan, padahal katanya Nindyah mau dijodohkan.."

Saya sudah tidak bisa lagi mendengar lanjutan kata-kata Parmono. Saya shock, kaget.. Kecelakaannya tadi siang, pikir saya.. Lantas, siapa yang baru saja bersama saya tadi? Langit-langit pondokan rasanya runtuh. Tanah yang saya pijak terasa bergoyang hebat..

E N D

Kamis, 18 Oktober 2007

Dokter Shinta Bertugas Di Desa Terpencil

Latar Belakang

Shinta adalah seorang dokter muda. Dia baru saja menamatkan pendidikannya pada sebuah universitas ternama di Sumatera. Selain kecerdasannya yang mengantarkan dirinya meraih gelar dokter. Shinta juga merupakan gambaran profil generasi muda masa kini. Disamping sebagai gadis yang sangat cantik, Shinta yang berusia 24 tahun ini juga lincah dan intelek dan dikenal oleh teman-temannya sebagai gadis yang cinta lingkungan dan masalah sosial budaya. Dia sangat senang dengan petualangan alam.

Selama 2 tahun terakhir di kampusnya Shinta dipercaya teman-temannya menjadi Ketua Group Pecinta Alam. Sangat kontras memang. Dilihat dari penampilan fisiknya yang demikian cantik dan lembut Shinta adalah ahli bela diri Kung Fu pemegang sabuk hitam. Disamping itu dia juga sebagai pemanjat tebing yang handal dan juga beberapa kali telah mengikuti kegiatan arung jeram dengan menelusuri sungai-sungai ganas di seputar Sumatera.

Sebagaimana dokter baru ia harus menjalani masa PTT pada sebuah desa yang jauh dari tempat tinggalnya. Reaksi orang tuanya dalam hal ini ibunya dan Rudi tunangannya adalah sangat keberatan saat mendengar bahwa dia harus bertugas di desa terpencil itu. Ibu Shinta sangat menyayangi Shinta. Beliaulah yang terus mendorong sekolah Shinta hingga lulus menjadi dokter. Orang tua Shinta cerai saat Shinta masih kecil. Sampai tamat dokter Shinta mengikuti ibunya. Shinta tak pernah kenal dan tahu bagaimana dan dimana ayahnya sekarang.

Selain jauh dari kotanya daerah itu masih sangat terbelakang dan terisolir. Bayangkan, untuk mencapai daerah itu orang harus seharian naik bus antar kota, kemudian disambung dengan ojek hingga ke tepian desa yang dimaksud. Di desanya sendiri yang sama sekali tak ada sarana transportasi juga belum terjangkau oleh penerangan listrik. Tak ada TV dan belum ada sambungan pesawat telpon maupun antene repeater untuk penggunaan hand phone.

Ibunya minta pamannya yang adik kandung ibunya bersama Rudi tunangannya untuk menyempatkan diri meninjau langsung desa itu. Sepulang dari desa tersebut mereka menyatakan bahwa betapa berat medan yang akan dihadapi oleh Shinta nantinya. Mereka khawatir dan cemas pada Shinta yang rencananya pada bulan Haji nanti akan dinikahkan dengan Rudi. Shinta dan Rudi telah bertunangan selama hampir 2 tahun. Rudi sendiri adalah seorang insinyur pertanian yang telah bekerja di Dinas Pertanian Kabupaten. Tetapi semua kecemasan dan kekhawatiran orang tua dan tunangannya itu tidak terlampau ditanggapi oleh Shinta.

Untuk lebih menghayati cerita selanjutnya, biarlah Shinta sendiri yang menceriterakan kisah yang dialaminya sebagaimana yang tertera di bawah ini,

Cerita Shinta

Aku sendiri justru sangat tertantang oleh kondisi desa itu. Idealisku muncul dan mendorong aku untuk terus maju saat kupelajari keadaan geografi, sosial demografi dan sosial ekonomi dan budaya lokal masyarakat desa itu. Aku berketatapan hati tak akan mundur oleh tantangan yang sungguh romantik itu. Aku ingin bisa membagi ilmu dan pengetahuanku dan ketrampilan serta pengalamanku bagi masyarakat di desa itu. Aku ingin bisa mengabdikan diriku pada mereka yang serba kekurangan dan penuh keterbelakangan itu. Dan pada akhirnya karena sikapku yang cerah dan tegar maka baik ibu maupun tunanganku mendukung PTT-ku di desa terpencil itu.

Setelah melalui 1 hari perjalanan yang melelahkan dengan diantar oleh paman dan Mas Rudi aku sampai di desa penuh tantangan itu. Kami di sambut oleh perangkat desa itu dan kepala dusun. Seorang tetua yang juga kepala dusun yang bernama Pak Tanba secara spontan meminjamkan salah satu ruangan di rumahnya untuk kubuat poliklinik sederhana.

Sesudah 2 hari membuat persiapan tempat praktek dokter dan acara peresmian ala kadarnya aku diterima resmi oleh masyarakat sebagai dokter di desa itu. Aku juga akan memberikan pelayanan kesehatan ke desa-desa di sekitar desaku. Dengan pesan-pesan serta berbagai wanti-wanti, paman bersama Rudi pulang kembali ke kota dengan meninggalkan aku yang telah siap untuk memulai tugasku. Sesaat sebelum beranjak aku memandangi Rudi. Dari matanya aku membaca kerinduan yang hinggap. Dia akan rindu kapan akan kembali saling membelai. OK, Rud. Ini khan hanya untuk waktu 6 bulan. Dan kita akan menikah sesudahnya, bukan?!

Pada hari pertama aku diajak keliling desa oleh Pak Tanda bersama aparat desa untuk dikenalkan kepada masyarakat desa itu. Pada hari-hari selanjutnya aku menunggu masyarakat yang memerlukan bantuanku di poliklinik. Apabila diperlukan aku juga akan mendatangi pasien yang tidak mampu mengunjungi tempat praktekku. Hari-hari pertama bertugas aku dibantu oleh kader kesehatan yang telah aku beri pelatihan sederhana. Pada saat yang sangat diperlukan Pak Tanba bersedia membantu untuk mengantar aku melayani panggilan dari masyarakat.

Orang-orang desa itu telah mafhum akan kelebihan Pak Tanba. Dia sangat akrab dan disenangi masyarakat di sekitarnya. Dia merupakan orang yang paling kaya untuk ukuran desa itu namun sama sekali tidak menunjukkan kesombongan. Dengan usahanya selaku pengumpul hasil bumi Pak Tanba bisa memiliki beberapa rumah di desa itu dan beberapa lagi di desa sekitarnya.

Yang lebih hebat lagi, Pak Tanba yang usianya sudah lebih 65 tahun itu mampu memiliki 3 orang istri. Artinya disamping mampu dalam arti materiil, Pak Tanba juga memiliki kemampuan lahiriah yang sangat baik. Tubuhnya masih nampak sehat dan tegar dan selalu siap melakukan kewajibannya untuk memberikan nafkah lahir batin kepada para istrinya. Wajahnya yang keras tetapi penuh wibawa memberikan kesan 'melindungi' pada siapapun yang dekat dengannya. Dan memang demikianlah, Pak Tanba orang yang ringan tangan dan kaki untuk memberikan pertolongan pada orang lain, pada masyarakat desanya atau siapapun.

Istri-istri Pak Tanba boleh dibilang bukan perempuan sembarangan. Istri pertamanya Rhayah, usianya telah 57 tahun. Dialah 'permaisuri' sesungguhnya dari Pak Tanba. Dari Rhayah lahir 3 anaknya yang telah dewasa dan berumah tangga. Pada Rhayah, Pak Tanba menunjukkan bagaimana dirinya sebagai suami yang selalu memberikan nafkah lahir bathin tanpa pernah pilih kasih pada yang lebih muda atau lebih cantik.

Istri ke 2-nya adalah Siti Nurimah. Seorang janda dari desa yang cukup jauh dari desanya. Siti Nurimah adalah perempuan yang memiliki toko klontong di desanya. Dari Nurimah Pak Tanba memiliki 2 orang anak yang masih bersekolah. Nurimah sangat baik hatinya. Dia tak pernah menunjukan iri atau cemburu pada istri Pak Tanba yang lain.

Kemudian istrinya yang terakhir masih sangat muda. Umurnya 19 tahun. Dia masih perawan saat dikawini Pak Tanba. Karena jasa Pak Tanba pada keluarganya, Halimah demikian namanya yang berperangai halus dan cantik itu rela menjadi istri ke 3 Pak Tanba. Sikapnya selalu hormat pada Pak Tanba dan para istrinya yang terdahulu. Sehari-hari Halimah adalah guru SD di desanya. Saat ini Halimah sedang mengandung 9 bulan. Diperkirakan dia akan melahirkan dalam waktu dekat ini.

Aku sering berpikir bahwa koq ada orang macam Pak Tanba. Pendidikannya yang rendah, dia hanya tamatan SD, tidak membuatnya menjadi orang kecil. Aku menilai Pak Tanba adalah 'orang besar' dalam arti sesungguhnya. Dia orang yang selalu pegang komitmen, terlihat pada bagaimana hubungannya dengan para istrinya. Dia juga seorang yang pekerja keras dan senang melakukan kegiatan sosial demi kebahagiaan orang banyak. Tak pernah aku mendengar keluhannya selama dia membantu tugas-tugasku. Dia selalu menunjukkan kegembiraannya.

Dan yang juga aku kagumi, dia jarang lelah atau sakit. Dia nampak selalu sehat. Tubuhnya sendiri yang nampak cukup gempal kondisinya sangat segar tanpa penyakit. Dengan rambutnya yang masih hitam dan tebal, giginya yang tetap utuh di tempatnya dan sorot matanya yang demikian energik, sepintas orang yang melihatnya akan terkesan umur Pak Tanba paling sekitar 50 tahunan. Atau lebih muda 15 tahun dari umur yang sebenarnya. Dan satu hal yang mungkin membuatnya mudah mendapatkan istri, tampang dan gayanya yang simpatik. Tidak tampan tetapi enak dilihatnya.

Dalam kegiatannya selaku pengumpul hasil bumi Pak Tanba banyak berkeliling ke desa-desa disekitarnya dengan mengendarai sepeda motor. Di saat tak ada kegiatan dengan senang hati Pak Tanba juga meminjamkan motornya kepadaku untuk keperluan mendatangai pasienku yang tinggal jauh dari desa. Bahkan apabila keadaannya sangat genting Pak Tanba turun tangan sendiri membantu aku dengan memboncengkan menuju ke tempat tinggal pasienku.

Pelayanan kesehatan di tengah-tengah masyarakat desa yang terpencil ini boleh dibilang tidak mengenal waktu. Beberapa kali aku harus menerima panggilan dari pasienku jauh di tengah malam. Dan tentu saja hanya dengan bantuan Pak Tanba aku bisa memenuhi panggilan dan kewajibanku itu.

Tak terasa kegiatanku yang terus merangkak telah memasuki bulan ke 4. Aku telah mengenal dan dikenal banyak orang di desaku maupun desa-desa disekitarnya. Selama itu pula Pak Tanba telah menunjukkan betapa dia telah membantu aku dengan tidak tanggung-tanggung demi kesejahteraan serta kesehatan masyarakat di desanya. Aku benar-benar respek dengan 'goodwill'-nya Pak Tanba ini. Bahkan aku sering merasa terharu manakala dalam mengantar aku sering mendapatkan berbagai kesulitan. Terkadang ban motornya yang meletus, atau mesin yang ngadat sehingga tak jarang dia mesti menuntun motornya dengan berjalan kaki dalam jarak yang cukup jauh.

Dalam kesempatan yang lain kami sering terjebak dalam jalanan yang licin bekas hujan. Dengan terseok-seok dia mesti mendorong motornya melewati lumpur dan beberapa kali terpeleset jatuh hingga pakaiannya belepotan lumpur. Aku sendiri tak bisa berbuat banyak pada kondisi macam itu. Yang kumiliki hanyalah rasa iba yang tak mungkin berbagi padanya.

Di lain pihak kami berdua sering menrasakan suatu kepuasan batin. Manakala upaya menolong orang sakit atau sesekali ibu-ibu yang melahirkan dan semuanya berakhir dengan selamat dan sukses kami sungguh merasa sangat bahagia. Terkadang kebahagiaan itu kami ungkapkan dengan sangat spontan. Kami saling berpelukan karena perasaan bahagia atas sukses yang begitu banyak menuntut pengorbanan.

Dari berbagai macam hal yang penuh suka duka macam itu hubunganku dengan Pak Tanba menjadi semakin emosional. Kami bukan semata berhubungan dengan tugas atau kewajiban semata. Tetapi kami semakin merasakan apa yang membuat Pak Tanba senang atau susah akupun ikut merasakan senang atau susahnya. Demikian pula sebaliknya.

Terkadang terlintas dalam pikiranku, alangkah bahagianya istri-istrinya memiliki suami macam Pak Tanba yang sangat 'concern' pada peranannya sebagai suami maupun sebagai manusia yang merupakan bagian dari manusia lainnya. Sungguh langka seorang suami macam Pak Tanba.

Aku sendiri merasakan betapa 'adem' saat Pak Tanba hadir di dekatku. Perasaan yang tak pernah kudapatkan sebelumnya. Seakan didekatku ada pelindung. Ada yang memperhatikan dan membantu saat aku mendapatkan masalah. Adakah begitu yang diberikan seorang 'ayah' pada putrinya? Adakah aku merindukan 'ayah' yang hingga kini aku tak pernah mengenal dan tahu dimana keberadaannya? Perasaan 'menyayangi' secara tulus, aku menyayangi Pak Tanba dan Pak Tanba menyanyangi aku merupakan wujud nyata yang mengiringi setiap kebersamaanku dengan dia.

Dan anehnya, ini aku akui, aku resah kalau tak ada Pak Tanba. Aku gelisah kalau tak berjumpa dengannya. Misalnya aku kehilangan konsentrasi kerja saat dia sedang menggilir istrinya barang 1 atau 2 hari. Aku sering merenungi kenapa perasaanku aku jadi sangat tergantung pada Pak Tanba. Dan perasaan resahku itu semakin dalam dan mendalam dari hari ke hari.

Pada suatu malam, sekitar pukul 9 malam ada orang dari desa sebelah bukit dan ladang yang datang. Istrinya sedang diserang demam dan meracau. Dia panik dan kemudian dengan ditemani tetangganya dia mendatangi aku minta pertolongan. Kebetulan saat itu ada Pak Tanba yang baru pulang dari mengurus dagangan hasil bumi dari desanya. Tanpa menunjukkan kelelahan atau kejenuhan Pak Tanba menyarankan agar aku lekas mengunjungi orang sakit itu. Dia siap untuk mengantar aku. Sesudah menanyakan letak rumahnya secara jelas dia minta pamit untuk mendahului pulang. Dengan berjalan kaki mereka bisa memotong jalan hingga kemungkinan dia akan lebih dahulu sampai dari pada aku. Mereka akan menunggu kami di pintu desa.

Sesudah aku menyiapkan alat-alat yang diperlukan kami berangkat ke desa yang dimaksud. Aku melihat langit begitu gelap. Sesekali nampak kilat menerangi pepohonan.

"Wah, ini mau hujan kelihatannya, Pak Tanba ",
"Iya nih, Bu dokter, Mudah-mudahan nantilah hujannya sesudah semua urusan rampung",

Namun aku tak khawatir. Selama Pak Tanba ada di dekatku sepertinya segala hambatan hanya untuk dia. Dia akan menghadapinya untuk aku. Karena jalan desa yang tak mulus macam di kota, aku harus erat-erat memeluk pinggang Pak Tanba agar tak terlempar dari boncengan motornya. Memang demikianlah setiap kali kami berboncengan. Dan kalau badan yang seharusnya tidur ini masih harus bepergian, maka kantukku kusalurkan dengan menempelkan kepalaku ke punggung Pak Tanba. Dia nggak keberatan atas ulahku ini.

"Tidur saja Bu dokter, jalannya masih cukup jauh".

Perjalanan itu hampir memakan waktu 1 jam. Mungkin hanya 10 menit kalau jalanannya macam jalan aspal di kota. Sampai di pintu desa nampak mereka yang menjemputku. Masih beberapa rumah dan kebon yang mesti kami lewati. Aku mendapatkan seorang perempuan yang sedang menggigil karena demam yang tinggi. Sesudah kuperiksa dia kuberi obat-obatan yang diperlukan. Kepada suami dan kerabatnya yang di rumah itu aku berkesempatan memberikan sedikit penerangan kesehatan. Aku sarankan banyak makan sayur dan buah-buahan yang banyak terdapat di desa itu. Bagaimana mencuci bakal makanan sehingga bersih dan sehat. Jangan terlalu asyik dengan ikan asin. Kalau berkesempatan buatlah kakus yang benar. Perhatikan kebersihan rumah dan sebagainya. Terkadang Pak Tanba ikut melengkapi omonganku. Dari sekian puluh kali dia mengantar aku, akhirnya dia juga menguasai ilmu populer yang sering kusiarkan pada penduduk itu.

Saat pulang, kilat dari langit makin sering dengan sesekali diiringi suara guntur. Jam tanganku menujukkan pukul 10.30 malam. Ah, hujan, nih. Pak Tanba mencoba mempercepat laju kendaraannya. Angin malam di pedesaan yang dingin terasa menerpa tubuhku.

Kira-kira setengah perjalanan kami rasakan hujan mulai jatuh. Lampu motor Pak Tanba menerangi titik-titik hujan yang seperti jarum-jarum berjatuhan. Aku lebih mempererat peganganku pada pinggulnya dan lebih menyandarkan kepalaku ke punggungnya untuk mencari kehangatan dan menghindarkan jatuhan titik-titik air ke wajahku.

Hujan memang tak kenal kompromi. Makin deras. Aku pengin ngomong ke Pak Tanba agar berteduh dulu, tetapi derasnya hujan membuat omonganku tak terdengar jelas olehnya. Dia terus melaju dan aku semakin erat memeluki pinggulnya. Tiba-tiba dia berhenti. Rupanya kami mendapatkan dangau beratap daun nipah yang sepi di tepi jalanan. Aku ingat, dangau tempat jualan milik orang desa sebelah. Kalau siang hari tempat ini dikunjungi orang yang mau beli peniti, sabun atau barang-barang kebutuhan lain yang bersifat kering. Ada 'amben' dari bambu yang tidak luas sekedar cukup untuk duduk berteduh. Pak Tanda lekas menyandarkan motornya kemudian lari kebawah atap nipah. Aku menyilahkannya duduk.

"Sini Pak, cukup ini buat berdua,"

Dan tanpa canggung dia mendekat ke aku dan sambil merangkulkan tangannya ke pundakku duduk di sampingku.

"Ibu kedinginan?"
"Iyalah, Pak.." sambil aku juga merangkul balik pinggangnya dengan rasa akrab.

Untuk beberapa saat kami hanya diam mendengarkan derasnya hujan yang mengguyur. Omongan apapun nggak akan terdengar. Suara hujan yang seperti dicurahkan dari langit mengalahkan suara-suara omongan kami. Beberapa kali aku menekan pelukanku ke tubuh Pak Tanba untuk lebih mendapatkan kehangatannya. Kepala dan wajahku semakin rebah menempel ke dadanya.

Aku nggak tahu bagaimana mulanya. Kudengar dengusan nafas Pak Tanba di telingaku dan tahu-tahu kurasakan mukanya telah nyungsep ke leherku. Aku diam. Aku pikir dia juga perlu kehangatan. Dan aku merasakan betapa damai pada saat-saat seperti ini ada Pak Tanba. Aku juga ingin membuat dia merasa senang di dekatku.

Tiba-tiba dia menggerakkan kecil wajahnya dan leherku merasakan bibirnya mengecupku. Aku juga diam. Aku sendiri sesungguhnya sedang sangat lelah. Ini jam-jam istirahatku. Kondisi rasio dan emosiku cenderung malas. Aku cenderung cuek dan membiarkan apa maunya. Aku nggak perlu mengkhawatirkan ulah Pak Tanba yang telah demikian banyak berkorban untukku. Dan aku sendiri yang semakin kedinginan karena pakaianku yang basah ditambahi oleh angin kencang malamnya yang sangat dingin merasakan bibir itu mendongkrak kehangatan dari dalam tubuhku. Bahkan kemudian aku juga tetap membiarkan ketika akhirnya kurasakan kecupan itu juga dilengkapi dengan sedotan bibirnya. Aku hanya sedikit menghindar.

"Aiihh.." desahku tanpa upaya sungguh-sungguh untuk menghindar. Hingga kudengar.

"Bb.. Bu dokteerr.." desis bisik setengah samar-samar di tengahnya suara hujan yang semakin deras menembusi gendang telingaku.
"Buu.." kembali desis itu.
Dan aku hanya, "Hhmm.."

Aku nggak tahu mesti bagaimana. Aku secara tulus menyayangi Pak Tanba sebagai sahabat dan orang yang telah demikian banyak menolong aku. Aku menyayanginya juga karena adanya rasa 'damai dan terlindungi' saat dia berada di dekatku. Aku juga menyayanginya karena rasa hormatku pada seorang lelaki yang begitu 'concern' akan nilai tanggung jawabnya. Aku menyayangi Pak Tanba sebagai bentuk hormatku pada seorang manusia yang juga mampu menunjukkan rasa sayangnya pada sesama manusia lainnya.

Adakah aku juga menyayangi karena hal-hal lain dari Pak Tanba yang usianya mungkinlebih tua dari ayahku? Adakah aku sedang dirundung oleh rasa sepiku? Adakah aku merindukan belaian seorang ayah yang belum pernah kujumapi? Adakah aku merindukan belaian Rudi tunanganku? Sementara aku masih gamang dan mencari jawab, kecupan dan sedotan bibir dengan halus melata pelan ke atas menyentuhi kupingku yang langsung membuat darahku berdesir.

Jantungku tersentak dan kemudian berdenyut kencang. Tubuhku tersentak pula oleh denyut jantungku. Rasa dingin yang disebabkan angin malam dan pakaian basah di tubuhku langsung sirna. Kegamanganku menuntun tanganku untuk berusaha mencari pegangan. Dan pada saat yang bersamaan tangan kiri Pak Tanba mendekap tangan-tanganku kemudian tangan kanannya merangkul untuk kemudian menelusup ke bawah baju basahku. Dia meraba kemudian mencengkeramkan dengan lembut jari-jarinya pada buah dadaku.

Kemudian juga meremasinya pelan. Darahku melonjak dalam desiran tak tertahan. Jari-jari tangannya yang kasar itu menyentuh dan menggelitik puting susuku. Aku tak menduga atas apa yang Pak Tanba lakukan ini. Tetapi aku tak hendak menolak. Aku merasakan semacam nikmat. Aku menggelinjang berkat remasan tangan Pak Tanba pada susuku. Aku langsung disergap rasa dahaga yang amat sangat.

Dengan sedikit menggeliat aku mendesah halus sambil sedikit menarik leher dan menengadahkan mukaku. Sebuah sergapan hangat dan manis menjemput bibirku. Bibir Pak Tanba langsung melumat bibirku. Oocchh.. Apa yang telah terjadi.. Apa yang melandaku dalam sekejab ini.. Apa yang melemparkan aku dalam awang tanpa batas ini.. Dimana orbitku kini..

Seperti burung yang terjerat pukat, aku merasakan ada arus yang mengalir kuat dan menyeretku. Namun aku tak berusaha mencari selamat. Aku justru kehausan dan ingin lebih lumat larut dalam arus itu. Tanganku bergerak ke atas. Kuraih kepala Pak Tanba dan menarik menekan ke bibirku. Aku ingin dia benar-benar melumatku habis.

Aku mau dahagaku terkikis dengan lumantannya. Aku menghisap bibirnya. Kami saling melumat. Lidah Pak Tanba meruyak ke mulutku dan aku menyedotinya. Aku langsung kegerahan dalam hujan lebat dan dinginnya malam pedesaan itu. Tubuhku terasa mengeluarkan keringat. Mungkin pakaianku mengering karena panas tubuhku kini.

"Mmmhh.." desahnya.
"Mllmmhh.." desahku.

Aku tak tahu lagi apa yang berikutnya terjadi. Aku hanya merasa Pak Tanba merebahkan tubuhku ke 'amben' bambu itu sambil mulutnya terus melumati bibirku. Dan tanganku tak lepas dari pegangan di kepalanya untuk aku bisa lebih menekankannya ke bibirku. Desah dan rintih yang tertimpa bunyi derasnya hujan menjadi mantera dan sihir yang dengan cepat menggiring kami ketepian samudra birahi. Hasrat menggelora menggelitik saraf-saraf libidoku.

Kemudian kehangatan bibir itu melepas dari bibirku untuk melata. Pak Tanba sesaat melumat dan menggigit kecil bibir bawahku untuk kemudian turun melumati daguku. Aamppuunn.. Kenapa gairah ini demikian mengobarkan syahwatku.. Ayoo.. Terus Paakk.. Aku hauss.. Pak Tanbaa..

Leherku mengelinjang begitu bibir Pak Tanba menyeranginya. Kecupan demi kecupan dia lepaskan dan aku tak mampu menahan gejolak nafsuku. Aku beranikan menjerit di tengah hujan keras di atas dangau sepi dekat tepian desa ini.

"Ayyoo.. Paakk.. Aku hauss Pak Tanbaa.. ".

Aku menggelinjang kuat. Aku meronta ingin Pak Tanba merobek-robek nafsu birahiku. Aku ingin dia cepat menyambut dahagaku.
Tiba-tiba tangan Pak Tanba merenggut keras baju dokterku. Dia renggut pula blusku. Semua kancing-kancing bajuku putus terlepas. Pak Tanba menunjukkan kebuasan syahwat hewaniahnya. Duh.. Aku jadi begitu terbakar oleh hasrat nikmat birahiku. Aku merasakan seorang yang sangat jantan sedang berusaha merampas kelembutan keperempuananku. Dan aku harus selekasnya menyerah pada kejantanannya itu.

Dia 'cokot'i buah dadaku. Dia emoti susu-susuku. Di gigit-gigit pentil-pentilku. Sambil tangannya mengelusi pinggulku, pantatku, pahaku. Ciuman-ciumannya terus menyergapi tubuhku. Dari dada turun ke perut dan turun lagi.. Turun lagi.. Aku benar-benar terlempar ke awang lepas. Aku memasuki kenikmatan dalam samudra penuh sensasi. Semua yang Pak Tanba lakukan pada tubuhku belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku sama sekali tak mempertimbangkan adanya Rudi tunanganku itu.

Dan yang lebih-lebih menyiksaku kini adalah rasa gatal yang sangat di seputar kemaluanku. Tanpa mampu kuhindarkan tanganku sendiri berusaha menggaruk elus rasa gatal itu. Dengan sigap tanpa rasa malu aku lepasi celana dalamku sendiri. Kulemparkan ke tanah. Aku menekan-nekan bagian atas vaginaku untuk mengurangi kegatalan itu. Aku makin merasakan cairan birahiku meleleh luber keluar dari vaginaku.

Sensasi dari Pak Tanba terus mengalir. Kini bibirnya telah merasuk lebih kebawah. Dia mengecupi dan menjilat-jilat selangkanganku. Dan itu membuat aku menjadi sangat histeris. Kujambaki rambut Pak Tanba dalam upaya menahan kegatalan syahwatku. Pak Tanba rupanya tahu. Bibirnya langsung merambah kemaluanku. Bibirnya langsung melumat bibir vaginaku. Lidahnya menjilati cairan birahiku. Kudengar.. Ssluurrpp.. Sslluurrpp.. Saat menyedoti cairan itu. Bunyi itu terdengar sangat merangsang nafsuku.

Aku tak tahan lagi. Aku ibarat hewan korban persembahan Pak Tanba yang siap menerima tusukan tajam dari tombaknya. Kobaran birahiku menuntut agar persembahan cepat dilaksanakan. Aku tarik bahu Pak Tanba agar bangkit dan cepat menikamkan tombaknya padaku. Ayoolaahh.. Paakk..

Aku tak tahu kapan Pak Tanba melepasi pakaiannya. Bahkan aku juga tak sepenuhnya menyadari kenapa kini aku telah telanjang bulat. Pak Tanba memang lekas merespon kobaran nafsuku. Dia telah jauh pengalamannya. Apa yang aku lakukan mungkin sudah sering dia dapatkan dari istri-istrinya. Dengan sigap dia naik dan menindihku dalam keadaan telah telanjang. Dia benamkan wajahnya ke lembah ketiakku. Dia menjilati dan menyedotinya.

Sementara itu aku juga merasakan ada batang keras dan panas menekan pahaku. Tak memerlukan pengalaman untuk mengetahui bahwa itu adalah kemaluan Pak Tanba yang telah siap untuk menikam dan menembusi kemaluanku. Tetapi dia terhenti. Detik-detik penantianku seakan-akan bertahun-tahun. Dia berbisik dalam parau.

"Bu Dokter, ibu masih perawan?"

Aku sedikit tersentak atas bisikkannya itu. Yaa.. Aku memang masih perawan. Akankah aku serahkan ini kepada Pak Tanba? Bagaimana dengan Rudi nanti? Bagaimana dengan masa depanku? Bagaimana dengan risiko moralku? Bagaimana dengan karirku? Dalam sekejab aku harus mengambil sikap. Dengan sangat kilat aku mencoba berkilas balik.

Dalam posisi begini ternyata aku mampu berpikir jernih, walau sesaat. Kemudian aku kembali ke arus syahwat birahi yang menyeretku. Aku tidak menjawab dalam kata kepada Pak Tanba. Aku langsung menjemput bibirnya untuk melumatinya sambil sedikit merenggangkan pahaku. Aku rela menyerahkan keperawananku kepada Pak Tanba.

Ditengah derasnya hujan dan dinginnya pedesaan, diatas 'amben' bambu dan disaksikan dangau beratap daun nipah di tepi jalan tidak jauh dari pintu desaku Pak Tanba telah mengambil keperawananku. Aku tak menyesalinya. Hal itu sangat mungkin karena rasa relaku yang timbul setelah melihat bagaimana Pak Tanba tanpa menunjukkan pamrihnya membantu tugas-tugasku. Dan mungkin juga atas sikapnya yang demikian penuh perhatian padaku. Rasa 'adem' dan 'terlindungi' dari sosok dan perilaku Pak Tanba demikian menghanyutkan kesadaran emosi maupun rasioku hingga aku tak harus merasa kehilangan saat keperawananku di raihnya.

Sesaat setelah peristiwa itu terjadi Pak Tanba nge-'gelesot' di rerumputan dangau itu sambil menangis di depan kakiku. Ini juga istimewa bagiku karena aku pikir orang seperti Pak Tanba tidak bisa menangis.

"Maafkan kekhilafan saya, Bu Dokter. Saya minta ampuunn.."

Tetapi aku cepat meraihnya untuk kembali duduk di 'amben'. Bahkan aku merangkulinya. Bahkan sambil kemudian menjemput bibirnya dan kembali melumatinya aku katakan bahwa aku sama sekali rela atas apa yang Pak Tanba telah lakukan kepadaku. Malam itu sebelum beranjak pulang kami sekali lagi menjemput nikmat syahwat birahi. Tanpa kata-kata Pak Tanba menuntunku bagaimana supaya aku bisa meraih orgasmeku. Dia bimbing aku untuk menindih tubuhnya yang kekar itu. Dia tuntun kemaluannya untuk diarahkan ke kemaluanku. Kemudian dia dorong tarik sesaat sebelum aku berhasil melakukannya sendiri. Betapa sensasi syahwat langsung menyergapku. Aku mengayun pantat dan pinggulku seperti perempuan yang sedang mencuci di atas penggilesan. Hanya kali ini yang berayun bukan tanganku tetapi pantat dan pinggulku. Aku berhasil meraih orgasmeku secara beruntun menyertai saat-saat orgasme dan ejakulasinya Pak Tanba yang kurasakan pada kedutan-kedutan kemaluannya yang disertai dengan panasnya semprotan sperma kentalnya dalam liang sanggamaku.

Aneh, saat kami bersiap pulang langit mendadak jadi terang benderang. Bahkan bulan yang hampir purnama membagikan cahayanya mengenai pematang sawah di tepian jalan itu. Sebelum Pak Tanba menarik motornya dia sekali lagi meraih pinggangku dan kembali memagut bibirku kemudian.

"Bu Dokter maukah kamu menjadi istriku?,"

Aku tak menjawab dalam kata pula. Aku hanya mencubit lengannya yang dibalas Pak Tanba dengan 'aduh'.

Dalam keremangan cahaya bulan kami memasuki desa tantanganku. Aku merenungi betapa desa ini telah memberiku banyak arti dalam hidupku. Dan pada dini pagi yang dingin itu kutetapkan hatiku. Aku akan mengabdi pada desa tantanganku ini. Aku akan jadi dokter desa dan tinggal bersama suamiku sebagai istri ke.4 Pak Tanba yang sangat baik itu.

Saat pamanku datang menjemput dan kebetulan tanpa disertai Rudi karena sedang bertugas di luar kotanya semuanya kuceritakan kepadanya. Kusampaikan bahwa dengan sepenuh kesadaranku aku telah menemukan jalan dan pilihanku. Aku akan mengabdi di desa tantanganku. Dan aku minta tolong untuk disampaikan kepada Rudi permohonan maafku yang telah mengecewakannya. Dan tentu saja kepada ibuku disamping restunya yang selalu aku perlukan.

Medan, Mei 2004

E N D

Kulayani Nafsu Tante Dan Sepupuku

Aku seorang Pemuda sebut saja nama aku dimas. Aku berumur 28 tahun dengan tinggi badan 170 cm serta berat badan 65 kg dan tubuh yang sangat ideal untuk seorang laki-laki bujangan. Aku tinggal bersama Pamanku di salah satu kompleks elit di kota aku. Setiap hari aku bekerja dari pukul 07.00 sampai dengan pukul.18.00 dan setiap hari libur aku manfaatkan dengan berolah raga disekitar kompek dimana aku tinggal.
Pamanku seorang surveyer di sebuah perusahaan swasta yang setiap minggunya kadang2 keluar kota, ia mempunyai seorang istri yang menurut ukuranku cukup cantik dan seksi sebut saja namanya frida dan memiliki seorang anak gadis yang baru berumur 17 tahun yang masih duduk di kelas 2 SMP sebut saja namanya lita.
Lita memiliki tubuh yang indah untuk ukuran anak seumur dia dengan tinggi badan sekitar 160 cm dan berat badan sekitar 45kg serta memiliki dua bukit kembar yang berukuran sedang yang tercermin dari tonjolan padat dibalik seragam sekolah yang ketat dan tank top yang biasa dikenakannya dan yang tidak kalah menariknya lagi ia memiliki pantat yang sangat padat dan berisi yang terlihat dari rok sekolah setinggi lutut dan rok mini yang ia kenakan .
Karena setiap hari aku sering bertemu dengan lita kadang2 aku membayangkan nikmatnya bercinta dengan lita, kadang2 aku berusaha mencuri-curi pandang saat lita mengunakan pakaian yang menggoda nafsuku, lita selalu menggunakan tank top dan rok mini setiap berada dirumah sehingga aku dan sangat bernafsu untuk mencicipinnya, tetapi nafsu birahi tersebut aku tahan karena aku sadar ia adalah keponakanku.

suatu hari Pamanku mendapat tugas keluar kota selama 1 minggu, maka aku diberikan tugas untuk menjaga istri dan anak gadisnya itu selama ia bertugas di luar kota. Suatu malam saat aku bersama frida dan lita selesai makan malam tiba2 telepon dirumahku berdering, lita langsung beranjak menghampiri telepon, tanpa sengaja saat lita berdiri dari tempat duduknya tanganku menyentuh pahanya yang putih mulus karena saat itu lita hanya menggunakan rok mini pendek tembus pandang, lita hanya tersenyum dan kesempatan itu aku manfaatkan untuk menatap pantatnya yang padat berisi dean goyangan pinggulnya yang mengoda nafsuku.
Beberapa saat kemudian lita kembali kemeja makan “ ma, setelah makan malam, lita kerumah rani dulu, yach “ kata lita pada ibunya “ kan udah malam lit, ada apa sih? “, “ apa gak bisa besok lagi “ kata mamanya “ gak bisa ma, lagian Cuma sebentar kok “ jawab lita, “ ya, udah, tapi janji yach Cuma sebentar ! “ kata mamanya lagi, lita hanya mengangguk, setelah selesai makan malam lita berpamitan pada mamanya untuk pergi kerumah rani teman sekolahnya di satu kompeks, sedangkan aku menuju lantai atas tempat dimana biasa aku bersantai menikmati sebatang rokok sambil mendengarkan musik atau menonton tv.
tanpa aku sangka-sangka frida menghampiriku sambil membawakan segelas susu coklat hangat, aku terkejut “ ohhh….m’ban “ ia tersenyum manis padaku apalagi saat itu ia hanya menggunakan rok dan kaos putih transparan, “ ini m’bak buatkan susu coklat buat kamu “ katanya sambil meletakkan secangkir susu coklat dimeja “ trima kasih, bak “ kataku sambil memperbaiki posisi dudukku, “ boleh, m’bak temani “ katanya padaku “ silahkan m’bak “jawabku kemudian ia duduk tepat didepanku sambil duduk ia menyilangkan kakinya dipahanya dan tampa olehku pahanya yang mulus yang membuat nafsu aku bergejolak

“ dimas, kamu udah punya pacar ?”, tanyanya padaku
“ belum m’bak, emang kenapa?” , “m’bak mo nyariin buat saya? “ tanyaku lagi
Ia tidak menjawab hanya tersenyum “ dimas maaf ya, “ katanya sambil tertunduk malu
Aku terheran “maaf, kenapa ‘bak? “ tanyaku, dengan malu-malu ia berkata “m’bak suka memperhatikan kamu kalo lagi olah raga “, “ badan kamu bagus, m’bak suka sekali “ gantian aku yang kikuk, “ terima kasih, m’bak “. Ia berdiri dan dan berjalan menghampiriku “boleh m’bak duduk disamping kamu” tanyanya padaku, aku mengangguk dan menggeser dudukku, frida duduk disampingku tercium oleh ku wangi parpum yang menggoda nafsuku sehingga membuatku penasaran ingin melihat tubuh frida dari dekat, “m’bak kalo lita datang gimana ?” tanyaku, “gak pa2, kamukan masih saudara “ katanya sambil menyenderkan bahunya didadaku, aku biarkan itu terjadi malah aku beranikan diri untuk mendekapnya dan merapatkannya didadaku.
Kami ngobrol dengan santai layaknya dua sejoli yang sedang memadu kasih tapi jantungku semakin berdegup dengan kencangnya karena aku sedari tadi memandangi paha mulus m’bak frida ditambah lagi dua bukit kembarnya tersembul dari balik kaos putih transparannya, tanpa sengaja aku menyentuh pahanya yang putih mulus itu karena tertiup angin dan membuat diriku semakin salah tingkah. M’bak frida diam saja membuat aku semakin berani mengelus paha mulusnya itu dengan perasaan takut perlahan-lahan aku telusuri paha mulusnya dengan tangan kananku, m’bak frida gak marah maka aku semakin berani aku coba menyelusupkan tanganku keselangkangannya membuat nafsuku semakin bergejolak “Ooo…sSsss “ hanya suara itu yang aku dengar keluar dari mulutnya aku beranikan diri untuk mencium telinga dan tengkuknya, ia menggelinjang kegelian, aku robah posisi dudukku sehingga berhadapan dengannya maka dengan leluasa aku bisa menggerayangi tubuh mulus m’bak frida, “ dimas, lakukan apa yang mau kamu lakukan “ katanya “m’bak gak akan marah kok “ katanya lagi, maka aku manfaatkan kesempatan ini untuk segera menikmati tubuh m’bak frida dengan penuh nafsu tangan kiri aku telah menyusup kedalam kaos putih transparannya ternyata ia tidak menggunakan BH dan dengan sigapnya tangan aku semakin leluasa ber gerilya menyusup kebukit kembarnya tapi tiba2 m’bak frida mendorongku kemudian ia menarikku menuju ruang baca. Sesampai disana semerta merta ia menyandarkanku ditempok dan dengan penuh nafsu ia membuka celanaku dan tanpa ragu ia mengulum, menghisap dan mengocok penisku dengan penuh nafsu setelah m’bak frida puas menikmati penisku ia, mebuka kaos yang dikenakannya kemudian ia mebiarkan tangan aku meraba, memijit dan memelintir bukit kembarnya yang membuat riska kegelian dan terlihat pentil bukit kembarnya telah membesar dan berwarna merah dan tanpa ia sadari ia berkata "Terusss.. nikmattttt.. dim.......... ahh.. ahhhh...." Dan itu membuat aku semakin bernafsu dan tanpa membuang kesempatan aku singkapkan rok mini yang digunakan m’bak frida dan dengan penuh nafsu aku buka celana dalam yang dipakaiannya ternyata ia sudah basah Dan aku arahkan penisku yang sudah menegang ke vaginanya "Terusss.. nikmattttt.. dimas ……terus ahh.. ahhhh...." aku tekan penisku semakin cepat sambil meremas-remas bokongnya yang padat dan berisi "Ahh.. terusss dim... terusss.. nikmattttt.. ahh.. ahhhh..." hanya kalimat itu yang keluar dari mulut m’bak frida aku pun makin menggencagkan seranganku Tiba-tiba pecahlah rintihan nafsu keluar dari mulut Riska."Ouuhhh.. Ommmm.. terus.. ahhh.. hhhhhhhhh.. ahhhhhhhhhhhhhh.." riska mengalami orgasme berbarengan dengan itu Hp m’bak frida berbunyi kami berdua terkejut bergegas ia merapikan pakaiannya dan tidak lupa ia memberikan ciuman mesra dibibirku “ nanti, kita lanjutkan ya “ katanya sambil berlalu, ternyata yang menelpon adalah mas Niko pamanku.

3 Lawan 1 dalam Semalam

Hallo para netter, aku akan menceritakan pengalamanku menjadi seorang gigolo, cerita ini tidak dibuat-buat, cerita ini benar-benar terjadi.

Namaku dedi, umur 24 tahun. Aku seorang gigolo di kota Bandung. Aku akan menceritakan pengalamanku melayani sekaligus 4 pelangganku dalam semalam. Aku menggeluti profesi ini sudah 4 tahun, dan sejak itu aku mempunyai pelanggan tetap namanya Tante Mira (bukan nama asli), dia seorang janda tidak mempunyai anak, tinggal di Bandung, orangnya cantik, putih, payudaranya besar walaupun sudah kendor sedikit, dia keturunan tionghoa. Dia seorang yang kaya, memiliki beberapa perusahaan di Bandung dan Jakarta, dan memeiliki saham di sebuah hotel berbintang di Bandung.

Sabtu pukul 7 pagi, HP-ku berbunyi dan terdengar suara seorang wanita, dan kulihat ternyata nomor HP Tante Mira.
"Hallo Sayang.. lagi ngapain nich.. udah bangun?" katanya.
"Oh Tante.. ada apa nich, tumben nelpon pagi-pagi?" kataku.
"Kamu nanti sore ada acara nggak?" katanya.
"Nggak ada Tante.. emang mo ke mana Tante?" tanyaku.
"Nggak, nanti sore anter Tante ke puncak yach sama relasi Tante, bisa khan?" katanya.
"Bisa tante.. aku siap kok?" jawabku.
"Oke deh Say.. nanti sore Tante jemput kamu di tempatmu", katanya.
"Oke.. Tante", balasku, dengan itu juga pembicaraan di HP terputus dan aku pun beranjak ke kamar mandi untuk mandi.

Sore jam 5, aku sudah siap-siap dan berpakaian rapi karena Tante Mira akan membawa teman relasinya. Selang beberapa menit sebuah mobil mercy new eye warnah hitam berkaca gelap berhenti di depan rumahku. Ternyata itu mobil Tante Mira, langsung aku keluar menghampiri mobil itu sesudah aku mengunci seluruh pintu rumah dan jendela.

Aku pun langsung masuk ke dalam mobil itu duduk di jok belakang, setelah masuk mobil pun bergerak maju menuju tujuan. Di dalam mobil, aku diperkenalkan kepada dua cewek relasinya oleh tante, gila mereka cantik-cantik walaupun umur mereka sudah 40 tahun, namanya Tante Lisa umurnya 41 tahun kulitnya putih, payudaranya besar, dia merupakan istri seorang pengusaha kaya di Jakarta dan Tante Meri 39 tahun, payudaranya juga besar, kulitnya putih, juga seorang istri pengusaha di Jakarta. Mereka adalah relasi bisnis Tante Mira dari Jakarta yang sedang melakukan bisnis di Bandung, dan diajak oleh Tante Mira refreshing ke villanya di kawasan Puncak. Keduanya keturunan Tionghoa.

Di dalam mobil, kami pun terlibat obralan ngalor-ngidul, dan mereka diberitahu bahwa aku ini seorang gigolo langganannya dan mereka juga mengatakan ingin mencoba kehebatanku.

Selang beberapa menit obrolan pun berhenti, dan kulihat Tante Lisa yang duduk di sebelahku, di sofa belakang, tangannya mulai nakal meraba-raba paha dan selangkanganku. Aku mengerti maksudnya, kugeser dudukku dan berdekatan dengan Tante Lisa, lalu tangan Tante Lisa, meremas batang kemaluanku dari balik celana. Dengan inisatifku sendiri, aku membuka reitsleting celana panjangku dan mengeluarkan batang kemaluanku yang sudah tegak berdiri dan besar itu. Tante Lisa kaget dan matanya melotot ketika melihat batang kemaluanku besar dan sudah membengkak itu. Tante Lisa langsung bicara kepadaku, "Wow.. Ded, kontol kamu gede amat, punya suamiku aja kalah besar sama punya kamu.." katanya.
"Masa sich Tante", kataku sambil tanganku meremas-remas payudaranya dari luar bajunya.
"Iya.. boleh minta nggak, Tante pengen ngerasain kontol kamu ini sambil kontolku dikocok-kocok dan diremas-remas, lalu dibelai mesra?" katanya.
"Boleh aja.. kapan pun Tante mau, pasti Dedi kasih", kataku yang langsung disambut Tante Lisa dengan membungkukkan badannya lalu batang kemaluanku dijilat-jilat dan dimasukakkan ke dalam mulutnya, dengan rakusnya batang kemaluanku masuk semua ke dalam mulutnya sambil disedot-sedot dan dikocok-kocok.

Tante Meri yang duduk di jok depan sesekali menelan air liurnya dan tertawa kecil melihat batang kemaluanku yang sedang asyik dinikmati oleh Tante Lisa. Tnganku mulai membuka beberapa kancing baju Tante Lisa dan mengeluarkan kedua payudaranya yang besar itu dari balik BH-nya. lalu kuremas-remas.

"Tante.. susu tante besar sekali.. boleh Dedi minta?" tanyaku.
Tante Lisa hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu tanganku mulai meremas-remas payudaranya. Tangan kiriku mulai turun ke bawah selangkangannya, dan aku mengelus-ngelus paha yang putih mulus itu lalu naik ke atas selangkangannya, dari balik CD-nya jariku masuk ke dalam liang kewanitaannya. Saat jariku masuk, mata Tante Lisa merem melek dan medesah kenikmatan, "Akhh.. akhh.. akhh.. terus sayang.."

Beberapa jam kemudian, aku sudah tidak tahan mau keluar.
"Tante.. Dedi mau keluar nich.." kataku.
"Keluarain di mulut Tante aja", katanya.
Selang beberapa menit, "Croot.. croot.. crott.." air maniku keluar, muncrat di dalam mulut Tante Lisa, lalu Tante Lisa menyapu bersih seluruh air maniku.

Kemudian aku pun merobah posisi. Kini aku yang membungkukkan badanku, dan mulai menyingkap rok dan melepaskan CD warna hitam yang dipakainya. Setelah CD-nya terlepas, aku mulai mencium dan menjilat liang kewanitaannya yang sudah basah itu. Aku masih terus memainkan liang kewanitaannya sambil tanganku dimasukkan ke liang senggamanya dan tangan kiriku meremas-remas payudara yang kiri dan kanan.

Sepuluh menit kemudian, aku merubah posisi. Kini Tante Lisa kupangku dan kuarahkan batang kemaluanku masuk ke dalam liang senggamanya, "Bless.. belss." batang kemaluanku masuk ke dalam liang kewanitaannya, dan Tante Lisa menggelinjang kenikmatan, ku naik-turunkan pinggul Tante Lisa, dan batang kemaluanku keluar masuk dengan leluasa di liang kewanitaannya.

Satu jam kemudian, kami berdua sudah tidak kuat menahan orgasme, kemudian kucabut batang kemaluanku dari liang kewanitaannya, lalu kusuruh Tante Lisa untuk mengocok dan melumat batang kemaluanku dan akhirnya, "Croot.. crott.. croott.." air maniku muncrat di dalam mulut Tante Lisa. Seketika itu juga kami berdua terkulai lemas. Kemudian aku pun tertidur di dalam mobil.

sesampainya di villa Tante Mira sekitar jam 8 malam. Lalu mobil masuk ke dalam pekarangan villa. Kami berempat keluar dari mobil. Tante Mira memanggil penjaga villa, lalu menyuruhnya untuk pulang dan disuruhnya besok sore kembali lagi.

kami berempat pun masuk ke dalam villa, karena lelah dalam perjalanan aku langsung menuju kamar tidur yang biasa kutempati saat aku diajak ke villa Tante Mira. Begitu aku masuk ke dalam kamar dan hendak tidur-tiduran, aku terkejut ketika ke 3 tante itu masuk ke dalam kamarku dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelain benang pun yang menempel di tubuhnya. Kemudian mereka naik ke atas tempat tidurku dan mendorongku untuk tiduran, lalu mereka berhasil melucuti pakaianku hingga bugil. Batang kemaluanku diserang oleh Tante Meri dan Tante Mira, sedangkan Tante Lisa kusuruh dia mengangkang di atas wajahku, lalu mulai menjilati dan menciumi liang kewanitaan Tante Lisa.

Dengan ganasnya mereka berdua secara bergantian menjilati, menyedot dan mengocok batang kemaluanku, hingga aku kewalahan dan merasakan nikmat yang luar biasa. Kemudian kulihat Tante Meri sedang mengatur posisi mengangkang di selangkanganku dan mengarahkan batang kemaluanku ke liang kewanitaannya, "Bless.. bleess.." batang kemaluanku masuk ke dalam liang kewanitaan Tante Meri, lalu Tante Meri menaik turunkan pinggulnya dan aku merasakan liang kewanitaan yang hangat dan sudah basah itu. Aku terus menjilat-jilat dan sesekali memasukkan jariku ke dalam liang kewanitaan Tante Lisa, sedangakan Tante Mira meremas-remas payudara Tante Meri.

Beberapa jam kemudian, Tante Meri sudah orgasme dan Tante Meri terkulai lemas dan langsung menjatuhkan tubuhnya di sebelahku sambil mencium pipiku. Kini giliran Tante Mira yang naik di selangkanganku dan mulai memasukan batang kemaluanku yang masih tegak berdiri ke liang senggamanya, "Bleess.. bleess.." batang kemaluanku pun masuk ke dalam liang kewanitaan Tante Mira. Sama seperti Tante Meri, pinggul Tante Mira dinaik-turunkan dan diputar-putar.

Setengah jam kemudian, Tante Mira sudah mencapai puncak orgasme juga dan dia terkulai lemas juga, langsung kucabut batang kemaluanku dari liang kewanitaan Tante Mira, lalu kusuruh Tante Lisa untuk berdiri sebentar, dan aku mengajaknya untuk duduk di atas meja rias yang ada di kamar itu, lalu kubuka lebar-lebar kedua pahanya dan kuarahkan batang kemaluanku ke liang kewanitaannya, "Bless..bleess.." batang kemaluanku masuk ke dalam liang kewanitaan Tante Lisa. Kukocok-kocok maju mundur batang kemaluanku di dalam liang kewanitaan Tante Lisa, dan terdengar desahan hebat, "Akhh.. akhh.. akhh.. terus sayang.. enak.." Aku terus mengocok senjataku, selang beberapa menit aku mengubah posisi, kusuruh dia membungkuk dengan gaya doggy style lalu kumasukan batang kemaluanku dari arah belakang. "Akhh.. akhh.." terdengar lagi desahan Tante Lisa. Aku tidak peduli dengan desahan-desahannya, aku terus mengocok-ngocok batang kemaluanku di liang kewanitaannya sambil tanganku meremas-remas kedua buah dada yang besar putih yang bergoyang-goyang menggantung itu.

Aku merasakan liang kewanitaan Tante Lisa basah dan ternyata Tante Lisa sudah keluar. Aku merubah posisi, kini Tante Lisa kusuruh tiduran di lantai, di atas karpet dan kubuka lebar-lebar pahanya dan kuangkat kedua kakinya lalu kumasukkan batang kemaluanku ke dalam liang kewanitaannya, "Bless.. bless.. bless.." batang kemaluanku masuk dan mulai bekerja kembali mengocok-ngocok di dalam liang kewanitaannya. Selang beberapa menit, aku sudah tidak tahan lagi, lalu kutanya ke Tante Lisa, "Tante, aku mau keluar nich.. di dalam apa di luar?" tanyaku.
"Di dalam aja Sayang.." pintanya.
Kemudian, "Crott.. croott.. croott.." air maniku muncrat di dalam liang kewanitaan Tante Lisa, kemudian aku jatuh terkulai lemas menindih tubuh Tante Lisa sedangkan kejantananku masih manancap dengan perkasanya di dalam liang kewanitaannya.

Kami berempat pun tidur di kamarku, keesokan harinya kami berempat melakukan hal yang sama di depan TV dekat perapian, di kamar mandi, maupun di dapur.

Bila ada tante-tante atau cewek-cewek yang kesepian atau butuh kehangatan dan kejantanan seorang pria atau ada yang mau mencoba kejantananku, bisa hubungi e-mailku.

TAMAT

Rabu, 17 Oktober 2007

Pengakuan Wanita

Tulisan ini bukan merupakan sebuah cerita dari sesuatu kejadian bermain seks, tapi merupakan cuplikan dari hasil pembicaraan dengan teman-teman wanita yang saya kenal.

Percakapan ini melibatkan teman-teman wanita saya terdiri dari mulai gadis remaja sampai dengan ibu rumah tangga, yang tempat kejadian dan waktunya tidak bersamaan. Tentunya cuplikan yang saya tuliskan di sini hanya yang mengandung topik masalah seksual saja. Banyak topik yang menarik, yang saya pikir belum tentu semua lelaki mengetahuinya sehingga saya coba untuk menyajikan dalam bentuk cuplikannya.

Hampir setiap lelaki yang pernah bersetubuh dengan saya selalu melakukan hal yang keliru di dalam melakukan antisipasi ketika saya mulai mencapai klimaks. Mereka selalu mempercepat goyangan dengan begitu bernafsunya sehingga momen orgasme saya yang indah itu tidak berbekas. Seharusnya lelaki itu mengerti dan tahu apa yang harus dilakukannya apabila wanita mulai mencapai klimaks, yaitu memperlambat goyangan pada sikap gerakan yang hampir diam, dan kemudian mulai menggerakkan penisnya lagi secara perlahan-lahan sehingga gesekan penis di dalam vagina akan terasa begitu menggelitik berbaur dengan rasa klimaks yang baru saja tercapai sehingga kenikmatan yang saya peroleh, saking nikmatnya, akan sulit untuk saya ungkapkan dengan kata-kata. Sering terlintas dalam pikiran saya ternyata orgasme yang saya peroleh melalui masturbasi jauh lebih nikmat dibandingkan dengan orgasme yang diperoleh dari penis laki-laki semacam yang di atas karena dengan cara masturbasi saya dapat merasakan kontraksi di dalam vagina dengan cara mengurangi sentuhan atau gerakan tangan saya ketika saya akan mulai klimaks", ungkap Leni seorang mahasiswi berumur 24 tahun.

"Pada umumnya setiap lelaki mengetahui bahwa payudara wanita adalah daerah sensitif untuk meningkatkan gairah birahi wanita disamping clitoris. Selain sensitif untuk meningkatkan gairah birahi juga merupakan daerah yang rawan menerima rasa sakit. Kebetulan payudara saya ukurannya termasuk ukuran besar, dan suami saya sangat senang memainkan payudara saya baik sebelum maupun selama bersetubuh. Kalau mengisap puting payudara saya, dia lakukan lama sekali dan kalau dia sudah akan mencapai orgasme remasan-remasannya pada payudara saya begitu liar sehingga rasa nikmat hilang menjadi rasa sakit yang akibatnya saya selalu ingin segera mengakhiri acara persetubuhan ini.
Sudah sering saya katakan padanya bahwa kalau dia meremas-remas payudara saya terlampau keras saya hanya merasakan rasa sakit bukan rasa nikmat. Suami saya menjawab, bahwa hal itu pasti akan selalu terjadi karena payudara kamu begitu besar dan sangat merangsang untuk diremas dengan keras dan ekspresi wajah saya katanya kelihatan menyukai hal tersebut. Padahal bagi hampir semua wanita, kalau puting payudara ini dihisap atau dikulum terlampau lama maka puting payudara itu akan menjadi keras dan sensitivitasnya menjadi berkurang. Waktu saya ngobrol mengenai hal ini dengan teman saya yang kebetulan juga memiliki ukuran payudara yang besar, diapun ternyata mempunyai masalah yang sama dengan pacarnya, dan dia mengatakan kepada saya bahwa wanita yang memiliki payudara besar akan lebih sering menderitanya dibandingkan dengan kenikmatannya yang diperoleh oleh wanita yang hanya memiliki payudara yang berukuran sedang. Karena mungkin saja dalam benak pikiran laki-laki, tersimpan pikiran bahwa wanita dengan payudara yang berukuran besar itu menyenangi perlakuan yang lebih untuk payudaranya sehingga lelaki pasangan kita itu selalu dengan rakus dan kasar mempermainkan payudara wanita yang berukuran besar. Pikiran semacam itu salah sama sekali!
Terlepas dari besar kecilnya ukuran payudara wanita, perlakuan yang lembut dan liar (bukan kasar) atas payudara itu akan memberikan rangsangan yang luar biasa sekali, dan jauh dari rasa sakit .Akibat dari hal ini, sudah lama saya jarang mencapai orgasme kalau bersetubuh dengan suami saya, pelarian saya untuk mencapai orgasme adalah melalui vibrator", ungkap Nina, seorang ibu rumah tangga berumur 31 tahun.

"Pacar saya kalau bersetubuh tidak pernah bisa lama atau menunggu saya dalam mencapai orgasme. Tapi saya tetap bisa puas dan akhirnya mencapai orgasme dengan kualitas orgasme yang dapat membuat saya benar-benar puas. Yang dia lakukan apabila dia sudah klimaks adalah mencabut penisnya dari vaginaku, dan segera dia memasukkan dua jari tangannya, yaitu jari telunjuk dan jari manis, ke dalam vaginaku dan menggosok dengan gerakan memutar secara perlahan clit-ku dengan jempolnya. Kemudian dia menggantikan peran jempol tersebut dengan lidahnya untuk berputar-putar di atas clit-ku sambil jari-jarinya digerakan keluar masuk menggesek bagian dalam vaginaku. Dengan apa yang dia lakukan, saya tidak pernah dapat bertahan lama, klimaks dengan kenikmatan yang sensasional", ungkap Hesti, seorang sekretaris berumur 23 tahun.

"Sulit mendapatkan laki-laki, apakah dia bujangan atau sudah married yang menguasai 'The Art of Sex', ujar Lina. Setiap Lina mau mencapai orgasme akibat foreplay yang dilakukan oleh si laki-laki tanpa sadar biasanya Lina suka nyerocos ngomong ngelantur seperti teriak, "aadduuuuh..., Lina hampir keluar" atau "Ohh..., Lina nggak tahan lagi", dan yang semacamnya. Mendengar erangan Lina semacam itu setiap laki-laki yang bersetubuh sama Lina pasti langsung menancapkan penisnya sekaligus dengan tekanan yang keras sekali ke vagina Lina. laki-laki itu sebenarnya harus tahu bahwa bagaimanapun wanita mengerang dan memohon untuk disetubuhi tapi kalau penis itu ditancapkan dengan cara seperti itu akan menimbulkan rasa sakit dan langsung menurunkan rasa gairah yang tadinya sudah begitu tinggi. Biasanya begitu masuk, karena akibat erangan Lina, si laki-laki langsung menyetubuhi Lina dengan gerakan yang cepat. Tapi karena cara masuknya seperti tadi di atas, dimana akibatnya gairah Lina sendiri agak menurun karena masih menahan rasa pedih yang belum hilang, bukannya Lina yang orgasme malahan menjadi sebaliknya.
Seharusnya si laki-laki tahu bahwa kalau wanita sudah memohon untuk di setubuhi, masukkan penisnya secara 'gentle', tekan perlahan tapi lakukan sedalam mungkin, kemudian setubuhi wanita itu dengan gerakan yang teratur tetapi tidak terlalu cepat. Kalau si laki-laki melakukan seperti itu, akan terasa sekali sama Lina bagaimana kepala penis membuka bibir vagina Lina untuk berusaha masuk ke vagina Lina dan otomatis lubang vagina akan membesar dan vagina bertambah basah sehingga dengan mudah dan nikmat penis itu akan masuk semuanya ke dalam vagina Lina, dan yang pasti tidak lama kemudian Lina pasti orgasme. Hal ini baru satu kali Lina alami dari delapan laki-laki yang pernah bersetubuh dengan Lina", ungkap Lina, seorang asisten front office manajer sebuah hotel berbintang di Bandung berumur 25 tahun.

"Lelaki dewasa itu menurut saya adalah manusia yang kadang-kadang sering bersikap bodoh dan menyakitkan, tetapi mereka sama sekali tidak menyadarinya. Salah satu ungkapan kebodohan dan sikap laki-laki yang menyakitkan itu aku peroleh dari pacarku sendiri. Dan dia sendiri sama sekali tidak menyadarinya. Kejadiannya sewaktu aku masih berumur 18 tahun dimana pacarku waktu itu berumur 25 dan sudah bekerja. Masa pacaranku pada waktu itu memasuki usia 2 tahun, dan di suatu malam akhirnya pertahananku jebol juga, keperawananku berhasil diambilnya. Usai dia memerawaniku, dia bertanya kepadaku, "Apakah aku masih sakit dan apakah aku menyesal telah melakukannya". Pertanyaan ini terasa buatku sangat menyakitkan dan di mataku rasanya dia menjadi sangat bodoh sekali dengan melontarkan pertanyaan semacam itu. Karena, kalau aku jawab bahwa aku menyesal telah melakukannya, dia sudah pasti tidak dapat berbuat apa-apa karena keperawananku sudah robek. Sama saja sewaktu penisnya masih belum dapat menembus keperawananku dia sempat bertanya, "Apakah aku merasa sakit?", tapi tanpa menunggu jawabanku tetap saja dia melakukannya. Seharusnya dia sebagai pacarku dan juga bagi laki-laki serta laki-laki lainnya yang telah berhasil merenggut keperawanan pacarnya tidak usah bertanya semacam itu, tapi cukup dengan memeluk dan mengatakan bahwa dia sangat mencintaiku dan akan bertanggung jawab atas segala akibat dari apa yang telah kita lakukan berdua", ungkap Ika, seorang mahasiswi berumur 21 tahun.

"Meskipun sempat ragu-ragu karena takut merasa sakit, tapi Desi pernah minta pacar Desi untuk mencoba menyetubuhi anus Desi. Pacar Desi mengerti gelagat bahwa meskipun itu keinginan Desi sendiri tapi dia tahu bahwa sebenarnya Desi masih ragu-ragu untuk melakukannya. Tapi ternyata pacar Desi bisa menyetubuhi anus Desi hampir tanpa meninggalkan rasa pedih sedikitpun, malah sebaliknya, Desi memperoleh kepuasan yang luar biasa sekali. Pertama yang dia lakukan adalah memberi pelicin (vaseline) di penisnya dan juga di sekitar maupun di lubang anus Desi. Setelah penisnya berada di posisi bibir anus Desi dia sama sekali tidak melakukan tekanan, tapi justru dia yang menyuruh Desi mendorong pantat Desi ke belakang sehingga kontrol untuk mengatasi rasa sakit sepenuhnya ada pada Desi. Dengan perlahan-lahan, kadang-kadang berhenti dulu kalau terasa sedikit pedih, penis pacarku itu akhirnya masuk semua ke dalam anus Desi.
Tanpa rasa pedih atau sakit yang berlebihan seluruh batang penis pacarku telah tertanam di dalam anus Desi, yang ada hanya rasa nikmat. Dengan tangannya dia meraih vibrator yang telah disiapkan, dan dibenamkannya vibrator tersebut ke vagina Desi. Pacar Desi tetap diam tidak melakukan gerakan, dan gelinya gelitikan vibrator di dalam vagina Desi mulai membuat Desi bergerak, setiap gerakan Desi melawan vibrator menimbulkan gerak balik terhadap pantat Desi, dan otomatis anus Desi bergerak naik turun menggesek penis pacar Desi. Adegan ini tidak bertahan lama karena Desi tidak mampu untuk menahan rasa nikmat yang Desi alami. Desi mencapai orgasme yang menurut Desi, belum pernah Desi rasakan sebelumnya. Ternyata kalau laki-laki itu mengerti soal persetubuhan, banyak cara yang dapat diberikannya untuk memuaskan wanita. Dengan pengalaman itu, Desi makin sayang sama dia dan tidak pernah punya pikiran untuk mencoba penis yang lain selain penis pacar Desi", ungkap Desi seorang foto model berumur 23 tahun.

"Suami Hani termasuk suami yang termasuk cepat klimaks, sehingga Hani sering sekali kecewa. Setelah dia klimaks, dia malah tidak ada usaha sedikitpun untuk melakukan sesuatu agar Hani dapat juga mencapai kepuasan kalau bersetubuh dengan dia. Pada suatu malam, dia mengajak Hani bersetubuh dan tentunya sebagai istri Hani selalu siap untuk melayaninya. Diluar kebiasaannya, malam itu dia kuat sekali bersetubuhnya, Hani jadi bertanya-tanya, bagaimana mungkin suami Hani dalam soal bersetubuh dapat berubah begitu drastis menjadi laki-laki yang perkasa, padahal selama dua tahun usia perkawinan kita, paling lama dia hanya mampu bertahan 3-5 menit saja. Malam itu beberapa kali Hani mencapai orgasme.
Dua hari kemudian kita bersetubuh lagi, sewaktu pemanasan Hani hisap penisnya, terasa bau dan sedikit pedas rasa penisnya di mulut Hani. Mulut Hani terasa tidak nyaman sama sekali dan birahi Hani langsung turun drastis. Teka-teki yang ada di benak Hani terjawab sudah, ternyata penis suami Hani sebelum bersetubuh telah diolesi dengan semacam obat yang mampu menimbulkan rasa kebal. Malam itu, meskipun dia mampu bertahan lebih dari 30 menit, Hani tetap tidak dapat mencapai orgasme, vagina Hani sampai pedih menahan gesekan penisnya, karena cairan vagina Hani sudah mengering tetapi dia masih saja menyetubuhi Hani. Pemakaian obat semacam itu sangat mengganggu pikiran Hani, dan semakin lama dia menyetubuhi Hani, semakin terasa bahwa vagina Hani bukan sedang dimasukin penisnya tetapi merasa sedang ditusuk-tusuk oleh sebuah benda mati. Hani tidak ada gairah lagi, karena Hani punya perasaan bahwa apapun tingkah dan gaya Hani bersetubuh tidak akan ada artinya kalau yang dihadapi adalah penis yang tidak mempunyai rasa sensitifitas, hanya akan membuat Hani lelah tidak berujung saja.
Malam itu, acara bersetubuh kita terasa buat Hani sebagai sebuah siksaan, berakhir dengan meninggalkan kesan sangat buruk terhadap penis suami Hani. Perlu untuk diketahui oleh para lelaki, bahwa pemakaian obat semacam itu belum tentu akan mampu menghasilkan orgasme yang indah bagi pasangannya, contohnya seperti apa yang aku alami dengan suamiku sendiri. Lebih baik meminta saran dokter atau yang memang ahli di dalam bidang seksual untuk berkonsultasi bagaimana caranya untuk mengatasi masalah ejakulasi dini yang kalian hadapi", ungkap Hani seorang ibu rumah tangga berusia 38 tahun.

"Pada umur 17 tahun, Winda diperawanin oleh pacar Winda, pada waktu itu umur dia adalah 22 tahun. Sedikit rasa sakit yang Winda alami adalah sewaktu unjung penis pacar Winda menekan untuk berusaha masuk ke vagina Winda. Setelah ujung penisnya berhasil masuk, pacar Winda tidak kesulitan untuk menekan masuk seluruh batang penisnya ke vagina Winda tanpa menimbulkan rasa sakit sedikitpun di vagina Winda. Gerakan dan goyangan Winda muncul secara tidak terkontrol akibat rasa nikmat merasakan goyangannya. Setelah selesai kita bersetubuh, beberapa saat pacar Winda termenung seolah-olah memikirkan sesuatu. Akhirnya dia berkata bahwa dia merasa heran bahwa Winda tidak menjerit dan tidak mengeluarkan setitik darahpun sewaktu diperawanin malah menurutnya Winda bergoyang liar menikmatinya. Winda merasa sakit hati dan sedih sekali dituduh bahwa Winda sudah biasa bersetubuh, padahal itu adalah yang pertama kalinya Winda bersetubuh.
Winda jelaskan kepada pacar Winda bahwa kejadian bersetubuh yang tadi itu adalah yang pertama buat Winda. Tapi kelihatannya pacar Winda tidak begitu mempercayainya. Padahal Winda sendiri tidak yakin dan tidak tahu kalau dia itu masih benar-benar jejaka dalam artian belum pernah bersetubuh sama sekali sebelumnya. Sejak kejadian itu pacar Winda makin aneh kelakuannya, dan akhirnya hubungan kita putus. Meskipun hati Winda begitu sedih dan sulit untuk menerimanya, tetapi akhirnya Winda justru merasa bersyukur putus hubungan dengan dia. Karena dari sikapnya tersebut Winda dapat mengambil sebuah kesimpulan bahwa dia tidak sepenuhnya mencintai Winda. Dia hanya mencintai selaput dara Winda tetapi tidak mencintai Winda secara keseluruhan. Lelaki semacam pacar Winda ini sebaiknya dijauhi oleh para wanita. Lelaki semacam ini egonya sangat tinggi, sehingga kalaupun dipaksakan terus untuk menjadi pacar atau suami kelakuannya kelak hanya akan membuat kita sebagai wanita tersiksa batin saja. Kalau seorang laki-laki betul-betul tulus mencintai seorang wanita, tentunya dia akan mencintai wanita tersebut secara keseluruhannya. Apalagi dalam hal ini Winda telah menjelaskan kepadanya bahwa dia adalah laki-laki yang pertama bersetubuh Winda", ungkap Winda, seorang wanita yang baru lulus SMU berumur 18 tahun.

"Usia perkawinanku sekarang telah memasuki tahun ketujuh dan aku sendiri sekarang berumur 35 tahun. Hubungan seksual tadinya berjalan normal dan memuaskan bagi diri dan suamiku, tetapi dalam 5 bulan terakhir ini aku hampir tidak pernah lagi dapat mencapai orgasme. Mungkin hal ini disebabkan oleh rasa jenuh dan bosan akibat dari acara bersetubuh yang selalu monoton kurang variasi, karena suamiku tidak memiliki inisiatif untuk lebih menghidupkan lagi acara persetubuhan kita. Tanpa direncanakan aku terlibat penyelewangan dengan teman suamiku. Dari penampilan wajah maupun postur fisiknya dia jauh di bawah suamiku, tapi kalau dia bersetubuh aku, dia dapat memberikan apa yang aku tidak peroleh dari suami sendiri. Dengan telaten dan sabar dia menuntunku untuk melakukan apa saja yang aku sukai selama bersetubuh. Hasilnya, aku sangat tergantung sekali kepada dia dalam hal bersetubuh, dan dia tergantung padaku dalam hal materi. Buatku tidak menjadi masalah. Materi aku dapat minta dengan mudah kepada suamiku. Penis dia sendiri ukurannya lebih kecil dari suamiku, tapi cara dia menuntun aku untuk mencapai orgasme luar biasa sekali, tidak jarang aku dapat mencapai orgasme lebih dari tiga kali dalam satu kali acara bersetubuh dengan dia.
Dampak lainnya, setiap aku bersetubuh dengan suamiku sendiri aku dapat kembali mencapai orgasme, hal ini disebabkan karena akau selalu membayangkan goyangan dia selama akau bersetubuh dengan suamiku. Buat para lelaki/suami jadikanlah pengalamanku ini untuk menjaga agar pacar/istri itu tidak mencari penis lain dengan jalan selalu berusaha untuk memahami keinginan wanita dalam hal bersetubuh. Wanita sulit untuk mengutarakan keinginannya yang macam-macam dalam hal bersetubuh karena rasa malu dan takut kalau dicap yang tidak-tidak. Tawaran dan inisiatif melakukan variasi baru dalam hal bersetubuh sebaiknya datang terlebih dahulu dari pihak laki-laki. Kalau hanya sekedar memasukkan penis ke dalam vagina, aku kira hampir semua lelaki tidak perlu belajar, secara alami pasti bisa. Yang perlu dipelajari oleh para lelaki adalah bagaimana caranya agar selalu dapat memberikan suasana dan variasi baru pada setiap kesempatan bersetubuh, dimana variasi-variasi tersebut juga dapat diterima oleh pasangannya sehingga acara bersetubuh tersebut tetap diliputi rasa gairah, tidak monoton dan membosankan untuk dilakukan", ungkap Eli, seorang ibu rumah tangga berumur 35 tahun.

Semoga artikel ini menambah pengetahuan bagi laki-laki bagaimana cara memuaskan wanita yang kita cintai, sehingga wanita tersebut tambah cinta pada kita dan tidak akan pernah berpaling kepada laki-laki lain.


TAMAT

Selasa, 09 Oktober 2007

Dosen Favorite

Aku Anita kelahiran Samarinda, kuliah di fakultas Ekonomi sebuah PTS cukup beken di kota Malang saat ini semester 6. Kabarnya temanku kuliah bilang aku cukup manis untuk dipandang, dengan ukuran buah dada 34C, tubuhku seolah tak kuat menyangga buah dadaku. Tinggiku 165 dan beratku 60 Kg, kulitku putih mulus dan pantatku berisi. Tiap kuliah dengan kelebihan yang kupunya aku berusaha menarik perhatian semua orang dengan pakaian ketat dan rok mini aku berjalan melenggang. Semua mata tertuju padaku ada juga beberapa berdecak kagum atas kemolekan tubuhku dan, aku bangga menyaksikan semua itu.
Terus terang aku sudah tidak perawan sejak usia 18 tahu pada waktu aku di SMA, karena bebasnya pergaulan dan longgarnya tatanan keluargaku aku bebas pergi kemana saja kusuka. Keperawananku hilang saat aku melakukan kegiatan camping bersama teman-teman saat perpisahan sekolah disuatu tempat pariwisata. Aku tidak menyesali karena kulakukan atas dasar suka sama suka. Kuliah sore ini adalah dosen favouritku, Faisal namanya wajahnya ganteng atletis dan banyak sekali mahasiswi yang berusaha menarik perhatiannya pada saat dia mengajar. Bahkan aku pernah dengan dari kakak tingkatku walau dia kelihatan alim sebenarnya piawai juga dalam menaklukkan hati wanita yang diincarnya.
Pak Faisal sudah berkeluarga tetapai masih banyak juga mahasiswi yang tergila-gila melihat penampilannya termasuk aku sendiri. Aku pilih tempat duduk paling depan lurus dengan tempat duduknya biar aku dapat dengan mudah dan puas memandangnya. Tak lama kemudian pak Faisal memasuki ruangan, setelah memberikan salam dan berbasa-basi pelajaran dilanjutkan. Aku tidak dapat konsentrasi pada kuliah yang diajarkan pikiranku tertuju pada wajah dan bodinya yang tepat berdiri didepanku. Sesekali kugerakkan kakiku untuk meraik perhatiannya dan dia terpancing, diliriknya rokku yang cukup sempit itu sreeet, . Dan dipalingkan wajahnya pada pandangan lain, ah dia kena, pikirku. Dan, . Secara tidak sengaja dilemparkan pandangannya pada daerah dadaku pak Faisal agak terbelalak melihat belahan dadaku yang seolah mau melompat keluar karena ketatnya T shirt yang kukenakan. Merah wajahnya seketikan menyadari keadaan ini dan dia pura-pura menulis dipapan.
Selang beberapa saat dia melanjutkan membahas materi kuliah dan kini aku yang benar-benar terkejut, kulihat celana pak Faisal ada yang menggembung dibagian depan. Beberapa mahasiswa tersenyum malu memandang bahkan ada yang sempat terhenyak sampai menutup mulutnya. Kubayangkan betapa besar batang kemaluan pak Faisal yang sekarang sembunyi dibalik celananya. Aku semakin terkagum dan merinding membayangkan andaikan memekku yang sempit ini sempat disinggahi oleh batang kemaluannya.
Ketika kuliah usai mahasiswi ramai membicarakan kejadian yang baru berlangsung yaitu menggembungnya celana pak Faisal. "Eh, Neti kamu lihat enggak anunya pak Faisal meradang, ," tanya Nina sambil berbisik berbicara dan menutup mulutnya. "Iya Nin, . Aku jadi merinding lho membayangkan, ngeri juga ya, kalo kamu bagaimana Anita,.. ," Tanyanya padaku, mereka berdua dengan aku (jadi bertiga) adalah kelompok belajar yang kadang suka ngerumpi hal-hal yang jorok-jorok untuk selingan, dan kedua temanku juga orangnya fair dia mengaku sama-sama tidak perawan dan senang melakukan hubungan sex dengan orang yang di sukai. Yang jelas ketiganya ini memang sedang berburu pak Faisal.
Konon kabarnya pak Faisal pernah juga terlibat beberapa kali affair dengan mahasiswinya dan semua berjalan santai-santai saja. "Pasti dong, aku kan duduk depan sendiri jadi aku paling jelas lihat burung raksasanya, bener juga ya kali. Kakak tingkat kita itu yang pernah ama dia pasti ketagihan dibuatnya, .." cerita Anita berapi-api, " Dan yang jelas aku pengin mendapatkannya, .," Lanjutnya. Setelah puas ngerumpi kiri kanan muka dan belakang mengupas habis masalah dosen favourit aku berpisah dengan sahabatku untuk janji bertemu besok dan akan berusaha bertemu dengan pak Faisal pada minggu depan, aku berjalan kaki karena kebetulan mobil yang biasa kupakai harus mengalami pemeriksaan medis di bengkel.
Tak kurasakan ada mobil berjalan pelan mengikutiku sampai akhirnya kira-kira berjarak 300 diluar halaman kampus, kaca jendela mobil terbuka dan kudengarkan suara yang tidak asing menawari untuk mengantarku. Aku menoleh dan, . DEG, DEG, .DEG jantungku seakan berhenti pak faisal yang baru saja ku bicarakan senyum manis mengajakku. Tanpa berkata lagi aku langsung membuka pintu kiri dan kuletakkan pantatku pada tempat duduk kiri. Mata pak Faisal tak luput melihat pahaku yang tersingkap dan dengan cepat kututup pintu serta membenahi letak dudukku yang terlalu sembrono itu. Mobil berjalan lambat kuperhatikan interior didalamnya cukup mewah dengan lapisan karpet halus dan bersih serta wangi aku krasan didalam mobilnya. Sesekali mata pak Faisal mengarah pada belahan dada yang padat berisi, apabila jalan bergelombang tak ayal lagi dadaku ikut turun naik sesuai irama jalan.
Tak terasa perjalanan sudah jauh melampaui arah kost-kosanku. Sambil bercerita ringan pak faisal memindahkan persnelling tanpa melihatnya dan, .. secara tidah sengaja dia menyenggol pahaku, cepat-cepat ditarik tangannya sambil mengucapkan maaf berkali-kali. Aku tersenyum saja padahal aku juga kepingin tangannya berlama-lama dipahaku bahkan tidak hanya dipaha saja, .. Tak terasa mobil dibelokkan pada Restoran yang mewah dengan fasilitas karaoke. Pak Fasial memilih tempat yang asri dengan lokasi pribadi ruang hanya untuk dua orang. Setelah makanan tersedia pak faisal menikmati sambil bernyanyi. Merdu juga suaranya, mesra ditelinga. Ruangan ber AC tinggi membuat aku agak dingin sengaja kurapatkan dudukku untuk tidak terlalu dingin, Pak faisal masih terus bernyanyi.
Dua lagu telah selesai dinyanyikan dan dengan lembut tangannya mulai memeluk bahuku dan, gila aku menikmati sekali. Tak lama kemudian dia semakin berani mempermainkan rambutku, aku tetap terpejam dan, .. disentuh bibirku dengan tangannya akhirnya perlahan dan lembut bibirnya merapat dibibirku. Aku tidak menyia-nyiakan keadaan ini dengan cekatan pula kujulurkan lidah kecilku untuk dinikmati dan kami saling berpagukan ketat. Kuhisap mulutnya dia juga membalas tangkas sampai aku hampir kehabisan nafas, dia tidak diam dengan perlahan diraihnya payudaraku pertama dari luar kaos dan tangannya mulai menyibak kaosku. Dingin terasa payudaraku disentuh jari yang kokoh. Putingku tak luput dari jarinya dan kurasakan pentilku mulai mengeras. Aku masih tetap memeluk dan kuciumi lehernya. Perlahan ditarikknya kaosku keatas hingga tinggal BH dan Rok miniku saja dia makin agresif saja kelihatannya, Pak Faisal berdecak kagum melihat buah dadaku meyembul besar seakan Bhku tak sanggup menampung semua payudaraku ini.
Didekatkan kumisnya pada susuku aku kegelian dan kurasakan hangat lidahnya mengulum pentilku aku kegelian hebat. Rambut pak fFaisal jadi sasaran untuk menahan geli aku mengucek dan menjambak rambutnya, tetapi dia semakin menjadi. Susuku diberi cupang hingga nampak merah pekat ganas sekali dia, pikirku. Perlahan diraihnya leher dan aku ditidurkan diatas sofa, lagu karaoke sendu menambah gairahku semakin tinggi. Pak faisal tak bosan bosan menciumi bagian tubuhku dan, .. kurasakan pahaku bersentukan sama tangan berbulu milik pak Faisal. Rokku disibak dan ditarikknya keras sehingga pengaitku lepas, gila cing , .. kini tinggal celana dalamku ungu serta BH dengan warna yang sama.
Pak Faisal semakin bernafsu mulutnya menjalar kemana-mana aku hanya gelisah dan mengerang, semakin aku mengerang semakin ganas dia melakukan aksinya. ", . Eeeeeeeeeh, Pak, Pak, .. Faisal, .. Aaaaaaah, " Aku nggak betah saat dia me- mainkan memekku dengan tangannya dan, .. dielus lembut bulu memekku yang mulai basah. Aku kegelian saat jari tengahnya dimasukkan dalam lubang memekku, dia semakin bernafsu. ", ..Hhhhhmmmmmmmmmmmm, .Hmmmmmm ," lenguhnya. Aku semakin menjadi tak menentu, kekuatanku hilang saat pak Faisal dengan fasih menaruh lidahnya dalam lubang kemaluanku, digigit-gigit kecil klentitku yang memanjang dan semakin basah. Bunyi kecipak air kemaluanku menambah pak Fasial semakin berani menjulurkan lidahnya pada bagian dalam. Aku semakin kegelian. Semakin aku menggeliat mengangkat pantat kurasakan sentuhan lidah dalam vaginaku dan tangan pak faisal yang satu juga masih tidak mau lepas pada payudaraku.
Lengkap sudah kepuasan saat ini. Semua daerah sensitif milikku telah direngkuhnya. Tangannya sekarang sibuk melepas baju dan kini dia tinggal celana saja. Disuruhnya aku duduk dan dia berdiri, tanganku dituntun kearah celana dan disentuhkannya pada benda yang mengeras dibaliknya. Kuelus lembut, kutempelkan mukaku pada celana tersebut terasa berdenyut keras. Aku mulai tak sabar kubuka retsleting celana pak Faisal, kulihat putih warna celana dalamnya dan, .. Astaga kepala kemaluan pak faisal ternyata sudah keluar dari kolornya kucuba meraba ujung kemaluan keluar air sedikit agak liat. Celana Dalam putih kutarik kebawah dan, .. aku kaget setengah mati baru kali ini kulihat kemaluan lelaki kaku mendongak keatas, otot-ototnya kelihatan jelas meradang dan ukurannya maaaaaaakkkkkkk tak terbayangkan. Aku was- was juga.
Dia merasa digoyang-goyangkan kemaluannya kearah mukaku terasa pipiku seperti dipukul palu. Dengan senyum kupegang kemaluan pak Faisal dan, . Wuuuuiiiihhhhh tanganku tak cukup melingkari bulat kemaluannya dan panjangnya kuperkirakan sekitar 22 CM, dia juga tersenyum merlihat kebingunganku. Kulihat dia sambil melongo dan dia tidak menyia-nyiakan waktu dengan mendesakkan kemaluan ke mulutku. Mulutku yang keci tak muat mengelomoh semuanya banyak tersisa diluar. Aku dengan menganga penuh kuusahan agar kemaluan pak Faisal masuk dalam rongga mulutku, tetapi masih tidak bisa. Akhirnya aku jilati secara merata dia mulai menggelinjang dan melenguh. Mulai dari ujung kegerakkan masuk dan keluar dengan mulutku dia semakin tidak karuan juga geraknya. Dengan susah payah kukelomoh kemaluan pak Faisal yang besarnya seperti botol, semakin cepat dan semakin cepat.
Kurasakan aca cairan manis keluar sedikit dimulutku. Kuhisap semakin kuat dan kuat, pak Faisal pun semakin keras erangannya. Pak faisal mulai ingat tangannya bekerja lagi mengelus memekku yang mulai mengering basah kembali. Mulutku masih penuh kemaluan pak Faisal dengan gerakan keluar masuk seperti penyanyi karaoke. Aku tersentak merasakan pak faisal menarik kemaluannya agaak keras menjauh dari mulutku dan dengan sigap ditidurkannya aku diatas karpet, kedua kakiku diangkat diletakkan diatas pundaknya kiri kanan sehingga posisiku mengangkang,dia bisa melihat dengan jelas melihat memekku yang kecil namun kelihatan gemuk seperti bakpau. Kulihat dia mengelus kemaluannya dan menyenggol-nyenggolkan pada memekku aku kegelian. Aku bersiap dibukanya kemaluanku dengan tangan kiri dan tangan kanan menuntun kontolnya yang gede menuju lubang memekku.
Didorongnya perlahan, .. sreeeettttt, .dia melihatku sambil tersenyum dan dicobanya sekali lagi, mulai kurasakan ujung kemaluan pak Faisal masuk perlahan. Aku mulai geli tetapi agak sakit sedikit. Pak Fausal meliaht aku meringis menahan sakit dia berhenti dan bertanya, . "Sakit ya, ..," Aku tidak menjawab hanya kupejamkan mataku ingin ceoat merasakan kemaluan besarnya itu. Dogoyangnya perlahan dan, .Bleeesssss digenjotmya kuat pantatnya kedepan hingga aku menjerit, "Aaaaauuuuuuuu". Kutahan pantat pak faisal untuk tidak bergerak. Rupanya dia mengerti memekku agak sakit dan dia juga ikut diam sesaat. Kurasakan kemaluan pak Faisal berdenyut dan aku tidak mau ketinggalan. Aku berusaha mengejan sehingga kemaluan pak Faisal merasa kupijit pijit.
Selang beberapa saat memekku rupanya sudah dapat menerima semua kemaluan pak Faisal dengan baik dan muali berair sehingga ini memudahkan pak Faisal untuk bergerak. Aku mulai basah dan terasa ada kenikmatan melngalir di sela pahaku. Perlahan pak Faiasal menggerakkan pantatnya kebelakang dan kedepan, aku mulai kegelian dan nikmat. Kubantu pak Faisal dengan ikut menggerakkan pantatakku berputar , .. "Aduuuuuhhhhh, .. Anita, ," erang pak Faisal menahan laju perputaran pantatku rupanya dia juga kegelian kalau aku menggerakkan pantatku. Ditahannya pantatku kuat-kuat agar tidak berputar lagi, justru dengan menahan pantatku kua-kuat itulah aku menjadi geli dan berusaha untuk melepaskannya dengan cara bergerak berputar lagi tapi dia semakin kuat memegangnya. Kulakukan lagi gerakannu berulang dan kurasakan telur kemaluan pak faisal menatap pantatku licin dan geli. Rupanya pak Faisal termasuk kuat juga berkali-kali kemaluannya mengocek mememkku masih tetap saja tidak menunjukkan adanya kelelahan bahkan semakin meradang. Kucoba mempercepat gerakan pantatku berputar semakin tinggi dan cepat kulihat hasilnya pak Faisal mulai kewalahan dia terpengaruh iramaku Yang semakin lancar.
Kuturunkan kakiku mengamit pinggangnya dia semakin tidak leluasa untuk bergerak sehingga aku bisa mengaturnya. Aku merasakan sudah 3 (tiga) kali memekku mengeluarkan cairan untuk membasahi kemaluan pak Faisal tetapi pak Faisal belum keluar juga. "Kecepek,.. kecepek, kecepek, bunyi kemaluanku saat kemaluan pak Faisal mengucek habis didalamnya aku kegelian hebat, ", . Anita, .. aku mau keluar, . Tahan ya, . Pintanya menyerah. Tanpa membuang waktu kutarik memekku dari kemaluannya kugenggam dan dengan lincah kumasukkan bonggol kemaluan tersebut kedalam mulutku, kukocok, sambil kuhisap, . Kuat-kuat, .kuhisap lagi dan dengan cepat mulutku maju mundur untuk mencoba merangsang agar air maninya cepat keluar. Mulutku mulai payah tapi air mani yang kuharapkan tak juga keluar. Kutarik kemaluan dari mulutku pak faisal tersenyum dan sekarang terlentang,.
Tanpa menunggu komando upegang kemaluannya kutuntun kelubangku dengan aku mendudukinya. Aku bergerak naik turun dan dia memegang susuku dengan erat. Tidak lama kemudian ditariknya tubuhku melekat didadanya dan, aku juga terasa panas, . Sreeeeeeet, sreeeeettttt, .sreeeeeettttt kuarasakan ada semburan hangat bersamaan dengan kuarnya pelicin dimemekku dia memelukku erat demikian pula aku. Kakunya dijepitkan pada pinggangku kuat-kuat seolah tak bisa lepas.
Dia tersenyum puas. "Nita, . Tak pernah aku merasakan memek kecil seperti punyamu ini, enak gila memijit punyaku sampai nggak karuan rasanya, aku puas nit". "Aaaaaahhh Bapak bohong, .. berarti sering dong ngerasain yang lain," manjaku Dia tidak menjawab hanya tersenyum dan kembali mengulum bibirku kuat- kuat. Mobil keluar dari karaoke dan menuju kerumah. Kini tangan pak Faisal menempel pada pahaku dan tanganku menempel dicelananya. Sesekali kusandarkan wajahku didadanya dan jari nakal pak Faisal mulai beraksi dengan manja. Kurasakan gumpalan daging kemaluan pak faisal mulai mengeras lagi, dia tersenyum melihatku dan dipinggirkan mobilnya pada tempat yang cukup sepi. Kugosok pelan pelan kemaluan pak faisal semakin mengeras, . Gila baru main udah minta lagi rupanya, wah gawat ini bisa nggak pulang dong malam ini, . Pikirku. Diciumnya kening dan pipiku dan dia berkata manja, . ", .. Kalo sekarang nita boleh ngeluarin punyaku ini dimulut seperti tadi," aku terbelalak rupanya dia mengerti keiinginanku tadi belum kesampaian dan inilah saatnya.
Tanpa ba bi bu lagi kuarahkan kebawah retsleting celananya dan, aku kaget ternyata pak Faisal tidak memakai celana dalam, gila dia udah ngerti rupanya. , .Lho Kemana Cd nya pak," tanyaku pura-pura bingung. " Udah tak taruh begasi kog," jawabnya kalm sambil mendorongkan kepalaku kearah kemaluannya. Aku menurut malam saat ini aku bebas berbuat apa saja terhadap kemaluan pak Faisal. Kuhisap dengan berbagai cara agar aku puas dan puas, kursi ditarik kebelakang jadilah posisi pak Faisal seperti orang setengan terlentang aku semakin leluasa menghisap kemaluan itu.
Tangan pak faisalpun tak tinggal diam diselipkan pada memekku yang basah lagi dia juga berusaha memasukkan jari tengahnya penuh pada memekkku, sesekali diremasnya kuat susuku saat dia geli yang hebat. Kulepas mulutku kulihat kemaluan itu lagi sambil kugosok naik turun seperti onani, aku kagum melihat ukurannya. Kuhisap lagi berulang sampai aku puas. Aku mulai merasakan adanya cairan manis keluar dari ujung kemaluan. Aku terus berusaha, mulutku mulai payah, kugoyang- goyangkan telur kemaluan pak Faisal dia kegelian dengan mengucek memekku dalam dalam. ", eeeeehhhhhh, . Ssssstttttttt, .. aaaaaahhhhhhh," kudengar erangannnya mulai tidak karuan aku terus melakukan hisapan kuluman dan jilatan pada kemaluan yang membonggol itu dan hasilnya luar biasa, . ", .. Nit, . Aku mau keluar nih, ." Mendengar perkataan itu aku semakin gencar melakukan hisapan sambil tanganku bergerak naik turun untuk mempercepat rangsangannya. Dan tak lama kemudian, . Sreeeettt, .. Srrrreeeeetttt kurasakan dua semburan air warna putih pekat masuk mulutku terasa agak manis asin. Karena kuatnya semprotan dari kemaluan pak Faisak kurasakan ada air mani yang langsung masuk tertelan.
Aku bertahan sambil terus menghisap dan dia semakin gak karuan tingkahnya. Kuhisap terus sampai terasa tidaka ada lagi air mani yang keluar dari kemaluan pak Faisal. Kubersihkan kemaluan pak Faisal denga menjilatinya sampai bersih. Aku puas merasakan semuanya dan pak Faisalpun demikian. Masih terus kujilati dan kudorong keluar masuk kemaluan pak Faisal dia terus mengerang tidak karuan. Aku bahagian, sebentar kemudian kurasakan kemaluannya mulai mengecil dan lemas,pada saat kecil dan lemas tersebut aku merasakan mulutku mampu melahap kemaluannya secara menyeluruh. Diciumnya keningku yang basah keringat, tepat pukul 22.00 aku sudah nyampe di Kostku dan berharap suatu saat pak Faisal mengajakku kembali.
Pada esoknya sahabatku hanya ternganga mendengar ceritaku yang telah berhasil berkencan dengan Pak Faisal sampai keluar air maninya dua kali dia mengatakan aku curang karena tidak memberi tahu bagaimana cara menggaet pak Faisal. Aku cuek aja dan sampai kini walaupun aku sudah berkeluarga aku masih sering membayangkan kemaluan pak Faisal yang tegak menantang itu, hal ini dikarenakan suamiku orangnya pekerja keras sehingga lupa waktu dan jarang memberikan nafkah batin yang cukup, tetapi sayang sejak menikah aku tidak pernah ketemu lagi sama orang yang memiliki kemaluan dan permainan sex yang hebat.
TAMAT