<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6182626498548124474</id><updated>2011-08-28T07:15:23.452-07:00</updated><category term='pesta sex'/><category term='Incest'/><category term='pemerkosaan'/><category term='softcore'/><title type='text'>Cerita Porno 17 tahun</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://17tahunporno.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6182626498548124474/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://17tahunporno.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>ishadow76</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>51</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6182626498548124474.post-6972135847127377282</id><published>2008-06-24T00:16:00.001-07:00</published><updated>2008-06-24T00:16:37.034-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pesta sex'/><title type='text'>Andani Citra: Sampah-sampah Cinta</title><content type='html'>Suatu hari aku bangun pagi sekali, hari itu aku kuliah siang jam sebelas sementara jam di kamarku masih menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Maunya sih tidur lagi, tapi kantukku sudah hilang dan tidak bisa tidur lagi, mungkin gara-gara kemarin aku tidur terlalu awal, kira-kira setengah delapan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah hari kedua aku sendirian di rumah, orang tuaku selalu sibuk, Papa sedang mengurus bisnis di Malaysia ditemani mamaku yang kebetulan juga mau berobat di sana, sedangkan pembantuku satu-satunya juga sedang pulang kampung sejak lima hari yang lalu karena saudaranya meninggal. Janjinya sih sore ini dia akan kembali, yah kuharap begitulah karena aku capek sekali selama tiga hari ini harus mengurus makan dan beres-beres sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun turun ke bawah tanpa mengenakan apapun (ya, telanjang, sudah menjadi kebiasaanku bila di rumah tidak ada siapa-siapa aku selalu tak berbusana di rumah, rasanya nyaman dan sehat, bisa membuat darah mengalir lebih lancar), di dapur aku mengambil sebungkus mie keriting dan memasaknya. Setelah matang aku membawa sarapanku ke atas untuk menikmatinya di balkon kamarku. Sebelumnya aku terlebih dulu mengambil daster kuning-ku yang berdada rendah untuk menutupi tubuh polosku, walaupun ekshibisionis tapi aku harus tahu batasannya dong, kan ga enak kalau nanti kelihatan tetangga sekitar kalau aku sembarang pamer tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunikmati sarapanku di serambi balkon sambil menikmati udara pagi yang segar, suasananya tenang dihiasi oleh kicau burung dan kupu-kupu beterbangan di taman bawah sana. Sehabis sarapan, aku menyalakan sebatang rokok sambil berdiri bersandar di balkon, beberapa orang yang sedang joging melintasi depan rumahku, salah satunya adalah Tante Lia, tetangga dan teman mamaku, beliau menyapaku dari jalan, akupun tersenyum dan membalas salamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah truk sampah berhenti di setiap rumah untuk melaksanakan tugas hariannya mengambil sampah. Tak lama kemudian, truk itu berjalan ke arah sini dan berhenti tak jauh dari rumahku. Seorang petugas sampah turun mengambil kantong-kantong sampah dari rumah di sekitar situ. Tukang sampah itu berbadan tinggi dan agak gemuk, usianya sekitar 30-an, mukanya bundar dengan hidung yang besar. Sambil mengisap rokok, kuperhatikan dia selama beberapa saat sedang mengangkat kantong sampah lalu melemparkannya ke bak truk. Pelan-pelan aku mulai mikir yang jorok-jorok, pagi-pagi gini niat isengku sudah timbul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pagi Non!" sapanya ketika melewati rumahku.&lt;br /&gt;"Pagi Bang!" balasku.&lt;br /&gt;"Eh.. Bang tunggu bentar, di dapur masih ada lagi sampahnya nih, sebentar ya!", lanjutku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mematikan rokokku dan turun sambil membawa piring dan gelas bekas sarapan tadi, setelah menaruhnya di pencucian aku langsung ke depan membuka pintu. Kebetulan tong sampah di dapur memang sudah penuh sesak, soalnya sejak mama pergi belum ada yang membereskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bang, Bang, tolongin saya bisa gak, kan pembantu saya lagi gak ada, jadi sudah dua hari tuh sampah numpuk di dapur, bantu saya beresin dong yah, ntar saya kasih duit rokok deh!" pintaku dengan nada manja.&lt;br /&gt;"Hhmm, OK deh Non.. Mana sampahnya, biar Abang bantu beresin!" katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membukakan pagar dan mempersilakannya masuk, dia memperhatikanku terus sambil berjalan ke dalam, sesekali matanya mencuri-curi pandang ke belahan dadaku yang menantang di balik belahan dasterku yang rendah, entah dia tahu atau tidak bahwa di baliknya aku tidak memakai apapun lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sepi yah Non, sendirian di rumah nih? Lagi pada kemana?" tanyanya.&lt;br /&gt;"Iya Bang, semua lagi keluar nih, sudah dari kemarin lusa sendirian" jawabku.&lt;br /&gt;"Tuh Bang, udah penuh gitu, tolong yah!" lanjutku sambil menunjuk pada tong sampah biru besar di dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Abang tukang sampah mengangkat tong besar itu, sedangkan aku menumpuk beberapa dus bekas makanan dan menampungnya di tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bang, Bang, bentar dong, ini masih ada yang mau dimasukin, upss!!" dengan sengaja aku melonggarkan tanganku sehingga dus-dus itu terjatuh semua.&lt;br /&gt;"Duh, sori nih Bang, udah saya yang beresin aja!", lanjutku kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun berjongkok dan menunduk memunguti dus-dus itu, dengan begini payudaraku terlihat jelas sekali di balik potongan dasterku yang rendah dan lebar itu. Dia terbelalak melihat buah dadaku yang menggantung indah, putingnya pun sekilas tersingkap dari balik dasterku. Aku tahu dari tadi matanya terus tertumbuk ke daerah dadaku, tapi aku pura-pura cuek dengan terus membereskan dus itu, bahkan sengaja kutundukkan lagi tubuhku, sehingga makin terlihatlah keindahan di baliknya. Perlahan kulihat kakinya melangkah mendekatiku, lalu ikut jongkok, tapi bukannya membantu membereskan sampah malah menyusupkan tangan ke belahan dadaku mencaplok daging kenyal di baliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kurang ajar!" bentakku sambil menepis tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu ini tidak membuatnya mundur, dengan sigap ditangkapnya kedua tanganku, tubuhku diangkatnya hingga berdiri lalu dihimpit ke tembok di sebelahku. Sesungguhnya sikap berontak dan jeritanku hanyalah pura-pura belaka untuk memanas-manasi nafsunya. Tangannya yang kokoh dengan mudah mengunci dua pergelanganku lalu diangkat ke atas. Tangannya yang lain meremas dadaku dengan kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan Bang.. Hentikan.. Eengghh!" erangku meringis karena kerasnya remasan itu, tubuhku masih meronta pelan.&lt;br /&gt;"Diam Non, Non sendiri kan yang mancing-mancing saya begini" katanya berani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajahnya mendekatiku mencari-cari bibirku, aku menggeleng-geleng pura-pura menolak dicium olehnya, namun tetap saja akhirnya tidak bisa menghindar dari lumatan bibirnya. Aku bisa merasakan nafasnya yang menderu dan bau badannya yang tidak enak (maklum banyak bergaul dengan sampah), tapi birahi yang meninggi membuat semuanya terlupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar saja aku sudah memainkan lidahku membalas cipokannya. Tangannya mulai mengelus pahaku yang putih mulus sambil menyingkapi dasterku. Setelah meremas pantatku sejenak, tangannya lalu mengelus vaginaku yang berbulu lebat. Mataku membelakak ketika tangan itu meremas daerah segitigaku dengan jarinya sedikit masuk ke sana, desahan tertahan keluar dari mulutku yang sedang berciuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ga usah malu-malu Non, udah basah gini kok, gak pake apa-apa lagi, Non juga mau kan" seringainya mesum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia melepaskan pergelanganku setelah aku berhenti meronta dan yakin telah menguasaiku. Diperosotinya dasterku dari bahu kiri sehingga payudaraku kiriku kini terbuka sudah, bulat kencang dengan puting kemerahannya yang menantang. Dengan penuh nafsu dilumatnya benda itu sambil tangannya menggerayangi pantatku. Aku cuma bisa mendesah-desah dalam posisi berdiri sandaran ke tembok, putingku makin mengeras karena permainan mulutnya yang nakal. Tiba-tiba seseorang nongol di pintu dapur dan tercengang melihat adegan di depannya. Orang itu tak lain adalah temannya yang menyetir truk sampah, rupanya dia menunggu lama di truk sehingga turun untuk memanggil temannya agar segera kembali, eh.. ternyata temannya itu sedang berasyik-ria denganku di dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wei.. Sialan lo, ngentot ga ngajak-ngajak, gua dibiarin sendiri di mobil!" kata si sopir.&lt;br /&gt;"Ayo masih pagi kok, kita istirahat aja sebentar, kapan lagi ngerasain amoy cantik gini!" ajak tukang sampah yang menggerayangiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si sopir bergegas mendekati kami sambil melepaskan seragam dinas kebersihannya, tubuhnya lumayan berisi dengan kulit hitam terbakar matahari. Kini aku dihimpit dari depan-belakang oleh mereka, tubuhku bersandar pada si sopir yang mendekapku sambil meremasi payudara kiriku serta meraba-raba paha dan pantatku, sedangkan si temannya yang dipanggil Din menurunkan bahu kananku, maka kedua payudaraku tersingkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Din mengenyot payudara kananku dengan kencang sampai pipinya kembung kempot, tangannya mengelusi kemaluanku. Si sopir mulai menciumi belakang telingaku serta menggelikitik kupingku dengan lidahnya. Hal ini menyebabkan tubuhku menggeliat dan makin mendesah. Sambil menciumiku si sopir mengangkat dasterku yang telah berantakan, secara refleks aku mengangkat kedua tangan membiarkan satu-satunya pakaian yang melekat di tubuhku lepas melalui kepalaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, bener-bener rejeki nomplok nih bisa dapet cewek putih mulus gini!" sahut si sopir mengagumi tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya aku disuruh berlutut, lalu mereka membuka celananya di depanku. Aku sempat terpana melihat penis mereka yang sudah berdiri tegak, keduanya keras, berurat dan hitam. Milik si sopir sedikit lebih panjang daripada punya si Din.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo Non, pilih aja mana yang mau diservis duluan" kata si sopir cengengesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kugenggam kedua penis itu dan sengaja memainkannya dengan kocokan dan pijatan pada zakarnya agar nafsu kedua orang ini makin membara. Aku tersenyum nakal melihat reaksi keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uuhh.. Ohh.. Asoy banget kocokannya Non!" desah si Din.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai membuka lebar mulutku dan memasukkan penis Din ke dalamnya. Dengan penuh perasaan aku mengulum penis itu sambil tanganku mengocoki penis si sopir. Sesaat kemudian aku mengeluarkan penis si Din dan beralih ke si sopir, sepertinya servis mulutku membuatnya ketagihan, ia menahan kepalaku dengan tangannya seolah tak rela melepasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku gelagapan saat si sopir menyenggamai mulutku dengan beringas hingga akhirnya dia menyembur ke dalam mulutku, sebagian meleleh ke dagu, namun sebagian besar tertelan. Aku tidak sempat mempraktekkan teknik menyedotku yang lihai itu karena dia terus menyodok mulutku bahkan ketika keluar sampai tersedak aku dibuatnya, begitu kulepas kulumanku aku langsung batuk-batuk dan meludahkan sisa sperma itu dari mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat aku bersimpuh di lantai meminum air yang disodorkan Bang Din dan mengatur kembali nafasku. Kemudian dia merebahkan tubuhku di lantai marmer yang dingin itu dan mencium dan menjamahnya dari wajah hingga berhenti di kemaluanku yang sudah basah, dia menjilat dan mengisapnya dengan lahap. Mulutku mendesis nikmat dan kedua paha mulusku mengapit kepalanya. Kulihat si sopir menuangkan air dingin dari kulkas dan meminumnya, dia juga melihat-lihat isi kulkasku, kemudian diambilnya sekotak susu kecil dan kembali menghampiri kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oii-ooi.. Kita sarapan sambil ngentot yuk!" sahutnya seraya menggigit ujung kotak susu itu dan menyobeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditumpahkannya susu itu ke sekujur tubuhku sampai habis. Kurasakan dinginnya air susu dan lantai marmer pada tubuhku yang sudah memanas. Bagaikan menyantapku, keduanya menjilati dan mencium tubuhku yang sudah berasa susu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mmuuahh.. Enak banget, jadi manis kaya orangnya!" komentar Din sambil menjilati vaginaku yang bersusu.&lt;br /&gt;"Sluurrpp.. Slurrp!" demikian suara mereka menikmati susu pada tubuhku, suara itu dimeriahkan oleh desahan dari mulutku.&lt;br /&gt;"Ini namanya susu campur, ada susu sapinya, ada susu ceweknya, hehehe.." kata si sopir setelah menghabiskan susu yang bercucuran di tubuh bagian atasku.&lt;br /&gt;"Heh, tambah lagi dong susunya, udah mau habis nih!" pinta Din pada temannya.&lt;br /&gt;"Beres Din, masih ada kok!" kembali si sopir membuka kulkas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia kembali lagi tapi kali ini bukan dengan susu kotak melainkan whipping cream strawberry. Sepertinya dia tidak tahu makanan apa itu sehingga dia pun bertanya padaku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh.. Non, kalo yang ini apaan sih? Susu bukan, es krim juga bukan". Dasar udik.., kataku dalam hati.&lt;br /&gt;"Itu namanya whipping cream Bang, biasanya buat makan sama buah" jelasku padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hei, mendadak aku terpikir sebuah cara baru untuk menikmati oral seks. Maka kuminta Din untuk berdiri dan menyodorkan penisnya padaku. Lalu kebaluri penisnya yang hitam dengan whipping cream itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah.. Wah kontol saya mau diapain Non, asal jangan dimakan yah" katanya menanggapi tindakanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kujawab hanya dengan membuka mulut dan memasukkan penis itu ke mulutku. Hhmm.. Nikmat, penis rasa strawberry kesukaanku, kukulum-kulum seperti permen. Kuisap maju-mundur penis itu, pipiku sesekali menggembung tertekan kepala penisnya. Sementara aku menyepong, si sopir tak bosan-bosannya menggerayangiku dari belakang, payudaraku diremasi dan diputar-putar putingnya, vaginaku diusap-usap, dari permukaan jari-jari itu merambat masuk lebih dalam dan mengorek-ngoreknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuatku bertambah gila adalah ketika dia memain-mainkan biji klitorisku persis seperti yang dia lakukan terhadap putingku. Leher dan bahuku juga tidak luput dari cupangan-cupangan yang dilancarkannya hingga meninggalkan bekas cupangan dan ludah. Aku pun makin menggelinjang sambil terus mengeluarkan desahan-desahan tertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba si sopir mendekap pinggangku dan mengangkatnya ke atas, maka posisiku kini berdiri dengan badan atas membungkuk 90 derajat. Tanpa melepas penis Bang Din, aku melingkarkan tangan pada tubuhnya sebagai penyangga. Dua jari si sopir telah membuka bibir vaginaku dan penisnya ditekan masuk ke dalamnya. Badanku mengejang beberapa detik ketika benda itu menerobos vaginaku. Selanjutnya si sopir memaju-mundurkan pinggulnya dengan ganas sambil melenguh keenakan merasakan jepitan otot-otot kemaluanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hhmmhh.. Memeknya enak banget Non, seret dan basah!" serunya sambil meninggikan frekuensi genjotannya.&lt;br /&gt;"Servis mulutnya juga yahud, puas banget gua main sama cewek kaya gini, hahaha..!" timpal si Din sambil tertawa-tawa dan menggerayangi payudaraku yang menggantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tidak ingin cepat-cepat orgasme si Din menyuruhku melepaskan penisnya, kemudian tubuhku ditegakkan kembali, kini si sopir yang menyanggaku dengan dekapannya. Disenggamainya aku dalam posisi berdiri. Si Din memungut kemasan whiping cream dari lantai, lalu melumurinya pada kedua payudaraku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gua juga mau coba rasa cream strawberry ini, mmhh!" katanya lalu melumat payudaraku yang berlumuran whiping cream itu.&lt;br /&gt;"Sspp.. Ssrrpp..!" seluruh payudaraku dilumatnya, putingku dijilat dan dihisapnya, dinikmatinya kedua daging kenyal rasa strawberry itu seperti makan es krim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sensasi geli juga kurasakan pada lubang dan daun telingaku yang dijilati si sopir yang juga sedang menyetubuhiku dari belakang. Aku cuma bisa mendesah lirih dalam pelukan keduanya, membiarkan tubuhku diperlakukan sesuka mereka. Sekarang aku merasakan adanya desakan dari vaginaku yang ingin segera meledak sehingga aku merapatkan kedua paha untuk meresapi kenikmatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku klimaks diiringi erangan panjang, kakiku lemas sekali kalau saja tidak didekap si sopir pasti ambruk. Sebentar kemudian, dia menyusul menyiram rahimku dengan sperma hangat. Tak kubayangkan betapa banjirnya kemaluanku, cairan kewanitaanku plus spermanya meleleh keluar menyertai penis si sopir yang masih keluar-masuk dengan kecepatan menurun, daerah pangkal pahaku dan sekitarnya jadi basah oleh cairan itu. Tubuhku merosot ke bawah mengikuti si sopir yang terduduk bersila di lantai. Kusandarkan kepalaku pada dadanya yang sedikit berbulu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah, sekarang giliran gua!" sahut Din sambil meraih kakiku dan membentangkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mulus penisnya meluncur masuk ke dalam vaginaku yang sudah basah kuyup. Suara kecipak cairan terdengar setiap kali dia hujamkan penisnya. Sodokannya makin lama makin bertenaga membuat tubuhku terguncang-guncang, akupun sudah kehilangan kendali diri, mataku membeliak-beliak, mulutku menceracau tak karuan mengerang dan mengeluarkan ucapan-ucapan erotis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si sopir yang menopangku terus giat memijati payudaraku, putingku digesek-gesekkan dengan jarinya yang kasar, kadang dipilin dan kadang diemutnya. Penisnya yang mulai bangkit lagi terasa menyentuh punggungku. Dia menundukkan kepala mendekati mulutku hingga bertemu mulutnya. Kami bercumbu panas sekali, lidah kami saling beradu bak sepasang ular kawin. Lima belas menit kemudian Bang Din membekap badanku ke arahnya dan dia sendiri membaringkan dirinya di lantai, maka posisiku kini telungkup di atasnya. Dengan begitu pantatku menungging ke arah si sopir yang kini telah membasahi anusku dengan ludahnya dan menekan-nekankan jarinya di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aakkhh..!!" aku merintih dan menghentikan goyanganku sejenak ketika si sopir memasukkan penisnya ke anusku. Bahu Bang Din kucengkram erat-erat menahan rasa sakitnya. Rasanya sangatlah menyesakkan ditusuk dua batang perkasa itu, terutama pada bagian anus. Kami bertiga mulai berpacu dalam birahi, rasa perih perlahan-lahan berubah menjadi rasa nikmat yang menjalari seluruh tubuh. Sulit dilukiskan perasaanku waktu itu, pokoknya rasanya seperti melayang-layang dengan dilingkupi rasa nikmat yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berlangsung selama dua puluh menit lamanya sampai suatu saat di mana tubuhku bergetar melepas suatu bentuk energi berupa orgasme dahsyat yang menyebabkan tubuhku berkelojotan, tangan dan kakiku terasa kejang-kejang, serta mulutku mengeluarkan erangan panjang. Mukaku memerah, keringat pun bercucuran membasahi badan kami, akhirnya akupun tergolek lemas di atas tubuh Bang Din setelah gelombang orgasmeku surut. Sementara itu kedua tukang sampah itu masih terus menggenjot vagina dan anusku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Bang Din menegakkan tubuhku dan menarik lepas penisnya, kemudian dikocoknya batangnya yang masih tegak itu dekat mukaku, akhirnya cret.. cret muncratlah cairan kental itu membasahi wajahku. Karena semprotannya kencang dan deras, bukan cuma mukaku saja yang basah, rambut, leher dan payudaraku pun terkena cipratannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, si sopir pun mencabut penisnya dari anusku. Dibiarkannya aku ambruk telentang di lantai. Dia berdiri di sampingku mengocok penisnya hingga menumpahkan isinya di badanku. Puas dan lelah kurasakan sekaligus pada saat bersamaan. Mereka tertawa-tawa melihatku yang terbaring di lantai sambil menggosok-gosokkan sperma mereka ke tubuhku. Aku membalas senyuman nakal mereka sambil mengulum jariku yang belepotan sperma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara aku memulihkan tenaga, mereka mulai berpakaian lagi dan membereskan dus-dus yang berserakan tadi lalu membawa sampah-sampah itu ke truk. Beberapa menit kemudian Bang Din kembali dengan tong sampah yang sudah kosong. Aku pun bangkit dan memakai kembali dasterku untuk mengantarnya keluar rumahku. Setelah pamitan dan berterimakasih atas kesempatan emas dariku, truk itu mulai meluncur menjauhi rumahku. Sepeninggal mereka, aku langsung mandi membersihkan badanku dari aroma persetubuhan barusan, kemudian kustel weker dan tidur sebentar mengisi tenaga untuk kuliah pada jam sebelas nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E N D&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6182626498548124474-6972135847127377282?l=17tahunporno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://17tahunporno.blogspot.com/feeds/6972135847127377282/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6182626498548124474&amp;postID=6972135847127377282' title='12 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6182626498548124474/posts/default/6972135847127377282'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6182626498548124474/posts/default/6972135847127377282'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://17tahunporno.blogspot.com/2008/06/andani-citra-sampah-sampah-cinta.html' title='Andani Citra: Sampah-sampah Cinta'/><author><name>ishadow76</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6182626498548124474.post-6271736322820952718</id><published>2008-06-24T00:15:00.001-07:00</published><updated>2008-06-24T00:15:57.802-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pesta sex'/><title type='text'>Kenikmatan Bersama Dua Pria</title><content type='html'>Vera - 22 tahun, siswi salah satu PTS di Bandung adalah penggemar 17Tahunporno.blogspot.com. Setelah membaca cerita saya "Affair Antar Penulis (versi Dio)" ia mengirimkan email meminta untuk menyadur 'true story' pengalaman pertamanya berhubungan sex saat berusia 19 tahun yang dilakukan sekaligus dengan dua kawan prianya. Pengalaman pertamanya itu menyebabkan Vera menyukai hubungan sex bersama dua pria sekaligus, bahkan lebih. Semua nama dalam cerita ini bukan nama sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku adalah gadis berusia 19 tahun. kawan-kawan mengatakan aku cantik, tinggi 170, kulit putih dengan rambut lurus sebahu. Aku termasuk populer diantara kawan-kawan, pokoknya 'gaul abis'. Namun demikian aku masih mampu menjaga kesucianku sampai.. Suatu saat aku dan enam orang kawan Susi (19), Andra (20), Kelvin (22), Vito (22), Toni (23) dan Andri (20). menghabiskan liburan dengan menginap di villa keluarga Andri di Puncak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susi walaupun tidak terlalu tinggi (160) memiliki tubuh padat dengan kulit putih, sangat sexy apalagi dengan ukuran payudara 36b-nya, Susi telah berpacaran cukup lama dengan Kelvin. Diantara kami bertiga Andra yang paling cantik, tubuhnya sangat proporsi tidak heran kalau sang pacar, Vito, sangat tergila-gila dengannya. Sementara aku, Andri dan Toni masih 'jomblo'. Andri yang berdarah India sebenarnya suka sama aku, dia lumayan ganteng hanya saja bulu-bulu dadanya yang lebat terkadang membuat aku ngeri, karenanya aku hanya menganggap dia tidak lebih dari sekedar teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara ke Puncak kami mulai dengan 'hang-out' disalah satu kafe terkenal di kota kami. Larut malam baru tiba di Puncak dan langsung menyerbu kamar tidur, kami semua tidur dikamar lantai atas. Udara dingin membuatku terbangun dan menyadari hanya Susi yang ada sementara Andra entah kemana. Rasa haus membuatku beranjak menuju dapur untuk mengambil minum. Sewaktu melewati kamar belakang dilantai bawah, telingaku menangkap suara orang yang sedang bercakap-cakap. Kuintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat, ternyata Vito dan Andra. Niat menegur mereka aku urungkan, karena kulihat mereka sedang berciuman, awalnya kecupan-kecupan lembut yang kemudian berubah menjadi lumatan-lumatan. Keingintahuan akan kelanjutan adegan itu menahan langkahku menuju dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan ciuman itu bertambah 'panas' mereka saling memagut dan berguling-gulingan, lidah Vito menjalar bagai bagai ular ketelinga dan leher sementara tangannya menyusup kedalam t-shirt meremas-remas payudara yang menyebabkan Andra mendesah-desah, suaranya desahannya terdengar sangat sensual. Disibakkannya t-shirt Andra dan lidahnya menjalar dan meliuk-liuk di putingnya, menghisap dan meremas-remas payudara Andra. Setelah itu tangannya mulai merayap kebawah, mengelus-elus bagian sensitif yang tertutup g-string. Vito berusaha membuka penutup terakhir itu, tapi sepertinya Andra keberatan. Lamat-lamat kudengan pembicaraan mereka.&lt;br /&gt;"Jangan To" tolak Andra.&lt;br /&gt;"Kenapa sayang" tanya Vito.&lt;br /&gt;"Aku belum pernah.. gituan"&lt;br /&gt;"Makanya dicoba sayang" bujuk Vito.&lt;br /&gt;"Takut To" Andra beralasan.&lt;br /&gt;"Ngga apa-apa kok" lanjut Vito membujuk&lt;br /&gt;"Tapi To"&lt;br /&gt;"Gini deh", potong Vito, "Aku cium aja, kalau kamu ngga suka kita berhenti"&lt;br /&gt;"Janji ya To" sahut Andra ingin meyakinkan.&lt;br /&gt;"Janji" Vito meyakinkan Andra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vito tidak membuang-buang waktu, ia membuka t-shirt dan celana pendeknya dan kembali menikmati bukit kenikmatan Andra yang indah itu, perlahan mulutnya merayap makin kebawah.. kebawah.. dan kebawah. Ia mengecup-ngecup gundukan diantara paha sekaligus menarik turun g-string Andra. Dengan hati-hati Vito membuka kedua paha Andra dan mulai mengecup kewanitaannya disertai jilatan-jilatan. Tubuh Andra bergetar merasakan lidah Vito.&lt;br /&gt;"Agghh.. To.. oohh.. enakk.. Too"&lt;br /&gt;Mendengar desahan Andra, Vito semakin menjadi-jadi, ia bahkan menghisap-hisap kewanitaan Andra dan meremas-remas payudaranya dengan liar. Hentakan-hentakan birahi sepertinya telah menguasai Andra, tubuhnya menggelinjang keras disertai desahan dan erangan yang tidak berkeputusan, tangannya mengusap-usap dan menarik-narik rambut Vito, seakan tidak ingin melepaskan kenikmatan yang ia rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andra semakin membuka lebar kedua kakinya agar memudahkan mulut Vito melahap kewanitaannya. Kepalanya mengeleng kekiri-kekanan, tangannya menggapai-gapai, semua yang diraih dicengramnya kuat-kuat. Andra sudah tenggelam dan setiap detik belalu semakin dalam ia menuju ke dasar lautan birahi. Vito tahu persis apa yang harus dilakukan selanjutnya, ia membuka CDnya dan merangkak naik keatas tubuh Andra. Mereka bergumul dalam ketelanjangan yang berbalut birahi. Sesekali Vito di atas sesekali dibawah disertai gerakan erotis pinggulnya, Andra tidak tinggal diam ia melakukan juga yang sama. Kemaluan mereka saling beradu, menggesek, dan menekan-nekan. Melihat itu semua membuat degup jantung berdetak kencang dan bagian-bagian sensitif di tubuhku mengeras.. Aku mulai terjangkit virus birahi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vito kemudian mengangkat tubuhnya yang ditopang satu tangan, sementara tangan lain memegang kejantannya. Vito mengarahkan kejantanannya keselah-selah paha Anggie. "Jangan To, katanya cuma cium aja" sergah Andra.&lt;br /&gt;"Rileks An" bujuk Vito, sambil mengosok-gosok ujung penisnya di kewanitaan Andra.&lt;br /&gt;"Tapi.. To.. oohh.. aahh" protes Andra tenggelam dalam desahannya sendiri.&lt;br /&gt;"Nikmatin aja An"&lt;br /&gt;"Ehh.. akkhh.. mpphh" Andra semakin mendesah&lt;br /&gt;"Gitu An.. rileks.. nanti lebih enak lagi"&lt;br /&gt;"He eh To.. eesshh"&lt;br /&gt;"Enak An..?"&lt;br /&gt;"Ehh.. enaakk To"&lt;br /&gt;Aku benar-benar ternganga dibuatnya. Seumur hidup belum pernah aku melihat milik pria yang sebenarnya, apalagi adegan 'live' seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada lagi protes apalagi penolakan hanya desahan kenikmatan Andra yang terdengar.&lt;br /&gt;"Aku masukin ya An" pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban.&lt;br /&gt;Vito langsung menekan pinggulnya, ujung kejantanannya tenggelam dalam kewanitaan Andra.&lt;br /&gt;"Aakhh.. To.. eengghh" erang Andra cukup keras, membuat bulu-bulu ditubuhku meremang mendengarnya.&lt;br /&gt;Vito lebih merunduk lagi dengan sikut menahan badan, perlahan pinggulnya bergerak turun naik serta mulutnya dengan rakus melumat payudara Andra.&lt;br /&gt;"Teruss.. Too.. enak banget.. ohh.. isep yang kerass sayangg" Andra meracau.&lt;br /&gt;"Aku suka sekali payudara kamu An.. mmhh"&lt;br /&gt;"Aku juga suka kamu isep To.. ahh" Andra menyorongkan dadanya membuat Vito bertambah mudah melumatnya.&lt;br /&gt;Bukan hanya Andra yang terayun-ayun gelombang birahi, aku yang melihat semua itu turut hanyut dibuatnya. Tanpa sadar aku mulai meremas-remas payudara dan memainkan putingku sendiri, membuat mataku terpejam-pejam merasakan nikmatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vito tahu Andra sudah pada situasi 'point of no return', ia merebahkan badannya menindih Andra dan memeluknya seraya melumat mulut, leher dan telinga Andra dan.. kulihat Vito menekan pinggulnya, dapat kubayangkan bagaimana kejantanannya melesak masuk ke dalam rongga kenikmatan Andra.&lt;br /&gt;"Auuwww.. To.. sakiitt" jerit Andra.&lt;br /&gt;"Stop.. stop To"&lt;br /&gt;"Rileks An.. supaya enak nanti" bujuk Vito, sambil terus menekan lebih dalam lagi.&lt;br /&gt;"Sakit To.. pleasee.. jangan diterusin"&lt;br /&gt;Terlambat.. seluruh kejantanan Vito telah terbenam di dalam rongga kenikmatan Andra. Beberapa saat Vito tidak bergerak, ia mengecup-ngecup leher, pundak dan akhirnya payudara Andra kembali jadi bulan-bulanan lidah dan mulutnya. Perlakuan Vito membuat birahi Andra terusik kembali, ia mulai melenguh dan mendesah-desah, lama kelamaan semakin menjadi-jadi. Bagian belakang tubuh Vito yang mulai dari punggung, pinggang sampai buah pantatnya tak luput dari remasan-remasan tangan Andra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vito memahami sekali keadaan Andra, pinggulnya mulai digerakan memutar perlahan sekali tapi mulutnya bertambah ganas melahap gundukan daging Andra yang dihiasi puting kecil kemerah-merahan.&lt;br /&gt;"Uhh.. ohh.. To" desah kenikmatan Andra, kakinya dibuka lebih melebar lagi.&lt;br /&gt;Vito tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dipercepat ritme gerakan pinggulnya.&lt;br /&gt;"Agghh.. ohh.. terus Too" Andra meracau merasakan kejantanan Vito yang berputar-putar di kewanitaannya, kepalanya tengadah dengan mata terpejam, pinggulnya turut bergoyang. Merasakan gerakannya mendapat respon Vito tidak ragu lagi untuk menarik-memasukan batang kemaluannya.&lt;br /&gt;"Aaauugghh.. sshh.. Too.. ohh.. Too" Andra tak kuasa lagi menahan luapan kenikmatan yang keluar begitu saya dari mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinggul Vito yang turun naik dan kaki Andra yang terbuka lebar membuat darahku berdesir, menimbulkan denyut-denyut di bagian sensitifku, kumasukan tangan kiri kebalik celana pendek dan CD. Tubuhku bergetar begitu jari-jemariku meraba-raba kewanitaanku.&lt;br /&gt;"Ssshh.. sshh" desisku tertahan manakala jari tengahku menyentuh bibir kemaluanku yang sudah basah, sesaat 'life show' Vito dan Andra terlupakan. Kesadaranku kembali begitu mendengar pekikan Andra.&lt;br /&gt;"Adduuhh.. Too.. nikmat sekalii" Andra terbuai dalam birahinya yang menggebu-gebu.&lt;br /&gt;"Nikmati An.. nikmati sepuas-puasnya"&lt;br /&gt;"Ssshh.. ahh.. ohh.. ennaak Too"&lt;br /&gt;"Punya kamu enaakk sekalii An.. uugghh"&lt;br /&gt;"Ohh.. Too.. aku sayang kamu.. sshh" desah Andra seraya memeluk, pujian Vito rupanya membuat Andra lebih agresif, pantatnya bergoyang mengikuti irama hentakan-hentakan turun-naik pantat Vito.&lt;br /&gt;"Enaak An.. terus goyang.. uhh.. eenngghh" merasakan goyangan Andra Vito semakin mempercepat hujaman-hujaman kejantanannya.&lt;br /&gt;"Ahh.. aahh.. Too.. teruss.. sayaang" pekik Andra.&lt;br /&gt;Semakin liar keduanya bergumul, keringat kenikmatan membanjir menyelimuti tubuh mereka.&lt;br /&gt;"Too.. tekan sayangg.. uuhh.. aku mau ke.. kelu.. aarrghh" erang Andra.&lt;br /&gt;Vito menekan pantatnya dalam-dalam dan tubuh keduanya pun mengejang. Gema erangan kenikmatan mereka memenuhi seantero kamar dan kemudian keduanya.. terkulai lemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikamar aku gelisah mengingat-ingat kejadian yang baru saja kulihat, bayang-bayang Vito menyetubuhi Andra begitu menguasai pikiranku. Tak kuasa aku menahan tanganku untuk kembali mengusap-usap seluruh bagian sensitif di tubuhku namun keberadaan Susi sangat mengganggu, menjelang ayam berkokok barulah mataku terpejam. Dalam mimpi adegan itu muncul kembali hanya saja bukan Andra yang sedang disetubuhi Vito tetapi diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 10.00 pagi harinya kami jalan-jalan menghirup udara puncak, sekalian membeli makanan dan cemilan sementara Susi dan Kelvin menunggu villa. Belum lagi 15 menit meninggalkan villa perutku tiba-tiba mulas, aku mencoba untuk bertahan, tidak berhasil, bergegas aku kembali ke villa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai dari kamar mandi aku mencari Susi dan Kelvin, rupanya mereka sedang di ruang TV dalam keadaan.. bugil. Lagi-lagi aku mendapat suguhan 'live show' yang spektakuler. Tubuh Susi setengah melonjor di sofa dengan kaki menapak kelantai, Kelvin berlutut dilantai dengan badan berada diantara kedua kaki Susi, Mulutnya mengulum-ngulum kewanitaan Susi, tak lama kemudian Kelvin meletakan kedua tungkai kaki Susi dibahunya dan kembali menyantap 'segitiga venus' yang semakin terpampang dimukanya. Tak ayal lagi Susi berkelojotan diperlakukan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ssshh.. sshh.. aahh" desis Susi.&lt;br /&gt;"Oohh.. Kel.. nikmat sekalii.. sayang"&lt;br /&gt;"Gigit.. Kel.. pleasee.. gigitt"&lt;br /&gt;"Auuwww.. pelan sayang gigitnyaa"&lt;br /&gt;Melengkapi kenikmatan yang sedang melanda dirinya satu tangan Susi mencengkram kepala Kelvin, tangan lainnya meremas-remas payudara 36b-nya sendiri serta memilin putingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian mereka berganti posisi, Susi yang berlutut di lantai, mulutnya mengulum kejantanan Kelvin, kepalanya turun naik, tangannya mengocok-ngocok batang kenikmatan itu, sekali-kali dijilatnya bagai menikmati es krim. Setiap gerakan kepala Susi sepertinya memberikan sensasi yang luar biasa bagi Kelvin.&lt;br /&gt;"Aaahh.. aauugghh.. teruss sayangg" desah Kelvin.&lt;br /&gt;"Ohh.. sayangg.. enakk sekalii"&lt;br /&gt;Suara desahan dan erangan membuat Susi tambah bernafsu melumat kejantanan Kelvin.&lt;br /&gt;"Ohh.. Susii.. ngga tahann.. masukin sayangg" pinta Kelvin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susi menyudahi lumatannya dan beranjak keatas, berlutut disofa dengan pinggul Kelvin berada diantara pahanya, tangannya menggapai batang kenikmatan Kelvin, diarahkan kemulut kewanitaannya dan dibenamkan. "Aaagghh" keduanya melenguh panjang merasakan kenikmatan gesekan pada bagian sensitif mereka masing-masing. Dengan kedua tangan berpangku pada pahanya Susi mulai menggerakan pinggulnya mundur maju, karuan saja Kelvin mengeliat-geliat merasakan batangnya diurut-urut oleh kewanitaan Susi. Sebaliknya, milik Kelvin yang menegang keras dirasakan oleh Susi mengoyak-ngoyak dinding dan lorong kenikmatannya. Suara desahan, desisan dan lenguhan saling bersaut manakala kedua insan itu sedang dirasuk kenikmatan duniawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tontonan itu membuat aku tidak dapat menahan keinginanku untuk meraba-raba2 sekujur tubuhku, rasa gatal begitu merasuk kedalam kemaluanku. Kutinggalkan 'live show' bergegas menuju kamar, kulampiaskan birahiku dengan mengesek-gesekan bantal di kewanitaanku. Merasa tidak puas kusingkap rok miniku, kuselipkan tanganku kedalam CD-ku membelai-belai bulu-bulu tipis di permukaan kewanitaanku dan.. akhirnya menyentuh klitorisku.&lt;br /&gt;"Aaahh.. sshh.. eehh" desahku merasakan nikmatnya elusan-elusanku sendiri, jariku merayap tak terkendali ke bibir kemaluanku, membuka belahannya dan bermain-main ditempat yang mulai basah dengan cairan pelancar, manakala kenikmatan semakin membalut diriku tiba-tiba pintu terbuka.. Susi! masih dengan pakaian kusut menerobos masuk, untung aku masih memeluk bantal, sehingga kegiatan tanganku tidak terlihat olehnya.&lt;br /&gt;"Ehh Ver.. kok ada disini, bukannya tadi ikut yang lain?" sapa Susi terkejut.&lt;br /&gt;"Iya Si.. balik lagi.. perut mules"&lt;br /&gt;"Aku suruh Kelvin beli obat ya"&lt;br /&gt;"Ngga usah Si.. udah baikan kok"&lt;br /&gt;"Yakin Ver?"&lt;br /&gt;"Iya ngga apa-apa kok" jawabku meyakinkan Susi yang kemudian kembali ke ruang tengah setelah mengambil yang dibutuhkannya. Sirna sudah birahiku karena rasa kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam harinya selesai makan kami semua berkumpul diruang tengah, Andri langsung memutar VCD X-2. Adegan demi adegan di film mempengaruhi kami, terutama kawan-kawan pria, mereka kelihatan gelisah. Film masih setengah main Susi dan Kelvin menghilang, tak lama kemudian disusul oleh Andra dan Vito. Tinggal aku, Toni dan Andri, kami duduk dilantai bersandar pada sofa, aku di tengah. Melihat adegan film yang bertambah panas membuat birahiku terusik. Rasa gatal menyeruak dikewanitaanku mengelitik sekujur tubuh dan setiap detik berlalu semakin memuncak saja, aku jadi salah tingkah. Toni yang pertama melihat kegelisahanku.&lt;br /&gt;"Kenapa Ver, gelisah banget horny ya" tegurnya bercanda.&lt;br /&gt;"Ngga lagi, ngaco kamu Ton" sanggahku.&lt;br /&gt;"Kalau horny bilang aja Ver.. hehehe.. kan ada kita-kita" Andri menimpali.&lt;br /&gt;"Rese' nih berdua, nonton aja tuh" sanggahku lagi menahan malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toni tidak begitu saja menerima sanggahanku, diantara kami ia paling tinggi jam terbangnya sudah tentu ia tahu persis apa yang sedang aku rasakan. Toni tidak menyia-nyiakannya, bahuku dipeluknya seperti biasa ia lakukan, seakan tanpa tendensi apa-apa.&lt;br /&gt;"Santai Ver, kalau horny enjoy aja, gak usah malu.. itu artinya kamu normal" bisik Toni sambil meremas pundakku.&lt;br /&gt;Remasan dan terpaan nafas Toni saat berbisik menyebabkan semua bulu-bulu di tubuhku meremang, tanpa terasa tanganku meremas ujung rok. Toni menarik tanganku meletakan dipahanya ditekan sambil diremasnya, tak ayal lagi tanganku jadi meremas pahanya.&lt;br /&gt;"Remas aja paha aku Ver daripada rok" bisik Toni lagi.&lt;br /&gt;Kalau sedang bercanda jangankan paha, pantatnya yang 'geboy' saja kadang aku remas tanpa rasa apapun, kali ini merasakan paha Toni dalam remasanku membuat darahku berdesir keras.&lt;br /&gt;"Ngga usah malu Ver, santai aja" lanjutnya lagi.&lt;br /&gt;Entah karena bujukannya atau aku sendiri yang menginginkan, tidak jelas, yang pasti tanganku tidak beranjak dari pahanya dan setiap ada adegan yang 'wow' kuremas pahanya. Merasa mendapat angin, Toni melepaskan rangkulannya dan memindahkan tangannya di atas pahaku, awalnya masih dekat dengkul lama kelamaan makin naik, setiap gerakan tangannya membuatku merinding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah bagaimana mulainya tanpa kusadari tangan Toni sudah berada dipaha dalamku, tangannya mengelus-elus dengan halus, ingin menepis, tapi, rasa geli-geli enak yang timbul begitu kuatnya, membuatku membiarkan kenakalan tangan Toni yang semakin menjadi-jadi.&lt;br /&gt;"Ver gue suka deh liat leher sama pundak kamu" bisik Toni seraya mengecup pundakku.&lt;br /&gt;Aku yang sudah terbuai elusannya karuan saja tambah menjadi-jadi dengan kecupannya itu.&lt;br /&gt;"Jangan Ton" namun aku berusaha menolak.&lt;br /&gt;"Kenapa Ver, cuma pundak aja kan" tanpa perduli penolakanku Toni tetap saja mengecup, bahkan semakin naik keleher, disini aku tidak lagi berusaha 'jaim'.&lt;br /&gt;"Ton.. ahh" desahku tak tertahan lagi.&lt;br /&gt;"Enjoy aja Ver" bisik Toni lagi, sambil mengecup dan menjilat daun telingaku.&lt;br /&gt;"Ohh Ton" aku sudah tidak mampu lagi menahan, semua rasa yang terpendam sejak melihat 'live show' dan film, perlahan merayapi lagi tubuhku.&lt;br /&gt;Aku hanya mampu tengadah merasakan kenikmatan mulut Toni di leher dan telingaku. Andri yang sedari tadi asik nonton melihatku seperti itu tidak tinggal diam, ia pun mulai turut melakukan hal yang sama. Pundak, leher dan telinga sebelah kiriku jadi sasaran mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat aku sudah pasrah mereka semakin agresif. Tangan Toni semakin naik hingga akhirnya menyentuh kewanitaanku yang masih terbalut CD. Elusan-elusan di kewanitaanku, remasan Andri di payudaraku dan kehangatan mulut mereka dileherku membuat magma birahiku menggelegak sejadi-jadinya.&lt;br /&gt;"Agghh.. Tonn.. Drii.. ohh.. sshh" desahanku bertambah keras.&lt;br /&gt;Andri menyingkap tang-top dan braku bukit kenyal 34b-ku menyembul, langsung dilahapnya dengan rakus. Toni juga beraksi memasukan tangannya kedalam CD meraba-raba kewanitaanku yang sudah basah oleh cairan pelicin. Aku jadi tak terkendali dengan serangan mereka tubuhku bergelinjang keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Emmhh.. aahh.. ohh.. aagghh" desahanku berganti menjadi erangan-erangan.&lt;br /&gt;Mereka melucuti seluruh penutup tubuhku, tubuh polosku dibaringkan dilantai beralas karpet dan mereka pun kembali menjarahnya. Andri melumat bibirku dengan bernafsu lidahnya menerobos kedalam rongga mulutku, lidah kami saling beraut, mengait dan menghisap dengan liarnya. Sementara Toni menjilat-jilat pahaku lama kelamaan semakin naik.. naik.. dan akhirnya sampai di kewanitaanku, lidahnya bergerak-gerak liar di klitorisku, bersamaan dengan itu Andri pun sudah melumat payudaraku, putingku yang kemerah-merahan jadi bulan-bulanan bibir dan lidahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperlakukan seperti itu membuatku kehilangan kesadaran, tubuhku bagai terbang diawang- awang, terlena dibawah kenikmatan hisapan-hisapan mereka. Bahkan aku mulai berani punggung Andri kuremas-remas, kujambak rambutnya dan merengek-rengek meminta mereka untuk tidak berhenti melakukannya.&lt;br /&gt;"Aaahh.. Tonn.. Drii.. teruss.. sshh.. enakk sekalii"&lt;br /&gt;"Nikmatin Ver.. nanti bakal lebih lagi" bisik Andri seraya menjilat dalam-dalam telingaku.&lt;br /&gt;Mendengar kata 'lebih lagi' aku seperti tersihir, menjadi hiperaktif pinggul kuangkat-angkat, ingin Toni melakukan lebih dari sekedar menjilat, ia memahami, disantapnya kewanitaanku dengan menyedot-nyedot gundukan daging yang semakin basah oleh ludahnya dan cairanku. Tidak berapa lama kemudian aku merasakan kenikmatan itu semakin memuncak, tubuhku menegang, kupeluk Andri-yang sedang menikmati puting susu-dengan kuatnya.&lt;br /&gt;"Aaagghh.. Tonn.. Drii.. akuu.. oohh" jeritku keras, dan merasakan hentak-hentakan kenikmatan didalam kewanitaanku. Tubuhku melemas.. lungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toni dan Andri menyudahi 'hidangan' pembukanya, dibiarkan tubuhku beristirahat dalam kepolosan, sambil memejamkan mata kuingat-ingat apa yang baru saja kualami. Permainan Andri di payudara dan Toni di kewanitaanku yang menyebarkan kenikmatan yang belum pernah kualami sebelumnya, dan hal itu telah kembali menimbulkan getar-getar birahi diseluruh tubuhku. Aku semakin tenggelam saja dalam bayang-bayang yang menghanyutkan, dan tiba-tiba kurasakan hembusan nafas ditelingaku dan rasa tidak asing lagi.. hangat basah.. Ahh.. bibir dan lidah Andri mulai lagi, tapi kali ini tubuhku seperti di gelitiki ribuan semut, ternyata Andri sudah polos dan bulu-bulu lebat di tangan dan dadanya menggelitiki tubuhku. Begitupun Toni sudah bugil, ia membuka kedua pahaku lebar-lebar dengan kepala sudah berada diantaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku terpejam, aku sadar betul apa yang akan terjadi, kali ini mereka akan menjadikan tubuhku sebagai 'hidangan' utama. Ada rasa kuatir dan takut tapi juga menantikan kelanjutannya dengan berdebar. Begitu kurasakan mulut Toni yang berpengalaman mulai beraksi.. hilang sudah rasa kekuatiran dan ketakutanku. Gairahku bangkit merasakan lidah Toni menjalar dibibir kemaluanku, ditambah lagi Andri yang dengan lahapnya menghisap-hisap putingku membuat tubuhku mengeliat-geliat merasakan geli dan nikmat dikedua titik sensitif tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aaahh.. Tonn.. Drii.. nngghh.. aaghh" rintihku tak tertahankan lagi.&lt;br /&gt;Toni kemudian mengganjal pinggulku dengan bantal sofa sehingga pantatku menjadi terangkat, lalu kembali lidahnya bermain dikemaluanku. Kali ini ujung lidahnya sampai masuk kedalam liang kenikmatanku, bergerak-gerak liar diantara kemaluan dan anus, seluruh tubuhku bagai tersengat aliran listrik aku hilang kendali. Aku merintih, mendesah bahkan menjerit-jerit merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Lalu kurasakan sesuatu yang hangat keras berada dibibirku.. kejantanan Andri! Aku mengeleng-gelengkan kepala menolak keinginannya, tapi Andri tidak menggubrisnya ia malah manahan kepalaku dengan tangannya agar tidak bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jilat.. Ver" perintahnya tegas.&lt;br /&gt;Aku tidak lagi bisa menolak, kujilat batangnya yang besar dan sudah keras membatu itu, Andri mendesah-desah merasakan jilatanku.&lt;br /&gt;"Aaahh.. Verr.. jilat terus.. nngghh" desah Andri.&lt;br /&gt;"Jilat kepalanya Ver" aku menuruti permintaannya yang tak mungkin kutolak.&lt;br /&gt;Lama kelamaan aku mulai terbiasa dan dapat merasakan juga enaknya menjilat-jilat batang penis itu, lidahku berputar dikepala kemaluannya membuat Andri mendesis desis.&lt;br /&gt;"Ssshh.. nikmat sekali Verr.. isep sayangg.. isep" pintanya diselah-selah desisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu harus berbuat bagaimana, kuikuti saja apa yg pernah kulihat di film, kepala kejantanannya pertama-tama kumasukan kedalam mulut, Andri meringis.&lt;br /&gt;"Jangan pake gigi Ver.. isep aja" protesnya, kucoba lagi, kali ini Andri mendesis nikmat.&lt;br /&gt;"Ya.. gitu sayang.. sshh.. enak.. Ver"&lt;br /&gt;Melihat Andri saat itu membuatku turut larut dalam kenikmatannya, apalagi ketika sebagian kejantanannya melesak masuk menyentuh langit-langit mulutku, belum lagi kenakalan lidah Toni yang tiada henti-hentinya menggerayangi setiap sudut kemaluanku. Aku semakin terombang-ambing dalam gelombang samudra birahi yang melanda tubuhku, aku bahkan tidak malu lagi mengocok-ngocok kejantanan Andri yang separuhnya berada dalam mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian Andri mempercepat gerakan pinggulnya dan menekan lebih dalam batang kemaluannya, tanganku tak mampu menahan laju masuknya kedalam mulutku. Aku menjadi gelagapan, ku geleng-gelengkan kepalaku hendak melepaskan benda panjang itu tapi malah berakibat sebaliknya, gelengan kepalaku membuat kemaluannya seperti dikocok-kocok. Andri bertambah beringas mengeluar-masukan batangnya dan..&lt;br /&gt;"Aaagghh.. nikmatt.. Verr.. aku.. kkeelluaarr" jerit Andri, air maninya menyembur-nyembur keras didalam mulutku membuatku tersedak, sebagian meluncur ke tenggorokanku sebagian lagi tercecer keluar dari mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sampai terbatuk-batuk dan meludah-ludah membuang sisa yang masih ada dimulutku. Toni tidak kuhiraukan aku langsung duduk bersandar menutup dadaku dengan bantal sofa.&lt;br /&gt;"Gila Andri.. kira-kira dong" celetukku sambil bersungut-sungut.&lt;br /&gt;"Sorry Ver.. ngga tahan.. abis isepan kamu enak banget" jawab Andri dengan tersenyum.&lt;br /&gt;"Udah Ver jangan marah, kamu masih baru nanti lama lama juga bakal suka" sela Toni seraya mengambilkan aku minum dan membersihkan sisa air mani dari mulutku.&lt;br /&gt;Toni benar, aku sebenarnya tadi menikmati sekali, apalagi melihat mimik Andri saat akan keluar hanya saja semburannya yang membuatku kaget. Toni membujuk dan memelukku dengan lembut sehingga kekesalanku segera surut. Dikecupnya keningku, hidungku dan bibirku. Kelembutan perlakuannya membuatku lupa dengan kejadian tadi. Kecupan dibibir berubah menjadi lumatan-lumatan yang semakin memanas kami pun saling memagut, lidah Toni menerobos mulutku meliuk-liuk bagai ular, aku terpancing untuk membalasnya. Ohh.. sungguh luar biasa permainan lidahnya, leher dan telingaku kembali menjadi sasarannya membuatku sulit menahan desahan-desahan kenikmatan yang begitu saja meluncur keluar dari mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toni merebahkan tubuhku kembali dilantai beralas karpet, kali ini dadaku dilahapnya puting yang satu dihisap-hisap satunya lagi dipilin-pilin oleh jari-jarinya. Dari dada kiriku tangannya melesat turun ke kewanitaanku, dielus-elusnya kelentit dan bibir kemaluanku. Tubuhku langsung mengeliat-geliat merasakan kenakalan jari-jari Toni.&lt;br /&gt;"Ooohh.. mmppff.. ngghh.. sshh" desisku tak tertahan.&lt;br /&gt;"Teruss.. Tonn.. aakkhh"&lt;br /&gt;Aku menjadi lebih menggila waktu Toni mulai memainkan lagi lidahnya di kemaluanku, seakan kurang lengkap kenikmatan yang kurasakan, kedua tanganku meremas-remas payudaraku sendiri.&lt;br /&gt;"Ssshh.. nikmat Tonn.. mmpphh" desahanku semakin menjadi-jadi.&lt;br /&gt;Tak lama kemudian Toni merayap naik keatas tubuhku, aku berdebar menanti apa yang akan terjadi. Toni membuka lebih lebar kedua kakiku, dan kemudian kurasakan ujung kejantanannya menyentuh mulut kewanitaanku yang sudah basah oleh cairan cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aauugghh.. Tonn.. pelann" jeritku lirih, saat kepala kejantanannya melesak masuk kedalam rongga kemaluanku.&lt;br /&gt;Toni menghentikan dorongannya, sesaat ia mendiamkan kepala kemaluannya dalam kehangatan liang kewanitaanku. Kemudian-masih sebatas ujungnya-secara perlahan ia mulai memundur-majukannya. Sesuatu yang aneh segera saja menjalar dari gesekan itu keseluruh tubuhku. Rasa geli, enak dan entah apalagi berbaur ditubuhku membuat pinggulku mengeliat-geliat mengikuti tusukan-tusukan Toni.&lt;br /&gt;"Ooohh.. Tonn.. sshh.. aahh.. enakk Tonn" desahku lirih.&lt;br /&gt;Aku benar-benar tenggelam dalam kenikmatan yang luar biasa akibat gesekan-gesekan di mulut kewanitaanku. Mataku terpejam-pejam kadang kugigit bibir bawahku seraya mendesis.&lt;br /&gt;"Enak.. Ver" tanya Toni berbisik.&lt;br /&gt;"He ehh Tonn.. oohh enakk.. Tonn.. sshh"&lt;br /&gt;"Nikmatin Ver.. nanti lebih enak lagi" bisiknya lagi.&lt;br /&gt;"Ooohh.. Tonn.. ngghh"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toni terus mengayunkan pinggulnya turun-naik-tetap sebatas ujung kejantanannya-dengan ritme yang semakin cepat. Selagi aku terayun-ayun dalam buaian birahi, tiba-tiba Toni menekan kejantanannya lebih dalam membelah kewanitaanku.&lt;br /&gt;"Auuhh.. sakitt Tonn" jeritku saat kejantanannya merobek selaput daraku, rasanya seperti tersayat silet, Toni menghentikan tekanannya.&lt;br /&gt;"Pertama sedikit sakit Ver.. nanti juga hilang kok sakitnya" bisik Toni seraya menjilat dan menghisap telingaku.&lt;br /&gt;Entah bujukannya atau karena geliat liar lidahnya, yang pasti aku mulai merasakan nikmatnya milik Toni yang keras dan hangat didalam rongga kemaluanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toni kemudian menekan lebih dalam lagi, membenamkan seluruh batang kemaluannya dan mengeluar-masukannya. Gesekan kejantanannya dirongga kewanitaanku menimbulkan sensasi yang luar biasa! Setiap tusukan dan tarikannya membuatku menggelepar-gelepar.&lt;br /&gt;"Ssshh.. ohh.. ahh.. enakk Tonn.. empphh" desahku tak tertahan.&lt;br /&gt;"Ohh.. Verr.. enak banget punya kamu.. oohh" puji Toni diantara lenguhannya.&lt;br /&gt;"Agghh.. terus Tonn.. teruss" aku meracau tak karuan merasakan nikmatnya hujaman-hujaman kejantanan Toni di kemaluanku.&lt;br /&gt;Peluh-peluh birahi mulai menetes membasahi tubuh. Jeritan, desahan dan lenguhan mewarnai pergumulan kami. Menit demi menit kejantanan Toni menebar kenikmatan ditubuhku. Magma birahi semakin menggelegak sampai akhirnya tubuhku tak lagi mampu menahan letupannya.&lt;br /&gt;"Tonii.. oohh.. tekan Tonn.. agghh.. nikmat sekali Tonn" jeritan dan erangan panjang terlepas dari mulutku.&lt;br /&gt;Tubuhku mengejang, kupeluk Toni erat-erat, magma birahiku meledak, mengeluarkan cairan kenikmatan yang membanjiri relung-relung kewanitaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhku terkulai lemas, tapi itu tidak berlangsung lama. Beberapa menit kemudian Toni mulai lagi memacu gairahku, hisapan dan remasan didadaku serta pinggulnya yang berputar kembali membangkitkan birahiku. Lagi-lagi tubuhku dibuat mengelepar-gelepar terayun dalam kenikmatan duniawi. Tubuhku dibolak-balik bagai daging panggang, setiap posisi memberikan sensasi yang berbeda. Entah berapa kali kewanitaanku berdenyut-denyut mencapai klimaks tapi Toni sepertinya belum ingin berhenti menjarah tubuhku. Selagi posisiku di atas Toni, Andri yang sedari tadi hanya menonton serta merta menghampiri kami, dengan berlutut ia memelukku dari belakang. Leherku dipagutnya seraya kedua tangannya memainkan buah dadaku. Apalagi ketika tangannya mulai bermain-main diklitorisku membuatku menjadi tambah meradang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutengadahkan kepalaku bersandar pada pundak Andri, mulutku yang tak henti-hentinya mengeluarkan desahan dan lenguhan langsung dilumatnya. Pagutan Andri kubalas, kami saling melumat, menghisap dan bertukar lidah. Pinggulku semakin bergoyang berputar, mundur dan maju dengan liarnya. Aku begitu menginginkan kejantanan Toni mengaduk-aduk seluruh isi rongga kewanitaanku yang meminta lebih dan lebih lagi.&lt;br /&gt;"Aaargghh.. Verr.. enak banget.. terus Ver.. goyang terus" erang Toni.&lt;br /&gt;Erangan Toni membuat gejolak birahiku semakin menjadi-jadi, kuremas buah dadaku sendiri yang ditinggalkan tangan Andri.. Ohh aku sungguh menikmati semua ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andri yang merasa kurang puas meminta merubah posisi. Toni duduk disofa dengan kaki menjulur dilantai, Akupun merangkak kearah batang kemaluannya.&lt;br /&gt;"Isep Ver" pinta Toni, segera kulumat kejantanannya dengan rakus.&lt;br /&gt;"Ooohh.. enak Ver.. isep terus"&lt;br /&gt;Bersamaan dengan itu kurasakan Andri menggesek-gesek bibir kemaluanku dengan kepala kejantanannya. Tubuhku bergetar hebat, saat batang kemaluan Andri-yang satu setengah kali lebih besar dari milik Toni-dengan perlahan menyeruak menembus bibir kemaluanku dan terbenam didalamnya. Tusukan-tusukan kejantanan Andri serasa membakar tubuh, birahiku kembali menggeliat keras. Aku menjadi sangat binal merasakan sensasi erotis dua batang kejantanan didalam tubuhku. Batang kemaluan Toni kulumat dengan sangat bernafsu. Kesadaranku hilang sudah naluriku yang menuntun melakukan semua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Verr.. terus Verr.. gue ngga tahan lagi.. Aaarrgghh" erang Toni.&lt;br /&gt;Aku tahu Toni akan segera menumpahkan cairan kenikmatannya dimulutku, aku lebih siap kali ini. Selang berapa saat kurasakan semburan-semburan hangat sperma Toni.&lt;br /&gt;"Aaagghh.. nikmat banget Verr.. isep teruss.. telan Verr" jerit Toni, lagi-lagi naluriku menuntun agar aku mengikuti permintaan Toni, kuhisap kejantananya yang menyemburkan cairan hangat dan.. kutelan cairan itu. Aneh! Entah karena rasanya, atau sensasi sexual karena melihat Toni yang mencapai klimaks, yang pasti aku sangat menyukai cairan itu. Kulumat terus itu hingga tetes terakhir dan benda keras itu mengecil.. lemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toni beranjak meninggalkan aku dan Andri, sepeninggal Toni aku merasa ada yang kurang. Ahh.. ternyata dikerjai dua pria jauh lebih mengasikkan buatku. Namun hujaman-hujaman kemaluan Andri yang begitu bernafsu dalam posisi 'doggy' dapat membuatku kembali merintih-rintih. Apalagi ditambah dengan elusan-elusan Ibu jarinya dianusku. Bukan hanya itu, setelah diludahi Andri bahkan memasukan Ibu jarinya ke lubang anusku. Sodokan-sodokan dikewanitaanku dan Ibu jarinya dilubang anus membuatku mengerang-erang.&lt;br /&gt;"Ssshh.. engghh.. yang keras Drii.. mmpphh"&lt;br /&gt;"Enak banget Drii.. aahh.. oohh"&lt;br /&gt;Mendengar eranganku Andri tambah bersemangat menggedor kedua lubangku, Ibu jarinya kurasakan tambah dalam menembus anusku, membuatku tambah lupa daratan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang asiknya menikmati, Andri mencabut kejantanan dan Ibu jarinya.&lt;br /&gt;"Andrii.. kenapa dicabutt" protesku.&lt;br /&gt;"Masukin lagi Dri.. pleasee" pintaku menghiba.&lt;br /&gt;Sebagai jawaban aku hanya merasakan ludah Andri berceceran di lubang anusku, tapi kali ini lebih banyak. Aku masih belum mengerti apa yang akan dilakukannya. Saat Andi mulai menggosok kepala penisnya dilubang anus baru aku sadar apa yang akan dilakukannya.&lt;br /&gt;"Andrii.. pleasee.. jangan disitu" aku menghiba meminta Andri jangan melakukannya.&lt;br /&gt;Andri tidak menggubris, tetap saja digosok-gosokannya, ada rasa geli-geli enak kala ia melakukan hal itu. Dibantu dengan sodokan jarinya dikemaluanku hilang sudah protesku. Tiba-tiba kurasakan kepala kemaluannya sudah menembus anusku. Perlahan namun pasti, sedikit demi sedikit batang kenikmatannya membelah anusku dan tenggelam habis didalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aduhh sakitt Drii.. akhh..!" keluhku pasrah karena rasanya mustahil menghentikan Andri.&lt;br /&gt;"Rileks Ver.. seperti tadi, nanti juga hilang sakitnya" bujuknya seraya mencium punggung dan satu tangannya lagi mengelus-elus klitorisku.&lt;br /&gt;Separuh tubuhku yang tengkurap disofa sedikit membantuku, dengan begitu memudahkan aku untuk mencengram dan mengigit bantal sofa untuk mengurangi rasa sakit. Berangsur-angsur rasa sakit itu hilang, aku bahkan mulai menyukai batang keras Andri yang menyodok-nyodok anusku. Perlahan-lahan perasaan nikmat mulai menjalar disekujur tubuhku.&lt;br /&gt;"Aaahh.. aauuhh.. oohh Drii" erang-erangan birahiku mewarnai setiap sodokan penis Andri yang besar itu.&lt;br /&gt;Andri dengan buasnya menghentak-hentakan pinggulnya. Semakin keras Andri menghujamkan kejantananya semakin aku terbuai dalam kenikmatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toni yang sudah pulih dari 'istirahat'nya tidak ingin hanya menonton, ia kembali bergabung. Membayangkan akan dijarah lagi oleh mereka menaikan tensi gairahku. Atas inisiatif Toni kami pindah kekamar tidur, jantungku berdebar-debar menanti permainan mereka. Toni merebahkan diri terlentang ditempat tidur dengan kepala beralas bantal, tubuhku ditarik menindihinya. Sambil melumat mulutku-yang segera kubalas dengan bernafsu-ia membuka lebar kedua pahaku dan langsung menancapkan kemaluannya kedalam vaginaku. Andri yang berada dibelakang membuka belahan pantatku dan meludahi lubang anusku. Menyadari apa yang akan mereka lakukan menimbulkan getaran birahi yang tak terkendali ditubuhku. Sensasi sexual yang luar bisa hebat kurasakan saat kejantanan mereka yang keras mengaduk-aduk rongga kewanitaan dan anusku. Hentakan-hentakan milik mereka dikedua lubangku memberi kenikmatan yang tak terperikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andri yang sudah lelah berlutut meminta merubah posisi, ia mengambil posisi tiduran, tubuhku terlentang diatasnya, kejantanannya tetap berada didalam anusku. Toni langsung membuka lebar-lebar kakiku dan menghujamkan kejantanannya dikemaluanku yang terpampang menganga. Posisi ini membuatku semakin menggila, karena bukan hanya kedua lubangku yang digarap mereka tapi juga payudaraku. Andri dengan mudahnya memagut leherku dan satu tangannya meremas buah dadaku, Toni melengkapinya dengan menghisap puting buah dadaku satunya. Aku sudah tidak mampu lagi menahan deraan kenikmatan demi kenikmatan yang menghantam sekujur tubuhku. Hantaman-hantaman Toni yang semakin buas dibarengi sodokan Andri, sungguh tak terperikan rasanya. Hingga akhirnya kurasakan sesuatu didalam kewanitaanku akan meledak, keliaranku menjadi-jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aaagghh.. ouuhh.. Tonn.. Drii.. tekaann" jerit dan erangku tak karuan.&lt;br /&gt;Dan tak berapa lama kemudian tubuhku serasa melayang, kucengram pinggul Toni kuat-kuat, kutarik agar batangnya menghujam keras dikemaluanku, seketika semuanya menjadi gelap pekat. Jeritanku, lenguhan dan erangan mereka menjadi satu.&lt;br /&gt;"Aduuhh.. Tonn.. Drii.. nikmat sekalii"&lt;br /&gt;"Aaarrghh.. Verr.. enakk bangeett"&lt;br /&gt;Keduanya menekan dalam-dalam milik mereka, cairan hangat menyembur hampir bersamaan dikedua lubangku. Tubuhku bergetar keras didera kenikmatan yang amat sangat dahsyat, tubuhku mengejang berbarengan dengan hentakan-hentakan dikewanitaanku dan akhirnya kami.. terkulai lemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang malam tak henti-hentinya kami mengayuh kenikmatan demi kenikmatan sampai akhirnya tubuh kami tidak lagi mampu mendayung. Kami terhempas kedalam mimpi dengan senyum kepuasan. Dihari-hari berikutnya bukan hanya Andri dan Toni yang memberikan kepuasan, tapi juga pria-pria lain yang aku sukai. Tapi aku tidak pernah bisa meraih kenikmatan bila hanya dengan satu pria.. aku baru akan mencapai kepuasan bila 'dijarah' oleh dua atau tiga pria sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E N D&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6182626498548124474-6271736322820952718?l=17tahunporno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://17tahunporno.blogspot.com/feeds/6271736322820952718/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6182626498548124474&amp;postID=6271736322820952718' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6182626498548124474/posts/default/6271736322820952718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6182626498548124474/posts/default/6271736322820952718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://17tahunporno.blogspot.com/2008/06/kenikmatan-bersama-dua-pria.html' title='Kenikmatan Bersama Dua Pria'/><author><name>ishadow76</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6182626498548124474.post-4466333790327246875</id><published>2008-04-24T01:22:00.000-07:00</published><updated>2008-04-24T01:24:39.604-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemerkosaan'/><title type='text'>Vita... Reuni SMA</title><content type='html'>Kejadian ini aku alami beberapa tahun yang silam, saat aku masih bekerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namaku Vita, umurku saat itu masih 22 tahun dan aku termasuk gadis yang lugu dan pendiam, tapi teman teman kantorku bilang aku adalah gadis yang sangat cantik jika tidak judes. Aku merasa sangat bersyukur dikaruniai wajah yang cukup cantik dengan tubuh yang tinggi dan langsing serta kulit yang putih mulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat wanitaku bilang, kalau di kantor cowok-cowok selalu membicarakan aku dan mereka selalu memperhatikan aku, apalagi kalau aku sedang mengenakan rok span dan blouse ketat busana kerjaku. Mereka bilang tubuhku sangat seksi dengan buah dada besar yang aku miliki, tapi aku tidak peduli dengan komentar mereka. Banyak dari mereka yang berusaha mendekatiku tapi aku masih takut dan enggan untuk menanggapinya, aku lebih senang sendirian, aku merasa bebas dan tidak terikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita aku diundang untuk menghadiri reuni SMA tempatku sekolah dulu, maklumlah sejak lulus SMA sampai saat kuliah dan bekerja, kami memang sudah sangat jarang bertemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam saat aku tiba di pelataran parkir sebuah kafe di bilangan Jakarta selatan, tempat reuni SMA ku di adakan, saat itu aku mengenakan pakaian kerja, rok span hitam dan kemeja putih dan aku memadukannya dengan blazer hitam, aku memang tidak sempat berganti pakaian karena kesibukanku di kantor, tapi tak apalah, dengan pakaian ini aku cukup PD untuk bertemu dengan teman teman SMAku, pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aduh.. Tuan putri ini makin cantik aja..!!" seru Nina, kawan satu kelasku waktu di SMA. Hari itu aku merasa sangat senang, bertemu dengan teman teman SMA-ku, acaranya juga cukup meriah, di hadiri oleh lebih dari seratus orang, yang semuannya adalah alumni sekolahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Astaga.. Sudah jam berapa nih..!!" gumanku di sela hingar bingar musik, aku sampai lupa waktu karena asyik ngobrol dengan teman temanku.&lt;br /&gt;"Nanti aja pulangnya Vit..!!" seru Cindy sambil menarikku ke depan panggung, saat itu di atas panggung sedang di pentaskan live music dan tampak beberapa pasangan tampak asyik ber slow dance mengikuti alunan music yang memang sedang berirama pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang saat itu aku memang terbawa suasana pesta, sayang kalau aku harus pulang cepat pikirku, aku malah ikut ikutan menenggak wine. Seumur hidup baru kali ini aku minum minuman keras, sehingga kepalaku terasa pusing, apalagi music sudah berubah menjadi house music dan hip hop membuat kepalaku makin berputar putar tak karuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo Vit..!! kapan lagi.. Belum tentu setahun sekali nih acara ini di buat..!!" seru Nina sambil menari-nari dan menjerit jerit histeris. Kayaknya Nina sudah mulai mabok nih..!! Pikirku.&lt;br /&gt;Tiba tiba aku merasa lenganku di tarik oleh seseorang, rupanya Suryo dia teman satu kelasku saat aku kelas tiga, "Ayo Vit.. Kita melantai..!!" ujar Suryo sambil menarikku ke atas panggung.&lt;br /&gt;"Nggak mau ahh.. Yo, lagi pusing nih..!!" keluhku, tapi Suryo tetap saja menggandengku, mau tidak mau aku jadi mengikutinya ke atas panggung, aku mulai menggerak gerakan tubuhku mengikuti alunan music yang menghentak hentak, aku sudah setengah sadar akibat pengaruh wine yang ku minum tadi dan aku juga benar benar terhanyut dalam histeria suasana pesta, sehingga aku tidak bisa lagi mengontrol gerakan tubuhku, gerakanku menjadi lebih berani dan terkesan erotis, sementara Suryo sudah berada dibelakang tubuhku, mengikuti dan mengimbangi gerakanku. Dan anehnya aku sangat menikmati suasana tersebut, padahal selama ini aku terkenal sangat anti dengan hal yang berbau dugem. Ah.. Nggak apa apa deh sekali ini aja.. Pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Buka.. Buka.. Buka..!!" kudengar teriakan teman-temanku sambil bertepuk tangan menyuruhku membuka kemejaku, aku sempat terkesiap mendengar teriakan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat ke arah samping, beberapa teman wanitaku memang sedang membuka pakaian bagian atas mereka, bahkan Nina sudah mulai membuka branya sehingga sebelah payudaranya tampak sudah menyembul keluar dan langsung di sambut dengan tepuk tangan dan teriakan riuh rendah dari teman temanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya walaupun agak risih, akhirnya aku mau saja menuruti kemauan teman teman ku itu, entah karena pengaruh wine atau mungkin aku sudah begitu terhanyut dengan suasana pesta tersebut, sambil tetap menggoyang goyangkan tubuhku, ku lepaskan blazerku dan perlahan lahan kubuka kancing kemeja putihku satu persatu sampai terlepas seluruhnya sehingga bra hitam yang kukenakan tampak jelas terlihat. Sementara lengan Suryo mulai memegang pinggangku dari belakang, sambil tetap mengikuti gerakanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terus terhanyut dengan alunan musik yang menghentak hentak itu, sesekali ku angkat kedua tanganku ke atas, meraih rambut panjangku dan menariknya ke arah belakang sambil tetap menggerak gerakkan tubuhku, tiba tiba aku tersadar saat tangan Suryo berusaha melepaskan braku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa apan kamu Yo..!!" jeritku sambil mendekap dadaku, saat itu kancing belakang braku sudah terlepas, perbuatan Suryo itu langsung menyadarkanku dari pengaruh wine dan suasana pesta.&lt;br /&gt;"Brengsek kamu.. Apa yang kamu lakukan..?" teriakku sambil berusaha merapikan kembali kemejaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sepertinya Suryo tidak mengindahkan teriakanku, tangannya dengan sigap langsung memeluk tubuhku dari belakang, membuat aku tidak bisa meronta dan melepaskan diri dari himpitan tubuhnya, sementara sebelah tangannya merenggut paksa bra yang kukenakan hingga terlepas dan jatuh ke lantai, sehingga kini tubuh bagian atasku terlihat jelas dan menjadi tontonan untuk teman-temanku yang langsung menyambutnya dengan sangat antusias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Suryo..!! Hentikan.. Lepaskan saya.. Kurang ajar.. Kamu..!!" jeritku sambil terus meronta dari himpitan dan pelukannya, tapi Suryo malah makin beringas, dia malah menarik dan menyeretku ke arah belakang panggung, di tempat ini sinar lampunya lebih redup dan agak tersembunyi dari pandangan teman temanku, tangannya dengan buas terus meremas remas ke dua buah dadaku, sementara mulutnya juga terus menciumi sekujur leherku, aku masih terus menjerit jerit dan meronta, tapi Suryo tetap saja tidak menghentikan perbuatannya, malah dia semakin nekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu sebaiknya diam aja, daripada nanti gua perkosa beneran..!!" bentaknya, dengan nada galak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otakku buntu, mendengar ancamannya, aku tak mampu berpikir lagi bagaimana caranya untuk menghindar dari cengkeraman Suryo. Mungkin ini juga karena kesalahanku. Karena terlalu terhanyut dengan suasana pesta, keluhku menyesali kebodohanku sendiri. Aku masih mematung ketika mulutnya mulai menciumi Buah dadaku dan lalu mengulum putingku. Sementara tangan kirinya meremasi buah dada kananku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku benar-benar bagai boneka yang diam saja, padahal bahaya mengancamku. Hanya ada satu rasa.. Ketakutan yang amat sangat. Sampai saat Suryo menyingkapkan rokku ke arah atas dan mulai meremasi buah pantatku, Aku masih tak mampu bereaksi. Bahkan tanpa kusadari tubuh bagian bawah Suryo sudah mulai menggesek gesek daerah sekitar selangkanganku. Tapi ketika dia mulai memelorotkan celana dalamku dan bersiap menghujamkan batang penisnya ke selangkanganku, Aku terkesiap, mendadak kesadaranku pulih. Aku berontak keras, sekuat tenaga melepaskan dari dekapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan jangan..!! Lepaskan..!! Saya masih perawan Yo..!!" jeritku panik dan ketakutan, sambil kugerakkan tubuhku ke arah depan, menjauhkan vaginaku dari batang penisnya.&lt;br /&gt;"Diam Vit..!! Layani gua baik-baik, atau gua paksa..!!" ancam Suryo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tetap berontak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau nggak mau diam gua tampar lu"&lt;br /&gt;"Hentikan.. Atau saya laporkan ke teman-teman!!" bentakku tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak Aku punya kekuatan untuk membentaknya, tiba tiba pelukannya mengendor. Kugunakan kesempatan ini untuk melepaskan diri. Suryo tidak mencoba menahanku. Aku berhasil lepas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu cantik.. Dan Tubuhmu bagus.." guman Suryo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku cepat-cepat mengenakan kembali celana dalamku yang melorot dan membereskan pakaianku, kini Suryo yang mematung. Matanya tajam memandang ke arahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baiklah.. Gua minta maaf untuk kejadian ini.. Habis kamu cantik sekali sih Vit, gua jadi lupa diri.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu masih mau jadi temanku kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tetap diam sambil memandangnya dengan penuh kemarahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya enggak akan mengganggu kamu lagi Vit, tapi sebenarnya saya sudah tertarik dengan kamu dari dulu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku makin jijik mendengar kata katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oke, saya tunggu sampai kamu bersedia melayani gua tanpa gua paksa..!!" ujarnya kesal, sambil berjalan menjauh dari tubuhku, aku sempat menarik nafas lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tiba-tiba Suryo menyergap dan memegang kedua bahuku dan lalu mencium bibirku. Aku sangat kaget mendapat serangan tak terduga ini, aku kontan berontak. Tapi Suryo malah memelukku lebih kencang. Sehingga aku Makin tidak dapat bergerak. Dia semakin mempererat pelukannya. Aku menyerah, toh dia hanya menciumku. Dilumatnya bibirku dengan ketat, Aku diam membiarkan, tak berreaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibirnya melumat habis bibirku, Aku masih mematung, tak membalas lumatannya juga tak berdaya untuk melepaskannya Lalu lidahnya mulai menyapu-nyapu bibirku dan diselipkan ke mulutku. Aku merinding. Baru sekali ini bibirku di lumat oleh lawan jenis dan tiba tiba aku kembali dilanda oleh ketakutan yang amat sangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan kanannya membuka kembali kancing kemejaku, lalu telapak tangannya merabai bulatan buah dadaku. Tubuhku bergetar karena ketakutan dan Aku mulai kembali meronta. Dadaku serasa sesak dan sulit bernafas karena lumatan mulutnya di bibirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cepat seluruh kancing kemejaku kembali dilepaskannya sehingga tubuh bagian atasku kembali terbuka. Kemudian Suryo memutar tubuhnya, sehingga posisinya kini kembali berada di belakangku, lalu dia mendorong tubuhku hingga rebah ke atas meja yang di gunakan untuk meletakkan alat alat sound system, Entah kenapa Aku merasa tubuhku tiba tiba lemas. Demikian pula ketika Suryo mulai menindih tubuhku dari arah belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangannya menyingkapkan kemejaku ke atas dan lidahnya mulai menjilati sekujur punggung dan pundakku, sementara satu tangannya meraih buah dadaku dan meremasnya dengan kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lepaskan..!! Tolong.. Tolong..!!" teriakku sangat ketakutan ketika tangannya bergerak menyusup ke sela sela rok-ku, kemudian jari-jarinya menyusup ke balik celana dalamku dan menggosok-gosok selangkanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terus meronta dan berteriak minta tolong, sampai tenggorokanku serak tapi sepertinya teriakkanku tertelan oleh suara hingar bingar musik. Tiba tiba Suryo dengan sigap menyingkapkan rok ku dan langsung memelorotkan celana dalam yang kukenakan sampai sebatas lutut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan..!! Tolong..!! Jangan perkosa saya..!!" jeritku panik karena merasa vaginaku sudah tidak tertutup dengan apa apa lagi, sambil makin memperkuat rontaanku, Dan berusaha mengatupkan ke dua belah pahaku sekuat tenagaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih terus menjerit dan meronta sekuatnya ketika dia dengan paksa berhasil membentangkan pahaku lebar-lebar. Aku makin menjerit histeris dan putus asa saat ku rasakan batang penisnya mulai menempel di selangkanganku. Detik berikutnya penis hangat itu telah menggosoki vaginaku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat berikutnya lagi benda hangat itu terasa tepat menekan bibir vaginaku.. Lalu kurasakan tekanan.. Sehingga bibir vaginaku terasa sesak.. Aku tersentak.. Secara refleks pahaku menutup, tapi Suryo berhasil membukanya lagi dan mencoba menusukan batang penisnya lebih dalam lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh.. Ini tidak boleh terjadi..!!" pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengatupkan pahaku lagi. Tapi, seberapalah kekuatanku melawan Suryo yang telah di liputi nafsu bejad ini? Kedua belah tangan kuatnya menahan katupan pahaku dan batang penisnya mulai menekan lagi. Tangannya boleh menahan pahaku, tapi Aku masih punya ruang untuk menggerakkan pinggulku dan membawa hasil, batang penisnya terpeleset!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu malah membuat Suryo menjadi lebih penasaran, dengan kasar dibukanya lagi pahaku lalu dia mulai mengarahkan batang penisnya langsung ke liang vaginaku, kemudian ditekannya kuat kuat, dan.. Ohh.. Kurasakan benda hangat itu mulai menusuk. Rasanya kepala penisnya telah masuk. Pegangan tangannya pada pahaku kurasakan mengendor.. Kugunakan kesempatan ini untuk menutupkan pahaku kembali. Tapi tekanan tusukannya tak berkurang, justru bertambah, sehingga batang penisnya tak lepas dari liang vaginaku. Malahan seolah aku menjepit kepala penisnya yang telah masuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya Aku mulai menyerah, tak ada gunanya melawan Suryo yang sudah di liputi oleh nafsu bejadnya itu, aku sudah tidak mampu berontak lagi untuk mempertahankan kehormatanku. Air mataku meleleh.. Aku menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, tiba tiba Suryo dengan cepat menarik batang penisnya lalu tubuhnya rebah di atas tubuhku. Detik berikutnya kurasakan cairan hangat membasahi punggung dan rok hitamku yang tersingkap. Aku sedikit lega, rupanya Suryo telah keluar.. Walaupun belum penetrasi. Belum? Tepatnya belum sempurna. Aku yakin baru kepala penisnya saja yang masuk. Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa tadi memang belum terjadi sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suryo gagal memaksakan kehendaknya untuk memperkosaku, aku sangat bersyukur karena kegadisanku masih utuh dan tidak berhasil di renggut oleh Suryo. Hanya sebentar dia menindih tubuhku, Suryo lalu bangkit. Merapikan kembali pakaiannya dan pergi meninggalkanku, tanpa berkata sedikitpun. Aku pun langsung berdiri, dengan tangan masih gemetar, buru buru ku bereskan letak pakaianku, lalu bergegas menuju pintu keluar, aku tidak mempedulikan lagi sapaan teman temanku, tujuanku hanya satu.. Ingin cepat cepat pulang..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku makin mempercepat langkahku menuju ke arah mobilku yang ku parkir di ujung bangunan ini, buru buru kuambil kunci mobil dari tasku dan langsung membuka pintu mobil saat tiba tiba muncul dua orang laki laki dari mobil yang di parkir di belakangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh..!!" Aku Kaget bukan kepalang, tapi terlambat untuk berteriak ketika salah seorang diantara mereka langsung menyergapku dan membekap mulutku, aku hanya bisa melihat yang berdiri di depanku adalah Suryo, dia menyeringai ke arahku, sepertinya dia tidak terima dengan kegagalannya tadi. Sementara yang seorang lagi aku tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dengan mulut yang masih terbekap mereka menyeretku dan memaksaku masuk ke sebuah mobil minibus milik mereka, kulihat bangku bangku mobil itu sudah di rebahkan, hingga rata, membuat orang yang membekap mulutku, leluasa untuk menarikku ke arah dalam. Lalu tanpa bersuara Suryo langsung masuk dan menutup pintu mobil. Tiba-tiba Aku sadar akan bahaya yang kembali mengancamku. Celaka..!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan..!!" gumanku.&lt;br /&gt;"Sstt.." jawab Suryo sambil memberi tanda menyilangkan jari di bibirnya dan mendekatiku. Kedua tangannya memegang bahu kanan kiriku. Lalu sebelah tangannya membelai pipiku.&lt;br /&gt;"Vita.." panggilnya dengan suara pelan. Membuat Lidahku langsung kelu.&lt;br /&gt;"Gua minta kamu rela dan jangan melawan..!!" jarinya merabai bibirku.&lt;br /&gt;"Jangan..!!" jeritku saat aku berhasil melepaskan mulutku dari bekapan temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jeritanku langsung terhenti karena bibir Suryo cepat menutup bibirku dan lalu melumatnya dengan kasar. Kedua belah tangannya merangkul tubuhku. Aku dipeluknya erat sekali. Sementara kedua tanganku di pegang dengan erat oleh temannya. Aku berhasil melepas ciuman, tapi tak mampu melepaskan rangkulannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kumohon..!! Jangan" kataku mengiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dadaku diremasnya. Aku menjerit. Tangannya pindah ke pantatku, diremasnya pula. Aku makin menjerit. Masih sambil memeluk tubuhku Disingkapkannya rok ku dan Suryo langsung memelorotkan celana dalamku. Gerakan yang tiba-tiba dan tak terduga ini gagal kucegah. Lalu Suryo bergerak membenamkan wajahnya di antara selangkanganku. Kututup pahaku hingga menjepit kepalanya. Gerakanku membuat Suryo langsung bangkit melepaskan jepitan pahaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Brengsek kamu Vit..!! Mau di kasih enak kok ngelawan terus..!! Nikmati aja..!!"&lt;br /&gt;"Jangan..!!" kataku setengah menangis.&lt;br /&gt;"Sekali ini saja, sesudah itu saya tidak akan ganggu kamu lagi, Vit..!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu tangan Suryo kembali membuka pahaku. Percuma. Sia-sia saja melawan gerakan Suryo yang kuat apalagi ku rasakan cengkeraman di kedua tanganku makin erat, membuat aku semakin putus asa, akhirnya Kubiarkan suyo menjilati liang kewanitaanku. Aku merasa amat malu dan terhina di perlakukan seperti ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Aku hanya bisa menangis dan pasrah. Semoga dia tidak sampai memperkosaku.. Aku muak di perlakukan seperti ini, tapi Aku tak berdaya melawannya. Aku benci..!! Aku menyesali diriku sendiri yang tak berdaya melawan, dalam keadaan frustasi begini apa yang bisa kulakukan selain menangis..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi kini Suryo telah membuka resleting celananya dan mengeluarkan batang penisnya yang sudah tegang dan keras, benda yang pernah sebentar memasuki liang kewanitaanku dan kini akan memasukinya lagi. Tangisanku yang sesenggukan tidak menghentikan gerakan Suryo yang sudah membentangkan pahaku dan siap menusukan batang penisnya. Suryo kemudian merangkak dan mulai menindihku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan..!!" gumanku lemah, saat Suryo mulai melepaskan kancing kemejaku, aku masih sesenggukan.&lt;br /&gt;"Sekali ini saja.. Vit.!!"&lt;br /&gt;"Lepaskan saya..!!" pintaku memelas sambil terus menangis saat Suryo mulai menciumi dan mengulum putting buah dadaku.&lt;br /&gt;"Buah dada kamu besar padat sekali.. Sungguh indah" sambungnya sambil terus mengulum payudaraku kiri dan kanan.&lt;br /&gt;"Kamu cantik sekali.. Vit..!!" katanya lagi sambil tangannya terus meraba dan menggerayangi seluruh tubuhku.&lt;br /&gt;" Itulah kenapa tadi gua cepet keluarnya..!!" Akunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya bisa diam sambil terus menangis menerima seluruh perlakuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oke, sekarang jangan nangis lagi ya.. Gua sekarang akan benar benar memperkosa kamu..!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali menjerit histeris dan putus asa mendengar kata-katanya. Lalu Suryo bangkit. Dibukanya pahaku lebar-lebar, kemudian dia mengambil posisi di antara ke dua belah pahaku, siap untuk menghujamkan batang kemaluannya ke dalam liang vaginaku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan.. Lepaskan..!!" jeritku sambil terus meronta, ku lejang-lejangkan ke dua kakiku, berusaha menyingkirkan tubuhnya dari selangkanganku. Tapi Suryo malah makin menusukan batang penisnya sehingga kepala kemaluannya masuk di antara bibir vaginaku. Di tekannya lagi sambil membentang pahaku lebih lebar. Perlahan batang penisnya menyeruak lebih dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terus berharap agar Suryo tidak kuat, lalu segera mencabut batang penisnya dan menumpahkan cairan spermanya di luar liang vaginaku seperti kejadian yang baru lalu tapi harapanku meleset.. Suryo terus menekan batang penisnya, memaksanya masuk ke dalam liang vaginaku yang sempit..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku terpejam menunggu Tekanan selanjutnya, dan tekanan batang penisnya kurasakan semakin kuat, mendesak masuk ke dalam liang kemaluanku. Bukan sakit lagi yang kurasakan tapi ngilu yang tak tertahankan. Sehingga tanpa sadar kepalaku terlempar ke kiri dan ke kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aduuh.. Sakitt..!!" jeritku terengah engah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu pinggul Suryo membuat gerakan memompa. Rasa ngilu makin mejalari sekujur tubuhku. Kuangkat kepalaku, Aku sempat melihat kepala penis Suryo timbul tenggelam seirama gerakan pompaannya. Pompaan kecil, hanya ujungnya saja yang keluar masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sakit..!!" jeritku.. Sambil terus meronta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kurasakan Suryo menambah tekanannya. Kembali kurasakan ngilu dan sakit yang amat sangat di selangkanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aauuff" seruku.&lt;br /&gt;"Sakit..!!" jeritku saat kurasakan ada yang terkoyak di dalam liang vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa perih langsung melanda di seluruh kemaluanku, kedua tanganku mengepal dengan keras, tubuhku menegang dan mataku melotot. Aku sampai menggigit bibirku sendiri, karena tidak sanggup menahan ngilu dan perih saat kegadisanku direnggut paksa..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat lagi ke bawah. Separuh batang penisnya telah tenggelam di selangkanganku. Suryo benar-benar telah memasuki tubuhku. Suryo benar-benar telah memperkosaku..!! Merenggut keperawananku. Suryo mulai memompa lagi, kini pompaannya semakin cepat. Rasa sakit makin menjadi jadi. Dan ketika dia menekan lebih kuat lagi, rasa sakit yang kudapat. Makin tak terhingga bercampur dengan dengan rasa ngilu. Sampai akhirnya seluruh bagian tubuh Suryo telah menindih ketat ke tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat Suryo berhenti memompa, kulihat bulu-bulu kelamin kami memang telah saling menempel ketat. Batang penisnya telah seluruhnya tenggelam di dalam liang vaginaku tubuhnya rebah menindihku, kedua belah tangannya menyusup ke punggungku dan memeluk kuat tubuhku. Perlahan pinggulnya mulai memompa. Naik-turun dan kanan-kiri. Kadang diputar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ooh.. Kamu benar-benar masih sempit Vita..!!" bisiknya dekat telingaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia benar-benar telah menyetubuhiku. Aku hanya memejamkan mata sambil terus menangis sesenggukan, tidak sanggup menatap wajah pemerkosaku. Kuharap penderitaanku ini segera selesai, aku berharap Suryo segera mencapai orgasme dan melepaskan batang penisnya dari liang vaginaku, sehingga rasa sakitku pun bisa segera sirna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi harapanku kembali meleset. Sudah belasan pompaan tak ada tanda-tanda Suryo akan menyudahi perkosaanya, justru hunjaman batang penisnya makin menjadi jadi di dalam liang kemaluanku. Suryo terus memompa tubuhku dan terus memperkosaku tanpa peduli dengan aku yang terus menjerit jerit kesakitan.. Tiba tiba Suryo mengangkat punggungku dan mempercepat gerakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ohh.. Sempitnya vagina kamu Vit..!!" dekapannya di punggungku makin erat sambil menghujamkan batang penisnya dalam-dalam ke dalam liang kemaluanku. Tubuhnya diam memeluk tubuhku.. Beberapa saat kemudian tubuhnya bergetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangann..!!" jeritku panik saat sadar dia akan berejakulasi di dalam liang rahimku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi terlambat, bersamaan dengan itu aku merasakan cairan hangat menyemprot dan membanjiri liang vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ooh.. Vit.. Tubuh kamu indah sekali.." bisiknya di dekat telingaku sambil masih terengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam. Pipiku diciumnya, lalu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Vaginamu.. Nikmat banget.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sempit sekali Vit.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Aku tersadar. Ucapan ucapannya membuat aku ingin muntah. Dalam diriku tiba-tiba muncul rasa benci. Benci kepada diriku sendiri kenapa harus mengalami kejadian ini. Juga benci kepada tubuh Suryo yang menindihku, aku marah. Darahku mendidih. Aku berontak. Dengan sekuat tenaga Aku lepas dari dekapan Suryo dan tubuh itu terguling dari badanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berusaha membuka pintu mobil dan melarikan diri, tapi teman Suryo langsung menangkapku, langsung menggumuliku. Dan aku kembali di perkosa.. Entah sudah berapa kali aku di gilir oleh mereka malam itu.. Sampai akhirnya aku tidak sadarkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok paginya aku terbangun, dan aku sudah berada di dalam mobilku sendiri.. Tapi aku tahu.. Kejadian semalam bukan mimpi, karena rasa sakitnya masih kurasakan menjalari seluruh tubuhku. Aku hanya bisa menangis dan meratap, menyesali kejadian yang menimpa diriku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ceritakan kembali oleh Lia dari pengalaman Diah. Seorang sahabat yang mengalami nasib serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E N D&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6182626498548124474-4466333790327246875?l=17tahunporno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://17tahunporno.blogspot.com/feeds/4466333790327246875/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6182626498548124474&amp;postID=4466333790327246875' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6182626498548124474/posts/default/4466333790327246875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6182626498548124474/posts/default/4466333790327246875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://17tahunporno.blogspot.com/2008/04/vita-reuni-sma.html' title='Vita... Reuni SMA'/><author><name>ishadow76</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6182626498548124474.post-6992946315763019594</id><published>2008-04-24T01:21:00.001-07:00</published><updated>2008-04-24T01:21:59.072-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='softcore'/><title type='text'>Permainan Sebelah Kamar</title><content type='html'>Mendung masih menggayut di luar sana, saat kualihkan pandangan dari mikroskop keluar menembus jendela kaca besar yang tertutup dengan rapat dan gedung-gedung tinggi di kejauhan tampak samar-samar. Mungkin sudah turun hujan di daerah sana. Masih terasa dingin juga, walaupun di luar belum turun hujan. Jam dinding di depan sana baru menunjukkan pukul 13:45, berarti masih ada sekitar 15 menit lagi sebelum jam praktikum ini selesai. Seluruh slide preparat sudah kupelajari dan rasanya tidak ada masalah. Seluruh jenis kuman yang ada sudah kukenal. Hanya memang ada 1 preparat yang mungkin sudah tua sehingga agak sulit untuk dilihat, namun akhirnya dapat juga, walaupun membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk mencarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba timbul rasa isengku untuk minta bantuan Caroline melihat preparat itu, soalnya pikiranku juga lagi suntuk, sekalian ingin memantapkan keyakinanku.&lt;br /&gt;"Carol, bantu gue dong. Ini preparat apaan sih? Gue susah nih ngeliatnya," begitu pintaku pada doi.&lt;br /&gt;Caroline nama lengkapnya. Biasanya kupanggil Carol saja. Doi ini anak Surabaya asli. Tubuhnya lumayan besar tetapi cukup proporsional menurutku. Tinggi badannya sekitar 170 cm. Sangat tinggi untuk cewek Indonesia dan yang pasti doi ini punya buah dada yang sangat besar menurutku, seperti buah kelapa mendekati pepaya. Nah, bingung kan anda membayangkannya? Otak doi cukup lumayan berdasarkan pengamatan 2 tahun ini terhadapnya, soalnya dari angka-angka yang diumumkan pada tiap kali kami ujian, doi berada di ranking atas kalau tidak A, ya B.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, sistem ujian kami adalah kenaikan tingkat, jadi tidak ada yang namanya SKS. Pokoknya pegang saja mata kuliah pokok dan lulus, maka kami dapat naik tingkat. Asal yang minornya tidak jeblok banget. Terus ada enaknya lagi kalau sudah lulus tingkat 2 pasti jadi, maksudnya jadi dokter. Tidak ada lagi DO (drop out). Mau kuliah 10 tahun, lima belas tahun atau sampai bosan. Tetapi sekarang sudah diganti kurikulumnya menjadi sistem SKS yang membuat semakin susah kali ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apaan sich.. sini!" pinta doi menanggapi permintaanku.&lt;br /&gt;Terus doi putar mikroskopku ke arahnya, soalnya doi duduknya di depanku, jadi kalau doi mau membantuku tinggal putar badan terus berhadapan. Hanya terhalang oleh ujung meja yang sedikit dibuat tinggi untuk meletakkan stop kontak dan reagen pewarnaan saja. Jadi doi membantuku memperlihatkan mikroskop itu sambil nungging.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Busyet..," tuch toket sekarang pas sekali bisa kulihat dari atas bajunya, soalnya doi memakai baju yang agak longgar terus nungging, jadi bisa terlihat dari ketinggian dengan leluasa. Tetapi kuperhatikan tidak ada bra-nya, terus turun ke bawah tetap tidak kelihatan ada bra-nya. Tetapi pentil susunya juga tidak keliatan. Membuat penasaran saja. Kalau bisa kuremas mau aku melakukannya, apalagi kalau diberikan gratis, betul tidak? Jadi semakin penasaran. Doi ini memakai bra, apa tidak ya? Tetapi kulihat samping kanan dan kirinya juga tidak terlihat ada tali bra-nya. Anehnya, kalau doi tidak pakai, masa doi berani? pikirku. Otak memang mikir tetapi adikku yang di bawah tidak mikir lagi kali ya? Soalnya langsung kencang saja minta perhatian yang lebih. Eh, lama-lama sakit juga. Salah setel kali ya? Jadi ya gitu, dengan gaya seadanya tetapi tanpa menarik perhatian publik tentunya, kukemudikan dulu ke jalur yang benar sehingga tidak mengganggu konsentrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira 7-8 menit, akhirnya, "Fran, ini kayanya BTA? Tapi gue ngga yakin betul, eloe liat deh nih, gue udah passin," begitu lapor doi.&lt;br /&gt;Dalam hati aku, "Memang betul BTA," jadi ternyata benar keyakinanku. Apalagi dari 32 preparat yang ada memang kuman itu yang tidak ada di sediaan lainnya. Tetapi untuk menghormati doi, sekaligus menutup rasa dosaku, sudah melihat pemandangan indah dengan gratis, kemudian aku bangun dan memutari meja untuk melihat hasil pemeriksaan yang ditunjukkan oleh doi. Benar, seperti dugaanku. Ya sudah. Tidak lama terus bel bunyi. Kemudian, aku dan teman-teman lainnya mulai membereskan peralatannya dan memasukkannya ke lemari masing-masing, sebab baru dipertanggungjawabkan nanti di akhir semester untuk serah terima ke dosen pengajar labnya. Tidak lama kemudian kami keluar ruangan lab praktikum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh, ketika aku sudah di dalam lift untuk turun ke bawah. Sandro, temanku menegurku.&lt;br /&gt;"Fran, jadi ngga?" tanya Sandro. Bertanya apa memaksa, aku jadi bingung.&lt;br /&gt;"Jadi Dro," seruku setelah sempat termenung sejenak.&lt;br /&gt;"Tolong bilangin ke temen-temen," lanjutku kemudian sebelum pintu lift itu tertutup dan masih sempat kulihat Sandro mengacungkan ibu jarinya ke atas yang berarti dia mengerti dan menangkap pesanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di bawah, wuiih ramai sekali. Semua anak-anak berkumpul. Biasa, jam-jam seperti ini anak FE, FIA dan FH baru saja mau masuk kuliah. Biasanya anak FKIP, khususnya yang Psikologi lebih sore lagi. Gedung FK ini tepat di tengah-tengah, jadi anak-anak dari Fakultas lain suka berkumpul di bawah, mereka sedang duduk-duduk. Setelah memesan makanan kesukaanku, yaitu satekambing untuk mengisi perut yang hanya sempat diisi pagi tadi dengan semangkok soto Madura, kucari tempat duduk dan kulihat ada Sandra sedang makan sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"San, kosong nich?" tanyaku padanya seraya duduk persis di depannya.&lt;br /&gt;Sebenarnya meja ini cukup untuk berempat, tetapi doi hanya sendirian.&lt;br /&gt;"He eh," jawabnya singkat dan cukup judes menurut ukuranku.&lt;br /&gt;Anak itu boleh dibilang cantik. Tidak terlalu tinggi, sekitar 165 cm dengan tubuh sedang ideal. Kulitnya putih dengan rambut yang selalu dipotong sebahu. Sifatnya cukup pendiam, kalau bicara tenang, seakan memberikan kesan sabar, tetapi yang sering dibicarakan teman-teman adalah judesnya itu yang membuatku juga kadang-kadang tidak betah. Untungnya, aku tipe orang yang easy going, jadi jarang dimasukkan ke hati. Percuma buat kepala pusing. Tetapi yang aku harus angkat topi sama doi, otaknya, sangat encer. Sebetulnya doi masih muda, tetapi katanya waktu SD sempat loncat kelas, jadi saat ini doi masih berusia 17 tahun. Bayangkan, umur 17 tahun sudah tingkat II FK. Aje gilee!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kok manyun San?" tanyaku basa-basi sedikit sebelum mulai makan, sebab kulihat juga raut wajah doi agak sepet.&lt;br /&gt;"Ngapain tadi eloe tanya-tanya ke Carol, apa eloe sendiri ngga bisa liat?" tanyanya ketus sekali.&lt;br /&gt;Kaget juga aku, aku di ketusin seperti ini. Tetapi memang benar feelingku, anak ini rasanya agak menaruh hati padaku. Tetapi bagaimana ya? Masalahnya aku belum ingin, paling tidak untuk saat ini. Masalahnya konsentrasiku saat ini adalah ingin jadi dokter dulu. Apalagi aku masih ingin happy-happy saja dulu. Jadi aku tidak tanggapin serius pertanyaan doi.&lt;br /&gt;Tetapi kujawab, "Oh.. bener San, soalnya tuh preparat udah lama kali yah, jadi kaga bagus lagi dan susah bener ngeliatnya. Tapi udah gue tandain kok. Pokoknya ada bunderan kecil di kanan bawah pake tinta hitam, itu adalah BTA (Basil Tahan Asam, biangnya penyakit TBC). Ingat lho di kanan bawah ada bunderan kecilnya. Terus.." Belum sempat kujelaskan semua, tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dan bilang, "Jam berapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh.. eloe Ky, bentar yah, abis gue makan nih," jawabku dengan penuh rasa syukur karena jadi sekarang kami tidak berdua saja dengan Sandra. Minimal ada pihak ketiga.&lt;br /&gt;"Ngga.. ngga.. ngga..," tiba-tiba Sandra nyeletuk dengan nada tinggi dan cukup keras mengatasi kebisingan yang ada di kantin ini, saat Ricky hendak duduk di sampingku.&lt;br /&gt;"San, sebentar..," pinta Ricky sejurus kemudian, karena doi juga terkejut dengan ucapan Sandra yang demikian tajam dengan nada tinggi.&lt;br /&gt;"Ngga.. ngga.. eloe ngerokok," sahutnya ketus.&lt;br /&gt;Ricky memandangku meminta persetujuan, tetapi aku sedang malas berdebat, jadi aku hanya angkat bahu dan melanjutkan makan siangku secepatnya, biar tidak terlalu lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai makan, aku cepat-cepat pergi. Peduli amat, walaupun Sandra sepertinya masih sangat kesal, doi pikir aku tolol sekali ya. Tetapi tidak peduli, yang penting aku selamat. Betul, tidak? Di lapangan basket tempat biasa geng aku berkumpul, sudah kulihat cukup lengkap juga anggotanya. Siang hari yang mendung ini masih sempat kulihat si Paul melakukan lay-up terakhirnya sebelum kuberteriak untuk berangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berenam, Sandro, Ricky, Paul, Hengky, Mardi yang sudah punya kerja sambilan. Saat ini kami menuju tempat kostnya Mardi dan terus ke kostku sendiri. Kami berjalan menyusuri gang-gang sempit di sekitar kampus ini. Kemudian, tidak lama kami sampai dan langsung naik ke atas, kamarnya Mardi ada di lantai dua. Di atas sini, seluruhnya ada 12 kamar. Maksudnya, 6-6 saling berhadapan. Umumnya satu kamar untuk berdua, tetapi Mardi mengambil 1 kamar untuk dia sendiri. Katanya dia tidak bisa belajar serius kalau ada teman sekamar, apalagi kalau dari lain jurusan, begitu alasannya. Bener apa tidak, silakan perkirakan sendiri. Sebelum masuk ke kamar Mardi, aku masih sempat memperhatikan kamar di sebelah Mardi. Masih gelap dan sepi, barangkali mereka belum pada pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kamar Mardi, wuuiih.. hampir seluruh dinding kamarnya penuh dengan poster dari ukuran yang kecil sampai sebesar meja belajar. Gambarnya memang tidak terlalu seru, seadanya. Kesanku sih begitu, berantakan tidak karuan. Yang penting menempel. Di situ ada gambar Madonna, Prince, Michael Jackson, terus artis-artis dari yang tidak terkenal dari Hong Kong dan juga Indonesia seperti: Yatti Octavia dan beberapa gambar pemain sepakbola yang aku tidak ketahui namanya. Maklum, aku bukan penggemar bola. Setelah kamar dikunci, Mardi memberikan contoh dengan mengupas perlahan gambar poster tadi di dinding yang terbuat dari kayu itu, dan segera menempelkan matanya pada lubang yang ada di balik poster itu. Ya sudah, kami berebutan mencari poster yang tentunya sesuai dengan ukuran tinggi tubuh kami. Dan, Ya ampun. Hampir di balik seluruh poster yang tertempel di dinding itu kebanyakan ada lubang untuk mengintip ke kamar sebelah. Aku sendiri memilih-milih lubang, satu cukup tinggi dan satunya lagi di bawah, yang kalau kami lihat harus berjongkok atau setengah tiduran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lain juga sudah mendapatkan posisinya masing-masing. Dari balik lubang tempatku melihat tampak kamar di sebelah tertata dengan apik. Di seberang sana menempel ke dinding kanan ada ranjang, kemudian di sampingnya ada meja komputer, sedangkan yang di sebelah kiri ada pintu lagi, kamar mandi. Dari lubang di bawah, aku tidak dapat melihat banyak. Mungkin tepat di kolong meja. Meja belajar maksudnya.&lt;br /&gt;"Mar, jam berapa?" tanyaku, "ngga sabar nich." sambil tiduran di lantai, sementara lampu di kamar tetap padam dan suasananya hening sekali.&lt;br /&gt;"Sebentar lagi, biasanya sich jam-jam segini," sahutnya bingung.&lt;br /&gt;Eh, benar. Tidak lama terdengar pintu kamar ruang sebelah di buka dan setelah kami menunggu agak lama sedikit, perlahan-lahan kami mulai beraksi dengan membuka poster-poster sesuai pilihan kami masing-masing. Di kamar sebelah, kulihat ada cewek yang lagi minum langsung dari botolnya, dan tampak lehernya yang putih mulus dengan gerakan halus dari jakun yang sedang bekerja melancarkan air tersebut masuk ke tenggorokannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemandangan ini membuat penisku mulai sedikit memberikan reaksi. Gila, pemandangan yang indah sekali. Cewek itu belum dapat kulihat dengan jelas. Yang pasti, rambutnya hitam, panjang sedikit melewati punggungnya dengan perawakan langsing dan tinggi sekitar 160 cm. Mengenakan kaos berwarna pink, tidak terlalu ketat dan rok mini yang juga berwarna pink. Pintu kamar mandi masih terbuka dan terdengar seseorang sedang menumpahkan air di sana dan ketika dia keluar. Ya ampun, aku kenal dengan anak ini. Si Andre, anak tehnik seangkatan dengan aku, dan kukenal doi karena sama-sama satu grup saat P4 dulu. Anaknya cukup supel dan aktif. Ketika kulihat lagi yang cewek, ternyata aku juga mengenalnya. Dia Irene, anak FE juga seangkatan denganku dan kami semua satu grup, Andre, Irene dan aku. Irene sendiri sempat dekat benar dengan aku, soalnya doi juga aktif dan sering berdiskusi dengan aku. Lebih tepatnya berdebat dalam session di P4 itu. Pokoknya seru kalau sudah berdebat dengan dia. Tetapi orangnya juga sportif. kalau aku benar dalam mempertahankan pendapat tentunya dengan jalan pikiran yang logis, pasti dia mengakuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama acara P4 yang 2 minggu lebih itu, Irene nempel terus ke aku. Dari aku sendiri suka-suka saja, soalnya aku juga belum punya banyak teman saat itu, demikian juga dia. Apalagi memang tidak ada ruginya dekat-dekat dengan cewek cantik. Dia dari Pontianak dan tidak banyak anak Pontianak yang masuk Jakarta untuk kuliah. Kalau si Andre sudah dari dulu dia mendekati Irene, jadi kami berdua sering jalan bersama. Andre adalah anak Surabaya, sama dengan Sandra, hanya saat itu aku lain group dengan Sandra, sehingga waktu itu belum dekat benar. Hanya sekedar tahu saja. Memang sudah berulang kali aku bertemu Iren sedang ngobrol bersama Andre. Akhirnya dapat juga Andre mendekati Irene dan geli juga aku mengingatnya, sebab dari dulu Andre juga pernah bertanya kepadaku, lebih tepat mancing-mancing perasaanku ke Irene. Tetapi kubilang ambil saja kalau dia mau. Bubar P4 masih seminggu lebih lagi, aku dekat dengan Irene, sebab kami sama-sama diminta menjadi anggota tim perumus akhir P4. Sesudah itu kami bubaran karena kuliahku teratur dari pagi jam 7 sampai jam 2 siang, sedangkan doi tidak tentu. Sesudih itu aku juga tidak terlalu memperhatikannya. Jadi semakin lama semakin jarang bertemu, sampai hari ini baru aku lihat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andre sempat mengecup pipi Irene sebelum doi duduk dan sibuk di depan komputer, sedangkan Irene kemudian berjalan menuju ke arahku. Semakin dekat.. dekat.. dekat.. Wah gawat, aku menjadi deg.. deg.. degkan tidak menentu. Saat itu Irene begitu dekat hingga bisa kulihat dengan hanya dibatasi dinding kayu. Kalau ketahuan aku sedang mengintip kan tengsin juga aku. Walaupun hati ini kebat-kebit, untung aku masih ingat benar ilmunya si Mardi. Jangan sekali-kali bergerak kalau posisinya begitu, apalagi sampai mengangkat mata dari lubang, karena akan ada sinar yang masuk melalui celah dan itu bahaya besar, bisa membangkitkan perhatian. Kalau mungkin malah jangan berkedip. Jadi kutahan mataku untuk menutup lubang itu, sambil berdoa semoga tidak ketahuan, he.. he.. he.. Sudah salah masih minta slamat, dasar manusia, jadi manusiawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah agak lama Irene tenggelam dalam kesibukannya dan aku merasa aman, perlahan kuangkat mata dari lubang itu dan kututup kembali dengan poster. Kemudian aku pindah ke lubang yang ada di bawah meja. Sekarang yang tampak adalah sepasang kaki yang sangat indah hingga ke pangkal paha putih mulus dengan posisi kaki disilangkan, yang kanan menindih yang kiri. Cukup lama aku mengagumi hal ini dan kemudian tiba-tiba kaki tersebut bergerak. Sekarang ganti kaki kiri yang menumpang di kaki kanan. Saat perpindahan itu sempat terlihat CD doi. Kayanya warna pink juga tetapi sayangnya singkat sekali sehingga tidak sempat kunikmati. Dengan sabar aku menanti kembali gerakan-gerakan yang tentunya kuharapkan memberikan pandangan hidup yang lebih baik lagi. Tetapi kok tidak kunjung tiba, sampai akhirnya penantianku membuahkan hasil. Kakinya sedikit terbuka mengangkang dengan tubuh yang mungkin di condongkan ke meja. Sekarang dapat ku lihat belahan paha bagian dalam terus menyusur ke dalam dengan cahaya seadanya (karena di kolong meja), terus ke dalam memberikan gairah tersendiri yang tanpa sadar penisku juga sudah mulai menegang. Rasanya ingin segera mencari lubang itu dan menyelami dasarnya. Doi memakai celana berwarna pink dari bahan yang tidak terlalu tebal sehingga masih berbayang rumput hitamnya yang cukup tebal di tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uh, indah sekali. Lima belas menit sudah berlalu rasanya dan belum ada aktifitas lebih lanjut. Lama-lama pegel juga mata dan bosan juga. Itu lagi itu lagi. Dan penisku juga sudah mulai surut, sementara yang diintip diam saja. Lama-lama kakiku yang kesemutan sendiri. Jadi kututup lagi lubang itu. Sekarang aku tiduran di lantai disusul oleh yang lain. Bosan juga rupanya mereka. Orang tidak ngapa-ngapain kok diintip. Samar-samar masih sempat kudengar hujan mulai turun di luar dan rasanya belum terlalu lama aku tidur ketika kakiku di sepak-sepak Paul. Sialan. Dalam hati, baru juga mau tidur sebentar saja ada yang ganggu. Dan eh, langsung aku segera bangun, karena teman-temanku sudah sedang asyik di posisi masing-masing. Hanya aku yang ketinggalan. Rasanya aku tertidur tidak terlalu lama. Apa aku pules benar ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cepat-cepat saja kubuka lagi lubang yang punyaku dan segera kuintip.&lt;br /&gt;"Hhhgg.. hgg.." desah Irene sambil mengacak rambut Andre. Kulihat Irene duduk di tepi ranjang, sedangkan Andre berlutut di hadapannya sedang sibuk menjilat belahan paha bagiandalam. Tubuh mulus bagian atas Irene sendiri sudah terbuka, demikian juga dengan branya yang tidak terlihat lagi ada dimana. Buah dadanya kencang sekali, cukup besar dan menantang. Gila, tubuhnya putih mulus benar. Nyesel juga, kenapa dulu tidak kuhajar saja. Saat itu penisku juga tidak tanggung-tanggung langsung bangun, tegang sekali. Sialan juga temen-temen yang lain, terlambat membangunkanku. Seperti apa permulaannya kan aku tidak lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aaacchh.." desah nikmat Irene seraya mendongakkan kepalanya ke belakang, dan leher jenjangnya benar-benar mempesona.&lt;br /&gt;Kemudian tangannya menyibakkan rambutnya ke belakang. Sungguh suatu paduan gerakan alami nan menawan. Sejurus kemudian dia membungkuk dan menarik kaos yang dikenakan Andre dan meletakkannya di lantai. Andre sendiri kemudian bangkit dan melepaskan celana yang dikenakannya termasuk celana dalamnya. Segera tampak senjata ampuh miliknya yang tentunya di sayang benar dan segera di lahap ujungnya perlahan oleh Irene, dan perlahan mulai mengocoknya berirama hingga pada akhirnya seluruh batang kemaluan itu tertelan oleh mulut Irene yang dihiasi bibir mungilnya. Milik Andre rasanya tidak sebesar punyaku, tapi yang di sana rupanya lebih beruntung dari yang punyaku, he he he.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ren.. ach.. ach.." rintih Andre yang memuncak nafsunya.&lt;br /&gt;Kemudian dikeluarkannya batang itu dan segera Andre mengangkat kaki Irene dan menarik celana dalam serta rok mininya dan terlepas seluruhnya. Tetapi tidak sempat kulihat dengan jelas, karena Irene segera tertidur di ranjang dan tertutup oleh bayangan pantat Andre yang segera merebahkan tubuhnya di atas tubuh Irene dan mereka mulai bergelut. Sesaat kemudian, Andre turun dari tubuh Irene dan perlahan membelai tubuhnya mulai dari telinga kanan, leher, menyusuri bahu berputar-putar di sana sejenak dan terus turun mendekat bukit nan menjulang sebelah kanan dan mendaki namun tidak sampai menyentuh puting. Justru puting itu diam-bil dari puncaknya dengan lidah Andre yang sekarang mulai aktif memainkan peranannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ssshh.. achh.." rintih Irene nikmat.&lt;br /&gt;Sekarang tangan kanan Andre sudah semakin menurun dan mencapai perut, terus turun tepat di jalur tengah menuju pusat, mulai menyibakkan rumput hitam lebat.&lt;br /&gt;"Dre.. hhgg.. hhgg.."&lt;br /&gt;Tangan kanan Andre sekarang sibuk tepat di pusat itu dan nampak Irene sangat menikmatinya. Perlahan kaki Irene sudah semakin terbuka lebar dan Andre pun sudah kembali mengambil posisi siap di atas. Perlahan Andre mulai menurunkan kaki ketiganya dan menembus, membuka liang nikmat itu perlahan tetapi pasti, seiring dengan kaki Irene yang panjang menekuk menyambut tamunya yang memberikan kenikmatan duniawi. Memang di sana adalah surga dunia. Andre bergerak perlahan memompa, yang tidak lama kemudian sudah seirama dengan gerakan Irene yang diiringi nafas memburu dari Andre dan desah lirih tiada henti dari Irene. Gerakan bergelombang itu membangkitkan minat para pengintip termasuk aku. Dan kuyakin di dalam sana burungku juga pasti sudah mulai kebasahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada satu kesempatan, Andre melepaskan penisnya dari genggaman liang vagina Irene, dan berbaring di samping tubuh Irene, yang disusul oleh Irene menaiki tubuh Andre. Setelah Irene menyibakkan rambutnya yang kusut ke belakang dia pun mulai mencari dan memberikan pengarahan kepada burung Andre untuk mencapai sarangnya. Sesaat kemudian gerakan mereka kembali berirama dan kulihat rambut Irene sekarang mulai menempel di tubuhnya yang berkeringat. Hal itu memberikan pemandangan indah tersendiri, terlebih ketika Irene mendongakkan kepalanya meresapi kenikmatan yang datang. Sejurus kemudian Irene membungkukkan tubuhnya ke depan dan bertumpu pada kedua lengannya sementara pinggulnya terus memainkan gerakan indah berirama turun-naik turun-naik berulang-ulang. Irene menarik rambutnya ke depan dan menutupi buah dadanya yang sebelah kiri, tidak terurai oleh karena sudah basah oleh keringat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diterangi cahaya lampu yang minim itu, sekarang aku dapat melihat pundak dan punggung Irene yang putih mulus itu mulai berminyak dan timbul bintik-bintik keringat licin yang semakin mengoyak kesetiaan iman. Gerakan semakin binal dan menuju puncak hingga pada suatu titik.&lt;br /&gt;"Ren, nyam.. pe.." pekik Andre tertahan.&lt;br /&gt;Saat itu pula segera Irene melepaskannya dan menyambut semburan kental dari pipa milik Andre ke dalam mulutnya. Masih sempat terlihat semburan yang pertama mengenai muka dan sedikit rambut Irene sebelum seluruhnya tenggelam dalam kegelapan kerongkongan Irene. Setelah terdiam beberapa saat, Andre bangkit dan mengangkat kaki Irene ke atas dan segera lidah Andre terjulur memainkan klitoris milik Irene, mulai dari gerakan perlahan namun segera menjadi cepat seiring dengan bahasa tubuh Irene menggeliat kian kemari hingga akhirnya.&lt;br /&gt;"Ach.. cchh," desis Irene yang disertai dengan gerakan kakinya yang mengejang keras lurus mirip kaki ayam disembelih nikmat yang tiada tara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, "Brukk.." derit ranjang itu berbunyi pada saat Andre rubuh menjatuhkan tubuhnya untuk saling berimpit bersentuhan dan menikmati sisa nikmat yang ada bersamanya. Kami semua terdiam karena demikian terpesona menikmati live show yang baru saja diperagakan lebih nikmat dibandingkan nonton BF yang seringkali kami lihat bersama seusai kuliah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6182626498548124474-6992946315763019594?l=17tahunporno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://17tahunporno.blogspot.com/feeds/6992946315763019594/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6182626498548124474&amp;postID=6992946315763019594' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6182626498548124474/posts/default/6992946315763019594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6182626498548124474/posts/default/6992946315763019594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://17tahunporno.blogspot.com/2008/04/permainan-sebelah-kamar.html' title='Permainan Sebelah Kamar'/><author><name>ishadow76</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6182626498548124474.post-2983014911703575150</id><published>2008-04-24T01:13:00.000-07:00</published><updated>2008-04-24T01:17:17.737-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pesta sex'/><title type='text'>Berbagi Rasa</title><content type='html'>Sebelumnya saya minta maaf atas semakin banyaknya email yang belum sempat saya balas dikarenakan saya sangat sibuk dengan pekerjaan saya. Walau demikian, akan saya usahakan untuk bisa membalas semua email tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut saya akan menceritakan satu pengalaman nyata, dan masih berlangsung sampai sekarang, kisah dari salah satu teman korespondensi saya, Mia, kita sebut saja begitu. Kisah yang menurut Mia sangat bisa membuat gairah hidupnya menjadi lebih berwarna cerah dan penuh sensasi.. Sesuai dengan permintaan yang bersangkutan, saya samarkan nama-nama ada dalam cerita saya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mia, 27 tahun, isteri dari Dicky, 31 tahun, adalah seorang ibu rumah tangga yang lumayan supel dalam bergaul di lingkungan tempat tinggalnya. Penampilan Mia biasa saja. Mia bersikap selalu apa adanya dan bersahaja. Dicky adalah seorang suami yang cukup baik dan bertanggung jawab kepada keluarga. Apapun kekurangan dalam rumah tangganya, maka Dicky akan selalu berusaha untuk memperolehnya. Bisa dibilang, rumah tangga mereka adalah harmonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu malam acara 17 Agustusan tahun 2003, Mia dan Dicky beserta warga lingkungan dimana mereka tinggal mengadakan malam hiburan berupa Organ tunggal. Tua muda, laki-laki perempuan, semua ikut bergembira. Semua turun berjoget mengikuti alunan lagu yang dibawakan oleh penyanyi. Mula-mula mereka berjoget dengan pasangan masing-masing. Semua bergembira sambil tertawa bebas mengikuti irama musik..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa lagu, mereka terus berjoget dengan berganti pasangan. Mereka terus bergembira. Mia berjoget dengan seorang bapak, Dicky berjoget dengan seorang anak perempuan remaja.. Begitulah mereka berjoget sampai beberapa lagu dengan berganti pasangan sampai beberapa waktu. Menjelang akhir acara, pada lagu terakhir, Mia berjoget dengan seorang bapak, sedangkan Dicky berjoget dengan Evi, seorang ibu rumah tangga yang tinggal beberapa rumah dari rumah mereka. Evi, sekitar 40 tahun, ibu dari seorang karyawan swasta yang bekerja dengan sistim shift, mempunyai 2 orang anak yang sudah cukup besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau sudah berumur tapi penampilan Evi selalu tampak muda karena cara berpakaiannya yang selalu agak seksi dan pandai bermake up. Selintas Mia melirik pada Dicky yang sedang berjoget dengan Evi. Terlihat Dicky sedang tertawa dengan Evi sambil berjoget. Setelah itu kembali Miapun berjoget dan tertawa dengan pasangannya. Menjelang tengah malam acara usai. Semua kembali ke rumah masing-masing dengan perasaan gembira walaupun capek.. Sesampai di rumah, setelah mandi air hangat, Mia dan Dicky segera ke tempat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana tadi, sayang?" tanya Dicky sambil memeluk Mia.&lt;br /&gt;"Apanya?" kata Mia sambil menempatkan kepalanya di salah satu tangan Dicky.&lt;br /&gt;"Ya tadi waktu kita di tempat pesta tadi," kata Dicky sambil mengecup bibir mungil Mia.&lt;br /&gt;"Saya benar-benar gembira..." kata Mia sambil tersenyum sambil tangannya mengusap-ngusap dada serta jarinya memainkan puting susu Dicky.&lt;br /&gt;"Harusnya kita sering melakukan acara seperti tadi, jangan cuma setahun sekali..." kata Dicky sambil tangannya masuk ke pakaian tidur Mia. Buah dada Mia diremas dengan mesra.&lt;br /&gt;"Mmhh.. Memangnya kenapa?" kata Mia sambil mencium pipi Dicky lalu mengecup bibirnya.&lt;br /&gt;"Ya kita kan bisa bergembira dengan tetangga yang ada. Jarang sekali kita ngumpul bareng mereka," ujar Dicky sambil membuka seluruh kancing pakaian tidur Mia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dijilatnya puting susu Mia sambil tangannya meremas buah dada Mia yang satu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mmhh..." desah Mia sambil memejamkan matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil tetap menciumi dan menjilati buah dada Mia, tangan Dicky yang tadinya meremas buah dada, turun ke perut lalu disusupkan ke celana dalam Mia. Segera jarinya menyentuh bulu-bulu kemaluan Mia yang tidak terlalu banyak. Mia tetap terpejam sambil sesekali mendesah.. Jari-jari tangan Dicky lalu turun menyusuri belahan belahan memek Mia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ohh..." desah mia keras sambil menggerakkan pinggulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jari Dicky terus menggosok-gosok belahan memek Mia sampai cairan memek Mia keluar banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mmhh..." desah Mia sambil tangannya memegang tangan Dicky yang sedang bermaik di memeknya.&lt;br /&gt;"Enak, sayang," kata Dicky sambil melumat bibir Mia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara jari tengah Dicky masuk ke lubang memek Mia. Tanpa menjawab pertanyaan Dicky, Mia membalas ciuman Dicky dengan hebat sambil menjepitkan pahanya lalu menggoyangkan pinggulnya karena menahan kenikmatan ketika jari tangan Dicky keluar masuk lubang memeknya. Sementara tangan Mia segera menyelusup ke dalam celana piyama Dicky, dan kemudian menggenggam dan meremas kontol Dicky yang sudah tegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Buka pakaiannya dong, sayang," kata Mia berbisik ke telinga Dicky. Dicky segera bangkit lalu melepas seluruh pakaiannya. Kontol Dicky terlihat sudah tegak dengan ditumbuhi bulu yang sangat lebat. Melihat itu, Mia segera bangkit dan duduk di tepi ranjang. Digenggamnya kontol Dicky lalu dikocok perlahan. Cairan bening terlihat keluar dari lubang kontol Dicky. Tanpa banyak cakap ujung lidah Mia segera menjilati cairan tersebut sambai habis. Tak lama, mulut Mia sudah mengulum batang kontol Dicky yang lumayan besar. Cpok.. Cpok.. Cpok.. Terdengar suara kuluman mulut Mia pada kontol Dicky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ohh.. Enak, sayang.. Ohh..." desah Dicky sambil memegang kepala Mia lalu memompa pelan kontolnya di mulut Mia.&lt;br /&gt;"Gantian, dong..." kata Mia sambil melepas kulumannya lalu menatap mata Dicky. Dicky tersenyum.&lt;br /&gt;"Naiklah ke ranjang..." ujar Dicky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Miapun segera naik ke atas ranjang lalu telentang dan membuka lebar pahanya. Tak lama, Mia mendesah karena lidah Dicky pintar bermain dan menjilati kelentit dan lubang memek Mia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ohh, sayangg.. Teruss..." desah Mia agak keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi ketika jari Dicky masuk ke lubang memeknya sambil lidahnya tak henti menjileti kelentit Mia. Gerakan pinggul Mia makin keras mengikuti rasa nikmatnya. Tak lama kemudian tangan Mia dengan keras meremas rambut Dicky dan mendesakkan kepalanya ke memek. Lalu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ohh.. Enak, sayangg.. Mmff.. Sshh..." jerit kecil Mia terdengar ketika Mia mencapai puncak kenikmatan.. Orgasme..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicky segera menghentikan jilatannya lalu naik ke atas tubuh istrinya itu. Walau mulut masih basah oleh cairan memek Mia, Dicky langsung melumat bibir Mia. Miapun langsung membalas ciuman Dicky dengan hebat. Sambil tetap berciuman, tangan Mia segera memegang dan membimbing kontol Dicky ke lubang memeknya. Selang beberapa detik kemudian.. Bless.. Bless.. Bless.. Kontol Dicky lansgung keluar masuk memek Mia. Keduanya bermandi peluh sambil sesekali terdengar desahan kenikmatan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memeknya legit, sayang.. Enak..." bisik Dicky. Mia tersenyum sambil menggoyangkan pinggulnya.&lt;br /&gt;"Memang kenapa?" tanya Mia.&lt;br /&gt;"Aku tidak pernah bosan menyetubuhi kamu..." bisik Dicky sambil terus memompa kontolnya. Mia tersenyum.&lt;br /&gt;"Kalau wanita lain rasanya bagaimana," tanya Mia lagi.&lt;br /&gt;"Aku tidak pernah bersetubuh dengan wanita lain, kok..." kata Dicky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mia tersenyum lalu merangkulkan kedua tangannya ke pundak Dicky sambil tetap menggoyangkan pinggulnya mengimbangi gerakan kontol Dicky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya mau tanya, sayang..." kata Mia.&lt;br /&gt;"Apa?" kata Dicky.&lt;br /&gt;"Tubuh Mbak Evi, tetangga kita itu, bagus tidak..?" tanya Mia.&lt;br /&gt;"Ah kamu pertanyaannya ada-ada saja..." kata Dicky tak menghiraukan.&lt;br /&gt;"Saya serius, sayang.. Jawab jujurlah. Tidak apa-apa kok..." kata Mia.&lt;br /&gt;"Tadi lihat belahan buah dadanya tidak?" tanya Mia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicky mengangguk. Mia tersenyum sambil terus menggoyangkan pinggulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jujur.. Iya, tubuh dia bagus. Dan tadi aku sempat lihat belahan buah dadanya. Marah?" kata Dicky sambil mengentikan gerakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mia tersenyum sambil terus menggoyang pinggulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan berhenti dong, sayang.. Terus setubuhi saya.. Mmhh..." kata Mia.&lt;br /&gt;"Saya tidak marah kok. Justru saya suka mendengarnya..." kata Mia.&lt;br /&gt;"Kenapa?" tanya Dicky heran.&lt;br /&gt;"Tadi waktu saya lihat kamu berjoget dengan Mbak Evi, tidak tahu kenapa ada perasaan aneh..." kata Mia.&lt;br /&gt;"Tadi tiba-tiba saya membayangkan kamu bermesraan dengan Mbak Evi..." lanjut Mia lagi.&lt;br /&gt;"Kenapa begitu?" tanya Dicky.&lt;br /&gt;"Saya tidak tahu..." kata Mia.&lt;br /&gt;"Kamu cemburu?" tanya Dicky.&lt;br /&gt;"Tidak sama sekali. Justru sebaliknya, saya sangat ingin melihat kamu bermesraan dengan Mbak Evi..." kata Mia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicky tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu lagi horny kali ya, tadi..." kata Dicky tanpa menghentikan gerakan kontolnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mia kembali tersenyum. Setelah beberapa lama memompa kontolnya, Dicky mengejang, gerakannya bertambah cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku mau keluar, sayang.. Ohh..." bisik Dicky.&lt;br /&gt;"Tahan dulu sebentar, sayang.. Saya juga mau keluar.. Mmhh..." bisik Mia sambil mempercepat gerakan pinggulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama tubuhnya mengejang, tangannya kuat memeluk tubuh Dicky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau keluar, sayangghh..." jerit Mia.&lt;br /&gt;"Ohh.. Nikmat, sayang.. Ohh..." jerit kecil Mia ketika mencapai orgasme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa detik, Dicky juga semakin mempercepat gerakannya. Sampai akhirnya.. Crott.. Crott.. Crott.. Air mani Dicky menyembur di dalam memek Mia. Dicky mendesakkan kontolnya dalam-dalam ke memek Mia.. Tubuh keduanya lemas saling berpelukan sementara kontol Dicky masuk berada di dalam memek Mia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau tidak kalau saya minta kamu maen dengan Mbak Evi.. Saya serius," kata Mia sambil memeluk pundak Dicky.&lt;br /&gt;"Kenapa sih kamu mau yang aneh-aneh begitu?" tanya Dicky.&lt;br /&gt;"Saya tidak tahu jawabnya, sayang.. Yang jelas ada perasaan horny ketika membayangkan kamu bermesraan dengan Mbak Evi..." kata Mia.&lt;br /&gt;"Mau kan, sayang?" tanya Mia memaksa.&lt;br /&gt;"Kalau aku mau, bagaimana caranya, sayang..." kata Dicky sambil mengecup bibir istrinya.&lt;br /&gt;"Nanti aku yang mengatur..." kata Mia sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicky juga tersenyum sambil mencabut kontolnya dari memek Mia, lalu bangkit dan berpakaian. Merekapun tidur kemudian.. Banyak cara yang dilakukan Mia agar Evi bisa dekat dengan dan akrab dengan dia dan Dicky. Dan hal itu membuahkan hasil. Evi sekarang mulai sering bertandang ke rumah mereka walaupun hanya untuk sekedar ngobrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai suatu malam Mia mengundang Evi datang ke rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas Wiryo sudah pergi kerja kan, Mbak?" tanya Mia.&lt;br /&gt;"Sudah dari tadi dong.. Dia dapat bagian shift malam," ujar Evi.&lt;br /&gt;"Eh ada apa undang saya ini malam?" tanya Evi.&lt;br /&gt;"Tidak ada apa-apa kok, Mbak..." kata Mia.&lt;br /&gt;"Kami hanya ingin ajak Mbak nonton VCD baru yang dibeli Mas Dicky," kata Mia sambil melirik kepada Dicky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicky membalas dengan senyuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"VCD begituan ya?" tanya Evi bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mia tersenyum sambil melirik Dicky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cepatlah putar!" ujar Evi tidak sabar. Dicky bangkit dari tempat duduknya lalu menuju ke VCD player.&lt;br /&gt;"Mbak Evi suka film jenis apa?" tanya Dicky sambil menyodorkan beberapa keping VCD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memilih, Evi segera menyerahkan film yang ingin dilihatnya. Dicky segera memutarnya. Mereka bertiga menonton film BF tanpa banyak bicara. Mereka duduk bertiga di karpet. Mia duduk berdampingan dengan Evi, sementara Dicky duduk dibelakang mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Udah ada yang bangun, ya..?" kata Mia tersenyum sambil melirik ke arah Dicky.&lt;br /&gt;"Lumayan..." kata Dicky.&lt;br /&gt;"Lumayan apa?" tanya Evi sambil matanya sedikit melirik ke arah selangkangan Dicky yang mulai agak menggembung. Dicky tersenyum sambil menutupi kakinya dengan bantal.&lt;br /&gt;"Mbak Evi seberapa sering begituan dengan Mas Wiryo?" tanya Mia.&lt;br /&gt;"Ah, jarang sekali.. Mungkin karena dia capek," kata Evi sambil matanya terus melihat adegan seronok di video.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali mereka terdiam selama beberapa saat sambil melihat video.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sini dong..!" kata Mia kepada Dicky sambil matanya berkedip memberi isyarat. Dicky beringsut mendekati Mia.&lt;br /&gt;"Ada apa sih..?" tanya Dicky.&lt;br /&gt;"Duduk dekat sini dong..." kata Mia dengan suara manja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sengaja tangan Mia segera masuk ke dalam Celana Hawaii Dicky. Lalu digenggamnya kontol Dicky yang sudah tegang dan diremasnya pelan. Evi yang melihat hal itu, perasaannya menjadi tak karuan.. Antara rasa malu dan rasa ingin melihat bercamput baur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Udah pengen ya?" kata Mia kepada Dicky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaranya sengaja agak keras. Dicky tersenyum sambil matanya melirik ker arah Evi. Evi yang semakin tidak menentu perasaannya, kebetulan melirik ke arah Dicky. Pandangan mereka beradu selama beberapa detik. Evi lalu membuang pandangannya ke arah video. Hatinya berdebar ketika berpandangan dengan Dicky.. Mia melirik ke arah Dicky sambil tersenyum. Lalu dengan tanpa ragu-ragu, Mia menurunkan celana Dicky hingga kontolnya yang besar tampak tegak terlihat. Lalu dikocoknya pelan.. Dicky tetap diam sambil matanya melirik ke arah Evi yang jelas kelihatan gelisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mbak suka tidak pada barang lelaki yang berbulu banyak?" tanya Mia sambil menatap Evi.&lt;br /&gt;"Mm.. Eh.. Iya.. Iya.. Saya suka..." kata Evi tergagap menatap Mia sambil matanya sekilas melirik ke tangan Mia yang sedang meremas kontol Dicky.&lt;br /&gt;"Kalau kayak gini suka tidak, Mbak?" tanya Mia sambil matanya mengisyaratkan agar Evi melihat ke kontol Dicky.&lt;br /&gt;"Ah, kamu ini..." kata Evi sambil matanya melihat kontol Dicky beberapa saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mia tersenyum. Tangannya meraih tangan Evi, lalu ditariknya ke arah kontol Dicky. Evi menuruti kemauan Mia walau hatinya merasa serba salah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Coba pegang, Mbak..." kata Mia sambil tangannya membimbing jari-jari Evi untuk menggenggam kontol Dicky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontol Dicky terasa hangat dan berdenyut di tangan Evi. Nafas Evi memburu. Ada desiran tertentu yang menuntun tangannya bergerak meremas pelan kontol Dicky. Dicky tersenyum sambil melirik ke arah Mia. Mia juga tersenyum sambil mundur agak menjauh. Dicky tanpa diduga tangannya meraih dagu Evi, lalu dengan segera mengecup bibirnya, lalu dilumatnya dengan hangat. Evi yang sudah terangsang gairahnya langsung membalas ciuman Dicky dengan hangat pula sambil tangannya mulai berani mengocok kontol Dicky. Tangan Dickypun dengan segera menyusup ke balik daster Evi. Ditelusuri paha Evi. Elusan tangannya segera naik ke pangkal paha, lalu jarinya diselipkan ke celana dalam Evi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mmhh..." desah Evi sambil menggelinjang ketika jari tangan Dicky menyusuri belahan memeknya yang sudah sangat basah.&lt;br /&gt;"Ohh.. Mmhh..." desah Evi tambah keras ketika jari Dicky keluar masuk lubang memknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinggulnya sedikit digoyang karena nikmat. Sementara Mia sengaja menjauhkan diri dari mereka. Mia mendapat suatu rangsangan yang amat sangat ketika melihat suaminya bercinta dengan wanita yang Mia sukai. Mia tidak melakukan apapun hanya diam sambil melihat mereka bermesraan. Hanya nafas Mia yang mulai cepat yang terdengar.. Ketika tangan Dicky mulai mencoba melepas pakaian Evi, Evi agak tersentak sesaat. Dengan segera matanya menatap Mia. Tapi ketika dilihatnya Mia tersenyum sambil matanya mengisyaratkan agar Evi melanjutkan bercinta lagi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evi sesaat terdiam. Tapi ketika tangan Dicky merangkul dari belakang dan tangannya meremas buah dada Evi, Evi terpejam dan memegang tangan Dicky yang sedang meremas buah dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ohh..." desah Evi seiring dengan jilatan dan pagutan Dicky di lehernya sambil tak lepas tangannya meremas buah dada Evi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama Dicky segera melepas daster Evi. Evi tampak agak canggung ketika Dicky melepas BH dan celana dalamnya dari belakang. Dickypun melepas seluruh pakaiannya. Segera setelah itu Dicky menindih tubuh telanjang Evi. Jilatan lidah dan remasan tangan Dicky pada buah dada Evi membuat Evi menggelinjang merasakan nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ohh.. Oohh..." desah Evi ketika jilatan lidah Dicky turun ke perut lalu turun lagi menyusuri selangkangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinggulnya bergoyang mengikuti desiran rasa nikmat.. Mia tetap diam menyaksikan tubuh telanjang suaminya yang bergumul mesra dengan Evi. Nafasnya makin memburu waktu melihat kontol Dicky dihisap sambil dikocok oleh Evi. Tanpa terasa tangannya menyelusup ke dalam celana dalamnya. Lalu jarinya mulai menggosok-gosok belahan memeknya sendiri. Entah mengapa Mia sangat menikmati ketika Dicky memompa kontolnya ke dalam mulut Evi. Nafas Mia semakin memburu, juga satu jarinya semakin cepat keluar masuk memeknya sendiri ketika melihat Dicky mulai menyetubuhi Evi. Desahan dan erangan mereka membuat gairah Mia bertambah naik..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ohh.. Sshh..." desah Evi ketika Dicky dengan perkasa mengeluar masukkan kontol di memeknya.&lt;br /&gt;"Gimana rasanya, Mbak?" tanya Dicky sambil mengecup bibir Evi.&lt;br /&gt;"Ohh sangat enakk.. Mmhh..." kata Evi sambil merangkul pundak Dicky, sementara pinggulnya bergoyang mengikuti gerakan Dicky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah sudah berapa lama mereka bersetubuh disaksikan Mia, sampai akhirnya Evi memeluk tubuh Dicky kuat-kuat. Memeknya didesakan ke kontol dicky dalam-dalam. Gerakan pinggulnya makin cepat. Lalu tiba-tiba tubuhnya bergetar sambil mendesah panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh.. Oohh..." desah Evi terkulai lemas setelah mendapat orgasme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Dicky masih terus menggenjot kontolnya di memek Evi yang sudah lemas. Gerakannya makin cepat ketika Dicky merasakan ada sesuatu yang mendesak nikmat di kontolnya. Tak lama segera dicabut kontolnya dari memek Evi, lalu digesek-gesekannya pada belahan memek Evi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai akhirnya.. Crott! Crott! Crott! Air mani Dicky tumpah banyak di atas bulu-bulu memek Evi. Tubuh Dicky lalu lemas terkulai di atas tubuh telanjang Evi. Mia yang melihat hal itu segera menghampiri mereka. Diusapnya pantay Dicky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masih kuat tidak, sayang..?" bisik Mia ke telinga Dicky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicky segera mencabut kontolnya dari memek Evi lalu bangkit. Evi juga demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa sayang?" tanya Dicky sambil mengecup bibir Mia.&lt;br /&gt;"Saya pengen..." kata Mia sambil memegang kontol Dicky yang lemas dan masih basah.&lt;br /&gt;"Aku masih lemas, sayang..." kata Dicky.&lt;br /&gt;"Sebentar lagi saya minta jatah ya, sayang..." kata Mia sambil mencium bibir Dicky.&lt;br /&gt;"Gimana, Mbak?" tanya Mia kepada Evi sambil tersenyum. Evi tersenyum sambil berpakaian.&lt;br /&gt;"Aku bisa ketagihan, loh..." kata Evi.&lt;br /&gt;"Kapan saja Mbak perlu, datang saja kesini..." kata Mia tersenyum pula.&lt;br /&gt;"Aku pulang dulu ya," kata Evi sambil memeluk Mia erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mia menggangguk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pengakuan Mia, sudah beberapa puluh kali Evi bersetubuh dengan suaminya di depan mata. Mia bukan biseks. Mia hanya merasa mendapat suatu gairah dan rangsangan yang sangat kuat ketika melihat suaminya menyetubuhi wanita lain yang disukai Mia sendiri. Dan menurut Mia juga, sampai detik ini mereka tidak pernah main bertiga. Hal ini yang membuat suasana hidup Mia menjadi berwarna cerah.. Demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E N D&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6182626498548124474-2983014911703575150?l=17tahunporno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://17tahunporno.blogspot.com/feeds/2983014911703575150/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6182626498548124474&amp;postID=2983014911703575150' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6182626498548124474/posts/default/2983014911703575150'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6182626498548124474/posts/default/2983014911703575150'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://17tahunporno.blogspot.com/2008/04/berbagi-rasa.html' title='Berbagi Rasa'/><author><name>ishadow76</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6182626498548124474.post-4739605367264806878</id><published>2007-11-30T03:49:00.001-08:00</published><updated>2007-12-20T15:46:25.572-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='softcore'/><title type='text'>Antara Pekan Baru - Jakarta</title><content type='html'>Hujan turun demikian derasnya, Jakarta kembali kebanjiran akibatnya macet dimana mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam baru menunjukkan pukul 15 lewat 20 menit, antrian di depan pintu toll Rawamangun sudah hampir mencapai lampu merah Hutan kayu. Tidak ada lagi yang dapat aku lakukan untuk keluar dari lingkaran kemacetan ini, karena posisi mobilku sudah ditengah, kiri kanan.. Kena, begitu juga depan dan belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persis diantrian sebelah kiri kulihat seorang gadis dengan rambut dikepang 2 memandangi kemacetan dengan senyum dikulum. Mungkin bagi dia tidak ada yang perlu dipermasalahkan, tinggal duduk enak dikursi bus yang empuk sambil menikmati musik dan menonton tayangan video. Lain halnya dengan aku yang harus terus menerus menginjak kopleng dan rem serta stress takut bersenggolan dengan kendaraan lain, betul betul capek lahir bathin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta-Pekanbaru PP, demikian yang tertulis dikaca depan bus tersebut. Ini adalah salah satu bus terbaik yang masih setia melayani trayeknya walaupun terus menerus digempur dengan tarif super murah oleh perusahaan penerbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sedikit mengangkat kepala aku dapat melihat keseluruhan dari bus tersebut, warnanya kombinasi kuning, hijau dan dipermanis dengan garis garis warna ungu dibahagian belakangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isinya hanya 6 orang, berarti 3 awak bus plus 3 penumpangnya. Sungguh saat ini adalah masa masa sulit buat pengusaha bus jarak jauh, apalagi dengan trayek dari Jakarta ke kota kota di pulau Sumatera. Harga tiket pesawat adakalanya lebih rendah dari pada harga karcis bus executive. Tidak cukup dengan derita itu saja, jalan jalan disepanjang lintas Sumatra kondisinya betul betul menggenaskan. Kita tidak bisa lagi memilih" Jalan mana yang akan ditempuh, tetapi mesti memilih lobang mana yang akan dimasuki" yang tersisa bukan lagi jalan tetapi lobang yang sambung menyambung dengan panjang ribuan kilometer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorry nglantur..!, bus dan gadis tersebut tiba tiba mengusik kenangan lamaku dengan seorang gadis dari Pekanbaru. Apalagi dari station FM yang kustel sebagai penghilang jemu, berkumandang lagu lama" When a man love a woman" oleh Michael Bolton. Lengkaplah sudah pemicu layar kenangan tersebut, semua tiba tiba tergambar dengan jelas di depan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadiannya terjadi beberapa tahun yang lalu, waktu itu musim kemarau sedang berada dipuncaknya. Disepanjang pulau Kalimantan dan pulau Sumatera terjadi kebakaran hutan yang maha hebat. Asap menyelimuti hampir sepertiga dari wilayah Indonesia malah sampai menyeberangi selat Melaka, dengan menutup rata Singapura serta membuat hilangnya cahaya matahari di beberapa negara bahagian di Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelabuhan udara Sultan Syarief Kasim, Pekanbaru sudah 1 mingu ditutup karena jarak pandang yang hanya beberapa meter saja. Jangankan buat pilot pesawat yang butuh jarak pandang yang jauh, para pengemudi kendaraan bermotorpun sudah sangat kesulitan untuk melaju dengan aman di jalan raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku baru saja menyelesaikan tugas di salah satu perusahaan minyak di Duri dan harus segera kembali ke Jakarta, tidak ada kamus menunggu dalam pelaksaan tugas dari kantorku. Apa boleh buat aku mesti kembali dengan menumpang bus antar Kota dan antar Propinsi. Aku sudah membayangkan ketidaknyamanan yang akan dialami selama lebih kurang 36 jam diatas bus dengan menelusuri jalan lintas sumatera sepanjang 1350 km dan melintasi 4 propinsi di lintas tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi rupanya bayangan tidaklah selalu sejalan dengan kenyataan. Jam 2 siang aku tiba di loket sebuah perusahaan bus jarak jauh yang direkomendasikan oleh salah seorang teman sebagai salah satu perusahaan bus yang memiliki armada dan pelayanan terbaik di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu memasuki loket aku mulai ragu" masih ada tempat nggak" aku bergumam dalam hati, soalnya penumpang sudah begitu ramainya, maklum disamping karena bandara ditutup, hari itu juga bertepatan dengan hari pertama libur sekolah secara nasional.. Semua bangku diruang tunggu penuh terisi. Disetiap sudut terlihat koper dan kardus yang berisikan barang bawaan calon penumpang semrawut, bergeletakan dan membuat kaki sulit dilangkahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Abang mau kemana bang," suara lembut petugas loket menyambut kedatanganku. Dia duduk dibelakang meja panjang yang berbentuk siku siku, sehingga sekaligus menjadi pemisah antara petugas dengan para penumpang.&lt;br /&gt;"Ke Jakarta dik, masih ada tempat nggak," aku menjawab sambil melirik belahan bajunnya yang sedikit terbuka. Persis di payudara kirinya tertulis namanya 'Sulistyowati'. Dik Sulis ini berwajah asli solo dengan kulit kuning langsat dan sangat serasi dengan seragam yang dia pakai yaitu kombinasi hijau, kuning dan ungu.&lt;br /&gt;"Wah.. Abang sungguh beruntung"&lt;br /&gt;"Maksudnya.."&lt;br /&gt;"Tuh.. Ibu itu baru saja membatalkan keberangkatannya, kalau tidak, Abang kena menunggu tiga hari untuk dapat tiket," dia berkata sambil menujuk pada seorang Ibu yang baru saja lewat disampingku.&lt;br /&gt;"Oh.. Terimakasih Dik Sulis," aku berkata sambil lebih mebungkukkan badan untuk dapat lebih jelas melihat belahan bajunya. Wouw dia punya payudara cukup subur, mungkin 36B kali.&lt;br /&gt;"Nih tiketnya bang," dia menyerahkan tiket sambil menyebutkan ongkos yang mesti kubayar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup mahal memang, tetapi dibandingkan dengan tarif pesawat harganya tidaklah sampai tiga puluh persennya. Aku segera membayar harga tiket dan berlalu untuk mecari tempat duduk. Kulepaskan pandangan kesekeliling ruangan, tetapi semua bangku penuh, dan orang orang yang berdiri justru lebih banyak dari yang kebagian tempat duduk. Dalam hati aku berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aduh.. Ini baru jam setengah tiga sedangkan jadwal busku jam empat, berdiri 1 jam setengah lumayan juga"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengoyang goyangkan kaki sambil mengamati tiketku. Rupanya bus yang akan kutumpangi betul betul bus yang istimewa. Mereka menamakannya bus" Super Executive". Sebuah sebutan yang pantas menurutku. Di jajaran sebelah kiri hanya ada satu tempat duduk berjejer kebelakang sedangkan disebelah kanan terdiri dari dua buah tempat duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangku bangkunya dilengkapi dengan foot leg dan berbusa empuk persis seperti kursi executive class di pesawat. Di antara sisi tempat duduk dan kaca jendela dijepitkan beberapa bantal kecil berwarna biru muda. Disandaran kepala terdapat selimut hangat dengan warna mirip bendera Italy, merah, putih dan hijau. Persis diatas kepala terdapat dua buah ventilasi ac yang dapat dirubah baik volume maupun arah semprotannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melengkapi itu semua adalah sebuah TV 17 inchi tergantung diplatfon disebelah kiri pengemudi, sehingga memungkinkan semua penumpang melihatnya dengan jelas. Audionya keluaran salah satu pabrik di Jerman, suaranya jernih dan lembut karena dilengkapi dengan subwoover.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibelakang tersedia sebuah toilet yang dilengkapi dengan tissue, air, gayung dan sebuah cermin kecil didindingnya, tetapi ini 'Hanya Untuk Buang Air Kecil' demikian sederet tulisan di depan pintu masuk. Tak lupa mereka juga memanjakan para perokok dengan menyediakan ruang khusus untuk merokok atau smoking area.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Para penumpang jurusan Jakarta, Bogor, Bandung dan Surabaya dipersilahkan menaiki kendaraan, karena bus anda akan segera diberangkatkan"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamunanku terputus dikejutkan oleh suara halus dari pengeras suara dan aku bergegas meninggalkan foto besar yang memamerkan interior bus yang tergantung didinding. Tiba tiba semua penumpang berdiri serentak dan suara suara yang keluar dari mulut mereka sungguh beraneka ragam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oi capeklah baok barang tu.. A" Itu pasti orang Minang, yang populasinya didaerah Riau cukup besar.&lt;br /&gt;"Wes sampeyan naek dulu.." Ini kayaknya dari Surabaya, orangnya kalem berjaket kulit warna hitam, sedangkan temannya memakai kaos warna hijau Persebaya dengan dua gigi emas yang sangat menonjol.&lt;br /&gt;"Tos.. Teteh naik di payun atuh," nggak salah lagi urang Sunda, mungkin mau ke Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yang tadinya mau buru buru naik ke atas bus jadi terkesima melihat kesibukan mereka. Ada yang bersalaman, berangkulan dan ada yang saling menggeserkan pipi mereka, bersalaman gaya Arab..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Silahkan Bang" Si Sulis tersenyum sambil merentangkan tangannya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melangkah naik ke atas bus dengan menginjak keranjang plastik tempat teh botol sebagai alat bantu untuk mencapai tangga utama yang cukup tinggi. Dalam hati aku bertanya,"Tempat dudukku nomor berapa ya" memang dari tadi aku tidak sempat mencek hal itu. Rupanya aku harus duduk di kursi no. 4C, berarti deretan ke empat dari depan berada disisi sebelah kanan atau bangku dua dua dan persis dipinggir jendela. Wah kebetulan ini adalah tempat duduk favouritku kalau naik bus, karena dengan duduk disamping jendela aku bisa melepaskan pandangan kesegala arah sehingga perjalanan tidak terlalu membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku meletakkan tas ku dirak tepat diatas kepala dan memasukkan beberapa koran serta majalah ke dalam kantong pada bagian belakang, bangku depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bapak bapak dan Ibu ibu selamat datang di atas bus super executive kami, dan semoga perjalanan anda selamat sampai ditujuan". Sulis si cewek bertetek besar memberikan kata sambutan persis kayak pramugari dipesawat.&lt;br /&gt;"Bus ini dilengkapi dengan AC, karena itu kami minta anda yang merokok untuk hanya menikmati rokoknya di smoking area yang telah kami sediakan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah.. Si Sulis kembali melanjutkan kata pengantarnya sambil berjalan pelan ke arah tempat dudukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dibelakang juga tersedia toilet tetapi hanya dipergunakan untuk buang air kecil saja, kecuali jika anda semua sepakat untuk bersama sama menikmati bau e e.." Sulis tidak melanjutkan kalimatnya karena hampir semua penumpang tertawa terbahak bahak.&lt;br /&gt;"A.. Indak do, indak talok dek awak manahan baun nyo do"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu ibu dibelakangku memberikan komentarnya dalam bahasa Minang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baiklah para penumpang sekalian, terimakasih atas pilihan anda terhadap armada kami dan selamat jalan"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulis segera meminta tanda tangan pengemudi sebagai pengesahan surat jalan dan meberikan beberapa copynya kepada kondektur untuk disimpan, kemudian dia menghadiahkan sejumput senyum manis ke arahku sambil melambaikan tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh.. Sulis, seandainya aku punya sedikit waktu untuk bisa menginap di Pekanbaru, maka aku yakin kesuburan gunung payudaramu akan dapat kudaki, tetapi.. Yah.. Pekerjaan tidak mengenal waktu untuk menunggu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kondektur bus selesai membagikan snack, kendaraan mulai bergerak menuju Jakarta dan kulihat jam tanganku persis menunjukkan pukul 4 sore. Wah.. Aku salut atas cara kerja yang profesional dari segenap crew dan pengurus bus, yang dapat mengalahkan perusahaan penerbangan dalam soal tepat waktu keberangkatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho ada yang aneh kok bangku disebelahku no. 4B masih kosong!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bang ini bangku kosong ya" aku bertanya ke kondektur bus yang berseragam ungu kombinasi hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidaklah bang, mana ada tempat kosong sekarang ini, kayaknya penumpang pesawat tumplek semua kesini, apalagi kan libur sekolah!" dia berkata sambil membetulkan letak barang barang bawaan penumpang agar tidak terjatuh selama dalam perjalanan.&lt;br /&gt;"Tapi.. Ini kosong kok" aku penasaran sambil menepuk nepuk bangku tersebut dengan tangan kiriku.&lt;br /&gt;"Penumpangnya naik di Teratak Buluh" (nama sebuah kampung diluar kota Pekanbaru)&lt;br /&gt;"Oh.." Aku terdiam sambil mengamati deretan toko toko yang berlalu satu persatu seiring dengan kecepatan bus yang makin meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekanbaru, ibukota propinsi Riau memang berkembang dengan pesatnya, maklum dengan kandungan minyak serta gas alam yang melimpah dan potensi hutan yang kaya dengan kayu untuk industri, maka tak heran bangunan bangunan baru seperti kantor pemerintah, ruko dan malah plaza plaza bermunculan dimana mana. Apalagi saat ini perkebunan kelapa sawit dalam skala besar sudah mulai menghasilkan minyak yang pada dasarnya juga akan ikut menaikkan PAD daerah dan memperkuat daya beli masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi satu hal yang selalu menghantui fikiranku adalah" Apakah warga Pekanbaru asli akan bernasib sama dengan saudaranya orang Betawi yang tidak bisa menjadi tuan di tempat kelahirannya sendiri" Semoga tidak demikian, karena factor budaya dan adat istiadat meraka sangat berbeda, sehingga cara pandang mereka terhadap para pendatang juga sangat berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"When a man love a woman" alunan lembut suara serak Michael Bolton membuat fikir ku merasa rileks, apalagi didukung oleh tempat duduk yang sangat nyaman. Kurebahkan sandaran bangku kebelakang, foot leg kunaikkan selimut segera kututupkan kekaki karena dinginnya ac mulai terasa dan bantal kecil kupeluk buat menghangatkan bagian perut yang terasa kembung diterpa udara dingin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah aku betul betul surprise, nggak nyangka kalau ada bus yang demikian bagusnya, sehingga tempat duduknya bisa dirubah menjadi tempat tidur yang cukup memadai buat ditempati selama 36 jam kedepan. Pelan tetapi pasti, seiring alunan lagu dan buaiyan lenggak lenggok bus dalam menapaki setiap tikungan maka mataku mulai berat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidur.. Ah.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku nggak bisa ceritakan seperti apa aku tidur waktu itu.. He he he, yang pasti tidurku begitu nyenyaknya sehingga sama sekali aku tidak menyadari kalau disampingku sekarang telah duduk seorang gadis cantik yang rupanya naik di Teratak Buluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf Bang kalau tidurnya terganggu"&lt;br /&gt;"Oh.. Nggak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bangun sambil memastikan tidak ada setetes ilerpun yang tak terkontrol sehingga keluar melampaui garis bibir dan dengan ujung telunjuk kubersihkan taik mata yang mungkin nongol disudut sudut mata. Syukur kali ini aku nggak tidur ngiler dan juga nggak ada taik mata, berarti tubuhku masih bisa menjaga martabat tuannya di depan seorang gadis cantik yang belum kukenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaulah tadi aku tidur ngiler dan bangun dengan mata penuh dengan ampas airmata, waduh.. ajegile, tentu sigadis disebelah akan hilang selera buat kuajak berkenalan dan alangkah ruginya kalau sepanjang perjalanan 1350 km cuma bengong dan tidur aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah jam berapa ini" Aku bertanya pada sendiri sambil melihat jam tangan, ternyata aku tertidur selama dua jam limabelas menit.&lt;br /&gt;"Sekarang sudah jam enam sperempat bang" Gadis disebelahku berbaik hati memberi tahu sambil memandang dengan matanya yang teduh.&lt;br /&gt;"Oh iya, saya kurang tidur semalam dan perjalanan dari Duri ke Pekanbaru sangat melelahkan karena ac mobilnya mati"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memberikan sedikit keterangan tanpa peduli dia butuh atau tidak, hitung hitung balas jasalah karena dia sepertinya memberi perhatian sama aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pantas tidur abang lelap sekali"&lt;br /&gt;"Oh iya.. Nama saya Dodo, Dodo Djauhari" aku megulurkan tangan untuk berkenalan&lt;br /&gt;"Saya Rostiana, abang boleh panggil Ina saja"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berjabatan tangan, tiba tiba bus menikung kekiri dalam kecepatan yang cukup tinggi akibatnya tubuh Ina terdorong ke arah ku, untung pembatas jok antara kami masih terpasang sehingga hanya kepalanya yang jatuh dalam dekapanku. Rambutnya hitam mengkilap dan menebarkan aroma khas yang memicu mesiu syahwat untuk menggerakkan jiwa dan vital kelelakianku agar bangkit dari tidurnya. Rambut itu begitu terawat, panjangnya hampir mencapai pingul, tetapi dijalin dua ala gadis tahun enampulahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh.. Alangkah indahnya kalau rambut itu dibiarkan tergerai bebas dipunggung putih telanjang," pikiran ngeresku mulai keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sama sama tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ha ha.. Ina, sebaiknya pembatas ini kita angkat aja ya, agar bukan hanya kepala Ina yang bisa abang peluk!" Aku menggodanya sambil mendorong pelan tangannya agar dia bisa duduk dengan benar.&lt;br /&gt;"Wah enak di abang nggak enak di Ina dong" Dia menanggapi godaanku sambil tersenyum.&lt;br /&gt;"Tapi kalau abang berjanji nggak macam-macam, ok lah kita akan angkat pembatas ini.&lt;br /&gt;"Abang janji lah.. Dek, abang tak akan macam macam," aku sengaja mengucapkan kata kata dek agar mendapat kesan lebih intim.&lt;br /&gt;"Kalau begitu abang akat lah.. Masak Ina pula yang mesti angkat! logat Melayunya masih cukup kental."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangkat balok busa yang memisahkan kursi kami berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah sekarang bangku kita jadi lebih lega kan"&lt;br /&gt;"Betul bang.. Tapi abang sudah janjikan tidak akan macam-macam"&lt;br /&gt;"Abang nih orang baik baik dek, pasti abang nggak bakalan macam macam, karena abang suka yang manis manis".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ina tertawa keras sekali, dia merasa lucu dengan kata kataku yang sebetulnya nggak nyambung, tapi pengertiannya benar. Sebagian orang di pulau Sumatera menyebut rasa asam dengan macam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh.. Jadi abang tuh sukakan manisan ya!"&lt;br /&gt;"Nggak juga.. Abang hanya suka gadis manis seperti dek Ina.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rudal rayuan mulai kulepas, dengan sasaran lubuk hati dan benteng cinta si Ina. Melihat gelagat dan cara penerimaan dan sikapnya yang lepas bebas begitu, aku yakin tinggal dalam hitungan jam kedepan aku akan berhasil mengakuisisi gadis manis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah.. Mulai tuh merayu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berkata sambil melirik, wah.. Mata itu begitu bening dan teduh, aku berkata dalam hati, pasti akan sangat menyenangkan melihat mata itu dikala pemiliknya mulai horny. Sayu, teduh dan mengisyaratkan kepasrahan serta kenikmatan surgawi yang ingin segera dia reguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak.. Yang abang katakan benar adanya, kamu memang manis dan cantik kok"&lt;br /&gt;"Ina tahu.. Lelaki tuh kalau sudah merayu pasti ada maunya"&lt;br /&gt;"So pasti itu.."&lt;br /&gt;"Terus terang aja Abang tuh maukan apa"&lt;br /&gt;"Begini dek Ina, abang tadi dari Duri jam 11 pagi, karena buru buru abang minta sopir taksi untuk lansung tancap gas ke Pekanbaru."&lt;br /&gt;"Sudah.. Jangan berbelit belit gitu lah, terus terang aja"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sengaja tangannya menepuk pahaku, oh.. Tangan itu begitu halus membuat aku ingin ditepuk beribu kali lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi abang tidak sempat makan siang! ha ha ha" Ina tertawa berderai sambil menutupi mukanya dengan kedua belah tangannya.&lt;br /&gt;"Ina tahu sudah maksud abang, abang hendakkan kueh nih kan"&lt;br /&gt;"Semoga Tuhan memberikan hidayahNya kepada orang orang yang mau memberikan makanan, ketika orang lain sedang lapar.. Amin"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berpura pura berdoa sambil membentangkan kedua telapak tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah menyenangkan sekali punya teman perjalanan seperti abang Dodo nih, kocak rupanya" Ina tersenyum sambil memberikan sepotong bolu gulung dengan selai nanas, yang aku rasa begitu nikmatnya, "Apa karena lapar kali ya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya dalam hitungan detik bolu tersebut ludes sudah, tapi rupanya Ina betul betul mempersiapkan makanan yang cukup buat melakukan perjalanan jauh, dan seperti bisa membaca jalan fikiranku dia berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bang kita nih kan mau menempuh perjalanan hapir dua hari, kalau mobil nih rusak di tengah hutan kemana kita nak cari makan! makanya Ina sudah siapkan rupa rupa penganan nih".&lt;br /&gt;"Terimakasih Ina,".. Ya Tuhan kasihilah orang orang yang selalu membawa makanan yang banyak dalam tasnya dan dengan senang hati berbagi dengan orang disebelahnya" aku kembali pura pura berdoa.&lt;br /&gt;"Sudahlah bang, aku sudah tahu abang nih banyak kali akal nya, nih yang terakhir buat cuci mulut." Ina memberikan sebuah jeruk yang cukup besar dan manis sekali, sepertinya ini adalah jeruk lokal tetapi rasanya begitu segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah awal perkanalanku dengan Ina, katanya dia baru saja menamatkan sekolahnya disalah satu SLTA di Pekanbaru dan bermaksuk melanjutkan pendidikan disalah satu perguruan tinggi di Jakarta. Tapi aku sedikit ragu dengan apa yang dia bilang. Memang teteknya telah tumbuh dengan sempurna tetapi sikap kekanak kanakannya masih jelas tersisa, begitu juga dengan wajahnya masih begitu polos dan segar layaknya gadis kelas tiga SMP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu dia hanya mengenakan baju kaos tanpa kerah berwarna putih dan ada strip coklat yang pas melewati kedua bukit indah di dadanya. Aku bertanya tanya dalam hati, "Kenapa dia tidak pakai celana jean tapi cuma pakai rok hitam setinggi lutut, padahal ac di mobil cukup dingin. Tetapi justru hal tersebut sangat menguntungkan aku beberapa jam kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TV sudah dinyalakan dan kondektur memutar sebuah video yang bercerita tentang hantu didalam sebuah mobil. Ina demikian ketakukan menyaksikan hantu tersebut sehingga tanpa sadar kadang kadang dia memeluk tubuhku. Kesempatan itu tidak kusia sia kan, semakin aku menakut nakuti dia dengan hantu itu semakin erat pula pelukannya. Pelan tapi pasti siku kiriku mulai merangsek menekan payudara kanannya. Ina seperti tak peduli dengan tanganku, setiap kali hantu itu keluar di layar TV maka dia akan memelukku, dan saat itu pula siku ku dapat menikmati kenyalnya payudara muda miliknya. Belahan dadanya begitu menonjol, karena dia mempunyai perut yang rata dan pinggang yang kecil, tetapi pantatnya bundar dan padat.. Betul betul seksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam demi jam terus berlalu, mungkin karena capek Ina tertidur pulas. Pada awalnya posisi tidurnya masih bersandar dengan mantap di sandaran bangku, tetapi akibat goyangan bus ketika melewati tikunungan, pelan pelan kepalanya mulai rebah kekanan dan akhinya mendarat dengan lembut di bahuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafasnya pelan tapi teratur, menandakan tidurnya sudah lelap sekali. Kembali siku kiriku kugeser sedikit demi sedikit agar tepat mengenai ujung lancip payudaranya dan aku menutup mata, pura pura tidur. Setiap kali mobil terguncang, tekanan siku ku semakin mantap, sehingga dapat kurasakan kehangatan yang mulai menjalari setiap nadiku dan membuat sesuatu bergerak secara otomatis, makin keras, makin keras dan oh.. Penisku sudah bangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan lembut dan peerllahann.. Sekali kuraih tangan kanannya dan kuletak kan disela sela pahaku. Tangannya yang lembut tepat menimpa kejantananku dan aku terus berdoa agar bus lebih sering masuk lobang lobang kecil yang akan menimbulkan goncangan ketangan Ina, dan penisku bisa merasakan gesekan hangat tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh Ina tiba tiba bergerak dan mulutnya mengeluarkan gigauan yang tidak bisa kutangkap maknanya, tetapi tangannya mencengkram seperti mau memegang sesuatu dan oohh"yang dia pegang justru batang penisku yang sudah demikian tegangnya. Aku yakin Ina tidak sadar akan itu semua, tetapi bagaimanapun justru secara tak sengaja dia telah membangkitkan gairah birahiku yang paling dalam. Pantatku mulai kugerakkan turun naik agar batang penisku dapat merasakan sentuhan tangannya walaupun hanya dari balik celana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh.. Makin lama semakin keras penisku dan aku mulai merasakan denyutan airbah spermaku mengalir dari zakar menuju batang penis dan terus ohh.. Aku mau keluar. Tiba tiba aku dikagetkan oleh lampu interior bus menyala serentak membuat suasana jadi terang benderang.&lt;br /&gt;"Istirahat, istirahat, bagi yang mau mandi, sholat dan makan, kami sediakan waktu yang cukup"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati aku mengumpat, "Sial.. Sudah mau orgasme jadi.. Terputus deh"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya bus sudah sampai disebuah rumah makan di daerah Gunung Medan. Ina rupanya terbangun karena silaunya cahaya lampu, mula mula matanya terbuka setengahnya, dia melihat ke arahku tetapi tidak bicara apa apa, sepertinya bengong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai bangun.. Kita harus makan dulu ntar kelaparan,"aku berkata sambil membelai rambutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia kaget melihat posisi tidurnya yang sudah dalam pelukanku dan tangan kanannya masih tetap menekan penisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah.. Aku kok jadi gini tidurnya"&lt;br /&gt;"Tadi kamu rebah ke bahuku, aku mau bangunin tapi kulihat kamu nyeyak sekali.. Ya kubiarkan aja, kamu marah.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menerangkan apa yang terjadi, tapi tentu saja tidak semuanya, karena soal siku mendarat di payudara harus ditutup rapat dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh.. Maaf ya bang, Ina jadi membebani Abang"dia menjawab sambil bangkit dan terus mengambil sisir.&lt;br /&gt;Dalam hati aku berkata, "Nggak tahu dia, memang itu yang kuharap"&lt;br /&gt;"Ok mari kita turun, Ina Abang tunggu diruang makan ya.., e.. e.. mandinya jangan lama lama!, busnya cuma berhenti 30 menit"&lt;br /&gt;"Iya bang" Ina berlalu menuju kamar mandi perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan kembali dilanjutkan dengan sopir yang sudah berganti dan kulihat jam di dinding depan bus menunjukkan pukul 11 malam. Udara didalam bus semakin terasa menusuk tulang, padahal ac sudah di set oleh kondektur pada setting minimum. Namun yang pasti setelah makan malam aku dan Ina sudah semakin akrab, malah sewaktu keluar dari rumah makan dia sempat bergelayutan dipundakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sama sama kedinginan secara reflex kami mulai saling merapatkan tubuh mencari kehangatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ina nggak bawa jaket," aku bertanya karena melihat dia sedikit mengigil kedinginan&lt;br /&gt;"Lupa bang.. Padahal tadi sudah ditarok diatas meja, tapi tak apalah kan ada selimut hangat nih, Abang tak kedinginan"&lt;br /&gt;"Sebetulnya dingin sih, Cuma jadi hangat karena duduk disamping Ina"&lt;br /&gt;"Nah.. Jangan macam macam ya.. Kan sudah janji"dia seperti mengancam aku, tetapi justru duduknya semakin merapat.&lt;br /&gt;"He he.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya menyeringai dan lansung meraih selimut buat menutupi kakiku. Kulihat Ina juga melakukan hal yang sama, akhirnya selimut tersebut bertaut menjadi satu menutupi bagian bawah tubuh kami. Lampu interior satu demi satu dimatikan, hanya lampu di pintu toilet yang masih menyala. Sungguh suasana yang sangat romantis, ditambah lagi dengan alunan lembut suara penyanyi dari sound sytem mobil 'When a Man Love a Woman'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini jalan yang kami tempuh lebih banyak dalam kondisi lurus serta mulus sehingga memuat sang sopir betul betul memaksimalkan kecepatan busnya. Guncangan dan bantingan sudah jarang terjadi, akibatnya hampir sebagian besar penumpang tertidur dengan pulasnya. Tapi aku nggak bisa tidur, perasaanku begitu gelisah, hangatnya tubuh Ina telah membangkitkan gairahku. Apa yang harus kulakukan, ini didalam bus bukan dihotel! tapi bukanlah laki laki namanya kalau nggak berani mencoba dan berusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ina.."&lt;br /&gt;"Ya bang"&lt;br /&gt;"Ina kedinginan ya"&lt;br /&gt;"Iya bang"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oouup! satu kesempatan terbuka sudah, dengan hati hati kuletakkan tanganku diatas pundak kirinya., lalu kutarik pelan tubuhnya sambil berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mungking dengan begini Ina akan lebih hangat.."&lt;br /&gt;"Ah.. Abang"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia seperti enggan kupeluk tetapi juga tidak berusaha untuk menolak, malu malu kucing kali. Sekarang tubuhnya telah dalam pelukanku, kepalanya bersandar dipundak kiriku, wangi rambutnya kembali membuka pintu syahwat seorang pejantan. Tangan kanannya kuraih dan jemari nya kegenggam dengan erat, Ina diam.. Hanya nafasnya yang terdengar menjadi lebih berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuremas tangan itu dan dia membalasya.. Wow.. Tubuhku seperti dialiri ribuan watt birahi elektrik. Nafasku mulai memburu dan sesuatu diselangkangan mulai mengejang, meregang tegang, akankah dia dapat jatah kepuasan malam ini. Aku semakin berani, tangannya kuletakkan dipahaku dan dia kurengkuh lebih erat. Aku ingin menciumnya tapi aku mesti plengak plengok dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada yang ngintip nggak ya!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang orang disekelilingku ternyata sudah tidur semua, bunyi dengkur mereka bersahut sahutan, ada yang hanya mendesis laksana kobra, ada pula yang mencicit kayak bunyi tikus dan ada pula yang berat menderam seperti bunyi knalpot Honda tiger, atau jangan jangan sudah pada ngiler kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah kayaknya situasi sudah aman terkendali, sekaranglah saat yang tepat untuk memulai perang gerilya menyusuri bukit, lembah dan hutan lindungnya si Ina. Bahu kanannya kurengkuh lagi, sekarang wajah kami saling berhadapan, desahan nafas saling menghempas dan mata kami bertatapan dalam remang cahaya lampu mobil yang berpapasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ina.. Kalau Abang minta sesuatu.. Ina mau nggak!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berfikir, kalau menghadapi gadis yang bersifat terbuka seperti si Ina ini, lebih baik menerapkan strategi terus terang daripada terus tembak. Kalau terus tembak dan dia menolak, celaka lah kita.. Nggak bakal bisa diapa apain lagi. Tapi kalau kita minta dia nggak kasih.. Ya tinggal dirayu aja, toh masih ada waktu 29 jam lagi, masak nggak dapat sih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Abang mau minta apa, kue lagi"&lt;br /&gt;"I yya.. Tapi kuenya lain"&lt;br /&gt;"Kue apa yang Abang maksud..!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengangkat kepala dan sorot matanya demikian seriusnya menanti jawabanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Abang mau kan kue-kue itu tuh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sengaja menurunkan tangan kananku sehingga menyentuh payudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kue yang mana bang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia lebih mendekatkan wajahnya kemukaku karena penasaran, saking dekatnya aku dapat mencium wangi bedak yang dia pakai, uh.. Libidoku laksana api disiram bensin, berkobar dan makin berkobar, oh akankah dia mau memadamkan gelora api asmara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang ini.. Ah"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sengaja mengosokkan tangan kananku kepermukaan kedua payudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tuh kan.. Betul Abang mulai macam macam kan"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berkata sambil mengerutkan jidatnya, tapi posisi tubuhnya sama sekali tidak berubah. Biasa.. Gadis gadis biasanya tidak akan mengatakan 'mau' ketika kita minta, hanya feeling sebagai lelakilah yang dapat menentukan dia mau atau menolak! Malam ini sepertinya salah satu malam keberungtungan dalam hidupku, aku tahu dengan pasti bahwa si Ina sudah jatuh dalam pelukanku. Aku makin mendekatkan wajah ku sehingga bibir kami saling bertemu. Kurasakan tubuhnya bergetar, nafasnya mulai sesak dan dia menarik tubuhnya kebelakang menjauhiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa Ina"!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bertanya untuk menghilangkan kegugupannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak papa bang.. Maaf ini baru pertama bibir Ina disentuh laki laki"&lt;br /&gt;"Oh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati aku berkata 'Hore' dapat perawan lagi nih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Abang juga minta maaf ya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang minta maaf tapi pelukan semakin kupererat, sekarang bibirnya bukan hanya kusentuh tetapi mulai kukecup dengan lembut. Mula mula Ina diam saja, bibirnya bergetar tapi masih tertutup rapat. Kusentuhkan ujung lidahku diantara belahan bibirnya yang merah merekah tiba tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh bang.. Ina"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata katanya tak terucap karena bibirnya mulai terbuka dan tanpa buang waktu segera kulumat dengan penuh perasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bang.. Jangan.."&lt;br /&gt;"Kenapa.. Sayang"&lt;br /&gt;"Malu ntar dilihat orang"&lt;br /&gt;"Kalau nggak ada yang lihat!"&lt;br /&gt;"Ah.. Abang.."&lt;br /&gt;"Ina.. Semua penumpang sudah tidur kok.. Nggak usah kawatir"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali bibir kami berpagutan, lidahku segera kuberi tugas untuk melakukan penetrasi ke mulut Ina dan melakukan liukan demi liukan pemancing serta pembangkit nafsu si Ina. Ina mulai sedikit terangsang, kalau tadi dia cuma diam dan pasrah, sekarang pelan tapi masih malu malu ujung lidahnya terasa melayani lidahku, mereka beradu dan saling melilit, semakin membakar gairah kami. Tanganku mulai turun meraba payudara kanannya, kurasakan hentakan pada tubuh Ina ketika jari jemariku berhasil menyusup diantara branya. Oh.. Teteknya begitu kenyal dan halus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Abang.. Jangan.. Bang"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ina mengeluh tanpa membuka matanya, aku tahu dia tidak sungguh sunguh berkata jangan. Bisa saja yang diamaksud dengan kata jangan adalah 'jangan berhenti bang'. Dalam keremangan aku menemukan pengait bra si Ina, rupanya bra itu punya pengait dibagian depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bret"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali tarik pengait itu lepas dan oh.. dalam keremangan cahaya yang romatis, aku dapat melihat dengan jelas dua bulatan lonjong memanjang, tergantung didada Ina dengan anggunnya. Bajunya segera kusingkap ke atas dan tanpa dapat ditahan lagi bibir ku sudah mendarat diputing susunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah.. Abang, jangan.. Bang.. Jangan.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya kata kata itu yang keluar dari mulut Ina ketika teteknya kuremas dan putingnya kuhisap sambil kujilat. Aku jadi begitu sibuk berpindah dari payudara kiri ke payudara kanan, meremas, membelai, menghisap, memlintir putingnya dan yang terdengar hanya erangan Ina serta bunyi cpet, cput sshh dari mulut ku yang bermain dipermukaan payudara si Ina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuangkat kedua selimut kami agar tetap menutupi semua gerakan yang sedang kami lakukan. Mata sayu Ina sekarang semakin sayu dan redup, bebirnya merekah menunggu sergapan cinta birahiku. Pelan pelan tanganku mulai turun mencari ujung roknya, sambil membelai pahaya rok itu ku sibak sedikit demi sedikit. Ina tidak menyadari kalau tangan ku sudah tiba dipangkal pahanya, karena dia begitu terhanyut oleh nikmatnya hisapan bibirku diputing susunya. Permukaan tanganku sudah dapat merasakan cairan hangat yang menutupi permukaan vaginanya. Lembut vagina itu kusentuh dengan ujung telunjukku dan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah.. Abang jangan sentuh itu.. Bang.. Tolong jangan bang"&lt;br /&gt;"Nggak apa apa kok sayang, Abang hanya menyentuhnya nggak lebih kok"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kurasakan tidak ada penolakan dari Ina, aku semakin berani menggarap vaginanya. Aku meremasnya dengan penuh irama dan dari mulut Ina hanya lenguhan kenikmatan yang dapat kudengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah.. Abang nakal sih"&lt;br /&gt;"Iya Abang memang nakal, tapi Ina sukakan..!"&lt;br /&gt;"Ah.. Jangan dibuka Bang, nanti.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata katanya terputus karena clitorisnya kusentuh, tubuhnya kembali bergetar hebat dan pinggulnya mulai bergerak mengikuti irama jari jariku dipermukaan vaginanya. Pahanya sedikit kurenggangkan agar vagina Ina lebih terbuka. Ina tidak lagi peduli dengan orang orang disekitarnya, erangannya makin lama makin keras terdengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ina.. suaranya ditahan dikit.."&lt;br /&gt;"Abang sih, nakal.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menjawab sambil melumat habis bibirku. Jariku mulai menyibak belahan vaginanya yang hangat dan terasa licin karena basah. Aku tahu dia masih perawan karena itu aku hanya membiarkan jari telunjukku membujur menutupi lobang vaginanya. Sesekali kugerakkan agar dapat menyentuh clitorisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erangan demi erangan lamat lamat terus terdengar dari mulut Ina, tapi sekarang tiba tiba dia diam menahan nafas, tubuhnya mengigil, tangannya erat merangkul pundakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa Ina," aku bertanya.&lt;br /&gt;"Bang.. Ina nggak tahan, sepertinya mau pipis, oh.. Enak bang.. Terus.. Sentuh lagi Bang, terus"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dapat merasakan kalau Ina sudah mendekati orgasmenya yang pertama, jari jemariku semakin lincah bermain di permukaan vaginanya, puting susunya terus kuhisap dan kujilat, sedangkan tangan kiriku tak henti meremas payudara kirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh.. Abang.. Ina.. nggak.. Tahan"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cengkraman tangannya terasa begitu kuat di pundakku, pinggulnya bergoyang hebat, matanya mendelik sehingga hanya putihnya yang kelihatan. Sementara itu tangan ku basah disirami tetes tetes cairan kenikmatan ketika Ina mencapai klimaksnya. Sekarang dia terdiam dengan nafas yang memburu, kepalanya tersandar didadaku. Gejolak birahiku makin menjadi, sambil menciumi rambut kepangnya aku membuka ruesleting celanaku. Tangan Ina kuraih dan kutuntun agar memegang penisku yang sudah tegang menantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oup"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia kaget dan geli ketika merasakan gerakan reflek penisku disaat kesentuh tangan halusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak pa pa.. Ayo"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kutuntun tangannya, kali ini dia berani menggenggam bagian tengah penisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ina di kocok kocok dong"&lt;br /&gt;"I.. I.. iih.. Ina geli bang"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walupun dia bilang geli tetapi pegangannya tidak lepas dari penisku. Dia seperti anak kecil dapat mainan baru, sebentar pegangannya erat sebentar dia lepas, sebentar dia mengocok tapi tiba tiba berhenti. Justru cara dia seperti itulah yang membuat nafsuku merasuk sampai ke ubun ubun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh.. Ina.. Ujungnya dibelai sayang"&lt;br /&gt;"Tapi basah bang"&lt;br /&gt;"Iya.. Basah itu damai ee.. eh.. nikmat sayang"&lt;br /&gt;"Ina pernah lihat orang beginian nggak sebelumnya"&lt;br /&gt;"Pernah Bang hampir tiap hari, soalnya Ibu Ina kawin lagi dan suaminya lebih muda dari Ibu, Ina sering ngintip mereka begituan"&lt;br /&gt;"Mereka ngapain aja In," kerongkongan ku tiba tiba terasa serak karena ditimpa nikmatnya elusan tangan halus si Ina di ujung penisku. Aku sengaja mengajak dia ngobrol untuk memperlambat ejakulasiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tadi hentakan spermaku sudah mulai mengila ingin berlomba menempuh lubang penis dan saling berebut menyembur diujung lobang super nikmatku. Padahal aku ingin lebih lama merasakan nikmatnya sentuhan jari jemari si Ina, dan dengan sedikit memecah konsentrasi kuharap ledakan sperma dapat kuperlambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya.. Kadang mereka langsung main aja, bapak tiriku diatas, kadang kadang mereka saling remas remasan dan pernah pula Ina lihat mereka main jilat jilatan."&lt;br /&gt;"Ah.. jilat jilatan kayak apa In"&lt;br /&gt;"Ibu menghisap punya papa tiriku, dan bapak tiriku menjilat punya Ibu.. Ya begitu"&lt;br /&gt;"Emang bisa.. Punya laki laki dihisap In.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pura pura bego dalam rangka mencapai target berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bisalah bang, nah kayak gini nih"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ina menundukkan kepalanya diantara kedua pahaku, selimut kembali kutarik sehingga kepala Ina tidak lagi kelihatan dari luar, yang tampak hanya gerakan turun naik dibalik selimut. Ina mencoba memasukkan semua batang penisku kemulutnya, dia tersedak karena langit langit dan anak lidahnya tertusuk ujung penisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ina jangan dikulum semuanya, dihisap dan dijilat aja berulang ulang," aku memberikan petunjuk.&lt;br /&gt;"Euh.. euh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menjawab tapi nggak jelas karena penisku memenuhi rongga mulutnya, yang pasti dia mengerti dengan apa yang kumaksud. Kepalanya mulai turun naik, ujung penis ku dihisap berkali kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ohh Ina. Terus sayang.. terus.. Terus.." Dan tiba tiba kakiku kejang, mataku terpejam, tubuhku terasa melayang dan semprotan itupun terjadilah. Spermaku kuat menyemprot kedinding mulut si Ina, dia tidak menyangka kalau aku akan mengeluarkan cairan itu didalam mulutnya. Dia gelagapan dan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uek.. uek.. Uek.." Ina muntah..!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cepat kulap mulutnya dengan ujung singletku, sisa sisa sperma yang berserakan diseputar bibirnya kuhapus dengan ujung selimut dan celanaku segera ku kancingkan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oi.. Mabuak dia"."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu-ibu dibelakang bangkuku berdiri mendengar suara Ina yang muntah muntah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini nih ado kantong assoiy nih ambil, biar nggak berserakan muntahnya.. Apo perlu antimo ndak"&lt;br /&gt;Ibu itu begitu baik menawarkan bantuannya.&lt;br /&gt;"Makasih Bu, yang kami butuhkan tissue Bu, ada nggak.."&lt;br /&gt;"Oh.. Ado, nih ambillah"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang yang kubutuhkan adalah tissue buat pembersih sperma yang tercecer dibaju Ina dan di celanaku. Orang Ina bukan mabuk darat kok tapi mabuk sperma. Yang dia butuh bukan antimo tapi antihamil. He.. he..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bang baunya anyir Bang, nggak mau hilang"&lt;br /&gt;"Ok, sekarang Ina ke toilet aja dan cuci pakai sabun"&lt;br /&gt;"Oh, iya deh bang"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasakan CDku basah berlepotan sperma, yah biarin lah yang penting nikmatnya sudah kuteguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian bus berhenti di pom bensin buat mengisi bahan bakar. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 3 dinihari dan ini kesempatan untuk membersihkan celana dan burungku yang habis muntah muntah. Menurut kondektur kami telah sampai diperbatasan Propinsi Jambi dan Sumatera Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah.. Sebuah perjalanan yang nyaman, nyaman dalam arti yang sebenarnya karena selama lima jam terakhir yang kami tempuh adalah jalan lurus dan mulus, hanya sesekali ada belokan dan itupun tidak begitu terasa karena pengemudinya begitu trampil mengatur kecepatan sewaktu menempuh tikungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyaman, karena ada si Ina disampingku dan kami sama sama menikmati kebersamaan kami. Saling menghangatkan, saling menerima dan saling meberi apa yang dapat kami nikmati. Perjalanan masih sangat jauh, sekian kota lagi yang mesti kami lewati tetapi karena ada si Ina disampingku perjalanan ini terasa indah dan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan masih sangat jauh, sekian kota lagi yang mesti kami lewati tetapi karena ada si Ina disampingku perjalanan ini terasa indah dan cepat. Tak terasa kami sudah menyebrangi selat Sunda, seharusnya ferry kami langsung merapat tetapi ini sudah hampir 2 jam masih saja terapung apung menunggu giliran sandar. Rupanya di dermaga terjadi kerusakan akibatnya hanya satu dermaga yang berfungsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bang jam berapa kira kira kita sampai Jakarta!"&lt;br /&gt;"Bisa bisa jam 12 malam.."&lt;br /&gt;"Aduh kalau nggak ada yang jemput aku, gimana ya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ina baru pertama kali ke Jakarta dan keluarganya ada di Depok, memang mereka telah benjanji mau menjemput di Rawamangun, tapi kalau mereka lupa atau.. Itulah yang membuat Ina tampak gusar, dia berpegangan di ralling ferry sambil memandang jauh ke arah kerlap kerlip lampu Krakatau Steel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Begini, kalau nanti nggak ada yang jemput, Ina ikut Abang aja, besok pagi pagi sekali Ina Abang antar ke Depok.. Ok!"&lt;br /&gt;"Ya.. Gimana ya.." Dia kelihatan ragu.&lt;br /&gt;"Atau Ina mau menunggu mereka sampai pagi di Rawamangun"&lt;br /&gt;"Enggaklah Bang.. Ngeri.. Katanya disitu banyak preman.."&lt;br /&gt;"Makanya yang paling aman ikut Abang aja.. Nanti kita tidur di.."&lt;br /&gt;"Ina.. Nggak mau tidur dipenginapan Bang, nggak mau.."&lt;br /&gt;"Lho siapa yang mau ngajak Ina ke penginapan! Nggak lah, suer Abang janji, lagian penginapan kan biasanya kotor and jorok"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami saling menempelkan tangan kanan sebagai tanda setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rawamangun.. Rawamangun.. Jakarta.. Jakarta.. sampai sampai"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara gaduh dan kilauan cahaya lampu membangun aku dari tidur nyenyak semenjak bus turun dari ferry di Merak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ina.. Bangun kita sudah nyampe."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat jam ku sudah menunjukkan kukul 01.30 dinihari. Ternyata feeling Ina memang betul. Setelah hampir 15 menit mencari kesana kemari disekitar terminal, kami tidak menemukan saudara Ina yang katanya mau menjemput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bang, gimana dong Bang, kok nggak ada yang jemput Ina."&lt;br /&gt;"Ya sudah.. Ina ikut Abang aja ya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah aku harus berfikir keras kemana si Ina harus kubawa malam ini, kerumah! Jelas nggak mungkin, kecuali mau perang bubat dengan mantan pacar. Nah! Aku ada ide.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bang ke Central Bang" Sopir taksi ternyata mengerti dengan apa yang kumaksud.&lt;br /&gt;"Yang di jalan Pramuka Pak"&lt;br /&gt;"Betul Bang"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sengaja hanya menyebutkan nama sebuah hotel tanpa mendahuluinya dengan sebutan hotel supaya Ina tidak curiga. Di taksi Ina kembali tertidur pulas dan baru bangun setelah aku bangunkan untuk segera check in.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ina.. Ina, ayo bangun bangun.."&lt;br /&gt;"Ouhh.. Kita dimana bang.."&lt;br /&gt;"Ayo turun dulu"&lt;br /&gt;"Wah.. Bang, Ina nggak mau kepenginapan.. Kok Abang malah"&lt;br /&gt;"Ina.. Ini bukan penginapan tapi hotel, ayo.. malu tuh diliatin orang"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan langkah gontai karena masih mengantuk Ina kutuntun menuju lantai 7 hotel tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bang Ina mau mandi dulu ya". Kayaknya badan Ina sudah gatal semua"&lt;br /&gt;"Iya deh.. Abang pesan makanan ya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum masuk ke kamar mandi Ina mengeluarkan semua isi katong roknya, isinya beberapa uang logam, permen yang tadi kami beli sewaktu di ferry tissue dan sebuah kartu pelajar. Segera kulihat dengan seksama kartu tersebut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama: Rostiana&lt;br /&gt;Kelas: II B SMP Negeri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh my God".&lt;br /&gt;"Kali ini feelingku kembali terbukti, Ina bukan tamat SMU seperti yang dia bilang, nyatanya baru tamat SMP, tetapi kenapa dia mesti berbohong untuk itu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dilihat dari penampilan, tak seorangpun akan menampik kalau dia sudah tamat SMU. Tinggi sekitar 162, berat sekitar 51 kg dan bra 36.., rambut panjang dikepang, yah.. Harus diakui Ina gadis yang cepat matang secara phisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ina.. Ayo kita istrirahat yok, pantat Abang rasanya pegal banget nih"&lt;br /&gt;"Ayo bang"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami segera menuju satu satunya tempat tidur di kamar itu karena memang aku sengaja memesan kamar dengan single bed. Aku tahu Ina tadi tidak pakai kosmetik apa apa maklum sudah mau tidur, tetapi wangi asli tubuhnya jauh lebih merangsang dari pada parfum keluaran Paris sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Na.. Keramas ya!" aku bertanya sambli memeluk dan menciumi rambutnya.&lt;br /&gt;"Iya.. Bang, kan katanya kalau habis gituan harus keramas"&lt;br /&gt;"Lha, Ina kapan gituannya"&lt;br /&gt;"Dasar Abang, sudah pikun kali ya"&lt;br /&gt;"Tuh yang kemaren malam di bus kita ngapain.. Ayo.."&lt;br /&gt;"Ee.. Eh iya. Maksud Abang kita kan hanya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sengaja tidak meneruskan kalimat, aku menunggu reaksi Ina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi.. Ina kan keluar Bang. Dan Abang juga lho"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku nggak peduli lagi dengan kata katanya, karena wangi rambutnya telah membuat otak kanan dan kiriku, sekarang kompak memikirkan satu tujuan yaitu memberikan yang terindah buat kepala bawah alias penisku. Tubuh kami saling berhadapan ditempat tidur, sewaktu membalikkan badan, dada Ina sempat tersentuh oleh tangan ku dan aku dapat merasakan kalau Ina kali ini tidak lagi pakai bra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darahku berdesir tiba tiba, degup jantung ku menaik, kepala atas dan bawah mulai berdenyut. Kurengkuh pinggulmya dengan tangan kanan sehingga tubuh kami jadi berdempetan. Teteknya yang lembut dan padat terasa menekan dadaku dan paha kami saling menempel. Ina hanya pakai daster yang sangat longgar sedangkan aku sedari tadi sudah telanjang dada, hanya sehelai celana pendek tanpa CD yang saat ini kupakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibir kami saling bertemu, Ouuhh.. aku nggak sabar lagi, bibir merah itu lansung kulumat. Bibir kami saling berpagutan dan sekarang lidahku mulai keluar menjilat rata permukaan bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh.. Abang.. Jangan bang.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ina merintih, tetapi aku tahu pasti dia tidak bermaksud melarangku. Tangan kananku mulai turun menyingkap dasternya, oh.. paha dan pantatnya demikian mulus. Kuremas pantat itu dengan lembut serta kutarik CDnya dengan pelan. Bibirku tak puas hanya diatas, sekarang dia mulai turun meniti leher Ina yang jenjang terus ku geserkan kesela sela kupingnya. Dalam keremangan dapat kulihat bulu bulu halus di kuduknya pelan pelan berdiri karena rasa geli bercampur nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukecup leher Ina.. "Bang.. Hati hati.. Jangan dicupang, ntar kelihatan"&lt;br /&gt;"I.. ya, jangan kua.. tiir"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terus mengembara dengan bibirku, kecupan demi kecupan telah membuat Ina memejamkan matanya karena nikmat. Kugeser kepala ku sedikit kebawah dan oh.. Payudara itu demikian ranumnya. Semalam memang aku sudah meremas dan dan menghisapnya, tetapi baru kali ini aku dapat melihat bentuknya dengan jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Payudara Ina putih sekali, saking putihnya aku dapat melihat urat urat kecil bewarna merah dan biru seperti menempel dipermukaan kulitnya. Putingnya kecil, runcing dan memanjang (pantas semalam enak banget ketika dikenyot) sekitar puting berwarna coklat muda dan di payudara kiri masih tersisa sedikit warna merah bekas kecupanku tadi malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera kubenamkan kepalaku diantara dua bukit indah tersebut, Ohh.. sungguh nikmat menancapkap bibir serta lidah di daging kenyal itu. Pelan kubelai pangakal payudara itu, terus, terus memutar pelan menuju putingnya. Tubuh Ina menggelinjang dan sekarang dia telentang, telanjang, mengangkang dan mengerang sambil menantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bang.. Ina.. Nggak tahan, sekarang terserah Abang aja."&lt;br /&gt;"Iya sayang"&lt;br /&gt;"Tetapi kenapa Ina bohong sama Abang"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku coba mencari tahu sambil terus turun menjilati perut dan pusarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Auh.. Abang.. ge.. geli.. Tapi.. Terus bang"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantat Ina mulai bergerak liar, membuat penisku tambah tegang dan mulai mengeluarkan lendir puith di ujungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ina benci selalu dibilang masih kecil.. Sama bapak tiri Ina"&lt;br /&gt;"Terus"&lt;br /&gt;"Katanya sama Ibu, Anakmu itu kan masih kecil, ayo nggak apa apa kita main aja aku sudah nggak sabar kalau mesti nunggu dia tidur"&lt;br /&gt;"Apa maksudnya dengan main ajaa.." kata kataku sedikit terputus karena aku berusaha melepaskan celana pendekku.&lt;br /&gt;"Maksudnya, mereka langsung begituan, padahal kamarku cuma dibatasin triplek tanpa loteng"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ina sekarang semakin erat memelukku, dibagian bawah aku dapat merasakan penisku tepat berada diatas bulu bulu halus vagina Ina yang tumbuh belum sempurna, geli dan.. sangat merangsang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi Ina ngintip mereka"&lt;br /&gt;"Mula mula nggak sih bang, tapi.. lama lama Ina dengar Ibu mengerang-mengerang dan berkata ou.. ou.. ou.. jangan dulu, jangan dulu. Oh.. aku nggak tahan.. ouh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang batang penisku persis dibelahan vagina Ina. Vaginanya terasa hangat dan mulai berlendir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ina penasaran. Eh rupanya Ibu telanjang dan diatasnya kulihat bapak tiriku lagi asyik menghisap puting payudara Ibu dan Ina mendegar bunyi aneh.. Klepok, klepok tiap kali pantat dan pinggul mereka beradu"&lt;br /&gt;"Oh.. Ina yang mereka lakukan sama seperti apa yang sekarang kita rasakan"&lt;br /&gt;"Iya Bang.. Ina bukan anak kecil lagi kan. Buktinya sekarang Ina sudah bisa kayak Ibu telanjang dan Abang diatas Ina."&lt;br /&gt;"Iya sayang"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibirku sampai diperbukitan paling indah yang pernah aku lihat. Bulu vagina Ina masih sangat jarang, warnanyapun masih kemerah merahan. Semalam aku mengira dia mencukur bulu bulu itu, tetapi rupa rupanya bulu itu memang belum tumbuh dengan sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukecup bulu itu, turun menuju belahan vaginanya, ah.. warna merah muda menyembul ketika bibir vagina Ina kusibak dengan jariku. Bibir kiri dan kanan vaginanya sedikit bergelambir atau seperti ada sayatan kulit tipis persis dipinggir mulut vagina, segera kuhisap pelan clitorisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bang.. Terus.. Bang.. oouueenak Bang"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinggul Ina mulai bergoyang dan pahanya terasa menjepit kepalaku sedangkan kedua tangannya mendorong agar kepalaku lebih dalam terbenam ke dalam vaginanya. Segera kujilat klitorisnya dan pelan pelan lobang vaginanya juga kujilat dengan ujung lidahku, cairan putih bening mulai mengalir dari dalam vagina yang masih tertutup rapat karena masih perawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ina, coba pahanya direnggangkan dikit"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merubah posisiku sedikit lebih tegak dengan bertumpu pada kasur agar penisku bisa lebih leluasa bergerak dipermukaan vagina Ina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Abang, mau diapain Bang"&lt;br /&gt;"Oh tolong payudara Abang dibelai belai, ayo sayang"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh.. Kenikmatan luar biasa segera menjalari setiap ruang pori poriku ketika payudaraku diplintir lembut oleh Ina, tidak itu saja, tiba tiba dia bangkit, sambil bergelantungan dipundakku Ina menghisap kedua tetekku bergantian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh.. Ina.. Pelan pelan sayang. Abang jadi nggak tahan"."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua paha Ina sekarang terpentang lebar, vaginanya terbuka dan siap menerima tusukan tusukan penis yang menegang. Kugeser pinggulku ke atas dan kebawah lembut berirama, penisku bergerak seperti mencongkel clitoris Ina, Ina makin teransang. Sekarang tercapai sudah keinginanku melihat kedua mata sayu itu dalam keadaan horny, memang indah dan sangat merangsang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lendir semakin membasahi kedua kelamin kami, gerakan penisku semakin lancar dan lincah diatas permukaan licin vagina Ina. Tiba tiba dia memeluk erat pinggulku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bang Ina ingin sekali jadi wanita yang sempurna"&lt;br /&gt;"Maksud Ina"&lt;br /&gt;"Ina mau, Abang masukkan penis Abang. Tapi Ina juga masih takut kehilangan perawan Ina, gimana nih bang, Ina nggak tahan"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ina meminta dengan pasrah, kulihat bibirnya setengah terbuka menunggu lumatan dan matanya sayu terpejam lemah. Aku dapat merasakan getaran tubuhnya yang dahsyat karena itu gerakan pinggulku semakin kupercepat. Setelah 6 sampai 8 kali ujung penisku melindas clitorisnya Ina menjerit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"A.. a.. a.. Abang, Ina lepaass lagi"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelukannya demikian erat dan pada saat itu pula penisku berdenyut keras sekali, air itu bergerak liar dari selangkanganku, kepangkal paha terus menuju batang penis yang berdiri tegak dan oh.. dia menyembur keluar.. lepas.. lepas..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupegang kepala penisku yang masih berdenyut dan menyemprot terpatah patah, kujepitkan diantara kedua payudara Ina, Ina senang sekali. Kedua teteknya dia jepit dengan tangannya sehingga menimbun hilang semua batang penis dipangkal payudara tambun itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bang, kenapa tadi Abang nggak masukkan aja"&lt;br /&gt;"Ina, masa depanmu masih panjang sayang.. Kamu masih muda. Dunia memang berlaku tidak adil terhadap kaummu. Kami para lelaki dengan gampang bisa membuang keperjakaan dimana saja, di tempat lacur, di kamar mandi dikandang binatang, ya dimana saja kami suka. Tidak ada yang ribut."&lt;br /&gt;"Maksud Abang?" Ina melap keringat yang menepel didahiku..&lt;br /&gt;"Kebanyakan lelaki masih saja menuntut kamu perawan sampai ke malam pertama, Abang tahu ini sangat berat buat kalian para perempuan. Lihatlah godaan itu begitu banyak hampir disetiap sisi kehidupan."&lt;br /&gt;"Jadi gimana dong bang. Aku kan kepingin nyoba juga"&lt;br /&gt;"Ya.. Itu bukan berarti kamu nggak bisa mencobanya, kamu bisa melakukan dan merasakan kenikmatan sex itu tanpa harus kehilangan keperawananmu"&lt;br /&gt;"Oh iya. Ina ngerti sekarang, thank you bang. Abang telah ngajarin Ina mencicipi kenikmatan itu dan Ina toh masih tetap perawan kan"&lt;br /&gt;"Iya, tapi kamu mesti hati hati, kamu hanya boleh melakukannya dengan orang yang sudah bisa mengontrol emosinya, jangan lakukan dengan pacarmu yang sebaya"&lt;br /&gt;"Emang kenapa bang.."&lt;br /&gt;"Kalau saja tadi Abang nggak bisa menahan diri, ya.. Sekarang kamu sudah nggak gadis lagi, perawanmu tinggal kenangan.. He he.. he.." Aku mencium bibirnya yang setengah terbuka karena mau komplain.&lt;br /&gt;"Jadi kalau gitu, Ina mesti lakukan dengan siapa dong kalau lagi kepengen"&lt;br /&gt;"Ya sama Abanglah, jangan sama yang lain he.. he.. he"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cubitan bertubi tubi mendarat dipingangku membuat aku harus lari dari tempat tidur ke kamar mandi dalam keadaan telanjang lancip eeh bulat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ina"&lt;br /&gt;"Ya.. Bang"&lt;br /&gt;"Coba dengar lagu itu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu kami berada didalam taksi menuju ke rumah saudaranya Ina di Depok, kebetulan dari radio terdengar sebuah lagu lama Crisye yang diaransement baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anak sekolah datang kembali dua atau tiga tahun lagi"&lt;br /&gt;"Bang. Bang. Tukar aja stationnya bang"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ina cemberut karena nggak mau dibilangin masih kecil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya dik.."&lt;br /&gt;"Eh Bang aku sudah besar tauk, jangan dipanggil dik, semalam aja aku sudah bisa"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulutnya langsung kubekap dengan tangan kananku, takut dia malah buka rahasia kami semalam. Sopir taksi cuma mesem mesem sambil memindahkan gelombang radio ke station lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ok para listener dimana saja anda berada, kami tahu sore ini macet terjadi dimana mana, kami minta anda bersabar dan untuk menemani perjalanan anda berikut sebuah nomor lama, 'When a Man Love a Wooman'"&lt;br /&gt;"Tet.. tet.. Titt.. eh.. maju.. Oi.. Jangan tidur.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Macet dipintu tol Rawamangun mulai mencair, kulihat gadis berkepang dua melambaikan tangannya dari atas bus dan masih saja senyum dikulum. Buat dia tidak ada yang perlu dipermasaalahkan tinggal duduk di bangku empuk bus super executive sambil menonton tayangan video. Lagu Michahel Bolton dan teriakan, serta suara gaduh klakson mobil telah merenggut khayalan indahku dengan si Ina. Semenjak itu aku hanya dapat berita bahwa dia pindah ke Surabaya ikut dengan Ibunya yang sudah bercerai dari bapak tirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat adik adikku yang masih SMP atau SMU kalian boleh saja menikmati semua vasilitas atau fitur fitur sex yang ada pada tubuh kalian, tapi ingat masih banyak lelaki yang akan menuntut keperawanan disaat MP dengan kalian kelak. Namun itu tidak berarti kalian tidak bisa, toh seperti aku dan Ina". Kami sama sama puas dan bisa menikmati kebersamaan kami, tetapi itu bisa terjadi karena aku sudah berpengalaman dan bisa mengontrol diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah kalau kalian punya pengalaman seru seperti itu atau yang mirip mirip tapi nggak bisa bikin ceritanya, email aja aku, nanti kubuatkan cerita yang bagus buat kalian. Atau kalau ada yang sekalian mau belajar menikmati sex seperti si Ina. Dengan senag hati akan dilayani. he.. he..he.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta May 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E N D&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6182626498548124474-4739605367264806878?l=17tahunporno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://17tahunporno.blogspot.com/feeds/4739605367264806878/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6182626498548124474&amp;postID=4739605367264806878' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6182626498548124474/posts/default/4739605367264806878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6182626498548124474/posts/default/4739605367264806878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://17tahunporno.blogspot.com/2007/11/antara-pekan-baru-jakarta.html' title='Antara Pekan Baru - Jakarta'/><author><name>ishadow76</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6182626498548124474.post-2326953902259427346</id><published>2007-11-30T03:45:00.000-08:00</published><updated>2007-12-20T15:43:04.352-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='softcore'/><title type='text'>Arti Sebuah Pertunangan</title><content type='html'>Sebulan sudah pertunangan Triana dengan Alfi berlalu, pertunangan yang sederhana dan hanya dihadiri oleh keluarga dan teman dekat termasuk aku dan pacarku Milla. Tergambar rasa bahagia pada raut wajah mereka berdua, senyuman selalu tersungging di bibir Anna, begitu kami biasa memanggil Triana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selamat ya, Fi.."&lt;br /&gt;"Makasih Rey, lu cepet dong nyusul, kapan lagi gue rasa Milla juga udah ngebet tuh pengen kawin"&lt;br /&gt;"Ah, elu bisa aja Fi, nyantai aja tau-tau gue udah ngeduluin elu, gimana?"&lt;br /&gt;"Wah bagus tuh, kalo gitu oke deh gue tunggu..?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keceriaan terpancar di wajah Alfi, betapa tidak kini ia tinggal selangkah lagi untuk membawa Anna kepelaminan. Ya, Anna seorang gadis cantik yang selalu dikejar-kejar cowok seluruh fakultas tempat Anna kuliah, maka dari itu Alfi merasa paling beruntung setelah berhasil membawa Anna ke ikatan pertunangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkenalan Alfi dan Anna sendiri terjadi saat ia diundang oleh Milla pacarku pada perayaan ulang tahunnya setahun yang lalu. Sedangkan aku sendiri sudah mengenal Anna jauh sebelum itu, karena memang Anna dan Milla adalah teman satu kampus pada salah satu universitas di Jakarta. Ku akui Anna memang mempunyai sosok yang begitu sempurna dengan postur 165 cm dan berat yang ideal membuat tubuhnya proporsional, kaki jenjang dan wajah yang cantik. Kalau saja aku belum punya Milla mungkin aku juga akan berusaha mengejar Anna, tapi aku lebih menyayangi Milla dengan keceriaan dan kecantikannya yang tidak kalah bila dibandingkan dengan Anna.Milla memang lebih periang dibandingkan Anna yang agak pendiam, Anna paling hanya tersenyum bila kami berempat bercanda dan berkelakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Milla sendiri telah menjadi pacarku selama kurang lebih dua tahun dengan berbagai pasang surutnya masa pacaran. Pernah kami putus untuk beberapa waktu lamanya tapi akhirnya kami saling menyadari kesalahan kami dan mulai komitmen untuk pacaran lagi. Pernah juga kuajak Milla untuk bertunangan tapi Milla menolak karena ia belum siap, ia ingin menyelesaikan kuliahnya dulu baru berpikir untuk kearah hubungan yang lebih jauh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudahlah Mas Rey, lebih baik kita pacaran kaya gini aja, aku gak mau kita tunangan tapi putus di tengah jalan, toh kita bisa melakukan segalanya kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah bila aku mulai membicarakan pertunangan dengan Milla, memang selama pacaran kami telah melakukan hal yang lebuh jauh dan hanya boleh dilakukan oleh pasangan yang sudah resmi menikah. Tapi ini kami lakukan karena rasa cinta diantara kami dan Milla pun menyerahkan yang paling berharga dalam hidupnya sebagai seorang wanita dengan rela dan di dasari cinta diantara kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk hal yang satu ini bagiku memang bukan yang pertama dengan Milla saja tetapi aku sudah pernah melakukannya dengan beberapa pacarku yang sebelumnya. Tapi dengan Milla aku menemukan sesuatu yang lain yang penuh arti dan penuh cinta dan aku kadang berjanji pada diri sendiri bahwa Milla adalah pelabuhan cintaku yang terakhir. Pertamanya kami hanya sebatas saling berciuman dan saling menjelajahi tubuh masing-masing, tapi pertemuan demi pertemuan kami mulai melangkah lebih jauh lagi hingga suatu ketika kami sudah bergumul di sebuah kamar hotel yang sengaja kami buking untuk bercengkrama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Milla terlentang ditempat tidur, hanya tinggal celana dalamnya saja yang melekat menutupi daerah selangkangannya.Aku sendiri telah menanggalkan seluruh pakaianku sambil memeluk tubuh Milla yang terengah. Perlahan kukecup bibirnya, kubuka dan kujulurkan lidahku mengisi rongga mulutnya yang mulai terbuka, Milla menerimanya dengan dengan pagutan yang hebat pula. Aku mulai menempatkan tubuhku diatas tubuhnya dan terus memainkan ciumanku, kini bibirku merayap turun menuju leher dan terus bergerak untuk mencapai gumpalan daging yang membumbung diatas dada Milla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Akh.. Mas.. Rey.." Milla mendesah lirih saat lidahku yang basah mencapai puncak payudaranya yang merah dan menegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lama lidahku bermain disana, mengulum dan menggigit kecil tonjolan daging sebesar biji kacang di atas payudara Milla, diselingi remasan tanganku seakan aku tak pernah puas dengan benda ukuran 36b ini.Kini bibirku berada diatas perut Milla, kujelajahi lekuk pinggang Milla dengan lidahku, perlahan tanganku merayap menggeser celana dalam Milla dari tempatnya. Cengkrama lembut menahan tanganku untuk terus menarik kain tipis itu, ada keraguan pada diri Milla. Sejenak aku diam, dengan tengadah kutatap wajah Milla dengan penuh arti dan sesaat kemudian Milla mengangkat pantatnya memuluskan aku melepaskan kain pertahanan terakhir Milla dan melemparkannya ke lantai kamar itu. Dengan cepat Milla menutup daerah selangkangannya dengan kedua tangan, perlahan kutarik kedua tangan itu dan tersingkaplah benda yang selama ini menjadi impian setiap lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas.. apa yang kau lakukan.. Ohh.." suara Milla tertahan ketika lidahku mulai menyapu daerah kewanitaannya dengan lembut, aku tahu ia merasakan sensasi yang begitu indah saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desahan kecil keluar dari mumut Milla mengiringi sapuan lidahku yang basah. Aku semakin tegang, lama aku mempermainkan perasaan Milla melalui sapuan dan jilatan lidahku, terkadang gigitan kecil menambah sensasi yang tida taranya bagi Milla dan ini memang yang pertama ia rasakan dari seprang lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;".. Suu.. Sudah.. Mas.. sudah.. hh.. aku gak kuat.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasakan tangan Milla menarik bahuku untuk meninggalkan selangkangannya, akupun beringsut naik sambil terus menyapukan lidahku kepermukaan kulitnya yang lembut. Kini tubuh kami sejajar, kurasakan penisku mengganjal diatas perut Milla, kembali kukecup bibirnya yang terbuka. Sesaat lamanya kami saling berpandangan dengan begitu dekat, saling meminta pengertian satu sama lain.Walaupun mau meledak rasanya, aku tak ingin merenggut sesuatu yang aku inginkan dari Milla dengan paksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Milla sayang.. aku.. sayang kamu.."&lt;br /&gt;"Mas Rey.." Milla mulai merenggangkan kedua kakinya dan aku mengerti bahwa ia siap menerimaku untuk memasuki dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan kuposisikan senjataku tepat didepan vaginanya, gesekan pelan mulai menyentuh kulit vagina yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu. Milla memejamkan matanya dan memeluk erat bahuku seakan takut untuk ditinggalkan. Dengan hati-hati ku tekan pantatku, perlahan senjataku menyeruak masuk menggesek bibir vagina yang sudah basah oleh lendir kenikmatan, sesaat kemudian kurasakan senjataku tertahan sesuatu yang tipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ohh.. Mass.." akhirnya dengan sedikit tekanan kecil amblaslah senjataku kedalam liang sorgawi Milla yang masih sangat rapat dan sempit.&lt;br /&gt;Sesaat kudiamkan benda itu didalam sana, kulihat wajah Milla terpejam memerah merasakan sesuatu terjadi pada dirinya.&lt;br /&gt;"Milla sayang.. aku mencintaimu.."&lt;br /&gt;Kembali kukecup bibir wanita ini dan dengan sangat pelan aku mulai mengangkat pantatku.&lt;br /&gt;"Jangan.. Mas.." Milla mungkin merasakan ada yang hilang dari dirinnya saat kuangkat penisku menjauh dari Vaginanya.&lt;br /&gt;"Sabar sayang.. aku ga kemana.." lalu dengan pelan pula kudorong kembali pantatku menekan selangkangannya.&lt;br /&gt;Dengan ritme yang beraturan kudorong dan kutarik pantatku dari selangkangan Milla. Dengan sedikit rasa sakit akhirnya Milla merasakan kenikmatan dari gesekan demi gesekan antara penisku dengan vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu kami benar-benar merasakan sesuatu yang indah berdua, hentakan demi hentakan diringi dengan desahan yang keluar dari mulut kami mengiringi suara hembusan AC kamar hotel itu. Malam itu kami menumpahkan rasa cinta yang selama ini menggelora dan akhirnya tubuh kami terkulai lemas setelah merasakan orgasme yang tiada taranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terima kasih Milla sayang.."&lt;br /&gt;"Makasih juga Mas Rey.." malam itu kami tidur dengan berpelukan hingga pagi, seakan tidak ingin terpisahkan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu aku dan Milla sering melakukan lagi hal tersebut setiap ada kesempatan dan hubungan kamipun kian bertambah dekat saja. Kadang kami melakukannya di tempat kostnya Milla, tak jarang pula Milla mengunjungiku dirumahku dan kami tumpahkan hasrat cinta kami disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasanya sore itu sehabis pulang dari kantor aku terlebih dulu ke kampusnya Milla unruk mengantarnya pulang ke tempat kosnya.Sesampainya disana kulihat Milla duduk menungguku dengan ditemani Anna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai..!" aku berjalan menghampiri mereka berdua sambil melambaikan tangan.&lt;br /&gt;"Eh.. Mas Rey.. tumben lama Mas?" Milla berdiri sambil melihat kearah kedatanganku&lt;br /&gt;"Sorry.. tadi Mas Rey dipanggil bos dulu sebelum pulang, Eh.. Anna apa kabar? Alfi belum datang?"&lt;br /&gt;"Baik Mas, ah enggak kok, Anna lagi nunggu Mas Rey kok." jawab Anna yang berdiri mengikuti Milla dan berjalan menghampiriku.&lt;br /&gt;"Iya Mas.., Mas Alfi katanya gak bisa jemput Anna, jadi ya Anna ikut kita" tambah Milla menjelaskan&lt;br /&gt;"Ya udah!, ayo deh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan agak heran akhirnya aku segera menuju mobil di parkiran kampus dengan di ikuti oleh Milla dan Anna di belakangku. Biasanya Alfi lebih dulu dariku menjemput Anna pulang kuliah tapi kali ini ternyata Anna ikut denganku, Komplek tempat Anna tinggal memang searah dengan rumahku.Sore itu Anna memang agak pendiam dari biasanya dan terlihat ada sesuatu yang lain yang seakan disembunyikan dari dirinya. Ada raut kegelisahan di raut wajah Anna yang kadang kulihat melalui kaca kecil didepan mobilku, terkadang ia tajam menatapku seakan ingin menyampaikan sesuatu tapi setelah lama menatapku akhirnya ia tertunduk dengan menghela nafas panjang seakan ingin menghilangkan beban berat yang menghimpitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh..pelan-pelan dong Mas, nanti kelewat lagi kayak kemaren" tiba-tiba Milla memecahkan pikiran yang ada di benakku.&lt;br /&gt;"Oh iya, udah mau nyampe ya?", perlahan aku berhenti didepan sebuah rumah tempat kos-kosannya Milla.&lt;br /&gt;"Mampir dulu Mas ya? "&lt;br /&gt;"Ya.. Mas Rey sih terserah Anna, gimana?" sambil aku berbalik menoleh kearah Anna yang seakan baru tersadar dari lamunannya.&lt;br /&gt;"Aduh.. sorry deh Mill, gue mau cepet balik niih"&lt;br /&gt;"Ya udah deh sampe besok ya!, daah Mas Rey" Milla bergerak menjauh dan melambaikan tangannya.&lt;br /&gt;"Ann, pindah depan ya?" tanpa menjawab Anna keluar dari mobil dan masuk lagi untuk pindah ke depan menggantikan tempat duduk Milla sebelumnya, disampingku. Perlahan mobilku bergerak lagi meninggalkan tempat kosnya Milla.&lt;br /&gt;"Asyik dong Ann, sebentar lagi Anna jadi kawin sama Alfi" di perjalanan aku berusaha memecah kediaman Anna.&lt;br /&gt;"Tinggal seminggu lagi kan?" tambahku lagi&lt;br /&gt;"Iya Mas.."&lt;br /&gt;"Lho kok calon pengantin kok lesu gitu, ceria dong!" Anna kembali diam dan hanya tersenyum memperlihatkan bentuk bibirnya yang lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wangi parfum yang di pakai Anna bercampur dengan keringat yang mengering tercium menggugah naluri kelelakianku, Anna begitu cantik hari ini. Balutan kaos berlengan pendek melekat ketat menonjolkan sepasang bukit yang menggumpal di dadanya, benda itu memang tidak sebesar kepunyaan Milla tapi itu pun cukup membuat lelaki ingin menjamahnya. Milla agak merebahkan jok mobil yang didudukinya dengan kaki yang saling menyilang sehingga belahan paha mulusnya dengan leluasa menghiasi ujung mataku yang kerap melirik ke arah situ. Saat itu muncullah pikiran gilaku untuk dapat mencurahkan hasratku pada tubuh sensual disampingku ini, padahal aku tahu ia teman dekat Milla kekasihku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Beruntung sekali Alfi, mendapatkan calon istri seperti kamu" kembali aku menghidupkan suasana.&lt;br /&gt;"Orangnya cantik, keibuan dan pintar lagi" tambahku lagi&lt;br /&gt;"Ah.. Mas Rey bisa aja kalo muji orang"&lt;br /&gt;"Lho bener kok, kamu tahu gak, kadang Mas Rey berfikir kenapa yang bakal duduk dipelaminan mendampingi kamu itu, Alfi? kenapa gak Mas Rey sendiri?" perlahan aku melancarkan serangan dengan kata-kata manisku. Sambil terus diam Milla menegakan tubuhnya dan menatap kearahku, ia tersentak mendengar kata-kata yang baru saja keluar dari mulutku. Akupun agak kaget dengan kata yang baru saja aku ucapkan, tapi untunglah mobilku sudah berada dipintu gerbang rumah besar kediaman Anna.&lt;br /&gt;"Makasih ya Mas Rey, mampir dulu gak?"&lt;br /&gt;"Ga usah deh Ann, Mas Rey juga mau buru-buru balik" Anna keluar dari mobilku&lt;br /&gt;"Eh.. Ann, sorry ya kata-kata Mas Rey tadi agak.."&lt;br /&gt;"Ah gak apa-apa kok Mas.."&lt;br /&gt;"Kalo gitu sampai ketemu ya..!"&lt;br /&gt;"Bye.."&lt;br /&gt;"Huh.." aku menghela nafas panjang, hampir saja aku melakukan suatu kebodohan dengan mencoba merayu Anna, gadis pendiam sahabat kekasihku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu aku baru saja mengantar Milla ke bandara, Milla sengaja pulang ke Surabaya setelah mendapat kabar ayahnya masuk rumah sakit karena serangan jantung. Sebenarnya aku ingin ikut tetapi Milla melarangku dengan alasan besok aku harus masuk kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudahlah Mas Rey, aku rasa papa ga apa-apa kok"&lt;br /&gt;"Kalo gitu salam aja ya sama keluarga disana, semoga papa kamu cepet baik"&lt;br /&gt;"Iya Mas nanti aku sampaikan", setelah kulihat Milla memasuki ruang tunggu keberangkatan akupun bergegas kembali kemobilku untuk kembali kekantor. Ditengah perjalanan tiba-tiba saja terdengar HP ku berbunyi tanda seseorang ingin bicara denganku.&lt;br /&gt;"Ya..! hallo.. Anna ada apa? tumben nelpon?" ternyata Anna yang menelponku&lt;br /&gt;"Anu Mas.. Aku pengen ketemu sama Mas Rey, Mas Rey lagi dimana?"&lt;br /&gt;"Wah, penting banget nih kayaknya ada apa?, kebetulan Mas Rey lagi dijalan"&lt;br /&gt;"Anna lagi di kantin kampus, Mas Rey mau kan jemput Anna, ada sesuatu yang ingin aku omongin Mas"&lt;br /&gt;"Mm.. ya udah kalo gitu Mas langsung kesana deh, tunggu sebentar ya!"&lt;br /&gt;"Baik Mas bye..!"&lt;br /&gt;"Bye.." dengan penasaran ku arahkan mobilku menuju kampusnya Anna, rasanya agak aneh Anna ingin membicarakan sesuatu karena selama ini tempat curhat Anna hanyalah Milla dan Alfi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan mobilku memasuki pelataran parkir universitas, baru saja aku hendak memarkirkan mobilku kulihat Anna setengah berlari menuju kearahku dan langsung masuk kemobil setelah aku berhenti didekatnya.&lt;br /&gt;"Ayo Mas kita pergi dari sini"&lt;br /&gt;"Kemana Ann? ada apa sebenarnya?" aku semakin penasaran dengan sikap Anna.&lt;br /&gt;"Udah deh yang penting kita pergi dulu dari sini"&lt;br /&gt;"Oke deh kalo gitu" tanpa bicara lagi kuputar mobilku meninggalkan pelataran parkir kampus itu.&lt;br /&gt;Di dalam mobil kulihat Anna kembali dengan sikap diamnya.&lt;br /&gt;"Ada apa Ann, mau kemana kita" tanyaku lagi.&lt;br /&gt;"Terserah Mas Rey deh, yang jelas Anna pengen ngomuong penting sama Mas Rey" Akhirnya kami sepakat menuju sebuah kafe untuk bicara lebih rilex lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku semakin penasaran, karena sesampanya di kafe tersebut dan memesan minuman, Anna tidak langsung bercerita tetapi malah diam seakan ragu mengatakan sesuatu.&lt;br /&gt;"Nah sekarang kita cuma berdua dan udah minum, sekarang coba Anna cerita ada apa sebenarnya" lagi-lagi aku memulai obrolan lebih dulu"&lt;br /&gt;"Eng.. Mhh.. anu Mas.., Milla udah berangkat Mas?" Anna berusaha mengalihkan perhatian, tapi aku tahu bukan maksudnya menanyakan kepergian Milla.&lt;br /&gt;"Udah.. Barusan Ma antar ke bandara.., sekarang coba kamu cerita.. kamu lagi ada masalah ya sama Milla" aku mencoba menebak masalah yang ingin di bicarakan Anna.&lt;br /&gt;"Enggak.. gak ada apa-apa kok Mas sama Milla"&lt;br /&gt;"Atau sama Alfi, kamu beranter ya sama Alfi"&lt;br /&gt;"Hh.. entahlah Mas." Anna menarik nafas panjang saat kusebut nama Alfi&lt;br /&gt;"Anu Mas, sebenarnya Anna mau nanya sesuatu sama Mas Rey" sambung Anna lagi&lt;br /&gt;"Soal apa?" aku semakin penasaran&lt;br /&gt;"Anna pengen tahu, maksud kata-kata Mas Rey yang kemaren itu sebenarnya apa?" betapa terkejutnya aku mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Anna.&lt;br /&gt;"Kata-kata yang mana Ann?" aku pura-pura tidak mengerti dengan yang baru saja Anna tanyakan.&lt;br /&gt;"Kemaren Mas Rey bilang kalau seandainya Mas Rey menggantikan Mas Alfi duduk di pelaminan mendampingi Anna kan?, semalaman Anna gak bisa tidur Mas, Anna mau tahu yang sebenarnya" sejenak aku terdiam dan menatap Anna yang juga menatapku dengan penuh rasa penasaran. Aku ingin tahu apa sebenarnya yang ada dalam pikiran gadis cantik ini bertanya demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama kutatap matanya, ada sesuatu yang tersimpan lain di dalam sana dan membuatku penasaran untuk dapat menyelaminya.&lt;br /&gt;"Kalau Anna pengen tahu yang sebenarnya, kemarin Mas Rey ngomong sama Anna hal yang sebenarnya" dengan sikap serius aku mulai melontarkan kata-kata.&lt;br /&gt;"Maksud Mas Rey.."&lt;br /&gt;"Kalau saja kamu tidak menjadi tunangan Alfi dan Milla gak jadi pacar Mas Rey, mungkin Mas Rey yang mendampingi kamu karena Mas Rey akan terus mengejar kamu sampai kamu menerima cinta Mas Rey" kembali aku mengeluarkan kata-kata gombal yang selama ini hampir kulupakan.&lt;br /&gt;"Jadi..?" Anna semakin penasaran.&lt;br /&gt;"Sebenarnya sudah lam Mas Rey, jatuh cinta sama kamu Ann, tapi sudahlah itu gak mungkin" sambungku lagi.&lt;br /&gt;"Mas.. Mas Rey tahu gak, kadang Anna iri sama Milla, Milla sering cerita tentang Mas Rey, kebaikan Mas Rey, sikap Mas rey dan itu Anna gak bisa dapetin dari Alfi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya pancingan kata-kataku mulai merasuki pikiran gadis ini dan aku sendiri tidak menyangka ia akan berkata seperti itu. Anna terus bercerita tentang perlakuan Alfi selama ini yang memang kaku selama berpacaran dengannya. Alfi memang baik, tapi sebagai pacar Anna membutuhkan kasih sayang dan hal-hal romantis yang selalu didambakan setiap wanita. Milla ternyata sering bercerita ke sahabatnya ini bagaimana kami menghabiskan akhir pekan dan malam-malam penuh cinta dan romantis, sedangkan cara Anna berpacaran hanyalah sebatas berpegangan tangan dan berciuman bibir saja dan Anna ingin lebih dari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas.. kalau boleh aku ingin merasakan semua itu Mas.."&lt;br /&gt;"Gila! kamu kan bisa minta semua itu dari Alfi Ann.." Seakan tak percaya aku mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Anna.&lt;br /&gt;"Sebentar lagi kalian akan menikah dan bersatu selamanya "&lt;br /&gt;"Oleh karena itu Mas aku mau merasakan semua yang di ceritakan Milla sebelum semuanya terikat ikatan perkawinan Mas, aku ga mau mengkhianati suamiku"&lt;br /&gt;"Tapi.." seakan tidak mau aku berpura-pura menolaknya, padahal senang sekali rasanya aku mendengar gadis yang selama ini menjadi idamanku meminta sesuatu yang pasti kuberikan.&lt;br /&gt;"Mas Rey mau kan?" aku mengangguk pelan tanda setuju membantunya.&lt;br /&gt;"Tapi ada syaratnya Mas"&lt;br /&gt;"Apa itu..?"&lt;br /&gt;"Mas Rey jangan sampai merusak kesucianku, karena aku mau memberikan yang satu ini hanya untuk suamiku kelak"&lt;br /&gt;"Jadi.. kita.." Dengan agak kecewa aku ingin tahu apa maksud semuanya.&lt;br /&gt;"Ya.. aku ingin Mas Rey mencumbuiku tapi tanpa penetrasi, Mas Rey mesti janji dulu"&lt;br /&gt;"Tapi Mas boleh ngapain aja kan selain yang satu itu?"&lt;br /&gt;"Mmh.. iya Mas.. janji ya!"&lt;br /&gt;"Ya baiklah Mas Rey janji.." entah apa yang kujanjikan yang jelas kesempatan emas untuk bercinta dengan gadis idamanku selama ini tak mungkin aku lewatkan begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apa yang ada dalam pikiran Anna waktu itu yang jelas mana mungkin aku menolak ajakannya untuk saling mencumbu. Setelah sepakat akhirnya kami meluncur kesebuah hotel di pinggiran kota, sengaja kami mencari tempat yang agak terpencil karwena tidak ingin siapapun tahu hal ini apalagi kalau sampai Alfi atau Milla tahu semua akan jadi berantakan. Akupun tak ingin mengganggu rencana pernikahan Anna dengan alfi yang hanya beberapa hari lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam digital di dashboard mobilku menubjukan pukul 16:24 ketika mobil yang ku bawa memasuki garasi motel yang selanjutnya tertutup rapi setelah mobilku masuk dan berhenti. Dengan cepat aku segera mengurus administrasi ke bagian front office sedang Anna hanya menunggu di dalam mobil dan bergegas aku kembali setelah segalanya beres.&lt;br /&gt;"Ayo Ann, kita masuk!" tanpa berkata-kata Anna keluar dari mobil dan berjalan disampingku memasuki sebuah kamar yang tersedia.&lt;br /&gt;Ketegangan terlihat di wajah Anna ketiak kami mulai memasuki kamar dengan sebuah tempat tidur yang tertata rapi dan nyaman sekali kelihatannya. Kemudian Anna duduk di sofa kamar dan memandang ke arahku yang duduk bersandar di tempat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama kami saling diam seakan takut untuk memulai sesuatu.&lt;br /&gt;"Ann, sebenarnya Mas Rey sangat memimpikan kesempatan seperti ini, hanya berdua dengan kamu" aku mulai mencairkan suasana yang menegang dari tadi.&lt;br /&gt;"Kamu cantik Ann, bahagia sekali rasanya walaupun aku hanya dapat memeluk erat tubuh kamu, tapi yakin Anna mau melakukan ini, dari tadi kok diam aja?"&lt;br /&gt;"Ma.. maaf.. Mas Anna gak tahu mesti ngapain?" perlahan kudekati Anna yang masih duduk di sofa, kugenggam kedua tangannya, kurasakan keringat dingin membasahi telapak tangan Anna, lalu kutarik sehingga kini Anna berdiri dan ku bawa menuju tempat tidur.&lt;br /&gt;"Sekarang kamu rilex ya, sayang!" Anna memejamkan matanya saat aku mendekatkan wajahku ke wajahnya, tak ada penolakan dalam diri Anna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan lembut kukecup kening gadis ini, kurasakan remasan halus menggenggam tanganku yang masih memegang tangan Anna, lalu bibirku mulai berjalan mencium alis, matanya yang terpejam, dan kedua pipinya danterakhir berhenti di kedua belahan bibir mungil gadis cantik ini. Anna membalah kulumanku pada bibirnya dengan pagutan yang hangat pula lalu aku mulai membuka bibirku dan mengeluarkan lidahku mencari lidah yang lain disebrang sana. Tanganku mulai merayap menggerayangi tubuh Anna, perlahan menyusup ke balik kaos ketat yang melekat ditubuhnya, kini kurasakan halusnya kulit perut gadis ini.Ketika tanagnku mulai memasuki daerah dada untuk segera merasakan lembutnya daging kenyal yang menonjol, mendadak kedua tangan Anna menahan kedua tangan ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa.. sayang..?" terpaksa aku menghentikan sejenak aksiku dan kutatap wajah sayu di hadapanku dengan tajam.&lt;br /&gt;Kuberikan Anna kesempatan untuk berpikir sebelum semuanya terjadi, kulihat keraguan di matanya, tapi aku tahu ia sangat menginginkannya.&lt;br /&gt;"Buka ya, sayang!" Anna mengangguk pelan, lalu dengan sangat hati-hati kutarik ujung T-shirt yang melekat di tubuh Anna dan meloloskannya melalui kedua tangannya. Kulempar t-shirt itu kelantai, kini di hadapanku terpampang tubuh padat ada yang setengah telanjang dengan dada berisi dan terlindungi BH warna putih.Sejenak kutatap gumpalan daging yang masih tertutup BH itu, perlahan ku rebahkan tubuh Anna ke atas tempat tidur.Kembali ku cumbu Anna yang terlentang pasrah, kukulum lagi bibir mungil itu lalu perlahan merayap menuju leher dan terus kebawah menuju gumpalan payudara yang berisi itu. Kujulurkan lidahku mengitari bukit itu sambil tanganku merayap menuju punggung tempat dimana kaitan BH itu direkatkan, kutarik pelan BH itu dari tubuh Anna dan ku lemparkan ke lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mass..!"Anna berusaha menutup dadanya dengan kedua tangannya,&lt;br /&gt;"Jangan sayang, Mas Rey ingin melihat keindahan bukit ini.."&lt;br /&gt;Segera saja tanganku menahan kedua tangan Anna dan bawa keatas kepalanya sambil kusapukan lidahku yang basah kearah ketiaknya yang bersih dengan aroma yang menggugah hasrat lelaki.&lt;br /&gt;"Akh.." Anna merintih kecil sambil terpejam, tanganku merayap lagi menuju dada yang kini terbuka, sentuhan melingkar menambah sensasi lain pada diri Anna dan akhirnya mulutku pun mendarat di belahan dada Anna.&lt;br /&gt;"Oohh.. Maass.." mungkin baru kali ini Anna mendapat perlakuan seperti itu, desahan demi desahan mengiringi sapuan lidahku di kedua payudara yang masih keras ini, kurasa jarang sekali payudara indah ini mendapat sentuhan lelaki. Puting yang merah kecoklatan seakan tenggelam dan belumdapat muncul kepermukaan, kuhisap puting itu dengan penuh perasaan cinta agar Anna dapat menikmati setiap sentuhanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil terus mengulum payudara itu dengan cekatan aku menanggalkan pakainku tanpa Anna menyadarinya, kini hanya celana dalam saja yang melekat ditubuhku melindungi senjataku yang sudah menegang dari tadi.Sekarang mulutku berada di atas pusar Anna yang dihiasi sebuah anting kecil membuatnya semakin indah, kujilat dan terus merayap sambil tanganku mulai menarik rok yang di kenakan Anna.Kali ini Anna mengangkat pantatnya memudahkan aku melepaskan penutup bagian bawah tubuhnya itu, kini aku dapat menikmati paha mulus yang dihiasi bulu-bulu halus yang menantang untuk segera disentuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan Mas, jangan dibuka" Anna mencengkram tanganku yang hendak menggusur kain tipis penutup daerah selangkangannya, sambil beringsut Anna menjauh dan bersandar di tempat tidur.&lt;br /&gt;"Kenapa sayang.."&lt;br /&gt;"Jangan Mas Rey!, Mas Rey kan udah janji"&lt;br /&gt;"Iya sayang, Mas Rey ingat janji Mas Rey, tapi membuka CD kan bukan berarti mau dimasukin, iya kan?" aku berusaha tenang agar Anna merasa aman dengan perlakuanku&lt;br /&gt;"Kamu nikmatin aja ya sayang!" kubelai pipi Anna lalu kucium keningnya, Anna menerimaku lagi dengan pagutan yang lebih membara saat mendaratkan ciumanku di atas bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil terus ku jelajahi dengan bibir dan lidahku perlahan aku mulai kembali menarik celana dalam itu, kali ini Anna mengangkat pantatnya dan terlepaslah pertahanan terakhir Anna. Gundukan bukit kecil dengan bulu-bulu halus yang tertata rapi menandakan Anna sangat memperhatikan daerah paling pribadinya ini, bibir vagina yang memerah dengan sebuah daging kecil tersembul di atasnya kini terpampang begitu dekat dihadapanku. Kutangkap tangan Anna yang berusaha menutupi benda indah itu, lalu kusentuh dengan sangat pelan dan penuh kelembutan. Anna mulai menikmati permainan ini, tubuhnya mulai rilex kembali tanda siap menerima aksi dariku yang selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pelan kubuka kedua paha Anna dengan tanganku lalu kutempatkan wajahku mengisi selangkangan itu, vagina itu begitu dekat dengan bibirku.&lt;br /&gt;"Oohh.." Anna mendesis tangannya meremas rambutku yang berada diselangkangannya, ia begitu menikmati sapuan lidahku yang mengisi ruang kosong di antara kedua pahanya. Aroma vagina yang begitu kukenal membuatku semakin bernafsu ingin memberikan yang terbaik bagi gadis polos ini. Bulu-bulu halus disekitar bukit vagina menggelitik hidung dan bibirku, kucari dan kutemukan daging kecil pusat segala kenikmatan bagi Anna. Vagina itu begitu mungil dan indah dengan cairan hangat yang mulai keluar dari dalam rahim Anna dan bercampur dengan air liurku.Anna mendesah dan menggeliat merasakan sesuatu yang baru pertama ia rasakan dari seorang lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hoh.. Hoh.. Mass.. Anna ga tahan.. Udah Mas!" mulut Anna terus meracau, berbeda sekali dengan hari biasa yang memang begitu pendiam. Tiba-tiba saja Anna mencengkram erat rambutku dan membenamkan kepalaku lebih dalam ke selangkangannya, pantatnya mendongak keatas dan tubuhnya menegang. Sesaat kemudian kurasakan cairan hangat kembali keluar dari vaginanya dan kali ini lebih banyak dari sebelumnya.&lt;br /&gt;"Mmas.. Reey.." aku tahu Anna mencapai orgamenya, dan aku terus saja menekan klitoris itu dengan lidahku, kulumat setiap tetesan cairan hangat yang keluar dari liang vagina itu. Cengkeraman Anna melemah dan akhirnya Anna terkulai lemas dengan nafas yang memburu, kulihat dada yang turun naik mengatur nafas dengan terengah. Kudekap erat tubuh Anna dan kembali kukecup kening gadis itu,&lt;br /&gt;"Hh.. makasih Mas Rey.. tadi nikmat sekali.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat lamanya ku dekap tubuh polos itu sambil terus tanganku memainkan puting susu yang mulai menegang kembali. Kini aku yang harus menikmati kehangatan itu, senjataku sangat tegang. Kalau saja aku tidak takut menyakiti perasaan Anna mungkin penisku sudah menyeruak masuk kedalam vagina sempit itu, tapi aku bersabar karena pada saatnya aku pasti mendapatkannya. Kubalikan tubuh Anna, sekarang tubuhnya menindih dan tengkurap diatas tubuhku, ia masih begitu lemas merasakan sisa kenikmatan yang baru saja ia alami. Ia tersentak kaget saat sesuatu yang tegang mengganjal tepat diperutnya&lt;br /&gt;"Mas.. apa ini.. besar sekali.." Anna bergerak hendak menjauhkan tubuhnya dari tubuhku, tapi sebelum ia menyadarinya, tanganku mencengkram erat belahan pantatnya dan melingkarkan kedua kakiku menghimpit paha mulusnya.&lt;br /&gt;"Jangan.. Mas.."&lt;br /&gt;"Tenang sayang.. Mas Rey cuma mau merasakan yang seperti Anna rasakan, maukan Anna nolongin Mas Rey, please!" kembali ku kecup bibirnya.&lt;br /&gt;"Mas Rey boleh kan ngapain aja? asal gak dimasukin kan?, Mas Rey bakal seneng banget kalo Anna mau mimi punya Mas Rey"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anna menatapku, ia mengangguk kecil dan perlahan ia bergerak kebawah menuju perutku. Lama ia memandangi penisku yang semakin menegang saja, kemudian ia memegangnya dengan sangat hati-hati. Dengan agak ragu Anna mulai mencium kepala penisku lalu perlahan ia memasukan benda itu kemulutnya. Kakiku mengejang, darahku seakan mengalir lebih deras lagi saat kurasakan isapan demi isapan begitu nikmatnya. Anna berusaha memasukan penisku kedalam mulutnya tanpa canggung lagi, tapi penis itu begitu panjang sehingga ia hanya bisa mengulum setengahnya saja. Senjataku makin tegang tapi aku tak ingin segera mengakhiri permainan ini, kutahan dengan sekuat tenaga agar orgasmeku tidak datang terlalu dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas.. kok gak keluar juga ya.." Anna menatap tajam mataku sambil melepaskan kulumannya.&lt;br /&gt;"Kalo gitu udah dulu deh Ann, bibir kamu udah pegel kan, kita istirahat dulu deh" akhirnya kutarik tubuh Anna kembali sejajar terlentang dengan tubuhku.&lt;br /&gt;"Sekarang Anna tengkurap deh, biar punya Mas Rey di gesekin ke pantat aja ya?" Anna membalikan tubuhnya dan tengkurap dengan memeluk bantal, sedangkan aku bergerak keatas tubuhnya dan menghimpitkan penisku ke belahan pantat kenyal itu.&lt;br /&gt;Kutelusuri tengkuk indah itu dengan bibirku, ciuman dan gigitan kecil rupanya membangkitkan kembali gairah pada diri Anna, ia mulai mendesah kecil. Kadang kusapukan lidahku kearah ketiak dan dinding payudara sebelah luar. Kuposisikan penisku tepat di belahan pantat Anna lalu kugesek dan kugesek pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya bisa saja aku mencapai orgasme dan memuntahkan cairan yang mendesak hendak keluar dari saluran penisku, tapi aku tak mungkin menyia-nyiakan kesempatan yang mungkin hanya sekali seumur hidupku untuk mendapatkan keperawanan Anna yang masih suci. Naluri kelelakianku mengatakan aku harus menyelesaikan permainan ini dengan merasakan kelembutan himpitan kulit vagina gadis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ann.. kayaknya gak mau keluar juga deh.. hh" Aku berbisik sambil terus mencumbu leher Anna.&lt;br /&gt;"Ya.., gg.gimana dong Mas.."&lt;br /&gt;"Ann, kalo kontol Mas Rey di gesekin ke memek kamu mungkin bisa cepet keluar, boleh ga?"&lt;br /&gt;"Tapi di gesek aja.. Mas.. ya..jangan di masukin!"&lt;br /&gt;"Iya.. sayang.." aku tidak tahu apa yang kujanjikan yang jelas Anna memberikan lampu hijau untuk aku bertindak lebih jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anna membuka kakinya sambil terus tengkurap dan aku mulai menurunkan kepala penisku menuju celah yang berada di sebelah dalam pantat kenyal itu. Gesekan lembut kepala penisku merayap menyentuh anus dan terus menggesek liang vagina yang basah itu. Bulu-bulu halus itu menambah sensasi kenikmatan yang kurasakan, lubang itu begitu licin dan basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini tubuh itu telah berada dalam kekuasaanku, desahan kecil kembali terdengar dari mulutnya, aku tahu ia begitu menikmati permainan ini dan menginginkan lebih dari sekedar gesekan kecil saja. Sambil tak henti tanganku memainkan gumpalam daging yang menonjol didada gadis ini perlahan ku balikan tubuh Anna, kini tubuh kami saling menyamping dengan posisi tubuhku tetap berada di belakangnya. Posisi ini memudahkan tanganku untuk lebih leluasa menjamah dan mengeksploitasi bagian depan tubuh gadis ini. Hembusan nafasku yang begitu dekat dengan telinga Anna membuat tubuhnya semakin merasakan sensasi kenikmatan. Tangan kananku merayap menuju vagina yang mulai terbuka, kusentuh dan ku cari lagi klitoris yang menyembul dalan liang itu. Tekanan jariku dari arah depan dibarengi dengan gesekan senjataku dari belakang yang gencar menyentuh belahan bibir vagina yangbasah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas.. sudah.. Mas.. jangan.., aku gak kuat lagi.." Anna merintih menyuruhku menyudahi permainan ini, tapi naluri kewanitaannya berkata lain karena dengan reflek ia semakin membuka lebar kedua pahanya. kuposisikan kaki kananku diantara kedua kakinya, sehingga kini selangkangan Anna terbuka dengan lebar.Kembali kugesekan kepala penisku menyentuh belahan vagina basah itu, tapi kali ini dengan sedikit dorongan yang mengarah keatas sehingga dengan perlahan kepala penis itu menyeruak memasuki belahan vagina Anna yang memang licin. Sesaat ujung penisku berada dalam himpitan lubang yang basah itu, lalu kutarik dan ku benamkan lagi dengan pelan, aku ingin mempermainkan rasa nikmat gadis ini. Mendapat perlakuan seperti itu Anna semakin mengejang kedua tangannya kini mencengkram erat rambutku yang masih berada di belakangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hh.. Maas.." lenguhan panjang terdengar dan Anna mencengkram semakin kuat, rupanya ia tak tahan dengan perlakuanku yang memasukan kepala penisku saja karena saat kudorongkan kembali pantatku, Anna menyambutnya dengan lebih menyodorkan pantatnya ke belakang sehingga penisku amblas kedalam liang yang rapat itu. Berakhirlah pertahanan gadis suci ini, kurasakan sesuatu yang kenyal menahan ujung penisku, lalu penis itu menyeruak masuk mengisi liang itu. Setelah saling diam beberapa saat akupun mulai beraksi menyodok dan menarik penisku melalui vagina itu. Kocokan pelan dan berirama terkadang semakin cepat dan cepat lagi, nikmat dan rapat sekali vagina yang masih perawan ini kurasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gimana sayang.. lebih nikmat kan?" Anna menjawab pekataanku dengan desahan yang semakin memburu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kuganti posisi ku, dengan tanpa mencabut penisku kuputar tubuh kami sehingga kini aku berada diatas tubuh Anna. Anna memeluk dan mencengkram punggungku merasakan setiap sentakan dari pantatku, ia mulai paham dengan ikut menggoyangkan pantatnya seirama dengan sodokan pinggangku. Wajahnya memerah dan bibirnnya yang seksi terbuka lebar, segera kulumat bibir terbuka itu dengan pagutan dan iapun membalasnya dengan penuh nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Hooh.. Mass.. Mass.."&lt;br /&gt;"Kenapa sayang.. nikmat kan..?"&lt;br /&gt;".. En.. enak.. Mas.." kuangkat dadaku dan ku topang dengan kedua tanganku menambah tenaga untuk kembali menyodok vagina itu, kulihat ekpresi Anna begitu cantik dengan mata terpejam dan bibir yang terkadang ia gigit kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gesekan demi gesekan semakin terasa nikmat, sesaat kemudan kulihat wajah Anna memerah, dan mendongak keatas, kurasakan kakinya melingkar erat dikedua pahaku, aku tahu ia akan segera mencapai klimax.&lt;br /&gt;"..Tahan sayang.. sebentar lagi.."&lt;br /&gt;"Aku.. aku gak kuat Mas.. aku mau.. kelluar..". kupercepat sodokan pantatku untuk segera mengimbangi orgasme yang dirasakan Anna. kupeluk erat tubuhnya kurasakan semburan hangat membanjir di selangkanganku dan setelah itu akupun menyemburkan lahar panas yang kutahan dari tadi.&lt;br /&gt;"Oohh..!" lengkingan panjang keluar dari mulut kami secara bersamaan, cairan hangat membasahi rahim Anna dan akhirnya tubuhku terjerembab diatas tubuh Anna yang terkulai lemas.&lt;br /&gt;"Terima kasih sayang.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama kupeluk tubuh Anna sambil merasakan sisa kenikmatan yang baru saja kami alami,&lt;br /&gt;"Maafkan Mas Rey sayang, Mas Rey gak bisa nepatin janji.." setengah merayu kubisikan kata-kata itu&lt;br /&gt;"Gak apa-apa kok Mas, Anna juga salah.." masih saling berpelukan akhirnya kami tertidur dalam kelelahan.&lt;br /&gt;Tengah malam aku terbangun dan kulihat tubuh polos Anna tertidur begitu cantik, cairan kental yang mulai mengering masih keluar perlahan melalui bibir vaginanya bercampur dengan tetes darah yang mengering.&lt;br /&gt;"Maafkan aku sayang.." Kukecup dan kutinggalkan ketempat tidur untuk membersihkan sisa lendir yang melekat diselangkanganku. Baru saja aku hendak keluar kamar mandi setelah membersihkan diri, tiba-tiba Anna masuk dan memeluk tubuhku.&lt;br /&gt;"Mas Rey jahat ninggalin Anna sendiri.."&lt;br /&gt;"Ga pa pa sayang.. Mas ga kemana-mana kok" kembali kupeluk tubuh Anna dan kami mandi bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai mandi kami melakukannya lagi, kali ini Anna benar-benar menumpahkan segalanya. Berbagai posisi ia ingin mencobanya, segala apa yang ia lihat di film BF ia praktekan kepadaku malam itu. Seakan tak pernah puas akupun melayani gelora gadis ini. Jam sembilan pagi baru kami keluar dari hotel itu setelah terlebih dulu melakukan sex kilat dengan telah berpakaian rapi, kami melakukannya sambil berdiri dengan tubuh Anna bertumpu pada meja kamar hotel itu. Anna pulang dengan naik taksi dan aku sendiri membawa mobilku menuju rumah dengan senyuman kepuasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu sejak kejadian itu aku dan Milla menghadiri pesta pernikahan Anna dengan Alfi yang begitu meriah. Kulihat keceriaan di wajah kedua mempelai itu, tapi dibalik semua itu kulihat kegelisahan pada tatapan Anna saat aku memberikan ucapan selamat kepada keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E N D&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6182626498548124474-2326953902259427346?l=17tahunporno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://17tahunporno.blogspot.com/feeds/2326953902259427346/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6182626498548124474&amp;postID=2326953902259427346' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6182626498548124474/posts/default/2326953902259427346'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6182626498548124474/posts/default/2326953902259427346'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://17tahunporno.blogspot.com/2007/11/arti-sebuah-pertunangan.html' title='Arti Sebuah Pertunangan'/><author><name>ishadow76</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6182626498548124474.post-957393719577927622</id><published>2007-11-30T03:44:00.001-08:00</published><updated>2007-12-20T15:39:39.025-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='softcore'/><title type='text'>Birahi Antara Dua Benua</title><content type='html'>Dalam Pesawat Menuju Ke Australia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan tali cinta antara aku dan Yonash ini sangat tidak kusangka sebelumnya, aku merasa bahwa hidup perkawinanku kuanggap normal saja bahkan aku merasa 'happy married', namun malang dan untung dari perjalanan hidup manusia itu tak bisa kita perdiksi sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangil saja aku Liana, tubuhku ramping tinggi badan 161 cm dan dadaku penuh, pinggul dan pantatku bulat keras, kulitku bersih cenderung agak olive, domisiliku di kota di negara bagian New South Wales Australia. Sejak aku masih muda usia kota ini telah menjadi tempat tinggalku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepergianku sementara dari kotaku ini adalah karena suamiku minta ditemani sementara, berhubung suamiku sedang menghadapi masalah mengenai businessnya di Indonesia, 18 bulan aku tinggal di Indonesia, hingga meletuslah 'Reformasi' dari mahasiswa dan tergulingnya rezim lama. Adanya 'geger' ini, anak-anakku di Aussie menangis menginginkan aku kembali ke Australia saja, mereka meminta aku untuk menemaninya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu kemudian aku berangkat kembali ke Australia, seperti biasa suamiku mengantarkan sampai bagian terdalam dari Airport Cengkareng atau dikenal dengan nama Airport Sukarno-Hatta, tak terjadi apa-apa diantara kami semuanya masih biasa, aku dekap suamiku dan kucium pipi dan bibirnya, tanda rasa kehilanganku melanda, akan 'perpisahan' yang mungkin akan relative lama ini. Tak lupa suamiku selalu mengingatkanku untuk mengurus anak-anak dengan baik dan jaga diri baik-baik, seperti biasa suami memesankan kepada istrinya, semuanya ini aku jawab dengan anggukan dan linangan airmataku yang tak tertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera setelah pemberitahuan dari krew pesawat yang mempersilahkan para penumpang untuk naik kepesawat, suamiku melepas pelukannya dan mengecup kening dan bibirku yang terahir saat keberangkatan itu. Kugenggam tas tanganku dikiri dan satu tas kecil lagi isi oleh-oleh yang tidak terlalu berat sekali di tangan kananku, aku berjalan menapaki lorong kecil menuju ke pesawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendapat petunjuk pramugari dimana aku harus duduk, aku menuju kenomor yang telah ditentukan, sisi kiri paling depan di bagian kelas ekonomi, di pinggir jendela. Aku berjalan lurus, sementara didepanku adalah orang yang agak gemuk, karena terhalang pandanganku aku berusaha menembus pandang lewat sela-sela badan sebelah kirinya, tepat didepan tempat duduk yang akan aku tuju orang lagi2 gemuk itu berhenti, akupun berhenti sambil menerobos pandanganku kearah bakal tempat dudukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini mataku tertegun beberapa detik, karena melihat orang laki-laki seumuranku sudah duduk ditempat duduk di sebelah tempat dudukku. Rupanya diapun memandangku dan beradulah pandangan kita berdua beberapa saat, sinar yang bening penuh gelombang setrum ber beban watt yang tinggi tembus ke jantung hatiku, aku terpaku sejenak sambil menunggu orang gemuk tersebut lewat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah orang yang gemuk itu berjalan lagi, kembali aku ganti berhenti ditempat orang gemuk tersebut berdiri sambil mengamati nomorku, tiba-tiba seorang di depanku, dalam keadaan setengah duduk, menanyakan akan nomor tempat dudukku, dia menawarkan mengangkat tas oleh-olehku untuk dinaikkan dikompartmen atas, segera aku ucap kan terima kasih padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berbalik arah dan menuju ke tempat dudukku, langsung aku duduk.&lt;br /&gt;"Permisi saya duduk disebelah anda"&lt;br /&gt;Kemudian aku duduk ditempatku dengan menghempaskan tas tanganku, dilantai depan kakiku, sambil merilekskan badanku yang agak capek, letih dan sedikit tegang. Secepat itu juga aku mendengar sapaan orang sebelahku, dengan ramahnya.&lt;br /&gt;"Waah kayak capek banget ya Dik, namaku Yonash", seraya mengulurkan tangannya kepadaku, langsung aku jawab sekenaku.&lt;br /&gt;"Iya nih, perjalanan yang panjang dan macet, bikin lelah otot dan tulangku, namaku Liana" dan kamipun berjabatan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu aku berjabatan tangan dengannya, kembali darahku berdesir, terasa aliran aneh yang melanda tubuhku, dan sempat dadaku berdetup kencang, walau aku tahan dan aku simpan tidak aku perlihatkan kepadanya. Setelah itu kamipun terlibat dalam obrolan yang ringan-ringan, Yonash mengatakan bahwa kepergiannya keAustralia untuk training selama 6 bulan, sebelum meneruskan kenegara 'Terbitnya Matahari', untuk belajar mengambil Phdnya, profesinya adalah sebagai Guru Besar disalah satu Universitas dikota jawa barat. Aku pun menceritakan akan profesiku dan tujuanku kembali keAustralia untuk menemani anak-anakku dan mencari kerja kembali dikotaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan dari Jakarta keDenpasar hanya terlibat percakapan normal dan santai, kami menikmati hidangan ringan dan 'Orange Juice', teh atau kopi, kacang tanah dibalut tepung dan madu sebagai jodoh nya. Selepas dari Denpasar, Bali, dalam penerbangan selanjutnya kamipun menjadi lebih rileks dan hangat dalam bercanda, kami saling menceritakan pengalaman, sendau gurau istrinya dan suamiku bila kita akan berpisahan sementara, juga segala pengalaman indah dan jenaka keluarga kita masing-masing. Dari situ juga aku temukan dia sudah berputri yang masih relative kecil di banding anak-anakku, karena memang aku menikah diumur yang dini untuk zaman sekarang, sambil bekerja dan kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedari detik perkenalan itu, getaran kecil-kecil bergerak dari dadaku sampai keseluruh tubuhku, satu atau dua kali dalam percakapan kami, aku rasakan kegugupan bila mata kami saling beradu, karena tak tahan aku menentang sinar matanya yang aku anggap ada suatu daya tarik yang melumpuhkan tenagaku, terasa aku menderita karena meredam rasa aneh kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu semakin larut, tiba saatnya kami mendapat hidangan makan malam, Yonash mendapat bagiannya dulu, namun ngak tahu mengapa siPramugari itu tidak memberikan bagianku langsung padaku, melainkan diberikan melalui Yonash, dan YonasHPun meletakkan dimeja kecilku, sambil membelai lengan kananku lembut. Cukup kaget dan berdetup keras dadaku, berdesir darahku menerima perlakuan yang begitu, sambil aku ucapkan terima kasih aku sambut nampan makanan itu, kupegang kugeser sedikit untuk membetulkan letaknya di atas meja kecil tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dalam keadaan bingung atas perlakuan Yonash tersebut, dia mengucapkan 'selamat makan' padaku dan akupun mengucapkan hal yang sama kepadanya, namun tiba-tiba sewaktu dia menyenduk makanannya, bukannya Yonash memasukkan kedalam mulutnya, namun sebaliknya disodorkannya sendok penuh makanan tersebut ke mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat beberapa saat aku bingung tidak keruan dan aku pandangi wajah dan matanya untuk memastikan perbuatannya kepadaku, dia memberikan senyum khasnya sambil mengangguk mengiyakan perbuatannya. Sekali lagi aku terpukau dalam situasi ini, akhirnya secara otomatis aku membuka mulutku untuk mempersilahkan suapan makanan Yonash masuk kemulutku, sambil tersipu-sipu aku mengunyahnya dan menelan makanan tersebut. Dari mulai itu dia kembali memberikan suapan beberapa kali dan memberanikan diri membuka mulutnya untuk memberikan kesempatan aku berbuat hal sama padanya. Yonash terlihat sangat bahagia ketika mendapat suapan demi suapan dari tanganku, hal ini membuat aku agak canggung dan tegang sementara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai makan malam dan mulailah kita mengobrol lagi mengenai hobby kami, ternyata kami mempunyai beberapa kesamaan hobby, salah satunya ialah membaca buku, setelah usai makan tersebut dia lebih banyak bercanda ringan dan berdendang, namun tangan kirinya tak henti-henti nya mengapit tangan kananku diusap-usap sepuasnya dengan tangan kanannya. Sewaktu film ditayangkan, lampu mulai dipadamkan, Yonash menelusupkan tanggan kirinya kebelakang pundakku dan memelukku.&lt;br /&gt;"Lipat saja sandaran tangan tengah ini, biar Liana lebih rileks", katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa kusadari, dengan gemuruh detup jantungku serta didihan darahku, aku turuti permintaannya. Terasa enak sekali dipeluknya, tercium bau parfum 'aftershave' di wajahnya, yang lain baunya dari kepunyaan suamiku, namun enak juga, lembut aku menyukainya, tak sadar aku menyandar didadanya sebelah kirinya dengan rasa damai, sedang dia masih berdendang kecil melantunkan lagu-lagu kesukaannya, yang rupanya akupun menyukainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba tangan kanan Yonash meraih daguku dan menariknya kemukanya, kemudian Yonash merundukan wajahnya, secara tak sadar, akupun memejamkan mataku, dalam pejaman mataku terasa kecupan bibir hangatnya mendarat dikening kemudian pipiku, tangan kanan Yonash membelai pipiku dengan lembut, kemudian dia letakkan lagi kepalaku didada kirinya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang lima menit lagi, tangannya meraih daguku lagi dan menariknya kembali, kali ini kecupannya mendarat dibibirku dengan lembut, terasa kehangatan dan kelembutan bibirnya menggetarkan jiwaku sesaat diiringi deburan darahku serta detupan jantungku semakin mengencang, walaupun begitu aku masih tetap menahannya dengan sempurna. Sambil meneruskan belaiannya Yonash berbisik kembali padaku.&lt;br /&gt;"Liana mau masih nonton film atau mau tidur?"&lt;br /&gt;"Jika ingin tidur, tidur sajalah di pahaku sini biar Liana lebih nyaman", katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamaan dengan itu ditariknya lagi daguku dengan lembut dan ditempelkannya lagi bibir hangat Yonash pada bibirku dengan lebih erat dan memasukan lidahnya dalam mulutku, kali ini kusambut lidahnya yang menari dalam rongga mulutku lalu kusedotnya lidah serta liurnya kami berpangutan dengan hangat dan mesranya. Lilitan lidah kami seperti tak ingin terpisahkan satu dari yang lain, seiring detup dada kami berdua yang semakin kencang, desiran darah kamipun melaju hangat, mengalahkan semburan udara dari 'Air Conditioning' didalam kabin pesawat tersebut. Adapun tangan Yonash tak henti mengusap-usap lengan serta meremas-remas lenganku dengan lembut.&lt;br /&gt;Dia berkata, "Liana, thanks ya kau menerima sayangku"&lt;br /&gt;Aku menjawab dengan anggukan lembut pula, tanpa keluar kata-kata dari mulutku yang terkunci karena rasa bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil merebahkan tubuhku dipangkuannya menghadap ke atas, kedua kakiku aku tekuk ke atas supaya muat seluruh tubuhku disepanjang dua kursi pesawat tersebut. Yonash meneruskan lagi dendang lagunya serasa membuai jiwaku, rambutku yang panjang sebahu tak luput juga dari sasaran belaian tangannya kanannya, sedang tangan kirinya mengusap-usap paha luarku, seolah diriku adalah anaknya sulung yang sedang ditidurkan. Sesekali dirundukkannya kepalanya lalu dikecupnya keningku, hidung dan pipiku, bibirnya terus menjalar dan bermuara di mulutku, hingga kita tertautan, berpangutan kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang tengah malam keadaan kami semakin terbalut bara asmara yang menggebu, birahi kami telah menutup sebagian perasaan2 kami yang lain. Dengan kecupan-kecupannya yang 'intense', tangannya diselusupkan kedalam jumper yang kukenakan, Yonash meraba-raba dadaku dari luar bajuku namun dibawah jumperku, kemudian dia lebih berani lagi menelusup masuk kedalam blus atasku meraba Bra yang kukenakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amboi.., desiran darahku semakin kencang seolah badanku dialiri setrum listrik kecil-kecil yang semakin menguat menjadi beribu-ribu watt merata di seluruh tubuhku, bulu kudukku berdiri menerima kenikmatan yang tak kusangka sangka ini, rasanya tiada pernah aku merasakan perasaan ini terhadap suamiku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku merasakan perasaan indah, nikmat deburan darahku sendiri yang mendera badan dan jiwaku.&lt;br /&gt;Yonash berkata, "Liana, tidurlah aku akan menjagamu, percayalah aku melindungimu"&lt;br /&gt;Sambil tangan kanannya masuk satu lapis lagi kedalam bluse yang aku kenakan Yonash mengelus elus sembulan buah dadaku yang mencuat separoh, karena aku mengenakan 'half cup bra style'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tak tahan menerima rangsangan setrum yang kuat itu, aku secara otomatis mendongkakkan kepala dan badanku keatas aku mencari bibir Yonash, aku sambar bibirnya hingga kembali kami berpangutan dalam selama kira 3 menit, tangan kirinya mengelus-elus bagian vitalku dari luar celana panjangku, adapun didalamnya terasa lelehan 'magma' dari memekku yang tak tertahankan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesawat membubung terbang tinggi, dari ketinggian itu kadang kami menerpa udara yang kosong.&lt;br /&gt;Yonash mengatakan, "Di ketinggian itu udara diluar adalah 15 derajat Celcius atau lebih kecil lagi, tak ada kehidupan di luar pesawat ini"&lt;br /&gt;Walau aku tak begitu mengerti apa yang dia ucapkan namun aku iyakan tanda mau mengerti apa yang menjadi statementnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pesawat terbang berjalan bergeronjalan, diberitahukan oleh krew pesawat bahwa kita diharuskan memakai sabuk pengaman, Yonash menyelimuti tubuh dan kakiku yang separuh aku tekuk ke atas agak mengangkang sedikit, setelah itu dia selusupkan tangan kirinya didalam celana pajangku yang tanpa retsleting, terbuat dari 'elastine cotton', mulailah dia membelai gundukan kenikmatanku, dalam hitungan menit basahlah sudah celana dalamku, karena getaran birahi yang melanda tubuhku, dimenit keempat aku miringkan tubuhku menghadap badan bawah Yonash, spontan aku elus dari luar kemaluan Yonash yang mengeras, menggunakan bibirku, karena tegangnya kemaluanya, Yonash menyelimuti badan bagian bawah, lalu Yonash membuka retsletingnya perlahan lahan, maka aku keluarkan kemaluan Yonash yang sudah mengeras mendongkak kedepan dari celananya. Ukurannya kemaluan memang hanya normal saja tak terlalu besar, jadi tidak terlalu merepotkan suasana kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan situasi yang baru ini, aku menjadi lebih leluasa membelai kemaluan Yonash dengan bibir hangatku, aku pulas dan aku sapu kemaluan Yonash yang tegang dengan lidahku. Hati-hati sekali kami melakukannya kami hanya bisa mendesah dengan sangat pelan dalam kegelapan kabin pesawat, nyaris kita tahan suara desahan kenikmatan kami. Dengan penuh waspada, tangan kanan Yonash memegang selimutnya, menjaga bila ada orang lewat, atau salah satu crew lewat, dia akan masih sempat menarik selimutnya menutupi wajahku dan kemaluannya yang sedang aku sepong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan tapi pasti, jari-jari kiri Yonash memainkan klitorisku keatas dan kebawah, terkadang Yonash memasukan jarinya kepermukaan relung kenikmatanku, atau masuk sekalian kedalamnya kemudian menari disekitar G-spotku, hingga aku bisa mencapai orgasme dan mengejang, maka kujepit tangan Yonash dengan otot vaginaku, terasa denyutan berkali-kali sehingga keluarlah cairan nikmatku di jari tangannya, disertai dengan erangan, desahan lembut, kami jaga agar orang-orang disekitar tak terpengaruh dengan kegiatan dan suara kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Yonash sendiri juga mencapai puncaknya karena kocokan mulutku dan elusan tanganku pada kemaluannya, hal ini terjadi tak lama setelah aku mencapai orgasmeku, dia tetap dalam posisi duduk agak memerosotkan badannya ke bawah sedikit sambil tetap memangku kepalaku yang menghadap dikemaluannya, dia mengejang sambil mengeluarkan spermanya dimulutku, kutelan semua spermanya tanpa sisa dan kujilati sisanya yang tercecer disekitar kemaluannya sampai bersih dan licin kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan ini kami tak berpikir khawatir lagi akan keadaan pesawat yang berjalan bergeronjalan, malah kadang terasa nikmat sekali sewaktu pesawat anjlok turun dari ketinggiannya, terasa seolah aku mendapatkan ayunan di atas jentera birahi asmara yang bergelora, kenikmatanku pun menjadi terasa lebih sempurna sewaktu bersamaan waktu Yonash memainkan tangan Yonash dalam liang kenikmatanku, ngilu, geli dan denyutan memekku bertambah, dera jantungku semakin berpacu cepat, obsesiku untuk ingin memuaskan dan dipuaskan semakin besar meronta, dalam keterbatasan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi walau indah kenikmatan bisa kita tuai bersama, aku akui kegiatan begini sangat memeras tenaga, karena kita sama-sama menahan perasaan emosi kita. Semua tenaga yang seharus nya bisa kita buang keluar dengan lantunan suara erangan, rintihan dari emosi kita supaya meringankan beban kita, malah sebaliknya kita tahan sekuat tenaga, akibatnya semua enegy tertahan didalam tubuh, hal ini menjadikan benar-benar badan merasa lelah sekali setelah kita mencapai puncak kenikmatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat jam ditanganku jam 2:30 malam.&lt;br /&gt;Dan Yonash pun membisik di telingaku, "Thank you Liana, aku memutuskan untuk menjenguk kamu, bila aku telah 'settledown' di Melbourne, ini teleponku dan tolong berikan teleponmu dan alamat di kotamu"&lt;br /&gt;Tiga jam kami tertidur, tiba-tiba para anak pesawat telah membangunkan kami, dan diumumkan bahwa kami segera akan mendarat di Sydney, dan pesawat akan melanjutkan penerbangannya ke Melbourne.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu selesai pendaratan sempurna akupun merapikan rambut, dan bajuku siap untuk turun, sebelumnya Yonash sempat memberikan kecupan dikening dan mulutku, sambil mengatakan, "Nantikanlah aku dikotamu sayang, akan aku jelang kau adindaku"&lt;br /&gt;"Tak sabar aku menerima kasihmu lagi, jantungku berdetup, sesiran darah dan setrum sangat kuat melanda diriku sayang"&lt;br /&gt;Katanya sambil melempar senyum khas dan matanya pun sangat sayu, aku sambut bisikannya dengan senyum dan anggukan dalam dan berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamipun berpisah, sama halnya rasa dalam diriku, getaran setrum ribuan watt melanda badanku, desiran darahku tak mau padam, pikiranku galau dan gontai, detak jantungku terasa semakin kuat. Otakku waras dan ingatanku jelas sadar mengetahui keberadaanku, namun perasaan mendera, emosi dan getaran dalam tubuhku melonjak-lonjak menghempasku jauh dari kesadaranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai dirumah, akupun istirahat sebentar, namun sejak saat itu telponku selalu berdering dan SMS selalu berdenting, dan aku selalu menuai rindu dari technology modern itu. Sementara itu aku melamar pekerjaan kemana-mana, aku dapatkan kerjaan pada minggu kedua setibaku dikotaku ini, adapun pekerjaan itu sangat menantang citaku dan aku merasa kerasan bekerja di perusahaan baru ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunjungannya Di Kotaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat yang kunantikan tiba, Yonash datang dari Melbourne, aku menjemputnya dari Airport, bagai dua sejoli yang dimabuk asmara membara, kami saling mencium dan berpangutan menuju kemobilku, didalam mobil tangannya dia selalu membelai, cerita yang dituturkan seperti kita lama tak pernah berkomunikasi, terus sambung menyambung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonash selalu berdendang riang disetiap langkahnya, santai sekali, seperti orang tidak punya beban dalam kehidupannya, kadang aku sendiri bertanya, "Apakah yang membuat orang ini santai, periang sekali, seolah tidak ada yang membuatnya khawatir dalam hatinya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menuju kehotelnya dijantung kotaku, kedua tangan Yonash selalu meremas, mengelus tangan kiriku, sementara aku mengatur pemindahan versneling. Sesampai di kamar, barang-barang bawaannya diletakkan ditempatnya, langsung Yonash memburuku dan menciumiku dari kening, pipi, leher, sambil tangan Yonash membuka kancing baju depanku dan tangannya menelusup kedadaku dan meremas susuku yang padat dengan penuh nafsu, ketika bibirnya menyentuh bibirku, lidahnya menelusup kerongga mulutku menari-nari di langit-langitku bahkan kadang menekan, menghisap dan membelit lidahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kalah galakku dalam berpangutan, aku sambut liar lidahnya, aku ganti menyerang menghisap liur dan lidahnya kuat-kuat, tanganku mulai membuka baju Yonash dan tercium parfumnya, kegemaranku, hal ini membuat birahiku bertambah, nafsu bangkit mengebu, badanku terasa mekar dan buas, seolah aku ingin menelan seluruh tubuh Yonash kedalam diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali aku sedot lidah dalam mulutnya juga air liurnya, kulilitkan lidahku dan kutekan dalam-dalam, tiba-tiba Yonash memondongku perlahan, membawanku ketempat tidur dan merebahkan tubuhku. Dadaku terasa sesak sekali ditindihnya, seolah darahku mengguncang keras ingin muncrat dari kepalaku, karena menahan rinduku kepadanya, diriku sebagai terbang diangkasa bersama Yonash, dia yang telah lama aku rindukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonash berhasil membuka baju atasku dan juga membuka kaitan BHku dengan cekatan, dia daratkan bibirnya pada payudaraku yang menyembul kenyal, dimainkannya puntingku dengan lidahnya yang kasar, disapunya, digigitnya pelan-pelan dengan penuh kasih dan kebuasan lelaki, hal ini membuatku sangat kegelian, mengelinjang, dan melenguh kenikmatan, jilatan lidahnya turun senti demi senti, inci demi inci menuju ke perut dan pusarku, kemudian lidahnya dimasukkannya kepusarku, tangan Yonash masih asyik memainkan puntingku dengan putaran dan pijitan yang membuat aliran-aliran nikmat pada diriku, gairahku mendaki dan melambung ke atas angkasa raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima menit kemudian jilatan Yonash semakin turun kebawah, tangan kanannya membuka kancing celana panjangku, dan mendorong celana panjang serta CDku kebawah yang kubantu dengan mengangkat pantatku sekedarnya kemudian dengan kaki kananku aku tarik celana itu ke bawah dan aku tendang nya jauh dari tempat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonash masih membungkuk mencium dan menjilat perut bawahku, akhirnya sampai juga pada gundukan nikmatku, sambil jongkok dia membuka memekku untuk lebih lebar, Yonash memperhatikan dan meraba memekku yang tiada berambut itu. Keadaan kakiku masih menjuntai di luar tempat tidur, ini memudahkan Yonash mengusap dan menjilatnya dengan mulut dan lidahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumudian dengan pelan-pelan jari tangan kanannyapun menyelinap kedalam belahan vaginaku, terasa nikmat sekali perlakuannya ini, Yonash meraba bagian dalam dari vaginaku dan dimasuknya tangan itu ke lobang vaginaku, terasa sekali dia memporak porandakan ketenangan G spotku, jari itu bergeser keatas kebawah, kiri dan kanan seolah menari diantara dinding relung nikmatku, kenikmatan indah yang timbul membuatku mengeliat seperti cacing kepanasan, sedangkan lidah kasarnya tetap menyapu clitorisku naik turun ke arah vertical seputar kelentitku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonash agak lama bermain di halaman depan ini, hingga aku terasa ngilu tak tertahankan, darahku berdesir kencang, dera kenikmatan memukul-mukul sukmaku, hingga aku tak kuat lagi membendungnya, akupun berteriak seperti biasa mulutku tak bisa diam bila menerima kenikmatan seperti yang kurasakan kali ini, denyutannya mencapai ubun-ubunku.&lt;br /&gt;"Yonash aachh sshheett eechh, enak sekali Yonashh"&lt;br /&gt;"Yonash ampun, Liana keluar yaa sayang!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggelinjang, berdesis dan mendesah, bahkan aku keluarkan teriakan, dan teriakan keras sekali karena ku mencapai orgasme yang indah sekali, karena perlakuan Yonash yang pandai membelai menyapu kelentit, dan clitorisku juga cara meraba relung kenikmatanku.&lt;br /&gt;YonasHPun menegakkan kepala dan memandangku sambil tersenyum, merangkulku kuat dan berkata, "Sayang, kau sangat menggairahkan dengan teriakanmu yang bebas, Liana aku mencintaimu sayang berusahalah sebebas-bebasnya berekspresi, kita akan nikmati bersama ya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa lemas dan lunglai, tulangku seperti dicopoti, namun denyutan vaginaku belum juga reda, hingga kami berpelukan lama sekali sambil berpanggutan kembali. Yonash membiarkan aku dipelukannya, meredakan birahi dan kenikmatanku secara natural, selanjutnya dia membelai rambutku dan menciumi seluruh muka, mulut dan leherku, dengan perlakuannya terasa aku sangat disayanginya dan diperlakukan seperti seorang 'ratu', terbuai aku dipelukan tangannya, rasa damai melanda diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sayang, gundukan memekmu menantang ke atas, dan memekmu 'Juicy' sekali, ku ingin memasukkannya kontolku dalam kehangatan relung nikmatmu sayang"&lt;br /&gt;Selang beberapa saat kemudian, gairahku kembali lagi, kudorong perlahan-lahan tubuh Yonash dari badanku, melepaskan pelukannya. Aku bangkit, kulayangkan pandanganku kecelana panjangnya yang masih belum dibuka, kulepas retsletingnya dan kuturunkan celana panjangnya juga celana dalamnya yang berwarna biru muda, kubelai kemaluannya yang sudah sangat keras mendongkak kedepan, aku pandangi dia dengan kagum, karena saat itu aku baru bisa melihat dengan jelas kemaluannya yang pernah memuncratkan spermanya dalam mulutku beberapa minggu yang lalu dipesawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemaluan Yonash sangat indah dan kuning langsat, bagai kulitnya Yonash yang kuning dan bersih, rambut kemaluannya pun tak terlalu tebal, hanya tumbuh dipangkal kemaluan atasnya saja. Setelah puas memandanginya dan membelainya, kudaratkan bibirku padanya, terasa kehangatan menerpa bibirku, maka aku julurkan lidahku dikepalanya kemaluannya yang telah mengkilat membasah dengan cairan beningnya, tanda birahinya telah melanda Yonash dengan kuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukulum kepala kemaluan itu dan kujilat sekelilingnya juga urat di bagian atas yang terasa agak lunak memanjang sejurus dengan lubang kemaluan, pada bagian atas. Kutahu tentu dia akan mengelinjang dan terasa kengiluan mendera dirinya. Betul juga dia mengerang dan berdesis keras, sambil tanganku mengocok nya dengan ritme pelan dan kemudian mempercepat ritme kocokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Acchh Liana, kau pandai sekali sayang, kau apakan kontolku ini sayang?"&lt;br /&gt;Berulang-ulang kulakukannya dan berulang kali juga teriakan serta erangan Yonash terlontarkan sambil matanya merem melek.&lt;br /&gt;"Liana sayang, aku suka sekali kau perlakukan seperti ini, kau sangat memahamiku dan keinginanku"&lt;br /&gt;Merasa terpujilah diriku, makin bersemangatlah aku melakukan sepongan untuk Yonashku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena birahiku juga sudah melanda diriku makanya kulepaskan kontol Yonash dari mulutku dan cepat aku bangkit dan jongkok di atas panggulnya dan menyelipkan kontol Yonash kedalam relung kenikmatanku, aku genjot-genjot kontol tegangnya Yonash dengan irama seperti mengendarai kuda sembrani, kugoyangkan pantatku kekiri dan kanan, memutar juga naik dan turun, tak lupa juga dengan kupijit kontol itu dengan gerakan mendenyutan otot vaginaku dengan sekuat tenagaku, hingga tanpa kontrol Yonash teriak, mengerang kuat mendapat perlakuan dariku ini.&lt;br /&gt;"Liana memekmu mengempot ayam, kontolku terasa enak sekali, terasa seperti disedot-sedot, dipijat dan dipilin pilin sayang, enak aacchh aduhh aachh sshhett"&lt;br /&gt;"Bisa mati aku nanti kau ginikan sayang"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonash bangkit dan membalikkan tubuhku, dengan tanpa mencopot kemaluannya dan bergantilah posisilah kita, dan Yonash mengangkat kedua kakiku ke pundaknya dan dia jongkok bertumpu kedua lututnya dihadapan vaginaku, dan dia menggenjotnya lima kali didalam dan ditarik, memasukkan lagi, genjot lima kali lagi, dengan ritme yang semakin lama makin cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perlakuan begini, gesekkan batang kontol Yonash menerpa berulang ulang pada G-spotku, relung kenikmatankupun ngilu, nikmat melanda didalam sana, tubuhku mengelinjang dan kepalaku menggelepar, seluruh badanku gemetar, mulutku mendesah dan melenguh.&lt;br /&gt;"Yonash aku maauu keluar lagi ngak tahaan nih kontolmu enak sekali Yonash".&lt;br /&gt;"Saayang Liana kita sama-sama keluar ya, spermaku sudah mengumpul diujung kontolku siap menyemproot, bisa dikeluarkan dimana sayang?"&lt;br /&gt;"Yonash please, lepaskan didalam saja, biar kita bisa menikmati bersama"&lt;br /&gt;Tak lupa kupijit kontol Yonash dengan otot vaginaku.&lt;br /&gt;"Liana, enak empotan memekmu sayang aku nggak tahaann"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Achir nya creett, creet, creet, keluarlah air sperma Yonash didalam relung kenikmatanku. Disini ada suatu kehebatan dari pada kemaluan Yonash, walaupun sudah muncrat spermanya, namun tetap tegang tidak cepat menjadi lembek, sambil menurunkan kakiku ke posisi mengangkang, Yonash masih terus aktif bergerak-gerak maju mundur, sedang aku sudah terkapar tergolek tak berdaya. Tak hentinya Yonash menggoyangkan kemaluannya terus menerus sambil santai membelai tubuhku, menciumi buah dadaku berlama2 sambil menikmati tubuhku, dia memelukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit demi sedikit redalah gairahku dan diapun melepaskan kemaluannya yang masih tetap kencang kemudian direbahkannya tubuhnya di sampingku sambil menggeser posisiku, dengan memiringkan badanku, kali ini Yonash mendekapku dari belakang dan memasukkannya kembali kemlauannya itu dalam relung kenikmatanku dari belakang sambil menciumi punggungku, membisikkan kata-kata mesra dan terima kasih, bagaikan Yonash berhutang berjuta-juta pada diriku. Dari perlakuan ini aku merasa sangat dihargai dan diperlakukan sebagai orang yang betul dia dambakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah setengah jam lebih dia puas dengan permainan kontolnya dalam relung nikmatku untuk yang pertama kali ini, kemudian dia berdiri dan mengendongku kekamar mandi dan mandi bersama berendam dan saling menyabuni badan dan kemaluan kita masing-masing dengan penuh kasih sayang dan damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena rabaan dan belaian Yonash disekitar kemaluanku, aku tergairah lagi ingin mengentotin Yonash lagi, dan aku duduki lagi Yonash yang masih berendam di air hangat itu dan kali ini aku menghadap di kaki nya dan aku goncangkan badanku dan kupijit lagi kontolnya dengan otot vaginaku, tak peduli aku akan gelombang air yang memuncrat tumpah di lantai kamar mandi, terus aku kakukan genjotan karena terasa ada sensasi tersendiri making love dalam bathtub kamar mandi, enak terbuai, terayun bagaikan di awang-awang, akupun dapatkan lagi orgasmeku, aku bungkukkan badanku, aku terkam pergelangan kaki Yonash dan aku gigit kaki betis kakinya, Yonash pun teriak mengisaratkan dia juga akan memuncratkan spermanya dan tangannya menggapai pantatku, diremasnya pantatku yang bulat kencang.&lt;br /&gt;"Liana, aku keluar lagi sayaangg aachh sayaangg!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kami reda dari kenikmatan, aku pun bangkit dan jongkong, tepat memekku berada di atas mulut Yonash, kakiku di atas dua sisi pinggir bathtub sambil berpegang pada keran besi ditengah bathtub itu.&lt;br /&gt;Lalu aku berkata pada Yonash, "Yonash tolong bersihkan memekku ini dengan lidah dan bibirmu ya sayang"&lt;br /&gt;Yonash pun melakukan seperti apa yang ku inginkan dengan senang hati sambil menepuk-nepuk, mengelus-elus pantatku dengan kedua tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian Yonash menarik tubuhku turun dengan pelan dan mendudukan aku dalam air lagi didepannya, membelakanginya. Yonash mendekapku erat dari belakang sambil menciumi punggungku, Yonash tahu sekali bila aku suka diperlakukan begini sehabis ML. Maka tergambar dalama ingatanku dengan jelas, hal ini tak pernah terjadi dikehidupan perkawinanku dengan suamiku, sebaliknya, aku sangat merasa dihargai sekali oleh Yonashku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puas kami bermain cinta di kamar mandi kami pun mandi lagi, selesai mandi aku keringkan tubuh Yonash, aku bedaki dengan talkum kesayanganku. Yonash pun senang sekali menerima sentuhan kasih dari mulai mengeringkan tubuh dan kontolnya kemudian kubedakin tubuhnya sampai aku pakaikan T shirt dan jubah mandinya, setelah semuanya rapi, kamipun berajak ketempat tidur dan istirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhenyak kami dari tidur, karena deringan telephone dari Hpku, kulirikkan mata kearah jam tanganku, jam menunjukkan jam 3:15 sore, terbangunlah kami berdua dan ternyata anakku yang menelphone, melaporkan bahwa dia mendapat nilai bagus pada assignmentnya. Aku katakan pujian pada anakku dan pesan bahwa Mama lagi meeting, kira 4-5 jam lagi baru pulang, silahkan makan duluan, karena Mama mau makan diluar dengan orang kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kututup Hpku, secepat itu juga Yonash menyambar pinggangku dan menciumi lagi, dan kamipun making Love lagi dengan berbagai styles kita coba, kadang aku sandarkan Yonash dengan bantal di'head bed'dan aku jongkok di atas kemaluannya dan aktive naik turun, atau aku yang bersandar dan Yonash yang menyodokan kemaluannya dengan bersimpuh didepan memekku, kakiku diangkat di pinggang nya satu agak miring. Juga kita coba style lain dengan aku bersandar tidur miring, dari belakang Yonash angkat kaki kiriku, dimasukkannya kontol Yonash dari belakang, sambil tiduran miring dibelakangku seraya menggeser badan dan kepalanya menjauh dari badanku, Acchh style yang ini sangat aku senangi, style ini enak sekali rasanya, aku bisa blingsatan karena bergetar semua badan dan sukmaku mencari pegangan, sensasi yang ditimbulkan sangat berbeda untuk kami berdua, kami bisa mengerang dan melenguh sama kuat sampai kepuncak orgasmeku tercapai. Style ini lain dari yang biasa kita lakukan, dimana kita masih bisa saling berpegangan tangan, bersentuhan kulit sama kulit atau berciuman untuk meredakan getaran birahi kita yang ditimbulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paginya adalah hari Jum'at, ku minta ijin untuk 'off', karena bulan itu aku punya cukup kelebihan jam kerjaku untuk 1 hari 'off'. Pada jam 7.00 pagi Hpku bergetar ditanganku, sedianya aku yang akan menelphone Yonash, namun dia telah mendahuluiku. Yonash mengatakan bahwa dia sudah siap dijemput, menjawab ajakanku kesalah satu Winery 'Hungerford Hill' NSW, diluar kotaku, disana aku sudah membooking cottage, untuk 2 malam, karena anak-anakku pun akan ikut kamping dengan kelasnya kepantai selama 2 hari. Kesempatan ini aku gunakan untuk berwisata dengan Yonash menikmati perkebunan anggur dan pabrik wine di NSW Australia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menuju ke Winery tersebut kami harus menempuh pejalanan 2.5 jam dengan kendaraan, cottage-cottage didaerah itu dibuat berjauhan jaraknya antara satu dengan yang lain, adapun pagar mengelilingi tiap cottage tersebut dengan ketinggian 170 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di halaman belakang ada meja dari batu yang ditatah sebagai sarana meja makan bila kita mengadakan BBQ, dengan diatapin pohon anggur yang tumbuh merambat di atasnya menjadikan suasana ini menjadi asri, nyaman sangat romantis. Kamipun terbuai, bara asmara kami terbakar lagi, birahi kami menggelora, keinginan selalu ML disitu semakin menjadi obsesi kami berdua, sambil melihat kupu-kupu warna warni terbang menikmati kehangatan udara, bahkan burung bercengkerama, ada juga yang memadu kasih di atas kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonash selalu berkata, "Mari kita coba hidup seperti di zaman purba, buka baju aja yuk"&lt;br /&gt;Aku pun tidak menolaknya, udara saat itu sekitar 21 derajat Celcius, matahari bersinar bagaikan menumpahkan sinar emasnya, langitpun biru tak setitik awan menodainya, angin tidak banyak ulah menggangu keindahan alam saat itu, orang Australia selalu berusaha keluar rumah untuk menikmati hari indah seperti ini, mereka menyebutnya 'a glorious day'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun senang dengan suasa ini, karena memang disuasana 'glorious day' ini, nafsu birahiku selalu bangkit, ingin aku menikmati dakian birahi dalam bercinta yang menggebu, ingin aku merasakan dengusan nafsu Yonash yang sedang buas liar ingin menerkamku. Kesempatan ini tidak akan kami lewatkan, semasa kami sedang dirundung asmara, baranya menghangatkan tubuh kami, keinginan kami untuk ML sangat kuat, memekku selalu berdenyut meminta di sambangi oleh kontol Yonash yang selalu mengeras tegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kami putuskan meja batu itu menjadi tempat kegiatan utama kami memadu kasih dan ML disiang hari itu, sambil membakar keratan-keratan daging ayam dan kambing, juga sosis-sosis, ditungku pembakaran yang telah disediakan di dekat meja makan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang aku duduk di meja batu itu, Yonash menjilatin memekku dengan rakus sambil duduk di bangku kayu nya, atau Yonash yang duduk dimeja dan aku aktif menyepong kontolnya yang hangat dari bawah, bahkan kami juga betul-betul ML meja itu dengan telanjang bulat, desahan erangan, lengkingan tak pernah kita tahan lagi, kenikmatan demi kenikmatan kita gapai, kita renggut dan tuai bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami juga bercinta di gudang belakang cottage, hal ini terjadi sewaktu kami membutuhkan kable perpanjangan digudang, karena sewaktu aku nungging mengorek tumpukan barang digudang menarik kabel yang ku maksud ada di bawahnya, badanku dan pantatku bergoyang, Yonash yang ada di belakangku kontan konak lagi kontolnya, dan menerkamku dari belakang, nafasnyapun tak bisa dikendalikan. Sempat juga aku kaget karena tak aku sangka Yonash tiba-tiba menjadi buas, dan setelah ku tenggok ke belakang matanya yang sayu telah memohon dan mulutnya menyerbu mulutku, kelumat bibirku.&lt;br /&gt;"Liana, Liana, aku tak tahan lihat pantatmu bergoyang nafsuku memburu, aku ingin ngentot kamu disini, please let me into your warm body"&lt;br /&gt;"Liana aku ingin merenggut kepuasan denganmu, tolong kamu pegangan ujung lemari ini akan aku masukkan kontolku ini dari belakang ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dekap dia, aku elus rambutnya aku cium dalam bibirnya yang menganga.&lt;br /&gt;Lalu kubisikkan kepadanya, "Yonash sayang, OK, kita ngentot disini, kita nikmati berdua ya, tunggu aku sampai aku mencapai orgasmeku ya"&lt;br /&gt;Langsung aku memposisikan diriku seperti kemauannya, kemudian Yonash menusukkan kontolnya di vaginaku dari belakang, aku berteriak kegelian dan pompaan Yonash sangat enak, dan menyentuh seluruh lorong kenikmatanku, bahkan sampai dinding rahimku yang terdalam.&lt;br /&gt;Aku pun menjerit, "Yonash, kau pandai, Yonash kontolmu memberikan kepuasan didalam sana, pompa lagi Yonash enak sekali, ach Yonash aku keluaar"&lt;br /&gt;Sampailah aku di puncak orgasmeku, langsung Yonash melepas kontolnya dan meraih pinggangku dan membalikkan badanku berhadapan dengannya, menggangkat tubuhku dan menjuruhku merangkulnya lehernya kuat-kuat dan memompa kontol Yonash kembali. Sambil aku dongkakan badanku kebelakang, aku memompa kontol Yonash keatas kebawah, hingga Yonash mencapai ejakulasinya.&lt;br /&gt;Diapun teriak sambil memejamkan matanya dan membuka mulutnya, "Achh Liana aku sampai, enak liana memekmu enak sempit, menghimpit kontolku, aku keluaar liana.. aach, aku puas"&lt;br /&gt;Kuhentikan pompaanku, namun denyutan memekkupun terasa bahwa aku akan mencapai orgameku lagi, maka aku pun berteriak kembali, sambil merangkul erat leher Yonash, kucium kuat mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi hari biasanya kita keluar melihat lembah dan ngarai didaerah itu, kemudian kita melihat pabrik Wine dalam cara memproses anggur menjadi wine. Setelah kita puas mencobai wine dan melihat-lihat sekitar daerah itu, kami kembali lagi ke cottage, Yonash memasak dan aku menyiapkan mejanya, karena Yonash memang senang memasak dan banyak akalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah makan kamipun tiduran sambil bercerita tentang kejadian keseharian yang aneh disekitar kita sampai tertidurlah kita sejenak. Namun tiba-tiba Yonash bangun dia menarikku dan menyodorkan kontolnya yang sudah tegang mengeras, sambil meminta dangan mata sayunya supaya aku mau menyepongnya, menjilat dan menghisapnya dengan mulutku, kulakukan semuanya ini dengan suka hati, aku kocok lagi batang kemaluan itu yang akhirnya dia mengerang menikmati ejakulasinya disertai kenikmatan yang tiada tara. Segera aku hisap spermanya yang memuncrat kuat ke mulutku dan kujilati semuanya tanpa sisa sedikitpun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian selanjutnya Yonash memasukkan kemaluannya dalam memekku dalam posisi tiduran miring dari belakang sambil meremas payudaraku dan menciuminya dari belakang, tarian dan gerakan kemaluan Yonash hangat mengenai dinding vaginaku yang terdalam dan aku tak kuat untuk berdiam diri, dengan lebih membungkukkan badanku ke depan lagi, desahanku keluar, erangan, lengkingan jeritanku membahana, karena orgasmeku tercapai lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore menjelang malam hari, Yonash yang suka melihat TV itu duduk dikarpet didepan TV, saat itu aku ingin mencari perhatiannya, dan memekku sudah berdenyut lagi, aku pengin making love lagi. Tanpa sungkan aku hampiri dia, dan kusodorkan memekku ke mulutnya sambil berdiri, dengan begitu dia segera menyambut dengan juluran lidahnya, menyapu dan melumatnya sepuasnya sampai akupun mengerang lalu kamipun meneruskan ML kami lagi. Hari itu nyaris kita tidak pakai pakaian, minim sekali yang kita pakai di malam yang dingin itu, kita tidur di karpet dengan bara kehangatan heater semalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami betul-betul sangat menikmati permainan cinta yang indah yang kita ciptakan itu, kegiatan ini kami teruskan selama Yonash mengunjungi aku. Kami ML dihotelnya tiap hari sepulangku dari kerja disore sampai menjelang malam. Makan malam bersama, cari 'ice cream' yang enak berdua, belanja makanan dan barang kecil berdua. Kadang kami pergi kepantai berdua disore hari, menikmati 'sunset' sambil bercumbu, berlarian dipasir pantai, seperti kita sedang menikmati dunia remaja kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama Yonash di Melbourne 6 bulan, aku berkunjung 3 kali keapartemen Yonash dan YonasHPun menjenguk kekotaku 4 kali. Kami rasanya tak ingin dipisahkan dan kami benar-benar menikmati permainan gelombang cinta kami. Bagiku, Yonash adalah orang yang menggugah aku dari tidur nyenyak, membuka langit biru diatasku, melebarkan cakrawala didepan mataku, untuk menikmati cinta dan permainan birahi yang penuh gelora di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Negeri Sakura&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;December akhir 1998, Yonash harus pulang ke Indonesia, sebulan kemudian Yonash tulis surat bahwa dia sudah di Negeri 'Sakura', Negeri 'Terbitnya Matahari', Yonash akan mengundangku kesana dalam waktu dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi antara aku dan Yonash 'intense' sekali, badanku selalu gemetar seolah gelombang listrik ribuan watt dikirimnya dari jauh menyeberangi lautan dan benua menerpa diriku, pikiranku tidak bisa focus menghadapi masalah kerjaan dan hidup keseharianku sendiri. Walau semuanya itu kutekan sebaik mungkin, namun arus Listrik ini sangat kuat menghempasku tak berdaya, aku tak dapat menipu diriku, aku terhanyut oleh birahi cinta. Otakku sadar betul akan keberadaanku, namun perasaanku, badan mencuat meronta, badanku menggigil panas-dingin tak karuan, meminta semua hasrat birahiku terpenuhi aku inginkan selalu bersua dan ML dengan Yonashku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam bulan kemudian aku diutus perusahaan dimana aku bekerja untuk pergi ke 'Negeri Sakura', sebagai wakil perusahaan dalam menghadiri pameran dagang yang senyawa dengan warna dari perusahaan kami bergerak, adapun kota tepatnya adalah Kyoto. Bagai anjing yang kena pukul, serta merta aku menyanggupi kepergian ke kota itu, aku tulis email kepadanya bahwa aku akan datang selama 2 minggu, Kyoto 4 hari dan sisanya kekota tempat Yonash belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, pada saat aku mendarat dibandara, Yonash sudah menjemput dengan senyum khasnya, dan menyapa.&lt;br /&gt;"Mengapa kok tegang sekali sayang lelah ya?"&lt;br /&gt;"Rilekslah nanti aku pijitin dan akan segar sempurnalah tubuhmu lagi"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil mengapit tanganku menyingkir dari keramaian orang-orang, kecupannya mendarat dibibirku, berpangutanlah kami terasa getaran sukma dan deburan darahku tak henti melanda diriku, cukup lama kami berpangutan, melepaskan rindu selama 6 bulan yang tak tersalurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di hotel setelah 'check in' dan masuk kamar, langsung Yonash menelanjangiku, mengendongku ketempat tidur, dibelainya seluruh tubuhku, dikeluarkannya 'body cream' dari tasnya yang sengaja dibawa dari kotanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilumurinya tubuhku sedikit dengan 'body cream' dan mulailah dia memijat sekujur badanku, setelah itu dia menyelimuti tubuhku dan dia pun merebahkan tubuhnya disampingku sambil meremas-remas payudaraku dan membelai tubuhku, hingga tertidur lelaplah diriku selama 2.5 jam, rupanya perjalanan 12.5 jam lebih membuat aku betul-betul penat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonash membiarkan aku tidur, kesempatan itu dia pergunakan untuk membaca Journal dan material bacaan kuliahnya. Sebangunku Yonash gendong tubuhku kekamar mandi dengan air hangat yang telah tersedia, dan dimandikannya diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spontan ketika dia menyabuni badanku akupun menyabuni badan Yonash, dari sentuhan mesra ini timbullah gairah syahwatku, segera kutarik Yonash mendekat kebadanku dalam bathtub penuh air, kaki kita saling menyilang dan badan kita berhadapan, kumasukkan kemaluan Yonash dalam memekku, sambil berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yonash sayang, kita ngentot lagi yang indah ya, aku rindu ML dengan mu, kontolmu enak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia terseyum mengiyakan, mulailah aku memeras kontol Yonash dengan otot vaginaku, dan aku ciumi Yonash dari bibir, pipi, kuping dan lehernya, sedang Yonash mengayun pantatnya maju dan mundur. Puas dengan gaya ini, aku bangun dan aku tunggingkan badanku sambil berpegangan kran air, aku buka dua pahaku kakiku dan aku minta Yonash untuk mengentot aku dengan 'doggy style', juga 'bull style' dimana Yonash merebahkan badannya di punggungku dan tangannya meremas-remas payudaraku, Huuh nikmat sekali kontol Yonash menyentuh dinding terdalam dari liang kenikmatanku, menggeliat tubuh bagian dalamku, seolah kontolnya menari didalam disana, tak tahan aku mendapatkan dera nikmat yang tibul dari gesekan kontol Yonash, ngilu dan nikmat semakin menjadi sensasi hebat timbul dari dalam sana, hingga Yonash dan aku harus mengerang, desahan dari mulut kita tak terelakkan, getaran tubuhkupun tak kunjung berhenti, akhirnya akupun mencapai orgasme. YonasHPun teriak untuk kedua kalinya, dia mencapai ejakulasinya bersamaan denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kita selesai dengan styles ini, seperti biasa kontol Yonash belum lemas dan sambil menyiram dan menyabuni badanku kontolnya masih menancap dimemekku, diangkatnya badanku dan diputarnya badanku berhadapan dengannya, tanganku merangkul kuat lehernya, kemudian dia berdiri sambil membopongku diayun-ayunkannya badanku naik turun, dan Yonash menahan badanku dengan kedua kakinya agak mengkangkang tegak sekuat tenaga, hingga terasa nikmat melanda tubuhku kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibawanya aku di meja dekat kaca kamar mandi, didudukkannya aku di 'vanity' itu, lalu Yonash mengentotku sambil berdiri, Yonash mendengus, melenguh dan mengaduh dia keluarkan lagi spermanya divaginaku dan akupun mulai terasa akan mencapai orgasme, maka aku cenkeram, aku cakar pundak dan punggung atasnya memakai kukuku, aku jeritkan ngiluku karena aku betul-betul mencapai orgasme yang sangat tinggi dan lama.&lt;br /&gt;"Yonashh aku keluaarr lagi, enak sekali Yonash kontolmu aku puas sekali Yonash!"&lt;br /&gt;"Yonash memekku berdenyut-denyut aachh enak Yonash"&lt;br /&gt;"Yonash cium aku Yonash please, Yonash kiss me please!", begitulah racauanku bila aku merasakan kenikmatanku dikala aku mencapai orgasmeku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya kami pergi nonton pameran dagang undangan dari kantorku setengah harian, setelah makan siang direstoran didekat gedung pameran itu, sorenya kita nonton Orchestra, distasiun underground Kyoto, tepatnya sebelah kanan atas dari pintu masuk stasiun itu, tepat dibelakang Department Store Takashimaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulang dari nonton Orchestra kami kekolam renang campur laki-laki dan perempuan, dan telanjang bulat. Kami berendam diair panas, kemudian ganti keair dingin, selang-seling tiga kali, dengan perubahan kondisi air tersebut, membuat kemaluan Yonash menegang keras lagi.Keadaan tubuhkupun terasa ada dorongan sensasi yang hebat, ingin dipenuhinya hasrat besar untuk melakukan ML, ditambah lagi karena dari sentuhan-sentuhan yang kami lakukan, memekku berdenyut-denyut hebat lagi, ingin merasakan desakan kontol Yonash didalam sana dan ingin kujepitnya kontol Yonash keras2 dengan otot vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan demikian kami betul-betul terbuai, hasrat untuk ML kami menjadi sangat menggebu, seolah sukmaku dan sukmanya meronta ronta ingin keluar, memadu cinta kita berdua diudara bebas. Kemaluan Yonash kudapati semakin lebih keras menegang, Yonash menarikku dengan kuat berusaha memasukkan kemaluannya kedalam memekku dengan buasnya, akan tetapi aku berhasil menahannya.&lt;br /&gt;"Yonash sayang, kau 'wild' sekali kali ini kontolmu konak, kita dikamar saja ya sayang, kita puasin disana ya"&lt;br /&gt;"Liana 'bidadariku', aku 'wild' sekali saat ini, ingin aku merenggut kepuasan dari dirimu kali ini lebih lebih".&lt;br /&gt;"Bagaikan aku ketagihan candu Liana, aku ingin ngentot lagi sama kamu sampai puas sekali sayang", deru nafasnya sangat kencang, matanya redup sayu namun buas, bagaikan kemasukan dewa birahi dari salah satu kuil Jepang.&lt;br /&gt;Kubelai rambutnya yang basah, kusambut ciumannya yang hangat menyalurkan setrum listrik beribu watt kembali padaku. Aku bimbing Yonash keatas dan aku tarik handuk dari pinggir kolam untuk menutupi kemaluan Yonash yang menegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun diluar dugaanku, Yonash malah menggendongku menuju ke salah satu kamar disitu yang kebetulan memang tersedia kamar untuk pasangan laki-perempuan menyalurkan hasrat syahwatnya, maka Yonash langsung meletakkan aku di tempat tidur dan Yonas mengentotiku sambil berdiri dan kedua kakiku lurus di dua sisi pinggangnya, dua tangan dia memegang kedua paha atasku, kita ngentot, dengan 'Rickshaw style' atau gaya 'gerobag dorong', Yonash melenguh, mendesah dan mendengus, akupun melengking keenakan karena kebuasan Yonashku, aku meleguh dan teriak keras bila kontol konak Yonash menyentuh G-spotku, dinding vaginaku yang terdalam tersasa tergesek-gesek, dihempas-hempaskannya dengan kontolnya yang tegang keras sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba YonasHPun teriak menyambut ejakulasinya, yang aku susul juga teriakanku yang panjang karena aku mendapatkan orgasmeku. Yonash terpuruk ambruk di dadaku sambil kontolnya masih menanjap di memekku, kami berpelukan. Maka aku belai rambut Yonash yang masih basah itu, dengan penuh kasih sayang.&lt;br /&gt;"Yonash kontolmu kuat, dan gagak sekali, enak menerpa dan menari didalam sana"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonash tak menjawab hanya senyumannya dan redup matanya, yang menerangkan bahwa dia masih mau lagi bertarung denganku. Sepuluh menit kemudian Yonash mengangkatku, dengan kontolnya masih menancap di memekku, dan duduklah dia di pinggir tempat tidur, dan meminta aku memompanya naik turun. Aku berusaha memuaskan Yonash dengan senang hati, aku lakukan pemompaan kontol Yonash sambil badanku agak condong kebelakang dijaga dengan kedua tangan Yonash yang kuat memegangi pinggangku supaya aku tidak terbalik jatuh kebelakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kami daki nafsu asmara kita selama 3 menit, kamipun mencapai ke puncaknya, kami berdua melantunkan kepuasan aku mencapai orgasme dan ejakulasinya Yonash hampir bersamaan, maka melengking, berteriak bebaslah kita berdua. Rupanya pelayan-pelayan situ sudah memahami keadaan kami dan merekapun berlagak tuli dan tak perduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kami membersihkan diri lagi kamipun cari makan malam kemudian kembali pulang ke Hotel, terasa lelah sekali badanku dan tertidurlah aku. Dibiarkannya aku tertidur, Yonash mengambil buku untuk belajar lagi, setelah 3jam dia belajar, dibangunkannya diriku dan kami ML lagi dibalkon dengan 'doggy style' juga dikursi, yang terbuat dari besi, aku duduki Yonash yang sedang duduk dikursi balkon itu, aku masukkan kemaluan Yonash ke memekku posisiku membelakanginya, dengan agak condong ke depan kakiku mengkakang diantara dua kakinya, aku pompa kontol Yonash naik turun terus menerus, sambil Yonash memegang pinggangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enak sekali rasanya dengan style ini memekku seolah digesek dan diaduk2 di tempat G-spotku, rasa ngilu tak terperikan seluruh relung kenikmatanku bergetar hebat, hingga akupun teriak histeris seperti macan betina melolong karena kena luka dari lawannya, hal ini tak bisa kutahan bila mendapatkan orgasmeku yang sangat mikmat, akupun memanggil namanya, "Yonash, Yonash! Gila kau, enak sekali kontolmu sayang!"&lt;br /&gt;Sambil aku jepit, pijit kontol Yonash memakai otot vaginaku kuat-kuat, maka YonasHPun melengkikkan suaranya rupanya dia sampai kepuncak pendakiannya dan menyeprotkan spermanya yang terkumpul diujung kontolnya kedalam memekku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi harinya, biasa Yonash bangun pagi, mandi terus belajar, dengan lampu mejanya. Sesegera Yonash melihat aku mengeliat, langsung dia naik lagi ke tempat didur dan mencari gundukan nikmatku dan di jilatinnya gundukan segitiga nikmatku dengan buas dan rakusnya, cepat sekali dia membuka bajuku dan baju dia sendiri, dalam hitungan menit Yonash udah membalikkan badanku di atas badannya dengan kontol yang sudah menantang siap untuk di sepong, jadilah kita memainkan 69 kesukaan kami untuk ber"foreplay".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kami puas dengan raungan, teriakan ngilu dan geli berganti kita rasakan, dengan sigap namun penuh hati-hati Yonash membalik tubuhku, memposisikan tubuhku nungging dengan kepala miring di tempat tidur, Yonash menusukkan kontolnya dari belakang sambil menekuk kakinya ke belakang di tempat tidur, style ini selalu menjadikan badanku gemetar karena Yonash pandai sekali menyentuhkan kontolnya dalam relung nikmatku yang terdalam hingga menerpa G-spotku berulang kali, sangat ngilu rasanya bila terkena hentakan kontol Yonash, hingga kami sampai pada puncak nikmat kami masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puas bermain cinta pagi itu, kami membersihkan diri, aku segera menyiapkan sarapan Yonash. Kemudian dia kembali belajar, akupun membaca bukuku novelku, sambil duduk bersandar bantal di 'Head bed' dengan kedua pahaku aku tekuk keatas terbuka tanpa CD, tak jarang YonasHPun menghampiriku dan mencium memekku dengan buasnya. Aku suka sekali diperlakukan begini, dan YonasHPun suka melihat aku seperti ini duduk tanpa CD didepannya sambil belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah tiap hari selama kami di Kyoto, pagi bangun tidur kami sudah tergairah untuk making love sepuasnya, kemudian Yonash meneruskan belajarnya. Jam 8:15 kami pergi ke pameran sampai siang hari, selanjutnya kami melihat kuil-kuil dan paviliun-paviliun kuno. Setelah puas pesiar, kami pulang istirahat, akan tetapi banyak sebab yang selau membuat kita tergairah untuk kita terhanyut 'makinglove' lagi, entah karena tiba-tiba aku minta ciuman Yonash yang kuat dan dalam, atau kadang hanya karena pandangan kita beradu, ataupun dengan sengaja Yonash meraba, mengeluarkan tetekku untuk di hisapnya sambil dia mengerjakan sesuatu di hotel itu. Tak lelahnya kita ML, kadang 3-4 kali dari sore sampai malam hari, mulai oral sex sampai beberapa styles ML bisa kita lakukan. Tak jarang kita tertidur lupa tidak memakai baju, karena udara sangat mendukung di 'spring' mau menuju ke 'summer'itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari kelima kita naik kereta cepat ke kota Yonash belajar, Yonash menyewa apartemen di daerah tidak jauh dari kampusnya, kami leluasa sekali ML di apartemennya dari mulai di teras belakang, di kamar, dikamar mandi dan meja makan, di atas meja dapur, sambil tiduran ataupun berdiri, aku akui stamina Yonash sangat tinggi, dia mampu ML berdiri sambil memondongku berlama-lama, sambil dia menciumi bibirku tak henti hentinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila aku merasa capek dibiarkannya diriku tidur adapun Yonash kemudian memasak nasi dan lauk atau dia mengerjakan tugasnya, dan bila aku bangun dia sudah siap menyuapkan makanan dimulutku, apa saja yang dekat dengannya entah itu makanan kecil atau hanya sekedar 'jelly fruits in the cup' kesukaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ke 3 dikotanya, Yonash dimintai tolong supervisornya untuk tidur dirumahnya, karena dia mau pergi ke Taiwan untuk tugas disana seminggu, dan dia boleh bawa temannya, dan kamipun pindah kesana. Rumah itu lebih besar dari apartemen Yonash, juga kebun di belakang sangat yaman, kami lakukan Ml didalam rumah dan diudara terbuka dibawah pohon-pohon cemara normal besar yang di pangkas seperti bonsai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disiang yang yaman 19 derajat Celcius itu kami ada di halaman belakang dibawah pohon cemara tersebut membaca Novelku, ditariknya diriku, dilepaskannya celanaku dan bajuku, di dekapnya aku sambil Yonash bersandar di batang pohon cemara itu.&lt;br /&gt;"Liana kita ngentot di udara terbuka ya, aku pengin kepuasan darimu saat ini dibawah pohon ini, Liana tinggal disini dampingi aku disini sayang, kita ngentot disini terus menerus ya!"&lt;br /&gt;Aku tak menjawab, hanya senyum saja, karena aku tahu itu racauan Yonash bila ingin melampiaskan nafsu birahi asmaranya bersamaku, dia sadar bahwa aku harus kembali di asalku, aku hanya mengelus rambutnya dan menciumi mulut, pipi dan lehernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera kami making love sambil berdiri berlama-lama sambil menikmati burung-burung bernyanyi di atas kita, mungkin malah burung-burung itu melihat dan menikmati suasana indah kita yang sedang 'hot' ngentot di halaman belakang itu, acchh rasanya dunia ini hanya milik kita berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esokannya kami bangun jam 8:30, karena spring time, humiditi udara disitu agak tinggi, artinya kita agak banyak berkeringat. Maka kamipun memutuskan untuk mandi dikamar mandi belakang, dimana bak mandi tersebut bentuknya seperti bak mandi di indonesia akan tetapi letaknya dibawah permukaan tanah, kedalam, sedangkan kamar mandi yang depan bermodel "bathtub" dan "shower", seperti di barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berdua turun dalam air hangat yang sudah kita sediakan. Karena sempitnya bak tersebut yang hanya memang bisa untuk dua orang, maka kita tidak sabunan badan dulu, hanya saling meraba dan mencium, dari sentuhan itu nafsu birahi kami bangkit lagi kemudian kami saling mendekap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai meraba kemaluan Yonash yang ternyata memang kemaluan Yonash sudah berdiri menentang dan keras. Aku elus-elus batangnya, juga dua buah zakarnya yang menjadi agak mengecil karena membesarnya batang kemaluan Yonash tersebut. Aku suruh Yonash duduk di pinggiran bak mandi tersebut dan aku mulai menyepong kepala kemaluannya sambil berdiri didalam bak mandi, jilatanku menjalar terus ke batang kemaluan dan sampai ke kedua buah zakarnya, kuhisap buah zakar itu, kumainkan dalam mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YonasHPun kegelian dan mulai mendesah, mengerang, dengan sedikit mengangkat kaki kanan Yonash aku jilati semua paha dalam Yonash hingga Yonash menggigil kegelian.&lt;br /&gt;"Liana enak Liana, teruskan liana, enak sekali ingin aku mendapat sepongan tiap hari begini"&lt;br /&gt;"Tinggallah bersama aku disini terus, Liana sayang, aku membutuhkanmu"&lt;br /&gt;Sekali lagi aku tak menjawabnya, hanya terus melirik keatas dan terus melakukan jilatanku ke arah batang dan kembali kekepala kemaluannya. Yonas memegang kepalaku dan menjambaknya kuat-kuat dia berusaha merunduk untuk menciup keningku tapi terlalu jauh untuk dijangkaunya, kemudian aku tepuk pantatnya untuk Yonash turun kedalam bak mandi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai didalam bak mandi lagi, langsung saja Yonash diselipkan kontol tegangnya itu kememekku dan dengan agak menggendongku dia goyangkan pantatnya maju dan mundur sampai kami mencapai kenikmatan masing-masing. Gerakan Yonash yang semakin kencang itu terasa tak membutuhkan tenaga banyak karena kami berada didalam dalam air, badan kami terasa ringan tidak menjadikan kami lelah, karena gerakan kami yang kuat, bak mandi dibawah permukaan lantai itu memuntahkan air nya ke permukaan lantai dan airpun mengalir keselokan yang telah disediakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Yonash mengangkatku agak tinggi lagi, dan menyuruhku memompa naik turun, Aku sangat menikmati permainan ini, denyutan memekku menjepit kontol Yonash yang agak pasive saat ini, namun Yonash membantu badanku untuk bergerak naik turun, dua tangannya menopang pantatku untuk membantu gerakanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Yonash berkata lirih padaku, nafasnya memburu buas, sambil menegadahkan kepalanya serta matanya agak redup.&lt;br /&gt;"Lianaa, aku sudah siap mau keluar, ujung kontolku udah berdenyut denyut, apa kamu juga udah siap kita keluaar sama-sama ya?"&lt;br /&gt;"Tahan sebentar Yonash, aku pun ingin menikmati orgasmeku disini bersama kau sayang tunggu sebentar lagi"&lt;br /&gt;Kemudian dalam detik-detik berikutnya aku lebih focus pada rasa gesekan kontol Yonash yang menerpa dinding rahimku terasa ngilunya tak terperikan.&lt;br /&gt;Kemudian akupun berkata agak lantang, "Yoonash, keluarkanlah aku sudah siap aachh aachh sshhtth"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera setelah itu Yonash memuntahkan spermanya ke memekku tanda ejakulasinya tercapai sempurna, diiringi lengkingan ngilu dan kepuasannya. Sekian menit Kamipun tidak bergerak, hanya berpelukan erat sambil berpangutan, sampai betul-betul reda birahi kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya kami mandi cepat-cepat karena kami ingin melihat gugusan rumah-rumah kuno di zaman Meiji, yang jumlahnya tidak sedikit, dibutuh waktu hampir seharian, untuk melihat kesemuanya. Esoknya lagi, kami pun mengulangi hal yang sama, sebelum kami pergi ke sebuah 'castle' kuno dipinggir kota, juga melihat kuil-kuil jepang disekitar kota itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenangan indah yang kami lakukan ini kami lanjutkan terus walau kami terpisahkan beribu-ribu mill jauhnya. Kami saling kunjung mengunjung setiap 4 bulan sekali Yonash kekotaku di Australia atau aku kekotanya di Negara Sakura, hal ini sangat memungkinkan bagiku karena diAustralia dalam 1 tahun setiap karyawan berhak mendapatkan liburan sejumlah 1 bulan kerja sebagai 'annual leave' nya YonasHPun tak segan-segannya selalu membuatkan aku surat sponsor untuk Departemen Imigrasi Negera Sakura itu, untuk memudahkan aku keluar masuk ke negeri tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan cinta yang erat, indah dan panas ini tersendat saat ini, karena keberhasilannya Yonash menyandang Phd, Yonash harus pulang ke Indonesia tentunya istri dan anaknya membutuhkannya, juga pekerjaannya, namun hati kami tetap tertaut, SMS dan ICQ berjalan terus melantun sebagai media cinta kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonash selalu bilang bahwa dia selalu akan menemuiku bila ada kesempatan baik. Betul juga sewaktu aku harus kembali keIndonesia, Yonash tetap menemuiku, kami bertemu untuk berbagi rasa rindu kita yang sudah mendidih dan meluap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu kami berpelukan, sukmaku bergetar, badanku bergoyang, serta melelehlah airmata kebahagianku tanpa kusadari, kamipun segera melampyaskan kerinduan kami yang telah menyesak didada kami, rasanya kami betul-betul bisa menuai cinta birahi kita masing masing dengan indah diwaktu yang singkat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasakan hubunganku dengan Yonash adalah merupakan kisah kasih yang sejati, hal ini tentu saja susah sekali aku lupakan, karena memang Yonashlah pembuka pelangi keindahan cinta dalam hidupku dan samudra luas dimana aku bisa menimba segala ilmu yang kubutuhkan, dari mulai pengetahuan umum, tehnik komputer, kesehatan, bahkan bila aku mendapat kesukaran dalam pekerjaan kantor diapun selalu siap memberi saran dan bimbingan bagaimana aku harus bersikap untuk menyelesaikan masalah tersebut. Yonash juga menularkan ilmu yang dia perlajari sedikit-sedikit untuk aku ikut mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indah rasanya hidupku setelah mengenal Yonash, aku akan selalu respect terhadapnya sebagaimana dia juga respect kepadaku dan semua yang ada padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih kepada teman mayaku yang mau menshare pengalamannya dan membantuku, hingga tulisan ini bisa anda nikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E N D&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6182626498548124474-957393719577927622?l=17tahunporno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://17tahunporno.blogspot.com/feeds/957393719577927622/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6182626498548124474&amp;postID=957393719577927622' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6182626498548124474/posts/default/957393719577927622'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6182626498548124474/posts/default/957393719577927622'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://17tahunporno.blogspot.com/2007/11/birahi-antara-dua-benua.html' title='Birahi Antara Dua Benua'/><author><name>ishadow76</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6182626498548124474.post-8261194290088925947</id><published>2007-11-30T03:42:00.001-08:00</published><updated>2007-12-16T14:46:36.343-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pesta sex'/><title type='text'>Berawal dari Chatting</title><content type='html'>Hallo pembaca setia 17tahunporno.blogspot.com. Pada kesempatan ini aku ingin menceritakan pengalaman bercintaku yang tidak terlupakan. Aku adalah seorang mahasiswa yang kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta. Namaku Valentino dan saat ini usiaku 22 tahun. Menurut temanku meski wajah Chinese-ku ini biasa-biasa saja tapi aku punya daya tarik seks yang cukup tinggi. Tinggi badanku hanya 173 cm dengan berat 71 kg. Aku juga suka olahraga dan wajar saja jika fisikku cukup prima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian ini terjadi pada waktu liburan natal 2000 yang lalu. Waktu itu untuk melepaskan kesuntukan karena tidak ada aktivitas, aku memutuskan untuk chatting di warnet di dekat kost. Aku masuk ke channel favoritku yaitu Bawel. Selang beberapa lama ada nick yang invite aku masuk ke channel dia. Dan aku pun masuk aja, cuek.. siapa takut. Ternyata setelah kami ngobrol beberapa lama, dia adalah seorang cewek kampus yang gaul banget. Dari pembicaraannya sepertinya dia bukan orang yang kuper. Namanya Michelle, dan kuliah di PTS juga dan usianya pun sama denganku. Dia mengaku sedang ditinggal pacarnya dan dia masih merasa sedih. Aku berusaha menghiburnya, dan aku pun minta no teleponnya. Dan akhirnya kami saling tukar no telepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok harinya, aku bangun siang sekali karena kemarin aku chatting sampai jam 1 pagi. Tiba-tiba di kost-ku ada yang manggil, katanya ada telepon untukku. Aku juga bingung siapa yang menelepon, dan setelah kuangkat. Oh, rupanya Michelle yang meneleponku. Hari itu sih hari minggu, dan kebetulan aku lagi tidak ada acara. Michelle mengajakku untuk janjian bertemu dan aku pun menyanggupinya. Kami bertemu di Mall Ciputra, tepatnya di Pizza Hut. Rupanya di sana dia tidak sendirian, dia ditemani tantenya yang cantiknya aduhai dan teman satu kampusnya yang juga tidak kalah cakepnya. Ternyata Michelle ini cantik sekali, tingginya kira-kira 170 cm dan kutebak ukuran branya pasti 36B, sama seperti tantenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun berkenalan. Michelle menyapaku, "Kenalin ini Tante gue.. Ratna dan ini temen gue Shinta.." Kami pun saling berjabat tangan dan terasa tangan mereka sungguh lembut. Setelah itu kami memesan pizza ukuran besar dan sambil menunggu aku terus menatap Michelle, dan dia agak membungkuk sehingga aku bisa melihat belahan dadanya yang membuat kemaluanku mulai menegang ditambah lagi melihat pahanya yang mulus tanpa cacat juga bibirnya yang ranum dan merekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu lagi liburan kan Val?" tanya Tante Ratna.&lt;br /&gt;"Iya nih.. lagi suntuk, abis gak ada yang bisa dikerjain waktu liburan." jawabku sekenanya.&lt;br /&gt;"Mmm, gimana kalau kita bertiga ngerjain kamu, kan katanya kamu gak ada kerjaan?" kata Shinta sambil tertawa menggoda.&lt;br /&gt;"Iya nih, mau gak.. kita bermain-main sedikit?" sambung Michelle.&lt;br /&gt;"Ah kalian bisa aja, bukannya aku yang ngerjain kalian ntar?" godaku.&lt;br /&gt;"Ihh.. kamu bisa aja deh.." bisik Tante Ratna.&lt;br /&gt;"Ya udah, daripada banyak omong, gimana kalau malam ini kita nginap di hotel aja, tuch di seberang resepsionis hotel sudah nunggu kita tuch.." ajak Shinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kami sepakat untuk membooking kamar di Hotel Ciputra dan Tante Ratna yang bayar. Kami masuk ke kamar dan aku pun merebahkan badanku ke ranjang, untuk melepas lelah. Aku sempat memejamkan mata sesaat, dan tiba-tiba kurasakan ada yang mengelus-elus sekitar selangkanganku dan ternyata itu si Michelle yang sudah tidak sabar lagi. Dipelorotkannya reitsleting-ku dan dia pun mulai membedah CD-ku yang isinya sudah membengkak karena adikku yang sudah tidak tahan lagi untuk menerobos. "Val, aku mau dong nyobain ngulumin pisang kamu yang cakep ini, boleh kan?" pinta Michelle manja. Tanpa komando langsung dijilatnya ujung kepala kemaluanku. "Ahh.. nikmat sekali.." Belum sepuluh menit, tiba-tiba Tante Ratna sudah telanjang bulat dan mengarahkan kemaluannya ke wajahku. Dan tanpa ragu-ragu kujilat vaginanya yang masih cakep itu. Sementara itu Shanti yang dengan luwesnya setelah selesai mandi mulai naik ke ranjang juga dan meraih kedua bukit Tante Ratna yang sudah menegang putingnya itu karena terangsang oleh jilatanku pada area kewanitaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ahh.. enak sekali rasanya bisa dikerjain mereka bertiga. Michelle dan Tante Ratna dengan buah dada 36B, serta Shanti dengan buah dada 34D, sungguh membuatku tidak bisa berkata-kata selain, "Uh.. oh.. uh.. oh.." Aduh sungguh nikmat. Penisku yang panjangnya 16 cm ini rasanya sudah nikmat sekali dan panas sekali dihisap secara bergantian oleh mereka bertiga. Dan aku pun keluar setelah 20 menit, dikocok dan dijilat secara bergantian. Aku mengeluarkannya di mulut Michelle yang mungil sedangkan Tante Ratna dan Shanti juga tidak ketinggalan membersihkan cairan spermaku yang cukup banyak ini. Setelah itu Tante Ratna datang dan memijat penisku yang sudah mulai loyo hingga berdiri lagi. Ah, belum 2 menit adikku sudah naik lagi akibat pijatan lembut Tante Ratna, sementara itu Shanti dan Michelle bermain berdua, karena mereka ternyata lesbian dan juga biseks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Ratna kemudian memasukan penisku ke dalam lubang kemaluannya yang sudah penuh cairan cinta itu. Memang sih awalnya agak susah, dan rupanya meski sudah punya suami, Tante Ratna ini kemaluannya tetap sempit dan membuat adikku seolah dipijat dan diremas-remas oleh dinding kemaluannya yang kuat sekali. Sementara itu selang waktu 15 menit, Michelle menghampiriku lagi dan menempatkan vaginanya di atas wajahku untuk dijilat. Dengan posisi berhadapan dengan Tante Ratna, Michelle membantu menjilat puting susu Tante Ratna yang berwarna pink itu. Sementara itu Shanti juga tidak tinggal diam, diarahkannya jariku ke dalam lubang kemaluannya kemudian aku pun mulai tahu maksudnya. Kuobrak-abrik kemaluannya dengan kedua jariku, hingga Shanti menjerit-jerit keenakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya 10 menit kemudian Tante Ratna berteriak, "Val.. oh.. enak Val.. Tante mau keluar nih.."&lt;br /&gt;"Tunggu Tante aku juga mau keluar, aku keluarin di dalem aja yah? Abis masih ada Mich!Michelle sama Shanti sih, gak bisa bergerak nih.." erangku.&lt;br /&gt;"Ya udah, keluarin di dalem aja.. ohh.. Tante keluar.." desah Tante Ratna.&lt;br /&gt;Akhirnya kami pun keluar bersama-sama. Dan kemudian kami terus mencoba gaya lainnya lagi sampai kurang lebih sudah setengah dua pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya jam tujuh pagi aku terbangun dan ternyata mereka sudah membuatkan sarapan untukku. Wah tanpa pakaian mereka menyuapiku untuk sarapan dan minum susu. Tapi aku lebih tertarik pada susu mereka. Dengan nafsu mereka menyuapiku dalam keadaan telanjang. Serasa dunia ini seperti di sorga. Michelle mulai menatapku penuh nafsu. "Val, aku pengen lagi nih, habis kemarin belum puas sih.. boleh gak?" tanya Michelle. "Oh.. why not, my soul is your mine.. just do it.." balasku mesra. Akhirnya Michelle mulai menjilati putingku sembari menciumku dan membelaiku. Aku sungguh merasakan kenikmatan dan kelembutan tangannya. Dan di adik kecilku sudah ada Tante Ratna dan Shanti yang tangannya bergerilya dengan penuh nafsu dan membuatku merem melek. Oh.. betapa indahnya dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Tante Ratna memijat adik kecilku dengan kedua bukit susunya yang sungguh menakjubkan. Aduh enak sekali dipijat dengan tetek ini rasanya. Aku tidak sanggup lagi untuk menahan semua gairahku. Sementara itu Michelle juga tidak mau tinggal diam lagi. Segera diarahkannya vaginanya ke wajahku dan aku pun menjilat vaginanya yang sudah memerah itu. Dan mulailah suara desahan terdengar dan berpadu membentuk suatu paduan suara yang menggairahkan, birahiku semakin tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selang 15 menit aku mulai mencoba merubah posisiku dan Michelle kubaringkan sementara Tante Ratna dan Shanti asyik bermain berduaan. Kutumpahkan susu sarapanku ke mulut vagina Michelle dan kujilat-jilat vaginanya yang kini sudah menjadi rasa susu itu. Dan Michelle pun mengerang keenakan, "Val, masukin dong.. aku udah basah nih." Dan tanpa ragu-ragu lagi kuhujamkan dengan keras penisku yang 16 cm ini sedalam-dalamnya ke lubang keperawanan Michelle yang merah merekah itu. Aku terus-menerus memompa tanpa henti meski tubuhku dan tubuh Michelle sudah berkeringat semua. Suara desahan demi desahan terus saja keluar dan semakin menggelora semangat dan nafsuku di pagi itu. "Uh.. uh.. uh.." suara-suara itu terus mendesah dan keringat kami terus menetes membuat tubuh kami seperti berkilat keemasan ditimpa seberkas sinar matahari. Tante Ratna pun yang meski sudah cukup berumur tapi tetap saja bugar dan segar. Mungkin semakin tua semakin berpengalaman kali yah? Sedangkan Michelle yang masih muda terus saja menampakkan semangat mudanya dengan jeritan-jeritan orgasme yang sungguh semakin membuatku merasa beruntung, sepertinya sekali mendayung 3 gunung kembar terlampaui. Aku benar-benar dibuat kecapekan. Sungguh liburan yang semula membuat bete menjadi liburan yang penuh kenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para cewek, atau tante yang mau melampiaskan nafsunya hubungi saja aku via e-mail. Aku sangat senang bisa membantu kalian agar terpuaskan, mau mengalami seperti cerita tadi lewat permainan group juga kuterima. Mau 2 cowok dan 4 cewek juga tidak masalah. Aku sangat terobsesi sekali akan seks sejak pengalamanku. So, sekarang siapa yang selanjutnya mau mendapatkan pengalaman seks yang indah dan tak terlupakan bersamaku, jangan ragu-ragu hubungi e-mailku. Aku senang bisa memuaskan teman-teman cewek sekalian. Bagi yang belum berpengalaman, setelah kita bersama pasti akan menjadi suatu pengalaman yang mengesankan selama hidup. So tunggu apa lagi, kalau ada yang tertarik silakan hubungi aku via e-mail dan segera dapatkan pengalaman menarik bersamaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6182626498548124474-8261194290088925947?l=17tahunporno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://17tahunporno.blogspot.com/feeds/8261194290088925947/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6182626498548124474&amp;postID=8261194290088925947' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6182626498548124474/posts/default/8261194290088925947'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6182626498548124474/posts/default/8261194290088925947'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://17tahunporno.blogspot.com/2007/11/berawal-dari-chatting.html' title='Berawal dari Chatting'/><author><name>ishadow76</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6182626498548124474.post-7139138011085077005</id><published>2007-11-30T03:40:00.000-08:00</published><updated>2007-12-16T14:46:13.920-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pesta sex'/><title type='text'>Andani Citra: Kegilaan di Lift Kampus</title><content type='html'>Pengalamanku yang satu ini terjadi ketika masih kuliah semester empat, kira-kira empat tahun yang lalu. Waktu itu aku harus mengambil sebuah mata kuliah umum yang belum kuambil, yaitu kewiraan. Kebetulan waktu itu aku kebagian kelas dengan fakultas sipil, agak jauh dari gedung fakultasku, di sana mahasiswanya mayoritas cowok pribumi, ceweknya cuma enam orang termasuk aku. Tak heran aku sering menjadi pusat perhatian cowok-cowok di sana, beberapa bahkan sering curi-curi pandang mengintip tubuhku kalau aku sedang memakai pakaian yang menggoda, aku sih sudah terbiasa dengan tatapan-tatapan liar seperti ini, terlebih lagi aku juga cenderung eksibisionis, jadi aku sih cuek-cuek aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu mata kuliah yang bersangkutan ada kuliah tambahan karena dosennya beberapa kali tidak masuk akibat sibuk dengan kuliah S3-nya. Kuliah diadakan pada jam lima sore. Seperti biasa kalau kuliah tambahan pada jam-jam seperti ini waktunya lebih cepat, satu jam saja sudah bubar. Namun bagaimanapun saat itu langit sudah gelap hingga di kampus hampir tidak ada lagi mahasiswa yang nongkrong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluar dari kelas aku terlebih dulu ke toilet yang hanya berjarak empat ruangan dari kelas ini untuk buang air kecil sejenak, serem juga nih sendirian di WC kampus malam-malam begini, tapi aku segera menepis segala bayangan menakutkan itu. Setelah cuci tangan aku buru-buru keluar menuju lift (di tingkat lima). Ketika menunggu lift aku terkejut karena ada yang menyapa dari belakang. Ternyata mereka adalah tiga orang mahasiswa yang juga sekelas denganku tadi, yang tadi menyapaku aku tahu orangnya karena pernah duduk di sebelahku dan mengobrol sewaktu kuliah, namanya Adi, tubuhnya kurus tinggi dan berambut jabrik, mukanya jauh dari tampan dengan bibir tebal dan mata besar. Sedangkan yang dua lagi aku tidak ingat namanya, cuma tahu tampang, belakangan aku tahu yang rambutnya gondrong dikuncir itu namanya Syaiful dan satunya lagi yang mukanya mirip Arab itu namanya Rois, tubuhnya lebih berisi dan kekar dibandingkan Adi dan Syaiful yang lebih mirip pemakai narkoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kok baru turun sekarang Ci?" sapa Adi berbasa-basi.&lt;br /&gt;"Abis dari WC, lu orang juga ngapain dulu?" jawabku.&lt;br /&gt;"Biasalah, ngerokok dulu bentar" jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lift terbuka dan kami masuk bersama, mereka berdiri mengelilingiku seperti mengepungku hingga jantungku jadi deg-degan merasakan mata mereka memperhatikan tubuhku yang terbungkus rok putih dari bahan katun yang menggantung di atas lutut serta kaos pink dengan aksen putih tanpa lengan. Walau demikian, terus terang gairahku terpicu juga dengan suasana di ruangan kecil dan dengan dikelilingi para pria seperti ini hingga rasa panas mulai menjalari tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Langsung pulang Ci?" tanya Syaiful yang berdiri di sebelah kiriku.&lt;br /&gt;"Hemm" jawabku singkat dengan anggukan kepala.&lt;br /&gt;"Jadi udah gak ada kegiatan apa-apa lagi dong setelah ini?" si Adi menimpali.&lt;br /&gt;"Ya gitulah, paling nonton di rumah" jawabku lagi.&lt;br /&gt;"Wah kebetulan.. Kalo gitu lu ada waktu sebentar buat kita dong!" sahut Syaiful.&lt;br /&gt;"Eh.. Buat apa?" tanyaku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum ada jawaban, aku telah dikagetkan oleh sepasang tangan yang memelukku dari belakang dan seperti sudah diberi aba-aba, Rois yang berdiri dekat tombol lift menekan sebuah tombol sehingga lift yang sedang menuju tingkat dua itu terhenti. Tas jinjingku sampai terlepas dari tanganku karena terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Heh.. Ngapain lu orang?" ujarku panik dengan sedikit rontaan.&lt;br /&gt;"Hehehe.. Ayolah Ci, having fun dikit kenapa? Stress kan, kuliah seharian gini!" ucap Adi yang mendekapku dengan nafas menderu.&lt;br /&gt;"Iya Ci, di sipil kan gersang cewek nih, jarang ada cewek kaya lo gini, lu bantu hibur kita dong" timpal Rois.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Srr.. Sesosok tangan menggerayang masuk ke dalam rok miniku. Aku tersentak ketika tangan itu menjamah pangkal pahaku lalu mulai menggosok-gosoknya dari luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eengghh.. Kurang ajar!" ujarku lemah. Aku sendiri sebenarnya menginginkannya, namun aku tetap berpura-pura jual mahal untuk menaikkan derajatku di depan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menyeringai mesum menikmati ekpresi wajahku yang telah terangsang. Rambutku yang dikuncir memudahkan Adi menciumi leher, telinga dan tengkukku dengan ganas sehingga birahiku naik dengan cepat. Rois yang tadinya cuma meremasi dadaku dari luar kini mulai menyingkap kaosku lalu cup bra-ku yang kanan dia turunkan, maka menyembullah payudara kananku yang nampak lebih mencuat karena masih disangga bra. Diletakkannya telapak tangannya di sana dan meremasnya pelan, kemudian kepalanya mulai merunduk dan lidahnya kurasakan menyentuh putingku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menyusu, tangannya aktif mengelusi paha mulusku. Tanpa kusadari, celana dalamku kini telah merosot hingga ke lutut, pantat dan kemaluanku terbuka sudah. Jari-jari Syaiful sudah memasuki vaginaku dan menggelitik bagian dalamnya. Tubuhku menggelinjang dan mendesah saat jarinya menemukan klitorisku dan menggesek-gesekkan jarinya pada daging kecil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasakan sensasi geli yang luar biasa sehingga pahaku merapat mengapit tangan Syaiful. Rasa geli itu juga kurasakan pada telingaku yang sedang dijilati Adi, hembusan nafasnya membuat bulu kudukku merinding. Tangannya menjalar ke dadaku dan mengeluarkan payudaraku yang satu lagi. Diremasinya payudara itu dan putingnya dipilin-pilin, kadang dipencet atau digesek-gesekkan dengan jarinya hingga menyebabkan benda itu semakin membengkak. Tubuhku serasa lemas tak berdaya, pasrah membiarkan mereka menjarah tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihatku semakin pasrah, mereka semakin menjadi-jadi. Kini Rois memagut bibirku, bibir tebal itu menyedot-nyedot bibirku yang mungil, lidahnya masuk ke mulutku dan menjilati rongga di dalamnya, kubalas dengan menggerakkan lidahku sehingga lidah kami saling jilat, saling hisap, sementara tangannya sudah meremas bongkahan pantatku, kadang jari-jarinya menekan anusku. Tonjolan keras di balik celana Adi terasa menekan pantatku. Secara refleks aku menggerakkan tanganku ke belakang dan meraba-raba tonjolan yang masih terbungkus celana itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Payudara kananku yang sudah ditinggalkan Rois jadi basah dan meninggalkan bekas gigitan kini beralih ke tangan Adi, dia kelihatan senang sekali memainkan putingku yang sensitif, setiap kali dia pencet benda itu dengan agak keras tubuhku menggelinjang disertai desahan. Si Syaiful malah sudah membuka celananya dan mengeluarkan penisnya yang sudah tegang. Masih sambil berciuman, kugerakkan mataku memperhatikan miliknya yang panjang dan berwarna gelap tapi diameternya tidak besar, ya sesuailah dengan badannya yang kerempeng itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diraihnya tanganku yang sedang meraba selangkangan Adi ke penisnya, kugenggam benda itu dan kurasakan getarannya, satu genggamanku tidak cukup menyelubungi benda itu, jadi ukurannya kira-kira dua genggaman tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini aja Ci, burung gua kedinginan nih, tolong hangatin dong!" pintanya.&lt;br /&gt;"Ahh.. Eemmhh!" desahku sambil mengambil udara begitu Rois melepas cumbuannya.&lt;br /&gt;"Gua juga mau dong, udah gak tahan nih!" ujar Rois sambil membuka celananya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wow, sepertinya dia memang ada darah Arab, soalnya ukurannya bisa dibilang menakjubkan, panjang sih tidak beda jauh dari Syaiful tapi yang ini lebih berurat dan lebar, dengan ujungnya yang disunat hingga menyerupai helm tentara. Jantungku jadi tambah berdegup membayangkan akan ditusuk olehnya, berani taruhan punya si Adi juga pasti kalah darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adi melepaskan dekapannya padaku untuk membuka celana, saat itu Rois menekan bahuku dan memintaku berlutut. Aku pun berlutut karena kakiku memang sudah lemas, kedua penis tersebut bagaikan pistol yang ditodongkan padaku, tidak.. bukan dua, sekarang malah tiga, karena Adi juga sudah mengeluarkan miliknya. Benar kan, milik Rois memang paling besar di antara ketiganya, disusul Adi yang lebih berisi daripada Syaiful. Mereka bertiga berdiri mengelilingiku dengan senjata yang mengarah ke wajahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo Ci, jilat, siapa dulu yang mau lu servis"&lt;br /&gt;"Yang gua aja dulu Ci, dijamin gue banget!"&lt;br /&gt;"Ini aja dulu Ci, gua punya lebih gede, pasti puas deh!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian mereka saling menawarkan penisnya untuk mendapat servis dariku seperti sedang kampanye saja, mereka menepuk-nepuk miliknya pada wajah, hidung, dan bibirku sampai aku kewalahan menentukan pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aduh.. Iya-iya sabar dong, semua pasti kebagian.. Kalo gini terus gua juga bingung dong!" kataku sewot sambil menepis senjata mereka dari mukaku.&lt;br /&gt;"Wah.. Marah nih, ya udah kita biarin Citra yang milih aja, demokratis kan?" kata Syaiful.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kutimbang-timbang, tangan kiriku meraih penis Syaiful dan yang kanan meraih milik Rois lalu memasukkannya pelan-pelan ke mulut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Weh.. Sialan lu, gua cuma kebagian tangannya aja!" gerutu Syaiful pada Rois yang hanya ditanggapinya dengan nyengir tanda kemenangan.&lt;br /&gt;"Wah gua kok gak diservis Ci, gimana sih!" Adi protes karena merasa diabaikan olehku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya bukan mengabaikan, tapi aku harus memakai tangan kananku untuk menuntun penis Rois ke mulutku, setelah itu barulah kugerakkan tanganku meraih penis Adi untuk menenangkannya. Kini tiga penis kukocok sekaligus, dua dengan tangan, satu dengan mulut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima belas menit lewat sudah, aku ganti mengoral Adi dan Rois kini menerima tanganku. Tak lama kemudian, Syaiful yang ingin mendapat kenikmatan lebih dalam melepaskan kocokanku dan pindah berlutut di belakangku. Kaitan bra-ku dibukanya sehingga bra tanpa tali pundak itu terlepas, begitu juga celana dalam hitamku yang masih tersangkut di kaki ditariknya lepas. Lima menit kemudian tangannya menggerayangi payudara dan vaginaku sambil menjilati leherku dengan lidahnya yang panas dan kasar. Pantatku dia angkat sedikit sampai agak menungging.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku menggeliat ketika kurasakan hangat pada liang vaginaku. Penis Syaiful telah menyentuh vaginaku yang basah, dia tidak memasukkan semuanya, cuma sebagian dari kepalanya saja yang digeseknya pada bibir vaginaku sehingga menimbulkan sensasi geli saat kepalanya menyentuh klitorisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uhh.. Nakal yah lu!" kataku sambil menengok ke belakang.&lt;br /&gt;"Aahh..!" jeritku kecil karena selesai berkata demikian Syaiful mendorong pinggulnya ke depan sampai penis itu amblas dalam vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tangan mencengkeram payudaraku, dia mulai menggenjot tubuhku, penisnya bergesekan dengan dinding vaginaku yang bergerinjal-gerinjal. Aku tidak bisa tidak mengerang setiap kali dia menyodokku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hei Ci, yang gua jangan ditinggalin nih" sahut Adi seraya menjejalkan penisnya ke mulutku sekaligus meredam eranganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku semakin bersemangat mengoral penis Adi sambil menikmati sodokan-sodokan Syaiful, penis itu kuhisap kuat, sesekali lidahku menjilati 'helm'nya. Jurusku ini membuat Adi blingsatan tak karuan sampai dia menekan-nekan kepalaku ke selangkangannya. Kocokanku terhadap Rois juga semakin dahsyat hingga desahan ketiga pria ini memenuhi ruangan lift.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik oralku dengan cepat mengirim Adi ke puncak, penisnya seperti membengkak dan berdenyut-denyut, dia mengerang dan meremas rambutku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh.. Anjing.. Ngecret nih gua!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muncratlah cairan kental itu di mulutku yang langsung kujilati dengan rakusnya. Keluarnya banyak sekali sehingga aku harus buru-buru menelannya agar tidak tumpah. Setelah lepas dari mulutku pun aku masih menjilati sisa sperma pada batangnya. Rois memintaku agar menurunkan frekuensi kocokanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gak usah buru-buru.." demikian katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cepetan Ful, kita juga mau ngerasain memeknya, kebelet nih!" kata Rois pada Syaiful.&lt;br /&gt;"Sabar jek.. Uuhh.. Nanggung dikit lagi.. Eemmhh!" jawab Syaiful dengan terengah-engah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Genjotan Syaiful semakin kencang, nafasnya pun semakin memburu menandakan bahwa dia akan orgasme. Kami mengatur tempo genjotan agar bisa keluar bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uhh.. Uhh.. Udah mau Ci, boleh di dalam gak?" tanyanya.&lt;br /&gt;"Jangan.. gue lagi subur.. Ah.. Aahh!!" desahku bersamaan dengan klimaks yang menerpa.&lt;br /&gt;"Hei, jangan sembarangan buang peju, ntar gua mana bisa jilatin memeknya!" tegur Adi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaiful menyusul tak sampai semenit kemudian dengan meremas kencang payudaraku hingga membuatku merintih, kemudian dia mencabut penisnya dan menumpahkan isinya ke punggungku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ok, next please" Syaiful mempersilakan giliran berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adi langsung menyambut tubuhku dan memapahku berdiri. Disandarkannya punggungku pada dinding lift lalu dia mencium bibirku dengan lembut sambil tangannya menelusuri lekuk-lekuk tubuhku, kami ber-french kiss dengan panasnya. Serangan Adi mulai turun ke payudaraku, tapi cuma dia kulum sebentar, lalu dia turun lagi hingga berjongkok di depan vaginaku. Gesper dan resleting rokku dia lucuti hingga rok itu merosot jatuh. Dia menatap dan mengendusi vaginaku yang tertutup rambut lebat itu, tangan kanannya mulai mengelusi kemaluanku sambil mengangkat paha kiriku ke bahunya. Jari-jarinya mengorek liang vaginaku hingga mengenai klitoris dan G-spotku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sshh.. Di.. Oohh.. Aahh!!" desisku sambil meremas rambutnya ketika lidahnya mulai menyentuh bibir vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengigit-gigit bibir menikmati jilatan Adi pada vaginaku, lidahnya bergerak-gerak seperti ular di dalam vaginaku, daging kecil sensitifku juga tidak luput dari sapuan lidah itu, kadang diselingi dengan hisapan. Hal ini membuat tubuhku menggeliat-geliat, mataku terpejam menghayati permainan ini. Tiba-tiba kurasakan sebuah gigitan pelan pada puting kiriku, mataku membuka dan menemukan kepala Syaiful sudah menempel di sana sedang mengenyot payudaraku. Rois berdiri di sebelah kananku sambil meremas payudaraku yang satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ci, toked lu gede banget sih, ukuran BH-nya berapa nih?" tanyanya.&lt;br /&gt;"Eenngghh.. Gua 34B.. Mmhh!" jawabku sambil mendesah.&lt;br /&gt;"Udah ada pacar lo Ci?" tanyanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya menggeleng dengan badan makin menggeliat karena saat itu lidah Adi dengan liar menyentil-nyentil klitorisku. Sensasi ini ditambah lagi dengan Rois yang menyapukan lidahnya yang tebal ke leher jenjangku dan mengelusi pantatku. Sebelum sempat mencapai klimaks, Adi berhenti menjilat vaginaku. Dia mulai berdiri dan menyuruh kedua temannya menyingkir dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Minggir dulu jek.. Gua mo nyoblos nih! Walah.. Nih toked jadi bau jigong lu gini Ful!" omelnya pada Syaiful yang hanya ditanggapi dengan seringainya yang mirip kuda nyengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paha kiriku diangkat hingga pinggang, lalu dia menempelkan kepala penisnya pada bibir vaginaku dan mendorongnya masuk perlahan-lahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ooh.. Di.. Aahh.. Ahh!" desahku dengan memeluk erat tubuhnya saat dia melakukan penetrasi.&lt;br /&gt;"Aakkhh.. Yahud banget memek lu Ci.. Seret-seret basah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Adi mulai memompa tubuhku, rasanya sungguh sulit dilukiskan. Penis kokoh itu menyodok-nyodokku dengan brutal sampai tubuhku terlonjak-lonjak, keringat yang bercucuran di tubuhku membasahi dinding lift di belakangku. Eranganku kadang teredam oleh lumatan bibirnya terhadapku. Senjatanya keluar-masuk berkali-kali hingga membuat mataku merem-melek merasakan sodokan yang nikmat itu. Aku pun ikut maju mundur merespons serangannya. Saat itu kedua temannya hanya menonton sambil memegangi senjata masing-masing, mereka juga menyoraki Adi yang sedang menggenjotku seolah memberi semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara dia berpacu di antara kedua pahaku, aku mulai merasakan klimaks yang akan kembali menerpa. Tubuhku bergetar hebat, pelukanku terhadapnya juga semakin erat. Akhirnya keluarlah desahan panjang dari mulutku bersamaan dengan melelehnya cairan kewanitaanku lebih banyak daripada sebelumnya. Namun dia masih bersemangat menggenjotku, bahkan bertambah kencang dan bertenaga, nafasnya yang menderu-deru menerpa wajahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uuhh.. Uuh.. Ci.. Yeeahh.. Hampir!" geramnya di dekat wajahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhnya berkelojotan diiringi desahan panjang, kemudian ditariknya penisnya lepas dari vaginaku dan menyemprotlah isinya di perutku. Dia pun lalu ambruk ke depanku sambil memagut bibirku mesra. Karena Adi melepaskan pegangannya terhadapku, pelan-pelan tubuhku merosot hingga terduduk bagai tak bertulang, begitu pun dengannya yang bersandar di lift dengan nafas ngos-ngosan. Aku meminta Syaiful mengambilkan tissue dari tasku, aku lalu menyeka keringat di keningku juga ceceran sperma pada perutku sambil menjilat jari-jariku untuk mendapatkan ceceran sperma itu. Hingga kini pakaian yang masih tersisa di tubuhku cuma sepatu dan kaos yang telah tergulung ke atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenggang waktu ke babak berikutnya kurang dari lima menit, Rois setelah meminta ijin dahulu, memegangi kedua pergelangan kakiku dan membentangkannya. Ditatapnya sebentar lubang merah merekah di tengah bulu-bulu hitam itu, kedua temannya juga ikut memandangi daerah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo dong.. Pada liatin apa sih, malu ah!" kataku dengan memalingkan muka karena merasa risi dipelototi bagian ituku, namun sesungguhnya aku malah menikmati menjadi objek seks mereka.&lt;br /&gt;"Hehehe.. Malu apa mau nih!" ujar Syaiful yang berjongkok di sebelahku sambil mencubit putingku.&lt;br /&gt;"Lu udah gak virgin sejak kapan Ci? Kok memeknya masih OK?" tanya Rois sambil menatap liang itu lebih dekat.&lt;br /&gt;"Enam belas, waktu SMA dulu" jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami ngobrol-ngobrol sejenak diselingi senda gurau hingga akhirnya aku meminta lagi karena gairahku sudah kembali, ini dipercepat oleh tangan-tangan mereka yang selalu merangsang titik-titik sensitifku. Rois menarikku sedikit ke depan mendekatkan penisnya pada vaginaku lalu mengarahkan benda itu pada sasarannya. Uuh.. Vaginaku benar-benar terasa sesak dan penuh dijejali oleh penisnya yang perkasa itu. Cairan vaginaku melicinkan jalan masuk baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aa.. aadduhh, pelan-pelan dong!" aku mendesah lirih sewaktu Rois mendorong agak kasar. Sambil menggeram-geram, dia memasukkan penisnya sedikit demi sedikit hingga terbenam seluruhnya dalam vaginaku.&lt;br /&gt;"Eengghh.. Ketat abis, memek Cina emang sipp!" ceracaunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menggenjot tubuhku dengan liar, semakin tinggi tempo permainannya, semakin aku dibuatnya kesetanan. Sementara Syaiful sedang asyik bertukar ludah denganku, lidahku saling jilat dengan lidahnya yang ditindik, tanganku menggenggam penisnya dan mengocoknya. Sebuah tangan meraih payudaraku dan meremasnya lembut, ternyata si Adi yang berlutut di sebelahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bersihin dong Ci, masih ada sisa tadi!" pintanya dengan menyodorkan penisnya ke mulutku saat mulut Syaiful berpindah ke leherku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serta merta kuraih penis itu, hhmm, masih lengket-lengket bekas persenggamaan barusan, kupakai lidahku menyapu batangnya, setelah beberapa jilatan baru kumasukkan ke mulut, aku dapat melihat ekspresi kenikmatan pada wajahnya akibat teknik oralku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, Syaiful berkelojotan dan bergumam tak jelas, sepertinya dia akan klimaks. Melihat reaksinya kupercepat kocokanku hingga akhirnya cret.. cret.. Spermanya berhamburan mendarat di sekitar dada dan perutku, tanganku juga jadi belepotan cairan seperti susu kental itu. Saat itu aku masih menikmati sodokan Rois sambil mengulum penis Adi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Adi mengajak berganti posisi, aku dimintanya berposisi doggy, Rois dari belakang kembali menusuk vaginaku dan dari depanku Adi menjejalkan penisnya ke mulutku. Kulumanku membuat Adi berkelojotan sambil meremas-remas rambutku sampai ikat rambutku terlepas dan terurailah rambutku yang sebahu itu. Penis itu bergerak keluar-masuk semakin cepat karena vaginaku juga sudah basah sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sampai sepuluh menit kemudian muncratlah sperma Adi memenuhi mulutku, karena saat itu genjotan Rois bertambah ganas, hisapanku sedikit buyar sehingga cairan itu tumpah sebagian meleleh di pinggir bibirku. Setelah Adi melepas penisnya, aku bisa lebih fokus melayani Rois, aku ikut menggoyang pinggulku sehingga sodokannya lebih dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunyi 'plok-plok-plok' terdengar dari hentakan selangkangan Rois dengan pantatku. Mulutku terus mengeluarkan desahan-desahan nikmat, sampai beberapa menit kemudian tubuhku mengejang hebat yang menandakan orgasmeku. Kepalaku menengadah dan mataku membeliak-beliak, sungguh fantastis kenikmatan yang diberikan olehnya. Kontraksi otot-otot kemaluanku sewaktu orgasme membuatnya merasa nikmat juga karena otot-otot itu semakin menghimpit penisnya, hal ini menyebabkan goyangannya semakin liar dan mempercepat orgasmenya. Dia mendengus-dengus berkelojotan lalu tangannya menarik rambutku sambil mencabut penisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aduh-duh, sakit.. Mau ngapain sih?" rintihku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tarik rambutku hingga aku berlutut dan disuruhnya aku membuka mulut. Di depan wajahku dia kocok penisnya yang langsung menyemburkan lahar putih. Semprotan itu membasahi wajahku sekaligus memenuhi mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gila, banyak amat sih, sampai basah gini gua!" kataku sambil menjilati penisnya melakukan cleaning service.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menuntaskan hasrat, Rois melepaskanku dan mundur terhuyung-huyung sampai bersandar di pintu lift dimana tubuhnya merosot turun hingga terduduk lemas. Dengan sisa-sisa tenaga aku menyeret tubuhku ke tembok lift agar bisa duduk bersandar. Suasana di dalam lift jadi panas dan pengap setelah terjadi pergulatan seru barusan. Aku mengatur kembali nafasku yang putus-putus sambil menjilati sperma yang masih belepotan di sekitar mulut, aku bisa merasakan lendir hangat yang masih mengalir di selangkanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adi sudah memakai kembali celananya tapi masih terduduk lemas, dia mengeluarkan sebotol aqua dari tas lusuhnya, Syaiful sedang berjongkok sambil menghisap rokok, dia belum memakai celananya sehingga batang kemaluannya yang mulai layu itu dapat terlihat olehku, Rois masih ngos-ngosan dan meminta Adi membagi minumannya. Setelah minum beberapa teguk, Rois menawarkan botol itu padaku yang juga langsung kuraih dan kuminum. Kuteteskan beberapa tetes air pada tissue untuk melap wajahku yang belepotan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami ngobrol-ngobrol ringan dan bertukar nomor HP sambil memulihkan tenaga. Aku mulai memunguti pakaianku yang tercecer. Setelah berpakaian lengkap dan mengucir kembali rambutku, kami bersiap-siap pulang. Adi menekan tombol lift dan lift kembali meluncur ke bawah. Lantai dasar sudah sepi dan gelap, jam sudah hampir menunjukkan pukul tujuh. Lega rasanya bisa menghirup udara segar lagi setelah keluar gedung ini, kami pun berpisah di depan gedung sipil, mereka keluar lewat gerbang samping dan aku ke tempat parkir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan pulang, aku tersenyum-senyum sendiri sambil mendengar alunan musik dari CD-player di mobilku, masih terngiang-ngiang di kepalaku kegilaan yang baru saja terjadi di lift kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon maaf atas menghilangnya milis yahooku karena dihack seseorang, selain itu aku sendiri sudah lulus dan bekerja sehingga tidak punya banyak waktu untuk mengurus milis itu. Bisa menuangkan pengalamanku ke dalam tulisan saja sudah cukup menyibukkanku dan biasa kulakukan kalau ada waktu senggang di kantor, jadi harap maklum pada penggemar cerita-ceritaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E N D&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6182626498548124474-7139138011085077005?l=17tahunporno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://17tahunporno.blogspot.com/feeds/7139138011085077005/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6182626498548124474&amp;postID=7139138011085077005' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6182626498548124474/posts/default/7139138011085077005'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6182626498548124474/posts/default/7139138011085077005'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://17tahunporno.blogspot.com/2007/11/andani-citra-kegilaan-di-lift-kampus.html' title='Andani Citra: Kegilaan di Lift Kampus'/><author><name>ishadow76</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6182626498548124474.post-5770835246463323328</id><published>2007-11-30T03:39:00.000-08:00</published><updated>2007-12-10T15:50:04.676-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pesta sex'/><title type='text'>Mbak Is Guruku</title><content type='html'>Teman-teman akrabku waktu SMP hilang semua sewaktu aku masuk SMA. Karena hanya aku saja yang masuk di sekolah negri, teman yang lainnya masuk sekolah swasta. Bukannya sombong, aku termasuk orang yang punya otak lumayan juga. Di dalam komplotanku, aku termasuk anak yang sulit bergaul dengan lingkungan yang tidak sejalan dengan kemauan sendiri. Tapi jangan dikira aku anak yang nakal, justru kebalikannya, tidak suka berkelahi atau membuat keributan. Keras kepala memang, tapi tidak suka memaksakan kehendak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini yang menyebabkan aku dan komplotanku yang sepaham memilih keluar dari kepengurusan organisasi sekolah, dan membuat kegiatan sendiri (mading). Kami menjadi apriori terhadap organisasi sampai sekarang, karena setiap kegiatan organisasi sering dijadikan acara pacaran pengurusnya dan tidak untuk menjalankan program kerja. Dan mading buatan kami selalu ditunggu-tunggu semua siswa, karena menurut mereka sangat menarik dibandingkan dengan yang lainnya. Inilah yang membuatku merasa sendiri di lingkungan yang baru, yang mana mengharuskanku memakai celana panjang (biasanya pakai celana pendek tanpa underwear). Sangat risih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada satu sisi yang harus kusadari, aku harus dapat unjuk diri. Toh anak-anak yang satu SMP dulu masuk sekolah ini juga kehilangan teman-temannya yang diandalkan untuk jadi tukang pukul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pertama masuk penataran (perlu diingat, saat ini masih masa orde baru) kami diperkenalkan kepada guru-guru PPL yang berjumlah sekitar 9 orang. Ada satu PPL wanita yang menarik, Is namanya. Body-nya biasa saja, tidak pendek tapi tidak dapat dibilang tinggi. Penampilannya anggun. Suaranya aku suka, jernih dan merdu kalau menyanyi. Yang tidak kusuka adalah penampilannya yang lainnya, yaitu terlalu menor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pertama itu aku langsung dihukum Bu Is (guru PPL), karena melanggar ketertiban sewaktu diskusi. Gila, disuruh berdiri di depan kelas, mana aku tidak pakai celana dalam lagi. Aku harus berdiri di sebelah kursinya, dan secara tidak langsung aku diharuskan melihat pahanya yang mulus itu dengan rok yang kalau dia duduk terangkat sampai sebatas lutut. Apalagi dengan posisiku yang disuruh berdiri, dengan tinggi badan 170 cm akan dapat melihat dengan jelas garis belahan dadanya dari atas sewaktu dia duduk. Ala maak.. serba salah rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi sewaktu dia mengambil bollpoin-nya yang jatuh, sehabis menunduk dan mau mengambil posisi tegak lagi, kibasan pakaian bagian dada yang memang agak rendah, memperlihatkan dengan jelas buah dadanya di balik BH dengan kain cup yang tipis dan tidak begitu luas. Sehingga banyak area payudaranya yang sempat kulihat. Kencang.. mulus.. dan transparansi daerah puncaknya yang warnanya terlihat lebih tua dibandingkan kulit dadanya. Adik kecilku menggeliat dan kucoba untuk menahan gejolak, agar tidak bergerak kemana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu tetep berdiri di situ. Dan yang lain.., jangan dicontoh teman kalian ini." kata Bu Is.&lt;br /&gt;Teman-teman pada tertawa riuh mendengarnya. Wah.. seram juga orang ini. Tidak disangka deh kalau orang secantik dia bisa marah. Dengan mata yang memelototiku, aku merasa menjadi aneh. Tidak seperti biasanya kalau orang dimarahi ketakutkan, aku malah sedikit melamun seolah ingin mendekapnya dengan kencang dan menengadahkan wajahnya untuk melumat bibirnya yang merah dan menikmati matanya yang walaupun melotot karena marah menjadi sangat indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun aku belum pernah merasakan ciuman, tapi aku dapat merasakan nikmatnya seperti yang pernah kulihat di Video porno (Di desa anak-anak memutar BF ramai-ramai kalau salah satu dari mereka yang punya video kebetulan orangtuanya lagi tidak ada. Walaupun desa, yang namanya video waktu itu bukan barang mewah, karena kebanyakan orangtua mereka pernah menjadi TKI dan membeli videonya dari sana).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak tersadar setelah terasa ada sesuatu yang menyentuh adik kecilku. Aku jadi sangat gugup. Tapi ada perubahan sikap pada Bu Is, jadi lebih lembut dan menyapa dengan manja kepadaku seolah tak percaya.&lt;br /&gt;"Kamu bisa mainin gitarya..? Sudah kamu main gitar sambil kita sama-sama nyanyi lagu daerah.." katanya sambil menyorongkan gitar di depanku dan menyenggol adik kecilku.&lt;br /&gt;Teman-teman satu kelas pada tertawa riuh. Aku jadi sadar teman-teman tadi mentertawaiku karena batang kemaluanku menyembul dan bergerak liar di balik celana abu-abuku. Aduh.., wajahku terasa panas dan malu. Untung saja gitar itu langsung kusambar dan siap-siap mau memainkan, sekalian untuk menekan batang kemaluanku yang gerakannya semakin liar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi pada posisi ini sangat tidak enak untuk main gitar, karena posisi gitar terlalu ke bawah, yang semestinya pada posisi perut untuk main gitar dengan berdiri. Aku ambil keputusan turun dari lantai depan papan tulis yang memang lebih tinggi 20 cm dari lantai bawah bangku. Aku duduk di atas bangku temanku terdepan. Tapi Bu Is lihat tidak yaa.. tadi. Ah semoga tidak melihat. Ahh.. EGP! Dan akhirnya kami pun bernyanyi bersama-sama, dan dari sini saya tahu kalau dia suaranya boleh juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak peristiwa itu aku jadi sangat akrab dengan Bu Is yang kalau di luar sekolah biasa kupanggil Mbak Is. Aku sering main ke tempat kost-nya yang tidak begitu jauh dari tempatku, dan kebetulan dia kontrak satu rumah dengan teman-teman angkatannya. Tidak ada yang namanya ibu kos di tempatnya, sehingga tempatnya sering jadi tempat main teman-temanku, baik sore maupun malam hari. Dan aku sering ke sana untuk main gitar dengan mas-mas dan mbak-mbak PPL. Apalagi dia yang mau bisa main gitar (dengan alasan biar kalau ingin menyanyi bisa main gitar sendiri) tidak mau diajarikan siapa-siapa selain aku. Padahal aku tidak seberapa mahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku suka. Dia manja, dan kalau memanggilku dengan panggilan 'sayang' kalau sedang di luar sekolahan. Aku tidak berpikir yang macam-macam, toh teman-teman satu kontrakannya juga tidak ada yang berpiikir macam-macam padaku. Dan aku tahu salah satu teman PPL-nya ada yang naksir sama dia, dan dia (temannya yang naksir itu) tidak akan pernah cemburu padaku, walaupun untuk anak SMA dengan tinggi badan 170, aku masih terlihat seperti anak kecil, apalagi aku kalau memanggil Bu Is dengan sebutan 'mbak'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keakraban kami tidak hanya di luar sekolah. Kebetulan dia pegang mata pelajaran Kimia. Salah satu pelajaran yang paling aku tidak suka. Sewaktu aku keluar kelas dan mau ke kamar kecil dan melewati ruang guru, aku dipanggil.&lt;br /&gt;"Dy.. sini..!" katanya.&lt;br /&gt;Wah.., dia pakai blus dengan potongan leher yang pendek lagi, (bajunya banyak yang model gitu kali) dan dibalut jas almamaternya dengan kancing yang terbuka semua, juga masih dengan model rok yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa..?" jawabku.&lt;br /&gt;Aku ditarik masuk ke ruang guru. Sepi tidak ada satu orang pun. Aku dibimbingnya berjalan menuju satu meja dan berdiri menempel ke bibir meja. Dia berdiri di belakangku dengan tangan kirinya menopang meja sebelah kiri merapat ke pahaku, dan tangan kanannya bergerak di kanan badanku mengambil lembaran kertas buram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Besok aku mau ngadain ulangan. Ini soalnya, kamu baca dan kamu pelajari..!" katanya.&lt;br /&gt;Aku terdiam. Posisiku sangat tidak enak, aku ditekan dari belakang, badannya agak miring ke kanan dengan tangan yang terus corat-coret di kertas buram. Pantatku yang tidak seberapa besar menempel ketat di sekitar daerah pusarnya. Tetapi punggungku terasa ada sesuatu yang asing menempel hangat dan empuk (maklum, sebelumnya aku tidak pernah merasakannya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap dia menerangkan dengan mencorat-coret kertas, badannya bergerak ke kanan dan ke kiri dengan tekanan-tekanan. Membuat punggungku terasa ada tekanan sensasi nikmat yang berputar-putar. Batang kemaluanku langsung bergerak. Edan..! Aku tidak memakai celana dalam. Dia terus menerangkan dengan antusias. Bau parfumnya halus sekali. Aku jadi kelimpungan, dia terus menekan-nekan punggungku dengan dadanya. Kadang-kadang aku juga merasakan pantatnya sering digeser-geser untuk menekan pangkal atas pahanya ke pantatku dengan sedikit menjinjingkan kaki, walau dia pakai sepatu hak tinggi. Hangat sekali rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berkeringat dan tidak dapat berpikir jernih. Dia terus saja menerangkan. Setiap selesai menerangkan satu bahasan soal, dia memandangku sambil menekan lebih keras badannya ke punggungku, bahkan terasa dia merangkulku dengan satu tangan kirinya yang ditempel dan ditekan keras ke pahaku. Jari-jarinya sedikit menyentuh batang kemaluanku. Ah.., makin lain saja rasanya. Satu sisi aku takut kalau dia tahu ada yang tidak beres dan memalukan pada diriku, karena sangat-sangat jelas batang kemaluanku menyodok kain celanaku hingga membentuk gundukan yang tidak wajar pada pangkal paha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergerak-gerak lagi. Wah aku rasa denyutannya semakin kencang sampai aku tidak dapat mengontrol perasaanku, badanku terasa tidak menginjak lantai. Apalagi bila dia menatapku dengan pertannyaan, "Sudah mengerti..?" dengan sedikit mendenguskan nafasnya ke arah dadaku.Terasa hangat. Dan tangan kiri yang yang menempel ketat di pahaku dengan jari-jari yang kadang seolah-olah mau mengelus tonjolan batangan kemaluanku di balik celana seragam. Ah.. aku rasa dia tahu dan mengerti perubahan keadaanku. Aduh aku tidak dapat mengontrol diri lagi, aku sudah tidak dapat merasakan denyutan batang kemaluanku, rasanya tegang sekali dan seolah-olah mau pecah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagiu ketika dengan sedikit disengaja (mungkin), posisi kuku jari tengahnya menempel tepat di tonjolan celana dan pada area kepala batang kemaluanku. Digaruknya pelan dan lembut. Saat itu aku langsung tegang dan seolah-olah ada suatu yang menjalar pada tubuhku, persendian terasa lepas dengan keringat dingin sedikit membasahi punggungku yang panas, juga pangkal pahanya dan pahaku yang semakin terjepit ke bibir meja. Mbak Is terasa mamaksa merangkulku dengan tangan kanan yang tadi memegang pen, dilepas dan mencengkeram tanganku. Dan tangan kirinya langsung saja ditekan dan digesek-gesekkan dengan cepat di tonjolan celanaku. Seolah-olah ada keraguan untuk meremas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam dan sedikit mengeluh, dia pun begitu. Terasa ada yang hangat dan basah pada celanaku, perih juga rasanya lubang kepala batang kemaluanku. Mbak Is berjingkat sambil melihat telapak tangannya yang basah. Setengah sadar kutarik nafas dan bergerak menghindar dan berusaha keluar ruang guru dengan tubuh terasa melayang tanpa menoleh memperhatikannya lagi. Tidak tahu apa perasaanku waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku keluar dulu. Biar kupanggil Eko untuk lihat soal itu.." kataku.&lt;br /&gt;"Dy.. kamu bawa saja..! Nanti malam kembalikan di tempatku..!" potongnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak memperhatikannya, dan mengurungkan niat kembali ke kelas untuk memanggil Eko agar membaca soal itu juga. Aku tidak balik masuk ke dalam ruangan untuk mengambil kertas soal, tetapi langsung ke kamar kecil. Langsung kubuka celana dan menarik batang kemaluan yang masih keras dan berdenyut-denyut dengan berirama. Ada cairan putih kental membasahi kain dalam celanaku dan tembus keluar. Aku langsung berusaha konsentrasi buang air kecil. Rasanya sulit, perih dan panas sekali. Lama aku berusaha mengeluarkannya, dan akhirnya keluar juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduuhh.. periihh.., dan saluran airnya terasa panas sekali. Benar, terasa kebakar. Selesai keluar habis, panasnya tidak hilang. Aku berusaha tenang dengan merendam kepala batang kemaluanku ke dalam gayung berisi air penuh. Masih saja terasa panas, padahal airnya dingin. Kudiamkan saja, toh dengan situasi seperti ini aku tidak enak untuk masuk kelas. Apalagi batang kemaluan ini kalau lagi bangun keras sekali, pasti deh bikin tonjolan keluar. Sebenarnya ukuran punyaku lebih kecil dari punya teman-temanku di kampung, sekitar 14,5 cm dengan lingkar 12 cm saja, bengkok ke kanan lagi. Ini aku tahu karena seringnya aku main dan berenang bersama mereka. Aku pun menunggu sampai semua beres, walau sampai bel istirahat. Tidak apa-apa, sekalian bolos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya dalam mata pelajaranya saja dia membantu. Pada saat ujian matematika pun, walau dia mengajar di kelas sebelah, selalu dia sempatkan menengokku dan membantu menyelesaikan tugas dengan memberikan jawaban pada selembar tissue. Dan tidak ada yang tahu selain teman sebangku aku. Teman sebangkuku ini sangat akrab denganku. Dengannya pula aku membangun komplotan (Kami sebut komplotan karena selalu oposisi pada organisasi sekolah) bersama seorang anak yang kami tuakan, Avin namanya. Dia tinggal kelas, sebenarnya tidak nakal (nakal menurutku = suka berkelahi). Komplotan kami sebenarnya tidak takut berkelahi, tetapi kalau ada yang 'jadi', kami juga tidak takut 'beli'. Nanti ada ceritanya. Mungkin kalau menurut bahasa anak sekarang 'cool'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dia juga, ada rencana mengajak kumpul malam minggu di pantai dengan Mbak Is dan teman-temannya yang lain. Sambil bakar jagung dan nyanyi-nyanyi, PPL semuanya pada ikut. Kami bikin acara api unggun, ngomong ngalor-ngidul, nyanyi-nyanyi dan main gitar. Dan dimana ada aku, di situ Mbak Is selalu ada. Walau disana ada temannya yang naksir dia, sikapnya biasa saja. Dan kami sering berangkulan bertiga dengan Mas Itok (PPL Bhs. Inggris). Mas Itok pun tidak pernah curiga denganku. Dia mengerti kalau Is itu manja, anak bungsu (tidak punya adik dong) dan dia menganggap aku ini adiknya. Tetapi kalau ada apa-apa, Mbak Is pasti merangkulku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi tidak enak juga lama-lama. Padahal tubuhku biasa saja, cenderung kurus. Jika dibandingkan dengan Mas Itok yang walaupun lebih pendek dariku, tetapi dia dapat dikatakan memiliki bentuk tubuh yang atletis. Kulitnya sedikit gelap dibandingkan dengan kulit Mbak Is yang kuning langsat 'cerah', kulit orang jawa yang bersih terawat dengan payudara yang walau dari luar kelihatan biasa saja tapi kalau dilihat benar-benar lumayan besar. Mungkin satu genggaman tangan lebih sedikit, kencang lagi. Toh aku pernah secara tidak sengaja juga pernah melihat dan merasakan gesekan-gesekan di punggungku, jadi aku dapat mengira-ngira berapa ukurannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tambah tidak mengerti sewaktu Mbak Is tidak mau diajak pulang sama Mas Itok, karena alasan sudah dini hari. Akhirnya ditinggal pulang juga, karena disitu toh ada aku. Dan Mbak Is semakin tidak kumengerti. Dia semakin erat saja memelukku pada posisi berbantal di pahaku dengan wajah dibenamkan dekat selangkangan. Tangannya melingkar di punggungku. Aku takut batang kemaluanku akan bergerak-gerak lagi. Memang sudah dari tadi terasa sudah tegang sekali karena terangsang bergesakan badan terus dengannya. Apalagi sekarang wajahnya dibenamkan ke selangkanganku dengan hembusan nafasnya yang tidak teratur dan hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah tidak bisa dicegah lagi, batang kemaluanku terasa berontak dan langsung menonjol membetuk gundukan hebat di balik celana menekan wajahnya. Kepalang basah dan tidak dapat dicegah lagi. Sudah hilang rasa maluku, dan seopertinya dia yang sengaja demikian. Tapi aku tidak mengerti, aku harus bagaimana. Wajahnya malah seolah-olah digesek-gesekkan dan ditekan ke selangkanganku. Dan pelukannya ke punggung malah semakin kencang saja. Posisiku yang duduk dengan satu kaki bersila dan satunya lagi selonjoran di tanah menyulitkanku untuk bergerak bebas. Ditambah lagi ketidakberanianku untuk.. Ah ngaco.., Avin yang sedari tadi memperhatikanku mendekat mengendap-endap di hadapanku. Kasih kode yang tidak kumengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Is semakin tidak karuan saja, sekarang dia malah seolah-olah mau menggigit batang kemaluanku yang menyembul menekan celana. Avin masih pada tempatnya dengan tangan dan mulut bergerak-gerak tapi tidak kumengerti maksudnya. Aku sekarang semakin terasa sakit karena Mbak Is telah benar-benar menggigit batang kemaluanku, dan tangannya yang melingkar di punggungku dilepaskan satu untuk memegang tonjolan itu. Aku meringis menahan nikmat, geli, sakit.. tidak karuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang tangan yang satunya malah dilepaskan dari pinggang dan kedua-duanya memegang batanganku, lalu berusaha membuka resletingku. Aku semakin gemetaran saja. Begitu celana terbuka batanganku terasa melompat keluar, dan dia langsung saja nyosor mengulumnya. Nafasnya semakin tidak beraturan. Aku merasa kegerahan. Dia langsung merubah posisi jongkok sambil membenamkan wajahnya mengulum habis batangan. Tanganku dibimbingnya menyentuh buah dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dy.. pegang ini sayang.. remaass.. sayaangg.. ngg.. sstt.. nikmat sayangg.. sstt.."&lt;br /&gt;Tanganku gemetaran dan langsung kuremas keras-keras. Langsung kutarik ke bawah BH tipisnya, tapi tetap tidak bisa. Hanya sedikit yang menyembul keluar, aku kesulitan menjamahnya. Tangan Mbak Is langsung menyusup ke dadanya sendiri. Ternyata melepas kaitan BH-nya. Aku tidak ngerti kalau kaitan itu ada di depan, dan kalau toh tahu belum tentu aku dapat melepaskan kaitan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang buah dadanya menggantung bebas dan aku jadi leluasa meremasnya. Rasanya aneh.. empuk, padat, hangat.. belum pernah aku merasakan sensasi seperti ini. Batang kemaluan disedot-sedot.. nikmat, dan aku meremas-remas buah dadanya yang kenyal dan asing rasanya. Seumur-umur belum pernah aku merasakan meremas buah dada wanita. Apalagi dengan batang kemaluanku dihisap-hisap. Avin merayap dan mendekat. Lewat kode-kodenya aku jadi mengerti kalau aku disuruhnya meletakkan tanganku pada pantat Mbak Is yang nungging itu. Kuelus-elus pantat yang tak begitu besar tapi padat itu. Sekonyong-konyong tangan Mbak Is membuka reitsletingnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sini sayangg.. masukkan sini sayaangg.."&lt;br /&gt;Aku selusupkan tangan kananku masuk ke dalam celananya. Kuraba-raba sampai ke selangkangannya yang paling sempit. Aku tidak menemukan apa yang ingin kucari. Kecuali ada sedikit daging yang membukit dan hangat rasanya. Tangan kiriku yang dari tadi bebas tanpa aktifitas kini kualihkan untuk menarik celananya agar lebih turun ke bawah dan aku jadi lebih bebas bergerak meraba-raba selangkangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia semakin liar saja menghisap batang kemaluanku sampai pada pangkal bawah dekat telur puyuh. Dijilatnya penuh nikmat. Dan celananya sudah turun sampai atas lututnya, dan dia berusaha mengangkangkan kakinya, tetapi tidak dapat karena tertahan lingkar pinggang celananya. Tetapi sedikit lumayan, aku dapat menemukan gundukan daging di selangkangan yang sudah basah. Coba kutekan-tekan sedikit, sepertinya bisa cekung ke bawah. Dia semakin mendesis-desis tidak karuan. Avin sudah dekat. Aku diam saja sewaktu tangan Avin mencoba menyusup ke balik celana dalam Mbak Is yang tipis dan berwarna pink itu. Avin mengulurkan telunjuknya dan menyusupkannya, lalu menekannya dan masuk setengah jari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aduhh.. ssaayangg.. eehhmm.. terruuss.. sayaangg.. ngg.. aakkhh.. teerruuss.. ss.." erangannya menjadi-jadi.&lt;br /&gt;Aku jadi mengerti kalau lubang itu mungkin yang disebut vagina, lubang kewanitaan yang bisa untuk hubungan seks. Langsung saja kumasukkan satu jariku mengikuti jari Avin yang sudah masuk ke dalam.&lt;br /&gt;"Aaauugghh.. hh.." Mbak Is tersedak menghisap batangku sewaktu jariku dan jari Avin masuk bersamaan di lubangnya.&lt;br /&gt;Jari-jari tangannya mencengkeram keras di batangku dengan kuku-kukunya yang panjang terawat menancap daerah sekitar kemaluanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aaauu.. sakiit..!" aku menjerit.&lt;br /&gt;Mbak Is langsung mau bangun, tapi tanganku yang kiri langsung membenamkan kepalanya lagi untuk menghisap batang kemaluanku. Aku takut nanti Mbak Is tahu kalau Avin yang menusuk kemaluannya dengan jari.&lt;br /&gt;"Ssudaahh.. Dy.. akuu.. nggaak.. kuaatthh.. llhheebb.. bbeebb.."&lt;br /&gt;Aku semakin kasar saja bertindak dengan membenamkan wajahnya, dan dia tersedak lagi. Aku merasa batang kemaluanku sampai menyentuh pintu tenggorokannya. Dan dia batuk-batuk, tapi masih saja menghisap batang kemaluanku sambil menangis mengiba-iba nikmat dan tidak jelas apa yang diucapkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekonyong-konyong Avin sudah memelorotkan celananya dengan setengah berdiri bertumpu pada lutut, siap mengeluarkan batang kemaluannya sendiri sambil merapatkan satu jari telunjuk pada bibirnya, menyuruh aku untuk diam saja. Kubantu Avin menurunkan CD Mbak Is yang basah membentuk lintangan panjang oleh lendir. Kini aku dapat melihat dengan jelas. Disitu ada bulu-bulu yang tidak begitu lebat bila dibandingkan punyaku dan Avin. Belahan pantatnya begitu sempurna. Padat, kenyal, bersih dan tidak ada perbedaan warna seperti punya teman-teman yang biasa kutahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Is mengerang sewaktu aku berusaha membantu Avin melepas celana panjang dan CD Mbak Is biar berada lepas dari lututnya, sehingga kakinya dapat lebih lebar mengangkang. Avin mencoba menggeser penisnya pelan-pelan ke mulut lubang Mbak Is. Terlihat mengkilat kepala penis Avin oleh lendir Mbak Is yang terkena terpaan cahaya bulan malam itu. Pelan-pelan disodoknya masuk ke dalam.&lt;br /&gt;"Bblleebb ss.. sstt.. niikmaatt.. shaayyaangg.. aauughh.." erangnya tanpa tahu penis orang lain yang menusuk vaginanya.&lt;br /&gt;"Aughh.. terruusshh.. sshh.. sshh.. saayyaangg.. teruss.. shh.. sshh.. sshaayyangg.. shh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepalanya digoyang-goyang keras ke kiri dan ke kanan tanpa mau melepas batang kemaluanku dengan cengkeraman kuku tangannya yang menghujam panas di selangkanganku.&lt;br /&gt;"Aauu..!" jeritku tertahan.&lt;br /&gt;Kutarik tangannya dari kemaluanku, tapi tanganku malah dipegangnya dan diarahkan ke dadanya. Kuremas habis payudaranya yang kenyal, kupelintir putingnya yang kecil dan lancip. Daging yang tadi menggelatung bebas kini kuremas dan kupelintir dengan kedua tanganku. Gelengan kepalanya ke kiri dan ke kanan semakin keras, kadang-kadang kepalanya dibentur-benturkan ke selangkanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafasnya memburu dengan desisan yang tidak menentu. Punggungnya ditekan lebih ke bawah dan payudaranya hampir menyentuh rumput-rumput tanah. Tanganku jadi tidak hanya memelintir dan meremas payudaranya saja, tetapi juga menahan tubuhnya. Kepalanya sedikit mendongak ke atas dengan rambut yang semakin awut-awutan menutupi wajahnya dan mulutnya menganga lebar merasa kenikmatan yang tidak kumengerti seberapa dahsyat yang Mbak Is dapat dari sodokan penis Avin dengan ukuran yang lebih pendek dari punyaku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi dia ini menyebabkan pantat Mbak Is semakin menungging terangkat ke atas. Bertambah indah, aku kagum melihat bentuknya, walaupun tidak begitu besar tapi didukung perutnya yang kecil, apik, jadi terkesan berbody gitar. Suara-suara cepakan pantat yang beradu dengan pangkal paha seolah tidak dihiraukan oleh Mbak Is. Dia mengerang dan goyangan pinggulnya semakin hebat. Desisan nafasnya semakin cepat dan dia semakin kuat mencengkeram kemaluanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahap berikutnya seolah dia tegang luar biasa, menjerit kecil.&lt;br /&gt;"Aacckhh.. aahh.. cceeptt.. shhaayyaang..!" badannya sedikit mengejang dan tiba-tiba dikulum dan dihisapnya lagi batangku yang tadi hanya dicengkeram saja.&lt;br /&gt;Aku semakin terhanyut iramanya, kuremas-remas payudaranya dengan kuat. Sekonyong-konyong ada rasa yang menjalar kuat pada saluran batangku. Mbak Is tanpa kuduga menggigit dengan kuat batangku yang keras itu diikuti sentakan yang cepat dan kuat pada pantatnya yang beradu dengan perut Avin dengan vagina yang masih disodok-sodok penis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aakkhh..!" aku menjerit panjang dan lirih, merasa sakit dan nikmat.&lt;br /&gt;Ada rambatan aneh pada saluran kemaluanku. Rasanya tulang-tulangku copot dari persendian dan saraf-sarafku terasa kendor setelah ketegangan luar biasa dan lama yang kurasakan. Aku jatuh rebah telentang setelah sekian lama bertahan pada posisi duduk. Batang kemaluanku terasa memuntahkan muatannya yang dari tadi tertahan oleh ketidaktahuanku akan seks. Terasa hangat membanjiri rongga mulut Mbak Is dan langsung ditelannya. Karena saking banyaknya yang kukeluarkan dan dia sendiri habis mengalami sentakan hebat dan lemas, sampai dia terbatuk-batuk tersedak air maniku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Is mencoba bangun, terkejut dan mau menjerit ketika dia sadar masih ada sesuatu yang menusuk-nusuk kemaluannya, sementara posisiku melintang dari tubuhnya. Avin cepat-cepat membekap mulutnya dari belakang, dan aku coba membantu Avin dengan memeluk tubuh Mbak Is. Mbak is manangis hebat, wajahnya dibenamkan ke pundakku. Aku merasa sodokan-sodokan hebat dari tubuh Mbak Is karena digenjot Avin dari belakang. Avin mengerang dengan tubuh yang sedikit gemeter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aaakkhh.. Iiisshh.. Aaakkhh.. sshhuddaakhh.. hh.." dia mengerang dengan menancapkan habis-habis punyanya ke dalam vagina Mbak Is yang sudah basah itu.&lt;br /&gt;Dia rangkul pundak Mbak Is dengan penis masih menancap disana. Setelah avin melepaskan penisnya dari vagina, Mbak Is jadi lebih bebas berubah posisi duduk di pangkuanku dan memelukku erat-erat sambil menangis sejadi-jadinya. Rupanya dia sadar kalau ada orang yang selain aku yang memberinya kenikmatan, tetapi dia tidak mengerti kalau itu Avin. Kawanku dan juga muridnya di sekolah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6182626498548124474-5770835246463323328?l=17tahunporno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://17tahunporno.blogspot.com/feeds/5770835246463323328/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6182626498548124474&amp;postID=5770835246463323328' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6182626498548124474/posts/default/5770835246463323328'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6182626498548124474/posts/default/5770835246463323328'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://17tahunporno.blogspot.com/2007/11/mbak-is-guruku.html' title='Mbak Is Guruku'/><author><name>ishadow76</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6182626498548124474.post-7313258989952698362</id><published>2007-11-30T03:36:00.000-08:00</published><updated>2007-12-10T15:49:41.316-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pesta sex'/><title type='text'>Teman Suamiku, Teman Tidurku</title><content type='html'>Naskah di bawah ini merupakan saduran dari kisah sebenarnya seorang ibu rumah tangga, yang merupakan pengalaman dari para ibu rumah tangga yang saya kumpulkan sejak tahun 1980 dalam satu buku berjudul "Benang Merah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Percayakah kau bahwa dalam kehidupan seseorang disadari atau tidak dia pasti pernah mempunyai suatu fantasi mengenai kehidupan seksualnya", kata suamiku pada suatu saat ketika kami sedang bermesraan di tempat tidur.&lt;br /&gt;"Aku tidak mengerti maksudmu?" jawabku.&lt;br /&gt;"Begini.. apakah dia itu seorang pria atau seorang wanita, apakah dia dalam status sebagai seorang suami atau sebagai seorang istri, suatu ketika dia akan pernah mengkhayal atau setidak-tidaknya pernah mempunyai suatu ungkapan imajinasi mengenai keinginan seksualnya yang dia harapkan", kata suamiku selanjutnya.&lt;br /&gt;"Ooo.. maksudmu suatu khayalan mengenai keinginan seksual?"&lt;br /&gt;"Ya..!"&lt;br /&gt;"Mungkin saja ada.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau begitu apabila boleh aku tahu, apa yang menjadi fantasimu?"&lt;br /&gt;"Ah, aku tidak pernah merasa mempunyai fantasi mengenai itu"&lt;br /&gt;"Nah, itulah masalahnya.. kau bukan tidak mempunyai fantasi tetapi tidak menyadari adanya fantasi tersebut. Seperti yang aku katakan tadi fantasi tersebut sebenarnya terdapat pada semua orang, perbedaannya hanyalah disadari atau tidak adanya fantasi tersebut oleh seseorang itu"&lt;br /&gt;"Tetapi aku memang tidak pernah merasa atau memikirkan hal itu, apalagi mengkhayalkannya!"&lt;br /&gt;"Boleh saja seseorang mengatakan bahwa dia tidak mempunyai suatu fantasi seksual, akan tetapi hal ini bukan berarti dia tidak dapat berfantasi. Hanya saja ungkapan-ungkapan apa yang menjadi imajinasinya serta bagaimana dia mewujudkan fantasinya, antara satu orang dengan lainnya akan sangat berbeda. Hal ini tergantung dari pengaruh sifat pribadi, taraf tingkat hidupnya, serta latar belakang pengalaman dan pendidikannya serta lingkungan sosial di sekitarnya."&lt;br /&gt;"Misalnya apa..?"&lt;br /&gt;"Ya, misalnya contoh yang paling umum bagi setiap orang, dia selalu mempunyai idola mengenai type lawan jenisnya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, itu kan biasa, apalagi untuk anak-anak muda. Kalau sekarang sih bukan waktunya lagi"&lt;br /&gt;"Tapi hal itu tidak terbatas pada saat remaja saja. Bisa saja secara tidak disadari hal itu terjadi sampai seseorang itu sudah dalam kehidupan perkawinan. Misalnya.. mungkin saja suatu saat seseorang mempunyai pikiran atau bayangan bagaimana kiranya kalau melakukan hubungan seks dengan orang yang menjadi idola kita, mungkin dia seorang bintang film atau penyanyi pop yang menjadi pujaan kita. Atau secara umum bagi wanita senang apabila suaminya memakai kumis, atau celana jeans. Demikian juga bagi pria, misalnya senang apabila istrinya berambut panjang atau memakai gaun warna tertentu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah kau tambah membingungkan saja.. hal itu kan memang wajar-wajar saja apabila seseorang mempunyai anggapan seperti itu"&lt;br /&gt;"Memang betul sekali.. karena fantasi seksual itu memang suatu yang wajar. Adanya suatu fantasi seksual dalam diri seseorang menurut Dr Andrew Stanway, seorang pakar seksualogi dalam bukunya, "The Joy Of Sexual Fantasy" adalah merupakan suatu hal yang normal. Fantasi seksual menurut dia adalah merupakan suatu bagian yang kompleks dari pengalaman seseorang, akan tetapi memang oleh kebanyakan ahli masih mempertanyakan apakah fantasi tersebut merupakan bagian dari suatu mimpi atau merupakan bagian dari suatu pengalaman nyata. Fantasi seksual secara umum berfungsi untuk menyalurkan keinginan alam bawah sadar seksual seseorang menjadi suatu kenyataan dalam suatu bentuk yang dapat diterima. Fantasi seksual secara tidak langsung sebenarnya juga merupakan salah satu mekanisme pembangkit gairah seksual seseorang, karena fantasi seksual menyalurkan sejumlah besar informasi yang tersembunyi di antara alam sadar dan alam bawah sadar seseorang yang berhubungan dengan kegairahan seksnya. Oleh karena itu kadangkala fantasi seks tersebut dapat secara tiba-tiba melanda diri seseorang. Apabila hal tersebut terjadi maka secara tidak disadari seseorang akan mencari penyaluran sampai kepada batas-batas alam kesadarannya. Oleh karena itu pula sangatlah penting bagi kita untuk menyadari dan memahami adanya fantasi tersebut sehingga dapat menyalurkannya sampai kepada batas-batas alam kesadaran kita secara lebih terarah.. kalau tidak mungkin saja seseorang itu akhirnya bertindak yang aneh-aneh"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh tiba-tiba kok kau jadi seorang ahli psikologi, dalam masalah seksualogi lagi, kapan kau belajarnya?"&lt;br /&gt;"Kapan aku belajarnya itu tidak penting.. yang penting sekarang mau tidak kau mengatakan atau mengingat-ingat kira-kira apa yang menjadi fantasimu?"&lt;br /&gt;"Begini saja.. sekarang kau saja dahulu yang mengatakan apakah kau juga mempunyai fantasi tersebut, kau ingin berhubungan seks dengan siapa? Nah ayo katakan!"&lt;br /&gt;"Eh, jangan marah dulu, ya tentunya ada fantasiku itu tapi bukan seperti apa yang kau katakan!"&lt;br /&gt;"Jadi seperti apa?"&lt;br /&gt;"Kalau aku katakan apakah kau tidak terus marah?"&lt;br /&gt;"Mengapa harus marah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baiklah.. memang selama ini aku merasakan adanya suatu fantasi seks yang membayang dalam diriku, akan tetapi fantasi seks yang kurasakan merupakan sebuah fantasi yang ganjil dan luar biasa", kata suamiku. Kemudian dia diam sejenak.&lt;br /&gt;"Ayo katakanlah.. aku akan mendengarkannya, apa yang kau maksud dengan ganjil dan luar biasa!" desakku agak penasaran.&lt;br /&gt;"Yah karena fantasi yang kurasakan mungkin akan sangat sulit di pahami karena berkisar kepada masalah hubungan seks antara kau sebagai istriku dengan laki-laki lain sebagai pihak ketiga.."&lt;br /&gt;"Aku tidak jelas akan maksudmu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Begini secara jelasnya.. fantasi tersebut berupa suatu keinginan dalam diriku bahwa aku ingin sekali menyaksikan istriku melakukan hubungan badan dengan laki-laki lain!"&lt;br /&gt;"Apa..! Aku harus melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain?!"&lt;br /&gt;"Ya kira-kira begitu! Apakah hubungan itu dilakukan hanya oleh kau berduaan saja dengan laki-laki lain tersebut dan aku hanya ikut menyaksikannya, atau hubungan seks tersebut dilakukan bersama-sama secara bertiga, yaitu antara kamu dengan laki-laki lain itu dan aku sendiri secara bergantian, atau paling tidak aku ingin melakukan hubungan seks dengan kau sebagai istriku sambil disaksikan oleh laki-laki lain"&lt;br /&gt;"Memang aneh kedengarannya.. dan siapakah laki-laki lain yang kau maksudkan itu?"&lt;br /&gt;"Siapa saja.. asal sehat dan kau senang menerimanya"&lt;br /&gt;"Ah, itu fantasi gila namanya!" jawabku agak terhenyak.&lt;br /&gt;"Nah, katanya kau tidak akan marah tapi sekarang marah", kata suamiku.&lt;br /&gt;"Bagaimana tidak akan marah.. hal itu kan tidak mungkin.. bayangkan saja apa kata orang kalau mereka tahu aku melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya jangan sampai orang tahu.."&lt;br /&gt;"Oke, taruhlah orang tidak tahu, tapi kita kan terlibat dalam suatu lembaga yang disebut lembaga perkawinan."&lt;br /&gt;"Ya betul, memangnya kenapa?"&lt;br /&gt;"Kau tahu tidak apa artinya itu? Yaitu dimana hubungan seks dengan orang lain di luar pasangan dalam perkawinan kita dianggap sebagai suatu penyelewengan, apalagi kalau itu dilakukan oleh seorang wanita yang berstatus sebagai istri, maka hal ini akan dianggap suatu kesalahan yang sangat besar sekali!"&lt;br /&gt;"Justru itulah sekarang aku bertanya kepadamu, karena aku tahu hal itu sangat susah untuk diwujudkan kalau hanya aku saja yang berkeinginan, akan tetapi sebaliknya hal itu tentu juga sangat mudah dapat dilakukan apabila kita berdua sepakat. Nah, kalau kesepakatan ini ada, maka hal ini berarti juga tidak ada penyelewengan!"&lt;br /&gt;"Tidak ada penyelewengan yang bagaimana maksudmu?!"&lt;br /&gt;"Ya sebagaimana yang kau katakan tadi!"&lt;br /&gt;"Aku tidak mengerti maksudmu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Begini, kita harus lihat dahulu apa sih definisi dari suatu penyelewengan, yaitu suatu perbuatan yang menyimpang dari suatu tujuan atau maksud. Jadi penyelewengan dalam perkawinan artinya juga suatu perbuatan yang menyimpang dari suatu tujuan atau maksud dalam perkawinan. Karena dalam perkawinan itu terlibat kepentingan dari dua orang maka pengertian penyelewengan dalam perkawinan dapat diartikan sebagai suatu perbuatan pengkhianatan, yaitu perbuatan yang dilakukan oleh salah satu pasangan hidupnya secara diam-diam tanpa diketahui apalagi disetujui oleh pasangan lainnya."&lt;br /&gt;"Jadi apa hubungannya dengan yang kau maksudkan tidak ada penyelewengan di sini?"&lt;br /&gt;"Ya seperti yang aku katakan tadi, bahwa untuk melaksanakan fantasiku itu, aku telah sepakat dan bahkan telah memberikan izin kepadamu sebagai suami untuk melakukan hubungan seks dengan orang lain, jadi sudah barang tentu unsur penyelewengan tadi tidak berlaku lagi karena kita sama-sama menyetujui, bahkan dengan restu suami!"&lt;br /&gt;"Nah, sekarang kau juga telah jadi pokrol bambu! Bikin argumentasi seenaknya saja! Masalahnya kan bukan sampai disitu saja, tapi ada konsekwensi yang lain, terutama untuk aku!"&lt;br /&gt;"Misalnya apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Taruhlah aku mau melakukan hal itu, maka ada suatu konsekwensi yang akan aku tanggung, yaitu apabila terjadi sesuatu hal terhadap perkawinan kita dan terjadi perpecahan, maka kau akan dapat saja berkata kepada orang lain bahwa hal itu disebabkan karena kesalahan dariku. Kau dapat saja mengatakan aku telah menyeleweng berkali-kali dengan laki-laki lain dan orang lain tidak akan percaya bahwa kesemuanya itu sebenarnya kau yang mengaturnya. Demikian juga seandainya laki-laki lain yang kau beri kesempatan untuk berhubungan seks denganku pada suatu saat menceritakan pengalamannya tersebut kepada orang lain, maka akan hancurlah diriku, karena walaupun bagaimana orang lain tidak akan percaya bahwa kesemuanya itu justru atas permintaanmu sebagai suami, semua orang akan menuduhku sebagai seorang istri yang serong"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Akan tetapi sungguh mati selama ini tidak pernah terlintas dalam benakku untuk berbuat seperti itu. Aku meminta istriku untuk melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain bukan bertujuan karena ingin memojokkanmu suatu waktu guna kepentinganku sendiri akan tetapi malahan sebaliknya yaitu agar kehidupan perkawinan kami tetap bergairah dan langgeng, karena aku akan mendapat kepuasan lahir dan batin hanya dari istriku yang sekarang. Sehingga istriku yang sekarang ini benar-benar merupakan teman hidup bagiku karena dia merupakan ibu dari anak-anakku, temanku berdiskusi dan menumpahkan perasaan serta sekaligus merupakan teman berkencan dalam menyalurkan hasrat seks!" kata suamiku agak terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah diam sejenak selanjutnya dia berkata, "Mengenai kemungkinan laki-laki itu akan bercerita kepada orang lain memang ada, akan tetapi apabila memang hal itu terjadi, maka akan sangat mudah sekali ditangkal karena justru orang lain tidak akan percaya kepada cerita dia. Apalagi bila aku memberikan kesaksian bahwa kesemuanya itu hanyalah karangan dia semata-mata sehingga hal itu benar-benar merupakan suatu fitnah saja"&lt;br /&gt;"Baiklah kalau begitu, yang penting kini aku juga ingin tahu mengapa sih kau mempunyai fantasi seperti itu?"&lt;br /&gt;"Entahlah, aku sendiri tidak tahu mengapa mempunyai fantasi seperti itu. Tapi yang jelas aku merasakan adanya suatu rangsangan gairah birahi yang hebat apabila aku melihat ada seseorang laki-laki yang tertarik dan memperhatikan bagian tubuhmu yang secara tidak sengaja terbuka."&lt;br /&gt;"Misalnya.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, misalnya ketika kita berlibur di pantai. Saat itu kau mengenakan pakaian renang. Dan aku tahu saat itu ada beberapa laki-laki memperhatikan bentuk tubuhmu. Mula-mula memang aku agak merasa cemburu, akan tetapi lama-kelamaan hal itu menimbulkan semacam suatu imajinasi dalam diriku. Apalagi apabila aku melihat kau bertelanjang bulat di kamar."&lt;br /&gt;"Lha, memangnya kenapa? Aku kan bertelanjang bulat di kamar sendiri dan yang lihat hanya kamu sendiri saja?"&lt;br /&gt;"Justru itu yang merangsang imajinasiku."&lt;br /&gt;"Kalau begitu aku tidak akan berbuat itu lagi!" kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh, jangan salah sangka. Aku senang melihat itu semua. Malahan kalau kau mau, boleh saja kau berkeliaran dalam rumah dengan bertelanjang bulat seperti yang kau lakukan di kamar, karena terus terang hal itu membangkitkan rasa birahiku. Aku merasa nikmat memperhatikanmu berkeliaran di kamar dengan berpolos bugil. Dan dalam keadaan itu pula kadang-kadang aku berpikir apakah laki-laki lain juga akan bangkit birahinya apabila melihat keseluruhan bentuk tubuh istriku ini. Dan bagaimanakah seandainya tubuh istriku yang segar berisi itu dinikmati pula oleh laki-laki lain. Imajinasi itu akhirnya menimbulkan suatu kenikmatan seksual yang lain bagiku. Apalagi bila aku membayangkan bahwa ternyata laki-laki tersebut memang sangat terangsang oleh keindahan tubuh istriku dan berusaha untuk menikmatinya di tempat tidur. Imajinasiku itu selanjutnya terus berkembang yaitu apakah istriku ini kira-kira juga tertarik untuk merasakan hubungan seks dengan laki-laki lain dan bagaimanakah kiranya sikap istriku ketika melayani laki-laki lain tersebut. Apakah dia juga akan menjadi sangat lebih bergairah? Dan apakah dia akan mendapatkan kepuasan seks yang lebih besar lagi?" bisik suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ia menambahkan, "Kenikmatan seksual yang kurasakan akan menjadi lebih hebat lagi apabila aku terus membayangkan bagaimana istriku dengan tubuhnya yang dalam keadaan polos bugil bergumul dengan hebat dengan tubuh laki-laki tersebut yang juga berada dalam keadaan berpolos bugil. Terlebih lagi apabila aku membayangkan bahwa ternyata ukuran alat kejantanan laki-laki tersebut jauh lebih besar dari pada ukuran alat kejantananku sendiri, dan istriku benar-benar sangat tergiur akan kehebatan alat kejantanan itu, sehingga ketika laki-laki itu menindihkan tubuhnya ke tubuh istriku dan memasukkan alat kejantanannya ke liang istriku, aku menyaksikan istriku menjadi bergelinjang dengan hebat merasakan alat kejantanan tersebut tertanam dalam-dalam di liang senggamanya. Kemudian aku pun membayangkan bagaimana ketika laki-laki tersebut mulai mengayunkan tubuhnya di atas tubuh istriku dan istriku menjadi tambah hebat bergelinjang sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya mengimbangi gerakan turun-naiknya alat kejantanan laki-laki tersebut yang memberikan suatu kenikmatan lain daripada yang pernah dirasakannya dari alat kejantananku sendiri. Selanjutnya aku pun membayangkan bagaimana ekspresi istriku dan laki-laki itu ketika mencapai dan melepaskan puncak ejakulasi bersama dengan penuh kepuasan", kata suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, sangat mengerikan sekali fantasimu."&lt;br /&gt;"Tapi ini kan baru fantasi.. apabila menjadi kenyataan mungkin tidak mengerikan lagi, tapi.. mengasyikan!" kata suamiku sambil tertawa.&lt;br /&gt;"Tidak lucu ah!" kataku sambil memukul punggungnya.&lt;br /&gt;"Eh, jangan jadi sewot! Diberi kesempatan enak malah marah. Jarang kan suami yang sebaik itu yang mengizinkan istrinya boleh main dengan laki-laki lain. Malahan bukan itu saja kadang-kadang aku juga sering membayangkan bagaimana rasanya apabila aku mempunyai seorang istri yang hiperseks atau seorang istri yang senang menyeleweng dengan laki-laki lain."&lt;br /&gt;"Apa maksudmu dengan itu..? Jadi kau tuduh aku ini pernah menyeleweng?!" jawabku agak tersinggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan itu maksudku, tapi itu adalah kelanjutan dari ungkapan imajinasi fantasi seksualku, seperti yang kukatakan tadi, aku kan ingin sekali melihat istriku melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain, sehingga hal itu menimbulkan semacam imajinasi lanjutan dalam diriku mengenai type istri yang bagaimana yang kira-kira kuinginkan, atau paling tidak, aku kira-kira ingin mempunyai seorang istri yang berpandangan sangat bebas mengenai masalah hubungan seks, tidak posesif dan memandang masalah hubungan seks dengan laki-laki lain atau sebaliknya bukan merupakan suatu masalah yang tabu melainkan sesuatu yang wajar dan dapat dinikmati bersama", kata suamiku selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bilang saja terus terang kau yang mau melakukan hubungan seks dengan wanita lain! Kalau begitu carilah type istri sebagaimana yang kamu idamkan.. karena bagiku tidak mungkin melakukan hal tersebut! Kalau mau, kau lakukan sendiri saja! Jangan ajak-ajak orang!" kataku bertambah ketus.&lt;br /&gt;"Nah, lagi-lagi marah. Ini kan semua baru gagasan. Siapa tahu kau mau?" balas suamiku.&lt;br /&gt;"Mau apanya? Lagi pula sekiranya aku mau melakukan hal itu, aku lakukan saja sendiri secara diam-diam", kataku dengan hati yang agak mendongkol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan itu maksudku.. aku sama sekali tidak bermaksud untuk mencari istri lain, akan tetapi justru kamulah yang aku inginkan menjadi type istri sebagaimana yang aku idamkan", kata suamiku.&lt;br /&gt;"Jadi aku harus menyeleweng dan melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain, begitu maksudmu?"&lt;br /&gt;"Ada benarnya dan ada tidaknya", kata suamiku.&lt;br /&gt;"Benar dan tidak bagaimana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benarnya memang aku ingin melihat kamu melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain, tidak benarnya adalah hal itu bukan berarti kamu harus menyeleweng, karena seperti yang aku katakan tadi kesemuanya itu berdasarkan persetujuan dan permintaanku sebagai suami, jadi unsur penyelewengan di sini sekali lagi aku katakan sama sekali tidak ada.. tapi apabila kau lakukan secara diam-diam maka itu baru namanya penyelewengan", kata suamiku.&lt;br /&gt;"Benar-benar kamu tidak menyesal apabila aku melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain?" kataku menegaskan.&lt;br /&gt;"Malahan sebaliknya.. karena hal itu justru aku rasakan sebagai penambah semangat dan gairahku terhadapmu. Mungkin kau merasakan bagaimana keadaanku selama ini, aku merasa kehilangan gairah dalam bercinta dan merasa sangat lelah sekali. Hal ini disebabkan aku merasakan fantasi itu sedemikian membebani diriku", kata suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku tahu bahwa masalah yang dihadapi suamiku selama ini adalah beban psikologis. Fantasi seksualnya telah membebani pikiran suamiku sedemikian hebatnya sehingga mempengaruhi kualitas hubungan seksual kami sebagai suami-istri. Memang aku merasakan akhir-akhir ini suamiku sering menjadi gelisah sendiri dan tidak tahu apa yang harus diperbuat dan merasa sangat letih sekali baik fisik maupun mental. Hal tersebut berpengaruh juga terhadap kualitas hubungan seks kami. Aku merasakan gairah suamiku menjadi agak menurun. Suamiku sering mengalami prematur ejakulasi dan telah mencapai puncak ejakulasi hanya dalam beberapa detik saja begitu dia melakukan penetrasi, bahkan kadang-kadang telah orgasme sebelum sempat melakukan persetubuhan sama sekali. Oleh karena itu suamiku mulai rajin mengkonsumsi vitamin dan makanan yang dapat meningkatkan potensi laki-laki, akan tetapi sejauh itu hal tersebut sama sekali tidak membantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain keadaan hal ini membawa dampak juga terhadap diriku. Secara terus terang aku pun terkadang merasa kurang mendapat kepuasan dalam hubungan suami istri. Kuakui selama ini aku juga sering mengalami gejolak birahi yang tiba-tiba muncul, terutama di pagi hari apabila malamnya kami melakukan hubungan intim dan suamiku tidak dapat melakukannya secara sempurna. Hal ini dimaklumi oleh suamiku karena dia tahu bagaimana kualitas hubungan suami-istri kami belakangan ini. Oleh karena itu suamiku membeli sebuah alat vibrator. Suamiku mengatakan alat itu mungkin secara tidak langsung dapat membantu kami untuk mendapatkan kepuasan dalam hubungan suami istri. Pada mulanya aku memakai alat itu sebagai simulator sebelum kami berhubungan badan. Akan tetapi lama kelamaan secara diam-diam aku sering pergunakan alat tersebut sendirian di pagi hari untuk menyalurkan hasrat kewanitaanku yang aku rasakan semakin meluap-luap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya fantasi seksual suamiku tersebut bukan hanya merupakan sekadar fantasi saja akan tetapi dia sangat bersikeras untuk dapat mewujudkannya menjadi suatu kenyataan. Selama ini suamiku terus membujukku agar aku mau membantunya dalam melaksanakan fantasinya. Apabila aku menolaknya atau tidak mau membicarakan hal tersebut, tidak jarang akhirnya kami terlibat dalam suatu pertengkaran yang hebat. Malahan bukan itu saja. Gairah seks-nya pun semakin bertambah turun. Hal ini lama-kelamaan membuatku menjadi agak khawatir juga, aku takut suamiku akan menderita impotensi. Aku berpikir bahwa aku harus membantu suamiku walaupun konsekuensi yang aku khawatirkan akan terjadi. Oleh karena itu aku mengalah dan berjanji akan membantunya sepanjang aku dapat melakukannya dan kutegaskan kepada suamiku bahwa aku mau melakukan hal itu hanya untuk sekali ini saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku telah mengundang Syamsul untuk makan malam di sini malam ini", kata suamiku di suatu hari sabtu. Aku agak terkesiap mendengar kata-kata suamiku itu. Aku berfirasat bahwa suamiku akan memintaku untuk mewujudkan niatnya bersama dia, karena Syamsul adalah salah seorang yang sering disebut-sebut oleh suamiku sebagai salah satu orang yang katanya cocok untuk diriku dalam melaksanakan fantasi seksual-nya dan kebetulan saat itu semua anak-anak sedang libur bersama kawan-kawannya ke luar kota sehingga tinggal aku dan suamiku saja yang berada di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang selama ini sudah ada beberapa nama kawan-kawan suamiku maupun kenalanku sendiri yang disodorkan kepadaku yang dianggap cocok untuk melakukan hubungan seks denganku, salah seorangnya adalah Syamsul. Akan tetapi sejauh ini aku masih belum menanggapi secara serius tawaran dari suamiku tersebut dan juga kebetulan kami tidak mempunyai kesempatan yang baik untuk itu. Syamsul adalah salah seorang kawan dekatnya dan aku pun kenal baik dengan dia. Secara terus terang memang kuakui juga penampilan Syamsul tidak mengecewakan. Bentuk tubuhnya pun lebih kekar dan atletis dari tubuh suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berpikir tidak ada lagi gunanya aku berargumentasi dengan suamiku. Kehendaknya agar aku melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain sedemikian kuat. Hal itu sebenarnya membuatku agak tersinggung juga. Karena hal ini hanya biasa dilakukan oleh seorang wanita penghibur atau dengan kata lain seorang pelacur dan suamiku menghendaki aku melakukan hal seperti itu walaupun dengan alasan lain. Namun mengingat kehendak suamiku itu merupakan suatu akibat dari gejala psikologi, maka aku kesampingkan masakah harga diri itu. Aku hanya berpikir bagaimana aku dapat membantu suamiku mengatasi masalahnya. Selain itu aku pun mengharap bahwa dengan aku penuhinya fantasi seksualnya itu malam ini, maka suamiku tidak akan lagi mempunyai fantasi semacam itu karena secara psikologis keinginannya telah tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Syamsul datang, aku sedang merapikan wajahku dan memilih gaun yang agak seksi sebagaimana anjuran suamiku agar aku terlihat menarik. Dari cermin rias di kamar tidurku, kudapati gaun yang kukenakan terlihat agak ketat melekat di tubuhku sehingga bentuk lekukan tubuhku terlihat dengan jelas. Buah dadaku kelihatan menonjol membentuk dua buah bukit daging yang indah. Sambil mematut-matutkan diri di muka cermin akhirnya aku jadi agak tertarik juga memperhatikan penampilan keseluruhan bentuk tubuhku. Kudapati bentuk keseluruhan tubuhku masih tetap ramping dan seimbang, tidak dipenuhi oleh lemak sebagaimana ibu-ibu rumah tangga lainnya yang seumurku. Buah dadaku yang subur juga kelihatan masih sangat kenyal dan padat berisi. Demikian pula bentuk pantatku kelihatan agak menonjol penuh dengan daging yang lembut namun terasa kenyal. Ditambah lagi kulitku yang memang putih bersih tanpa adanya cacat keriput di sana-sini membuat bentuk keseluruhan tubuhnya menjadi sangat sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat penampilan keseluruhan bentuk tubuhku itu secara terus terang timbul naluri kewanitaanku bahwa aku bangga akan bentuk tubuhku. Oleh sebab itu aku berpikir pantas saja suamiku mempunyai imajinasi yang sedemikian terhadap laki-laki yang memandang tubuhku karena bentuk tubuhku ini memang menggiurkan selera kaum pria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah makan malam suamiku dan Syamsul duduk mengobrol di taman belakang rumahku dengan santai sambil menghabiskan beberapa kaleng bir yang dicampur dengan arak ginseng dari Cina. Tidak berapa lama aku pun ikut duduk minum bersama mereka. Malam itu benar-benar hanya tinggal kami bertiga saja di rumah. Kedua pembantuku yang biasa menginap, tadi siang telah kuberikan istirahat untuk pulang ke rumah masing-masing. Ketika hari telah menjelang larut malam dan udara mulai terasa dingin tiba-tiba suamiku berbisik kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku telah bicara dengan Syamsul mengenai rencana kita. Dia setuju dan malam ini dia akan menginap di sini! Tapi walaupun demikian kau tidak perlu memaksakan diri untuk melakukan hubungan seks dengannya apabila memang suasana hatimu memang belum berkenan, kuserahkan keputusan itu sepenuhnya kepadamu!" bisik suamiku selanjutnya. Mendengar bisikan suamiku itu aku diam saja. Aku tidak menunjukkan sikap yang menolak atau menerima. Aku merasa sudah berputus asa bahkan aku merasa benar-benar nekat menantang kemauan suamiku itu. Aku mau lihat bagaimana reaksinya nanti bila aku benar-benar bersetubuh dengan laki-laki lain. Apakah dia nanti tidak akan menyesal bahwa istrinya telah dinikmati orang lain? Atau setidak-tidaknya seluruh bagian tubuh istrinya yang sangat rahasia telah dilihat dan dinikmati oleh laki-laki lain. Apalagi bila dalam rahimku nanti akan tersebar benih laki-laki lain selain dari benih suamiku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berapa lama kemudian aku masuk ke kamar dan siap untuk pergi tidur. Secara demonstratif aku memakai baju tidur nylon yang tipis tanpa BH sehingga buah dadaku terlihat membayang di balik baju tidur itu. Ketika aku keluar kamar, baik suamiku maupun Syamsul agak terhenyak untuk beberapa saat. Akan tetapi mereka segera dapat menguasai dirinya kembali dan suamiku langsung berkata kepadaku.&lt;br /&gt;"Syamsul baru saja cerita bahwa dia telah mempelajari pijat refleksi Siatzu. Aku rasa kau harus coba! Apa benar dia bisa! Kau mau kan..?" tanya suamiku kepadaku.&lt;br /&gt;"Boleh saja..!" jawabku sambil agak merapatkan leher baju tidurku sehingga siluet puting susuku kini tercetak dengan lebih jelas.&lt;br /&gt;"Ah sebenarnya aku tidak terlalu mahir..!" kata Syamsul, "Tapi bila mau dicoba boleh saja. Nanti setelah pijat Siatzu, saya juga akan memberikan pijatan dengan tehnik kucing mandi", katanya lagi.&lt;br /&gt;"Oo ya.. tehnik apa itu?" aku bertanya agak heran.&lt;br /&gt;"Susah diterangkan sekarang, nanti saja deh kalau pijat refleksinya sudah selesai."&lt;br /&gt;"Ayo..!" kata suamiku dengan wajah yang berseri-seri dan semangat yang tinggi suamiku mengajak kami segera masuk ke kamar tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berpura-pura tenang aku segera merebahkan diri bertelungkup di atas tempat tidur untuk siap dipijit. Sebenarnya aku tetap masih merasa risih tubuhku dijamah oleh seorang laki-laki lain apalagi aku dalam keadaan hanya memakai sehelai baju tidur nylon yang tipis dan tanpa BH. Akan tetapi kupikir aku harus berusaha tetap tenang agar keinginan suamiku dapat terwujud dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula-mula Syamsul memijit sekitar bagian punggungku dengan lembut kemudian secara perlahan-lahan terus turun ke bawah menelusuri bagian pinggulku. Sementara itu aku terus berusaha sekuat tenaga menekan perasaan risih dan malu dengan melepaskan pikiranku dari kedua hal tersebut dan berusaha menikmati pijitan Syamsul itu yang sebenarnya lebih tepat dikatakan rabaan dan sentuhan di tubuhku. Rupanya usahaku itu berhasil dengan baik, akan tetapi lama-kelamaan secara tidak langsung aku jadi terbawa oleh semacam arus sensasional yang menjalar dalam tubuhku. Apalagi ketika tangan Syamsul tiba pada bagian belahan pantatku yang gempal lembut kemudian meremas-remas dengan halus pinggul serta daging pantatku yang hanya ditutupi oleh gaun tidur nylon yang tipis maka terasa adanya suatu gejolak hangat dalam diriku. Aku menjadi pasrah dan benar-benar mulai menikmati pijitannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya kurasakan tangan Syamsul mulai lebih berani lagi menyentuh tubuhku dengan sentuhan-sentuhan yang semakin lama semakin nakal. Bahkan dia kini berusaha membuka baju tidurku dan menelanjangi diriku dengan seenaknya sampai aku benar-benar dalam keadaan bertelanjang bulat tanpa ada lagi sehelai benang pun yang menutupi tubuhku. Aku hanya dapat memejamkan mata dan pasrah saja menahan perasaan malu bercampur gejolak dalam diriku ketika tubuhku ditelanjangi di hadapan suamiku sendiri. Kemudian dia menelentangi tubuhku dan menatap dengan penuh selera tubuhku yang telah berpolos bugil sepuas-puasnya. Aku benar-benar tidak dapat melukiskan betapa perasaanku saat itu. Seumur hidupku, aku belum pernah bertelanjang bulat di hadapan laki-laki lain apalagi dalam situasi seperti sekarang ini. Aku merasa sudah tidak ada lagi rahasia tubuhku yang tidak diketahui Syamsul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berapa lama kemudian tiba-tiba kurasakan Syamsul mulai melumat bibirku dalam suatu adegan cium yang panjang dan berapi-api. Selanjutnya ketika bibir kami terlepas Syamsul berbisik kepadaku bahwa sekarang saatnya dia akan melakukan tehnik pijitan kucing mandi. Berbarengan dengan itu dia mulai menjilati seluruh tubuhku yang telanjang dengan lidahnya bagaikan seekor kucing yang sedang memandikan anaknya. Aku berpikir jadi inilah yang dia maksudkan dengan tehnik kucing mandi. Aku menjadi menggelinjang, entah karena apa. Tapi yang terang aku merasakan seluruh pembuluh darah di tubuhku menjadi bergetar dan aku terlambung dalam suatu kenikmatan yang belum pernah kurasakan selama ini. Apalagi sambil menjilati tubuhku dia juga meremas dan menghisap buah dadaku dengan lahap, menjilati liang kewanitaanku dengan rakusnya dan sementara itu suamiku hanya menonton saja dengan asyiknya seperti orang dungu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku kelihatan benar-benar menikmati adegan tersebut. Tanpa berkedip dia menyaksikan bagaimana tubuh istrinya digarap dan dinikmati habis-habisan oleh laki-laki lain. Sebagai seorang wanita normal keadaan ini mau tidak mau akhirnya membuatku terbenam juga dalam suatu arus birahi yang hebat. Jilatan-jilatan Syamsul di bagian tubuhku yang sensitif membuatku bergelinjang dengan dahsyat menahan arus birahi yang belum pernah kurasakan selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berapa lama kemudian Syamsul berdiri di hadapanku melepaskan celananya sehingga dia juga kini berada dalam keadaan bertelanjang bulat. Saat itu pula aku dapat menyaksikan ukuran alat kejantanan Syamsul yang telah menjadi tegang ternyata memang jauh lebih besar dan panjang dari ukuran alat kejantanan suamiku. Bentuknya pun agak berlainan. Ukuran alat kejantanan Syamsul hampir sebesar lengan bayi dan bentuknya agak membengkok ke kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dia menyodorkan alat kejantanannya tersebut ke hadapan wajahku. Secara reflek aku segera menggenggam alat kejantanannya dan terasa hangat dalam telapak tanganku. Aku tidak pernah membayangkan selama ini bahwa aku akan pernah memegang alat kejantanan seorang laki-laki lain di hadapan suamiku. Oleh karena itu aku melirik kepada suamiku. Kulihat dia semakin bertambah asyik menikmati bagian dari adegan itu tanpa memikirkan perasaanku sebagai istrinya yang sedang digarap habis-habisan oleh seorang laki-laki lain. Dalam hatiku tiba-tiba muncul kembali perasaan geramku terhadap suamiku, sehingga dengan demonstratif kuraih alat kejantanan Syamsul itu ke dalam mulutku menjilati seluruh permukaannya dengan lidahku kemudian kukulum dan hisap sehebat-hebatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa sudah kepalang basah maka aku akan nikmati alat kejantanan itu dengan sepuas-puasnya sebagaimana kehendak suamiku. Kuluman dan hisapanku itu membuat alat kejantanan Syamsul yang memang telah berukuran besar menjadi bertambah besar lagi. Di lain keadaan dari alat kejantanan Syamsul yang sedang mengembang keras dalam mulutku kurasakan ada semacam aroma yang khas yang belum pernah kurasakan selama ini. Aroma itu menimbulkan suatu rasa sensasional dalam diriku dan liang kewanitaanku mulai terasa menjadi liar hingga secara tidak sadar membuatku bertambah gemas dan semakin menjadi-jadi menghisap alat kejantanan itu lebih hebat lagi secara bertubi-tubi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuluman dan hisapanku yang bertubi-tubi itu rupanya membuat Syamsul tidak tahan lagi. Dengan keras dia menghentakkan tubuhku dalam posisi telentang di atas tempat tidur. Aku pun kini semakin nekad dan pasrah untuk melayaninya. Aku segera membuka kedua belah pahaku lebar-lebar. Berbarengan dengan itu kurasakan alat kejantanannya kini menghimpit dengan tepat di liang surgaku dan selanjutnya secara perlahan-lahan langsung memasuki dengan mudah ke dalam liang kenikmatanku yang telah menganga lebar dan licin dengan cairan birahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku agak terlonjak sejenak ketika merasakan alat kejantanan Syamsul itu menerobos ke dalam liang kemaluanku dan menyentuh leher rahimku. Aku terlonjak bukan karena alat kejantanan itu merupakan alat kejantanan dari seorang laki-laki lain yang pertama yang kurasakan memasuki tubuhku selain alat kejantanan suamiku, akan tetapi lebih disebabkan aku merasakan alat kejantanan Syamsul memang terasa lebih istimewa daripada alat kejantanan suamiku, baik dalam ukuran maupun ketegangannya. Selama hidupku memang aku tidak pernah melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain selain suamiku sendiri dan keadaan ini membuatku berpikiran lain. Aku tidak menyangka ukuran alat kejantanan seorang laki-laki sangat berpengaruh sekali terhadap kenikmatan seks seorang wanita. Oleh karena itu secara refleks aku mengangkat kedua belah pahaku tinggi-tinggi dan menjepit pinggang Syamsul erat-erat untuk selanjutnya aku mulai mengoyang-goyangkan pinggulku mengikuti alunan gerakan tubuh Syamsul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh kami sebentar menyatu kemudian sebentar lagi merenggang diiringi desah nafas kami yang semakin lama semakin cepat. Sementara itu aku pun kembali melirik ke arah suamiku. Kudapati suamiku agak ternganga menyaksikan bagaimana diriku disetubuhi oleh Syamsul. Melihat penampilan suamiku itu, timbul kembali geram di hatiku, maka secara lebih demonstratif lagi kulayani permainan Syamsul sehebat-hebatnya secara aktif bagaikan adegan dalam sebuah film biru. Keadaan ini tiba-tiba membuatku merasakan ada suatu kepuasan dalam diriku. Hal itu bukan saja disebabkan oleh kenikmatan seks yang sedang kualami bersama Syamsul, akan tetapi aku juga memperoleh suatu kepuasan lain yaitu aku telah dapat melampiaskan rasa kesalku terhadap suamiku. Suamiku menghendakiku berhubungan seks dengan laki-laki lain dan malam ini kulaksanakan sepuas-puasnya, sehingga malam ini aku bukan seperti aku yang dulu lagi. Diriku sudah tidak murni lagi karena dalam tubuhku telah hadir tubuh laki-laki lain selain suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah agak beberapa lama kami bergumul tiba-tiba Syamsul menghentikan gerakannya dan mengeluarkan alat kejantanannya yang masih berdiri dengan tegar dari liang kenikmatanku. Kupikir dia telah mengalami ejakulasi dini. Pada mulanya aku agak kecewa juga karena aku sendiri belum merasakan apa-apa. Bahkan aku tidak merasakan adanya sperma yang tumpah dalam rahimku. Akan tetapi rupanya dugaanku salah, kulihat alat kejantanannya masih sangat tegar berdiri dengan kerasnya. Syamsul menghentikan persetubuhannya karena dia meminta suamiku menggantikannya untuk meneruskan hubungan seks tersebut. Kini dia yang akan menonton diriku disetubuhi oleh suamiku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku dengan segera menggantikan Syamsul dan mulai menyetubuhi diriku dengan hebat. Kurasakan nafsu birahi suamiku sedemikian hebat dan bernyala-nyala sehingga sambil berteriak-teriak kecil dia menghunjamkan tubuhnya ke tubuhku. Akan tetapi apakah karena aku masih terpengaruh oleh pengalaman yang barusan kudapatkan bersama Syamsul, maka ketika suamiku menghunjamkan alat kejantanannya ke dalam liang kenikmatanku, kurasakan alat kejantanan suamiku itu kini terasa hambar. Kurasakan otot-otot liang senggamaku tidak lagi sedemikian tegangnya menjepit alat kejantanan itu sebagaimana ketika alat kejantanan Syamsul yang berukuran besar dan panjang itu menerobos sampai ke dasar liang senggamaku. Alat kejantanan suamiku kurasakan tidak sepenuhnya masuk ke dalam liang senggamaku dan terasa lebih lembek bahkan dapat kukatakan tidak begitu terasa lagi dalam liang senggamaku yang kini telah pernah diterobos oleh sesuatu benda yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain keadaan mungkin disebabkan pengaruh minuman alkohol yang terlalu banyak, atau mungkin juga suamiku telah berada dalam keadaan yang sedemikian rupa sangat tegangnya, sehingga hanya dalam beberapa kali saja dia mengayunkan tubuhnya di atas tubuhku dan dalam waktu kurang dari satu menit, suamiku telah mencapai puncak ejakulasi dengan hebat. Malahan karena alat kejantanan suamiku tidak berada dalam liang kewanitaanku secara sempurna, dia telah menyemprotkan separuh spermanya agak di luar liang kewanitaanku dengan berkali-kali dan sangat banyak sekali sehingga seluruh permukaan kemaluan sampai ke sela pahaku basah kujub dengan cairan sperma suamiku. Selanjutnya suamiku langsung terjerembab tidak bertenaga lagi terhempas kelelahan di sampingku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu aku masih dalam keadaan liar. Bagaikan seekor kuda betina binal aku jadi bergelinjangan tidak karuan karena aku belum sempat mengalami puncak ejakulasi sama sekali semenjak disetubuhi oleh Syamsul. Oleh karena itu sambil mengerang-erang kecil aku raih alat kejantanan suamiku itu dan meremas-remasnya dengan kuat agar dapat segera tegang kembali. Akan tetapi setelah berkali-kali kulakukan usahaku itu tidak membawa hasil. Alat kejantanan suamiku malahan semakin layu sehingga akhirnya aku benar-benar kewalahan dan membiarkan dia tergolek tanpa daya di tempat tidur. Selanjutnya tanpa ampun suamiku tertidur dengan nyenyak dalam keadaan tidak berdaya sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku segera bangkit dari tempat tidur dalam keadaan tubuh yang masih bertelanjang bulat menuju kamar mandi yang memang menyatu dengan kamar tidurku untuk membersihkan cairan sperma suamiku yang melumuri tubuhku. Tidak berapa lama kemudian tiba-tiba Syamsul yang masih dalam keadaan bertelanjang bulat menyusul ke dalam kamar mandi. Dia langsung memelukku dari belakang sambil memagut serta menciumi leherku secara bertubi-tubi. Selanjutnya dia membungkukkan tubuhku ke pinggir bak mandi sehingga aku kini berada dalam posisi menungging. Dalam posisi yang sedemikian Syamsul menyetubuhi diriku dari belakang dengan garangnya sehingga dengan cepat aku telah mencapai puncak ejakulasi terlebih dahulu. Begitu aku sedang mengalami puncak ejakulasi, Syamsul menarik alat kejantanannya dari liang sengamaku, kemudian dengan sangat brutal dia segera menggarap lubang duburku. Aku jadi agak terpekik keras dan bergelinjang dengan hebat ketika alat kejantanannya itu tiba-tiba memasuki lubang duburku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dapat kulukiskan dengan kata-kata betapa perasaanku saat itu mendapatkan pengalaman yang belum pernah kurasakan sama sekali. Selama ini suamiku sendiri belum pernah menyetubuhi duburku sebagaimana yang dilakukan Syamsul sekarang ini. Ketika kami sedang asyik melakukan anal seks, tiba-tiba suamiku menyusul ke kamar mandi. Dia kelihatan tidak senang kami melakukan hubungan seks di kamar mandi. Dengan nada suara yang agak keras dia memerintahkanku untuk segera kembali ke kamar dan melakukan hubungan seks di sana, di hadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan masih tetap berbugil aku kembali ke kamar tidur dan langsung merebahkan diri di tempat tidur. Sementara itu suamiku mengikuti merebahkan diri di tempat tidur tapi untuk selanjutnya dia tertidur kembali dengan nyenyaknya. Rupanya suamiku benar-benar kelelahan disebabkan oleh suatu tekanan ketegangan syaraf yang tinggi dan juga agak setengah mabuk karena mengkonsumsi alkohol terlalu banyak. Sedangkan aku justru sebaliknya. Seluruh tubuhku terasa menjadi tidak karuan, kurasakan liang kenikmatanku dan lubang duburku berdenyut agak aneh dalam suatu gerakan liar yang sangat sukar sekali kulukiskan dan belum pernah kualami selama ini. Aku kini tidak dapat tidur walaupun barusan aku telah mengalami orgasme di kamar mandi bersama Syamsul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan yang sedemikian tiba-tiba Syamsul muncul di hadapanku. Dia masih tetap bertelanjang bulat sebagaimana juga diriku. Dengan tatapan yang tajam dia menarikku dari tempat tidur dan mengajakku tidur bersamanya di kamar tamu di sebelah kamarku. Bagaikan didorong oleh suatu kekuatan hipnostisme yang besar, aku mengikuti Syamsul ke kamar sebelah. Kami berbaring di ranjang sambil berdekapan dalam keadaan tubuh masing-masing masih bertelanjang bulat bagaikan sepasang pengantin baru yang sedang berbulan madu. Memang saat itu aku merasa diriku seakan berada dalam suatu suasana yang mirip pada saat aku mengalami malam pengantinku yang pertama. Sambil mendekap diriku Syamsul terus-menerus menciumiku sehingga aku kembali merasakan suatu rangsangan birahi yang hebat. Dan tidak lama kemudian tubuh kami kami pun sudah bersatu kembali dalam suatu permainan persetubuhan yang dahsyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berapa lama kemudian Syamsul membalikkan tubuhku sehingga kini aku berada di posisi atas. Selanjutnya dengan spontan kuraih alat kejantanannya dan memandunya ke arah liang senggamaku. Kemudian kutekan tubuhku agak kuat ke tubuh Syamsul dan mulai mengayunkan tubuhku turun naik di atas tubuhnya. Mula-mula secara perlahan-lahan akan tetapi lama-kelamaan semakin cepat dan kuat sambil berdesah-desah kecil. Sementara itu Syamsul dengan tenang telentang menikmati seluruh permainanku sampai tiba-tiba kurasakan suatu ketegangan yang amat dahsyat dan dia mulai mengerang-erang kecil. Dengan semakin cepat aku menggerakkan tubuhku turun naik di atas tubuh Syamsul dan nafasku pun semakin memburu berpacu dengan hebat menggali seluruh kenikmatan tubuh laki-laki yang berada di bawahku. Tidak berapa lama kemudian aku menjadi terpekik kecil melepaskan puncak ejakulasi dengan hebat dan tubuhku langsung terkulai menelungkup di atas tubuh Syamsul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa saat aku tertelungkup di atas tubuh Syamsul, tiba-tiba dia bangkit dengan suatu gerakan yang cepat. Kemudian dengan sigap dia menelentangkan tubuhku di atas tempat tidur dan mengangkat tinggi-tinggi kedua belah pahaku ke atas sehingga liang kenikmatanku yang telah basah kuyup tersebut menjadi terlihat jelas menganga dengan lebar. Selanjutnya Syamsul mengacungkan alat kejantanannya yang masih berdiri dengan tegang itu ke arah liang kewanitaanku dan menghunjamkan kembali alat kejantanannya tersebut ke tubuhku dengan garang. Aku menjadi terhentak bergelinjang kembali ketika alat kejantanan Syamsul mulai menerobos dengan buasnya ke dalam tubuhku dan membuat gerakan mundur maju dalam liang senggamaku. Aku pun kini semakin hebat menggoyang-goyangkan pinggulku mengikuti alunan gerakan turun naiknya alat kejantanan Syamsul yang semakin lama semakin cepat menggenjotkan di atas tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bergumul bagaikan dua ekor binatang liar yang sedang bertarung, saling hempas dan saling bantai tubuh masing-masing dengan sekuat tenaga tanpa mempedulikan apa-apa lagi kecuali berlomba untuk menggali segala kenikmatan dari tubuh masing-masing. Nafas kami semakin memburu berdesah-desah dengan kencang yang kadang-kadang diselingi dengan pekikan kecil di luar kesadaran masing-masing. Tubuh bugil kami yang sedang bersatu padu itu pun basah dengan keringat. Aku merasakan betapa liang kewanitaanku menjadi tidak terkendali berusaha menghisap dan melahap alat kejantanan Syamsul yang teramat besar dan panjang itu sedalam-dalamnya serta melumat seluruh otot-ototnya yang kekar dengan rakusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama pertarungan itu beberapa kali aku terpekik agak keras karena mencapai puncak orgasme berkali-kali, sementara itu Syamsul masih tetap tegar dan perkasa mengayunkan tubuhnya di atas tubuhku. Akan tetapi akhirnya kulihat Syamsul tiba juga pada puncaknya. Dengan mimik wajah yang sangat luar biasa dia melepaskan puncak orgasmenya secara bertubi-tubi menyemprotkan seluruh spermanya ke dalam tubuhku dalam waktu yang amat panjang. Sementara itu alat kejantanannya tetap dibenamkannya sedalam-dalamnya di liang kewanitaanku sehingga seluruh cairan birahinya terhisap dalam tubuhku sampai titik penghabisan. Selanjutnya kami terhempas kelelahan ke tempat tidur dengan tubuh yang tetap menyatu. Selama kami tergolek, alat kejantanan Syamsul masih tetap terbenam dalam tubuhku, dan aku pun memang berusaha menjepitnya erat-erat karena tidak ingin segera kehilangan benda tersebut dari dalam tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa lama kami tergolek melepaskan lelah, Syamsul mulai bangkit dan menciumi wajahku dengan lembut yang segera kusambut dengan mengangakan mulutku sehingga kini kami terlibat dalam suatu adegan cium yang mesra penuh dengan perasaan. Selanjutnya kubenamkan wajahku ke dadanya mengecup puting susunya sambil menjilati permukaan dada yang bidang dan penuh dengan bintik-bintik keringat. Aku tidak tahu mengapa aku melakukan hal itu. Akan tetapi yang terang kurasakan keringat Syamsul saat itu membuat semacam rangsangan yang lain dalam diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syamsul agak memejamkan matanya menikmati sentuhan-sentuhan ujung lidahku itu, sementara itu tangannya dengan halus membelai-belai rambutku sebagaimana seorang suami yang sedang mencurahkan cinta kasihnya kepada istrinya. Suasana romantis ini akhirnya membuat gairah kami muncul kembali. Kulihat alat kejantanan Syamsul mulai kembali menegang tegak sehingga secara serta merta Syamsul segera menguakkan kedua belah pahaku membukanya lebar-lebar untuk kemudian mulai menyetubuhi diriku kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlainan dengan suasana permulaan yang kualami tadi, dimana kami melakukan persetubuhan dalam suatu pertarungan yang dahsyat dan liar. Kali ini kami bersetubuh dalam suatu gerakan yang santai dalam suasana yang romantis dan penuh perasaan. Kami menikmati sepenuhnya sentuhan-sentuhan tubuh telanjang masing-masing dalam suasana kelembutan yang mesra bagaikan sepasang suami istri yang sedang melakukan kewajibannya. Aku pun dengan penuh perasaan dan dengan segala kepasrahan melayani Syamsul sebagaimana aku melayani suamiku selama ini. Keadaan ini berlangsung sangat lama sekali. Suasana ini berakhir dengan tibanya kembali puncak ejakulasi kami secara bersamaan. Kami kini benar-benar kelelahan dan langsung tergolek di tempat tidur untuk kemudian terlelap dengan nyenyak dalam suatu kepuasan yang dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak pengalaman kami malam itu, suamiku tidak mempermasalahkan lagi soal fantasi seksualnya dan tidak pernah menyinggung lagi soal itu. Hubunganku dan suamiku pun tetap berlangsung seperti biasa-biasa saja seperti dahulu. Hanya memang sejak pengalaman kami malam itu kurasakan gairah suamiku berangsur-angsur normal. Bila kami melaksanakan kewajiban suami-istri, dia telah dapat melaksanakannya secara normal sebagaimana lazimnya walaupun secara kualitas kurasakan tidak sehebat sebagaimana yang kualami bersama Syamsul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuakui malam itu Syamsul memang hebat. Walaupun telah beberapa waktu berlalu namun bayangan kejadian malam itu tidak pernah berlalu dalam benakku. Malam itu aku telah merasakan suatu kepuasan seksual yang luar biasa hebatnya yang belum pernah kualami bersama suamiku selama ini. Walaupun telah beberapa kali menyetubuhiku, Syamsul masih tetap saja kelihatan bugar. Alat kejantanannya pun masih tetap berfungsi dengan baik melakukan tugasnya keluar masuk liang kewanitaanku dengan tegar hingga membuatku menjadi agak kewalahan. Aku telah terkapar lunglai dengan tidak putus-putusnya mengerang kecil karena terus-menerus mengalami puncak orgasme dengan berkali-kali namun alat kejantanan Syamsul masih tetap tegar bertahan. Memang secara terus terang kuakui bahwa selama melakukan hubungan seks dengan suamiku beberapa bulan belakangan itu, aku tidak pernah mengalami puncak orgasme sama sekali. Apalagi dalam waktu yang berkali-kali dan secara bertubi-tubi seperti malam itu. Sehingga secara terus terang setelah hubungan kami yang pertama di malam itu kami masih tetap berhubungan tanpa sepengetahuan suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya di suatu pagi Syamsul berkunjung ke rumahku pada saat suamiku sudah berangkat ke tempat tugasnya. Secara terus terang saat itu dia minta tolong kepadaku untuk menyalurkan kebutuhan seksnya yang katanya sudah beberapa lama tidak dapat terpenuhi dari istrinya berhubung kesehatan istrinya yang sangat tidak mengizinkan. Mulanya aku ragu memenuhi permintaannya itu. Akan tetapi anehnya aku tidak kuasa untuk menolak permintaan tersebut. Sehingga kubiarkan saja dia melepaskan hasrat birahinya yang selama itu tidak tersalurkan dan kami melakukan hubungan cinta kilat di ruang tamu sambil berdiri. Hubungan itu rupanya membawa diriku ke dalam suatu alam kenikmatan lain tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kami berhubungan seks secara terburu-buru di suatu ruangan terbuka kurasakan suatu sensasi kenikmatan yang hebat dan sangat menegangkan. Keadaan ini membawa hubunganku dan Syamsul semakin berlanjut. Demikianlah sehingga akhirnya aku dan Syamsul sering membuat suatu pertemuan sendiri di luar rumah. Melakukan hubungan seks yang liar di luar rumah, baik dari satu kamar cottage ke kamar cottage lainnya ataupun dari satu kamar hotel ke kamar hotel lainnya. Kami saling mengisi kebutuhan jasmani masing-masing dalam adegan-adegan sebagaimana yang pernah kami lakukan di kamar tidurku di malam itu, dan sudah barang tentu perbedaannya kali ini adegan-adegan tersebut kini kami lakukan tanpa dihadiri dan tanpa diketahui oleh suamiku. Sebagai wanita yang sehat dan normal, aku tidak menyangkal bahwa berkat anjuran suamiku malam itu aku telah mendapatkan makna lain dari kenikmatan hubungan seksual yang hakiki walaupun hal itu pada akhirnya kuperoleh dari teman suamiku, yang kini menjadi teman tidurku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6182626498548124474-7313258989952698362?l=17tahunporno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://17tahunporno.blogspot.com/feeds/7313258989952698362/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6182626498548124474&amp;postID=7313258989952698362' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6182626498548124474/posts/default/7313258989952698362'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6182626498548124474/posts/default/7313258989952698362'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://17tahunporno.blogspot.com/2007/11/teman-suamiku-teman-tidurku.html' title='Teman Suamiku, Teman Tidurku'/><author><name>ishadow76</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6182626498548124474.post-982605045229298122</id><published>2007-11-30T03:34:00.000-08:00</published><updated>2007-12-07T23:46:11.217-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pesta sex'/><title type='text'>Telanjur Basah Ya Sudah</title><content type='html'>Namaku Jaka, umur 25 di tahun 2001 ini. Setelah lulus dari sebuah PT di kota Yogyakarta, aku mencoba untuk melanjutkan hidup di kota ini juga. Hingga akhirnya aku diterima di sebuah LSM, meskipun baru pada tingkat magang. Dengan alasan, saat aku kuliah dulu, aku pernah membantu sebuah proyek yang sedang ditangani oleh LSM lain. Dan kisah ini terjadi saat aku terlibat dalam proyek tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang, sebetulnya dunia yang selama ini kugeluti, sangat jauh dari dunia sex. Dan kalau pun tahu, itu hanya sebatas bacaan-bacaan semacam Nick Carter. Namun, setelah aku mengenal dunia cyber dan mendapatkan situs 17tahun.com dari temanku ini, rasanya aku mulai tahu tentang dunia yang satu ini. Dan mungkin bisa experience sharing, sekaligus menyalurkan hobiku dalam hal tulis-menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini bermula saat kepulanganku dari luar kota setelah melakukan hunting dan survey untuk proyek tersebut. Saat itu, jam di tanganku menunjukkan pukul 10.00 malam. Setelah bus jurusan Yogya-Surabaya yang kunaiki sampai di pertigaan Janti, aku bersiap-siap untuk turun. Beberapa penumpang pun turut berdiri, berjajar di belakangku. Hingga akhirnya, aku dan para penumpang lainnya sudah turun, bus melaju melanjutkan perjalanannya menuju terminal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sesaat melepas lelah sambil nongkrong di sebuah warung pinggir jalan, aku pun berniat untuk segera pulang lalu istirahat. Saat hendak membayar minum, aku rogoh saku belakangku. Dan aku pun sangat terkejut ketika kudapati, belakang celanaku ternyata robek.&lt;br /&gt;"Sialan..," makiku.&lt;br /&gt;"Kenapa, Dik..?" tanya penjual minuman itu.&lt;br /&gt;Aku sendiri tidak dapat berkata-kata apa-apa. Karena bagaiamanapun juga, toh aku juga harus tetap membayar minuman yang telah kuhabiskan. Dan untung saja, setelah kurogoh seluruh kantong yang ada di baju dan celanaku, aku menemukan sedikit uang yang cukup untuk sekedar membayar minuman tersebut. Dan akhirnya, aku beranjak meninggalkan warung itu dengan langkah gontai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yaa.. terpaksa pulang jalan kaki nih.." umpatku.&lt;br /&gt;Namun tidak berapa jauh aku melangkah, seorang wanita menegurku dari arah belakang.&lt;br /&gt;"Maaf, Dik.."&lt;br /&gt;Meskipun dengan sedikit malas, aku berusaha untuk menanggapi teguran tersebut.&lt;br /&gt;"Ada apa, Mbak..?" tanyaku.&lt;br /&gt;"Adik tahu jalan ini (dia menyebutkan salah satu jalan di kota ini)..?" tanyanya dengan nafas yang memburu terkesan seperti tergesa-gesa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan belum sempat aku menjawabnya, ia sudah menyambung dengan kata-katanya.&lt;br /&gt;"Kalo tahu, tolong dong, saya dianter. Bisa kan..? Please..!"&lt;br /&gt;Namun dengan berbagai alasan yang kubuat-buat, semula aku menolaknya. Dalam pikiranku, aku cuman mengeluh, sialan nih perempuan, tidak tahu orang lagi suntuk! Namun lama-kelamaan, akhirnya aku merasa iba juga melihatnya, apalagi dia sempat menawarkan imbalan berapa pun yang aku minta asalkan aku mau mengantarkannya. Hingga akhirnya, aku pun bersedia mengantarnya. Dan tentu saja dengan syarat, aku minta ongkos taksi untuk pulang ke kost. Itu saja. Dan ia pun setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, kami pun melaju menuju alamt tersebut dengan sebuah taksi. Di dalam taksi pun, kami mulai saling memperkenalkan diri. Dan ternyata, kami sama-sama satu bus. Hingga akhirnya aku berhasil memancingnya untuk bercerita tentang dirinya. Lalu ia pun bercerita tentang kisah pahit dalam hidupnya. Seolah aku terhanyut dengan cerita-cerita yang mengharukan yang ia tuturkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vina, nama perempuan itu. Usianya 30 tahun. Wajahnya cukup cantik. Terlebih lagi, dengan kaca mata yang ia kenakan, semakin menambah anggun kecantikannya. Ia adalah janda yang tidak mempunyai anak. Suaminya pergi dari rumah karena selingkuh dengan seorang karyawan yang kost di rumahnya. Sedangkan di kota ini, ia akan memulai hidup baru bersama kakak perempuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah-tengah cerita, sesekali ia mengusap air mata yang keluar dari pipinya saat bercerita. Atau mencoba menyembunyikan isakan tangisnya dengan menyandarkan kepalanya di atas pudakku. Mungkin, sudah menjadi naluri laki-laki untuk menjadi pengayom bagi seorang wanita. Dan itu juga yang coba kulakukan untuk mencoba menenangkan Mbak Vina. Dengan sedikit gemetar, aku mencoba untuk merangkul pundaknya. Kulontarkan kata-kata yang kupikir dapat meredam kesedihannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi entah setan dari mana, tiba-tiba aku teringat akan cerita-cerita panas yang pernah kubaca, ataupun film-film dari VCD yang pernah kutonton. Aku sendiri mencoba untuk mengusir khayalan-khayalan itu. Namun, sentuhan-sentuhan yang terjadi di antara kami, meskipun itu tidak di sengaja, justru semakin memancing hasrat kelaki-lakianku. Dan sedikit demi sedikit, aku mulai merasakan jika penisku mulai menegang. Aku mulai salah tingkah dan tidak tahu harus berbuat apa. Perlahan keringat dingin membasahai keningku. Namun, untung saja kejadian ini tidak berlangsung lama. Karena taksi yang membawa kami telah berhenti di sebuah rumah yang lumayan besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah sampai, Mas.." kata supir taksi itu.&lt;br /&gt;Lalu Mbak Vina pun membayar ongkos dan segera mengajakku menuju rumah itu. Setelah mengetuk pintu dan menunggu beberapa saat, seorang wanita yang mirip dengan Mbak Vina, tapi lebih tua sedikit, membuka pintu dan langsung berteriak sambil memeluk Mbak Vina. Mbak Vina pun menyambut pelukan itu dengan tangisan yang meledak. Hening sesaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oo.. ini toh Mbak Rani, kakaknya Mbak Vina.." Batinku.&lt;br /&gt;Lumayan juga. Kulitnya putih bersih. Dan kondisiku yang masih agak terangsang ini, semakin menjadi-jadi ketika kulihat Mbak Rani yang hanya menggunakan baju tidur, dengan belahan dada yang cukup lebar, sehingga belahan buah dada Mbak Rani dapat terlihat jelas. Aku sempat terpana juga melihat pemandangan seperti itu. Hingga akhirnya aku dikejutkan oleh teguran Mbak Rani untuk mengajak kami masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, setelah sedikit berbasa-basi, aku pun dipersilakan istirahat di ruang tidur tamu. Dan malam itu pun, akhirnya aku terpaksa di tidur di rumah Mbak Rani. Namun, meskipun tubuhku ini sangat lelah, aku heran, kenapa aku tidak dapat memejamkan mataku. Justru bayangan Mbak Vina dan Mbak Rani yang terus mengganggu pikiranku. Aku coba segala cara agar mata ini dapat terpejam, meski akhirnya tidak dapat juga. Lalu kuputuskan untuk melihat-lihat sekeliling kamar hinga aku melihat ada sebuah TV dan VCD player. Lalu kubuka beberapa laci yang ada, dan kutemukan beberapa keping CD. Maka kuputuskan untuk memutar CD tersebut sebagai penghantar tidurku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, justru aku tak dapat memejamkan mataku saat melihat adegan-adegan yang terpampang di film tersebut. Karena dari 5 CD yang ada, empat di antaranya film BF semua.&lt;br /&gt;"Nggak apalah.. dari pada nggak ada tontonan dan nggak bisa tidur.." batinku.&lt;br /&gt;Sambil tiduran di ranjang, aku pun menikmati film-film BF tersebut sendirian. Khayalanku pun semakin liar menerawang. Dan penisku pun mulai mengeras. Suara-suara desahan di TV semakin membuat nafsuku bergejolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah sadar atau tidak, perlahan tanganku mulai membelai-belai penisku sendiri. Perlahan celana panjang kuturunkan. Semula hanya sebatas lutut, meski akhirnya, aku tanggalkan seluruhnya.&lt;br /&gt;"Oohh.. mmhh.." desahku mengikuti irama permainan yang ada di layar TV.&lt;br /&gt;Semakin lama, semakin cepat pula gerakan tanganku mengocok penisku sendiri. Gerakan tubuhku semakin tak beraturan. Sesekali kakiku mengejang dengan pantat yang sedikit terangkat. Hingga akhirnya, "Aaggrkkh..aarrghh.." jeritku dengan suara tertahan.&lt;br /&gt;Dan bersamaan itu pula meledaklah larva berwarna putih kental dari ujung kemaluanku. Entah berapa kali semprotan yang keluar, aku tak sempat menghitungnya. Aku pun terkulai lemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keringat membasahi tubuhku. Aku limbung sambil masih berusaha menikmati sisa-sisa keletihan dalam kenikmatan itu. Dan entah berapa kali aku beronani di malam itu, aku tak ingat lagi. Karena, 4 CD yang ada kuputar semuanya non stop. Sampai aku tertidur dengan hanya kaos pendek yang melekat di tubuhku. Sementara tubuh bagian bawahku masih tidak mengenakan penutup samasekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lama mataku terpejam, aku dikejutkan dengan suara pintu kamar yang terbuka.&lt;br /&gt;"Eh.. maaf Dik. Aku pikir Dik Jaka udah tidur.." kata Mbak Rani.&lt;br /&gt;Aku tidak dapat mengeluarkan sepatah kata pun. Aku segera meraih celanaku yang tergeletak di pinggir ranjang. Meski tidak sempat mengenakannya, tapi cukup untuk sekedar menutupi bagian bawah tubuhku, terutama penisku.&lt;br /&gt;"A.. ada appa.. Mbak..?" tanyaku dengan nada terpatah-patah karena malu bercampur grogi.&lt;br /&gt;"Sorry, Dik. Aku mau ambil pakaian tidur di lemari itu. Kebetulan, pakaian yang ada di kamar Mbak, belum di cuci.." jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Mbak Rani pun menghampiri lemari di sisi kanan ranjang tempat aku berbaring. Saat ia menoleh ke arah TV yang ternyata masih menyala, Mbak Rani berpaling ke arahku sambil tersenyum. Aku pun terpaksa membalasnya dengan tersenyum juga. Meski pun dengan agak tertahan. Aku segera meraih remote yang ada di sebelahku, lalu segera mematikannya.&lt;br /&gt;"Kok dimatikan, Dik. Nggak pa-pa kok. Kalo belum selesai, dilanjutin aja. Tanggung kan..?" kata Mbak Rani sambil membelakangiku karena sedang mencari pakaian yang ia cari.&lt;br /&gt;"Nggak ah, Mbak.." sahutku, "Lagian juga udah ngantuk nih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai mengambil pakaiannya, Mbak Rani duduk di sisi ranjang. Ia mengambil remote yang ada di tanganku dan kembali menyalakan TV.&lt;br /&gt;"Nggak usah malu-malu. Santai aja. Apa perlu Mbak temenin biar nggak ngantuk..? Nonton film kaya gini ini, enaknya kan nggak cuman tiduran. Iya nggak Dik..?" kata Mbak Rani sambil melirik bagian selangkanganku.&lt;br /&gt;Aku hanya terdiam mendengar kata-kata itu. Dan selanjutnya, kami berdua terdiam. Hanya suara erangan dan desahan dari layar TV yang ada di kamar itu. Aku sendiri tidak dapat menikmati permainan yang sedang berlangsung di film itu. Meskipun kuakui, penisku mulai kurasakan kembali mengeras, namun aku justru salah tingkah sendiri. Sedangkan Mbak Rani, justru kulihat sangat menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mbak Vina, mana Mbak..?" tanyaku memecah keheningan dan sekedar untuk menghilangkan gemetarku.&lt;br /&gt;Mbak Rani menoleh ke arahku dengan seungging senyum di bibir tipisnya. Dengan perlahan ia mendekatiku. Aku semakin tidak dapat mengendalikan diriku.&lt;br /&gt;"Kan ada Mbak Rani di sini. Kasihan Mbak Vina, kelihatannya capek. Biarin aja dia istirahat," kata Mbak Rani sambil menyentuh kulit pahaku dan mengelus-elus pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku semakin tidak dapat mengendalikan diriku. Dan sebelum aku menjelaskan maksud pertanyaanku, tangan kanan mungil Mbak Rani sudah menggenggam kemaluanku. Aku sedikit tersentak terkejut mendapat perlakuan seperti itu. Terlebih lagi saat tangannya perlahan mengocok penisku. Aku tidak dapat berbuat apa-apa saat kesadaranku melayang entah kemana. Ketika tangan kiri Mbak Rani mendorong dadaku, aku perlahan merebah di atas ranjang. Namun, tiba-tiba kesadaranku muncul dan segera menarik tangan kanan Mbak Rani yang sedang membelai penisku. Dan aku segera bergeser ke samping saat tubuh Mbak Rani hendak menindih tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan, Mbak.. ini tidak boleh..!" aku mencoba mengingatkan Mbak Rani.&lt;br /&gt;"Pleassee.. Dik.. tolong Mbak.." pinta Mbak Rani dengan wajah yang sudah terlihat sayu dengan nafas memburu.&lt;br /&gt;"Tolong, Mbak. Saya nggak bisa melakukan ini.." sahutku.&lt;br /&gt;Mbak Rani hanya terdiam. Kulihat ada rasa kekecewaan di raut wajahnya. Lalu dengan tanpa suara dan wajah sedikit bersungut, Mbak Rani meninggalkanku sendirian di kamar. Aku hanya dapat melihat punggung Mbak Rani meninggalkan kamarku. Akhirnya aku dapat bernafas lega sambil mencoba mengulang kembali peristiwa yang baru saja terjadi. Hingga akhirnya aku pun terpejam dan terlelap dalam tidurku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi harinya, ketika aku terbangun, jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Aku pun segera berkemas dan siap untuk pulang. Setelah kurasa semuanya beres, aku segera beranjak menuju pintu kamar. Namun ketika pintu belum kubuka lebar, aku menyaksikan adegan yang mengejutkan di ruang tengah. Di sebuah sofa di depan TV yang tengah menayangkan sebuah film porno, aku melihat Mbak Rani tengah berciuman dan saling melumat dengan seorang perempuan. Nafasnya jelas sekali terengah-engah dengan sesekali diselingi desahan-desahan. Sementara tangan kanannya memeluk perempuan yang berada di sampingnya. Dan tangan kirinya meremas-remas rambut lelaki yang ada di bawahnya. Dalam pandanganku, nampak kedua tangan lelaki itu meremas-remas payudara sekaligus puting Mbak Rani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara kedua pahanya, kulihat seseorang tengah asyik mempermainkan vagina Mbak Rani. Aku sendiri hanya terdiam, dan kurasakan dadaku mulai naik turun. Kemaluanku pun semakin mengeras.&lt;br /&gt;"Oochh.. sshhtt.. yyaacchh.. terruuss Deedd.." Mbak Rani meracau sambil mendongakkankepalanya.&lt;br /&gt;Sementara perempuan yang berada di sampingnya, terus menerus menelusuri leher Mbak Rani yang terlihat putih jenjang dengan sedikit ada bekas-bekas merah akibat ciuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku semakin tidak tahan melihat pergumulan itu. Tanganku bergerak perlahan dan mengusap-usap kemaluanku yang telah mengeras. Aku hanya dapat menggigit bibir bawahku sambil mengusap-usap penisku dari luar. Lalu perlahan aku masukkan salah satu tanganku ke dalam celana jeans-ku. Dengan sangat perlahan karena takut ketahuan, aku menurunkan celanaku. Tiba-tiba, "Bruuk..!" aku terkejut dengan tas yang tergantung di bahuku terjatuh. Mbak Rani, lelaki dan perempuan itu tiba-tiba segera menghentikan permainannya, dan secara bersamaan menoleh ke arahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sialan.." makiku dalam hati.&lt;br /&gt;Aku hanya terdiam dengan ketakutan dan gemetar ketika mereka bertiga melihat ke arahku.&lt;br /&gt;"Maaf.. maa.. af.." kataku langsung menutup pintu dan kembali masuk ke dalam kamar.&lt;br /&gt;Di dalam kamar aku hanya dapat memaki habis-habisan. Aku segera beranjak mendekati tempat tidur. Dan dengan celanaku yang tetap dalam posisi agak melorot, aku mencoba mengingat-ingat kejadian yang baru saja kusaksikan. Aku semakin tidak dapat mengendalikan nafsuku. Dan kocokan-kocokan kecil dari tanganku semakin membuat tubuhku panas dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurebahkan tubuhku di atas ranjang dengan tangan kananku yang tetap mengocok penisku. Belum sempat aku menyelesaikan permainanku, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Dan di depan pintu kulihat Mbak Rani dan kedua temannya sudah berdiri dengan tanpa sehelai benang pun menempel di ketiga orang itu. Aku terkejut dan segera bangun dari tidurku, dan membenahi posisi celanaku yang turun ke bawah sampai ke lutut. Akan tetapi, lelaki yang berada di antara Mbak Rani dan seorang perempuan itu dengan cepat segera mengangkat ujung kakiku sambil tangannya mendorong tubuhku. Sehingga dengan sendirinya aku terpelanting ke belakang. Tubuhku pun kembali rebah di atas ranjang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dengan cepat, lelaki itu naik ke atas ranjang, dan dengan cepat duduk di atas dadaku dengan kedua lututnya yang berada di samping kanan kiriku sambil kedua tangannya memegang tanganku. Mbak Rani dan teman wanitanya segera mendekatiku.&lt;br /&gt;"Arya, terus pegang yang kuat. Jangan sampai lepas..!" kata Mbak Rani kepada lelaki yang memegang kedua tanganku.&lt;br /&gt;Lelaki yang bernama Arya itu pun semakin kuat mencengkeram kedua tanganku.&lt;br /&gt;"Nov, kamu pegang kakinya.." sambung Mbak Rani sambil mendekati tubuhku yang hampir tidak dapat berkutik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencoba berontak dengan menedang-nendang kakiku. Namun, kembali kakiku terdiam saat Arya yang duduk berada di atas dadaku menekan tubuhku dengan tubuhnya. Lalu ia tersenyum dengan penuh arti, dan perlahan mengusap-usap pahaku. Aku berusaha untuk meronta, tapi cengkeraman Arya dan Nova justru semakin kuat.&lt;br /&gt;"Toloong, Mbak.. Lepaskan saya," pintaku.&lt;br /&gt;Mbak Rani tidak memperdulikan kata-kataku. Sekarang ia justru mulai mendekatkan wajahnya ke arah paha dan kemaluanku. Dan tidak berapa lama, aku mulai merasakan kalau pahaku terasa basah. Kemaluanku masih agak tegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku semakin meronta. Tapi itu justru membuat Mbak Rani semakin keranjingan untuk terus menjilati pahaku. Tangan kanannya pun mulai memegang penisku dan mengocoknya perlahan. Akhirnya, aku pun tidak dapat menahan ciuman-ciuman bibir Mbak Rani di pahaku. Tangan lembutnya yang mengocok penisku pun mulai kurasakan sebagai satu kenikmatan tersendiri. Namun aku tetap berusaha untuk tidak larut dalam permainan itu. Tapi bagaimanapun juga aku seorang lelaki. Dan mendapat rangsangan seperti itu, terkadang membuat nafasku tersengal akibat birahi di tubuhku mulai memanas. Terlebih lagi ketika lidah Mbak Rani mulai menyentuh batang kemaluanku. Sedangkan Nova yang dari tadi memegang kakiku pun turut memberikan ciuman-ciuman di betisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku semakin tidak kuat untuk menahan rangsangan-rangsangan yang ditimbulkan akibat jilatan-jilatan lidah Mbak Rani. Sesekali batang kemaluanku masuk ke dalam mulut Mbak Rani. Dan kurasakan hisapan-hisapan dari mulutnya membuat tubuhku semakin panas dingin.&lt;br /&gt;"Bagaimana sayang, kamu menikmatinya kan..?" goda Mbak Rani dengan melirik ke arahku.&lt;br /&gt;Lalu ia berdiri dan berjalan ke arah almari di samping ranjang. Tidak berapa lama Mbak Rani kembali dengan membawa beberapa helai kain.&lt;br /&gt;"Tarik ke atas, Ar," Kata Mbak Rani sambil membentangkan kainnya.&lt;br /&gt;Arya pun turun dari atas dadaku, dan dengan kasar Arya pun menarik tubuhku ke atas. Kini Mbak Rani ikut-ikutan ke atas ranjang. Dan dengan santainya, ia segera duduk di atas dadaku untuk mengikat kedua tanganku di tepi ranjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ia duduk di atas dadaku, kurasakan vaginanya ia tekan dan gesek-gesekkan ke dadaku. Dan saat Mbak Rani membungkuk untuk mengikat kedua tanganku pun ia gesek-gesekkan pula susu di wajahku. Saat itu pula kurasakan kekenyalan sebongkah susu.&lt;br /&gt;"Aayyoo sayyangg.. hisap-hisap susu Mbak.." racau Mbak Rani mencoba memberikan rangsangan-rangsangan kepadaku.&lt;br /&gt;Aku hanya memalingkan wajahku ke kanan dan ke kiri untuk lebih merasakan kekenyalan buah dada milik Mbak Rani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Arya yang tadi berada di atasku, kini pindah ke bawah dan juga mengikat kedua kakiku dengan kain yang diambilkan Mbak Rani dari lemari tadi. Sesaat setelah mereka bertiga mengerjaiku seperti ini, lalu mereka duduk di pinggir ranjang sambil sesekali tersenyum melihat kondisiku yang sudah tidak berdaya.&lt;br /&gt;"Arya, Nova, ayo kita lanjutkan lagi permainan yang tadi belum selesai.." kata Mbak Rani sambil merunduk mendekatkan wajahnya ke penis Arya sambil berjongkok.&lt;br /&gt;Arya pun duduk di sisi ranjang dan memberikan penisnya yang lumayan besar itu ke mulut Mbak Rani. Sedangkan Nova berdiri di samping Arya dan memberikan kedua buah dadanya untuk dihisap Arya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oorghh.. yaa.. terus Raann.. Ssstthh.. yaangg.. kencceenggrrhh.." terdengar desahan Arya menikmati kemaluannya yang terus dikulum Mbak Rani.&lt;br /&gt;"Oohh.. sstthh.. teerruuss.. Aarr.. yaanng keerraa.. ss.. hissaapp.. nnyaa..!" Nova pun juga mendesah dengan sesekali kedua tangannya menjambak rambutnya sendiri.&lt;br /&gt;Aku sendiri tidak berbuat apa-apa dengan apa yang mereka bertiga lakukan. Aku hanya dapat meyaksikan mereka mereguk kenikmatan tanpa dapat berbuat apa-apa. Nafasku pun mulai memburu seiring dengan tubuhku yang mulai terasa panas dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi Nova yang berhadap-hadapan denganku hanya tersenyum menggodaku. Perlahan ia mendekati sisi ranjang. Dengan tetap membiarkan payudaranya dihisap dan dijilati oleh lidah Arya, ia mendekatiku. Lalu perlahan tangannya mulai membelai pahaku. Kembali aku hanya dapat menggigit bibir bawahku untuk menahan rangsangan itu.&lt;br /&gt;"Terruss.. Nov.. ke attass.." kataku sambil menahan gairah yang sudah terlalu menggebu.&lt;br /&gt;Aku tidak perduli lagi dengan apa yang terjadi tadi malam saat aku menolak bermain cinta dengan Mbak Rani.&lt;br /&gt;"Terlanjur basah, ya sudah mandi sekalian..," batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oorrghh.. yyaacchh.. sstt.." aku hanya dapat mendesah menikmati belaian lembut dan kocokan pelan tangan Nova di batang kemaluanku.&lt;br /&gt;Pinggulku bergerak ke arah kanan-kiri dan terkadang sedikit kuangkat untuk menikmati permainan itu. Dan secara perlahan, tanpa mau melepaskan hisapan-hisapan mulut Arya di kedua buah dadanya, Nova bergerak mendekatkan wajahnya ke arah selangkanganku. Tubuhku semakin panas dingin dan bergetar hebat melihat apa yang akan dilakukan Nova di selangkanganku. Aku menahan nafas untuk menikmati permainan selanjutnya. Tapi, tiba-tiba tangan Mbak Rani yang tadi sibuk dengan kemaluan Arya, segera menarik tubuh Nova.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari pada jilatin itu, mendingan jilatin punyaku aja, Nov..," kata Mbak Rani sambil bangkit dari jongkoknya dan duduk di sebelah Arya yang hanya tersenyum kepadaku tanpa kutahu maksudnya.&lt;br /&gt;Nova sendiri hanya menuruti kata-kata Mbak Rani yang seolah-olah memang menguasai permainan itu. Sekarang, Mbak Rani meletakkan pantatnya di sisi ranjang. Kaki kanannya ia biarkan tergelantung. Sementara kaki kirinya ia letakkan di sisi ranjang, sehingga pangkal pahanya terbuka. Dan giliran Nova yang jongkok mendekati vagina Mbak Rani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oorgghh.. sstthh.. yyaa.. oouppss.." erang Mbak Rani ketika lidah Nova menyentuh vaginanya.&lt;br /&gt;Arya yang melihat Mbak Rani dan Nova dalam keadaan seperti itu, langsung meraih wajah Mbak Rani yang duduk di sampingnya. Ia lumat habis bibir Mbak Rani sambil mengarahkan tangan Mbak Rani untuk mengocok penisnya.&lt;br /&gt;"Ouuggrrhh.. yaacchh.. sstt.. aauuwww..!" geliatan Mbak Rani semakin menjadi.&lt;br /&gt;Tubuhnya bergerak-gerak seperti cacing kepanasan, tidak beraturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tidak berapa lama, kulihat Mbak Rani membungkukkan tubuhnya ke arah kemaluan Arya. Rupanya ia belum puas mengulum penis Arya.&lt;br /&gt;"Aaacchh.. Noovv.. aakk.. kuu mmaauu.. keelluuaa.. arr.." erangan Mbak Rani di sela-sela kesibukan bibirnya melumat penis Arya.&lt;br /&gt;Mendengar teriakan itu, Arya pun merubah posisinya. Ia biarkan Mbak Rani yang tergeletak dengan posisi miring di sisi ranjang. Lalu Arya ikut jongkok di samping Nova yang gerakan-gerakan kepalanya makin cepat menjilat dan menghisap-hisap vagina Mbak Rani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arya segera mendekatkan bibirnya ke puting susu Mbak Rani. Mendapat perlakuan seperti itu, Mbak Rani sepertinya tidak kuat lagi menahan puncak orgasmenya.&lt;br /&gt;Hingga akhirnya, "Aargghh.. aachh..!" Mbak Rani mengerang sejadi-jadinya menikmati lendir kenikmatannya keluar dari vaginanya.&lt;br /&gt;Sedangkan Nova pun semakin cepat pula membersihkan cairan yang keluar dari vagina Mbak Rani dengan hisapan-hisapan kuatnya.&lt;br /&gt;"Ooocchh.. yyaacchh.." terdengar nafas Mbak Rani yang memburu dan kadang tersengal menikamti sisa-sisa orgasmenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dengan tubuh yang sudah agak lemas itu, Mbak Rani kembali duduk sambil mengangkat pinggul Nova. Sehingga posisi Nova menjadi menungging. Mbak Rani lalu meoleh ke arah Arya yang berdiri di sampingnya, lalu memberi isyarat. Arya tahu apa yang dimaksud. Lalu ia pun berdiri di belakang bongkahan pantat Nova yang menungging dengan batang zakarnya yang masih tegak mangacung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu siap, Nov..?" tanya Arya yang sudah siap dengan penisnya.&lt;br /&gt;"Cepetan doongg.. Arr.. udah nggak tahhaann niichh..!" sahut Nova yang sebentar menoleh ke arah Arya, lalu melanjutkan memainkan lidahnya di vagina Mbak Rani.&lt;br /&gt;"Aacchh.. peellaann.. peellaa.. aann.. Arr..!" desah Nova saat bibir kemaluannya menerima sodokan ujung penis Arya.&lt;br /&gt;Saat penis Arya sudah seluruhnya masuk ke vagian Nova, ia maju mundurkan pinggulnya dengan irama yang stabil. Nova pun mengiringinya dengan memutar-mutar pantatnya. Kedua tangan kekarnya membantu menggerak-gerakkan pinggul Nova.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hoohh.. sstt.. teerruu.. uuss.. Aarr.. lebbiihh kerraa.. arrs..!" Mbak Rani sendiri pun ikut-ikutan mendesah.&lt;br /&gt;Kedua tangannya ia gunakan untuk meremas-remas payudara Nova yang masih tetap membungkuk di depannya. Sesekali ia menurunkan badannya untuk menciumi punggung Nova yang mulus itu. Sementara Nova, mendapat serangan dari atas dan bawah itu hanya dapat menahan desahan-desahannya. Karena mulutnya pun sibuk di antara pangkal paha Mbak Rani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit kemudian, Arya dan Nova sepertinya hendak mencapai puncak orgasmenya. Kulihat Arya yang seolah-olah sudah tidak kuat lagi menahan mani yang mau keluar dari penisnya.&lt;br /&gt;"Noovv.. aakkuu mmauu keelluu.. aarr..!" kata Arya di sela-sela gerakan maju mundur pantatnya.&lt;br /&gt;"Ceeppaatt.. Aarr.. akkuu jjuggaa.. mmauu keelluu.. aarrgghh.. aarrghh.. sstt..!" erang Nova saat mencapai klimak sambil mendongakkan kepalanya.&lt;br /&gt;Melihat itu, Mbak Rani segera menyambutnya dengan ciuman di bibir Nova. Dan bersamaan itu pula, kulihat Arya menekan pinggulnya keras-keras ke pantat Nova.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa saat, ketiganya terdiam menikmati orgasme mereka masing-masing dengan nafas yang terengah-engah.&lt;br /&gt;"Gila.. kamu Nov. Memek kamu kuat sekali kalau menjepit ya..," puji Arya sambil duduk di sisi ranjang di sebelah Mbak Rani.&lt;br /&gt;Nova hanya tersenyum mendengar kata-kata itu.&lt;br /&gt;"Kalo sama punya Mbak Rani, kuatan mana..?" goda Nova sambil mendekati Arya dan melirik sebentar ke arah Mbak Rani.&lt;br /&gt;"Ah.. apa-apan sih kamu, Nov..?" sahut Mbak Rani dengan sedikit malu.&lt;br /&gt;Lalu ketiganya bercanda sambil berpelukan di sisi ranjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh.. Kalian masih kuatkan..?" tiba-tiba Mbak Rani memotong pembicaraan mereka sambil menoleh ke arahku.&lt;br /&gt;Lalu ketiganya pun menoleh ke arahku yang masih menahan nafsu akibat melihat persetubuhan yang baru saja kusaksikan tanpa dapat berbuat apa-apa.&lt;br /&gt;"Kalo bareng-bareng, boleh nggak Ran..?" tanya Arya kepada Mbak Rani.&lt;br /&gt;"Usulan menarik itu.." sahut Nova dengan sambil melirik ke arah penisku yang sudah sedikit mengendor.&lt;br /&gt;"Ok.. kita mulai..!" kata Mbak Rani sambil memberi isyarat kepada Nova dan Arya untuk mencari posisi masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih terbengong-bengong sambil bertanya-tanya, apa yang akan mereka perbuat kepadaku. Lalu kulihat, Nova pindah ke samping kiriku. Sementara Arya di tengah, tepat di antara kedua kakiku yang mengangkang karena ikatan tali itu. Sedangkan Mbak Rani berada di samping kananku. Perlahan mereka mengusap-usap bagian tubuhku. Mulai dari dada, perut, paha sampai ujung kaki. Tidak ada lagi kulitku yang lolos dari belaian-belaian tiga pasang tangan itu. Aku hanya dapat mendesah perlahan menikmati belain-belaian itu sambil memejamkan mataku. Hingga akhirnya, kedua putingku terasa basah dan hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kubuka mataku, aku melihat Mbak Rani dan Nova sudah menempelkan bibirnya di kedua putingku. Dan tidak berapa lama, pahaku pun juga terasa basah. Rupanya Arya pun turut menempelkan bibirnya di tubuhku. Kembali aku memejamkan mataku agar dapat menikmati jilatan-jilatan di tubuhku sepenuhnya. Apalagi dengan posisiku yang telentang pasrah dengan kedua tangan dan kaki terikat. Tiba-tiba aku sedikit tersentak dan mengangkat pinggulku ketika jilatan-jilatan itu kurasakan mengumpul di bawah pusarku. Tepat di selangkanganku.&lt;br /&gt;"Aarrghh.. aacchh.. hhoohh.. sstthh..!" eranganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak mataku kubuka kembali untuk melihat ketiga bibir yang tengah mempermainkan batang kemaluanku. Kulihat Mbak Rani dan Nova saling bergantian mengulum penisku. Sedangkan Arya sibuk mengulum dan melumat habis kedua biji telurku. Sesekali kuangkat pinggulku saat Mbak Rani atau Nova mengulum penisku. Mbar Rani ataupun Nova tahu apa yang kulakukan, mereka justru mengimbanginya dengan mempercepat kulumannya. Saat pantatku kuangkat, aku kembali menerima sensasi yang lain. Karena dengan kuangkat pantatku, Arya justru menggelitik lubang anusku dengan ujung lidahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mbak.. dilepas aja talinya, Mbak.." pintaku kepada Mbak Rani.&lt;br /&gt;Mbak Rani yang mendengar kata-kataku bergerak naik perlahan sambil terus menjilati sekujur tubuhku. Saat wajah sayunya tepat berada di dadaku, ia mendongak ke atas, sambil tersenyum penuh rasa kemenangan.&lt;br /&gt;"Pleeaasse.. tolloonngg.. mmbb.." aku merajuknya kembali.&lt;br /&gt;Belum selesai kata-kata yang keluar dari bibirku, bibir Mbak Rani sudah menerkam bibirku. Maka kubalas pula lumatan-lumatan bibirnya. Bibir kami saling memagut dan saling memilin. Mbak Rani pun menggeser tubuhnya ke atas tubuhku. Kurasakan dadaku yang tertindih dengan dada Mbak Rani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekenyalan buah dadanya kurasakan lembut dan hangat di dadaku. Lalu ia menggeserkan pinggulnya ke arah Nova. Nova pun paham dengan kelakuan Mbak Rani itu. Ia segera menjulurkan lidahnya ke arah vagina Mbak Rani yang kembali becek itu. Sedangkan bibir Arya menggantikan bibir Nova untuk mengulum batang kemaluanku. Desahan-desahanku dan Mbak Rani pun hanya tertahan dalam pagutan-pagutan bibir kami. Sementara vagina Mbak Rani dijilati oleh Nova, batang kemaluanku pun dikulum rakus oleh Arya. Sesekali aku tersentak kembali saat lidah Arya bergerak turun ke arah anusku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berapa lama Nova memberi pelumas di bibir vagina Mbak Rani dengan air liurnya, Mbak rani sudah tidak tahan lagi.&lt;br /&gt;"Udaacchh.. Novv.. masukin aja kontolnya.. uddaacchhss.. nggaakkgg.. aahhaann.. nicchh..!"&lt;br /&gt;Lalu Nova memegang batang kamaluanku dalam genggamannya dan menuntunnya ke arah vagina Mbak Rani. Dan bless.., kurasakan ada sesuatu yang hangat dan basah menyentuh setiap kulit di kemaluanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ooouucchh.. yyaacchh.. sshhtt.." terdengar erangan Mbak Rani saat penisku mulai memasuki lubang vaginanya.&lt;br /&gt;Kulihat Mbak Rani hanya mendongakkan kepalanya sambil matanya merem melek sambil menggigit bibir bawahnya sendiri. Lalu perlahan dan pasti, ia naik turunkan pinggulnya dengan dibantu kedua tangan Nova yang membantu memeganginya. Aku pun secara refleks segera menaik-turunkan pinggulku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lepasin talinya doong Mbak.." aku mencoba kembali meminta Mbak Rani saat bibir kami terlepas untuk sejenak menarik nafas.&lt;br /&gt;Ketika kedua tangan Mbak Rani menuju ke arah tali yang mengikat, tiba-tiba Arya melarangnya.&lt;br /&gt;"Nggak usah dilepas dulu, Mbak.. Punyaku juga nggak tahann nicchh.."&lt;br /&gt;Aku terkejut mendengar kata-kata Arya itu. Dalam benakku, apa hubungannya tali yang mengikatku dengan 'punya'-nya Arya. Tapi belum sempat aku berpikir lama, kurasakan sesuatu yang kenyal, basah dan hangat menyentuh ujung kemaluanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yeaacchh.. terruuss.. Jak.. yang kerraass..!" Mbak rani semakin meracau tidak karuan saat batang kemaluanku mengaduk-aduk dinding dalam vagina Mbak Rani.&lt;br /&gt;"Konnttollmuu.. eennaacckk.. Jaakk.."&lt;br /&gt;Aku pun ikut-ikutan mengerang nikmat. Namun, di tengah-tengah kenikmatan yang kurasakan, aku sedikit tersentak dan kurasakan anusku sedikit perih.&lt;br /&gt;"Aauuwww.. ssaakkiitt.. Aarr..!" jeritku ketika kulihat Arya sudah bersimpuh di antara selangkanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua kakinya ia selipkan di bawah pahaku. Sehingga secara otomatis, pinggulku agak terangkat ke atas. Saat itu, sejenak aku melupakan kenikmatan yang kudapat dari Mbak Rani. Saat itu aku hanya merasakan perih di lubang anusku. Saat kulihat tubuh Arya, ia tengah sibuk dan perlahan-lahan bergerak maju mundur. Rupanya pertanyaan yang tadi sempat terlintas dalam benakku, kini terjawab sudah. Ternyata Arya ingin bermain anal dengan anusku. Dan mungkin, dalam pikirannya, jika tali itu dilepas, aku pasti menolaknya. Mbak Rani pun sempat kaget ketika mendengar jeritanku. Sejenak ia menoleh ke belakang, dan hanya tersenyum. Lalu kembali merundukkan tubuhnya dan meyambar bibirku yang terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jeritan-jeritanku pun akhirnya tertahan di mulut Mbak Rani. Kepalaku hanya bergoyang-goyang ke kanan dan ke kiri mendapat perlakuan seperti itu. Antara kenikmatan dari batang penisku yang dicengkeram kuat oleh dinding vagina Mbak Rani dan rasa perih akibat permainan anal dari Arya. Lama-lama kelamaan rasa perih itu berangsur-angsur berkurang, berbaur dengan rasa nikmat yang menjalar ke seluruh sendi tubuhku. Sedangkan Nova yang sedari tadi hanya membantu pinggul Mbak Rani saat bergerak naik turun, mulai ikut aktif dalam permaianan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nova segera mendaratkan ciumannya di bibir Arya. Lalu tangan kanannya pindah ke arah pangkal pahanya dan mulai mengocok-kocok vaginanya sendiri. Namun ternyata, Nova kurang puas dengan posisi seperti itu. Akhirnya Nova pun melepaskan ciumannya dan menarik tubuh Mbak Rani yang sudah tengkurap menindih tubuhku. Lalu langsung menyambar bibir Mbak Rani, sementara tangan kanannya tidak ia lepaskan dari vaginanya sendiri. Dengan tangan kanannya, Mbak Rani memeluk pinggang Nova. Nova pun menggeser tubuhnya agar bisa enjoy menikmati ciuman Mbak Rani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Novv.. memeecckk.. muu.. ssiinn.. nii Noovv.." aku nekat meminta vagina Nova untuk kujilati meski dengan kata-kata terputus menikmati permainan sehebat itu.&lt;br /&gt;Lalu Nova menggeser pantatnya ke arah wajahku. Dan dalam kedua kaki Nova pun menyilang tepat di atas wajahku. Dan untuk pertama kalinya, aku menjilat-jilat vagina seorang perempuan. Agak asin dan licin saat cairan di bibir vagina Nova menempel di bibirku. Namun tidak berapa lama, aku langsung memiringkan wajahku dan menjerit keras saat kurasakan spermaku hendak muntah dari ujung penisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yyaanngghh.. kerraass.. Mbaackk.. aackkuu.. mmauu.. kelluuaarrgghh.." dan saat itulah kuangkat pinggulku dengan keras hingga pantat Mbak Rani yang berada di atas pinggulku juga turut terangkat.&lt;br /&gt;Hingga akhirnya, spermaku pun keluar ke dalam vagina Mbak Rani. Sedangkan Mbak Rani ikut mengimbangi gerakanku. Sejenak mereka bertiga diam dalam posisi masing-masing. Penis Arya yang sedang berada di dalam anusku pun kurasakan ikut berhenti sambil meremas-remas pantatku. Mbak Rani pun turut berhenti, meski tanpa melepaskan bibirnya dari bibr Nova. Sedangkan Nova kembali menggesek-gesekkan tangannya di vaginannya sendiri. Rupanya mereka bertiga memberi kesempatan kepadaku untuk menikmati klimaksnya sebuah orgasme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tidak berapa lama, kulihat Arya segera mengocok kemaluannya dengan frekuensi lebih cepat. Begitu juga dengan Mbak Rani yang semakin mempercepat gerakan naik turunnya pinggangnya. Mungkin khawatir, jika penisku mulai mengendur.&lt;br /&gt;Hingga akhirnya, "Acckkuu.. keelluaarr.. Jaacckk.."&lt;br /&gt;Kurasakan cairan keluar dari vagina Mbak Rani meleleh dan memberikan efek hangat di batang kemaluanku yang masih tersimpan di dalam vagina Mbak Rani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Rani lalu melepaskan jepitan vaginanya, kemudian mendekatkan bibirnya ke arah batang kemaluanku. Penisku pun dilumat habis dalam mulut Mbak Rani. Seiring itu pula, Arya kulihat semakin mengejang dengan nafas agak tertahan. Dan saat ia benamkan seluruh batang kemaluannya dalam anusku, saat itulah kurasakan ada cairan hangat menyentuh dinding-dinding anusku. Arya pun mendapatkan puncak orgasmenya. Arya pun mencabut penisnya dari anusku, dan kemudian ikut menjilat-jilat batang kemaluanku, meski kurasakan batang penisku sudah mulai mengendur. Sedangkan Nova masih saja berkutat dengan jari-jari tangannya yang sibuk mengocok vaginanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mbak Rani, Arya.., tolongin akuu.. dong.." sambil melentangkan tubuhnya di sampingku dan membuka kedua kakinya.&lt;br /&gt;Bibirnya pun diarahkan ke mulutku. Aku pun membalas ciuman bibir Nova. Sementara itu, Mbak Rani dan Arya sibuk menjilat-jilat vagina Nova. Setelah beberapa saat, Nova melepaskan ciumannya, dan, "Aaarrccgghh.." Nova mengerang saat mencapai orgasmenya. Ia tersenyum puas ke arahku dan memberikan seulas senyum manis kepadaku.&lt;br /&gt;"Gimana sayang..?" tanyanya menggodaku.&lt;br /&gt;"Tadi malam, diajak single nggak mau.." sahut Mbak Rani yang menggeser tubuhnya naik sambil melepaskan tali di kedua tanganku.&lt;br /&gt;Arya pun juga sudah melepaskan ikatan tali di kedua kakiku, lalu menyusul naik ke atas.&lt;br /&gt;"Punya kamu masih sempit, Jak. Masih perawan ya..?" kata Arya sambil bergeser mendekatkan tubuhnya ke tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini posisi kami berempat saling berhimpitan di atas sebuah ranjang, saling memeluk dan menyilangkan kaki. Aku hanya geleng-geleng kepala dengan peristiwa yang baru saja kualami.&lt;br /&gt;"Kenapa sayang..?" tanya Mbak Rani melihat gelengan kepalaku.&lt;br /&gt;Aku tersenyum mendengar pertanyaan itu. Mbak Rani, Nova dan Arya pun ikut tersenyum melihat tingkahku. Hingga akhirnya kami terlelap dalam tidur dengan masing-masing masih telanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah pengalaman pertamaku melakukan hubungan sex. Pengalaman yang hanya sekali itu kualami. Karena beberapa minggu setelah peristiwa itu, Arya pulang ke daerah asalnya di luar Jawa, karena kuliahnya sudah selesai. Sedangkan Nova, telah menikah. Meskipun katanya masih tinggal di kota ini, tapi aku tidak mendapatkan alamatnya yang jelas. Itu kuketahui saat aku kembali bertandang ke rumah Mbak Rani beberapa minggu kemudian. Sehingga, saat itu aku hanya bercinta dengan Mbak Rani. Single fighter, kata Mbak Rani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang peristiwa itu hanya berlangsung beberapa saat, namun peristiwa itu pula yang telah merenggut keperjakaanku sekaligus 'keperawananku'. Hingga saat ini pun, terkadang aku masih ingin mengulangi pengalaman pertamaku itu. Meski sebenarnya, aku yakin jika suatu saat nanti, aku dapat mengulanginya kembali. Namun, hanya setumpuk pertanyaan yang ada di dalam benakku saat ingin kembali mengulanginya. Kapan, dimana dan dengan siapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6182626498548124474-982605045229298122?l=17tahunporno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://17tahunporno.blogspot.com/feeds/982605045229298122/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6182626498548124474&amp;postID=982605045229298122' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6182626498548124474/posts/default/982605045229298122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6182626498548124474/posts/default/982605045229298122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://17tahunporno.blogspot.com/2007/11/telanjur-basah-ya-sudah.html' title='Telanjur Basah Ya Sudah'/><author><name>ishadow76</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6182626498548124474.post-180485384196592879</id><published>2007-11-30T03:33:00.000-08:00</published><updated>2007-12-07T23:45:35.574-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pesta sex'/><title type='text'>Nilai Ujian</title><content type='html'>Dengan langkah ragu-ragu aku mendekati ruang dosen di mana Pak Hr berada.&lt;br /&gt;"Winda..", sebuah suara memanggil.&lt;br /&gt;"Hei Ratna!".&lt;br /&gt;"Ngapain kau cari-cari dosen killer itu?", Ratna itu bertanya heran.&lt;br /&gt;"Tau nih, aku mau minta ujian susulan, sudah dua kali aku minta diundur terus, kenapa ya?".&lt;br /&gt;"Idih jahat banget!".&lt;br /&gt;"Makanya, aku takut nanti di raport merah, mata kuliah dia kan penting!, tauk nih, bentar ya aku masuk dulu!".&lt;br /&gt;"He-eh deh, sampai nanti!" Ratna berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memberanikan diri aku mengetuk pintu.&lt;br /&gt;"Masuk..!", Sebuah suara yang amat ditakutinya menyilakannya masuk.&lt;br /&gt;"Selamat siang pak!".&lt;br /&gt;"Selamat siang, kamu siapa?", tanyanya tanpa meninggalkan pekerjaan yang sedang dikerjakannya.&lt;br /&gt;"Saya Winda..!".&lt;br /&gt;"Aku..? Oh, yang mau minta ujian lagi itu ya?".&lt;br /&gt;"Iya benar pak."&lt;br /&gt;"Saya tidak ada waktu, nanti hari Mminggu saja kamu datang ke rumah saya, ini kartu nama saya", Katanya acuh tak acuh sambil menyerahkan kartu namanya.&lt;br /&gt;"Ada lagi?" tanya dosen itu.&lt;br /&gt;"Tidak pak, selamat siang!"&lt;br /&gt;"Selamat siang!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan lemas aku beranjak keluar dari ruangan itu. Kesal sekali rasanya, sudah belajar sampai larut malam, sampai di sini harus kembali lagi hari Minggu, huh!&lt;br /&gt;Mungkin hanya akulah yang hari Minggu masih berjalan sambil membawa tas hendak kuliah. Hari ini aku harus memenuhi ujian susulan di rumah Pak Hr, dosen berengsek itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Pak Hr terletak di sebuah perumahan elite, di atas sebuah bukit, agak jauh dari rumah-rumah lainnya. Belum sempat memijit Bel pintu sudah terbuka, Seraut wajah yang sudah mulai tua tetapi tetap segar muncul.&lt;br /&gt;"Ehh..! Winda, ayo masuk!", sapa orang itu yang tak lain adalah Pak Hr sendiri.&lt;br /&gt;"Permisi pak! Ibu mana?", tanyaku berbasa-basi.&lt;br /&gt;"Ibu sedang pergi dengan anak-anak ke rumah neneknya!", sahut Pak Hr ramah.&lt;br /&gt;"Sebentar ya..", katanya lagi sambil masuk ke dalam ruangan.&lt;br /&gt;Tumben tidak sepeti biasanya ketika mengajar di kelas, dosen ini terkenal paling killer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Pak Hr tertata rapi. Dinding ruang tamunya bercat putih. Di sudut ruangan terdapat seperangkat lemari kaca temapat tersimpan berbagai barang hiasan porselin. Di tengahnya ada hamparan permadani berbulu, dan kursi sofa kelas satu.&lt;br /&gt;"Gimana sudah siap?", tanya Pak Hr mengejutkan aku dari lamunannya.&lt;br /&gt;"Eh sudah pak!"&lt;br /&gt;"Sebenarnya.., sebenarnya Winda tidak perlu mengikuti ulang susulan kalau.., kalau..!"&lt;br /&gt;"Kalau apa pak?", aku bertanya tak mengerti. Belum habis bicaranya, Pak Hr sudah menuburuk tubuhku.&lt;br /&gt;"Pak.., apa-apaan ini?", tanyaku kaget sambil meronta mencoba melepaskan diri.&lt;br /&gt;"Jangan berpura-pura Winda sayang, aku membutuhkannya dan kau membutuhkan nilai bukan, kau akan kululuskan asalkan mau melayani aku!", sahut lelaki itu sambil berusaha menciumi bibirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serentak Bulu kudukku berdiri. Geli, jijik.., namun detah dari mana asalnya perasaan hasrat menggebu-gebu juga kembali menyerangku. Ingin rasanya membiarkan lelaki tua ini berlaku semaunya atas diriku. Harus kuakui memang, walaupun dia lebih pantas jadi bapakku, namun sebenarnya lelaki tua ini sering membuatku berdebar-debar juga kalau sedang mengajar. Tapi aku tetap berusaha meronta-ronta, untuk menaikkan harga diriku di mata Pak Hr.&lt;br /&gt;"Lepaskan.., Pak jangan hhmmppff..!", kata-kataku tidak terselesaikan karena terburu bibirku tersumbat mulut Pak Hr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku meronta dan berhasil melepaskan diri. Aku bangkit dan berlari menghindar. Namun entah mengapa aku justru berlari masuk ke sebuah kamar tidur. Kurapatkan tubuhku di sudut ruangan sambil mengatur kembali nafasku yang terengah-engah, entah mengapa birahiku sedemikian cepat naik. Seluruh wajahku terasa panas, kedua kakikupun terasa gemetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Hr seperti diberi kesempatan emas. Ia berjalan memasuki kamar dan mengunci pintunya. Lalu dengan perlahan ia mendekatiku. Tubuhku bergetar hebat manakala lelaki tua itu mengulurkan tangannya untuk merengkuh diriku. Dengan sekali tarik aku jatuh ke pelukan Pak Hr, bibirku segera tersumbat bibir laki-laki tua itu. Terasa lidahnya yang kasap bermain menyapu telak di dalam mulutku. Perasaanku bercampur aduk jadi satu, benci, jijik bercampur dengan rasa ingin dicumbui yang semakin kuat hingga akhirnya akupun merasa sudah kepalang basah, hati kecilku juga menginginkannya. Terbayang olehku saat-saat aku dicumbui seperti itu oleh Aldy, entah sedang di mana dia sekarang. aku tidak menolak lagi. bahkan kini malah membalas dengan hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa mendapat angin kini tangan Pak Hr bahkan makin berani menelusup di balik blouse yang aku pakai, tidak berhenti di situ, terus menelup ke balik beha yang aku pakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jantungku berdegup kencang ketika tangan laki-laki itu meremas-remas gundukan daging kenyal yang ada di dadaku dengan gemas. Terasa benar, telapak tangannya yang kasap di permukaan buah dadaku, ditingkahi dengan jari-jarinya yang nakal mepermainkan puting susuku. Gemas sekali nampaknya dia. Tangannya makin lama makin kasar bergerak di dadaku ke kanan dan ke kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puas, dengan tidak sabaran tangannya mulai melucuti pakaian yang aku pakai satu demi satu hingga berceceran di lantai. Hingga akhirnya aku hanya memakai secarik G-string saja. Bergegas pula Pak Hr melucuti kaos oblong dan sarungnya. Di baliknya menyembul batang penis laki-laki itu yang telah menegang, sebesar lengan Bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa aku menjerit ngeri, aku belum pernah melihat alat vital lelaki sebesar itu. Aku sedikit ngeri. Bisa jebol milikku dimasuki benda itu. Namun aku tak dapat menyembunyikan kekagumanku. Seolah ada pesona tersendiri hingga pandangan mataku terus tertuju ke benda itu. Pak Hr berjalan mendekatiku, tangannya meraih kunciran rambutku dan menariknya hingga ikatannya lepas dan rambutku bebas tergerai sampai ke punggung.&lt;br /&gt;"Kau Cantik sekali Winda..", gumam Pak Hr mengagumi kecantikanku.&lt;br /&gt;Aku hanya tersenyum tersipu-sipu mendengar pujian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan lembut Pak Hr mendorong tubuhku sampai terduduk di pinggir kasur. Lalu ia menarik G-string, kain terakhir yang menutupi tubuhku dan dibuangnya ke lantai. Kini kami berdua telah telanjang bulat. Tanpa melepaskan kedua belah kakiku, bahkan dengan gemas ia mementangkan kedua belah pahaku lebar-lebar. Matanya benar-benar nanar memandang daerah di sekitar selangkanganku. Nafas laki-laki itu demikian memburu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian Pak membenamkan kepalanya di situ. Mulut dan lidahnya menjilat-jilat penuh nafsu di sekitar kemaluanku yang tertutup rambut lebat itu. Aku memejamkan mata, oohh, indahnya, aku sungguh menikmatinya, sampai-sampai tubuhku dibuat menggelinjang-gelinjang kegelian.&lt;br /&gt;"Pak..!", rintihku memelas.&lt;br /&gt;"Pak.., aku tak tahan lagi..!", aku memelas sambil menggigit bibir. Sungguh aku tak tahan lagi mengalamai siksaan birahi yang dilancarkan Pak Hr. Namun rupanya lelaki tua itu tidak peduli, bahkan senang melihat aku dalam keadaan demikian. Ini terlihat dari gerakan tangannya yang kini bahkan terjulur ke atas meremas-remas payudaraku, tetapi tidak menyudahi perbuatannya. Padahal aku sudah kewalahan dan telah sangat basah kuyup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Paakk.., aakkhh..!", aku mengerang keras, kakinya menjepit kepala Pak Hr melampiaskan derita birahiku, kujambak rambut Pak Hr keras-keras. Kini aku tak peduli lagi bahwa lelaki itu adalah dosen yang aku hormati. Sungguh lihai laki-laki ini membangkitkan gairahku. aku yakin dengan nafsunya yang sebesar itu dia tentu sangat berpengalaman dalam hal ini, bahkan sangat mungkin sudah puluhan atau ratusan mahasiswi yang sudah digaulinya. Tapi apa peduliku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Pak Hr melepaskan diri, lalu ia berdiri di depanku yang masih terduduk di tepi ranjang dengan bagian bawah perutnya persis berada di depan wajahku. aku sudah tahu apa yang dia mau, namun tanpa sempat melakukannya sendiri, tangannya telah meraih kepalaku untuk dibawa mendekati kejantanannya yang aduh mak.., Sungguh besar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa melawan sama sekali aku membuka mulut selebar-lebarnya, Lalu kukulum sekalian alat vital Pak Hr ke dalam mulutku hingga membuat lelaki itu melek merem keenakan. Benda itu hanya masuk bagian kepala dan sedikit batangnya saja ke dalam mulutku. Itupun sudah terasa penuh. Aku hampir sesak nafas dibuatnya. Aku pun bekerja keras, menghisap, mengulum serta mempermainkan batang itu keluar masuk ke dalam mulutku. Terasa benar kepala itu bergetar hebat setiap kali lidahku menyapu kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian Pak Hr melepaskan diri, ia membaringkan aku di tempat tidur dan menyusul berbaring di sisiku, kaki kiriku diangkat disilangkan di pinggangnya. Lalu Ia berusaha memasuki tubuhku belakang. Ketika itu pula kepala penis Pak Hr yang besar itu menggesek clitoris di liang senggamaku hingga aku merintih kenikmatan. Ia terus berusaha menekankan miliknya ke dalam milikku yang memang sudah sangat basah. Pelahan-lahan benda itu meluncur masuk ke dalam milikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika dengan kasar dia tiba-tiba menekankan miliknya seluruhnya amblas ke dalam diriku aku tak kuasa menahan diri untuk tidak memekik. Perasaan luar biasa bercampur sedikit pedih menguasai diriku, hingga badanku mengejang beberapa detik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Hr cukup mengerti keadaan diriku, ketika dia selesai masuk seluruhnya dia memberi kesempatan padaku untuk menguasai diri beberapa saat. Sebelum kemudian dia mulai menggoyangkan pinggulnya pelan-pelan kemudian makin lama makin cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap Pak Hr menggerakkan tubuhnya, gesekan demi gesekan di dinding dalam liang senggamaku sungguh membuatku lupa ingatan. Pak Hr menyetubuhi aku dengan cara itu. Sementara bibirnya tak hentinya melumat bibir, tengkuk dan leherku, tangannya selalu meremas-remas payudaraku. Aku dapat merasakan puting susuku mulai mengeras, runcing dan kaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bisa melihat bagaimana batang penis lelaki itu keluar masuk ke dalam liang kemaluanku. Aku selalu menahan nafas ketika benda itu menusuk ke dalam. Milikku hampir tidak dapat menampung ukuran Pak Hr yang super itu, dan ini makin membuat Pak Hr tergila-gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sampai di situ, beberapa menit kemudian Pak Hr membalik tubuhku hingga menungging di hadapannya. Ia ingin pakai doggy style rupanya. Tangan lelaki itu kini lebih leluasa meremas-remas kedua belah payudara aku yang kini menggantung berat ke bawah. Sebagai seorang wanita aku memiliki daya tahan alami dalam bersetubuh. Tapi bahkan kini aku kewalahan menghadapi Pak Hr. Laki-laki itu benar-benar luar biasa tenaganya. Sudah hampir setengah jam ia bertahan. Aku yang kini duduk mengangkangi tubuhnya hampir kehabisan nafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupacu terus goyangan pinggulku, karena aku merasa sebentar lagi aku akan memperolehnya. Terus.., terus.., aku tak peduli lagi dengan gerakanku yang brutal ataupun suaraku yang kadang-kadang memekik menahan rasa luar biasa itu. Dan ketika klimaks itu sampai, aku tak peduli lagi.., aku memekik keras sambil menjambak rambutnya. Dunia serasa berputar. Sekujur tubuhku mengejang. Sungguh hebat rasa yang kurasakan kali ini. Sungguh ironi memang, aku mendapatkan kenikmatan seperti ini bukan dengan orang yang aku sukai. Tapi masa bodohlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkali-kali kuusap keringat yang membasahi dahiku. Pak Hr kemudian kembali mengambil inisiatif. kini gantian Pak Hr yang menindihi tubuhku. Ia memacu keras untuk mencapai klimaks. Desah nafasnya mendengus-dengus seperti kuda liar, sementara goyangan pinggulnya pun semakin cepat dan kasar. Peluhnya sudah penuh membasahi sekujur tubuhnya dan tubuhku. Sementara kami terus berpacu. Sungguh hebat laki-laki ini. Walaupun sudah berumur tapi masih bertahan segitu lama. Bahkan mengalahkan semua cowok-cowok yang pernah tidur denganku, walaupun mereka rata-rata sebaya denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun beberapa saat kemudian, Pak Hr mulai menggeram sambil mengeretakkan giginya. Tubuh lelaki tua itu bergetar hebat di atas tubuhku. Penisnya menyemburkan cairan kental yang hangat ke dalam liang kemaluanku dengan derasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian, perlahan-lahan kami memisahkan diri. Kami terbaring kelelahan di atas kasur itu. Nafasku yang tinggal satu-satu bercampur dengan bunyi nafasnya yang berat. Kami masing-masing terdiam mengumpulkan tenaga kami yang sudah tercerai berai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri terpejam sambil mencoba merasakan kenikmatan yang baru saja aku alami di sekujur tubuhku ini. Terasa benar ada cairan kental yang hangat perlahan-lahan meluncur masuk ke dalam liang vaginaku. Hangat dan sedikit gatal menggelitik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian bawah tubuhku itu terasa benar-benar banjir, basah kuyub. Aku menggerakkan tanganku untuk menyeka bibir bawahku itu dan tanganku pun langsung dipenuhi dengan cairan kental berwarna putih susu yang berlepotan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan main Winda, ternyata kau pun seperti kuda liar!" kata Pak Hr penuh kepuasan. Aku yang berbaring menelungkup di atas kasur hanya tersenyum lemah. aku sungguh sangat kelelahan, kupejamkan mataku untuk sejenak beristirahat. Persetan dengan tubuhku yang masih telanjang bulat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Hr kemudian bangkit berdiri, ia menyulut sebatang rokok. Lalu lelaki tua itu mulai mengenakan kembali pakaiannya. Aku pun dengan malas bangkit dan mengumpulkan pakaiannya yang berserakan di lantai.&lt;br /&gt;Sambil berpakaian ia bertanya, "Bagaimana dengan ujian saya pak?".&lt;br /&gt;"Minggu depan kamu dapat mengambil hasilnya", sahut laki-laki itu pendek.&lt;br /&gt;"Kenapa tidak besok pagi saja?", protes aku tak puas.&lt;br /&gt;"Aku masih ingin bertemu kamu, selama seminggu ini aku minta agar kau tidak tidur dengan lelaki lain kecuali aku!", jawab Pak Hr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sedikit terkejut dengan jawabannya itu. Tapi akupun segera dapat menguasai keadaanku. Rupanya dia belum puas dengan pelayanan habis-habisanku barusan.&lt;br /&gt;"Aku tidak bisa janji!", sahutku seenaknya sambil bangkit berdiri dan keluar dari kamar mencari kamar mandi. Pak Hr hanya mampu terbengong mendengar jawabanku yang seenaknya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sedang berjalan santai meninggalkan rumah Pak Hr, ini pertemuanku yang ketiga dengan laki-laki itu demi menebus nilai ujianku yang selalu jeblok jika ujian dengan dia. Mungkin malah sengaja dibuat jeblok biar dia bisa main denganku. Dasar.., namun harus kuakui, dia laki-laki hebat, daya tahannya sungguh luar biasa jika dibandingkan dengan usianya yang hapir mencapai usia pensiun itu. Bahkan dari pagi hingga sore hari ini dia masih sanggup menggarapku tiga kali, sekali di ruang tengah begitu aku datang, dan dua kali di kamar tidur. Aku sempat terlelap sesudahnya beberapa jam sebelum membersihkan diri dan pulang. Berutung kali ini, aku bisa memaksanya menandatangani berkas ujian susulanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masih ada mata kuliah Pengantar Berorganisasi dan Kepemimpinan", katanya sambil membubuhkan nilai A di berkas ujianku.&lt;br /&gt;"Selama bapak masih bisa memberiku nilai A", kataku pendek.&lt;br /&gt;"Segeralah mendaftar, kuliah akan dimulai minggu depan!".&lt;br /&gt;"Terima kasih pak!" kataku sambil tak lupa memberikan senyum semanis mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Winda!" teriakan seseorang mengejutkan lamunanku. Aku menoleh ke arah sumber suara tadi yang aku perkirakan berasal dari dalam mobil yang berjalan perlahan menghampiriku. Seseorang membuka pintu mobil itu, wajah yang sangat aku benci muncul dari balik pintu Mitsubishi Galant keluaran tahun terakhir itu.&lt;br /&gt;"Masuklah Winda..".&lt;br /&gt;"Tidak, terima kasih. Aku bisa jalan sendiri koq!", Aku masih mencoba menolak dengan halus.&lt;br /&gt;"Ayolah, masa kau tega menolak ajakanku, padahal dengan Pak Hr saja kau mau!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertegun sesaat, Bagai disambar petir di siang bolong.&lt;br /&gt;"Da.., Darimana kau tahu?".&lt;br /&gt;"Nah, jadi benar kan.., padahal aku tadi hanya menduga-duga!"&lt;br /&gt;"Sialan!", Aku mengumpat di dalam hati, harusnya tadi aku bersikap lebih tenang, aku memang selalu nervous kalau ketemu cowok satu ini, rasanya ingin buru-buru pergi dari hadapannya dan tidak ingin melihat mukanya yang memang seram itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti tipikal orang Indonesia bagian daerah paling timur, cowok ini hitam tinggi besar dengan postur sedikit gemuk, janggut dan cambang yang tidak pernah dirapikan dengan rambut keritingnya yang dipelihara panjang ditambah dengan caranya memakai kemeja yang tidak pernah dikancingkan dengan benar sehingga memamerkan dadanya yang penuh bulu. Dengan asesoris kalung, gelang dan cincin emas, arloji rolex yang dihiasi berlian.., cukup menunjukkan bahwa dia ini orang yang memang punya duit. Namun, aku menjadi muak dengan penampilan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dino memang salah satu jawara di kampus, anak buahnya banyak dan dengan kekuatan uang serta gaya jawara seperti itu membuat dia menjadi salah satu momok yang paling menakutkan di lingkungan kampus. Dia itu mahasiswa lama, dan mungkin bahkan tidak pernah lulus, namun tidak ada orang yang berani mengusik keberadaannya di kamus, bahkan dari kalangan akademik sekalipun.&lt;br /&gt;"Gimana? Masih tidak mau masuk?", tanya dia setengah mendesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertegun sesaat, belum mau masuk. Aku memang sangat tidak menyukai laki-laki ini, Tetapi kelihatannya aku tidak punya pilihan lain, bisa-bisa semua orang tahu apa yang kuperbuat dengan Pak Hr, dan aku sungguh-sungguh ingin menjaga rahasia ini, terutama terhadap Erwin, tunanganku. Namun saat ini aku benar benar terdesak dan ingin segera membiarkan masalah ini berlalu dariku. Makanya tanpa pikir panjang aku mengiyakan saja ajakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dino tertawa penuh kemenangan, ia lalu berbicara dengan orang yang berada di sebelahnya supaya berpindah ke jok belakang. Aku membanting pantatku ke kursi mobil depan, dan pemuda itu langsung menancap gas. Sambil nyengir kuda. Kesenangan.&lt;br /&gt;"Ke mana kita?", tanyaku hambar.&lt;br /&gt;"Lho? Mestinya aku yang harus tanya, kau mau ke mana?", tanya Dino pura-pura heran.&lt;br /&gt;"Sudahlah Dino, tak usah berpura-pura lagi, kau mau apa?", Suaraku sudah sedemikian pasrahnya. Aku sudah tidak mau berpikir panjang lagi untuk meminta dia menutup-nutupi perbuatanku. Orang yang duduk di belakangku tertawa.&lt;br /&gt;"Rupanya dia cukup mengerti apa kemauanmu Dino!", Dia berkomentar.&lt;br /&gt;"Ah, diam kau Maki!" Rupanya orang itu namanya Maki, orang dengan penampilan hampir mirip dengan Dino kecuali rambutnya yang dipotong crew-cut.&lt;br /&gt;"Bagaimana kalau ke rumahku saja? Aku sangat merindukanmu Winda!", pancing Dino.&lt;br /&gt;"Sesukamulah..!", Aku tahu benar memang itu yang diinginkannya.&lt;br /&gt;Dino tertawa penuh kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia melarikan mobilnya makin kencang ke arah sebuah kompleks perumahan. Lalu mobil yang ditumpangi mereka memasuki pekarangan sebuah rumah yang cukup besar. Di pekarangan itu sudah ada 2 buah mobil lain, satu Mitsubishi Pajero dan satu lagi Toyota Great Corolla namun keduanya kelihatan diparkir sekenanya tak beraturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Interior depan rumah itu sederhana saja. Cuma satu stel sofa, sebuah rak perabotan pecah belah. Tak lebih. Dindingnya polos. Demikian juga tempok ruang tengah. Terasa betapa luas dan kosongnya ruangan tengah itu, meski sebuah bar dengan rak minuman beraneka ragam terdapat di sudut ruangan, menghadap ke taman samping. Sebuah stereo set terpasang di ujung bar. Tampaknya baru saja dimatikan dengan tergesa-gesa. Pitanya sebagian tergantung keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pintu samping kemudian muncul empat orang pemuda dan seorang gadis, yang jelas-jelas masih menggunakan seragam SMU. Mereka semua mengeluarkan suara setengah berbisik. Keempat orang laki-laki itu, tiga orang sepertinya sesuku dengan Dino atau sebangsanya, sedangkan yang satu lagi seperti bule dengan rambutnya yang gondrong. Sementara si gadis berperawakan tinggi langsing, berkulit putih dan rambutnya yang hitam lurus dan panjang tergerai sampai ke pinggang, ia memakai bandana lebar di kepalanya dengan poni tebal menutupi dahinya. Wajahnya yang oval dan bermata sipit menandakan bahwa ia keturunan Cina atau sebangsanya. Harus kuakui dia memang cantik, seperti bintang film drama Mandarin. Berbeda dengan penampilan ketiga laki-laki itu, gadis ini kelihatannya bukan merupakan gerombolan mereka, dilihat dari tampangnya yang masih lugu. Ia masih mengenakan seragam sebuah sekolah Katolik yang langsung bisa aku kenali karena memang khas. Namun entah mengapa dia bisa bergaul dengan orang-orang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dino bertepuk tangan. Kemudian memperkenalkan diriku dengan mereka. Yos, dan Bram seperti tipikal orang sebangsa Dino, Tito berbadan tambun dan yang bule namanya Marchell, sementara gadis SMU itu bernama Shelly. Mereka semua yang laki-laki memandang diriku dengan mata "lapar" membuat aku tanpa sadar menyilangkan tangan di depan dadaku, seolah-olah mereka bisa melihat tubuhku di balik pakaian yang aku kenakan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak tak sabaran Dino menarik diriku ke loteng. Langsung menuju sebuah kamar yang ada di ujung. Kamar itu tidak berdaun pintu, sebenarnya lebih tepat disebut ruang penyangga antara teras dengan kamar-kamar yang lain Sebab di salah satu ujungnya merupakan pintu tembusan ke ruang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana ada sebuah kasur yang terhampar begitu saja di lantai kamar. Dengan sprei yang sudah acak-acakan. Di sudut terdapat dua buah kursi sofa besar dan sebuah meja kaca yang mungil. Di bawahnya berserakan majalah-majalah yang cover depannya saja bisa membuat orang merinding. Bergambar perempuan-perempuan telanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sadar bahkan sangat sadar, apa yang dimaui Dino di kamar ini. Aku beranjak ke jendela. Menutup gordynnya hingga ruangan itu kelihatan sedikit gelap. Namun tak lama, karena kemudian Dino menyalakan lampu. Aku berputar membelakangi Dino, dan mulai melucuti pakaian yang aku kenakan. Dari blouse, kemudian rok bawahanku kubiarkan meluncur bebas ke mata kakiku. Kemudian aku memutar balik badanku berbalik menghadap Dino.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa terkejutnya aku ketika aku berbalik, ternyata di hadapanku kini tidak hanya ada Dino, namun Maki juga sedang berdiri di situ sambil cengengesan. Dengan gerakan reflek, aku menyambar blouseku untuk menutupi tubuhku yang setengah telanjang. Melihat keterkejutanku, kedua laki-laki itu malah tertawa terbahak-bahak.&lt;br /&gt;"Ayolah Winda, Toh engkau juga sudah sering memperlihatkan tubuh telanjangmu kepada beberapa laki-laki lain?".&lt;br /&gt;"Kurang ajar kau Dino!" Aku mengumpat sekenanya.&lt;br /&gt;Wajah laki-laki itu berubah seketika, dari tertawa terbahak-bahak menjadi serius, sangat serius. Dengan tatapan yang sangat tajam dia berujar, "Apakah engkau punya pilihan lain? Ayolah, lakukan saja dan sesudah selesai kita boleh melupakan kejadian ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertegun, melayani dua orang sekaligus belum pernah aku lakukan sebelumnya. Apalagi orang-orang yang bertampang seram seperti ini. Tapi seperti yang dia bilang, aku tak punya pilihan lain. Seribu satu pertimbangan berkecamuk di kepalaku hingga membuat aku pusing. Tubuhku tanpa sadar sampai gemetaran, terasa sekali lututku lemas sepertinya aku sudah kehabisan tenaga karena digilir mereka berdua, padahal mereka sama sekali belum memulainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, dengan sangat berat aku menggerakkan kedua tangan ke arah punggungku di mana aku bisa meraih kaitan BH yang aku pakai. Baju yang tadi aku pakai untuk menutupi bagian tubuhku dengan sendirinya terjatuh ke lantai. Dengan sekali sentakan halus BH-ku telah terlepas dan meluncur bebas dan sebelum terjatuh ke lantai kulemparkan benda itu ke arah Dino yang kemudian ditangkapnya dengan tangkas. Ia mencium bagian dalam mangkuk bra-ku dengan penuh perasaan.&lt;br /&gt;"Harum!", katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ia seperti mencari-cari sesuatu dari benda itu, dan ketika ditemukannya ia berhenti.&lt;br /&gt;"36B!", katanya pendek.&lt;br /&gt;Rupanya ia pingin tahu berapa ukuran dadaku ini.&lt;br /&gt;"BH-nya saja sudah sedemikian harum, apalagi isinya!", katanya seraya memberikan BH itu kepada Maki sehingga laki-laki itu juga ikut-ikutan menciumi benda itu. Namun demikian mata mereka tak pernah lepas menatap belahan payudaraku yang kini tidak tertutup apa-apa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kini hanya berdiri menunggu, dan tanpa diminta Dino melangkah mendekatiku. Ia meraih kepalaku. Tangannya meraih kunciran rambut dan melepaskannya hingga rambutku kini tergerai bebas sampai ke punggung.&lt;br /&gt;"Nah, dengan begini kau kelihatan lebih cantik!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia terus berjalan memutari tubuhku dan memelukku dari belakang. Ia sibakkan rambutku dan memindahkannya ke depan lewat pundak sebelah kiriku, sehingga bagian punggung sampai ke tengkukku bebas tanpa penghalang. Lalu ia menjatuhkan ciumannya ke tengkuk belakangku. Lidahnya menjelajah di sekitar leher, tengkuk kemudian naik ke kuping dan menggelitik di sana. Kedua belah tangannya yang kekar dan berbulu yang tadi memeluk pinggangku kini mulai merayap naik dan mulai meremas-remas kedua belah payudaraku dengan gemas. Aku masih menanggapinya dengan dingin dengan tidak bereaksi sama sekali selain memejamkan mataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dino rupanya tidak begitu suka aku bersikap pasif, dengan kasar ia menarik wajahku hingga bibirnya bisa melumat bibirku. Aku hanya berdiam diri saja tak memberikan reaksi. Sambil melumat, lidahnya mencari-cari dan berusaha masuk ke dalam mulutku, dan ketika berhasil lidahnya bergerak bebas menjilati lidahku hingga secara tak sengaja lidahkupun meronta-ronta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil memejamkan mata aku mencoba untuk menikmati perasaan itu dengan utuh. Tak ada gunanya aku menolak, hal itu akan membuatku lebih menderita lagi. Dengan kuluman lidah seperti itu, ditingkahi dengan remasan-remasan telapak tangannya di payudaraku sambil sekali-sekali ibu jari dan telunjuknya memilin-milin puting susuku, pertahananku akhirnya bobol juga. Memang, aku sudah sangat terbiasa dan sangat terbuai dengan permaian seperti ini hingga dengan mudahnya Dino mulai membangkitkan nafsuku. Bahkan kini aku mulai memberanikan menggerakkan tangan meremas kepala Dino yang berada di belakangku. Sementara dengan ekor mataku aku melihat Maki beranjak berjalan menuju sofa dan duduk di sana, sambil pandangan matanya tidak pernah lepas dari kami berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena merasa sudah menguasai diriku, ciuman Dino terus merambat turun ke leherku, menghisapnya hingga aku menggelinjang. Lalu merosot lagi menelusup di balik ketiak dan merayap ke depan sampai akhirnya hinggap di salah satu pucuk bukit di dadaku, Dengan satu remasan yang gemas hingga membuat puting susuku melejit Dino untuk mengulumnya. Pertama lidahnya tepat menyapu pentilnya, lalu bergerak memutari seluruh daerah puting susuku sebelum mulutnya mengenyot habis puting susuku itu. Ia menghisapnya dengan gemas sampai pipinya kempot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhku secara tiba-tiba bagaikan disengat listrik, terasa geli yang luar biasa bercampur sedikit nyeri di bagian itu. Aku menggelinjang, melenguh apalagi ketika puting susuku digigit-gigit perlahan oleh Dino. Buah anggur yang ranum itu dipermainkan pula dengan lidah Dino yang kasap. Dipilin-pilinnya kesana kemari. Dikecupinya, dan disedotnya kuat-kuat sampai putingnya menempel pada telaknya. Aku merintih. Tanganku refleks meremas dan menarik kepalanya sehingga semakin membenam di kedua gunung kembarku yang putih dan padat. Aku sungguh tak tahu mengapa harus begitu pasrah kepada lelaki itu. Mengapa aku justeru tenggelam dalam permaianan itu? Semula aku hanya merasa terpaksa demi menutupi rahasia atas perbuatanku. Tapi kemudian nyatanya, permainan yang Dino mainkan begitu dalam. Dan aneh sekali, Tanpa sadar aku mulai mengikuti permainan yang dipimpin dengan cemerlang oleh Dino.&lt;br /&gt;"Winda..", "Ya?", "Kau suka aku perlakukan seperti ini?". Aku hanya mengangguk. Dan memejamkan matanya. membiarkan payudaraku terus diremas-remas dan puting susunya dipilin perlahan. Aku menggeliat, merasakan nikmat yang luar biasa. Puting susu yang mungil itu hanya sebentar saja sudah berubah membengkak, keras dan mencuat semakin runcing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hss.., ah!", Aku mendesah saat merasakan jari-jari tangan lelaki itu mulai menyusup ke balik celana dalamku dan merayap mencari liang yang ada di selangkanganku. Dan ketika menemukannya Jari-jari tangan itu mula-mula mengusap-usap permukaannya, terus mengusap-usap dan ketika sudah terasa basah jarinya mulai merayap masuk untuk kemudian menyentuh dinding-dinding dalam liang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam posisi masih berdiri berhadapan, sambil terus mencumbui payudaraku, Dino meneruskan aksinya di dalam liang gelap yang sudah basah itu. Makin lama makin dalam. Aku sendiri semakin menggelinjang tak karuan, kedua buah jari yang ada di dalam liang vaginaku itu bergerak-gerak dengan liar. Bahkan kadang-kadang mencoba merenggangkan liang vaginaku hingga menganga. Dan yang membuat aku tambah gila, ia menggerak-gerakkan jarinya keluar masuk ke dalam liang vaginaku seolah-olah sedang menyetubuhiku. Aku tak kuasa untuk menahan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngghh..!", mulutku mulai meracau. Aku sungguh kewalahan dibuatnya hingga lututku terasa lemas hingga akhirnya akupun tak kuasa menahan tubuhku hingga merosot bersimpuh di lantai. Aku mencoba untuk mengatur nafasku yang terengah-engah. Aku sungguh tidak memperhatikan lagi yang kutahu kini tiba-tiba saja Dino telah berdiri telanjang bulat di hadapanku. Tubuhnya yang tinggi besar, hitam dan penuh bulu itu dengan angkuhnya berdiri mengangkang persis di depanku sehingga wajahku persis menghadap ke bagian selangkangannya. Disitu, aku melihat batang kejantanannya telah berdiri dengan tegaknya. Besar panjang kehitaman dengan bulu hitam yang lebat di daerah pangkalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sekali rengkuh, ia meraih kepalaku untuk ditarik mendekati daerah di bawah perutnya itu. Aku tahu apa yang dimauinya, bahkan sangat tahu ini adalah perbuatan yang sangat disukai para lelaki. Di mana ketika aku melakukan oral seks terhadap kelaminnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, dengan kepalang basah, kulakukan apa yang harus kulakukan. Benda itu telah masuk ke dalam mulutku dan menjadi permainan lidahku yang berputar mengitari ujung kepalanya yang bagaikan sebuah topi baja itu. Lalu berhenti ketika menemukan lubang yang berada persis di ujungnya. Lalu dengan segala kemampuanku aku mulai mengelomoh batang itu sambil kadang-kadang menghisapnya kuat-kuat sehingga pemiliknya bergetar hebat menahan rasa yang tak tertahankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu aku sempat melirik ke arah sofa di mana Maki berada, dan ternyata laki-laki ini sudah mulai terbawa nafsu menyaksikan perbuatan kami berdua. Buktinya, ia telah mengeluarkan batang kejantanannya dan mengocoknya naik turun sambil berkali-kali menelan ludah. Konsentrasiku buyar ketika Dino menarik kepalaku hingga menjauh dari selangkangannya. Ia lalu menarik tubuhku hingga telentang di atas kasur yang terhampar di situ. Lalu dengan cepat ia melucuti celana dalamku dan dibuangnya jauh-jauh seakan-akan ia takut aku akan memakainya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk beberapa detik mata Dino nanar memandang bagian bawah tubuhku yang sudah tak tertutup apa-apa lagi. Si Makipun sampai berdiri mendekat ke arah kami berdua seakan ia tidak puas memandang kami dari kejauhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun beberapa detik kemudian, Dino mulai merenggangkan kedua belah pahaku lebar-lebar. Paha kiriku diangkatnya dan disangkutkan ke pundaknya. Lalu dengan tangannya yang sebelah lagi memegangi batang kejantanannya dan diusap-usapkan ke permukaan bibir vaginaku yang sudah sangat basah. Ada rasa geli menyerang di situ hingga aku menggelinjang dan memejamkan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedetik kemudian, aku merasakan ada benda lonjong yang mulai menyeruak ke dalam liang vaginaku. Aku menahan nafas ketika terasa ada benda asing mulai menyeruak di situ. Seperti biasanya, aku tak kuasa untuk menahan jeritanku pada saat pertama kali ada kejantanan laki-laki menyeruak masuk ke dalam liang vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perlahan namun pasti, kejantanan Dino meluncur masuk semakin dalam. Dan ketika sudah masuk setengahnya ia bahkan memasukkan sisanya dengan satu sentakan kasar hingga aku benar-benar berteriak karena terasa nyeri. Dan setelah itu, tanpa memberiku kesempatan untuk membiasakan diri dulu, Dino sudah bergoyang mencari kepuasannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dino menggerak-gerakkan pinggulnya dengan kencang dan kasar menghunjam-hunjam ke dalam tubuhku hingga aku memekik keras setiap kali kejantanan Dino menyentak ke dalam. Pedih dan ngilu. Namun bercampur nikmat yang tak terkira. Ada sensasi aneh yang baru pertama kali kurasakan di mana di sela-sela rasa ngilu itu aku juga merasakan rasa nikmat yang tak terkira. Namun aku juga tidak bisa menguasai diriku lagi hingga aku sampai menangis menggebu-gebu, sakit keluhku setiap kali Dino menghunjam, tapi aku semakin mempererat pelukanku, Pedih, tapi aku juga tak bersedia Dino menyudahi perlakuannya terhadap diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku semakin merintih. Air mataku meleleh keluar. kami terus bergulat dalam posisi demikian. Sampai tiba-tiba ada rasa nikmat yang luar biasa di sekujur tubuhku. Aku telah orgasme. Ya, orgasme bersama dengan orang yang aku benci. Tubuhku mengejang selama beberapa puluh detik. Sebelum melemas. Namun Dino rupanya belum selesai. Ia kini membalikkan tubuhku hingga kini aku bertumpu pada kedua telapak tangan dan kedua lututku. Ia ingin meneruskannya dengan doggy style. Aku hanya pasrah saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini ia menyetubuhiku dari belakang. Tangannya kini dengan leluasa berpindah-pindah dari pinggang, meremas pantat dan meremas payudaraku yang menggelantung berat ke bawah. Kini Dino bahkan lebih memperhebat serangannya. Ia bisa dengan leluasa menggoyangkan tubuhnya dengan cepat dan semakin kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu tanpa terasa, Maki telah duduk mengangkang di depanku. Laki-laki ini juga telah telanjang bulat. Ia menyodorkan batang penisnya ke dalam mulutku, tangannya meraih kepalaku dan dengan setengah memaksa ia menjejalkan batang kejantanannya itu ke dalam mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku melayani dua orang sekaligus. Dino yang sedang menyetubuhiku dari belakang. Dan Maki yang sedang memaksaku melakukan oral seks terhadap dirinya. Dino kadang-kadang malah menyorongkan kepalanya ke depan untuk menikmati payudaraku. Aku mengerang pelan setiap kali ia menghisap puting susuku. Dengan dua orang yang mengeroyokku aku sungguh kewalahan hingga tidak bisa berbuat apa-apa. Malahan aku merasa sangat terangsang dengan posisi seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menyetubuhiku dari dua arah, yang satu akan menyebabkan penis pada tubuh mereka yang berada di arah lainnya semakin menghunjam. Kadang-kadang aku hampir tersedak. Maki yang tampaknya mengerti kesulitanku mengalah dan hanya diam saja. Dino yang mengatur segala gerakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan-lahan kenikmatan yang tidak terlukiskan menjalar di sekujur tubuhku. Perasaan tidak berdaya saat bermain seks ternyata mengakibatkan diriku melambung di luar batas yang pernah kuperkirakan sebelumnya. Dan kembali tubuhku mengejang, deras dan tanpa henti. Aku mengalami orgasme yang datang dengan beruntun seperti tak berkesudahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian Dino mengalami orgasme. Batang penisnya menyemprotkan air mani dengan deras ke dalam liang vaginaku. Benda itu menyentak-nyentak dengan hebat, seolah-olah ingin menjebol dinding vaginaku. Aku bisa merasakan air mani yang disemprotkannya banyak sekali, hingga sebagian meluap keluar meleleh di salah satu pahaku. Sesudah itu mereka berganti tempat. Maki mengambil alih perlakuan Dino. Masih dalam posisi doggy style. Batang kejantanannya dengan mulus meluncur masuk dalam sekali sampai menyentuh bibir rahimku. Ia bisa mudah melakukannya karena memang liang vaginaku sudah sangat licin dilumasi cairan yang keluar dari dalamnya dan sudah bercampur dengan air mani Dino yang sangat banyak. Permainan dilanjutkan. Aku kini tinggal melayani Maki seorang, karena Dino dengan nafas yang tersengal-sengal telah duduk telentang di atas sofa yang tadi diduduki Maki untuk mengumpulkan tenaga. Aku mengeluh pendek setiap kali Maki mendorong masuk miliknya. Maki terus memacu gerakkannya. Semakin lama semakin keras dan kasar hingga membuat aku merintih dan mengaduh tak berkesudahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu masuk Bram dan Tito bersamaan ke dalam ruangan. Tanpa basa-basi, mereka pun langsung melucuti pakaiannya hingga telanjang bulat. Lalu mereka duduk di lantai dan menonton adegan mesum yang sedang terjadi antara aku dan Maki. Bram nampak kelihatan tidak sabaran Tetapi aku sudah tidak peduli lagi. Maki terus memacu menggebu-gebu. Laki-laki itu sibuk memacu sambil meremasi payudaraku yang menggelantung berat ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kemudian tubuhku dibalikkan kembali telentang di atas kasur dan pada saat itu Bram dengan tangkas menyodorkan batang kejantanannya ke dalam mulutku. Aku sudah setengah sadar ketika Tito menggantikan Maki menggeluti tubuhku. Keadaanku sudah sedemikian acak-acakan. Rambut yang kusut masai. Tubuhku sudah bersimpah peluh. Tidak hanya keringat yang keluar dari tubuhku sendiri, tapi juga cucuran keringat dari para laki-laki yang bergantian menggauliku. Aku kini hanya telentang pasrah ditindihi tubuh gemuk Tito yang bergoyang-goyang di atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki gemuk itu mengangkangkan kedua belah pahaku lebar-lebar sambil terus menghunjam-hunjamkan miliknya ke dalam milikku. Sementara Bram tak pernah memberiku kesempatan yang cukup untuk bernafas. Ia terus saja menjejal-jejalkan miliknya ke dalam mulutku. Aku sendiri sudah tidak bisa mengotrol diriku lagi. Guncangan demi guncangan yang diakibatkan oleh gerakan Titolah yang membuat Bram makin terangsang. Bukan lagi kuluman dan jilatan yang harusnya aku lakukan dengan lidah dan mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika Tito melenguh panjang, ia mencapai orgasmenya dengan meremas kedua belah payudaraku kuat-kuat hingga aku berteriak mengaduh kesakitan. Lalu beberapa saat kemudian ia dengan nafasnya yang tersengal-sengal memisahkan diri dari diriku. Dan pada saat hampir bersamaan Bram juga mengerang keras. Batang kejantanannya yang masih berada di dalam mulutku bergerak liar dan menyemprotkan air maninya yang kental dan hangat. Aku meronta, ingin mengeluarkan banda itu dari dalam mulutku, namun tangan Bram yang kokoh tetap menahan kepalaku dan aku tak kuasa meronta lagi karena memang tenagaku sudah hampir habis. Cairan kental yang hangat itu akhirnya tertelan olehku. Banyak sekali. Bahkan sampai meluap keluar membasahi daerah sekitar bibirku sampai meleleh ke leher. Aku tak bisa berbuat apa-apa, selain dengan cepat mencoba menelan semua yang ada supaya tidak terlalu terasa di dalam mulutku. Aku memejamkan mata erat-erat, tubuhku mengejang melampiaskan rasa yang tidak karuan, geli, jijik, namun ada sensasi aneh yang luar biasa juga di dalam diriku. Sungguh sangat erotis merasakan siksa birahi semacam ini hingga akupun akhirnya orgasme panjang untuk ke sekian kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ekor mataku aku kembali melihat seseorang masuk ke ruangan yang ternyata si bule dan orang itu juga mulai membuka celananya. Aku menggigit bibir, dan mulai menangis terisak-isak. Aku hanya bisa memejamkan mata ketika Marchell mulai menindihi tubuhku. Pasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian setelah orang terakhir melaksanakan hasratnya pada diriku mereka keluar. aku merasa seluruh tubuhku luluh lantak. Setelah berhasil mengumpulkan cukup tenaga kembali, dengan terhuyung-huyung, aku bangkit dari tempat tidur, mengenakan pakaianku seadanya dan pergi mencari kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berpapasan dengan Dino yang muncul dari dalam sebuah ruangan yang pintunya terbuka. Lelaki itu sedang sibuk mengancingkan retsluiting celananya. Masih sempat terlihat dari luar di dalam kamar itu, di atas tempat tidur tubuh Shelly yang telanjang sedang ditindihi oleh tubuh Maki yang bergerak-gerak cepat. Memacu naik turun. Gadis itu menggelinjang-gelinjang setiap kali Maki bergerak naik turun. Rupanya anak itu bernasib sama seperti diriku.&lt;br /&gt;"Di mana aku bisa menemukan kamar mandi?" tanyaku pada Dino.&lt;br /&gt;Tanpa menjawab, ia hanya menunjukkan tangannya ke sebuah pintu. Tanpa basa-basi lagi aku segera beranjak menuju pintu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana aku mandi berendam air panas sambil mengangis. Aku tidak tahu saya sudah terjerumus ke dalam apa kini. Yang membuat aku benci kepada diriku sendiri, walaupun aku merasa sedih, kesal, marah bercampur menjadi satu, namun demikian setiap kali teringat kejadian barusan, langsung saja selangkanganku basah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berendam di sana sangat lama, mungkin lebih dari satu jam lamanya. Setelah terasa kepenatan tubuhku agak berkurang aku menyudahi mandiku. Dengan berjalan tertatih-tatih aku melangkah keluar kamar mandi dan berjalan mencari pintu keluar. Sudah hampir jam sebelas malam ketika aku keluar dari rumah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di dalam rumah, Aku langsung ngeloyor masuk ke kamar. Aku tak peduli dengan kakakku yang terheran-heran melihat tingkah lakuku yang tidak biasa, aku tak menyapanya karena memang sudah tidak ada keinginan untuk berbicara lagi malam ini. Aku tumpahkan segala perasaan campur aduk itu, kekesalan, dan sakit hati dengan menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6182626498548124474-180485384196592879?l=17tahunporno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://17tahunporno.blogspot.com/feeds/180485384196592879/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6182626498548124474&amp;postID=180485384196592879' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6182626498548124474/posts/default/180485384196592879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6182626498548124474/posts/default/180485384196592879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://17tahunporno.blogspot.com/2007/11/nilai-ujian.html' title='Nilai Ujian'/><author><name>ishadow76</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6182626498548124474.post-606185863186972336</id><published>2007-11-30T03:30:00.000-08:00</published><updated>2007-12-05T11:13:59.657-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pesta sex'/><title type='text'>Gairah di Persimpangan Jalan</title><content type='html'>Ari Rumaidi adalah salah salah satu mahasiswa Informatikan PTS swasta terkemuka di Jakarta bertinggi badan 170 cm dan berat badan 58 kg, berkumis tipis, tidak begitu kekar memang akan tetapi otaknya sangat brilian dalam hal mengotak-atik serta pemograman komputer. Ia juga mempunyai bengkel servis Handphone yang ia kelola sendiri dengan si Mamat tukangnya. Biasanya liburan semester seperti ini Ari pulang ke rumah neneknya di Bandung atau pulang ke rumah orang tuanya di Semarang, akan tetapi liburan kali ini Ari sedikit malas dan ia pilih mengotak-atik elektronik di kios sevis HP-nya di salah satu Mall terkemuka di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selamat siang Ari," sapa suara cewek lembut nan menawan.&lt;br /&gt;"Yach.. siang.." jawab Ari seraya medongakkan kepalanya ke arah suara itu.&lt;br /&gt;"Eh.. Shinta.. tumben kemari, dari mana saja kamu?" tanya Ari.&lt;br /&gt;Shinta adalah "kembang kampus" ditempat Ari kuliah dan Ari sudah mendengar selentingan bahwa Shinta juga sering gonta ganti laki-laki namun Shinta dan Ari beda fakultas. Kadang Shinta terlihat berjalan bareng dengan cowok muda cakep kemudian ganti dengan om-om senang, lantas beberapa waktu lalu Shinta akrab dengan Sony teman sefakultas Ari dan baru beberapa minggu mereka tidak terlihat lagi bermesraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini Ar! HP-ku ngadat tolong betulin yach.." seru Shinta seraya menyerahkan HP-nya kepada Ari.&lt;br /&gt;"Tumben Ar nggak liburan ke Bandung, kan di sana banyak mojang-mojang nan menawan?" selidik Shinta.&lt;br /&gt;"Nggak.. males saja mendingan cari duit, sini coba aku periksa," kata Ari seraya berdiri meminta kemudian memeriksa HP Shinta.&lt;br /&gt;"Ar! emmhh.. bisa ditunggu nggak," tanya Shinta.&lt;br /&gt;"Nggak usah dech.. entar malem aku anterin ke rumah kamu, kasih saja alamatnya." kata Ari dengan menyodorkan secarik kertas.&lt;br /&gt;"Itung-itung main ke rumah kamu, aku kan belum pernah sama sekali." sambung Ari.&lt;br /&gt;"Thanks.. tapi gue punya kartu nama khok, nich" Shinta menyodorkannya kepada Ari.&lt;br /&gt;"OK, tunggu entar malem yach jam 19:30" sahut Ari.&lt;br /&gt;"Jangan Ar! jam 21:00 saja, soalnya aku ada janji dengan keponakan gue," cegah Shinta.&lt;br /&gt;"Ehem.. keponakan apa kepenakan?" ledek Ari.&lt;br /&gt;"Iiich.. sebbel dech.." kata Shinta sambil mencubit lengan Ari. Ari hanya bisa meringis saja dan melihat Shinta berlenggok ria dengan pingulnya yang aduhai.&lt;br /&gt;"Huuhh.." keluh Ari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, siapa yang tidak kenal dengan Shinta di kampus itu, disamping dia anak pejabat ia juga betul-betul cantik. Tubuhnya sekitar 167 cm, badannya tinggi langsing dan kulitnya kuning langsat bak pengantin, namun ia juga terkenal sombong dan materialistis dimata cowok maupun cewek. Payudaranya seksi 36 dan rambutnya tergerai indah. Bibirnya seksi kelihatan kecil namun tebal dan bergigi indah apalagi kalau tersenyum dengan lesung pipitnya. Ari sendiri orangnya liberal namun tidak pernah berpikiran buruk terhadap gadis manapun, ia hanya berkonsentrasi pada bisnisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 20:00 Ari mulai memacu Kijang hadiah ulang tahunnya yang ke-20 dari ayahnya dua tahun lalu dan hampir 45 menit Ari sudah menemukan alamat Shinta. Ari sengaja berpakaian santai mengenakan celana pendek komprang dan T-shirt made in Dagadu bermotifkan kartun lucu karena disamping ke rumah Shinta ia sebenarnya akan main ke rumah Sri pacarnya untuk menyerahkan HP teman sekost Sri. Ia lantas membelokkan kijang kesayangannya itu ke arah gerbang kemudian turun untuk memencet bel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Treett.. Treett.. Treett.." suara bel telah berbunyi.&lt;br /&gt;Agak lama ia menunggu kemudian datanglah pembantu Shinta untuk membukakan gerbang.&lt;br /&gt;"Nggak usah dibuka Bik, aku cuman nitip ini buat Shinta." sergah Ari sambil menyerahkan HP Shinta kepada Bik Ijah.&lt;br /&gt;"Ngg.. tapi Mas, tadi Non Shinta pesen kalo ada Mas Ari disuruh masuk dul.." belum habis Bik Ijah berkata kata Shinta menyahut dari kejauhan.&lt;br /&gt;"Ari.. masuk dulu, soory aku habis mandi nich.. aku tunggu di ruang tamu yach!" teriak Shinta.&lt;br /&gt;Ari tidak menjawab, segera setelah Bik Ijah membukakan gerbang ia memasukkan kijangnya ke halaman namun Ari sempat melirik ke gumpalan pantat Bik Ijah yang masih padat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah itu berhalaman luas dan berhiaskan taman nan elok serta kolam ikan lengkap dengan air mancurnya.&lt;br /&gt;"Mas Ari mau minum apa?" tanya Bik Ijah setelah Shinta menyilakan Ari duduk.&lt;br /&gt;"Jahe hangat boleh?" jawab Ari singkat.&lt;br /&gt;Sebelum Bik Ijah menghilang dari depan Ari, ia melihat Bik Ijah sempat memberikan senyuman genitnya kepada Ari.&lt;br /&gt;"Dasar genit.. tapi bahenol juga itu Bibik," batin Ari sambil melirik ke arah Shinta dan Shinta tersenyum penuh arti di mata Ari.&lt;br /&gt;"Aku baru saja datang dari rumah Sony, kami pun bertengkar hebat karena Sony orangnya pencemburu berat," Shinta mencoba menjelaskan.&lt;br /&gt;"Lagian dia juga.." Shinta menghentikan pembicaraannya sejenak dan matanya menerawang jauh.&lt;br /&gt;"Dan akhirnya kami pun berpisah.." imbuh Shinta datar, Shinta kemudian menyilangkan kedua pahanya yang bulat mulus itu, tungkainya kecil dan indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dilihat dari tungkainya, Shinta mempunyai nafsu seks besar dan tenaga si Sony rupanya tenaga ayam.." batin Ari, dalam hati Ari sendiri pun sudah mendengar kalau Shinta itu hasrat seksnya meledak-ledak bak merapi, hal itu dia dengar dari salah seorang sahabatnya yang pernah menjadi gacoan Shinta. Dari penjelasan Shinta, Ari tidak percaya 100% dilihat dari mimiknya yang tidak serius dan kata-kata Shinta yang tak sempat terucap tadi. Ari sendiri adalah cowok bertubuh langsing bukan atletis dan dilihat dari tinggi dan kepalan tangannya, penis Ari pasti lebih dari cowok-cowok lainnya. Panjangnya sekitar 15 cm dengan diameter 3 cm, Ari sendiri pandai berolah gerak di ranjang dan tanpa sepengetahuan teman-teman lainnya Ari sudah seringkali diajak kencan oleh tante-tante girang di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sorry, aku pakai ginian nggak pa-pa kan, abis mandi kan biar segar.." Shinta mencoba memohon karena ia hanya memakai sleeping jas tanpa BH. Kedua putingnya terlihat menggunung tegak ke depan sehingga kedua putingnya tersembul merangsang di balik sleeping jasnya.&lt;br /&gt;"Nggak pa-pa kok, santai saja.. malah.. oh nggak.." kata Ari.&lt;br /&gt;"Malah apa Ar.. kamu senang, kan?" tanya Shinta diikuti silangan kedua pahanya yang mulus.&lt;br /&gt;"I.ii.iya.. eh.. nggak.." jawab Ari sekenanya.&lt;br /&gt;"Nggak pa-pa Ar, kita udah sama-sama besar kok," seru Shinta menetralkan suasana kaku yang tiba-tiba menyelimuti mereka.&lt;br /&gt;"Silakan diminum jahenya Ar?" kata Shinta mempersilakan Ari.&lt;br /&gt;"Terima kasih Shint, oh iya nich HP-mu udah betul, kalo ada komplain hubungi aku yach." jawab Ari seraya meneguk habis jahe bikinan Bik Ijah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah dicampur dengan ramuan apa jahe itu sehingga tubuh Ari terasa lebih hangat dan berdesir kencang darahnya. Bik Ijah memang pembantu yang hebat, selain dia pintar memasak dia juga pandai mebuat minuman berkhasiat.&lt;br /&gt;"Bik Ijah memang masih muda sekitar 32 tahunan menurut taksiran Ari dan ia adalah bukan janda juga bukan gadis karena ia telah ditinggal entah kemana oleh suaminya sekitar 3 tahun lalu," jelas Shinta. Shinta lantas mencoba HP-nya dan ia meminta Ari keluar, ke halaman sebentar karena ia akan menghubungi HP Ari.&lt;br /&gt;"Yach Shin.. suaranya bagus kok," jawab Ari singkat.&lt;br /&gt;"Entar dulu jangan di tutup dulu," sergah Shinta.&lt;br /&gt;"Emang ada apa Shint? udah bagus kok suaranya aku terima," kata Ari sambil berjalan ke arah ruang tamu kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Emmh.. kamu mau nggak tidur di sini entar malem?" pinta Shinta.&lt;br /&gt;Ari kaget bukan kepalang karena hal ini tidak pernah ia bayangkan sama sekali dan ia tiba-tiba setengah gugup, sejenak ia terdiam namun batinnya bergejolak karena minuman jahe hangat dicampur telor bebek, merica dan madu murni.&lt;br /&gt;"Mmm.. tapi.." kata Ari.&lt;br /&gt;"Nggak pa-pa Papiku lagi ke Surabaya kok, biasa ada proyek dan Mamiku lagi ke Bandung karena ada acara keluarga," kata Shinta.&lt;br /&gt;"Jangan ngeres dulu akh.." imbuh Shinta.&lt;br /&gt;"Eh siapa yang ngeress, aku cuman bingung.. kan ada Bik Ijah!" sergah Ari.&lt;br /&gt;"Aaakh.. ngak usah pakai alasan macem-macem, pokoknya mau kagak?" tanya Shinta.&lt;br /&gt;"Boleh.." sahut Ari singkat.&lt;br /&gt;"Kalo gitu kita ke ruang tengah saja yach sambil lihat televisi atau film bagus karena aku punya koleksi baru dari Papi saat dinas ke luar negri.." ajak Shinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdua mereka menuju ke ruang tengah nan luas itu, berhamparkan karpet hijau muda dan bantal bantal dacron besar. Di sisi ruangan itu ada sebuah sofa panjang mengahadap ke kolam renang Ruangan itu terpisah dengan ruang lain dan hanya terhubung dengan sebuah pintu, menghadap ke kolam renang di samping rumah. "Kolam renang itu sendiri terisolasi dari ruangan lainnya dan sangat privacy sekali apalagi berdua dengan dara cantik," Ari menghela nafasnya dalam-dalam.Sedetik tubuh Ari mulai nyaman di lingkungan baru tersebut, lantas mengambil sebatang kretek 76-nya kemudian mengambil tempat duduk di karpet. Shinta lalu menceritakan tentang diri dan keluarganya yang sudah terancam hancur, papinya punya WIL dan maminya juga sering berganti-ganti gigolo untuk melampiaskan hasratnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam semakin larut dan jam dinding sudah menunjukkan pukul 21:30, Ari dan Shinta masih terpaku di hamparan karpet menyaksikan acara TV yang kelihatan membosankan. Berkali-kali Shinta memindah channel akan tetapi tidak ada yang menarik kemudian setelah ngomong kepada Ari Shinta menyalakan VCD semi XX.&lt;br /&gt;"Mau nggak liat BF daripada acaranya membosankan, aku punya dua nich?" tanya Shinta.&lt;br /&gt;"Aku sich seneng saja.." jawab Ari datar dikuti kepulan asap harum kretek kesukaannya.&lt;br /&gt;"Ach sialan, emang lo yang nggak seneng apaan?" kata Shinta sambil menyalakan VCD XX-nya.&lt;br /&gt;Kedua insan itu ngobrol ngalor-ngidul sambil menikmati anggur merah kesukaan Shinta dan sesekali saling cubit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun bukan pacarnya, akan tetapi Shinta adalah teman akrab Ari untuk tempat belajar mata kuliah yang Shinta sendiri tidak mampu mengatasinya. Biasanya Shinta konsultasi mata kuliah dengan Ari di bengkel kerja Ari di Mall dan sehabis itu Shinta traktir makan siang. Tak lebih dari itu memang hanya sebatas hubungan baik dan Ari juga tidak berani bertindak lebih jauh lagi karena takut Shinta tersinggung ataupun Ari bukan type Shinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada adegan ranjang, wajah Shinta nampak mulai memerah tegang menahan hawa nafsunya. Kedua pahanya yang sejak tadi diam kini mulai kelihatan gelisah dan ia coba untuk digesek-gesekkan sendiri. Ari tahu memang apa yang sedang dialami Shinta dan juga pernah dialami oleh Sri, pacarnya. Shinta dengan sedikit kaku mendekatkan diri kepada Ari dan berbisik, "Ar! mau nggak kamu puasin aku malam ini?" tanya Shinta mengharap. Tanpa menjawab Ari kemudian mendekatkan diri ke shinta yang bersandar pada sofa, lengannya dilingkarkan di pundak Shinta kemudian Ari membisikkan sesuatu ke telinga Shinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu horny malam ini Shin?" tanya Ari.&lt;br /&gt;"Akkh.. pake nanya lagi, mumpung lagi sepi.." kata Shinta sewot seraya mendaratkan french kiss di bibir Ari.&lt;br /&gt;"Bik Ijah kemana..?" tanya Ari.&lt;br /&gt;"Mau main berdua dengan Bik Ijah, kata Sony sich mainnya Bik Ijah lembut menghanyutkan." imbuh Shinta.&lt;br /&gt;"Tapi entar lo puasin gue dulu nanti kalo memang aku udah ngilu kita gantian." kata Shinta kemudian merebahkan dirinya di pangkuan Ari.&lt;br /&gt;"Mmmpphh.. aku ingin kehangatanmu malam ini Arr, karena tak ada lagi yang aku dapat harapkan.." pinta Shinta sambil meraba penis Ari yang sudah mulai setengah tegang.&lt;br /&gt;"Mmpph.. punyamu panjang and besar.. benar dugaanku.." bisik Shinta.&lt;br /&gt;"Kamu pasti akan menggelinjang kegelian nikmat Shin." sahut Ari seraya mendaratkan french kiss.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdua mereka sudah hanyut dalam buaian cumbuan penuh birahi, Ari sendiri sudah sibuk dengan pekerjaan tangannya di kedua bukit kenyal Shinta yang semakin kenyal saja. Tubuh Shinta menggeliat bak cacing kepanasan dan perlahan tangan Ari turun ke arah perut Shinta melepas tali sleeping jasnya. Kini sleeping jas telah terbuka dan tubuh Shinta mulai kelihatan mulusnya, di sudut selangkangannya tumbuh rambut-rambut halus terawat dan tepat di bawahnya ada segumpal daging yang merekah berwarna pink.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Ari turun ke bawah lagi untuk menggapai vagina Shinta yang sudah mulai membasah, dengan tetap mencumbui bibir Shinta Ari mulai membuka bibir luar vagina Shinta yang tebal seksi itu.Kedua jari telunjuk dan jari tegahnya ia buka membentuk huruf V. Tangan "V" Ari itu mulai menggosok lembut, mengapit, menjepit lembut dan sesekali dibuka lebih lebar lagi. Sementara jempolnya menekan lembut klitoris Shinta untuk memberikan sentuhan yang luar biasa nikmatnya. Tubuh Shinta kini oleng diiringi desahannya, sleeping jasnya ia buka tergesa-gesa dan dihempaskan di sofa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh mulus putih itu kini menggelinjang-gelinjang di pangkuan Ari, sentuhan tangan Ari tidak hanya terbatas itu saja dan pada suatu kesempatan telunjuknya masuk ke lubang vagina Shinta dan di tusuk-tusukan lembut. "Uuugghh.. oogghh.. oogghh.. Arr.. aaghh.. tusuk teruss.. sshh.. Arr.." pinta Shinta terbata-bata memelas. Matanya merem melek, kedua bibirnnya terbuka mendesis, mendesah dan kedua pahanya ia buka lebar-lebar menikmati sensasi yang ada. Tangannya mecoba menggapai karpet untuk diremas karena ia menahan rasa ngilu, geli dan nikmat bercampur jadi satu karena permainan dua jari Ari. Kepalanya terlihat sesekali terangkat tak kuat menahan sensasi dua jari dari Ari. Shinta lalu melipat lututnya dan membuka lebar-lebar agar tangan Ari mampu membuatnya menggapai orgasme yang dirindukannya. Tubuhnya semakin bergelinjang hebat dan kini tangan Shinta mulai merangsek celana pendek Ari, kemudian dilemparkannya sembarangan lalu tangannya terlihat menelusup ke dalam CD Ari. Ari tampaknya terengah juga mendapat perlakuan seperti itu, apalagi dalam sekejap Shinta sudah melepas CD Ari dan melumat batang pejal nan hangat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aaakkhh.." pekik Ari saat Shinta mulai mengulum "topi baja" penisnya. Sensasi yang ditimbulkan akibat lingkaran kepala penis itu membuat Ari tegang dan sejenak ia melepaskan kuluman di puting Shinta. "Sesshh.. ookhh.. Arr.." Shinta hanya bisa merintih saat Ari mulai merebahkan dirinya dan mengatur posisi Shinta di atas. Shinta berdiri merangkak dengan lutut kirinya sementara lutut kanannya tetap tegak bagi orang jongkok. Posisi demikian adalah posisi bagus untuk melakukan seks 69 karena dengan begitu selangkangan Shinta mengangkang maksimal dan vaginanya terlihat merekah pink. Dengan lahap Ari mulai mematukkan ujung lidahnya tepat di klitoris Shinta sehingga membuat Shinta kelonjotan, sementara kedua jari telunjuk dan tengahnya membuka, sesekali menggosok lembut bibir luar vagina Shinta. Si pemilik lubang hanya mampu mendesah saat lendirnya mulai melumasi lubang kenikmatan miliknya dan memberikan rasa geli yang amat nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aaaoogghh.. emmpphh.. sedoth teruss Arr.." desah Shinta ketika Ari mulai menghisap lembut bibir dalamnya dan dilain bagian tangan Shinta juga mulai melakukan pekerjaannya mengocok, kadang membelai lembut batang hangat milik Ari. Ari hanya bisa merasakan sedikit asin saat mani Shinta mulai meleleh sedikit demi sedikit dan dihisapnya hingga terasa kesat bagi Shinta.Shinta sendiri rupanya dendam dengan orgasme karena si Sony ternyata hanya ayam sayur dimata Shinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kocokan Shinta di penis Ari sebaliknya tidak terasa nikmat bagi Ari karena Shinta kocokannya tak karuan alias ngawur. Shinta hanya konsentrasi menggapai nikmatnya orgasme dengan mulut Ari dengan gelitik kumisnya. Gelitik kumis Ari di lembah antara bibir luar dan bibir dalam membuat Shinta semakin erat mencengkeram penis Ari dan karpet. "Ooouugghh.. aakkhh.. aakkhh.. Arr.. oogghh.. kumismu.. gelii.. aaghh.. aahh.. aahh.. aku.. keluaarr.." ceracau Shinta tak karuan, pinggulnya dihempaskan ke belakang menekan wajah Ari, tubuhnya mendongak melepas cengkeraman tangannya di penis Ari. Wajahnya mendongak ekspresif, matanya merem melek, kedua tangannya terlihat meremas rambutnya, kedua bibirnya terbuka lebar dan mendesis kenikmatan. Lidahnya menjilat bergantian di kedua lapis bibirnya menjulur tak peduli suaranya memekik memenuhi ruang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari masih terlihat menjilat sisa-sisa lelehan mani Shinta yang masih terlihat meleleh di bibir luar lubang vaginanya hingga kesat dan Ari telah mempersiapkan jurus kedua bagi Shinta.Ari kelihatan puas membuat Shinta kelonjotan. "Oogghh.. ooghh.. makasih Arr.. emmpphh.." Shinta masih terengah kelelahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan Ari membalikkan tubuh langsing Shinta dan kemudian menggotongnya.&lt;br /&gt;"Mau kemana Yang?" tanya Shinta manja dan masih terlihat sisa-sisa orgasme pertamanya namun Shinta tidak protes sebagai tanda tidak kesetujuannya.&lt;br /&gt;Dalam bopongannya Shinta mencoba meraih bibir Ari dan mengulumnya.&lt;br /&gt;"Heemmhh.. Yang.. aku.. pasti akan kau buat puas malam ini," bisik Shinta.&lt;br /&gt;Kedua tangannya tetap dililitkan di leher Ari, saat Ari mulai menyandarkan tubuh indah kebanggaannya di sofa panjang. Shinta hanya terlihat pasrah apa yang diperbuat Ari yang kini beringsut mengambil dacron kecil dan diselipkannya di bawah pantat Shinta. Shinta sadar bahwa ia hanya ingin menjadi obyek untuk beberapa kali tempo foreplay ini maka dari itu ia hanya pasrah apa yang akan diperbuat Ari padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari berlutut dan sejenak memandangi vagina Shinta yang terlihat tambah mencuat dan merekah karena pengaruh ganjalan dacron kecil di pantatnya. Klitorisnya semakin kelihatan menonjol kenyal karena terangsang hebat. Ari melipat kedua lutut Shinta dan meletakkan kakinya bertumpu pada sofa sehingga kelihatan seperti jongkok lalu mengisyaratkan Shinta untuk membuka lebar-lebar. Shinta hanya terpejam dan mendesis lembut saat Ari mulai mencumbui lubang vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hemmhh.. vaginamu..harum.. Shin.. dann.. emmhh.." puji Ari yang masih terlihat sibuk dengan hisapan dan kuluman di selangkangan Shinta.&lt;br /&gt;"Oookhh.. hisapanmu.. aakhh.. Ari sayaangg.." rengek Shinta panjang saat Ari mulai membuka bibir luar vagina Shinta dan menghisap bibir dalamnya.&lt;br /&gt;"Aduuhh.. aahhgghh.. aahhkk.. aakkhh.. uughghh.. ngg.. emmpphh.." Shinta mulai mengigil lagi.&lt;br /&gt;"Ooohhkkhh.. aakkhh.." pekik Shinta tertahan saat tiba-tiba Ari merebahkan tubuhnya dan kembali mengangkat ke tepi sofa. Pantat seksi Shinta diletakkan di sandaran tangan sisi sofa tersebut dan kedua lututnya tetap terlipat dan pahanya mengangkang lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uuugghh.. Arr.. mau diapain guee.." tanya Shinta lemah. Tubuhnya tergolek indah dan pinggulnya terangkat tinggi di sandaran tangan sisi sofa. Ari tergopoh-gopoh ke sisi pinggul Shinta di sisi sofa dan ia berlutut di sana, tangan kirinya mulai meremas lembut dada Shinta yang kenyal. "Oookhhk.. Yaanngg.. aakhh.. ookhh.. nikmathnyaa.. aahhgghh.." desah Shinta merasakan kecupan bibir Ari di labia minoranya. Sensasi akibat gelitikan kumis Ari dan pilinan tangan kiri Ari di puting kanannya membuatnya teregah-engah. Terlihat Shinta mulai meremas sendiri payudara kirinya, wajahnya tegang memerah menahan birahi yang amat sangat mendesak untuk disemburkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aaakhh.. aahhgg.. oohhgg.. oohh.. Arr.. aku mau keluaarr.. nikmatt.." pekik Shinta saat kecupan bibir Ari mulai menggesek lembut lemah vaginanya. Bibir dalam vaginanya terhisap lembut namun terasa kuat dan dahsyat, lubang vaginanya juga terasa penuh gerigi lembut lidah Ari yang menyusup ke sana. Vagina Shinta seperti menetek ke lidah Ari, sementara lidah Ari mulai menjulur keluar masuk di vagina Shinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Akuu.. kelluuarr.. Arr.. aaggh.. sshh.. aaghh.. aaghh.. uugghh.. sshh.. ooh my god.. nikmath banget.." Shinta terpekik keras saat Ari menghisap dalam dan mengapit kedua bibir dalam vagina Shinta dengan kedua bibirnya sementara lidah Ari dijulurkan maksimal ke dalam lubang rahimnya dan mengaduk aduk G-spot Shinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Arr.. aku nggak tahaann.. nngghh.. aakgghh.. oohh.. Arii.. mmpphh.." ruangan itu kini penuh dengan desahan histeris Shinta. Shinta sudah tidak mempedulikan Ari lagi dan ia hanya ingin segera dapat menyemburkan maninya banyak-banyak agar tubuhnya terasa ringan dan lega."Aaahh.. Arr.. Aku keluarr.. ooghh.. laagii.. aawww.. aaghh.." pekik Shinta mengakhiri orgasmenya yang entah keberapa. Tubuhnya kelonjotan, bergelinjang-gelinjang kenikmatan. Ari sendiri sebenarnya sudah merasakan orgasme saat Shinta menikmati permainan oralnya, lubang penisnya terlihat meleleh cairan bening. Ari masih mengulang-ulang permainan mulutnya di vagina Shinta kali ini ia berdiri merangkak mengangkangi Shinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Arr.. udah doongg.. ayoo masukiinn.." rengek Shinta.&lt;br /&gt;"Mmmpphh.. semakin harum saja lubangmu Shin, apalagi cairanmu ini.." kata Ari seraya membenamkan kembali wajahnya di lubang Shinta.&lt;br /&gt;"Sluurrphh.. Sluurrphh.." suara lidah Ari kenikmatan.&lt;br /&gt;"Aaawww.. aawww.. uugghh.. aa.. Arr.. Pleasee.. masukin.. cepet.." rengek Shinta lagi.&lt;br /&gt;Rupanya Shinta sudah tidak kuat menahan geli yang amat sangat dari permainan lidah Ari apalagi kalau dihisap bibir dalamnya terasa ubun-ubunnya ikut terhisap. Shinta sudah hampir tak punya tenaga lagi terasa terkuras bersama semburan maninya berkali-kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari kemudian membimbing Shinta bersandar di sofa lalu memberikan french kiss yang lembut berdiri dengan lututnya, cukup lama kedua insan itu bercumbu. Ada sensasi lain yang ia rasakan selain nafsu dan kini hatinya sedikit gundah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ar! makasih yach, permainanmu memang hebat.." puji Shinta.&lt;br /&gt;"Maukah kamu." imbuh Shinta.&lt;br /&gt;"Ssstt.. nggak perlu dilanjutin aku tahu kok apa yang kamu akan ucapkan, lagian permainanku kan belum puncak.." sergah Ari sambil menempelksn telunjuk kanannya di bibir Shinta.&lt;br /&gt;Kedua insan itu lantas terdiam kemudian saling membisu.&lt;br /&gt;"Shin, maukah kamu menjadi kekasihku, lebih dari apa yang kita lakukan sekarang..?" tanya Ari sembari melepas kecupan di kening Shinta memecah kesunyian.&lt;br /&gt;Rupanya diam-diam Ari terpesona dengan ekspresi Shinta, demikian Shinta takluk di lutut Ari. Ari kemudian teringat Sri pacarnya yang ia pacari hampir 1 tahun lalu dimana Sri hampir tidak pernah mau dengan permainan oral Ari. Sri sendiri tidak begitu antusias dengan seks dan hal ini tidak seimbang dengan hasrat Ari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ar! kamu udah tahu semua tentangku kan? dan aku tidak mau mengecewakan kamu." kata Shinta.&lt;br /&gt;"Apa pun itu Shin aku menerimanya, aku juga bukan orang yang suci." balas Ari datar.&lt;br /&gt;"Lagian kamu orangnya hebat, nafsunya hot dan yang paling aku suka adalah keenam bibirmu," puji Ari."Enam..?" Shinta penasaran.&lt;br /&gt;"Iya emang kamu nggak merasa.. apa?" tanya Ari sambil menenggak jahe
